cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional MIPA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 697 Documents
ANALISIS PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEN LOKAL PADA MATA PELAJARAN KIMIA DI SMA NEGERI 3 SINGARAJA Ni Ketut Sepmiarni; I Made Kirna; I Wayan Subagia
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan konten lokal yang telah diintegrasikan dalam pembelajaran kimia di SMA Negeri 3 Singaraja; (2) menjelaskan relevansi konten lokal yang telah diintegrasikan pada pokok bahasan kimia dalam pembelajaran; (3) menjelaskan posisi konten lokal dalam pembelajaran kimia; serta (4) menjelaskan cara pengintegrasian konten lokal dalam pembelajaran kimia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah guru kimia. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumen dan observasi. Analisis data dideskripsikan dan diinterpretasikan baik secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) sebanyak 10 konten lokal telah diintegrasikan dalam pembelajaran kimia di SMA Negeri 3 Singaraja; (2) konten lokal yang telah diintegrasikan dalam pembelajaran kimia semuanya kurang relevan sebagai konten lokal, enam konten lokal relevan diintegrasikan dalam pokok bahasan kimia sebagai konteks, dilihat dari esensi budaya lokal dan esensi konten kimia; (3) posisi konten lokal dalam pembelajaran terdapat pada bagian pendahuluan sebagai motivasi dan kegiatan inti sebagai materi pembelajaran; (4) pengintegrasian konten lokal dilakukan melalui dua cara, yaitu (a) guru bercerita atau memberikan pernyataan yang menimbulkan pertanyaan; dan (b) guru melakukan aktivitas bersama siswa seperti berdiskusi atau praktikum yang berhubungan dengan konten lokal dan materi yang dipelajari.Kata kunci: pembelajaran kimia, budaya, konten lokalAbstractThis research aimed to: (1) describe the local content that has been integrated in chemistry learning at SMAN 3 Singaraja; (2) explain the relevance of local content has been integrated with chemistry topics in chemistry learning; (3) explain the position of local content in chemistry learning; and (4) explain the way to integrate local content in chemistry learning at SMAN 3 Singaraja. This research was qualitative research. Subject involved in this research was chemistry teacher at SMAN 3 Singaraja. Data collection techniques used were document study and observation. The data were described both quantitatively and qualitatively then analyzed interpretatively. The results of this research revealed that: (1) as many as 10 local content have been integrated in the chemistry learning at SMAN 3 Singaraja; (2) six local content relevant integrated in chemistry learning as context, seen from the essence of local culture and the essence of chemistry content; (3) the position of local content in the opening of teaching as motivation while in the main activity as learning materials; (4) the integration of local content was delivered through two ways, namely: informing and conducting activities. First, the teacher was informing local content as statement to raise questions. Second, the teacher was conducting activities with students, such as discussion or experiment related to local content and the topic being studied.Keywords: chemistry learning, culture, local content
Aktualisasi Pemikiran Jean Piaget dalam Implementasi Kurikulum 2013 (Suatu Kajian Teoritis) Desak Gede Wirayanti Estini
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan dikatakan sebagai pilar utama dalam mewujudkan manusia yang tangguh dan berkualitas dalam kehidupannya. Salah satu faktor penentu keberhasilan pendidikan adalah diberlakukannya kurikulum sebagai dasar pemikiran atau landasan formalitas agar pendidikan tersebut dapat berjalan sesuai dengan standarisasi yang diharapkan. Penyesuaian-penyesuaian terhadap kurikulum sebagai upaya sinergis agar dapat memenuhi tuntutan kehidupan masyarakat perlu untuk dilakukan secara berkelanjutan. Saat ini kurikulum satuan pendidikan 2013 atau yang lebih dikenal dengan K13 telah diterapkan pada hampir semua jenjang pendidikan, tidak terkecuali pada tingkat sekolah dasar (SD). Terlepas dari diberlakukannya K13 perlu mendapat perhatian apakah kurikulum tersebut dalam proses implementasinya dilapangan telah mengupayakan atau memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik menurut Jean Piaget ataukah belum. Memperhatikan tingkatan usia sebagai dasar dalam memberikan pembelajaran sangat perlu untuk dilakukan, sebab memperhatikan kebutuhan peserta didik pada usianya juga menjadi penentu keberhasilan pembelajaran sehingga pembelajaran dapat memberdayakan peserta didik dengan baik untuk menciptakan manusia-manusia yang berkarakter sebagaimana diharapkan dan disampaikan dalam tujuan pendidikan nasional melalui diberlakukannya kurikulum 2013.Kata kunci : Implementasi kurikulum 2013 dan tingkatan usia peserta didik
