cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Universitas Malahayati Bandar Lampung, Indonesia Jl Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung, Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024/hjk
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Articles 624 Documents
HUBUNGAN PENGETAHUAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN BEROBAT PENDERITA PENYAKIT KUSTA DI RSUD Dr. A. DADI TJOKRODIPO BANDAR LAMPUNG TAHUN 2016 Sunarsih, Sunarsih; Sari, Tuti Puspita
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.1365

Abstract

Labor pain and anxiety levels in the mothers inpartu active phase of the first stage at Metro medical center, Lampung-IndonesiaBackground: Anxious feeling whom mother felt at give birth process would influence toward painful sensation in giving a birth. The presurvey result that done at Metro medical center, finding of 7 mother who give birth, most of them (71,4 %) had  anxious level  that was medium, and there were of 4 mother (57, 2%) had a light pain, and of 3 was a medium pain.Purpose: Knowing  the correlation of labor pain and anxiety levels in the mothers inpartu active phase of the first stage at medical center, Metro Lampung-IndonesiaMethods: A quantitative with cross sectional and the sample of 31 inpartu active phase by using accidental sampling method. Instrument for painful intensity used Baurbanis painful scale and for anxious level’s by using State-trait anxiety inventory (STAI) Form Y-1. This research had done  on March-July 2018 and data analyses used person product moment test.Result: Finding that the average of anxious level inpartu mother was of 51.35 and the average of pain score was of 4,68.Conclusion: There was correlation between of labor pain and anxiety levels in the mothers inpartu active phase of the first stage at medical center, Metro Lampung-Indonesia. Medical care provider to be give more information regarding  the birth physiology in order to mother could prevent anxious feeling during giving birth process.Keywords:  Labor Pain; Anxiety Levels; Mothers InpartuPendahuluan: Rasa cemas yang dialami ibu pada proses persalinan akan berpengaruh terhadap nyeri pada persalinan. Hasil prasurvey yang dilakukan di BPS P Kota Metro menunjukkan bahwa dari 7 ibu bersalin, sebagain besar (71,4%) memiliki tingkat kecemasan sedang dan sebanyak 4 ibu bersalin (57,2%) memiliki intensitas ringan, 3 ibu (42,8%) memiliki intensitas nyeri sedang.Tujuan: Diketahuinya hubungan tingkat kecemasan terhadap nyeri pada ibu inpartu kala I fase aktif di BPS P Kota Metro.Metode: Penelitian kuantitatif, dengan desain penelitian cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah ibu bersalin di BPS P pada bulan juni 2018 sebanyak 35 orang. Sampel berjumlah 31. Pengambilan sampel dengan metode accidental sampling. Pengumpulan data intensitas nyeri menggunakan skala nyeri Bourbanis, sedangkan pengumpulan data tingkat kecemasan ibu bersalin dilakukan menggunakan State-trait anxiety inventory (STAI) Form Y-1. Penelitian telah dilaksanakan pada tahun 2018. Analisa data menggunakan uji person product moment. Hasil: Diperoleh rata-rata tingkat kecemasan ibu inpartu adalah 51,35 dan rata-rata skor nyeri yang dirasakan adalah 4,68.Simpulan: Adanya hubungan antara tingkat kecemasan dengan nyeri ibu inpartu kala I fase aktif. Bagi ibu yang akan menjalani proses persalinan hendaknya menggali informasi tentang fisiologis persalinan agar ibu bersalin mampu mencegah terjadinya kecemasan selama proses persalinan. 
Pemberian kompres daun kubis (brassica oleracea var. capitata) dengan penurunan nyeri pasien pasca operasi kanker payudara Djunizar Djamaludin; Hudzaifah Al Fatih; Devi Surya Qaulia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.136 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i1.1813

