cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Universitas Malahayati Bandar Lampung, Indonesia Jl Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung, Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024/hjk
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Articles 624 Documents
Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian susu formula pada bayi usia 0-6 bulan Rika Yulendasari; Muhammad Firdaus
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.043 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v13i3.1891

Abstract

Maternal factors relating to milk formula feeding on infants aged 0-6 months in Lampung-IndonesiaBackground: Many parents assume that breastmilk only would not be sufficient to fulfil baby’s nutrition need, so that baby need to feed with complementary feeding. The administration of complementary feeding like formula milk has been a common practice for some parents with reasons including less breastmilk production, maternal busy activities, less maternal knowledge concerning breastmilk feeding, saving time, being attracted by offered formula milk. Most parents administer formula milk with amount almost similar to breastmilk to fulfil the baby’s need.  Purpose: Knowing factors of formula feeding for infants 0-6 months.Methods: This was a quantitative analytic research by using cross sectional approach. Population was 220 babies of 0-6 months old in Waykandis public health centre working area from January to April 2019. 142 respondent samples were taken by using proportional random sampling.Results: The statistic test result showed that there were correlations of maternal occupation (p-value 0.016; OR 2.485), maternal education (p-value 0.004; OR 2.886), maternal knowledge (p-value 0.000; OR 0.089) to formula milk administration.Conclusion: There were factors of formula feeding for infants 0-6 months. The researcher expects the public health centre to create a schedule list for complementary feeding besides breast milk administration according to the children fewer than five needs, and to be always active in providing health education especially concerning the importance of formula milk knowledge.Keywords: Maternal; Formula Feeding; Infants 0-6 MonthsPendahuluan : Banyak orang tua menganggap bahwa kebutuhan nutrisi bayi tidak cukup hanya dengan ASI, sehingga bayi perlu dibantu dengan memberikan makanan pendamping ASI. Pemberian makanan pendamping ASI berupa susu formula sudah menjadi hal yang biasa, dengan berbagai alasan yang diberikan seperti ASI yang keluar sedikit, kesibukan ibu, kurangnya pengetahuan ibu tentang pemberian ASI, hemat waktu, tergiur dengan kandungan susu formula yang ditawarkan. Kebanyakan orang tua menilai pemberian susu formula hampir setara dengan ASI dan dapat mencukupi kebutuhan gizi bayinya. Tujuan  : Diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian susu formula pada bayi usia 0-6 bulan.Metode : Jenis penelitian kuantitatif. Rancangan menggunakan analitik, dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian seluruh bayi usia 0-6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Waykandis dari bulan Januari sampai dengan bulan April 2019 yaitu sebanyak 220 orang. Sampel berjumlah 142 responden dengan teknik Proportional Random Sampling.Hasil : Berdasarkan hasil uji statistik, terdapat hubungan antara faktor pekerjaan dengan pemberian susu formula (p-value 0,016) nilai OR 2,485, terdapat hubungan antara faktor pendidikan dengan pemberian susu formula (p-value 0,004) nilai OR 2,886, terdapat hubungan antara faktor pengetahuan dengan pemberian susu formula (p-value 0,000) nilai OR 0,089.Simpulan : Ada hubungan antara faktor pekerjaan, pendidikan dan pengetahuan terhadap pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan. Diharapkan tenaga kesehatan dapat membuat daftar menu pemberian MP-ASI sesuai dengan kebutuhan balita, selalu aktif memberikan penyuluhan kesehatan pentingnya pengetahuan tentang susu formula. 
Lama menderita diabetes mellitus tipe 2 sebagai faktor risiko neuropati perifer diabetik Galvani Volta Simanjuntak; Marthalena Simamora
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.707 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i1.1810

