cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Universitas Malahayati Bandar Lampung, Indonesia Jl Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung, Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024/hjk
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 5 (2022)" : 10 Documents clear
Status vaksinasi dengan kejadian stunting pada anak di bawah tiga tahun Andri Yulianto; Yusnita Yusnita
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 5 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i5.7498

Abstract

Background: Stunting conditions at birth affect the development or growth of children so stunting toddlers in the future will have difficulty in achieving optimal physical and cognitive development.Purpose: To determine the relationship between vaccination status and stunting occurrence among toddlers 1-3 years oldMethod: Observational analytic research with a case-control study approach. The sampling technique used is simple random sampling with a total sample of 99 respondents. Data collection uses an observation sheet on the Child's Identity Card (CIC). Statistical analysis using the Chi-Square Statistical Test.Results: From 33 toddlers 1-3 years old, there were 19 (57.6%) respondents who experienced stunting with a history of vaccination status in the incomplete category and 14 (42.4%) complete respondents. there is a relationship between vaccination status and the incidence of stunting in toddlers aged 1-3 years, the p-value is 0.011 (smaller than alpha = 0.05).Conclusion: There is a relationship between vaccination status and the incidence of stunting in toddlers aged 1-3 years in the work area of the Wates Health Centre.Keywords: Vaccination; Stunting; Toddler under 3 years oldPendahuluan: Kondisi stunting saat lahir berpengaruh terhadap perkembangan atau pertumbuhan anak sehingga batita stunting di masa datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan status imunisasi dengan kejadian stunting.Metode: Penelitian observational analitik dengan pendekatan  studi kasus control. Teknik sampling yang digunakan yaitu simple random sampling dengan jumlah sampel yaitu 99 responden. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi pada Kartu Identitas Anak (KIA). Analisis statistik menggunakan Uji Statistik Chi Square. Hasil: Diketahui dari 33 batita 1-3 tahun didapatkan yang mengalami stunting dengan riwayat status vaksinasi dalam kategori tidak lengkap sebanyak 19 (57,6%) responden dan lengkap 14 (42,4%) responden. ada hubungan status vaksinasi terhadap kejadian stunting pada batita 1-3 tahun  diperoleh nilai p sebesar 0,011 (Lebih kecil dari nilai alpha = 0,05).Simpulan: Ada hubungan status vaksinasi terhadap kejadian stunting pada batita usia 1-3 tahun  di wilayah kerja Puskesmas Wates.  
Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang stigma pada penderita kusta Umi Romayati Keswara; Andoko Andoko; Rahma Elliya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 5 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i5.8055

