cover
Contact Name
M. Arifki Zainaro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
manuju@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No 27 Kemiling, Kota Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Manuju : Malahayati Nursing Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 26552728     EISSN : 26554712     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
MANUJU : Malahayati Nursing Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang keperawatan dan kesehatan
Articles 1,867 Documents
Analisis Risiko Pajanan Pm10, Pm2,5 dan Hidrokarbon di Lingkungan Kerja Veronika, Erna; Simatupang, Meithyra Melviana; Irfandi, Ahmad; Azteria, Veza; Nitami, Mayumi
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i11.21420

Abstract

ABSTRACT Industrial emissions release various types of pollutants into both the atmosphere and the occupational environment. Air pollutants in the workplace may originate from production machinery or the fuels used. Chronic exposure to air contaminants in occupational settings can pose significant health risks to workers. Through environmental Health Risk Assessment (EHRA), it is possible to identify potential hazards and quantitatively estimate the associated health risks to workers. This study aims to analyze the level of exposure risk to PM2.5, PM10, and hydrocarbons in the workplace, and to evaluate the prevalence of respiratory symptoms among exposed workers. This research employed a descriptive quantitative approach with a cross-sectional study design. The analysis was conducted using the risk assessment methodology. The study population consisted of production workers, selected using a simple random sampling technique. The risk characterization revealed that the concentrations of PM10 and PM2,5 were within acceptable safety thresholds (Risk Quotient [RQ] < 1), indicating a low risk of non-carcinogenic effects. However, hydrocarbon exposure exceeded the safe threshold (RQ > 1), classifying it as a health risk for exposed workers. Hydrocarbon exposure in the workplace is categorized as unsafe and poses a non-carcinogenic risk to workers with an average body weight of 66.48 kg, an exposure duration of 7.583 hours per day, and an exposure frequency of 236.99 days per year over a span of 12.85 years. It is recommended that workers consistently comply with the use of personal protective equipment (PPE), particularly face masks, to mitigate the adverse health effects associated with hydrocarbon exposure. Keywords: Environmental Health Risk Assessment, PM₁₀ and PM₂,5, hydrocarbons  ABSTRAK Emisi yang dihasilkan oleh industri melepaskan berbagai jenis polutan ke atmosfer maupun ke lingkungan kerja. Polutan udara di lingkungan kerja dapat berasal dari mesin produksi maupun bahan bakar yang digunakan. Adanya paparan udara pencemar dalam jangka panjang di lingkungan kerja dapat menimbulkan bahaya terhadap pekerja. Dengan studi ARKL, kita dapat mengidentifikasi risiko dan menghitung secara kuantitatif tingkat risiko kesehatan yang dapat timbul terhadap kesehatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besar risiko pajanan PM2,5, PM10 dan hidrokarbon di lingkungan kerja serta gangguan pernafasan yang dialami oleh pekerja.  Studi ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif dengan desain cross sectional dengan teknik analisis menggunakan metode risk assessment. Poluasi penelitian adalah pekerja di bagian produksi dengan menggunakan simple random sampling. Hasil perhitungan besar risiko menunjukkan konsentrasi polutan PM10, dan PM2,5 menunjukkan tingkat risiko masih dalam batas aman (RQ<1), sedangkan pajanan Hidrokarbon masuk dalam kategori tidak aman (RQ>1). Pajanan Hidrokarbon masuk dalam kategori tidak aman dan memiliki risiko nan karsinogenik bagi pekerja yang memiliki berat badan 66,48 kg dengan durasi pajanan 7,583 jam per hari dan frekuensi pajanan 236,99 hari dalam setahun selama 12,85 tahun. Di sarankan kepada pekerja untuk selalu patuh dalam menggunakan APD yaitu masker selama berada di lingkungan kerja.  Kata Kunci: Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan, PM2,5, PM10, Hidrokarbon
Hubungan Burnout Syndrome Dengan Perilaku Caring Perawat Menurut Teori Watson Di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar Wulandari, Tri Lestari; Ernawati, Naya; Yuswanto, Tri Johan Agus
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i11.23102

