cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional MIPA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 697 Documents
MODEL BELAJAR PEMECAHAN MASALAH BERBASIS KONTEKS UNTUK PENGEMBANGAN KOMPETENSI GENERIK SISWA KELAS X SMA NEGERI 3 SINGARAJA Putu Yasa
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat dan luas dari negara-negara maju bedampak pada seluruh aspek kehidupan sosial masyarakat, termasuk aspek pendidikan. Tujuan pendidikan adalah menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing dan berkontribusi dalam perkembangan global kehidupan masyarakat di masa depan, membentuk masyarakat yang mampu berpikir kritis dalam memcahkan msalah, bekerja sama dalam team work, memenage dirinya dalam belajar, berkomunikasi, dan memanfaatkan perkembagan IT sebagai sumber belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kompetensi generik siswa yang meliputi keterampilan pemecahan masalah, keterampilan berpikir kritis, keterampilan dalam team work, dan keterampilan dalam self directed learning (SDL). Penelitian ini dilakukan dalam bentuk penelitian tindakan kelas dengan dua siklus pembelajaran dengan menerapkan model belajar pemecahan masalah berbasis konteks. Hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa. rerata kompetensi generik siswa dari keadaan awal, siklus I dan siklus II terjadi peningkatan (57; 71,67; dan 81,33). Berdasarkan hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa secara umum model belajar pemecahan masalah berbasis konteks dapat mengembangkan kompetensi generik siswa SMA Negeri 3 Singaraja menujukea rah yang positipKata-kata kunci: Model belajar belajar, pemecahan masalah, dan kompetensi GenerikAbstract: The very rapidly and broadly development of the science and technology of developed countries impacts to the all aspects of human social life, including in the education aspect. The purpose of the education is to prepare human resources to compete and contribute in the gobal development of the community life in the future, develops the community that able to critical thingking in thr problem solving, work together in team work, self directed learning, communicate globally, and uses the competence including; problem solving skill, critical thingking skill, team work skill, and SDL. The study was done as the class action research with two learning sicles by implementing context based problem solving learning model. The analysis data indiceted that there were increased to the average of students generic competencies from base line to the first learning cycle and the second learning cycle (38; 68; and 72). Based on the data analysis indicates thet generally the generic competencies of students of SMA Negeri 3 Singaraja can be developed by the learning model of problem solving based context.Keywords; learning model, problem solving, and generic competence
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN ORIENTASI IPA UNTUK MELATIHKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMA KONSEP ELASTISITAS & HUKUM HOOKE, DAN FLUIDA STATIS Rosyid Rosyid; Budi Jatmiko; Imam Supardi
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas model pembelajaran Orientasi IPA dalam melatihkan keterampilan berpikir kritis siswa. Desain yang digunakan adalah control group pretest and postest design. Implementasi model dilakukan di dua sekolah masing-masing sebanyak tiga kelas eksperimen (model pembelajaran Orientasi IPA) dan satu kelas kontrol (model konvensional). Penentuan sampel menggunakan teknik Simple Random Sampling. Analisis data menggunakan teknik deskriptif kualitatif dan uji statistik inferensial ANOVA satu jalur dan uji-t dua sampel yang independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran Orientasi IPA efektif meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dengan capaian N-gain tinggi daripada model pembelajaran konvensional dengan capaian N-gain sedang.Kata-kata kunci: Efektivitas, Keterampilan berpikir kritis, Model pembelajaran
MEMBANGKITKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI VARIASI MODEL UMPAN BALIK DENGAN MEMPERTIMBANGKAN GAYA KOGNITIF Ni Made Sri Mertasari