Abstract

Background: The disease of leprosy is one of the most prevalent infectious diseases in Lampung Province, both medically and socially. Data from the World Health Organization (WHO) recorded a prevalence of 0.2 per 10,000 population, with 208,619 new patients occurring throughout 2018. In Indonesia, the number of new cases of leprosy is 14,397 with a detection rate of 5.43 per 100,000 population.  In addition, there are a total number of 19,033 cases of leprosy, with a prevalence rate of 0.72 per 10,000 population. One of the problems that hinder efforts to control leprosy is the stigma of it, and the lack of public knowledge about stigma in people with leprosy.Purpose: Increasing public knowledge about the negative stigma of patients with leprosy.Method: Quantitative research type, with a Quasi-Experimental group pre-test post-test design. The population of the people of Sidodadi Asri Village, the Working Area of the Banjar Agung Inpatient Health Center, with a sample of 30 patriarchs. Dependent T-Test data analysis.Results: The average knowledge of the community about stigma before health education was 29.5 with a standard deviation of 2.82 and a minimum value of 23, after health education of 32 with a standard deviation of 2.15 and a minimum value of 25, p-value 0.000 < = 0.Conclusion: There is an effect of health education on increasing public knowledge about stigma in leprosy patients. Suggestions, health education can be used to increase public awareness of negative stigma of patients with leprosy.Keywords: Knowledge; Public Stigma; Leprosy; Health education.Pendahuluan : Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan di Propinsi Lampung, baik aspek medis maupun social. Data World Health Organization (WHO), mencatat prevalensi 0,2 per 10.000 penduduk, dengan jumlah pasien baru 208.619 kasus terjadi sepanjang 2018. Di Indonesia jumlah kasus baru kusta 14.397 dengan case detection rate 5,43 per 100.000 penduduk dengan jumlah total kasus kusta 19.033 dengan angka prevalensi 0,72 per 10,000 penduduk. Salah satu masalah yang menghambat upaya penanggulangan kusta adalah adanya stigma terhadap penyakit kusta, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang stigma pada penderita penyakit kusta.Tujuan : Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang stigma pada penderita kusta.Metode : Jenis penelitian Kuantitatif, dengan Quasi Experimental One group pre-test post-test design. Populasi masyarakat Desa Sidodadi Asri Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap Banjar Agung dengan, sampel 30 Kepala Keluarga. Analisa data Dependent T Test.Hasil : Rata-rata pengetahuan masyarakat tentang stigma sebelum pendidikan kesehatan sebesar 29,5 dengan standar deviasi 2,82 nilai minimal 23, setelah pendidikan kesehatan sebesar 32 dengan standar deviasi 2,15 nilai minimal 25, p- value 0,000 < α = 0,05.Simpulan: Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat tentang stigma pada penderita kusta. Saran, pendidikan kesehatan dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang stigma pada penderita kusta.
Hydroterapi minum air putih untuk menurunkan kadar gula darah sewaktu (GDS) Ifon Driposwana Putra; Donny Hendra; Annisa Pratiwi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 5 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i5.7885

Abstract

Background: Diabetes Mellitus is a metabolic disorder disease characterized by increased levels of glucose in the blood (hyperglycemia) caused by a lack of the hormone insulin and a decrease in the hormone insulin in the body. Hydrotherapy is one therapy that can meet the needs of fluids and fiber, by drinking at least 8 glasses of water a day can help the detoxification process in the body, including the removal of excess sugar. Drinking water regularly (Hydrotherapy) is a natural complementary treatment that aims to optimize the function of the body's organs.Purpose: To determine the effect of hydrotherapy drinking water to reduce random blood sugar.Method: A quasi-experimental design with a pre and post-test design without control. The sampling technique used purposive sampling according to the inclusion and exclusion criteria. The intervention was given for 14 consecutive days. Measurement of blood sugar levels while using a glucometer. Differences in the results of blood sugar levels when using the Pairet Sample t-test which is used to test the difference in the mean of the 2 measurement results.Results: Indicating the effect of hydrotherapy drinking water to reduce random blood sugar after the intervention (p value = 0.000).Conclusion: There is a decrease in blood sugar levels when drinking water. This research is expected to be an alternative option for people with type 2 diabetes mellitus to apply drinking water to lower random blood sugar.Keywords: Hydrotherapy; Drinking water; Random Blood Sugar.Pendahulan: Diabetes Mellitus merupakan penyakit gangguan metabolik yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa didalam darah (Hiperglikemia) yang disebabkan oleh kurangnya hormon insulin dan menurunnya hormon insulin dalam tubuh. Hydroterapi merupakan salah satu terapi yang dapat memenuhi kebutuhan cairan dan serat, dengan meminum air putih minimal 8 gelas sehari dapat membantu proses detoxifikasi didalam tubuh, termasuk dalam pembuangan gula berlebih. Minum air putih secara rutin (Hydroterapi) merupakan salah satu pengobatan komplementer secara alamiah yang bertujuan untuk mengoptimalkan fungsi organ tubuh.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh hydroterapi minum air putih untuk menurunkan kadar gula darah sewaktu (GDS). Metode: Penelitian quasi experiment dengan rancangan pre and post-test without control. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Intervensi diberikan selama 14 hari berturut-turut. Pengukuran kadar gula darah sewaktu dengan menggunakan alat glukometer. Perbedaan hasil kadar gula darah sewaktu dengan menggunakan uji Pairet Sample t-test yang digunakan untuk menguji beda mean dari 2 hasil pengukuran.Hasil: Menunjukkan adanya pengaruh hydroterapi minum air putih untuk menurunkan kadar gula darah sewaktu (GDS) setelah dilakukan intervensi (p value = 0,000).Simpulan: Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa ada penurunan kadar gula darah sewaktu dengan minum air putih. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan alternative bagi penderita diabetes mellitus tipe 2 untuk mengaplikasikan dengan minum air putih dapat menurunkan kadar gula darah sewaktu (GDS).
Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap vaksinasi Covid-19 Rismayanti Yamin; Miftahul Jannah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 5 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i5.8259