Abstract

ABSTRACT Nurses play a vital role in healthcare services, but the high workload makes them vulnerable to burnout, which can lead to a decline in caring behavior. According to Watson's theory, caring encompasses physical, emotional, and spiritual aspects; however, burnout can hinder its optimal implementation. This study aims to determine the relationship between burnout syndrome and caring behavior of nurses based on Watson's theory in operating room nurses and Dahlia ward inpatient nurses at Mardi Waluyo Regional General Hospital in Blitar City. This study used a cross-sectional design. The population included all operating room and inpatient nurses in the Dahlia ward at Mardi Waluyo Regional Public Hospital, Blitar City. A total of 52 respondents were selected using a total sampling technique. Data were analyzed using the Spearman rank correlation test. The findings showed a significant relationship between burnout syndrome and caring behavior among operating room and Dahlia ward inpatient nurses at Mardi Waluyo Hospital, with a p-value of 0.000 < 0.05. Nearly half of the respondents (38.5%) experienced a low level of burnout syndrome, and almost half (28.8%) demonstrated good caring behavior. The correlation coefficient showed an r-value of 0.894, indicating a very strong correlation between burnout syndrome and nurses’ caring behavior. The positive correlation result suggests that the lower the level of burnout syndrome, the better the caring behavior demonstrated by the nurses. Hospital management is expected to pay greater attention to efforts in preventing burnout syndrome among nurses, as this condition has been proven to significantly affect nurses’ caring behavior. Considering that Watson’s theory emphasizes that true caring arises from the nurse’s full presence and emotional balance, strategies are needed to support nurses’ psychological stability, such as excellent service training and work rotation. Keywords: Burnout Syndrome, Caring Behavior, Nurse.     ABSTRAK Perawat berperan penting dalam pelayanan kesehatan, namun tingginya beban kerja membuat mereka rentan mengalami burnout, yang berdampak pada menurunnya perilaku caring. Menurut teori Watson, caring mencakup aspek fisik, emosional, dan spiritual, namun burnout dapat menghambat penerapannya secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara burnout syndrome dengan perilaku caring perawat berdasarkan teori Watson pada perawat kamar operasi dan rawat inap ruang Dahlia di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar. Metode penelitian yang digunakan cross sectional. Populasi penelitian yakni seluruh perawat kamar operasi dan rawat inap ruang Dahlia RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar dengan jumlah sampel 52 orang menggunakan teknik total sampling. Analisis data penelitian menggunakan uji spearman rank correlation. Menunjukkan ada hubungan antara burnout syndrome dengan perilaku caring pada perawat kamar operasi dan rawat inap ruang Dahlia di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar, nilai p=0,000<0,05 hampir setengah responden (385%) mengalami burnout syndrome rendah dan hampir setengah responden (28,8%) memiliki perilaku caring baik. Koefisien korelasi menunjukkan nilai r=0,894 bahwa ada hubungan antara burnout syndrome dengan perilaku caring perawat mendapatkan hasil korelasi sangat kuat. Hasil korelasi menunjukkan nilai positif semakin rendah burnout syndrome maka semakin baik perilaku caring yang dimiliki perawat.Diharapkan agar pihak manajemen rumah sakit lebih memperhatikan upaya pencegahan burnout syndrome pada perawat, karena kondisi ini terbukti berpengaruh signifikan terhadap perilaku caring perawat. Mengingat teori Watson menekankan bahwa caring sejati lahir dari kehadiran penuh dan keseimbangan emosional perawat, maka dibutuhkan strategi untuk mendukung stabilitas psikologis perawat, seperti pelatihan excellent service dan rotasi ruang kerja. Kata Kunci: Burnout Syndrome, Perilaku Caring, Perawat
Efektivitas Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa Oleifera) terhadap Pertumbuhan Bakteri Mycobacterium Tuberculosis di Laboratorium Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Santa Elisabeth Medan Ginting, Agnes; Rayani, Seri; Napitupulu, David
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i11.23133