Abstract

Sensory neuropathy in type 2 diabetes mellitus and its correlation with duration of diseaseBackground: Diabetic peripheral neuropathy is a complication of type 2 diabetes mellitus (T2DM) that results in harm to the nervous system. It is a progressive disease, and symptoms get worse over time.Purpose: To exploration the sensory neuropathy in type 2 diabetes mellitus and its correlation with duration of disease.Method: An observational analytic with cross sectional design with population was patients with T2DM without diabetic ulcers in diabetic clinic Sari Mutiara Hospital. The number of samples  was 86 respondents by  a simple random sampling. Measuring the risk of diabetic peripheral neuropathy used 10 gram monofilament.Results: Showed the majority of the duration of T2DM >5 years (53,5%) and the majority of respondents had neuropathy (54,7%). The results of the Spearman rank correlation test showed that there was a significant correlation between duration of T2DM and risk of diabetic peripheral neuropathy (p-value = 0,023 and r= -0,438). Conclusion: The majority respondents has a diabetic peripheral neuropathy and also has a risk of diabetic peripheral neuropathy who are suffering >5 years. It is recommended that they need a regularly asses and educate to prevent further complication.Keywords: Sensory neuropathy; Type 2 diabetes mellitus; Duration of diseasePendahuluan: Neuropati perifer diabetes adalah komplikasi diabetes yang mengakibatkan kerusakan sistem saraf. Ini adalah penyakit progresif, dan gejalanya bertambah buruk seiring waktu.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan lama menderita dengan risiko neuropati pada pasien DM tipe 2.Metode: Desain analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional dan populasinya seluruh pasien DM tipe 2 yang tidak memiliki ulkus diabetik di klinik diabetes RSU Sari Mutiara. Sampelnya sebanyak 86 yang diambil dengan teknik simple random sampling. Risiko neuropati perifer diabetik diukur menggunakan monofilament 10 gram.Hasil: Analisis data menunjukkan mayoritas pasien menderita DM tipe 2  yang  >5 tahun (53,5%) dan mayoritas pasien telah mengalami neuropati (54,7%). Hasil uji statistik menggunakan korelasi spearman menunjukan adanya hubungan lama menderita DM tipe 2 dengan risiko neuropati (p-value = 0,023<0,05 dan  nilai r = -0,438).Simpulan: Mayoritas responden yang mengalami Neuropati perifer diabetes maupun resiko terjadinya Neuropati perifer diabetes pada mereka kelompok yang menderita DM tipe 2  yang  >5 tahun. Sangat dianjurkan pada pasien tersebut untuk dilakukan pengkajian secara teratur  dan pendidikan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. 
Peningkatan harga diri melalui intervensi Cognitive behavioral therapy pada remaja korban bullying Niken Yuniar Sari; Sri Maryuni
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (22.458 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.1561

Abstract

Cognitive behavioral therapy for bully‐victims  among adolescents in Islamic school, IndonesiaBackground: Bullying is aggressive behavior, illegal, negative both physically and psychologically that is social environment and it was now are more prevalent in the education world. Sign of symptoms that by the bullying of them in the form of low self-esteem. On the sacrificial offering, health effort has never been bullying at the school health psychology as psychotherapy.Purpose: Effectiveness of cognitive behavior therapy to bully‐victims in adolescents.Methods: The method of this study used case studies, with the amount of 21 respondents.Results: The results of this study showed that teenagers bullying victims to the girl who the majority of the age of 14 years old, there was increased in self-esteem especially on aspects of cognitive and behavior after giving nursing intervention and cognitive behavior therapy.Conclusion: The handling of this is cognitive behavior therapy that can be used as one of the preventive efforts of teenagers the bullying of low self-esteem.Keywords: Cognitive Behavioral Therapy; Bully‐Victims;  Adolescents; Islamic SchoolPendahuluan: Bullying merupakan suatu perilaku agresif, ilegal, negatif baik secara fisik maupun psikis yang ada dilingkungan sosial dan saat ini lebih banyak terjadi di dunia pendidikan. Tanda gejala yang muncul akibat bullying diantaranya berupa harga diri rendah. Upaya kesehatan pada korban bullying disekolah belum bersifat kesehatan psikologi seperti psikoterapi.Tujuan: Hasil penanganan kasus ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tanda gejala harga diri remaja santri korban bullying setelah diberikan intervensi Cognitive Behaviour Therapy menggunakan penerapan teori stres adaptasi Stuart.Metode: Penanganan kasus ini menggunakan metode case study, dengan jumlah responden 21 orang.Hasil: Hasil penanganan kasus menunjukan bahwa remaja santri korban bullying dengan jenis kelamin perempuan yang sebagian besar berusia 14 tahun, terjadi peningkatan harga diri terutama pada aspek kognitif dan perilaku setelah diberikan tindakan keperawatan ners dan ners spesialis berupa Cognitive Behavior Therapy. Simpulan: Penanganan kasus ini berupa Cognitive Behavior Therapy dapat digunakan sebagai salah satu upaya preventif remaja santri remaja korban bullying terjadinya harga diri rendah.
Pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan status gizi pada bayi usia 6-12 bulan Linawati Novikasari; Hardono Hardono; Heru Sapto Adi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.383 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i1.1664