Abstract

Cabbage leaves (brassica oleracea var. capitata f. alba) in patients with post-mastectomy painBackground: In patients with breast cancer, chronic pain affects 25% of 60% of patients who are undergoing treatment. And around of 5,6 Muscle pain and stiffness are the main complaints of primary breast cancer treatment such as hypersensitivity involving symptoms of neck, armpit and shoulder painPurpose:  To determine the effect of cold cabbage leaves compresses on pain reduction in patients with post-mastectomy painMethod: A quantitative by quasi-experiment with one group pretest - posttest design approach. The population were 50 patients who experienced postoperative breast pain, a sample of 17 respondents. The sampling technique by accidental sampling and Statistical tests used the t-test.Results: The average pain in patients after breast cancer surgery before being given a cold cabbage leaves compresses, with the average pain being at 7.71 points, while the standard deviation of 1.213. After cold cabbage leaves compresses are given, the average pain is at 7.71, while the standard deviation is 1.213. Statistical test results obtained a value of p = 0,000.Conclusion: There is an effect of cold cabbage leaves compresses on the reduction of pain in post-breast cancer surgery patients at RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung Province in 2019. Suggestions for health workers to be able to provide counseling and good information about the benefits of non-pharmacological treatment in dealing with pain problems in patients who experience pain problems after mastectomy surgery.Keywords: Cabbage leaves (brassica oleracea var. Capitata f. Alba); Compresses; Patients; Post-mastectomy; Pain Pendahuluan: Pada pasien dengan kanker payudara, nyeri kronis mempengaruhi 25% dari 60% pasien yang menjalani perawatan. Dan sekitar 5,6 Nyeri otot dan kekakuan merupakan keluhan utama dari pengobatan kanker payudara primer seperti hipersensitivitas yang melibatkan gejala-gejala nyeri leher, ketiak dan bahu. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pemberian kompres daun kubis dingin terhadap penurunan nyeri pada pasien pasca operasi kanker payudara Metode: Penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain quasi eksperimental dengan pendekatan one group pretest – posttest. Populasinya adalah pasien yang mengalami nyeri pasca operasi kanker payudara sebanyak 50 orang, sampel sebanyak 17 responden. Teknik sampel menggunakan accidental sampling dan uji statistik menggunakan uji t-tesHasil : Rerata nyeri pada pasien pasca operasi kanker payudara sebelum diberikan kompres daun kubis, dengan rerata nyeri berada pada skor 7,71, sedangkan standar deviasi 1,213. Sesudah diberikan kompres daun kubis, dengan rerata nyeri berada pada skor 7,71, sedangkan standar deviasi 1,213.Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,000.Simpulan : Ada pengaruh pemberian kompres daun kubis terhadap penurunan nyeri pasien pasca operasi kanker payudara di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2019. Saran bagi petugas kesehatan agar dapat memberikan penyuluhan dan informasi yang baik tentang manfaat pengobatan non farmakologi dalam menangani  masalah nyeri pada pasien yang mengalami masalah gangguan nyeri pasca melakukan operasi mastektomi.
Analisis faktor yang berhubungan dengan kemampuan pasien diabetes mellitus dalam melakukan deteksi episode hipoglikemia Eka Yudha Chrisanto; Sapti Ayubbana; Yola Anjani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.209 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i1.1614

Abstract

Detection of hypoglycemia by adult with diabetes mellitus.Background : The increasing prevalence of people with diabetes mellitus occurs every year along with the increasing prosperity of a country, especially in developing countries because the wrong lifestyle changes can cause obesity which is one of the risk factors for diabetes.Purpose: Know factors that are related to Detection of hypoglycemia by adult with diabetes mellitus.Method: This is a descriptive correlational study, a cross sectional research design. The population in this study was the number of patients with diabetes mellitus of 40 respondents. The sample technique used was accidental sampling, research instruments using a questionnaire, with data analysis namely the chi square test.Results: Finding that there was no relationship of age (p-value 0.071) and availability of glucometer with (p-value 0.052), there was a relationship with education (p-value 0.026), duration of suffering of DM (p-value 0.016 ), there is a relationship of gender with (p-value 0.010), there is a relationship of knowledge (p-value 0.008). In detecting episodes of hypoglycemia (p-value 0.052).Conclusion: Several factors in detecting episodes of hypoglycemia in the context of nursing care are closely related such as; education, duration of diabetes, gender, and knowledge.Keywords: Detection; Hypoglycemia; Adult; Diabetes mellitus.Pendahuluan: Hipoglikemia terjadi karena peningkatan insulin dalam darah dan penurunan kadar glukosa. Terapi insulin yang tidak adekuat disebabkan oleh ketidaksempurnaan terapi insulin saat ini, dimana pemberian insulin masih belum sepenuhnya dapat menirukan (mimicking) pola sekresi insulin yang fisiologis. Hipoglikemia diabetik lebih sering terjadi pada pasien diabetes tipe 1, namun dapat juga terjadi pada pasien diabetes tipe 2 yang mendapatkan terapi insulin, dan merupakan faktor penghambat utama dalam penanganan diabetes mellitus.Tujuan: Mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan kemampuan pasien diabetes mellitus dalam melakukan deteksi episode hipoglikemia dalam konteks asuhan keperawatan .Metode: Penelitian dilakukan pada Juli 2019 dengan menggunakan metode Cross Sectional. Melibatkan 40 responden di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Propinsi Lampung. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara langsung menggunakan kuisioner pengetahuan tentang Hipoglikemia untuk menilai tingkat pengetahuan dan kuisioner kemampuan deteksi hipoglikemia untuk menilai kemampuan melakukakn deteksi episode hipoglikemia pada responden.Hasil: Tidak terdapat hubungan usia (p-value 0.071) dan ketersediaan alat glukometer dengan (p-value 0.052), terdapat hubungan pendidikan dengan (p-value 0,026), lama menderita DM dengan (p-value 0,016), jenis kelamin dengan (p-value 0,010), dan pengetahuan (p-value 0,008) dalam melakukan deteksi episode hipoglikemia dalam konteks asuhan keperawatan (p-value 0,052).Simpulan: Beberapa faktor dalam melakukan deteksi episode hipoglikemia dalam konteks asuhan keperawatan sangat erat berhubungan seperti; pendidikan, lama menderita DM, jenis kelamin, dan pengetahuan
Guided imagery terhadap tingkat fatigue pada pasien dengan gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis Andoko Andoko; Ermawati Ermawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.761 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.1661

