cover
Contact Name
Dani Saepuloh
Contact Email
danie_saepuloh@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
danie_saepuloh@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Segara
ISSN : 19070659     EISSN : 24611166     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal SEGARA (p-ISSN: 1907-0659, e-ISSN: 2461-1166) adalah Jurnal yang diasuh oleh Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan – KKP, dengan nomenklatur baru Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, KKP dengan tujuan menyebarluaskan informasi tentang perkembangan ilmiah bidang kelautan di Indonesia, seperti: oseanografi, akustik dan instrumentasi, inderaja,kewilayahan sumberdaya nonhayati, energi, arkeologi bawah air dan lingkungan.
Arjuna Subject : -
Articles 191 Documents
Variabilitas Hidrologis dan Dinamika Produksi Garam pada Beragam Kondisi ENSO di Kabupaten Pati dan Rembang Rikha Bramawanto; Herlina Ika Ratnawati; Supriyadi Supriyadi
Jurnal Segara Vol 15, No 1 (2019): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1247.936 KB) | DOI: 10.15578/segara.v15i1.7593

Abstract

El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan salah satu fenomena global yang terbukti mempengaruhi curah hujan dan sekaligus produksi garam di Indonesia. Kajian ini menggali informasi karakteristik variabilitas hidrologis pada beragam kejadian ENSO. Tujuannya untuk memperoleh gambaran kondisi optimum (maksimum dan minimum) hidrologis yang mendukung produksi garam. Dinamika produksi garam di Pati dan Rembang cenderung selaras dengan perubahan kejadian ENSO. Kondisi hidrologis optimum yang terjadi agar produksi garam dapat tetap berlangsung antara lain terdiri dari rata-rata SPL 28,3 - 28,5 °C, rata-rata laju evaporasi 5,8 - 6,3 mm/hari, rata-rata laju presitipasi 0,45 - 4,5 mm/hari dan kadar salinitas 32,7- 32,8 PSU. Dalam kajian ini kondisi maksimum terjadi saat El Niño kuat tahun 2015 berlangsung, dan kondisi minimum terjadi saat ENSO netral pada 2014 berlangsung. Nilai rata-rata SPL, laju evaporasi dan laju presitipasi yang melebihi kondisi minimum serta salinitas yang kurang dari kondisi miminum akan berpotensi mengakibatkan gagal panen garam seperti tahun 2016. Informasi ini bermanfaat bagi petambak garam untuk menekan risiko kerugian akibat fase ekstrim dari ENSO.
Meteorological and physical conditions of Salt Pan Areas with Filtering-Threaded Technology (TUF) in Cirebon Regency, Indonesia Rikha Bramawanto; Sophia L. Sagala
Jurnal Segara Vol 12, No 2 (2016): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1200.201 KB) | DOI: 10.15578/segara.v12i2.7678

Abstract

Salt pans in Indonesia are commonly set in batch operation and highly depend on the meteorological condition. Moreover, the common salt pans are considerably limited in the area (averagely 0.5-1 Ha) as it is not organized by industries or governments; local farmers instead. However, with such confinement, there are some salt pans particularly with filtering-threaded technology system (TUF system) that successfully produce salt with high production (>100 tons/Ha/season) and grade-1 quality. The present study was aimed to get insight on the meteorological condition at the salt pans using TUF system and the physical condition of the sea brine obtained from the TUF in the local salt pans in Cirebon Regency. Measurements on temperatures (air, brine and soil), humidity, wind direction and speed, brine conductivity, brine density and salinity were conducted at the pre-crystallizer pond, brine storage pond, channels, the condenser, and the reservoir. The meteorological parameters were recorded hourly using Automatic Weather Station and the data were taken during 49 hours ly, from August 26-28, 2014 started at 04.00 pm. Meanwhile, the physical parameters of the brine were measured every three hours using water quality meter. The results showed that the meteorological condition, brine physical condition, and the process occurred during salt production were still in agreement and met the theoretical condition or modeling. Even though the relative humidity and some wind speed in the present study area were out of the standard criteria recommended (5m/s for wind speed), the study showed that salt still can be produced in condition of relative humidity (52-88%), wind speed (0.2-5.7 m/s), and ambient temperature (23.2-32.4 oC). Interestingly, it is found that brine thickness and volume could be adjusted to get an optimum temperature of brine (reached 36.2 oC), in order to enhance the evaporation process. The highest soil temperature (34.7 oC) was found at 15.00 in the pre-crystallizer ponds. Meanwhile, the lowest temperature (26.7oC) was found early morning at 04.00 in the reservoir pond. Brine in the pre-crystallizer had highest thermal storage capacity during daytime (06.00-16.00), whereas soil in the pre-crystallizer tended to store heat during the nighttime (18.00-22.00). Brine and soil temperature fluctuation indicate that solar irradiation and convection process transferring heat energy from soil to brine occurs and also took an important part in the evaporation process. It therefore can be concluded that by understanding the condition of meteorology at the salt pan areas and the brine characteristic obtained, the appropriate technology resulting high-quality and quantity salt production could be devised.
Konsep Eco fishing port berbasis Kualitas Air dalam Pengelolaan Pelabuhan : Studi Kasus PPI Barek Motor, Kabupaten Bintan Dini Purbani; Aisyah Aisyah
Jurnal Segara Vol 15, No 3 (2019): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.787 KB) | DOI: 10.15578/segara.v15i3.6934