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh model umpan balik terhadap motivasi belajar matematika. Penelitian ini dilakukan pada siswa SMP Negeri di Kota Singaraja menggunakan metode eksperimen dengan desain faktorial 2x2 melibatkan 100 siswa sebagai sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti pembelajaran matematika dengan umpan balik dari teman sejawat memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang mengikuti pembelajaran matematika dengan umpan balik dari guru. Selanjutnya ditemukan bahwa terjadi pengaruh interaksi antara model umpan balik dan gaya kogntif siswa terhadap motivasi belajar siswa. Siswa yang memiliki gaya kognitif field independenlebih cocok dengan pembelajaran matematika dengan umpan balik dari teman sebaya, sebaliknya siswa yang memiliki gaya kognitif field independenlebih cocok dengan pembelajaran matematika dengan umpan balik dariguru. Oleh karena itu, dalam upaya meningkatkan motivasi belajar matematika siswa, disarankan untuk menerapkan pembelajaran dengan umpan balik dari teman sebaya dengan mempertimbangkan gaya kognitif siswa.Kata-kata Kunci: Umpan balik teman sebaya, gaya kognitif, motivasi belajarAbstract: The objective of the research is to study the effect of feedback model on mathematics learning motivation by considering cognitive style. The research using experimental method with 2x2 factorial design and conducted conducted at Singaraja for State Junior High School with sample of 100 students..The result of the research indicates that the mathematics learning motivation of students who follow instructional with peer feedback is higher than those from students who follow instructional with teacher made feedback. Furthermore, it is found that there is interaction effect between feedback model and cognitive style on mathematics learning motivation. Students with field independent cognitive style appropriates with mathematics instruction with peer feedback, otherwise students with field dependent cognitive style appropriates with mathematics instruction with feedback from teacher. Finally, in order to enhance student learning motivation, it is recomended to use peer feedback model in mathematics instruction by considering cognitive style.Keywords: peer feedback, cognitive style, learning motivation
ANALISIS PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR LUAR BIASA (SDLB) B NEGERI SINGARAJA Tia Rahmawati; I Made Candiasa; I Made Suarsana
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas perencanaan pembelajaran, kualitas pelaksanaan pembelajaran, kualitas evaluasi pembelajaran, dan kendala-kendala yang dihadapi dalam pembelajaran matematika di Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) B Negeri Singaraja. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pengambilan subjek penelitian dilakukan secara purposive sampling. Pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran terkategori baik dengan persentase skor perencanaan pembelajaran sebesar 87,5%, kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran terkategorikan baik dengan persentase skor pelaksanaan pembelajaran sebesar 82,14%, kemampuan guru mengevaluasi pembelajaran terkategorikan cukup dengan persentase skor sebesar 75%, dan kendala yang dihadapi dalam pembelajaran matematika yaitu belum tersedianya buku pelajaran khusus untuk SDLB B, kesulitan dalam berkomunikasi dengan siswa, belum adanya pengawas khusus SDLB, kurangnya ketersediaan media pembelajaran.Kata-kata kunci:SDLB B, perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaranAbstract: The aims of this qualitative research are to thoroughly observe the qualities of lesson plans, implementations, evaluations and obstacles faced in the mathematics classroom of SDLB B N Singaraja. Purposive sampling was used to select the needed samples of the research. The data were gathered through observation, interview and document analysis. The data analysis showed that the teacher's ability in order to construct the lesson plans was good (87,5%), the implementation of the lesson plan in the learning activities was good (82.14%), and the teacher's ability to evaluate the instructional activities was enough (75%). Furthermore, it is found that some problems encountered in mathematics teaching-learning activities in SDLB B N Singaraja were caused by the lack of textbooks, the difficulties in teacher's-student's communication, the absent of supervisor specializing in special learning and the lack of media for learningKeywords: SDLB, lesson plan, learning implementation, learning evaluation
KIMIA HIJAU DALAM PRAKTIKUM LAJU REAKSI I Wayan Redhana