Abstract

Complementary foods on infant breast milk intake and nutrition status in infants 6 to 12 months oldBackground: Based on pre-survey data for January 2019 in the Karang City Health Center for 30 infants aged 6-12 months, 12 infants (40%) had normal nutritional status, and 18 infants (60%) with undernourished status, based on data from interviews with people parents who have children aged 6-12 months with poor nutritional status, 10 mothers (55.5%) said they did not know about the importance of giving MP-ASI such as the right time in giving MP-ASI, food menu for MP-ASI, and the portion MP-ASI for babies, and 8 mothers (44.5%) said they only gave formula milk as a substitute for breast milk.Purpose: Knowing to the relationship of complementary feeding (MP-ASI) with nutritional status in infants aged 6-12 months in the working area of Karang Bandar Lampung Health Center in 2019.Method: Quantitative research type. Analytic survey research design with cross sectional design. The population of all mothers who have infants aged 6-12 months in the working area of Karang Bandar Lampung Health Center in 2019 amounted to 86 respondents, a sample of 86 respondents. The sampling technique used is total sampling. Chi-square test data analysis.Results: Known in the working area of Karang Bandar Lampung Health Center in 2019, there were 45 respondents given MP-ASI well, 27 respondents (60.0%) had good nutrition and 18 respondents (40.0%) had poor nutrition, while there were 41 respondents given MP-ASI are not good, 10 respondents (24.4%) have good nutrition and 31 respondents (75.6%) have poor nutrition. Statistical test results, obtained p-value 0.002 or p-value <0.05.Conclusion: There is a relationship between complementary feeding (MP-ASI) with nutritional status in infants aged 6-12 months in the working area of Karang Bandar Lampung Health Center in 2019 with a p-value of 0.002. It is expected that the Puskesmas will be able to make a list of MP-ASI gift menus and provide infrastructure facilities on the MP-ASI menu according to the baby's needs.Keywords: Complementary foods; Breast milk; Nutritional status; Infants 6 to 12 months oldPendahuluan: Berdasarkan data prasurvey bulan Januari 2019 Di Puskesmas Kota Karang terhadap 30 bayi yang berusia 6-12 bulan, diketahui 12 bayi (40%) status gizi normal, dan 18 bayi (60%) dengan status gizi kurang, berdasarkan data wawancara terhadap orang tua yang mempunyai anak usia 6-12 bulan dengan status gizi kurang, 10 ibu (55,5%) mengatakan kurang mengetahui tentang pentingnya pemberian MP-ASI seperti waktu yang tepat dalam pemberian MP-ASI, menu makanan untuk MP-ASI, serta porsi MP-ASI untuk bayi, dan 8 ibu (44,5%) mengatakan hanya memberikan susu formula sebagai pengganti ASI.Tujuan: Diketahui hubungan pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan status gizi Pada Bayi usia 6-12 bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Karang Bandar Lampung Tahun 2019.Metode: Jenis penelitian kuantitatif. Rancangan penelitian survey analitik dengan desain cross sectional. Populasi seluruh ibu yang mempunyai Bayi usia 6-12 bulan yang berada di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Karang Bandar Lampung Tahun 2019 berjumlah 86 responden, Sampel 86 responden. Teknik sampling yang digunakan total sampling. Analisa data uji chi-square.Hasil: Diketahui bahwa di wilayah kerja Puskesmas Kota Karang Bandar Lampung Tahun 2019, terdapat 45 responden yang diberikan MP-ASI dengan baik, 27 responden (60,0%) mengalami gizi baik dan 18 responden (40,0%) mengalami gizi kurang baik, sedangkan terdapat 41 responden yang diberikan MP-ASI kurang baik, 10 responden (24,4%) mengalami gizi baik dan 31 responden (75,6%) mengalami gizi kurang baik. Berdasarkan hasil uji statistik, didapatkan p-value 0,002 atau p-value < 0,05.Simpulan: Ada hubungan pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan status gizi pada bayi usia 6-12 bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Karang Bandar Lampung Tahun 2019 dengan p-value 0,002. Diharapkan kepada pihak Puskesmas agar dapat membuat daftar menu pemberian MP-ASI dan menyediakan fasilitas sarana prasarana tentang menu MP-ASI sesuai dengan kebutuhan bayi.
Kualitas pelayanan kesehatan rawat jalan dengan tingkat kepatuhan minum obat penderita tuberkulosis paru Ahmad Gunawan; Muhammad Arifki Zainaro
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.083 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.1658