Abstract

Background: In December 2019, a series of acute atypical respiratory illnesses occurred in Wuhan, China. This disease in a short time spread rapidly from Wuhan to other areas. Cases of the coronavirus disease (covid-19). The covid-19 vaccine is one of the government's breakthroughs to fight and deal with covid-19 in the world, especially the State of Indonesia.Purpose: To analyze the relationship between the level of knowledge and public attitudes towards the covid-19 vaccination.Method: A quantitative study with a cross sectional design. The research population is the people of Posi Village, Bua District, Luwu Regency. Sampling using purposive sampling. Data was collected using a questionnaire instrument that was filled out independently by the respondents (self-reported). The data was processed using SPSS and analyzed in three stages, namely descriptive analysis to describe the general research problem. Bivariate analysis was carried out using the chi-square test to see the relationship between the level of knowledge and attitudes towards covid-19 vaccination by looking at the p-value. Multivariate analysis was carried out to see the most dominant factors associated with covid-19 vaccination using multiple logistic regression tests.Results: Showing that the knowledge variable about covid-19 vaccination (p=0.005 < 0.05) means that there is a relationship between the level of knowledge and the history of the covid-19 vaccination. Attitude variable about covid-19 vaccination (p= 0.003 < 0.05) means that there is a relationship between attitude and history of covid-19 vaccination in the community of the two variables, the knowledge variable is the most dominant factor related to the covid-19 vaccination, namely a p-value of 0.012 with an Exp(B) / Odd Ratio of 0.378.Conclusion: There is a relationship between the level of knowledge and attitude towards the history of covid-19 vaccination. Knowledge variable is the most dominant factor related to covid-19 vaccination.Keywords: Knowledge; Attitude; Covid-19 Vaccine.Pendahuluan: Pada bulan Desember 2019, serangkaian penyakit pernapasan atipikal akut terjadi di Wuhan, Tiongkok. Penyakit ini dalam waktu yang singkat menyebar cepat dari Wuhan ke daerah lain. Kasus penyakit coronavirus (COVID19). Vaksin Covid-19 merupakan salah satu terobosan pemerintah untuk melawan dan menangani Covid-19 yang ada di dunia khususnya Negara Indonesia.Tujuan: Menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dan sikap  masyarakat  terhadap  vaksinasi covid-19Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah masyarakat Desa Posi Kecamatan Bua Kabupaten Luwu. Penarikan sampel menggunakan Purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen kuesioner yang  diisi secara mandiri oleh responden (self-reported). Data diolah dengan menggunakan SPSS dan dianalisis dengan tiga tahapan yaitu analisis deskriptif untuk menggambarkan secara umum masalah penelitian. Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji chi-square untuk melihat hubungan tingkat pengetahuan dan sikap terhadap vaksinasi covid-19 dengan melihat nilai p-value. Analisis multivariat dilakukan untuk melihat faktor yang paling dominan yang berhubungan dengan vaksinasi covid-19 menggunakan uji regresi logistic ganda.Hasil: Variabel pengetahuan tentang vaksinasi covid-19 (p=0.005 < 0.05) artinya ada hubungan tingkat pengetahuan dengan riwayat vaksinasi covid-19. Variabel Sikap tentang vaksinasi covid-19 (p= 0.003 < 0.05) artinya ada hubungan sikap dengan riwayat vaksinasi covid-19 pada masyarakat. Dari kedua variabel tersebut variabel pengetahuan adalah faktor yang paling dominan berhubungan dengan vaksinasi covid-19, yaitu p-value 0,012 dengan Exp(B) / Odd Ratio sebesar 0,378.Simpulan: Ada hubungan tingkat pengetahuan  dan  sikap terhadap riwayat vaksinasi covid-19. variabel pengetahuan adalah faktor yang paling dominan berhubungan dengan vaksinasi covid-19
Dimensi berpikir kritis dan perilaku caring pada perawat rumah sakit Nancy Sampouw; Ferdy Lainsamputty; Debi Kristiani Bulage
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 5 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i5.7660