Abstract

The effects of guided imagery on fatigue in patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysisBackground: Kidney and urinary tract diseases contribute 850,000 mortality rates placing them as the disease burden in the world. One of the general nursing problems suffered from chronic kidney disease patients who undergo hemodialysis is fatigue. The intervention that can be given to overcome the fatigue on the clients is a relaxation therapy strategy. A well-recommended therapy to relieve the fatigue is known as guided imagery.Purpose: Knowing the effect of guided imagery on fatigue in patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis.Methods: A quantitative with a quasi experiment technique and nonequivalent control group design. The population of this study included 67 patients registered with chronic kidney disease undergoing hemodialysis at the hospital. The purposive sampling technique took 32 people. The samples were distributed into two groups; 16 people in each group. The analysis was a thorough T-Test.Result: Finding that the mean of the fatigue levels of experiment and control groups were different. The mean score before the intervention was 0.352, while the score after the intervention was 2.000 (p-value 0.025).Conclusion: There was the effect of guided imagery on fatigue in patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis. Chronic kidney disease patients who undergo hemodialysis should independently and regularly do relaxation therapy because this therapy is easy to apply and proven effective to reduce fatigue.Keywords: Guided Imagery; Fatigue; Chronic Kidney Disease; HemodialysisPendahuluan: Penyakit ginjal dan saluran perkemihan berkontribusi menjadi beban penyakit di dunia dengan sekitar 850.000 kematian setiap tahun. Masalah keperawatan yang banyak dihadapi pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa umumnya adalah fatigue (kelemahan). Intervensi keperawatan untuk membantu klien dalam mengatasi masalah kelemahan diantaranya melalui strategi pemberian terapi relaksasi. Salah terapi relaksasi yang dipercaya dapat membantu mengatasi fatigue adalah guided imagery.Tujuan: Diketahuinya pengaruh guided imagery terhadap tingkat fatigue pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis.Metode: Penelitian kuantitatif, desain quasi eksperiment dengan rancangan nonequivalent control group design. Populasi pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa yang berjumlah 67 orang, besar sampel yang diambil sebanyak 32 orang yang terbagi dalam 2 kelompok, masing-masing kelompok sebanyak 16 orang, teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis menggunakan uji t-test.Hasil: Didapatkan selisih rata-rata tingkat fatigue antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol sebelum perlakuan adalah 0,352 dan setelah perlakuan 2,000 (p-value 0,025).Simpulan: Ada pengaruh guided imagery terhadap tingkat fatigue pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Bagi pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa hendaknya dapat mempergunakan terapi relaksasi secara mandiri dan teratur karena selain mudah dilakukan, terapi ini telah terbukti efektif dalam menurunkan tingkat kelelahan.
Evaluasi manajemen pengadaan dan distribusi obat di dinas kesehatan kota Bandar Lampung periode tahun 2016 Nopiyansyah Nopiyansyah; Anny Victor Purba; Wahyudi Uun Hidayat
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.043 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i1.2088