Abstract

Adherence to anti-tuberculosis treatment and  quality of outpatient health servicesBackground: The were 23 lung tuberculosis patients registered at Sragi Health Center. Actually, the Case Detection Rate of Tuberculosis in Lampung Selatan Regency was 60%, below the 70% national target. How ever, specifically in some health centers in the regency, there were some health centers which Case Detection Rate (CDR) is higher than national achievement like Bakauheni Health Center (116%) while the lowest CDR found at Bumidaya Health Center. In this study, Sragi Health Center obtained 41% placing the fourth lowest achievement. On the following year, 2017, Sragi Health Center’s lung tuberculosis patients increased into 38 resulting the second lowest CDR achieve in Lampung Selatan regency.Purpose: To identify the correlation between empathy of health practitioner and the adherence to anti-tuberculosis treatment.Methods: A quantitative study with cross sectional research approach, by total sampling and population was 49 patients with lung tuberculosis. Study was done on 23 March to 25 July 2019 at Sragi Health Center (Puskesmas). The variables are quality of outpatient health services in domain an empathy and the adherence to anti-tuberculosis treatment.Result: Finding that there were of 29 patients (59,2%) acknowledging the health practitioners having good empathy while the other twenty (40,8%) stating the health practitioners exhibiting poor empathy. There was a correlation between empathy of health practitioners and the adherence of taking medicine on lung tuberculosis patients (p value = 0,009 and OR 6,545).Conclusion: There was a correlation between empathy of health practitioners and the adherence to anti-tuberculosis treatment. The health practitioners especially the nurses should show their empathy to the patients in order to build trust to healthcare.Keywords: Adherence; Anti-Tuberculosis Treatment; Quality; Outpatient Health Services; Empathy Pendahuluan: Puskesmas Sragi sebanyak 23 penderita. CDR (Case Detection Rate) Kabupaten Lampung Selatan tahun 2016 sebesar 60% masih dibawah target nasional sebesar 70%, tetapi bila ditilik terdapat beberapa Puskesmas yang mempunyai capaian nilai CDR diatas nasional seperti Puskesmas RI Bakauheni (116%), sedangkan Puskesmas dengan CDR terendah adalah RI Bumidaya (30%) dan Puskesmas Sragi sebesar 41% merupakan urutan yang ke empat terendah. Tahun 2017 Puskesmas Sragi kembali mengalami peningkatan penderita TB paru menjadi sebanyak 38 orang dengan CDR urutan kedua terendah di Kabupaten Lampung Selatan. Tujuan: Diketahui empati petugas kesehatan dengan kepatuhan minum obat penderita tuberculosis paru. Metode: Penelitian kuantitatif, jenis penelitian crossectional. Populasi penelitian seluruh penderita TB paru, jumlah sampel 49 orang, pengambilan sampel secara total sampling dilakukan di UPT Puskesmas Rawat Inap Sragi Kabupaten Lampung Selatan, tanggal 23 Maret – 25 Juli 2019. Variabel penelitian empatidan kepatuhan minum obat penderita tuberculosis paru. Analisis data secara univariat dan bivariat (chi square).Hasil: Diketahui sebanyak 29 (59,2%) memiliki empati baik dan sebanyak 20 (40,8%) memiliki rasa empati yang buruk. Ada hubungan antara empati petugas kesehatan terhadap kepatuhan minum obat tuberculosis paru(p-value=0,009 dan OR 6,545).Simpulan: Ada hubungan antara empati petugas kesehatan terhadap kepatuhan minum obat tuberculosis paru. Saran: Perawat dan petugas kesehatan supaya bersikap empati agar pasien lebih nyaman dan merasa dilindungi dan dibantu sehingga dapat menciptakan kondisi yang terapeutik. Pasien akan selalu kontrol dan patuh dalam minum obat tuberculosis paru hingga dosisnya sesuai anjuran yang ditetapkan.
Hubungan status gizi berdasarkan lingkar lengan atas (LiLA) dengan tekanan darah pada pasien hipertensi Amila Amila; Nurul Utami; Agnes Silvina Marbun
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.322 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i1.1851