Abstract

Penerapan konsep eco fishing ports bertujuan untuk menstandarkan pelabuhan perikanan yang sesuai dengan ISO 14001 sehingga produk perikanan secara standar internasional (standar Uni Eropa) dapat diterima. Salah satu indikator penerapan eco fishing port adalah dilakukannya pengukuran parameter kualitas air. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep eco fishing port berbasis kualitas air di salah satu pelabuhan pendaratan ikan (PPI) di Kabupaten Bintan. Penelitian dilaksanakan di PPI Barek Motor, Kabupaten Bintan. Pengamatan kualitas air menggunakan alat multiparameter SONDE EXO-1 dalam kurun waktu 6 bulan dari Desember 2015 - Mei 2016. Parameter kualitas air yang diamati meliputi temperatur, konduktivitas, oksigen terlarut (Dyssolved Oxygen/DO), pH dan turbiditas. Data dianalisis untuk memperoleh indeks pencemaran (IP) dan status mutu perairan melalui analisis Storet. Standar baku data kualitas air mengacu pada Kepmen Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003. Kualitas air pelabuhan mengacu pada Permen Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 tentang standar baku mutu air laut (terutama dalam hal ini adalah peruntukan bagi pelabuhan dan biota air). Hasil menunjukkan bahwa perairan sekitar PPI Barek Motor tergolong tercemar sedang. Pengelolaan yang berlandaskan pada eco fishing port belum sesuai dengan standar mutu produk perikanan yang didaratkan, namun lebih kepada kondisi fisik perairan. Dalam kasus ini, parameter nitrat dan turbiditas merupakan penyumbang pencemaran tertinggi akibat pengaruh antropogenik yang terbawa oleh sungai di sekitar area penelitian. Dihasilkan pula fungsi fisik pelabuhan sebagai hasil dari penilaian terhadap komponen fisik dan ekologi, yang kemudian dapat dijadikan sebagai komponen pendukung dalam mengkuantifikasi eco fishing port.
Coastal Landform and Its Indicative Risk of Changes Through Integrated Satellite and on Ground Observations for Coastal Development and Revitalisation In Pati, Central Java Tubagus Solihuddin; Hadiwijaya Lesmana Salim; Eva Mustikasari; Aida Heriati
Jurnal Segara Vol 15, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1742.891 KB) | DOI: 10.15578/segara.v15i2.7864

Abstract

An appropriate foreshore management should take into account coastal processes based on physical and biological features of the particular coastal environment. This study aims to determine the coastal landform and its instability and susceptibility through satellite study, thematic map, and groundtruth checking. The coastal landform of Pati is typified by the muddy coast with ~1 km tidal mudflat moving seaward and coastal plain moving landward. Mangrove ecosystem, mainly Avicennia, intermittently occurs along the coast of Pati resting on muddy substrates where tributaries drain off water from the hinterland. The coastal plain is largely occupied by salt and/or fish ponds. Considering the geological condition, coastal characteristic, and oceanographic processes, the coast of Pati has medium to high-risk level of landform changes with shoreline changes greater than 1 m/yr and 5 to 10 yearly coastal inundation driven by the erosion and sedimentation. The study provides insight in recognising time and space scale of an indicative risk of landform changes and its driving processes for the coastal management and planning purposes.
Kesesuaian Lahan Tambak Budidaya Udang Dengan Faktor Pembatas Kualitas Air, Tanah Dan Infrastruktur Di Teluk Banten Indonesia Mochammad Farkan; Daniel Djokosetiyanto; R. Sjarief Widjaja; Kholil -; Widiatmaka -
Jurnal Segara Vol 13, No 1 (2017): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1388.458 KB) | DOI: 10.15578/segara.v13i1.6378