Abstract

Background: A nurse's caring attitude is necessary for the nursing process. Caring behavior can be improved through the development of nurses' critical-thinking skills.Purpose: To examine the relationship between caring behavior and critical thinking among hospital nurses.Method: This was a descriptive correlation study with a cross-sectional design with 152 samples, selected using a convenience sampling technique at a general hospital in Central Sulawesi Province of Indonesia. The questionnaires used were the University of Florida-Engagement, Cognitive Maturity, Innovativeness (UF-EMI) and the Caring Behavior Inventory-24 (CBI-24). Descriptive statistics and Spearman Rank correlation were employed to test the differences and relationships between variables.Results: There was a positive and very significant correlation with a moderate strength between critical thinking and caring behavior (r = 0.42; p<0.01).Conclusion: Nurses who had high critical-thinking skills have better awareness in caring for patients.Keywords: Caring; Critical-Thinking; NursesPendahuluan: Sikap peduli atau perhatian (caring) perawat sangat diperlukan dalam proses keperawatan. Peningkatan caring dapat ditingkatkan melalui pengembangan kemampuan berpikir kritis perawat.Tujuan: Untuk menguji hubungan perilaku caring dan berpikir kritis pada perawat rumah sakit.Metode: Penelitian ini berjenis deskriptif korelasi dengan desain cross-sectional menggunakan 152 sampel yang menggunakan teknik convenience sampling di salah satu rumah sakit di Sulawesi Tengah. Kuesioner yang digunakan yaitu University of Florida-Engagement, Cognitive Maturity, Innovativeness (UF-EMI) dan Caring Behavior Inventory-24 (CBI-24). Statistik deskriptif dan dan uji korelasi Spearman Rank digunakan untuk menguji perbedaan dan korelasi antar variabel.Hasil: Terdapat korelasi antara seluruh dimensi berpikir kritis dan perilaku caring perawat pada level keeratan lemah dan sedang (r=0.22-0.45; p<0.01). Secara keseluruhan, ada korelasi positif yang sangat signifikan dengan level keeratan sedang antara berpikir kritis dan perilaku caring (r=0.42; p<0.01).Simpulan: Perawat yang mempunyai kemampuan berpikir kritis yang tinggi, memiliki kepedulian yang lebih baik dalam merawat pasien.
Pengaruh teknik relaksasi aroma terapi lavender dan autogenik terhadap penurunan kecemasan pada pasien pra operasi Sectio Caesarea Sri Nurhayati; Senja Atika Sari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 5 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i5.8077

