cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional MIPA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 697 Documents
PELATIHAN PENGGUNAAN IC 555 UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN GURU FISIKA SMP DAN SMA PEMBINAAN EKSTRAKULIKER ELEKTRONIK DI KECAMATAN BULELENG Luh Putu Budi Yasmini; Dewi Oktofa Rahmawati; Putu Budiasa
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan ekstrakurikuler ditujukan agar siswa dapat mengembangkan kepribadian, bakat, dan kemampuannya diberbagai bidang di luar bidang akademik. Berdasarkan data yang diperoleh terdapat 4 SMA Negeri di kecamatan Buleleng dan 34 SMP Negeri di Kabupaten Buleleng (http://www.balipost.co.id, edisi 27 Januari 2010 ), data tersebut belum termasuk SMK dan Sekolah Swasta yang ada di Kecamatan Buleleng. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa hanya sebagian kecil sekolah tersebut yang masih tetap memfasilitasi siswanya yang berminat pada bidang elektronika, seperti SMA Negeri 1 Singaraja. Masalah pokok yang akan dipecahkan melalui kegiatan P2M ini adalah “Meningkatkan keterampilan dalam bidang elektronika guru SMP dan SMA pembina ekstrakurikuler elektronika di Kecamatan Buleleng”. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah “ Pelatihan guru SMP dan SMA pembina ekstrakurikuler elektronika di Kecamatan Buleleng dapat meningkatkan ketermapilan dalam bidang elektronika”.
EVALUASI PROGRAM RKBI JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS MIPA UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA I Made Candiasa
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rintisan kelas bertaraf internasional (RKBI) pada jurusan Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Ganesha sudah dibuka mulai tahun 2008. Selama lima tahun beroperasi, belum pernah ada penelitian untuk mengevaluasi efektivitas program tersebut. Oleh karena itu, untuk saat ini sangat diperlukan penelitian untuk mengevaluasi program tersebut. Evaluasi dilakukan menggunakan pendekatan CIPP (context, input, process, and product). Penelitian menemukan bahwa operasional program RKBI pada jurusan Pendidikan Matematika sudah berjalan dalam kategori sangat baik. Oleh karena itu, program RKBI pada jurusan Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Ganesha harus dilanjutkan dengan beberapa perbaikan. Perbaikan paling penting untuk diupayakan adalah pengakuan terhadap kompetensi tambahan yang dimiliki lulusan.Kata-kata kunci: RKBI, CIPP Abstract: World class program for Educational Mathematics Department at Ganesha University of Education was opened in 2008. This program was hoped yielded mathematics teachers with world class quality. For the five year operation, it is no evaluation for this program yet. Therefore, for this momment, it is important to do the evaluation for this program. Evaluation is done by using CIPP (context, input, process, and product) approach. It was found that the operation of world class program Educational Mathematics Department at Ganesha University of Education stand in very good cathegory. Considering this result, it is recomended for continuing the operation of world class program for Educational Mathematics Department at Ganesha University of Education with some improvements. The most important improvement is acknowledgement for their competence.Keywords: World Class Program, CIPP
PENGEMBANGAN MODEL PENDIDIKAN KESEHATAN INTEGRATIF DAN KOLABORATIF DI SEKOLAH Desak Made Citrawathi
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan dan kesehatan merupakan dua hal yang saling berkaitan. Untuk dapat belajar dengan baik, diperlukan status kesehatan yang optimal. Kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual yang baik pada siswa akan menunjang keberhasilan siswa dalam belajar. Pendidikan merupakan salah satu unsur penting dalam promosi kesehatan dan merupakan startegi promosi kesehatan yang lebih baik dibandingkan strategi lainnya. Melalui pendidikan kesehatan siswa mendapatkan informasi, pengetahuan, dan keterampilan mengenai perilaku hidup sehat, dan gaya hidup yang bersih dan sehat. Melalui pendidikan kesehatan siswa juga mendapatkan akses mengenai berbagai masalah kesehatan. Siswa yang mendapatkan pendidikan kesehatan diharapkan tidak hanya mampu mempraktekkan perilaku sehat dalam kehidupan sehari-hari, tetapi mereka