Abstract

Budidaya udang di tambak yang kurang tepat akan menyebabkan in efisisen dan in efektif dalam operasionalnya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian lahan budidaya udang. Lokasi penelitian di pertambakan pesisir Teluk Banten, Provinsi Banten Indonesia. Parameter yang diukur (1). Kualitas air meliputi pH air, suhu, salinitas, kelarutan Oksigen (DO), BOD5, COD, TSS, Ammonia (NH₃), Fe, pasang surut. (2). Kualitas tanah meliputi pH tanah, tekstur tanah, potensial redoks, KTK, unsur hara (K,Ca, Mg, Fe), kemiringan lahan dan elevasi. (3) Pendukung budidaya udang meliputi infrastruktur (ketersediaan jalan dan listrik), jarak dari laut, jarak dari sungai dan curah hujan. Metoda yang digunakan adalah pembobotan dan skoring (weight linier combination). Pembobotan dilakukan dengan metode berpasangan (pairwise comparisons) untuk menentukan skala prioritas. Selanjutnya dilakukan tumpang susun (overlay) untuk menentukan tingkat kesesuaian lahan. Hasil penelitian menunjukan luas total 5.028,3 ha dan dibagi dalam dua kelas yaitu sangat sesuai (S1) sebesar 141,7 ha (2,8 %); sesuai (S2) sebesar 4.886,6 ha (97,2 %).
Prediksi Jalur (Pathway) Logam Merkuri dari Batubara Kegiatan PLTU di Teluk Palabuanratu dengan Pendekatan Sistem Dinamis Devi Dwiyanti Suryono; Endang Sri Pujilestari
Jurnal Segara Vol 15, No 3 (2019): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.398 KB) | DOI: 10.15578/segara.v15i3.6708

Abstract

Kegiatan PLTU berpotensi menghasilkan logam merkuri (Hg) yang bersumber dari batubara sebagai bahan bakunya. Merkuri memiliki sifat yang presistent dan mampu mengalami bioakumulasi dan biomagnifikasi dalam rantai makanan. Kegiatan PLTU di Palabuanratu akan beroperasi selama 20 tahun dan hal ini menimbulkan kekhawatiran merkuri yang dihasilkan akan mencemari air laut dan masuk dalam rantai makanan di perairan Teluk Palabuhanratu. Tujuan pemodelan system dinamis ini adalah melakukan prediksi dan menganalisis faktor dominan dari peningkatan merkuri air laut selama masa beroperasi PLTU serta terjadinya biomagnifikasi dalam rantai makanan. Gambaran mengenai jejak merkuri dari sumber batubara PLTU di udara, air dan rantai makanan, kaitannya dengan peningkatan konsentrasi merkuri di perairan menggunakan metode System dynamics. Hasil pemodelan menunjukkan peningkatan merkuri akan melebihi baku mutu Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004 untuk biota laut pada 2027. Terjadinya biomagnifikasi pada ikan plankton feeder, ikan top predator dan pada manusia mulai tahun 2017 dimana konsentrasi metil merkuri (MeHg) pada manusia sebagai konsumen tertinggi lebih besar (1,22) dibanding pada ikan top predator (0,408) dan ikan plankton feeder (0,0738), namun masih di bawah level ketiganya level toleransi MeHg menurut UNEP. Faktor yang dominan meningkatkan merkuri anorganik dalam air laut adalah ceceran batubara.
Faktor-Faktor Berpengaruh Terhadap Produktivitas Lahan Garam di Indonesia Dhanial Iswanto; Andres Purmalino
Jurnal Segara Vol 15, No 3 (2019): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.543 KB) | DOI: 10.15578/segara.v15i3.6751

Abstract

Kekayaan alam menjadi modal utama produksi garam di Indonesia, di mana luas garam produktif pada 2014 mencapai 27.898 Ha. Permasalahan yang muncul adalah kebutuhan garam nasional cenderung mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan penduduk dan industri, sedangkan produksi garam nasional tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Salah satu upaya untuk mendorong produksi garam adalah dengan meningkatkan produktivitas lahan garam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas lahan garam di Indonesia, menggunakan metode analisis regresi logistik. Hasil yang didapat adalah bahwa umur petambak, luas lahan, luas meja garam, metode produksi, dan lama penjemuran signifikan memengaruhi produktivitas lahan garam di Indonesia.
Assessment of Mangrove Ecosystem Potency and Its Utilization in Dompu Regency Coastal Waters, West Nusa Tenggara Province Using Satellite Imagery Application Yulius Yulius; Syahrial Nur Amri; August Daulat; Sari Indriani Putri
Jurnal Segara Vol 15, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1016.562 KB) | DOI: 10.15578/segara.v15i2.7461