Abstract

Background: Sectio Caesarea (SC) is a surgery to give birth a fetus through an incision in the abdominal wall and uterus so that the fetus can be born intact and healthy. In undergoing the process of preparing for a Sectio Caesarea, the patient will be faced with the image of the surgical process, the anaesthesia process, the safety of the baby, her safety, pain and various other problems that make the patient experience discomfort or which usually becomes an anxiety. Anxiety is an emotion and subjective experience of a person that makes him uncomfortable.Purpose: To determine the effect of lavender aromatherapy and autogenic relaxation techniques on reducing anxiety in preoperative Sectio CaesareaMethod: A quantitative research with a cross sectional approach using a statistical test independent T test. The research was conducted in the operating ward at Puri Adya Paramita Hospital. The population was 80 mothers who gave birth while, The sampling technique in this study uses purposive sampling and obtained as research subjects was 66 mothers who underwent Sectio Caesarea.Results: Finding the difference in maternal anxiety when Sectio Caesarea was carried out in the intervention group and the control group obtained statistical test results with p value 0.001 < 0.05, means that there is a significant difference in the level of maternal anxiety when Sectio Caesarea is performed control group and intervention group by giving lavender aromatherapy and autogenic.Conclusion: There is an effect of lavender aromatherapy and autogenic relaxation techniques on reducing anxiety in preoperative Sectio CaesareaKeywords: Aromatherapy; Autogenic; Anxiety; Sectio Caesarea.Pendahuluan: Sectio Caesarea (SC) adalah suatu pembedahan guna melahirkan janin lewat insisi pada dinding abdomen dan uterus sehingga janin dapat lahir secara utuh dan sehat. Dalam menjalani proses persiapan operasi sectio caesarea, pasien akan dihadapkan dengan bayangan mengenai proses operasi, proses pembiusan, keselamatan bayi, keselamatan dirinya, kesakitan dan berbagai masalah lainnya yang membuat pasien akan mengalami ketidaknyamanan atau yang biasanya menjadi sebuah kecemasan, kecemasan adalah sebuah emosi dan pengalaman subjektif dari seseorang yang membuat tidak nyaman.Tujuan: Mengetahui pengaruh teknik relaksasi aroma terapi lavender dan autogenik terhadap penurunan kecemasan pada pasien pra operasi Sectio CaesareaMetode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional menggunakan uji statistik uji T independent. Penelitian dilakukan di unit ruang operasi RSIA Puri Adya Paramita. Populasi sebanyak 80 orang ibu bersalin. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling dan sampelnya sebanyak 66 orang ibu yang menjalani SC.Hasil: Perbedaan kecemasan ibu saat dilakukan Tindakan Sectio caesarea kelompok intervensi dan kelompok kontrol diperoleh hasil uji statistic nilai p value 0,001 < α 0,05 yang artinya ada perbedaan yang bermakna terhadap tingkat kecemasan ibu saat dilakukan Tindakan section caesarea pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi dengan memberikan aroma therapy lavender dan autogenik.Simpulan: Terdapat pengaruh teknik relaksasi aroma terapi lavender dan autogenik terhadap penurunan kecemasan pada pasien pra operasi Sectio Caesarea
Tingkat depresi pada lansia yang tinggal di komunitas ditinjau dari karakteristik lansia Ismy Salsabila Yuliani; Sugiharto Sugiharto
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 5 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i5.7925