Abstract

ABSTRACT Tuberculosis is a disease caused by the bacteria Mycobacterium tuberculosis which is a rod-shaped bacteria, resistant to acid and can be transmitted through the air, so that until now tuberculosis is still one of the health problems that requires attention. This is because the high number of cases of tuberculosis sufferers so that actions and efforts are needed to suppress the spread and transmission and reduce the resistance rate in tuberculosis. Efforts that can be made by utilizing natural ingredients, namely moringa leaves which contain secondary metabolite compounds. The purpose of this study was to determine the effectiveness of moringa leaf extract in inhibiting the growth of Mycobacterium tuberculosis using a quantitative method with a post-test only design research design. The process of extracting moringa leaves uses the maceration method with 96% ethanol solvent and dividing the extract concentration into 25%, 50%, 75%, 100%. The results of the phytochemical test of moringa leaf extract obtained secondary metabolite compounds in the form of flavonoids, alkaloids, saponins, tannins and steroids. The growth of Mycobacterium tuberculosis bacteria in Lowenstein Jensen media can be seen after 2 weeks of planting which is indicated by the presence of convex colonies that are milky white in color with a rough and dry surface texture. The results of the inhibition zone of moringa leaf extract with a concentration of 25% = 3.1 mm, 50% = 6.8 mm, 75% = 8.7 mm, 100% = 9.7 mm with 5 repetitions at each concentration. Data analysis with the One Way ANOVA test obtained a p value = 0.000, namely moringa leaf extract is effective in inhibiting the growth of Mycobacterium tuberculosis.  Keywords: Effectiveness, Moringa Leaves, Mycobacterium tuberculosis, Metabolite Compounds, Tuberculosis.  ABSTRAK Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang merupakan bakteri berbentuk batang, tahan terhadap zat asam dan dapat menular melalui udara, sehingga sampai saat ini tuberkulosis masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang membutuhkan perhatian. Hal ini dikarenakan tingginya angka kasus penderita tuberkulosis sehingga diperlukan tindakan dan upaya untuk menekan penyebaran dan penularan serta menurunkan angka resistensi pada penyakit tuberkulosis. Upaya yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan alami yaitu daun kelor yang mengandung senyawa metabolit sekunder. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun kelor dalam menghambat pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan penelitian design post test only. Proses ekstrak daun kelor menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% dan membagi konsentrasi ekstrak 25%, 50%, 75%, 100%. Hasil uji fitokimia ekstrak daun kelor diperoleh senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid, alkaloid, saponin, tanin dan steroid. Pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis di media Lowenstein Jensen dapat dilihat setelah 2 minggu penanaman yang ditandai dengan adanya koloni yang berbentuk cembung bewarna putih susu dengan tekstur permukaan kasar dan kering. Hasil zona hambat ekstrak daun kelor dengan konsentrasi 25% =3,1 mm, 50% =6,8 mm, 75% = 8,7 mm, 100% = 9,7 mm dengan 5 kali pengulangan pada setiap konsentrasi. Analisis data dengan uji One Way ANOVA diperoleh nilai p=0,000, yaitu ekstrak daun kelor efektif menghambat pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis. Kata Kunci: Daun Kelor, Efektivitas, Mycobacterium Tuberculosis, Senyawa Metabolit, Tuberkulosis.
Pengaruh Dukungan Keluarga terhadap Penurunan Perilaku Seksual Berisiko pada Remaja: Scoping Review Shalahuddin, Iwan; Mulya, Adelse Prima; Eriyani, Theresia
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i11.22676

Abstract

ABSTRACT Risky sexual behavior in adolescents is one of the most pressing public health issues, as it contributes to an increase in the rate of unwanted pregnancies, sexually transmitted infections, and other psychosocial impacts. Family support is believed to play an important role in shaping adolescent behavior, including in sexual contexts. This study is a scoping review that aims to identify and map scientific evidence related to the effect of family support on reducing risky sexual behaviors in adolescents. This study was conducted by searching the literature from PubMed, Scopus, and Google Scholar databases using relevant keywords. The inclusion criteria include English and Indonesian articles published between 2013 and 2023. The results of the analysis showed that forms of family support, such as open communication, parental supervision, as well as emotional closeness, were consistently associated with a low tendency of adolescents to engage in risky sexual behaviors. The results of the scoping review showed that family support had a significant influence on reducing risky sexual behavior in adolescents. Therefore, family-based interventions are strongly recommended as part of adolescent reproductive health promotion strategies. Keywords: Adolescents, Risky Sexual Behaviors, Family Support, Influence, Parent-Child Communication.  ABSTRAK Perilaku seksual berisiko pada remaja adalah salah satu masalah kesehatan masyarakat yang paling mendesak, karena berkontribusi pada peningkatan angka kehamilan yang tidak diinginkan, infeksi menular seksual, dan dampak psikososial lainnya. Dukungan keluarga diyakini memainkan peran penting dalam membentuk perilaku remaja, termasuk dalam konteks seksual. Studi ini adalah tinjauan lingkup yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan memetakan bukti ilmiah terkait pengaruh dukungan keluarga terhadap pengurangan perilaku seksual berisiko pada remaja. Penelitian ini dilakukan dengan mencari literatur dari basis data PubMed, Scopus, dan Google Scholarmenggunakan kata kunci yang relevan. Kriteria inklusi meliputi artikel berbahasa Inggris dan Indonesia yang diterbitkan antara tahun 2013 dan 2023. Hasil analisis menunjukkan bahwa bentuk dukungan keluarga, seperti komunikasi terbuka, pengawasan orang tua, serta kedekatan emosional, secara konsisten berhubungan dengan rendahnya kecenderungan remaja untuk terlibat dalam perilaku seksual berisiko. Hasil tinjauan lingkup menunjukkan bahwa dukungan keluarga memiliki pengaruh signifikan dalam mengurangi perilaku seksual berisiko pada remaja. Oleh karena itu, intervensi berbasis keluarga sangat direkomendasikan sebagai bagian dari strategi promosi kesehatan reproduksi remaja. Kata Kunci: Remaja, Perilaku Seksual Berisiko, Dukungan Keluarga, Pengaruh, Komunikasi Orang Tua-Anak.
Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24–59 Bulan di Kelurahan Saragi Kabupaten Buton Saputri, Ekawati; Afrianty, Iis; Teluk, Grace Tedy; Susanti, Risqi Wahyu
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i11.21111