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan studi ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis bahan-bahan yang aman bagi manusia dan ramah bagi lingkungan pada praktikum laju reaksi. Studi ini dilakukan dengan mengkaji literatur dan mengeksplorasi gagasan yang terkait dengan praktikum kimia ramah lingkungan. Ada empat jenis praktikum yang dilakukan pada topik laju reaksi, yaitu: pengaruh luas permukaan, konsentrasi, suhu, dan katalis masing-masing terhadap laju reaksi. Pada praktikum pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi, bahan-bahan yang dapat digunakan adalah tablet efervesen (dalam bentuk utuh dan butiran dengan massa yang sama) dan air. Pada pengaruh konsentrasi dan suhu masing-masing terhadap laju reaksi, bahan-bahan yang dapat digunakan tablet vitamin C, iodium tincture, hidrogen peroksida, dan pati. Sementara itu, pada praktikum pengaruh katalis terhadap laju reaksi, bahan-bahan yang dapat digunakan adalah hidrogen peroksida dan kentang. Bahan-bahan ramah lingkungan ini menggantikan bahan-bahan kimia pada praktikum tradisional, seperti larutan HCl, Na2S2O3, dan FeCl3 yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan.Kata-kata kunci: bahan kimia berbahaya, bahan ramah lingkungan, praktikum kimia hijauAbstract: This study aimed at describing and analyzing materials being safe for human and friendly for environment at chemical rate practicum. The study was conducted by reviewing references and exploring ideas related to the environmentally friendly chemistry practicum. There were four topics of chemical rate practicum, namely: the effect of surface area, concentration, temperature, and catalyst toward the chemical rate, respectively. At the effect of surface area of reactans toward the chemical rate, materials being used were effervescent tablet (in form of chunks and granules at the same mass) and aquadest. At the effect of concentration of reactans and temperature toward the chemical rate, respectively, materials being used were vitamin C tablets, tincture of iodine, hydrogen peroxide, and starch. Meanwhile, at the practicum of the effect of catalyst toward the chemical rate, materials being used were hydrogen peroxide and potato. These materials replaced chemicals used in the traditional practicum, such as solution of HCl, Na2S2O3, and FeCl3 being dangerous to the human and environment.Keywords: hazardous chemicals, environmentally friendly materials, green chemistry practicum
PARADIGMA BARU PEMBELAJARAN KIMIA SMA I Wayan Subagia
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kimia merupakan salah satu pelajaran IPA yang kurang diminati oleh kebanyakan peserta didik SMA. Hal tersebut tidak terlepas dari cara buku menyajikan materi, cara guru mengajarkan kimia, informasi publik yang diterima peserta didik, dan tujuan siswa belajar kimia. Tulisan ini menguraikan ide­ide baru pelaksanaan pelajaran kimia SMA untuk menguatkan minat peserta didik terhadap mata pelajaran kimia. Tulisan ini merupakan konstruksi teoretis pembelajaran kimia yang disusun berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman panjang dalam praktik pembelajaran ilmu kimia, baik di sekolah maupun di perguruan tinggi, yang diberi nama paradigma baru pembelajaran kimia SMA. Hasil konstruksi tersebut merekomendasikan tiga ide pokok yang dapat digunakan untuk penguatan peminatan peserta didik terhadap mata pelajaran kimia di SMA. Pertama, pembelajaran kimia SMA harus diawali dengan membangun cara berpikir baru peserta didik tentang mata pelajaran kimia. Hal ini dapat dilakukan dengan menjelaskan bahwa kimia itu penting, menyejahterakan, menyenangkan, menyehatkan, dan bermanfaat bagi semua orang . Kedua, setiap pembelajaran materi kimia SMA harus dikaitkan kembali dengan eksistensi kimia dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, peserta didik dilatih untuk berpikir kritis dan kreatif terhadap setiap aspek materi kimia yang dipelajari. Dengan demikian, peserta didik mampu melihat peranan kimia dalam menjelaskan atau memecahkan masalah sehari-hari dan bukan hanya dilihat sebagai pengetahuan belaka. Dengan tiga cara tersebut diharapkan, kesadaran, minat dan motivasi peserta didik belajar kimia dapat ditingkatkan.Kata-kata kunci: paradigma baru, pelajaran kimia, SMAAbstract : Chemistry is one of science subject matter which is less interested by many Senior High School students. This cannot be separated from the way books present materials, the way teachers teach describes new ideas of teaching senior high school chemistry to str chemistry subject. This writing is a theoretical construction of chemistry teaching formulated based on long observation and experiences in chemistry teaching, both at school and in university, called as new paradigm of teaching Senior High School Chemistry. There are three main ideas of teaching chemistry teaching of Senior High School chemistry should be initiated thinking of chemistry subject. This can be done by explaining that chemistry is important, prosperous, joyful, healthful, and useful for all people. Second, each part of chemistry learning should be connected back to the existence of chemistry in daily life. Third, students should be trained to think critically and creatively toward all aspects of chemistry learnt. Therefore, students are able to see the power of chemistry in describing and solving daily problems, and it is not seen as knowledge only. Based in these three ideas of chemistry teaching, it is expected that the awareness, interest, and motivation of students to learn chemistry can be improved.Keywords: new paradigm, chemistry learning, and senior high school