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN LARUTAN PENYANGGA DENGAN POLA INDUKTIF I Kadek Irvan Adistha Putra; I B N Sudria; I Nyoman Suardana
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mendeskripsikan karakteristik perangkat pembelajaran pola induktif pada topik larutan penyangga. Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (R&D) mengikuti prosedur Borg dan Gall sampai tahap validasi ahli dan praktisi dan uji keterbacaan. Data hasil penelitian meliputi analisis kebutuhan, deskripsi proses perencanaan dan pembuatan, deskripsi karakteristik perangkat pembelajaran larutan penyangga dengan pola induktif, data hasil validasi ahli dan praktisi, serta data hasil uji keterbacaan. Hasil penelitian dianalisis secara kualitatif. Hasil analisis kebutuhan menunjukkan diperlukannya perangkat pembelajaran pendekatan saintifik pola induktif. Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa prototif perangkat pembelajaran larutan penyangga dengan pola induktif yang meliputi RPP, LKS dan teks materi pelajaran dan instrumen penilaian. Karakteristik perangkat pembelajaran larutan penyangga dengan pola induktif adalah sinergis dan konsisten menerapkan pendekatan saintifik pola induktif. Sebagian besar aspek pembelajaran dalam setiap perangkat pembelajaran yang dikembangkan mendapat penilaian dengan kategori baik dari ahli dan praktisi sebagai validator. Hasil uji keterbacaan juga menunjukkan tingkat pemahaman siswa terhadap perangkat belajar (LKS, teks materi dan tes hasil belajar) berada dalam kategori baik. Dengan demikian perangkat pembelajaran larutan penyangga dengan pola induktif yang telah dikembangkan memiliki validitas yang memadai.Kata kunci: perangkat pembelajaran, pendekatan saintifik, pola induktif, larutan penyanggaAbstractThe research was aimed to develop and describe the characteristics of inductive learning tools on the topic of buffer solution. This research was research and development (R&D) following the research and development procedure developed by Borg and Gall until validation and readability testing. The data included need assessment, planning and making process description, validation data, readability test data and the description of the characteristics of inductive learning tools. The data were analyzed qualitatively. The need assessment showed the needs of scientific inductive learning tools (lesson plan, student worksheet, student reading text and assessment instrument). The product produced by this research and development were scientific inductive learning tools which included lesson plan, student worksheet, student reading text and assessment instrument. The characteristics of the inductive learning tools were synergistically and consistently applying scientific approach and inductive pattern. Most of the aspects of learning tools were gotten satisfied judgments by the validator on the validation. The result of readability testing showed that the level of students understanding on the inductive learning tools was on satisfied level. Therefore, the inductive learning tools on the topic of buffer solution that had been developed have good validity.Keywords : learning tools, scientific approach, inductive pattern, buffer solution
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DAN GAYA KOGNITIF TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN HASIL BELAJAR IPA DENGAN MENGONTROL MOTIVASI BERPRESTASI PADA SISWA KELAS V SD DI KOTA SINGARAJA I Gede Margunayasa