Abstract

Evaluation of drug management on procurement and distribution at Bandar Lampung Health Authority  Background : Management of public medicine and medical supplies in aimstoen sure continuity, availability and affordability of efficient drug services, availability and affordability of efficient drug services. Procurementis a continuous activity starting from selection, determining the amount needed, adjusting between demand and budget, selecting procurement methods, selecting suppliers, determining contract specifications, monitoring procurement and payment processes.Purpose : To determine the mechanism of drug procurement, drug distribution and delivery problems, constraints faced in the procurement and distribution of drugs.Method: A qualitative descriptive with technique of collecting data through in-depth interviews and reviews of documents on drug procurement and distribution.Results: Procurement of drug scarried out by the Pharmacy Installation of the Bandar Lampung Health Authority  based on usage pattern was not in accordance with the report on the use of the drug request sheets that have been prepared by the Public health centers. There were 78 drug items (44.3%) held more than those proposed, 77 drug items (43.7%) drugs were heldless than proposed, and only 21 medicinal items (12%) drugs that were carried out according to the ones proposed. Based on the results of the interview, problems with the distribution and delivery of drugs sent by the Pharmacy Installation founded problems which were 30 of Public health centers of drug has been sent expire date <1 year, 7 health centers have been sent expired date drugs and 26 health centers have been sent drugs that were not ordered. The most common constraints faced in the procurement and distribution of drugs carried out  are not availabe drugs in pharmaceutical whole sales and drugs sent to the Public health centers not in accor dance with tho serequested by the Public health centers.Conclusion : The procurement of drugs carried out and usage pattern is not in accordance with the report on the use of the drug request sheet that has been prepared successfully, ABC VEN method according to budget, the comordibity method was not appropriate wheres drugs most of which were held clinically not in accordance with the 10 most common diseases that occurred in the Bandar Lampung Health Authority  in 2016.Keywords: Drugs management; Procurement; Distribution; Pharmacy installationPendahuluan: Manajemen obat publik dan perbekalan kesehatan di bertujuan untuk menjamin kelangsungan, ketersediaan dan keterjangkauan pelayanan obat yang efisien, efektif dan rasional serta menjamin kualitas mutu obat. Pengadaan merupakan kegiatan yang berkesinambungan dimulai dari pemilihan, penentuan jumlah yang dibutuhkan, penyesuaian antara kebutuhan dan dana, pemilihan metode pengadaan, pemilihan pemasok, penentuan spesifikasi kontrak, pemantauan proses pengadaan dan pembayaran.Tujuan: Untuk mengetahui mekanisme pengadaan obat, masalah pendistribusian dan pengiriman obat, kendala yang dihadapi dalam pengadaan dan pendistribusian obat.Metode: Penelitian deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen pengadaan dan pendistribusian obat.Hasil: Pengadaan obat yang dilakukan Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung berdasarkan pola konsumsi tidak sesuai dengan laporan pemakaian lembar permintaan obat yang telah disusun puskesmas. Terdapat 78 item obat (44,3%) yang diadakan lebih dari yang diusulkan, 77 item obat (43,7%) yang diadakan kurang dari yang diusulkan, dan hanya 21 item obat (12%) yang diadakan sesuai dengan yang diusulkan. Berdasarkan hasil wawancara, masalah pendistribusian dan pengiriman obat yang dikirimkan oleh Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung yakni 30 puskesmas pernah dikirimkan obat expiredate < 1 Tahun, 7 Puskesmas pernah dikirimkan obat yang sudah expiredate dan 26 puskesmas pernah dikirimkan obat yang tidak dipesan. Kendala yang paling sering dihadapi dalam pengadaan dan pendistribusian obat yang dilakukan oleh Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung yaitu obat kosong di pedagang besar farmasi dan obat yang dikirimkan ke puskesmas tidak sesuai dengan yang diminta oleh puskesmas.Simpulan: Pengadaan obat yang dilakukan Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung berdasarkan pola konsumsi tidak sesuai dengan laporan pemakaian lembar permintaan obat yang telah disusun puksesmas, metode ABC VEN sesuai anggaran, metode komordibitas belum sesuai dimana obat yang terbanyak diadakan secara klinis tidak sesuai dengan 10 penyakit terbanyak yang terjadi. 
Meningkatkan motivasi dan efikasi diri penderita diabetes tipe 2 dalam pencegahan kaki diabetik menggunakan dukungan kelompok Suyanto Suyanto; Dwi Sulistyowati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.2250