Abstract

Background: The elderly will experience changes either physically, mentally, or socially. These changes can decrease daily productivity. The degenerative process that occurs can make the elderly vulnerable to various diseases. Decreased productivity, illness or perceived complaints, loss of life partner and children, limited social activities, and feelings of sadness and worthlessness can result in depression in the elderly.Purpose: To analyze the level of depression of the elderly indwelling community based on their characteristics.Method: This descriptive study used a cross-sectional approach, the total sampling technique used was obtained 151 respondents who met the criteria, among others; elderly aged >60 years, willing to be respondents, and elderly registered as residents of Bugangan Village, Kedungwuni District, Pekalongan Regency.The results of the Mini-Mental State Examination (MMSE) 25–30 are classified into the normal category and to know the level of depression using instrument the Geriatric Depression ScaleResults: The results showed that of the elderly who lived in the indwelling community the average age is 69 years (SD = 5.53), 57.6% are female, 65.6% of respondents are in elementary school, and 83 respondents are still actively working with income below the minimum wage. Most of the respondents work as farm laborers, convection workers, and traders. The majority of respondents (90.7%) live with their families. A total of 126 respondents are still active in social activities. As well as a number of 78 respondents with widower/widow status. Almost one-third (72.8%) were normal without depression.Conclusion: The presence of family and the existence of social activities can reduce the risk of depression among elderly indwelling-community. Social support, especially from their family, is the most important and needed among elderly.Keywords: Depression; Elderly; Indwelling-CommunityPendahuluan: Lansia akan mengalami perubahan baik fisik, mental, dan sosial. Kondisi ini dapat berakibat terjadinya penurunan produktivitas sehari-harinya. Proses degeneratif yang terjadi dapat menjadikan lansia rentan terhadap berbagai penyakit. Produktivitas yang menurun, adanya penyakit atau keluhan yang dirasakan, kehilangan pasangan hidup dan anak-anak, adanya keterbatasan aktivitas sosial, dan rasa sedih dan tidak berguna dapat berakibat terjadinya depresi pada lansia.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat depresi pada lansia yang tinggal di komunitas ditinjau dari karakteristik lansia.Metode: Penelitian deskriptif menggunakan teknik total sampling didapatkan 151 responden yang memenuhi kriteria antara lain;  lansia berumur >60 tahun, bersedia menjadi responden, dan lansia yang terdaftar sebagai penduduk Desa Bugangan Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan.Hasil penilaian Mini Mental State Examination (MMSE)  25–30 tergolong ke dalam kategori normal dan  untuk melihat tingkat depresi dipakai instrumen Geriatric Depression Scale.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa lansia yang tinggal di komunitas rata-rata usia 69 tahun (SD =5.53), 57.6% berjenis kelamin perempuan, 65.6% responden tidak sekolah, 83 responden masih aktif bekerja dengan pendapatan dibawah UMR. Kebanyakan responden bekerja sebagai buruh tani, buruh konveksi, dan pedagang. Mayoritas responden (90.7%) tinggal dengan keluarga. Sebanyak 126 responden masih aktif dengan kegiatan sosial. Serta sejumlah 78 responden berstatus Duda/Janda. Kebanyakan responden berada dalam kondisi normal tanpa mengalami depresi (72.8%).Simpulan: Keberadaan lansia tinggal di komunitas yang masih memungkinkan berkumpul dengan keluarga dan beraktivitas sosial kemasyarakatan dapat menekan risiko terjadinya depresi. Dukungan sosial, terutama dari keluarga merupakan hal yang penting dan sangat dibutuhkan bagi para lansia.
Faktor perilaku dalam pencegahan malaria: Sebuah tinjauan literatur Fakhriyatiningrum Fakhriyatiningrum; Hamzah Hasyim; Rostika Flora
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 5 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i5.7661