MODEL MENTAL MAHASISWA CALON GURU KIMIA DALAM MEMAHAMI BAHAN KAJIAN STEREOKIMIA I Wayan Suja
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menentukan distribusi model mental mahasiswa calon guru kimia dalam memahami bahan kajian Stereokimia, serta (2) mengidentifikasi dan mendeskripsikan miskonsepsi khusus (specific misconceptions) dan model mental alternatif yang dimiliki oleh mahasiswa calon guru kimia. Subyek penelitian adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNDIKSHA yang sedang mengambil mata kuliah Kimia Organik III di Kelas C Semeter V pada tahun ajaran 2013/2014. Jumlah subyek penelitian sebanyak 28 orang. Data dikumpulkan melalui instrumen tes hasil belajar berbentuk pilihan ganda dua tingkat, terdiri dari bagian isi dan bagian alasan. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan, (1) model mental mahasiswa calon guru kimia dalam memahami bahan kajian Stereokimia adalah: tidak ada konsep (20,71%), miskonsepsi spesifik (33,04%), model mental alternatif (12,50%), dan benar secara ilmiah (33,75%); serta (2) miskonsepsi tertinggi (92,86%) terjadi pada penentuan konfigurasi (R/S) senyawa berdasarkan proyeksi Newman, dan model mental alternatif tertinggi (32,14%) pada penggambaran proyeksi Fischer stereoisomer yang diketahui konfigurasi absolutnya.Kata-kata kunci: model mental, stereokimia, miskonsepsi, model mental alternatif.Abstract: This study aims to: (1) determine the distribution of pre-servicemodel in understanding Stereochemistry subject, and (2) identify and describe                                      specificmisconceptions and alternative mental models. Subjects were students of Chemistry Education Department, Mathematics and Natural Sciences Faculty UNDIKSHA, who are taking courses in Organic Chemistry III in 2013/2014 academic year. The number of study subjects were 28 students. Data were collected through achievement test formed multiple choice of two levels, consisting the contents and reasons. The data were analyzed descriptively. The results showed, ( mental model in understanding the subject of stereochemistry were: no concept (20.71%), specific misconceptions (33.04%), alternative mental models (12.50%), and scientifically correct (33.75%); and (2) highest misconceptions (92.86%) occurred in the determination of the configuration (R/S) compounds based on Newman projections, and highest alternative mental models (32.14%) in the depiction of the projection Fischer of stereoisomers that known its absolutly configuration.Keywords: mental models, stereochemistry, misconceptions, alternative mental models.
ASESMEN KEBUTUHAN PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN KIMIA DENGAN POLA INDUKTIF DAN DEDUKTIF ILMIAH Ida Bagus Nyoman Sudria
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asesmen kebutuhan ini bertujuan memperoleh gambaran nyata kebutuhan lapangan dalam rangka penelitian dan pengemabangan (R & D) perangkat pembelajaran pembinaan keterampilan berpikir induktif dan deduktif sebagai dasar keterampilian saintifik. Subjek dari survey asesmen kebutuhan ini meliputi guru-guru Kimia SMA di Bali dan dokumen perangkat pembelajaran (RPP, LKS, dan teks materi pelajaran) yang digunakan guru Objek penelitian berupa tanggapan guru terhadap penggunaan pendekatan induktif dan/atau deduktif dalam perangkat pembelajaran yang direkam melalui angket dan wawancara/studi dokumen tentang prangkat pembelajaran yang digunakan. Analisis data aseses kebutuhan dilakukan secara kualitatif. Melalui kuesioner 56% guru mengaku menggunakan pola/pendekatan induktif secara konsisten, 36% kurang konsisten, dan 7% tidak konsisten. Sementara dalam penggunaan pendekatan, 55% guru mengaku menggunakannya secara konsisen, 35% kurang konsisten, 10% tidak konsisten. Penggunaan pola induktif dan deduktif secara terintegrasi di mana adanya efisoda-efisoda pembelajaran yang konsisten mengikuti langkah-langkah kegiatan induktif atau deduktif diakui oleh 67 % guru dan penggunaan secara tidak jelas/sembarang diakui oleh 32% guru. Pengakuan guru melalui kuesioner kurang kuat didukung oleh hasil studi penggunaan pola/pendekatan induktif dan/atau deduktif dalam studi dokumen perangkat pembelajaran menemukan: (1) mayoritas perangkat pembelajaran tidak menyatakan secara eksplisit pola induktif dan/atau