Abstract

Improving motivation and self-efication of type 2 diabetics in prevention of diabetic foot ulcers and infections using group supportBackground: Management of DM (Diabetics) patients according to expectations requires a variety of support, one of them is group support such as the Persadia Club as an organization that helps people with diabetes to manage disease conditions become more controlled. Through group support, motivation and self-efficacy which are important factors in diabetes care behavior will increase. Thus the main action in the prevention of diabetic foot in the form of routine foot care will be carried out by the person with diabetes optimally.Purpose: To determine the effect of group support on motivation and self-efficacy of type 2 diabetics in prevention of diabetic foot ulcers and infectionsMethods: The study design was a quasi-experimental one pre group test one group method to see if there were differences in motivation and self-efficacy in diabetic foot care before and after group support. The study was conducted in May to August 2019 at the Surakarta City Persada Club as a population and a sample of 135 respondentResults: Research shows that there are differences in the self-efficacy of people with diabetes before and after getting group support with p value = 0,000. Thus the hypothesis that the influence of group support on self-efficacy is accepted. Furthermore, the results obtained that there are differences in motivation to take preventive measures for diabetes feet between before and after group support is given with a p value = 0,000. This means that the hypothesis that there is an influence of group support on motivation for diabetic foot prevention.Conclusion: As a suggestion, it is expected that people with diabetes through the Persadia club will always be supported so that their motivation and efficacy is high so that the diabetic foot care measures will be optimally carried out. Keywords: Motivation; Self-Efication; Type 2 Diabetics; Prevention; Diabetic Foot Ulcers and Infections; Group SupportPendahuluan: Pengelolaan pasien DM (Diabetisi) yang sesuai harapan memerlukan berbagai dukungan salah satu diantaranya yaitu dukungan kelompok seperti Club persadia sebagai organisasi yang membantu para diabetisi untuk mengelola kondisi penyakit  menjadi lebih terkontrol. Melalui dukungan kelompok  maka motivasi dan efikasi diri yang merupakan faktor penting dalam perilaku perawatan diabetes akan meningkat. Dengan demikian tindakan utama dalam  pencegahan kaki diabetik berupa tindakan perawatan kaki secara rutin akan dilakukan para diabetisi dengan optimal.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh dukungan kelompok terhadap motivasi dan efikasi diri  penderita diabetes tipe 2 dalam pencegahan kaki diabetikMetode : Rancangan penelitian berupa kuasi eksperimen dengan metode pre post test one group untuk melihat apakah terdapat perbedaan  motivasi dan  efikasi diri dalam tindakan perawatan kaki diabetik sebelum dan sesudah mendapat dukungan kelompok.  Penelitian dilakukan pada bulan Mei hingga Agustus 2019 pada Club Persadia Kota Surakarta  sebagai populasi dan diambil sampel sebanyak 135 respondenHasil: Penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan efikasi diri para diabetisi sebelum dan sesudah mendapt dukungan kelompok dengan p value = 0,000,  Dengan demikian hipotesis terdapat pengaruh dukungan kelompok terhadap efikasi diri diterima. Selanjutnya diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan motivasi melakukan tindakan perawatan pencegahan kaki diabetes antara sebelum dan sesudah diberikan dukungan kelompok dengan nilai p value= 0,000.  Hal ini berarti hipotesis terdapat pengaruh dukungan kelompok terhadap motivasi tindakan perawatan pencegahan kaki diabetis.Simpulan: Sebagai saran diharapkan para diabetisi melalui club Persadia selalu diberi dukungan agar motivasi dan efikasi dirinya tinggi sehingga tindakan perawatan kaki diabetik akan optimal dilakukan
Kekerasan emosional menyebabkan kenakalan pada remaja Alfianur Alfianur; Ezalina Ezalina; Elfiza Fitriami
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.05 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i1.2309

Abstract

Adolescent emotional distress and misbehaviorBackground: Emotional distress is an act that demeans the child through condemnation of words that continues to neglect the child, isolate the child from the environment and social relationships, blame the child continuously and emotional abuse is usually always followed by other violence. Emotional distress can cause physical and psychological trauma from mild to severe intensity, so that it can lead to misbehavior. Misbehavior is evil or naughty behavior committed by adolescents so that it irritates oneself and others.Purpose: Determining the correlation between adolescent emotional distress and misbehaviorMethod: A quantitative study with a correlation research design and the approach used is cross sectional. The sample in this study were 30 teenagers. The study was conducted at the Technical Implementation Unit of Social Services for Adolescent Development Marsudi Putra Tengku Yuk Pekanbaru. The measuring instrument used was a questionnaire of emotional distress and misbehavior. The analysis used univariate and bivariate using the Chi-square test.Results:The analysis of the study obtained p value 0.01 <0.05, which means there is a correlation between emotional distress and misbehavior and the risk of adolescents misbehavior as much as 10.8 times.Conclusion: There is a correlation between emotional distress and misbehavior at the Technical Implementation Unit of Social Services for Youth Development Marsudi Putra Tengku Yuk Pekanbaru.Keywords: Emotional distress; Misbehavior; AdolescentPendahuluan: Kekerasan emosional merupakan tindakan yang merendahkan anak melalui kecaman kata-kata yang berlanjut dengan melalaikan anak, mengisolasi anak dari lingkungan dan hubungan sosialnya, menyalahkan anak terus menerus dan kekerasan emosional biasanya selalu diikuti dengan kekerasan lain. Kekerasan emosional dapat menyebabkan trauma fisik dan psikologis dari intensitas ringan-berat, sehingga dapat menimbulkan munculnya kenakalan remaja. Kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau nakal yang dilakukan oleh remaja sehingga mengganggu diri sendiri dan orang lain.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kekerasan emosional dengan kenakalan remaja.Metode: Penelitian kuantitaf dengan desain penelitian korelasi dan pendekatan yang digunakan adalah cross sectional. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 30 orang remaja. Penelitian dilakukan di Unit Pelaksanaan Teknis Pelayanan Sosial Bina Remaja Marsudi Putra Tengku Yuk Pekanbaru. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner kekerasan emosional dan kenakalan remaja. Analisis yang digunakan univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square.Hasil: Didapatkan p value 0,01 < 0,05 yang artinya ada hubungan antara kekerasan emosional dengan kenakalan remaja dan risiko remaja dengan kekerasan emosional melakukan kenakalan remaja sebanyak 10,8 kali .Simpulan: terdapat hubungan antara kekerasan emosional dengan kenakalan remaja di Unit Pelaksanaan Teknis Pelayanan Sosial Bina Remaja Marsudi Putra Tengku Yuk Pekanbaru. 
Perilaku ibu rumah tangga yang mempunyai balita dan sanitasi dasar rumah dengan kejadian diare pada balita Retno Arienta Sari; Dyah Wulan Sumekar Rengganis Wardani; Ratna Dewi Puspita Sari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.138 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.2301