Abstract

Background: Malaria is a vector-borne disease and affects morbidity and mortality worldwide. Malaria is a disease that can recur or re-emerging disease. Therefore, vigilance and joint efforts are needed in tackling malaria.Purpose: To determine the behavior of the community in preventing the occurrence of malaria.Method: This study uses a literature review method. The database used comes from scientific publication literature using Crossref, Google Scholar, Science Direct and Pubmed. Research articles were selected from 2016-2021. The inclusion criteria of the study discussed the behavior of the community in preventing malaria. The exclusion criteria for this study were articles published before 2016. The sample of this study obtained 23 articles related to behavior carried out by the community in efforts to prevent malaria.Results: The results showed that the dominant variables that could be behavioral factors in malaria prevention were 18 articles of habit of using insecticide-treated mosquito nets, 10 articles of mosquito repellent use, and 5 articles of going out at night.Conclusion: Public awareness is needed, namely by maintaining environmental cleanliness, using insecticide-treated mosquito nets, limiting the habit of going out at night, using mosquito repellent and the active role of health workers in malaria prevention efforts.Keywords: Behavior; Preventive; Malaria.Pendahuluan: Malaria merupakan penyakit yang ditularkan melalui vektor dan mempengaruhi kesakitan dan kematian di seluruh dunia. Penyakit malaria merupakan penyakit yang dapat kambuh kembali atau re-emerging disease. Oleh sebab itu, diperlukan kewaspadaan dan upaya bersama dalam menanggulangi malaria.Tujuan: Untuk mengetahui perilaku masyarakat dalam mencegah terjadinya penyakit malaria.Metode: Penelitian ini menggunakan metode literatur review. Database yang digunakan berasal dari literatur publikasi ilmiah dengan menggunakan Crossref, Google Scholar, Science Direct dan Pubmed. Artikel penelitian dipilih dari tahun 2016-2021. Kriteria inklusi penelitian membahas perilaku masyarakat dalam pencegahan penyakit malaria. Kriteria eksklusi penelitian ini adalah artikel diterbitkan sebelum tahun 2016. Sampel dari penelitian ini didapatkan 23 artikel terkait perilaku yang dilakukan masyarakat dalam upaya pencegahan malaria.Hasil: Dari penelitian didapatkan bahwa variabel dominan yang dapat menjadi faktor perilaku dalam pencegahan malaria yaitu kebiasaan menggunakan kelambu berinsektisida sebanyak 18 artikel, variabel penggunaan obat nyamuk sebanyak 10 artikel, serta variabel keluar rumah pada malam hari berjumlah 5 artikel.Simpulan: Diperlukan kesadaran masyarakat yaitu dengan menjaga kebersihan lingkungan, penggunaan kelambu berinsektisida, membatasi kebiasaan keluar rumah pada malam hari, penggunaan obat anti nyamuk dan peran aktif petugas kesehatan dalam upaya pencegahan malaria.
Cognitive Behavior Therapy (CBT) pada anak yang mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD): Sebuah tinjauan literatur Iceu Amira; Hendrawati Hendrawati; Indra Maulana; Sukma Senjaya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 5 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i5.7506

Abstract

Background: Attention Deficit-Hyperactivity Disorder (ADHD) is a psychiatric condition that has long been known to affect children's ability to function. Children with ADHD show incompetence not only in attention and focus therapy but also in decision-making and emotional regulation. It is therefore important to diagnose and treat the disorder at a young age so that the symptoms do not continue into adulthood.Purpose: To determine the benefits of cognitive behavioral therapy in children with attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Method uses study literature review with a PICO search strategy on three databases, namely Pubmed, Sage Journals, and EBSCO CINAHL. Results: Obtained articles from European countries, Israel, Franch and Korea according to the research inclusion criteria. From the results of the analysis, it was found that the CBT interventions that can be given to children with ADHD are Cognitive Executive Function (EF) and Cognitive-Functional Intervention.Conclusion: The results of the study found that CBT can improve executive function which leads to increased independent learning performance in children with ADHD.Keyword: Cognitive Behavior Therapy (CBT); Children; Hyperactivity Disorder (ADHD)Pendahuluan: Attention Deficit-Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah kondisi kejiwaan yang telah lama diketahui mempengaruhi kemampuan fungsi anak. Anak dengan ADHD menunjukkan ketidak mampuan tidak hanya dalam perhatian dan fokus tetapi juga dalam pengambilan keputusan dan pengaturan emosi. Maka dari itu penting untuk mendiagnosis dan mengobati gangguan pada usia muda sehingga gejalanya tidak berlanjut hingga dewasa.Tujuan: Untuk mengetahui manfaat cognitive behavioral therapy pada anak dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).Metode: Menggunakan studi literatur review dengan strategi pencarian PICO pada tiga database yaitu Pubmed, Sage Journals, dan EBSCO CINAHL. Hasil : Didapatkan artikel yang berasal dari negara Eropa, Israel, Prancis dan Korea sesuai dengan kriteria inklusi penelitian. Dari hasil analisis didapatkan bahwa intervensi CBT yang dapat diberikan pada anak dengan ADHD adalah Cognitive Executive Function (EF) dan Cognitive-Functional Intervention.Simpulan: Ditemukan bahwa CBT dapat meningkatkan fungsi           eksekutif yang mengarah pada peningkatan kinerja belajar mandiri pada anak dengan ADHD.
Faktor – faktor yang memengaruhi tingkat stress pada perawat saat pandemi Covid 19 Anggraheni Widyaningrum; Christin Angelina Febriani; Dhiny Easter Yanti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 5 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i5.7293