deduktif, (2) tidak melibatkan siswa dalam merumuskan masalah, hipotesis, dan membuat rancang eksperimen, dan (3) organisasi penyajian inoformasi dalam teks materi pelajaran mayoritas cendrung deduktif dan deskripsi yang sama pula disajaikan langsung dalam LKS sebelum prosedur kerja sebagai dasar teori (pengantar/pendahuluan) dari kegiatan praktikum/diskusi meskipun rancangan pembelajaran dengan pola induktif. Hasil asesmen kebutuhan ini menguatkan pentingnya mengembangkan perangkat pembelajaran dengan pola induktif dan/atau deduktif saintifik.Kata-kata kunci: pola induktif, pola deduktif, keterampilan ilmiah, dan perangkat pembelajaranAbstract: This need assessment proposed to support real need for conducting a educational research and development (R&D) of inductive and deductive learning tool models used for training inductive and deductive thinking skills as foundation of the scientific skills. Subjects of this need assessment survey involved teachers and learning tools (lesson plan, student worksheet, student reading text, and learning media) of secondary School Chemistry provided by them. Survey objects included teacher responses toward preparation of inductive and deductive learning tools recorded through a questionnaire, interview and document analysis of learning tool provided. Data analysis conducted qualitatively. This study found the percentages of teachers that recognized and prepared inductive learning tools consistently was 56%, impartial 36%, and inconsistently 7%; recognized and prepared deductive learning tools consistently was 55%, impartial 35%, and inconsistently 10%; recognized and prepared integrated inductive and deductive learning tools with consistent steps in each inductive episode and deductive episode was 67% and inconsistently (mixed any times) 32%. The teacher responses was fairly consistent with the provided learning tool document analysis results which found (1) majority of learning tools did not explicitly mentioned inductive/deductive approach, (2) the learning tools did not engaged students in formulating investigative problems and hypotheses and experiment planning, and (3) learning organization of chemistry contents/information in the reading text for students were dominated by deductive presentation as well as in the related student worksheet. This need assessment result support the need for conduction of R & D on developing inductive and deductive learning tools for developing scientific skills.Keywords: inductive approach, deductive approach, scientific skills, and learning tools.
PERANAN BUDAYA BALI DALAM MENGEMBANGKAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH Ida Bagus Putu Arnyana
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari artikel ini adalah menyampaikan pikiran tentang peranan budaya bali dalam mengembangkan pendidikan karakter. Indonesia yang pada saat ini mengalami masalah karakter bangsa yang ditunjukkan dengan rendahnya sopan santun para remaja, tawuran, budaya nyontek dan perilaku pejabat yang korup memberikan gambaran bahwa dalam melaksanakan pendidikan baik di sekolah, keluarga, dan masyarakat kurang membangun karakter bangsa ini. Untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengggali karakter bangsa khususnya budaya yang ada di Bali untuk diintegrasikan dalam melaksanakan pendidikan di sekolah. (a) Budaya bali yang dapat diintegrasikan dalam pendidikan karakter adalah: (1) Tumpek Uduh, (2) Tumpek Kandang, (3) tattwan asi, (4) subak, (5) salunglung sebaya taka, (6) asta kosala-kosali, (7) salam Shanti, (8) Hari Raya Nyepi, (9) ngopin, (10) medelokan, (11) resik, (12) menyama beraya, (13) eling, (14) swadharma, dan (15) budaya-budaya lainnya. (b) Budaya-budaya bali ini dapat diintegrasikan dalam pendidikan karakter dengan jalan: (1) mengintegrasikan dalam membangun budaya sekolah, (2) mengintegrasikan dalam mebangun budaya kelas, dan (3) mengintegrasikan dalam pembelajaran, baik dalam melaksanakan pendidikan maupun mengangkat budaya bali yang sesuai atau relevan dengan materi pelajaran dalam pembelajaran.Kata-kata kunci: Pendidikan karakter, budaya bali
MODEL PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN FISIKA BERCIRI PROBLEM SOLVING MELALUI TOT PADA GURU PRESERVIS DAN PENGARUH IMPLEMENTASINYA TERHADAP KEMAMPUAN MENYELESAIKAN MASALAH SISWA SMA KELAS X Iqbal Limatahu