Abstract

Mothers' personal and domestic hygiene and diarrhoea incidence in toddlers in Bandar Lampung, IndonesiaBackground: Diarrhea is still the second highest cause of child mortality in the world after pneumonia. Diarrhea is related to various factors. Maternal behavior and environmental sanitation are factors that are highly associated with the occurrence of diarrhea in infants.Purpose: To determine of the relationship between mother behavior and sanitation with the incident of diarrhea on toddlers in Kangkung Village Bumi Waras District Bandar Lampung City.Methods: This study was an observational analytic study with cross sectional approach, conducted in Kangkung Village, Bumi Waras District, Bandar Lampung City in October and November 2019. The sample were all toddlers  and their mothers and taken with proportional random sampling technique. The research data were collected using the observation checklist method and questionnaire filling, then the data were analyzed using the chi square test.Results: Finding the proportion of diarrhea incidence was of 29.4% and without-diarrhea was of 70.6%. The results showed that the mother's hand washing behavior (p = 0.035), boiling drinking water (p = 0.036) and the availability of clean water (p = 0.049) were related to the incidence of diarrhea in toddlers. While the availability of feces disposal (p = 0.078), availability of waste disposal (p = 0.068) and waste water disposal facilities (p = 1,000) are not related to diarrhea.Conclusion: Obtaining several factors that are closely related to the incidence of diarrhea, with the behavior of the mother such as handwashing habits, provision of drinking water, and the availability of clean water that meets the requirements. While other factors such as the disposal of feces, garbage disposal, and waste water disposal, there have no relationship with the incidence of diarrhea among toddlers.Suggestion: The need for activities that involve the community from the family level, neighborhood groups to local government supported by the health department, health centers, schools with the aim of changing the behavior of community .Keywords: Mothers' Personal; Domestic Hygiene; Diarrhoea Incidence; ToddlersPendahuluan: Diare masih menjadi penyebab kematian balita tertinggi kedua di seluruh dunia setelah pneumonia. Penyakit diare berkaitan dengan berbagai faktor. Perilaku ibu dan sanitasi lingkungan menjadi faktor yang sangat terkait dengan kejadia diare pada balita.Tujuan: Mengetahui hubungan antara perilaku ibu dan sanitasi dengan kejadian diare pada balita di Kelurahan Kangkung, Kecamatan Bumi Waras, Kota Bandar Lampung.Metode: Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional, dilakukan di Kelurahan Kangkung, Kecamatan Bumi Waras, Kota Bandar Lampung pada bulan Oktober dan November 2019. Sampelnya seluruh balita dan ibunya, diambil dengan Teknik proportional random sampling. Data penelitian dikumpulkan dengan metode checklist observasi dan pengisian lembar angket, kemudian dilakukan analisis data menggunakan uji chi kuadrat.Hasil: Didapatkan proporsi kejadian diare sebanyak 29,4% dan yang tidak diare 70,6%. Adapun hubungan faktor-faktor terkaitnya didapatkan; perilaku cuci tangan ibu (p = 0,035), memasak air minum (p= 0,036) dan ketersediaan air bersih (p= 0,049) berhubungan dengan kejadian diare pada balita. Sedangkan ketersediaan pembuangan tinja (p= 0,078), ketersediaan pembuangan sampah (p= 0,068) dan sarana pembuangan air limbah (p= 1,000) tidak berhubungan dengan diare.Simpulan: Didapatkan beberapa faktor yang berhubungan erat antara kejadian diare pada balita, dengan perilaku ibunya seperti kebiasaan cuci tangan, penyediaan air minum, dan ketersediaan air bersih yang memenuhi syarat. Sedangkan faktor lainnya seperti pembuangan tinja, pembuangan sampah, dan pembuangan air limbah, tidak didapatkan hubungan dengan kejadian diare pada balita.SARAN: Perlunya kegiatan yang melibatkan masyarakat dari tingkat keluarga, rukun tetangga sampai pemerintahan desa yang didukung oleh dinas kesehatan, puskesmas, sekolah dengan tujuan merubah perilaku PHBS masyarakat.
Konsumsi makanan kariogenik dan kebiasaan menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada anak Riska Wandini; Yuniati Yuniati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.875 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.2091