juga diharapkan mampu menjadi agen promosi kesehatan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Sedangkan dalam UU RI No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dinyatakan bahwa kesehatan sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh, dan berkembang menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.Kedua Undang-undang tersebut mengamanatkan pentingnya pelaksanaan pendidikan kesehatan di sekolah. Dengan berlakunya Kurikulum 2013, perlu dikembangkan model pendidikan kesehatan integratif dan kolaboratif, melalui pengembangan tema-tema kesehatan atau diintegrasikan pada mata pelajaran yang relevan, dengan lebih mengoptimalkan peranan siswa, guru, dan dukungan partisipatif aktif warga sekolah, orang tua, dan Puskesmas.Kata-kata kunci: pendidikan kesehatan, integratif, kolaboratif.Abstract: Education and health are two interrelated things. To be able to learn well, required optimal health status. Physical, mental, social, and spiritual well the students will support the success of students in learning.Education is one of the important elements in the promotion of health and health promotion is a strategy that is better than other strategies. Through health education students gain information, knowledge, and skills regarding healthy behavior and lifestyle that is clean and healthy. Through healtheducation students also gain access to the wide range of health problems. Students who received health education are expected not only be able to practice healthy behaviors in daily life, but they are also expected to be a health promotion agency in the family and society. In Law No. 20 Year 2003 on National Education System stated that "the National Education serves to developing students' potentials to become a human of faith and fear of God Almighty, noble, healthy, knowledgeable, skilled, creative, independent, and become citizens democratic and accountable. While the RI Law 36 of 2009 on Health stated that the school health organized to enhance the ability of learners healthy life in a healthy environment so that students can learn, grow, and develop into a quality human resources. Both the laws mandates the importance of the implementation of health education in schools. With the enactment of Curriculum 2013, the need to develop models of integrative and collaborative health education, through the development of health themes or integrated in the relevant subjects, to further optimize the role of students, teachers, and support of active participatory citizens of the school, parents, and health centers.Keywords: health education, integrative, collaborative.
PEMBINAAN OLIMPIADE SAINS NASIONAL (OSN) FISIKA SMP DI KECAMATAN MENGWI Dewi Oktofa Rahmawati
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan kompetensi guru pembina Ol imp iade S a ins N a s io na l ( O S N ) dalam menyelesaikan soal-soal olimpiade fisika dengan strategi pemecahan masalah dan mendeskripsikan respon guru pendamping pembina OSN peserta pelatihan terhadap pelaksanaan pendampingan pembinaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) fisika SMP. Metode kegiatan ini menggunakan sistem pendampingan secara berkala. Sasaran pengabdian adalah guru-guru IPA (Fisika) SMP Negeri di Kecamatan Mengwi. Data yang telah dikumpulkan melalui teknik tes, pemberian angket kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil pelaksanaan program menunjukkan 1) kompetensi guru pembina O lim p iade S ain s N as io nal ( O S N) dalam menyelesaikan soal-soal olimpiade fisika dengan strategi pemecahan masalah meningkat dari kualifikasi baik (M = 61,54; SD = 6,78) menjadi sangat baik (M = 93,46; SD = 6,91), 2) respon guru pendamping Pembina OSN peserta pelatihan terhadap pelaksanaan pendampingan pembinaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) fisika SMP sangat positif (M = 36,85; SD = 1,21). Hal posistif yang dapat diperoleh setelah kegiatan pendampingan ini adalah 1) para guru peserta pelatihan memperoleh pendalaman materi fisika dalam tataran OSN; 2) para guru peserta pelatihan mengetahui strategi pemecahan masalah dalam memecahkan soal-soal fisika berorientasi OSN. Kata-kata kunci: strategi pemecahan masalah
PENGEMBANGAN KIT IPA BERORIENTASI LINGKUNGAN PENUNJANG PRAKTIKUM PADA PEMBELAJARAN IPA SESUAI KURIKULUM 2013 DI SMPN 2 SINGARAJA I Dewa Putu Subamia; I. G. A. N. Sri Wahyuni; Ni Nyoman Widiasih