Abstract

Mangrove ecosystem forests are tropical coastal vegetation communities, which has the ability to grow in coastal area with tidal and muddy environment. Several functions of mangrove ecosystem forest such as ecological functions can be used for coastal protection, trapping sediment and strengthen the coastal ecosystems. Coastal waters in Dompu Regency, West Nusa Tenggara have natural mangrove ecosystem with a huge potency and advantages to the region. This study aimed to understand the condition of mangrove ecosystem based on satellite image analysis of Landsat 8 Operational Land Imager (OLI) in 2014 and assess the potency, information related to the utilization by community. Data collection in this study were combined from satellite imagery interpretation with interview and questionnaires. The results showed that the mangrove forest extent in Dompu Regency Coastal Waters were about 90,631 ha with uniformity index 0.68 (medium uniformity). Two mangrove species were found in the region namely Rhizopora stylosa and Rhizopora apiculata and used by the community for several purposes such as firewood, natural coastal protection from tidal, waves and abrasion, also for crabs and fish spawning ground.
Penentuan Radiative Forcing dari Karbondioksida (CO2) dan Metana (CH4) di Gaw Bukit Kototabang Serta Hubungannya dengan Suhu Permukaan Atmosfer dan Laut Noor Laily Adhayani; Syahru Romadhon; Terry Louise Kepel; Herlina Ika Ratnawati
Jurnal Segara Vol 15, No 3 (2019): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1115.398 KB) | DOI: 10.15578/segara.v15i3.6677

Abstract

Radiative Forcing (RF) didefinisikan sebagai perubahan jumlah energi radiasi yang masuk dan keluar di lapisan troposfer sehingga dapat menyatakan adanya gangguan yang merusak pola energi radiasi matahari, dengan laju perubahan energi per satuan luas, yang diukur di bagian atas atmosfer dan dinyatakan dalam satuan W/m2. RF dapat digunakan sebagai parameter untuk menunjukkan gejala fenomena perubahan iklim. Karbondioksida (CO2) dan Metana (CH4) merupakan gas rumah kaca utama di atmosfer. Eksistensi gas karbondioksida dan metana di atmosfer dapat terjadi akibat kegiatan manusia (antropogenik) dan alami (natural). Penentuan RF gas karbondioksida (CO2) dan metana (CH4) yang diukur di GAW Bukit Kototabang memperlihatkan tren peningkatan seperti halnya dengan meningkatnya konsentrasi dari masing-masing gas rumah kaca tersebut pada periode pengukuran 2004-2013. Puncaknya peningkatan terjadi pada akhir tahun 2013. Besarnya rerata RF gas rumah kaca berturut-turut adalah CO2 = 1.686 ± 0.08 Wm-2; dan CH4 = 0.511± 0.004 Wm-2. Perbandingan konsentrasi CO2 dan CH4 di GAW Kototabang dengan masa pra revolusi industri pada 1750 diperoleh hasil bahwa terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Peningkatan konsentrasi CO2 dan CH4 di atmosfer berturut-turut sebesar 41,05% dan 162,76%. Nilai radiative forcing CO2 dan CH4 di atmosfer memiliki koefisien determinasi (R2) yang relatif lebih kecil, dibandingkan dengan faktor anomali suhu permukaan laut Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa respon laut terhadap kenaikan CO2 dan CH4 lebih besar dibandingkan dengan atmosfer.
The Existence of Ornamental Coral in Different Live Coral Coverage Condition in Saleh Bay, West Nusa Tenggara Ofri Johan; Yulius Yulius; Hadiwijaya Lesmana Salim; Idil Ardi; Muhammad Abrar; August Daulat
Jurnal Segara Vol 15, No 2 (2019): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.468 KB) | DOI: 10.15578/segara.v15i2.6592

Abstract

Ornamental coral is one of the trading commodities targets with high demand in all of the world because of its color and unique shape. Various types of ornamental corals are usually found in a specific area and out of reach, where one of them situated in water depth that it so difficult to find. West Nusa Tenggara Province is known as one of the ornamental coral suppliers that has not been touched much by research related to the existence of ornamental coral natural resources. This study aims to obtain preliminary data on the existence of ornamental coral, especially in Saleh Bay waters. Observations carried out from 6 to 11 May 2015 at 6 locations, determined based on distance from the mainland with respective representation, which divided into categories such as near, medium and far using the straight-line transect methods for coral reefs condition, while belt transect methods used for ornamental corals assessment. The results showed the health of coral reefs in good condition with the cover above 50% at all stations except station 4 (medium category), where Acropora coral species dominated at stations 5 and 6 (distant category). The bottom substrate dominated by coral fragments and dead corals with algae (DCA), which are found 28 genera of ornamental corals and considered as trade commodities such as Euphyllia glabrescens, Euphyllia cristata, Euphyllia ancora, Echinophora sp, Gonioporasp, Lobophyllia sp, Physogyra sp, Merulina sp, and Turbinaria sp. The research location can be used as a permanent study area for ornamental coral focus subject and as an indicator for sustainable ornamental coral management in the region.

Page 7 of 20 | Total Record : 191