Abstract

Mid‐upper arm circumference (MUAC), nutritional status and blood pressure of patients with hypertensionBackground : Obesity is a factor that affects the increase in blood pressure. Measurement of nutritional status assessment Mid‐upper arm circumference (MUAC), can be used as one of obesity screening. Purpose : To determine the relationship of mid‐upper arm circumference (MUAC), nutritional status and blood pressure of patients with hypertensionMethod: Correlational analytic with cross sectional approach, a sample was recruited with purposive sampling as much as 43 respondents. The data was analyzed by pearson correlation with significance α <0.05.Results : There was a significant correlation mid‐upper arm circumference (MUAC), nutritional status and blood pressure of patients with hypertension with the  systolic blood pressure (p = 0,005, r = 0,420) and diastolic blood pressure (p = 0.025,  r = 0.342).Conclusion: There was a significant correlation mid‐upper arm circumference (MUAC), nutritional status and blood pressure of patients with hypertension and consideration of the research to be implemented as an early detection of obesity to prevent and control excessive weight gain and increase of blood pressureKeywords: Mid‐Upper Arm Circumference (MUAC); Nutritional status; Blood pressure; Patients; HypertensionPendahuluan: Obesitas merupakan faktor yang mempengaruhi peningkatan tekanan darah.Pengukuran status gizi dapat digunakan sebagai salah satu skrining obesitas.Tujuan : Untuk mengetahui hubungan status gizi  (lingkar lengan atas) dengan tekanan darah pada masyarakat Desa Pante Raya Barat Kecamatan Wih Pesam Kabupaten Bener Meriah tahun 2017.Metode : Penelitian analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional dan teknik pengambilan sampel purposive sampling sejumlah 43 orang. Data penelitian dianalisis dengan uji korelasi spearman pada α <0.05.Hasil :  Uji statistik menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara status gizi berdasarkan lingkar lengan atas dengan tekanan darah sistolik, (p= 0,003 r=-0,437) dan tekanan darah diastolik (p= 0,022 r=0,347). Simpulan : Penelitian ini dapat digunakan sebagai deteksi dini obesitas dalam upaya mencegah dan mengendalikan berat badan yang berlebihan dan peningkatan tekanan darah. 
Penerapan Introduction, Situation, Background, Assessment and Recommendation (ISBAR) untuk komunikasi efektif antara perawat dan dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Cibabat Kota Cimahi Asep Badrujamaludin; Tria Firza Kumala
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.15 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.1587