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan KIT IPA berorientasi lingkungan sebagai penunjang praktikum untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA SMP sesuai kurikulum 2013. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan perangkat praktikum IPA yang mengacu pada model pengembangan perangkat pembelajaran oleh Borg dan Gall yang terdiri atas 3 tahap yaitu tahap studi pendahuluan, tahap studi pengembangan, dan tahap uji produk. Data dikumpulkan berupa data kualitatif dan kuantitatif melalui instrumen angket. Data hasil uji validasi dianalisis dengan teknik analisis rata-rata, selanjutnya produk direvisi sesuai hasil analisis data serta saran dari validator. Subjek pada penelitian ini adalah ahli, siswa, dan guru. Siswa yang dijadikan sampel uji coba adalah siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Singaraja tahun pelajaran 2014/2015. Hasil penilaian ahli dan guru terhadap model KIT yang dikembangkan menunjukkan rata-rata menyatakan baik. Hasil uji coba pemanfaatan produk menunjukkan skor rata-rata 87,8% siswa menyatakan baik. Hasil ujicoba terbatas menunjukkan respon guru terhadap pemanfaatan perangkat KIT IPA menyatakan sangat layak. Aktivitas siswa kategori aktif dan sangat aktif dalam pembelajaran di kelas ujicoba terbatas sejumlah 83,4% dari seluruh siswa. Respon positif ditunjukkan pada kelas ujicoba terbatas sebesar 86,3% dari seluruh siswa. Respon siswa pada pembelajaran memanfaatkan KIT IPA berorientasi lingkungan rata-rata menyatakan lebih baik dan lebih menyenangkan. Dari hasil pengamatan pembelajaran, ternyata pada pembelajaran memanfaatkan KIT IPA berorientasi lingkungan siswa lebih aktif dibandingkan pada pada pembelajaran tanpa KIT IPA. Respon siswa terhadap pemanfaatan KIT IPA berorientasi lingkungan dalam pembelajaran IPA diperoleh hasil jumlah siswa yang mempunyai respon positif mencapai 87,8%. Hal tersebut menunjukkan perangkat KIT IPA mampu mendukung proses pembelajaran IPA menjadi lebih menarik. Guru memberi kesan positif terhadap perangkat KIT IPA berorientasi lingkungan baik dari mudahnya mempersiapkan, maupun kemudahan mengaplikasikannya. Dari hasil tersebut maka disimpulkan model KIT IPA berorientasi lingkungan yang dikembangkan sudah memenuhi kriteria relevan dan mudah digunakan.Kata-kata kunci: pengembangan, perangkat praktikum, berorientasi lingkunganAbstract: This research aims to generate KIT IPA as a support lab-oriented environment to improve the quality of science teaching appropriate curriculum SMP 2013 This research is the development of practical science that refers to a development model learning device by Borg and Gall which consists of three phases: a preliminary study , stages of development studies, and product testing phase. Data collected in the form of qualitative and quantitative data through a questionnaire instrument. Data validation test results were analyzed with analysis techniques on average, then the product was revised according to the results of data analysis and advice from the validator. Subjects in this study were experts, students, and teachers. Students sampled trials are VIIa grade students of SMP Negeri 2 Singaraja school year 2014/2015. Expert and teacher assessment results against KIT models developed shows the average declared good. The test result shows the use of the product an average score of 87.8% of students stated either. Limited test results show the response of teachers to the use of the IPA states KIT is very feasible. Activity category students active and very active in the classroom is limited test some 83.4% of all students. Positive response is shown in a limited trial class for 86.3% of all students. Student responses on science-oriented learning environment utilizing KIT an average expressed better and more enjoyable. From the observation of learning, it turns on the learning environment utilizing KIT science oriented students are more active than in the science of learning without KIT. Students' response to the use of IPA KIT oriented science learning environment in the obtained results have a number of students who achieve a 87.8% positive response. It shows the KIT IPA IPA can support the learning process becomes more attractive. The teacher gives a positive impression to the IPA KIT well oriented environment of easy toprepare, and easy to apply. From these results we concluded KIT models developed meets the relevant criteria and usefull.Key words: development, practical devices, oriented environment