Abstract

ABSTRACT Stunting remains a chronic nutritional problem that has a major impact on children's quality of life, both in the short and long term. This condition describes linear growth disorders due to inadequate nutritional intake over a long period of time, repeated infections, an unsupportive environment, and suboptimal parenting. This study aims to assess the factors associated with the incidence of stunting in children under the age of 24-59 months who live in Saragi Village, Pasarwajo Health Centre working area, Buton Regency. The research design used a cross-sectional approach involving 45 purposively selected toddlers. Data were collected through interviews using a structured questionnaire and height measurements. Analyses were conducted univariately, bivariately (with chi-square test), and multivariately using logistic regression. Results showed that the prevalence of stunting was very high at 77.8%. Although no statistically significant association was found between stunting and factors such as immunisation status, history of infection, and exclusive breastfeeding, there was a trend that children who were not exclusively breastfed, had not been fully immunised, or had a history of infectious diseases were more prone to stunting. In addition, socioeconomic aspects such as maternal employment and family income also contribute to the incidence of stunting. These findings suggest that stunting is a complex problem that requires a cross-sectoral response, through a community approach that focuses on nutrition education, improving access to health services, economic support, and strengthening the role of the family. Keywords: Stunting, Toddlers, Exclusive Breastfeeding, Immunization, Nutritional Status.  ABSTRAK Stunting masih menjadi persoalan gizi kronis yang berdampak besar terhadap kualitas hidup anak, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Kondisi ini menggambarkan gangguan pertumbuhan linear akibat asupan gizi yang tidak adekuat dalam jangka waktu lama, infeksi yang berulang, lingkungan yang tidak mendukung, serta kurang optimalnya pola asuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor yang memiliki keterkaitan dengan kejadian stuntingpada anak balita usia 24–59 bulan yang berdomisili di Kelurahan Saragi, wilayah kerja Puskesmas Pasarwajo, Kabupaten Buton. Desain penelitian menggunakan pendekatan cross-sectional dengan melibatkan 45 balita yang dipilih secara purposif. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur dan pengukuran tinggi badan. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat (dengan uji chi-square), dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa prevalensi stunting sangat tinggi, yaitu 77,8%. Meskipun tidak ditemukan hubungan statistik yang signifikan antara stunting dan faktor seperti status imunisasi, riwayat infeksi, serta pemberian ASI eksklusif, ditemukan kecenderungan bahwa anak-anak yang tidak menerima ASI eksklusif, belum diimunisasi lengkap, atau memiliki riwayat penyakit infeksi lebih rentan mengalami stunting. Selain itu, aspek sosial ekonomi seperti pekerjaan ibu dan pendapatan keluarga juga berkontribusi terhadap kejadian stunting. Temuan ini menunjukkan bahwa stunting merupakan masalah kompleks yang membutuhkan penanganan lintas sektor, melalui pendekatan komunitas yang terfokus pada edukasi gizi, peningkatan akses layanan kesehatan, dukungan ekonomi, dan penguatan peran keluarga. Kata Kunci: Stunting, Balita, ASI Eksklusif, Imunisasi, Status Gizi
Hubungan Aktivitas Panitia Lomba Agustusan dengan Keluhan Kelelahan dan Gangguan Kesehatan Ringan Wiyono, Mohamad; Setyawan, Yuswanto
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i11.22199