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan keterampilan proses sains dan hasil belajar IPA antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan siswa yang belajar dengan model konvensional, antara siswa yang memiliki gaya kognitif impulsive dan reflektif, setelah mengontrol mengontrol motivasi berprestasi pada siswa kelas V SD di kota Singaraja. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi exsperiment). Rancangan penelitian yang digunakan adalah Post-test Only Control Group Design. Penelitian ini melibatkan variabel bebas, variabel moderator, variabel kontrol dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran (A) yang terdiri dari dua, yaitu: (1) model pembelajatan inkuiri terbimbing (A1), dan model pembelajaran konvensioinal (A2). Variabel moderatator dalam penelitian ini adalah gaya kognitif (B) yang terdiri dari dua, yaitu : (1) gaya kognitif reflektif (B1), dan gaya kognitif impulsif (B2). Kovariabel dalam penelitian ini adalah motivasi berprestasi siswa (X). Dan variabel terikat dalam penelitian ini adalah keterampilan proses sains (Y1) dan hasil belajar ipa (Y2). Populasi penelitian ini adalah siswa kelas V SD di kota Singaraja. Penarikan Sampel dengan cara random sampling. Tetapi yang diundi adalah kelas (intake group). Sampel yang diambil sebanyak 12 kelas (40% dari populasi), rincian 6 kelas memperoleh model pembelajaran inkuiri terbimbing dan 6 kelas memperoleh model pembelajaran konvensional. Data yang dikumpulkan melalui penelitian ini adalah data gaya kognitif siswa, data motivasi berprestasi, data keterampilan proses sains dan data hasil belajar IPA kelas V SD. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode tes dan metode kuisioner. Sedangkan instrumen yang digunakan adalah tes MFFT, tes hasil belajar, tes keterampilan proses sains, dan tes hasil belajar IPA kelas V SD. Untuk menganalisis data diperoleh maka digunakan Mancova AB, GLM univariat, product moment, dan kanonik
Karakterisasi Batu Mulia Badar Pulaki I Wayan Karyasa; I Wayan Muderawan; I Wayan Rai
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batu mulia Pulaki telah lama dikenal dengan berbagai keunikan dan didukung oleh cerita-cerita mistis di baliknya, namun belum didukung oleh kajian ilmiah yang memadai. Beberapa nama batu mulia dari Kawasan Suci Pulaki yang banyak dikenal orang adalah Kresnadana, Rambut Sedana, Pancawarna dan Badar Pulaki. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi secara kimia batu mulia Badar Pulaki dengan varian Badar Pulaki Melanting, Badar Musi dan Badar Pangkung Kangin yang difokuskan pada aspek kandungan unsur-unsur dan identifikasi senyawa kimia yang menyusun batu permata Pulaki. Untuk mencapai tujuan itu, analisis cuplikan dengan metode X-Ray Fluoresence (XRF) dan X-Ray Difraction (XRD). Hasil karakterisasi XRF menunjukkan bahwa Badar Pulaki Melanting mengandung unsur silikon dan besi yang besar, Badar Pangkung Kangin mengandung unsur silikon, aluminium dan besi yang besar dan Badar Musi mengandung unsur kalsium dan besi yang besar serta adanya variasi jenis dan prosentase unsur-unsur penyerta lainnya. Hasil karakterisasi XRD menunjukkan bahwa Badar Pulaki Melanting tersusun dari quarsa sebagai fase utamanya, Badar Pangkung Kangin tersusun dari aluminosilikat dan Badar Musi tersusun dari kalsit sebagai fase utamanya. Hasil ini memberikan sebagaian penjelasan ilmiah terhadap keunikan dan mitos batu permata Pulaki.Kata-kata kunci: Badar Pulaki, X-Ray Fluoresence, X-Ray Diffraction
INTEGRASI PENDIDIKAN KARAKTER KE DALAM KURIKULUM ILMU ALAMIAH DASAR I Wayan Suja
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai karakter yang relevan diintegrasikan ke dalam Kurikulum Ilmu Alamiah Dasar (IAD). Pengambilan data dilakukan dengan pemberian angket kepada dosen pengampu matakuliah IAD di Undiksha pada tahun 2014 dan studi literatur. Jumlah dosen yang dilibatkan sebagai sampel sebanyak 18 orang dari 25 dosen pengampu mata kuliah IAD. Pengambilan sampel dilakukan secara disproportionate stratified random sampling berdasarkan lama waktunya mengampu matakuliah IAD. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan ada lima nilai karakter yang layak dan mendesak disampaikan kepada mahasiswa, yaitu: jujur, peduli terhadap lingkungan, disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras. Dari studi literatur didapatkan informasi tentang perlunya mengajarkan berperilaku sopan dan santun kepada peserta didik.Kata-kata kunci: pendidikan karakter, Ilmu Alamiah Dasar.ABSTRACTThis research aims to identified values relevant character is integrated into the curriculum of Basic Natural Sciences (BNS). Data were collected by administering a questionnaire to the lecturer of the course BNS in Undiksha in 2014 and literature studies. The number of lecturers involved as a sample were 18 of the 25 lecturers BNS subjects. Sampling was done by disproportionate stratified random sampling based on the length of time support the course BNS. The data were analyzed descriptively. The results showed there are five character values that deserve and urge delivered to the students, namely: honesty, caring for the environment, discipline, responsibility, and hard work. Information obtained from literature studies about the need to teach behave in a polite and courteous to the learners.Key words: character education, Natural Science Basic