PENGEMBANGAN LKS BERBASIS SOFTWARE GEOGEBRA UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 SINGARAJA Ni Putu Urip Vidayanti; I G A Mahayukti; I Putu Wisna Ariawan
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan LKS berbasis software GeoGebra yang valid, praktis, dan efektif untuk siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Singaraja. Pengembangan LKS berbasis software GeoGebra ini menggunakan model pengembangan four-D. Namun, mengingat keterbatasan waktu dan biaya yang dimiliki penelitian ini hanya dilakukan sampai tahap ketiga yaitu tahap develop. Data dikumpulkan dengan angket, lembar observasi dan tes. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif. Validitas dilihat dari isi dan konstruk, menggunakan angket, kepraktisan dilihat dari respon siswa dan guru dan keefektifan dilihat dari prestasi siswa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa LKS dan media GeoGebra yang dikembangkan valid, praktis dan efektif.Kata-kata kunci: LKS, GeoGebra, prestasi belajar, kualitas perangkat pembelajaran
PENGELOLAAN LABORATORIUM KIMIA DENGAN KEARIFAN LOKAL TRI SAKTI I Gusti Lanang Wiratma
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laboratorium merupakan jantung dari kegiatan pembelajaran sains, khususnya pembelajaran kimia, karena laboratorium merupakan tempat untuk melihat, mencoba, menguji, menilai konsep-konsep sains yang dipelajari hingga siswa memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang sains. Persoalan yang paling mengemuka dalam pembelajaran di laboratorium adalah masalah kualitas pengelolaan laboratorium. World Health Organization (WHO) menyatakan ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap kualitas pengelolaan laboratoriun, antara lain: security, containment, safety, and ergonomics. (WHO, 2011). Pada dasarnya, pengelolaan laboratorium terdiri atas tiga kegiatan pokok, yaitu pengadaan, penggunaan, dan pemeliharaan alat dan bahan laboratorium. Ketiga kegiatan pokok tersebut sesungguhnya belum lengkap. Salah satu kegiatan yang belum tampak adalah kegiatan pemusnahan alat atau bahan yang sudah rusak.Salah satu nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Bali yang digunakan sebagai dasar pengaturan keseimbangan dan keharmonisan alam adalah konsep Trisakti. Trisakti adalah fungsi kekuatan Tuhan untuk mengatur keseimbangan alam yang terdiri atas tiga kekuatan, yaitu kekuatan mencipta atau mengadakan yang dikenal dengan utpti, kekuatan memelihara atau menjaga yang dikenal dengan stiti, dan kekuatan memusnahkan atau melenyapkan yang dikenal dengan pralina (Soeka, 1986).Trisakti merupakan konsep pengelolaan alam secara seimbang antara pengadaan, pemeliharaan dan penggunaan, serta pemusnahan hal-hal yang sudah tidak berguna. Konsep pengelolaan yang disebutkan di atas, sangat relevan digunakan dalam pengelolaan laboratorium kimia di SMA. Kegiatan pengelolaan laboratorium kimia di SMA berdasarkan beberapa penelitian ternyata menekankan pada proses pengadaan, pemanfaatan dan pemeliharaan, tanpa memikirkan tentang pemusnahan alat dan bahan yang sudah rusak (Wiratma, 2013. Laksmi, 2014). Dengan kondisi itu, mengakibatkan keadaan laboratorium kurang nyaman dan berbahaya bagi lingkungan, dan keselamatan kerja. Pengelolaan laboratorium kimia dengan konsep manajemen Tri Sakti, senantiasa menyeimbangkan antara pengadaan, penggunaan dan pemeliharaan, serta pemusnahan, yang bermuara menuju keharmonisan dan keberlanjutan. Oleh karena itu, konsep manajemen Tri Sakti sangat tepat dipakai landasan filosofi mengelola laboratorium kimia di SMA.Kata-kata kunci: pengelolaan, laboratorium kimia, kearifan lokal, tri saktiAbstract: Laboratory is the heart of science learning activities, in particular chemistry learning, because lab is a place to see, try, test, assess science concept learned by the students gain a better understanding of science. The most prominent issue in the problem of learning in the laboratory is a laboratory quality management.World Health Organization (WHO) states there are a lot of factors that affect the quality of laboratory management, among