Abstract

Background: Coronavirus can infect the respiratory system. SARS-CoV-2 virus or better known as Covid-19 has become a worldwide pandemic, this outbreak in addition to providing physical impact, also has a serious effect on a person's mental health, one of which is stress. One of  them  is a nurse, experiencing various kinds of pressure due to Covid-19. The nurses said they were often  anxious, fearful, stressed, panicked, confused, worried, sad, and emotional when receiving patients suspected of Covid.Purpose: To known factors that affect the level of stress in nurses during the Covid-19 pandemic at Pertamina Bintang Amin Hospital.Method: Quantitative research with cross sectional design.  The population was nurses and Sampling techniques took by  total sampling. Analysis of data univariate, bivariate and multivariate.Results: Finding are relationship between stress levels with age (p-  value  0.880); gender (p-value 0.017); marital status (p-value 0.003). There was no relationship with length of work (p - value  0.963); workload  and  stress level  (p-value 0.000); work demands (p-value 0.000). The  most dominant variable associated with workload (OR = 30,910 Koef. B = 3,431).Conclusion: Most variabel such as age, gender, marital status, length of work and work demands had relationship with stress levels, except workload.Keywords: Stress Level; Nurses; Covid-19; Hospital.Pendahuluan: Coronavirus bisa menginfeksi sistem pernapasan. Virus SARS-CoV-2 atau lebih dikenal dengan istilah Covid-19 telah menjadi pandemik di seluruh dunia, wabah ini selain memberikan dampak fisik, juga memiliki efek serius pada kesehatan mental seseorang salah satunya stress. Tenaga kesehatan salah satu diantaranya yaitu perawat, mengalami berbagai macam tekanan akibat Covid-19. Para perawat pelaksanaan mengatakan sering cemas, takut, stress, panik, bingung, khawatir, sedih, dan emosi saat menerima pasien yang dicurigai covid.Tujuan: Mengetahui faktor–faktor yang mempengaruhi tingkat stress pada perawat saat pandemic Covid-19 di RS Pertamina Bintang Amin.Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Populasinya seluruh perawat pelaksanaan yang bekerja di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Kota Bandar Lampung Tahun 2021. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Analisis data secara univariat, bivariat dan multivariate.Hasil: Mayoritas variabel diketahui tidak terdapat hubungan dengan tingkat stress perawat seperti usia (p – value 0,880); jenis kelamin (p-value 0,017); status pernikahan (p-value 0,003); lama kerja (p – value 0,963). Diketahui terdapat hubungan signifikan tingkat stress dengan beban kerja (p-value 0,000) dan variabel tuntutan kerja (p-value 0,000). Diketahui variabel yang paling dominan yang berhubungan dengan tingkat stress adalah beban kerja (OR = 30.910 Koef. B = 3.431).Simpulan: Beberapa variabel tidak terdapat hubungan seperti usia, jenis kelamin, status pernikahan, lama kerja dan tuntutan kerja dengan tingkat stress, dengan nilai p-value > 0.05 dan terdapat hubungan yang signifikan pada variabel beban kerja.

Page 1 of 1 | Total Record : 10