SIKLUS BELAJAR 7E BERORIENTASI BUDAYA LOKAL DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA SMA I Nyoman Suardana
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perbedaan keterampilan proses sains antara siswa yang dibelajarkan dengan model siklus belajar 7E berorientasi budaya lokal dan siswa yang dibelajarkan dengan model discovery learning pada Mata Pelajaran Kimia. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan posttest only control group design. Populasi penelitian adalah siswa SMAN 3 Singaraja kelas XI Semester Genap tahun ajaran 2014/2015, sedangkan sampelnya adalah siswa kelas XI MIA 3 (23 siswa) sebagai kelompok eksperimen yang dibelajarkan dengan model siklus belajar 7E berorientasi budaya lokal dan siswa kelas XI MIA 4 (20 siswa) sebagai kelompok kontrol yang dibelajarkan dengan model discopery learning. Data keterampilan proses sains siswa dikumpulkan dengan tes keterampilan proses sains. Data dianalisis secara deskriptif dan independent samples t-test pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rerata keterampian proses sains siswa yang dibelajarkan dengan model siklus belajar 7E berorientasi budaya lokal adalah 60,9 dengan skor tertinggi dan terendah secara berturut-turut adalah 73,3 dan 26,7. Skor rerata keterampian proses sains siswa dibelajarkan dengan model discopery learning adalah 40,2 dengan skor tertinggi dan terendah secara berturut-turur 56,7 dan 26,7. Terdapat perbedaan keterampilan proses sains secara signifikan antara siswa yang dibelajarkan dengan model siklus belajar 7E berorientasi budaya lokal dan siswa yang dibelajarkan dengan model discovery learning. Keterampilan proses sains siswa yang dibelajarkan dengan model siklus belajar 7E berorientasi budaya lokal lebih baik daripada siswa yang dibelajarkan dengan model discopery learning.Kata-kata kunci: siklus belajar 7E, budaya lokal, keterampilan proses sainsAbstrakThis research aimed to describe the differences of science process skills between students learned through 7E learning cycle model with local culture oriented and students learned through discovery learning model in chemistry subject. This research was experiment reseach with posttest only control group design. Population of this research was XI grade students of SMAN 3 Singaraja on Even Semester in Acamemic Year 2014/2015, but its sample was MIA-3 XI grade students (23 students) as experiment group learned through 7E learning cycle model with local culture oriented and MIA-4 XI grade students (20 students) as control group learned through discovery learning model. Data of science process skills were collected by science process skills test. Data were analyzed descriptively and by using independent samples t-test with 5% significance level. The results show that average score science process skills of students who learned through 7E learning cycle model with local culture oriented is 60,9 with highest and lowes scores are 73.3 and 26.7 respectively. Average score science process skills of students who learned through discovery learning model is 40.2 with highest and lowes scores are 56.7 and 26.7 respectively. There are differences of science process skills significantly between students learned through 7E learning cycle model with local culture oriented and students learned through discovery learning model. Science process skills of students who learned through 7E learning cycle model with local culture oriented is better than students learned through discovery learning model.Keywords: 7E learning cycle, local culture, science process skills
MENYIAPKAN LULUSAN FMIPA YANG MENGUASAI KETERAMPILAN ABAD XXI I Wayan Redhana