Abstract

Caries prevalence and risk factors among children aged 4 to 6 years old in Bandar Lampung-IndonesiaBackground: Dental caries are still a matter of oral health in large industrialized countries , which affects 60-90% of the school children and most adults.Dental caries can be experienced by everyone and can arise on one or more dental surfaces.For example, from email to dentin or to Pulpa. Caries are due to various reasons, including are carbohydrates, microorganisms and saliva, tooth shape surfaces. Based on data by interviewed at the time were conducted on 20 Students at kindergarten Kuntum Mekar and Setia  Bandar Lampung obtained of 14 (70%) They have a cariogenic food intake during the day and had the poorest teeth brushing habits, characterized by dental caries of 7 (30%).Purpose: Knowing caries prevalence and risk factors among children aged 4 to 6 years old in Bandar Lampung-IndonesiaMethods: A quantitative research type (analytic), with cross sectional approach and population was all children at Kuntum Mekar and Setia kindergarten in Bandar Lampung. By formula Slovin got sample number of 80 students. Data analysis Used the chi-square statistical test.Result: Finding the frequency of consumption of high cariogenic foods As many as of 72 respondents (86%), had a poorest tooth brushing habits,  of 60 respondents (75%), and had a dental caries as many as of 63 respondents (83.8%), with the p-value = 0.022 and 0.002; OR: 5,357 and OR: 7,333.Conclusion: There is a correlation the factors cariogenic food intake during the day and had the poorest tooth brushing habits with dental caries occurance.Suggestions: To be pay attention for parent and teachers to remember that children reduce the consumption of cariogenic food and improving in brushing teeth habitKeywords: Cariogenic food intake; Brushing teeth habit; Dental caries.Pendahuluan: Karies gigi masih menjadi masalah kesehatan mulut di negara-negara industri besar, yang mempengaruhi 60-90% dari anak-anak sekolah dan sebagian besar orang dewasa. Karies gigi dapat dialami oleh semua orang dan dapat timbul di satu permukaan gigi atau lebih. Misalnya dari email ke dentin ataupun ke pulpa. Karies dikarenakan berbagai sebab, diantaranya adalah karbohidrat, mikroorganisme dan air ludah, permukaan bentuk gigi.Berdasarkan hasil prasurvei yang dilakukan pada siswa yang juga diwawancarai pada saat itu dilakukan pada 20 siswa di TK Kuntum Mekar dan TK Setia Bandar Lampung didapatkan data 14 siswa (70%) diantaranya mengkonsumsi makanan kariogenik dan memiliki kebiasaan menggosok gigi yang kurang baik ditandai dengan karies gigi dan 7 siswa (30%) diantaranya mengatakan jarang mengkonsumsi makanan kariogenik dan memiliki kebiasaan menggosok gigi cukup baik atau minimal dua kali sehari saat pagi sesudah makan dan malam sebelum tidur.Tujuan: Diketahui hubungan antara konsumsi makanan kariogenik dan kebiasaan menggosok gigi umur 4-6 tahun dengan kejadian karies gigi pada anak-anak di Bandar Lampung Indonesia.Metode: Penelitian kuantitatif (analitik), dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah anak-anak TK Kuntum Mekar dan TK Setia di Bandar Lampung, dengan jumlah sampel 80 murid.Pengambilan sampel menggunakan rumus Slovin.Analisis data menggunakan uji statistik chi-square.Hasil: Menunjukkan distribusi frekuensi konsumsi makanan kariogenik yang sering sebanyak 72 responden (86%), kebiasaan menggosok gigi yang buruk sebanyak 60 responden (75%). Karies gigi pada anak-anak dengan karies sebanyak 63 responden (83,8%). Ada hubungan antara konsumsi makanan kariogenik dengan kejadian karies gigi pada anak dengan nilai p-value = 0,022 (p-value<0,05), serta diperoleh nilai OR : 5.357. Ada hubungan anatara menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada anak dengan nilai p-value = 0,002 (p-value<0,05), serta diperoleh nilai OR : 7.333.Simpulan: Ada hubungan antara konsumsi makanan kariogenik dan kebiasaan menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada anak TK Kuntum Mekar dan TK Setia di Bandar Lampung Tahun 2019. Saran dalam penelitian ini diharapkan anak-anak mengurangi konsumsi makanan kariogenik dan mengetahui kebiasaan menggosok gigi yang benar.
Hubungan status gizi dengan pertumbuhan dan perkembangan balita 1-3 tahun Setiawati Setiawati; Erna Rahma Yani; Megah Rachmawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.055 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i1.1903