Abstract

ABSTRACT  This study explores the relationship between the activity intensity of community committees during Indonesian Independence Day celebrations and the occurrence of fatigue-related health complaints such as dizziness, mild fever, and “masuk angin” (a common local term for malaise). The purpose was to analyze whether increased organizational workload is associated with higher risk of health disturbances among volunteers. The research applied an observational analytic design using a cross-sectional approach with a sample of 135 respondents, analyzed using Chi-Square and Spearman correlation tests. The results indicated a significant relationship between committee activity levels and reported health complaints, confirming that excessive workload and insufficient rest may increase the risk of mild health disorders. The study concludes that proper task distribution, adequate rest, and preventive health education are essential to protect committee members’ well-being during large-scale community events. Future research is recommended to integrate psychosocial, environmental, and lifestyle factors for a more comprehensive understanding of health risks associated with volunteer workloads. Keywords: Committee Activity, Fatigue, Health Complaints, Community Events  ABSTRAK Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara intensitas aktivitas panitia pada perayaan Hari Kemerdekaan dengan munculnya keluhan kesehatan terkait kelelahan seperti pusing, meriang, dan masuk angin. Tujuan penelitian adalah menganalisis apakah beban kerja panitia yang meningkat berhubungan dengan risiko gangguan kesehatan ringan pada relawan. Desain penelitian menggunakan observasional analitik dengan pendekatan potong lintang pada 135 responden, serta analisis dilakukan dengan uji Chi-Square dan Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat aktivitas panitia dengan keluhan kesehatan, sehingga dapat disimpulkan bahwa beban kerja berlebih dan kurangnya waktu istirahat meningkatkan risiko gangguan kesehatan ringan. Penelitian ini menekankan pentingnya pembagian tugas yang proporsional, istirahat yang cukup, serta edukasi pencegahan kelelahan untuk menjaga kesehatan panitia dalam kegiatan komunal berskala besar. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengintegrasikan faktor psikososial, lingkungan, dan gaya hidup guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai risiko kesehatan akibat beban kerja panitia. Kata kunci: Aktivitas Panitia, Kelelahan, Keluhan Kesehatan, Kegiatan Masyarakat
Perbedaan Hasil Pemeriksaan AGD Antara Arteri dengan Vena Pada Pasien Gagal Nafas di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Lase, Marina Friska Serlina; Situmorang, Paska Ramawati; Sihombing, Ruth Agree K.; Napitupulu, David Sumanto
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i11.22866

Abstract

ABSTRACT Respiratory failure is a medical emergency characterized by the inability of the respiratory system to meet the body's oxygen needs. Blood gas analysis (ABG) is an important method for assessing a patient's oxygenation, ventilation, and acid-base balance. Objective to determine differences in ABG results between arterial and venous samples in patients with respiratory failure. This is a comparative quantitative study with total sampling. The sample consisted of 10 patients with respiratory failure in the ICU at Santa Elisabeth Hospital, Medan. ABG examinations were performed using the Autometic Nova Phox device. Data were analyzed using the Shapiro-Wilk normality test, homogeneity test, and paired sample t-test. There were significant differences between arterial and venous blood pH (p=0.001), PO₂ (p=0.000), and SO₂ (p=0.000). However, no significant differences were found in PCO₂(p=0.056) and HCO₃ (p=0.087). Arterial blood ABGs are more accurate in reflecting the body's oxygenation, ventilation, and acid-base balance status than venous blood. Therefore, arterial blood is preferred in patients with respiratory failure. Keywords: Blood Gas Analysis, Respiratory Failure, Arteries, Veins  ABSTRAK Gagal napas merupakan kegawatdaruratan medis yang ditandai dengan ketidakmampuan sistem pernapasan untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. Analisis gas darah (AGD) merupakan metode penting untuk menilai oksigenasi, ventilasi, dan keseimbangan asam-basa pasien. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan hasil AGD antara sampel arteri dan vena pada pasien dengan gagal napas. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif komparatif dengan total sampling. Sampel terdiri dari 10 pasien gagal napas di ICU RS Santa Elisabeth Medan. Pemeriksaan AGD dilakukan menggunakan alat Autometic Nova Phox. Data dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk, uji homogenitas, dan uji-t berpasangan. Terdapat perbedaan yang signifikan antara pH darah arteri dan vena (p=0,001), PO₂ (p=0,000), dan SO₂ (p=0,000). Namun, tidak ditemukan perbedaan signifikan pada PCO₂ (p=0,056) dan HCO₃(p=0,087). AGD darah arteri lebih akurat dalam mencerminkan status oksigenasi, ventilasi, dan keseimbangan asam-basa tubuh dibandingkan darah vena. Oleh karena itu, darah arteri lebih disukai pada pasien dengan gagal napas. Kata kunci: Analisis Gas Darah, Gagal Napas, Arteri, Vena
Pengaruh Pemberian Jus Wortel Berastagi (Daucus Carota L Berastagi) terhadap Intensitas Nyeri Haid (Dismenorea Primer) pada Siswi di SMP Ma’arif Kota Batu Rahmawati, Rida; Wijayanti, Tut Rayani Aksohini; Purwati, Anik
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 7 (2025): Volume 7 Nomor 7 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i7.20724