others: security, containment, safety, and ergonomics. (WHO, 2011). Basically, the management of the laboratory consists of three main activities, namely procurement, use, and maintenance of laboratory equipment and materials. All three of the main activities is not complete. One activity that has not seemed to be an activity culling tool or material that is damaged.One of the local genius in Bali are used as the basis for setting the balance and harmony of nature is the concept of Trisakti. Trisakti is a function of the power of God to set the natural balance of three powers, namely the power to create or conduct that is known to utpti, preserve or maintain strength, known as stiti, and destroy or eliminate the force known as pralina (Soeka, 1986).Trisakti is the management concept of natural balance between procurement, maintenance and use, and disposal of things that are not useful. Management concepts mentioned above, it is relevant to be used in the chemical laboratory management of high school. Chemical laboratory management activities in high school based on some research it turns out emphasis on the procurement process, utilization and maintenance, without thinking about the destruction of equipment and materials that have been damaged (Wiratma, 2013, Laksmi, 2014). With these conditions, resulting in less comfortable circumstanceslaboratories and dangerous to the environment, and safety. Chemical laboratory management with the Tri Sakti concept, always balancing between procurement, use and maintenance, and destruction, which leads to harmony and sustainability. Therefore, very precise Trisakti concept wear foundation philosophy of managing chemical laboratory in high school.Keywords: management, chemicals laboratory, local genius, tri sakti
STRATEGI PELAYANAN PRIMA DI LABORATORIUM JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA FMIPA UNDIKSHA SINGARAJA I Ketut Budiada; I Ketut Lasia
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menggali strategi pelayanan untuk diterapkan di Laboratorium Jurusan Pendidikan Fisika dalam rangka mengatasi beberapa permasalahan yang timbul yang berakibat pada terganggunya kelancaran pelayanan. Berbagai permasalahan di laboratorium yang timbul seperti sirkulasi peralatan yang tidak lancar, peminjaman dan pengembalian alat yang tidak tepat waktu, tidak tertibnya peminjaman, praktikum yang berjalan lebih lama dari alokasi waktu yang diberikan, dan terjadinya kerusakan alat. Hal tersebut tidak hanya membuat laboran kewalahan tetapi juga kurang puasnya praktikan terhadap pelayanan yang diberikan oleh pihak laboratorium. Usaha-usaha pelayanan prima yang dapat dilakukan antara lain adanya struktur organisasi di laboratorium, kerjasama yang baik antar laboran, tersusunnya jadwal penggunaan laboratorium, adanya mekanisme dan diagram alir peminjaman alat, tersedianya inventarisasi alat dan bahan serta peningkatan sumber daya manusia. Terjalinnya kerjasama yang baik antara laboran dan pihak pengguna laboratorium akan mengakibatkan praktikum di laboratorium berjalan lancar dan tertib.Kata-kata kunci: laboratorium, strategi pelayananAbstract: This written aimed to explore the strategy of service applying at physics department of education in order to solve the problems that disturbed practices in the laboratory. Various problems at laboratory like not good sirculation of equipment, no queued, longer practices and many tools broken. So that laboratory assistant could not service the student well and no satisfied for the student. The efforts of prima service can be applied in the laboratory like good laboratory organizational structure, good cooperation among the laboratory staff, schedule the use of laboratory, mechanism and flow chart of borrowing equipment, inventarization of materials and tools and also development of human resources. Good cooperation between laboratory staff and users can cause practices in the laboratory run well. Keywords: laboratory, strategy of service
PENERAPAN MANAGEMEN KONTROL BERBASIS TRI KAYA PARISUDHA DI LABORATORIUM KIMIA ANALITIK I Ketut Lasia