Abstract

ISBAR and effective communication between nurses and doctors Background: The communication errors the main cause of events reported to the United States Joint Commission between 1995 to 2006 of 25000-30000 preventable incidents that cause permanent disability. 11% of these adverse events are due to 6% different communication problems and also because inadequate level of skills. In Indonesia,  data on unexpected-events (UEs)) let alone the event of near‐miss events (NMEs) is still scarce, but on the other hand there is an increase in accusations of "mal practice", which is not necessarily in accordance with the final proof, Patient safety targets, the main element of care services to patients is effective communication. At Cibabat hospital uses SBAR communication between nurses and doctors, but there is still an element lacking in the nurse's self-introduction component when calling doctorsPurpose: This study aims to determine the description and effectiveness of ISBAR communication as effective communication between nurses and doctorsMethods: The sample of 79 nurses by survey and another nurses of 45  by observation, it done in  ICU and inpatient ward. Surveys Questioners filled up direct by respondents and observation sheets filled up by supervisors through look directly at the  moment a communication. The data collected is analyzed by frequency distribution from the results of surveys and all data analized by a statistical test to find the effectiveness of communication with the Wilcoxon TestResults: The survey found that has improved of 80% to 93.3% (ICU) and of 78.1% to 87.5% (Inpatient ward) of the communication component Introduction; by mention the name. Observation results introduction; mention the name of ISBAR communication there was a significant improve from 57.1% to 100% (ICU) and from 20.8% to 79.2% (inpatient ward). Wilcoxon test results were found from observations in  ICU  with a value of 0.003 (p <0.05) and in the inpatient ward with a value of 0.00 (p <0.05) for the introduction aspect. Therefore,  this study found that ISBAR communication more effective than SBAR  in terms of mentioning the names in the aspects of IntroductionConclusion: That ISBAR Communication is more effective than SBAR communication in terms of the component of name's Introduction  aspect. As a result, ISBAR communication can be implemented as a standard of communication for Cibabat General Hospital and other hospitals.Keywords: ISBAR; Communication; Effective; Nurses and Doctors; HospitalPendahuluan: Kesalahan dalam komunikasi adalah penyebab utama peristiwa yang dilaporkan ke Komisi Bersama Amerika Serikat antara 1995 dan 2006 yaitu dari 25000-30000 kejadian buruk yang dapat dicegah menyebabkan cacat permanen 11% kejadian buruk ini adalah karena masalah komunikasi yang berbeda 6% dan juga karena tidak memadai tingkat ketrampilannya. Di Indonesia data tentang kejadian tidak diharapkan (KTD) apalagi kejadian nyaris cedera (KNC) masih langka, namun di lain pihak terjadi peningkatan tuduhan “mal praktek”, yang belum tentu sesuai dengan pembuktian akhir. Sasaran keselamatan pasien, unsur yang utama dari layanan asuhan ke pasien adalah komunikasi efektif.RSUD Cibabat menggunakan komunikasi SBAR dalam komunikasi dengan dokter, tapi masih ada unsur kurang dalam komponen mengenalakan diri perawat saat menelpon dokterTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan keefectivan komunikasi ISBAR sebagai komunikasi efektif antara perawat dan dokterMetode: Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 79 perawat untuk survey ruang ICU dan rawat inap dan 45 perawat untuk observasi di ruang ICU dan rawat inap. Questioner di berikan kepada responden survey dan lembar observasi di berikan kepada tim Supervisor rumah sakit dengan melihat langsung komunikasi yang dilakukan. Data yang terkumpul di analisa dengan disribusi frequency dari hasil survey dan observasi dan kemudian data observasi di lakukan uji statsistik untuk melihat keefectivan dengan Uji WilcoxonHasil: Hasil penelitian didapatkan untuk Survey ditemukan bahwa peningkatan dari dari 80% menjadi 93,3%. (ICU) dan 78,1 % menjadi 87,5% (Rawat inap) dari komponen komunikasi Introduction; menyebutkan nama. Hasil observasi Introduction; menyebutkan nama dari komunikasi ISBAR terjadi peningkatan significan dari 57,1 % menjadi 100% (ICU) dan dari 20,8% menjadi 79,2 % (Rawat inap). Uji hasil test wilcoxon ditemukan dari hasil observasi di ruang ICU dengan nilai 0,003 (p< 0.05) dan di ruang rawat inap dengan nilai 0,00 (p< 0,05) untuk aspek introduction. Sehingga dari penelitian ini disimpulkan bahwa Komunikasi ISBAR lebih efective untuk diterapkan dari pada komunikasi SBAR dalam hal komponen Meneyebutkan nama di aspek IntroductionSimpulan: penelitian ini menyimpulkan bahwa Komunikasi ISBAR lebih efective untuk diterapkan dari pada komunikasi SBAR dalam hal komponen menyebutkan nama di aspek Introduction. Sehingga komunikasi ISBAR bisa jadikan standard komunikasi untuk RSUD Cibabat Khususnya dan Rumah sakit lain pada umumnya. 
Tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku ibu dalam pemberian imunisasi MR (Measles Rubella) pada anak usia 9 bulan–5 tahun Umi Romayati Keswara; Eriyani Eriyani; Super Adinata
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.923 KB) | DOI: 10.33024/hjk.v14i1.1615