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian model pengembangan perangkat pembelajaran fisika berciri problem solving melalui TOT pada guru preservis dan pengaruh implementasinya terhadap kemampuan menyelesaikan masalah siswa SMA Kelas X. Kelibihan model pembelajaran berbasis masalah (MPBM) yaitu lebih memberdayakan potensi mahasiswa (guru preservis) untuk terlibat secara aktif memberdayakan dan memahami konsep (materi) sebelum merek terjun langsung ke sekolah menjadi guru sebenarnya. Untuk menguatkan pemahaman konsep siswa di sekolah, maka siswa harus mempersiapkan diri atau belajar lebih baik agar dapat menyelesaikan masalah Fisika baik berupa konsep maupun pemecahan masalah lain yang berhungan dengan Fisika. Materi (matapelajaran) Fisika pokok bahasan: a) Optika Geometrik; b) Suhu dan Temperatur; c) Listrik Statik; d) Induksi Elektro-magnetik merupakan landasan yang harus dipahami siswa dalam belajar pada matapelajaran Fisika di kelas XII pokok bahasan: a) Cahaya sebagai Gelombang; b) Listrik dan Magnet; c) Pengantar Teori Kuantum; d) Teori Atom; e) Teori Relativitas; dan e) Fisika Inti. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif untuk mengungkapkan ketrampilan berpikir kritis siswa SMA. Penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun akademik 2012-2013 siswa kelas X SMA Negeri 4 Kota Ternate baik pada kelas Akselerasi dan seluruh kelas Kelas X1 sampai pada kelas X8). Berdasarkan hasil survai yang dilakukan pada Pebruari 2013 di SMA Negeri 4 Kota Ternate, nilai rerata pretes kemampuan pemecahan masalah fisika siswa kelas X semester genap diperoleh hasil: a) Konsep Optik adalah 0.07; b) Suhu dan Temperatur adalah 0.01; c) Listrik Statik adalah 0.00; d) Induksi Ektromagnetik adalah 0.02. Nilai rerata untuk keseluruhan konsep diperoleh 0.02. Berdasarkan rubrik problem solving (Docktor, 2009) yang dimodifikasi diketahui bahwa nilai rerata siswa diperoleh hasil sebagai berikut: a) tidak menjawab pertanyaan (NA) sebanyak 79.98%; b) solusi tidak termasuk keterangan dan tidak diperlukan untuk pemecahan masalah (skala 0) sebanyak 10.22%; c) seluruh diskripsi tidak berguna dan/atau mengandung kesalahan (skala 1) sebanyak 8.03%; d) sebagian besar deskripsi tidak diperlukan, hilang, dan/atau mengandung kesalahan (skala 2) sebanyak 0.42%; e) sebagian deskripsi tidak diperlukan, hilang, dan/atau mengandung kesalahan (skala 3) sebanyak 0.12%; f) deskripsi diperlukan tetapi mengalami kesalahan atau kesalahan kecil (skala 4) sebanyak 1.21%; g) deskripsi diperlukan, tepat, dan lengkap (skala 5) sebanyak 0.02%.Kata-kata kunci: problem solving, tot, guru preservis, kemampuan menyelesaikan masalah.Abstract: This research is conducted on model of development in physics learning device with problem solving characteristic through tot on preservice teacher and the effect of its implementation on 10th grade students ability in resolving problems. The advantage of problem-based learning is more in the empowerment side of potential students (preservice teacher) so that they can actively empower and comprehend a concept (material) before they go directly to the school as actual teachers. In order to strengthen the students understanding at school, students must get prepared or study hard to accomplish Physics problems either concept or other problems related to Physics. Physics Learning material (subject): a) geometric optics; b) heat and temperature; c) static electricity; d) electromagnetic induction are basic concepts that have to be understood by XII grade students in these subjects: a) light as wave; b) electricity and magnetism; c) introduction to quantum theory; d) atomic theory; e) theory of relativity; and f) nuclear physics. This is a descriptive research to reveal the analytical thinking of students in Senior High School. This research was conducted on X grade acceleration students and all students in X1 up to X8 SMA Negeri 4 Kota Ternate in even semester year 2012-2013. The research results which conducted on February 2013 in SMA Negeri 4 Kota Ternate for X grade students on even semester are as follows: a)Optical Concept is 0.07; b) heat and temperature is 0.01; c) static electricity is 0.00; d) electromagnetic induction is 0.02. the average for overall concept is 0.02. Based on problem solving rubric (Docktor, 2009) which is modificated, it is known that students average values are obtained as follows: a) not answering questions (NA) is 79.98%; b) solution excludes information and not required to solve problem (scale 0) is 10.22%; c) all description is not needed and/or containing mistakes (scale 1) is 8.03%; d) almost all description is not needed, disappear, and/or containing mistakes (scale 2) is 0.42%; e) partial description is not needed, disappear, and/or containing mistakes (scale 3) is 0.12%; f) description is needed but containing small mistakes (scale 4) is 1.21%; g) description is needed, precise, and complete (scale 5) is 0.02%.Keywords: problem solving, tot, preservice teacher, ability in solving problems