Abstract

ABSTRAK Dismenorea atau nyeri menstruasi adalah penyakit yang terjadi selama menstruasi, yang dapat merusak aktivitas dan membutuhkan pengobatan. Jenis -jenis dismenorea primer terdiri dari nyeri selama menstruasi dan jenis disfungsi sekunder dari infeksi uterus lama. Remaja memiliki berbagai metode, termasuk nyeri menstruasi dan dismenorea, yaitu perawatan farmakologis dan non-farmakologis. Nyeri menstruasi (dismenorea primer) juga dapat diatasi dengan terapi yang tanpa obat , termasuk pijat, kompres hangat, olahraga ringan, dan konsumsi buah-buahan dan sayuran seperti jus wortel. Penyediaan jus wortel berastagi adalah salah satu kemungkinan non-farmakologis untuk mengurangi intensitas nyeri menstruasi atau dismenorea. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan intensitas nyeri menstruasi atau dismenorea primer pada siswa dengan memberi jus wortel berastagi. Jenis-jenis studi yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan tes sebelum dan sesudah intervensi dengan teknik pengambilan purposive sampel. Sampel dalam penelitian ini adalah remaja usia muda antara 12 dan 15 tahun, dan yang mengalami dismenorea primer yang menggunakan hingga 53 siswa. Dalam penelitian ini, menggunakan metode sampel yang ditargetkan. Survei menggunakan NRS (skala angka)  adalah alat yang digunakan dalam penelitian ini. Para peneliti menggunakan rasio nilai-p value = 0,05 untuk analisis univariat dan bivariat. Efek dari penelitian ini, yaitu, penunjukan administrasi jus wortel terhadap nyeri menstruasi siswa atau kekuatan sistem dismenorea primer dengan hasil akhir 0,000 < 0,05 dan H1 diterima. Kata Kunci: Dismenorea Primer, Intensitas Nyeri, Jus wortel, Menstruasi  ABSTRACT Dysmenorrhea or menstrual pain is a disease that occurs during menstruation, which can disrupt activities and requires treatment. Types of primary dysmenorrhea consist of pain during menstruation and types of secondary dysfunction from old uterine infections. Adolescents have various methods, including menstrual pain and dysmenorrhea, namely pharmacological and non-pharmacological treatments. Menstrual pain (primary dysmenorrhea) can also be overcome with non-drug therapy, including massage, warm compression, light exercise, and consumption of fruits and vegetables such as carrot juice. Providing Berastagi carrot juice is one of the non-pharmacological possibilities to reduce the intensity of menstrual pain or dysmenorrhea. The purpose of this study was to determine the intensity of menstrual pain or primary dysmenorrhea in students by feeding Berastagi carrot juice. The types of studies used in this study were carried out quantitatively using a post-post test draft with a negative sampling technique. The sample in this study was a young age between 12 and 15 years, and primary dysmenorrhea, which used up to 53 students in this study, used a targeted sampling method. Survey using NRS (number scale) is the tool used in this study. The researchers used the ratio of p-value = 0.05 for univariate and bivariate analysis. The effect of this study, namely, the appointment of carrot juice administration on students' menstrual pain or primary menstrual system strength, can be 0.000 & LT. 0.05 and H1 is accepted Keywords: Primary Dysmenorrhea, Pain Intensity, Carrot Juice, Menstruation
Hubungan Pengetahuan Kader tentang Stunting dengan Self-Efficacy Kader Dalam Menjalankan Peran sebagai Tim Pendamping Keluarga Tsuroyya, Kareniva; Sari, Sheizi Prista; Purnama, Dadang
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 6 (2025): Volume 7 Nomor 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i6.20194