Abstract

Relationships between physical growth, mental development and nutritional status in children 1–3 years of ageBackground: Based on health surveys under the Ministry of Health of the Republic of Indonesia in 2018, the prevalence of delayed gross motor development, social personal, soft motor and language development in children aged 0.5 - 5.9 years is still high reaching 11.5%, up to 21, 6%, and the prevalence of malnutrition reaches 3.9%. The percentage of malnutrition in Lampung Province is 1.6% to 12.4%.Purpose: Knowing relationships between physical growth, mental development and nutritional status in children 1–3 years of age.Method: A quantitative research, using a cross-sectional approach with a population was mothers of children aged 1-3 years at the Palapa Health Center in Bandar Lampung City with a sample of 203 toddlers, using random sampling with proportional random sampling technique. Data collection techniques were used by observing toddlers and filling in the Pre-Screening Questionnaire of Development (KPSP)   by their mothers. The statistical test used was the Chi Square test.Results: The frequency distribution of toddlers with adequate nutrition status of 104 toddlers (51.2%), appropriate in physical growth  as many as 134 toddlers (66.0%), and appropriate in mental development  was 142 toddlers (70.0%). There is a relationship of nutritional status with the physical growth (p value 0.001, OR 2.8).There is a relationship of nutritional status with the mental development (p value 0.007, OR 2.4)Conclusion: There is a relationships between physical growth, mental development and nutritional status in children 1–3 years of age. Suggestions for health workers are expected to further improve the monitoring of the nutritional status of children and conduct routine early detection of deviations of child developmentKeywords: Physical growth; Mental development; Nutritional status; Children 1–3 years of agePendahuluan: Berdasarkan survey kesehatan dibawah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2018, prevalensi keterlambatan perkembangan motorik kasar, sosial personal, motorik halus dan perkembangan bahasa pada anak usia 0,5 – 5,9 tahun masih tinggi mencapai 11,5 %, sampai dengan 21,6%, dan prevalensi gizi buruk hingga mencapai  3,9%. Provinsi Lampung persentase gizi buruk sebesar 1,6%, dan gizi kurang 12,4%.Tujuan: Diketahui hubungan status gizi dengan pertumbuhan dan perkembangan balita 1-3 tahun di Puskesmas Palapa Kota Bandar Lampung tahun 2019.Metode: Penelitian kuantitatif, menggunakan pendekatan cross sectional dengan populasi dalam para ibu yang mempunyai  balita 1-3 tahun di Puskesmas Palapa Kota Bandar Lampung dengan sampel 203 balita, menggunakan random sampling dengan teknik Proportional random sampling. Tehnik pengumpulan data menggunakan dengan cara mengobservasi balita dan pengisian data kuesioner KPSP oleh ibu yang mempunyai balita yang dijadikan sebagai responden . Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi Square.Hasil: Distribusi frekuensi balita dengan asupan gizi cukup yaitu sebanyak 104 balita (51,2%), pertumbuhan kotegori sesuai sebanyak 134 balita (66,0%), perkembangan yang kategori tidak menyimpang sebanyak 142 balita (70,0%). Ada hubungan status gizi dengan pertumbuhan balita 1-3 tahun (p value 0,001, OR 2,8) Ada hubungan status gizi dengan perkembangan balita 1-3 tahun (p value 0,007, OR 2,4)Simpulan: Adanya hubungan status gizi dengan pertumbuhan dan perkembangan balita 1-3 tahun  di Puskesmas Palapa Kota Bandar Lampung tahun 2019. Saran bagi tenaga kesehatan diharapkan lebih meningkatkan lagi pemantauan terhadap status gizi anak dan melakukan deteksi dini secara rutin terhadap penyimpangan perkembangan anak.