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abad XXI merupakan abad pengetahuan yang mendorong perkembangan teknologi. Perkembangan ini menyebabkan perubahan yang sangat cepat dalam segala aspek kehidupan dan dunia kerja serta menimbulkan ketidakpastian di masa depan yang harus diantisipasi dengan baik. Oleh karena itu, peserta didik harus dibekali dengan sejumlah keterampilan agar mampu menghadapi perubahan dan berbagai jenis tantangan di abad ini. Keterampilan yang diperlukan adalah keterampilan abad XXI yang meliputi keterampilan belajar dan inovasi, keterampilan informasi, media, dan teknologi, serta keterampilan hidup dan karir. Keterampilan belajar dan inovasi meliputi berpikir kritis dan pemecahan masalah, komunikasi dan kolaborasi, serta kreativitas dan inovasi. Keterampilan informasi, media, dan teknologi meliputi literasi informasi, literasi media, serta literasi teknologi, informasi, dan komunikasi. Sementara itu, keterampilan hidup dan karir meliputi fleksibilitas dan adaptibilitas, inisiatif dan pengarahan diri, keterampilan sosial dan lintas budaya, produktivitas dan akuntabilitas, serta kepemimpinan dan tanggung jawab. Untuk menguasai keterampilan-keterampilan tersebut, inovasi pembelajaran perlu dilakukan. Sejumlah pembelajaran mampu mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut. Beberapa di antaranya adalah pembelajaran berbasis permainan, pembelajaran berbasis projek, pembelajaran berbasis masalah, dan pembelajaran berbasis argumen. Model-model pembelajaran ini dapat diterapkan di FMIPA, khusus FMIPA Undiksha, untuk menyiapkan lulusan yang mampu berkompetisi di abad XXI.Kata-kata kunci: keterampilan abad XXI, berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kreativitas
OPTIMALISASI PERAN PENDIDIKAN MATEMATIKA SEBAGAI PENDIDIKAN NILAI-NILAI I Nengah Suparta
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Oleh sebagian besar siswa, pendidikan matematika selama ini masih terkesan pendidikan yang kurang aplikatif. Kesan ini menjadikan pendidikan matematika di sekolah merupakan salah satu yang kurang diminati oleh siswa pada umumnya. Namun, ketika dicermati lebih jauh, pendidikan matematika mengandung makna yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Hal ini bukan karena fungsinya sebagai pelayan ilmu-ilmu lain, tetapi karena sesungguhnya pendidikan matematika itu dapat ditujukan bagi pembentukan nilai-nilai pada siswa. Menyodorkan permasalahan-permasalahan matematika yang berkaitan dengan lingkungan, penghematan, energi, atau pelayanan misalnya, dapat menjadikan pendidikan matematika sebagai wahana pendidikan nilai pada siswa. Hal ini juga secara langsung dapat menumbuhkembangkan minat dan memotivasi siswa untuk belajar matematika. Lebih jauh, esensi matematika itu sendiri bahkan juga merupakan objek didik yang sangat mendukung pembentukan nilai-nilai pada siswa. Sebagai contoh, matematika adalah ilmu yang konsisten yang berkembang secara deduktif. Konsistensi adalah sifat manusia yang patut ditumbuhkembangkan. Pada tulisan ini didiskusikan hal-hal yang dapat dilakukan dalam pembelajaran untuk mengoptimalkan peran pendidikan matematika bagi pendidikan nilai-nilai.Kata-kata kunci: Pendidikan matematika, pendidikan nilai.
OPTIMALISASI MODEL NHT UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA Ni Wayan Parwati
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah yang akan dikaji dalam Penelitian tindakan ini adalah apakah dengan optimalisasi model pembelajaran NHT dapat meningkatkan Hasil belajar IPA siswa kelas VIII.12 semester 1 tahun pelajaran 2015/2016? Metode penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian siswa kelas VIII.12 pada semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 33 orang.Data awal Hasil belajar IPA pada pra siklus diperoleh dengan rata-rata 62,66 menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPA masih sangat rendah mengingat kriteria ketuntasan belajar siswa untuk mata pelajaran ini adalah 70. Hasil ini mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 66,56 dan pada siklus II 75,00. Dengan telah tercapainya rata-rata Hasil belajar IPA 75,00 berarti sudah diatas taraf keberhasilan yang ditetapkan yaitu 70, sehingga tindakan dianggap berhasil. Dari segi ketuntasan, diperoleh peningkatan yaitu pra siklus 19%, siklus I 34%, dan siklus II 94%. Dengan tercapainya prosentase ketuntasan pada siklus II 94%, telah melampaui taraf keberhasilan yang ditetapkan yaitu 85%, sehingga tindakan dianggap berhasil. Hal ini disebabkan karena penerapan model NHT dapat membuat siswa bersemangat dan aktif dalam proses pembelajaran sehingga Hasil belajarnya meningkat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa optimalisasi model pembelajaran NHT dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas VIII.12 semeter 2 SMPN 2 Amlapura tahun pelajaran 2015/2016.Kata Kunci : Hasil Belajar, model NHT