Abstract

ABSTRACT Stunting remains a public health issue in Indonesia, including in Bandung City. Family Assistance Team cadres play a key role in preventing stunting through education and support for at-risk families. One factor influencing cadre success is self-efficacy, which may be affected by their knowledge of stunting. This study aims to examine the relationship between cadre knowledge of stunting and self-efficacy in three stunting-prone urban villages in Bandung City: Dago, Margasari, and Babakan. This study used secondary data from a quantitative descriptive study with a cross-sectional design. The sample consisted of 72 cadres selected using consecutive sampling. Data were collected through questionnaires and analyzed using the Spearman correlation test. The results showed no significant relationship between knowledge of stunting and cadre self-efficacy (r = -0.180, p = 0.129). Although some cadres had good knowledge, it did not directly enhance their confidence in assisting families. Strengthening cadre self-efficacy should not rely solely on knowledge improvement but also on practical training, field simulations, and continuous psychosocial support. Keywords: Cadres Family Assistance Team, Knowledge, Self-Efficacy, Stunting, Stunting Prevention.  ABSTRAK Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang meningkat di Indonesia, termasuk di Kota Bandung. Kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) berperan penting dalam mendukung upaya pencegahan stunting melalui edukasi dan pendampingan keluarga berisiko. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi keberhasilan kader dalam menjalankan perannya adalah self-efficacy, yang diyakini dapat dipengaruhi oleh pengetahuan mereka tentang stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan kader tentang stuntingdengan self-efficacy kader dalam menjalankan peran sebagai Tim Pendamping Keluarga (TPK) di tiga lokus stuntingKota Bandung, yaitu Kelurahan Dago, Margasari, dan Babakan. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 72 kader yang dipilih melalui teknik consecutive sampling. Pengetahuan kader tentang stunting dan self-efficacy dalam menjalankan peran TPK dikumpulkan menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan tentang stunting dengan self-efficacy kader (r = -0,180, p = 0,129). Meskipun beberapa kader memiliki pengetahuan yang baik, hal tersebut tidak secara langsung meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam menjalankan peran pendampingan keluarga. Penguatan self-efficacy kader sebaiknya tidak hanya difokuskan pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga melalui pelatihan praktis, simulasi lapangan, dan dukungan psikososial yang berkelanjutan. Kata Kunci: Kader Tim Pendamping Keluarga, Pencegahan Stunting, Pengetahuan, Self-Efficacy, Stunting.
Hubungan Usia, Jenis Kelamin, dan Body Mass Index dengan Gambaran Foto Toraks pada Pasien yang Melakukan Medical Check Up Jatmiko, Herbagus Abyan; Majdawati, Ana
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 5 (2025): Volume 7 Nomor 5 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i5.20118

Abstract

ABSTRACT A medical check-up (MCU) is a routine health assessment conducted at healthcare facilities. The purpose of the MCU is to monitor an individual’s health condition and detect potential issues early. One of the examinations conducted during an MCU is a chest radiography (CXR) examination. Public awareness of the importance of MCU remains low, as many individuals consider themselves healthy and are also concerned about the cost. The aim of this study was to examine the relationship between age, gender, and body mass index (BMI) with CXR images in MCU patients at AMC Muhammadiyah Hospital, Yogyakarta. This study is an observational analytical study with a cross-sectional approach. The sample consisted of 96 patients, selected from medical record data of individuals who underwent medical check-ups at AMC Muhammadiyah Hospital, Yogyakarta. Judgment/purposive sampling techniques were employed. The data were analyzed using the chi-square test. The results of the study revealed no significant relationship between age and chest radiography images, as indicated by a p-value of 0.534 (p > 0.05). Similarly, no significant relationship was found between gender and chest radiographic images, with a p-value of 0.061 (p > 0.05). Additionally, no relationship was observed between body mass index and chest radiographic images, as shown by a p-value of 0.756 (p > 0.05). The study concluded that there was no significant relationship between age, gender, or body mass index and chest radiographic images in the multivariate analysis. Keywords: Medical Check-Up, Age, Gender, Body Mass Index, Chest Radiographic Images.  ABSTRAK Medical checkup (MCU) adalah proses pemeriksaan kesehatan rutin yang dilakukan di fasilitas kesehatan. Tujuan MCU untuk memastikan kondisi kesehatan seseorang agar dapat dideteksi sejak dini. Salah satu pemeriksaan yang dilakukan pada saat MCU ialah pemeriksaan radiografi toraks (CXR). kesadaran Masyarakat untuk melakukan MCU masih rendah, karena menganggap dirinya sehat dan juga karena masalah biaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan hubungan usia, jenis kelamin, dan Body Mass Index dengan gambaran CXR pada pasien MCU di RS AMC Muhammadiyah, Yogyakarta.  Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel didapat sebanyak 96 pasien yang berasal dari data rekam medis pasien yang melakukan medical checkup di RS AMC Muhammdiyah Yogyakarta dan menggunakan teknik judgment/purposive sampling. Kemudian dianalisis menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara usia dengan gambaran radiografi toraks, hal tersebut ditunjukkan dengan nilai p=0,534 (p>0,05). Kemudian tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan gambaran radiografi toraks dengan didapatkan nilai p=0,061 (p>0,05). Selain itu, tidak terdapat hubungan juga antara body mass index dengan gambaran radiografi toraks, hal tersebut ditunjukkan dengan nilai p=0,756 (p>0,05). Tidak terdapat hubungan antara ketiga kelompok analisis multivariat, baik kelompok usia dengan gambaran radiografi toraks, jenis kelamin dengan gambaran radiografi toraks maupun body mass index dengan gambaran radiografi toraks. Kata Kunci: Medical Check Up, Usia, Jenis Kelamin, Body Mass Index, Gambaran Radiografi Toraks.