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penerapan managemen kontrol berbasis tri kaya parisudha di Laboratorium Kimia Analitik. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia yang mengikuti praktikum di Laboratorium Kimia Analitik. Sedangkan obyek penelitian ini adalah efektifitas dan pendapat mahasiswa terhadap penerapan managemen kontrol berbasis tri kaya parisudha. Aspek efektifitas managemen kontrol berbasis tri kaya parisudha difokuskan pada: jumlah bahan yang dipakai, keselamatan alat, keselamatan praktikan, keber-hasilan praktikan dalam praktikum, kebersihan tempat kerja, dan waktu yang digunakan dalam praktikum. Data efektifitas diperoleh melalui lembar observasi selama kegiatan praktikum, sedang-kan data pendapat mahasiswa terhadap penerapan managemen kontrol berbasis tri kaya parisu-dha diperoleh dari angket yang disebarkan diakhir pertemuan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menghitung prosentase setiap komponen dan dideskripsikan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan penerapan managemen kontrol berbasis tri kaya parisudha sangat efektif di Laboratorium Kimia Analitik. Sedangkan pendapat mahasiswa terhadap penerapan mana-gemen kontrol berbasis tri kaya parisudha menujukkan respon yang positifKata-kata kunci: managemen kontrol, tri kaya parisudha, laboratoriumAbstract: This study aims to determine the effectiveness of management controls based on tri kaya parisu-dha in Analytical Chemistry Laboratories. The subjects of this study were students of the Chemistry Department of Education follows the Analytical Chemistry Laboratory experiments. While the object of this study was the effectiveness and student opinion on the application of management control based on tri kaya parisudha. Aspects of the effectiveness of management controls based on tri kaya parisudha focused on: the amount of materials used, safety equipment, safety practitioner, the practitioner's success in the lab, workplace hygiene, and time spent in the lab. Effectiveness of data obtained through observation sheets during practical activities, while data of student opinion on the application of management control based on tri kaya parisudha obtained from a questionnaire dis-tributed at the end of the meeting. The data obtained were analyzed by calculating the percentage of each component and described qualitatively. The results showed the application of management control based on tri kaya parisudha very effective in Analytical Chemistry Laboratories. While stu-dent opinion on the application of management control based on tri kaya parisudha showed a positive responseKey words: management control, tri kaya parisudha, laboratory
PENCEGAHAN DAN PENANGANAN CEDERA PADA ATLET SEPAK TAKRAW I Ketut Semarayasa
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cedera atau luka adalah sesuatu kerusakan pada struktur atau fungsi tubuh yang dikarenakan suatu paksaan atau tekanan fisik maupun kimiawi. Cedera dimaknai sebagai peristiwa kekerasan yang mengenai (jaringan) tubuh secar tiba-tiba, keras dan intensif. Cedera yang sering dialami atlit sepak takraw, seperti cedera pada lutut, cedera punggung bawah, cedera pergelangan kaki, dan cedera pergelangan tangan. Namun pencegahan dan penangganan yang dilakukan atlit atau pelatih belum maksimal. Banyak faktor yang penyebab terjadinya cedera pada atlit sepak takraw. Sehingga perlu adanya cara pencegahan dan penanganan untuk meminimalisir terjadinya cedera pada atlit sepak takraw.Cedera pada atlit sepak takraw adalah cedera pada sistem otot dan rangka tubuh yang disebabkan oleh aktivitas yang dilakukan, baik ketika atlit tersebut melakukan servis, smash, block, heading maupun ketika melakukan passing. sehingga dapat menimbulkan cacat, luka dan rusak pada otot atau sendi serta bagian lain dari tubuh. Cedera jika tidak ditangani dengan cepat dan benar dapat mengakibatkan gangguan atau keterbatasan fisik. Bahkan bagi atlit cedera ini bisa berarti istirahat yang cukup lama dan mungkin harus meninggalkan sama sekali hobi dan profesinya.Pencegahan dan penanganan cedera pada atlit sepak takraw yang cepat dan professional akan dapat membantu mempertahankan dan juga meningkatkan performa atlit sehingga bisa mencapai prestasi yang maksimal. Dengan memahami pentingnya pencegahan dan penanganan cedera dalam olahraga sepak takraw, maka sudah sepatutnya kita sebagai pembina, dan pelatih harus mengenal dan paham tentang pencegahan dan penanganan cedera pada atlit sepak takraw.Kata-kata kunci: pencegahan, epnanganan, cedera, atlit sepak takraw