Abstract

Measles Rubella vaccine in children ages 6 to 60 months related knowledge, attitudes and practices of mothers in Lampung-IndonesiaBackground: Rubella is an acute and minor disease that often infects vulnerable children and young adults. High coverage and evenly at least 95% will create herd immunity and break the chain of rubella's spreading. Achievement of immunization obtained by UPTD in Puskesmas Margodadi was still low at 94.3%.Purpose: Knowing Measles Rubella vaccine in children ages 6 to 60 months related knowledge, attitudes and practices of mothers in Lampung-Indonesia.Method: This study was quantitative with a case-control design with populations in this study were mothers who had children aged 9-60 months  who were targeted in the implementation of mass MR immunization with a sample of 80 from 4 integrated service post or posyandu taken by Propositional Sampling. The instrument used was a questionnaire to determine the knowledge, attitudes, and behaviors of mothers in the provision of MR immunization. Data analysis used Chi-Square.Results: Distribution frequency of characteristics of mothers who didn’t give MR immunization with good knowledge were 18 respondents (45%) and not so good knowledge were 22 respondents (55%), distribution frequency of mothers with a positive attitude but not giving MR immunization were 17 respondents (42 , 5%) and negative attitude mothers were 23 respondents (57.5%). Chi-Square analysis showed that there was correlation between knowledge and mother's behavior with p value0.012 and there was correlation between attitudes and mother's with p value of 0.025.Conclusion: There were correlation of Measles Rubella vaccine in children ages 6 to 60 months related knowledge, attitudes and practices of mothers in Lampung-Indonesia. Suggestions for further research are to pay attention to predisposing factors, enabling factors, and reinforcing factors in their research.Keywords: Measles Rubella vaccine; Children; Mothers; Knowledge; Attitude; PracticesPendahuluan: Rubella merupakan penyakit akut dan ringan yang sering menginfeksi anak dan dewasa muda yang rentan. Cakupan yang tinggi dan merata minimal 95% akan membentuk herd immunity dan memutus rantai penularan penyakit rubella. Capaian imunisasi didapatkan UPTD Peskesmas Margodadi belum mencapai cakupan minimal sebesar 94,3%.Tujuan: Diketahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap terhadap perilaku ibu dalam pemberian imunisasi MR (Measles Rubella).Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan desain case-control, populasinya ibu yang memiliki anak usia 9 bulan–5 tahun yang menjadi sasaran dalam pelaksanaan imunisasi MR massal, dengan sampel 80 dari 4 posyandu yang diambil dengan cara proposional sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuisioner untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan Perilaku ibu dalam pemberian imunisasi MR. Analisis data menggunakan Chi-Square. Hasil: Distribusi frekuensi karakteristik ibu yang tidak memberikan imunisasi MR dengan pengetahuan baik sebesar 18 responden (45 %) dan yang buruk sebesar 22 responden (55%), Distribusi frekuensi ibu dengan sikap positif namun tidak memberikan imunisasi MR sebesar 17 responden (42,5 %) dan ibu yang bersikap negatif sebesar 23 responden (57,5%). Uji analisis Chi-Square terdapat hubungan pengetahuan dengan perilaku ibu dengan ρ-value sebesar 0,012 dan terdapat hubungan sikap dengan perilaku ibu dengan ρ-value sebesar 0,025.Simpulan: Ada hubungan tingkat pengetahuan dan sikap dengan perilaku ibu dalam pemberian imunisasi MR. Saran peneliti selanjutnya agar tetap memperhatikan factor predisposisi, factor pemungkin, dan factor penguat dalam penelitiannya. 
Stigma dan diskriminasi serta strategi koping pada orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) di kota Medan, Sumatera Utara Eva Kartika Hasibuan; Novita Aryani; Galvani Volta Simanjuntak
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 13, No 4 (2019)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v13i4.1824

Abstract

People living with HIV/AIDS (PLWHA), battling stigma, discrimination and coping strategies  in  Medan, IndonesiaBackground: People living with HIV/AIDS have a multiple problem, PLWHA has a decreased physical abilities effect immunodeficiency, but also having a psychological and social problems also increase their burden. The health provider should be a place for PLWHA to get the right information about HIV/AIDS, but they follow to stigmatize and discriminate against them.Purpose: To describe coping PLWHA face up to stigma and discrimination in health provider.Methods: A qualitative with a descriptive phenomenological approach with population of this research was people living with HIV/AIDS (PLWHA) in Medan, Indonesia. The number of samples was of 10 respondent  by purposive sampling technique. The criteria of the sample were PLWHA get treatment for ≥ 6 months and able to communication in Indonesia is well. Data collected with in-depth interviews and analysis by  Nvivo version 12.0 trial.Result: Finding that four themes, the first; get stigmatize and discriminate from health workers, second; have a psychological impact, third; continue treatment to the health provider and fourth; Hoping in health services well.Conclusion: People living with HIV/AIDS (PLWHA) in Medan Indonesia still having a positive coping to face stigma and discrimination in health provider and they keep continue to get treatment in health provider.. Keyword: People Living With HIV/AIDS (PLWHA); Battling; Stigma; Discrimination; Coping StrategiesPendahuluan: Pelayanan kesehatan yang seharusnya menjadi tempat orang dengan HIV/AIDS mendapatkan pengobatan dan informasi yang benar mengenai penyakitnya, justru ikut menstigma dan mendiskriminasikan mereka.Tujuan: Untuk menggambarkan stigma, koping dan harapan ODHA di pelayanan kesehatan.Metode: Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif dengan populasinya  orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Medan. Jumlah partisipan sebanyak 10 orang yang diambil dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan data dianalisis dengan menggunakan software N.Vivo versi 12 trial.Hasil: Di dapatkan  empat  tema yaitu 1) Pernah mendapatkan stigma dan diskriminasi dari petugas kesehatan, 2) Pernah mengalalami dampak secara psikologis, 3) Tetap melanjutkan pengobatan ke pelayanan kesehatan, 4) Harapan pada layanan kesehatan.Simpulan: Orang dengan HIV/AIDS ODHA di kota Medan masih memiliki koping yang positif  dalam menghadapi stigma dan diskriminasi sehingga ODHA tetap melanjutkan pengobatan di pelayanan kesehatan. 
Tipe pola asuh orang tua yang berhubungan dengan perilaku bullying pada pelajar SMP Anhar Jaya Putra; Teguh Pribadi; Dhini Easter Yanti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v14i1.2074