Filter by Year

2019 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026) Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026) Vol 8, No 2 (2026): Volume 8 Nomor 2 (2026) Vol 8, No 1 (2026): Volume 8 Nomor 1 (2026) Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025) Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025) Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025) Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025) Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025) Vol 7, No 7 (2025): Volume 7 Nomor 7 (2025) Vol 7, No 6 (2025): Volume 7 Nomor 6 (2025) Vol 7, No 5 (2025): Volume 7 Nomor 5 (2025) Vol 7, No 4 (2025): Volume 7 Nomor 4 (2025) Vol 7, No 3 (2025): Volume 7 Nomor 3 (2025) Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 (2025) Vol 7, No 1 (2025): Volume 7 Nomor 1 (2025) Vol 6, No 12 (2024): Volume 6 Nomor 12 (2024) Vol 6, No 11 (2024): Volume 6 Nomor 11 (2024) Vol 6, No 10 (2024): Volume 6 Nomor 10 (2024) Vol 6, No 9 (2024): Volume 6 Nomor 9 (2024) Vol 6, No 8 (2024): Volume 6 Nomor 8 (2024) Vol 6, No 7 (2024): Volume 6 Nomor 7 2024 Vol 6, No 6 (2024): Volume 6 Nomor 6 2024 Vol 6, No 5 (2024): Volume 6 Nomor 5 2024 Vol 6, No 4 (2024): Volume 6 Nomor 4 2024 Vol 6, No 3 (2024): Volume 6 Nomor 3 2024 Vol 6, No 2 (2024): Volume 6 Nomor 2 2024 Vol 6, No 1 (2024): Volume 6 Nomor 1 2024 Vol 5, No 12 (2023): Volume 5 Nomor 12 2023 Vol 5, No 11 (2023): Volume 5 Nomor 11 2023 Vol 5, No 10 (2023): Volume 5 Nomor 10 2023 Vol 5, No 9 (2023): Volume 5 Nomor 9 2023 Vol 5, No 8 (2023): Volume 5 Nomor 8 2023 Vol 5, No 7 (2023): Volume 5 Nomor 7 2023 Vol 5, No 6 (2023): Volume 5 Nomor 6 2023 Vol 5, No 5 (2023): Volume 5 Nomor 5 2023 Vol 5, No 4 (2023): Volume 5 Nomor 4 2023 Vol 5, No 3 (2023): Volume 5 Nomor 3 2023 Vol 5, No 2 (2023): Volume 5 Nomor 2 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 Januari 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 2023 Vol 4, No 12 (2022): Volume 4 Nomor 12 2022 Vol 4, No 11 (2022): Volume 4 Nomor 11 2022 Vol 4, No 10 (2022): Volume 4 Nomor 10 2022 Vol 4, No 9 (2022): Volume 4 Nomor 9 2022 Vol 4, No 8 (2022): Volume 4 Nomor 8 2022 Vol 4, No 7 (2022): Volume 4 Nomor 7 2022 Vol 4, No 6 (2022): Volume 4 Nomor 6 2022 Vol 4, No 5 (2022): Volume 4 Nomor 5 2022 Vol 4, No 4 (2022): Volume 4 Nomor 4 2022 Vol 4, No 3 (2022): Volume 4 Nomor 3 2022 Vol 4, No 2 (2022): Volume 4 Nomor 2 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 Januari 2022 Volume 3 Nomor 4 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 3 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 2 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 1 Tahun 2021 Volume 2 Nomor 4 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 3 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 1 Tahun 2020 Volume 1 Nomor 2 Tahun 2019 Volume 1 Nomor 1 Tahun 2019 More Issue