Abstract

Indonesian parenting styles and bullying among junior high school students, Bandar Lampung-IndonesiaBackground: The data base of  Child Protection Committee in Indonesia  2011-2014 had been  increasing and is ranked at the top of 369 cases reported to Child Protection Committee such as in education enviroment, bullying behaviour among students at the schools  was very common. The reason of the student has a bullying behaviour  can be from various factors such as parenting styles of their parent.Purpose: To know the relationship between  parenting styles and bullying among junior high school students, in Bandar Lampung-IndonesiaMethod: A quantitative research type by using a cross sectional approach. The population were all students of grade VII and VIII at Gajah Mada junior high School in Bandar Lampung, Indonesia, with the sample 153 respondents. Data collection techniques were carried out by questionnaire. The statistical test used by the chi square test.Results: Most respondents claim uninvolved a school bullying, as much as 111 students (72.5%). Most of the respondents  claim have a democratic parenting styles by their parent as many as 78 respondent (51.0%). There is a relationship between parenting styles and bullying among junior high school students, Bandar Lampung-Indonesia in 2019 with p-value <α (0,000 <0.05)Conclusion: There is a relationship between parenting styles and bullying among junior high school students,Bandar Lampung-Indonesia. Suggestions for educational institutions, it is hoped that the results of this study can be a means and reference for educators / schools in overcoming the problem of school bullying among junior high school students by informing to the parents to be applying appropriate a parenting style to their children.Keywords: Parenting styles; Bullying; Junior high school; StudentsPendahuluan: Kasus bullying menurut KPAI pada tahun 2011-2014 juga semakin meningkat dan menduduki peringkat teratas sebanyak 369 pengaduan kepada KPAI, dalam bidang pendidikan seperi kekerasan di sekolah, diskriminasi terdapat sekitar 1480 kasus.  Penyebab seseorang menjadi pelaku “bullying” bisa dari berbagai faktor seperti orang tua yang terlalu memanjakan anaknya.Tujuan: Diketahui hubungan pola asuh orangtua dengan perilaku bullying pada siswa SMP Gajah Mada Kota Bandar Lampung Tahun 2019.Metode: Penelitian kuantitatif, menggunakan pendekatan cross sectional. Populasinya seluruh siswa  kelas VII dan VIII di SMP Gajah Mada Bandar Lampung  pada tahun 2019 yaitu sebanyak 246 orang. Sampel 153 responden. Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi square.Hasil: Sebagian besar responden mengaku tidak melakukan perilaku bullying yaitu sebanyak 111 orang (72,5%). Sebagian besar responden mengaku memiliki pola asuh orang tua yang demokratis sebanyak 78 orang (51,0%). Terdapat hubungan pola asuh orangtua dengan perilaku bullying pada siswa SMP Gajah Mada Kota Bandar Lampung Tahun 2019 dengan nilai p-value < α (0,000 < 0,05)Simpulan: Ada hubungan pola asuh orangtua dengan perilaku bullying. Saran kepada institusi pendidikan, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi sarana dan referensi bagi pihak pendidik/ sekolah dalam mengatasi masalah bullying pada remaja dengan memberkan informasi pada oraang tua supaya dapat menerakan pola asuh yang tepat bagi anaknya.