cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agrikultura
ISSN : 08532885     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrikultura terbit tiga kali setahun (April, Agustus dan Desember), memuat artikel hasil penelitian dan kupasan (review) orisinal hasil dari penelitian yang sebagian telah dilakukan penulis, dan komunikasi singkat.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 1 (2008): April, 2008" : 9 Documents clear
Kemampuan Kompos Plus dalam Menekan Penyakit layu Fusarium (Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici) pada Tanaman Tomat Noor Istifadah; Toto Sunarto; Dian E. Kkartiwa; Diyan Herdiyantoro
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008): April, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1422.139 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i1.639

Abstract

Penyakit layu fusarium merupakan salah satu kendala dalam budidaya tanaman tomat. Salah satu cara pengendalian penyakit ramah lingkungan yang banyak dikembangkan adalah pengendalian secara biologi (biokontrol). Artikel ini membahas penelitian yang menguji waktu aplikasi dan dosis kompos plus (formulasi campuran jamur antagonis Trychoderma sp., paecilomyces fumosoroseus, dan jamur endofit Papulaspora sp. dalam kompos) yang efektif menekan penyakit layu fusarium pada tanaman tomat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompos plus yang diaplikasikan pada medium persemaian (1:2, v/v) dan pindah tanam sebanyak 30 g atau 40 g per lubang tanam atau diaplikasikan pada saat pindah tanam saja sebanyak 40 g per lubang tanam, dapat menekan gejala internal penyakit layu fusarium sebesar 77,3 — 87,9%.
Efikasi Lapang Efek Sambilata Terhadap Wereng Hijau Vektor Virus Untuk Pengendalian Penyakit Tungro Padi Dede Kusdiaman; I Nyoman Widiarta
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008): April, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2917.926 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i1.627

Abstract

Penyakit tungro disebabkan oleh virus yang efektif ditularkan oleh wereng hijau, (Nephotettix virescens). Penyakit tungro menjadi masalah di daerah produksi padi di Iawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Kalimantan. Sambilata (Andrographis paniculata) merupakan tanaman herbal di daerah tropik yang pada dosis sub-lethal diketahui mengurangi kemampuan wereng hijau dalam mengisap makanannya. Serangkaian percobaan lapang dilakukan untuk mengetahui efikasi sambilata dalam menghambat panyebaran tungro dan mekanisme kerjanya menghambat penularan tungro. Percobaan lapang dilakukan di daerah endemis tungro di Desa Warung Kondang, Cianjur, ]awa Barat pada MH 2003/2004 dan MH 2004/2005 dan di Desa lanrang, Sidrap, Sulawesi Selatan pada MK 2005. Percobaan dilaksanakan dengan Rancangan Acak Kelompok. Efikasi sub-lethal dosis sambilata dibandingkan dengan jamur entomopatogen Metarrhizium dan insektisida anorganik komersial. Kemampuan antifidan sambilata menghambat penularan tungro tergantung pada keberadaan tungro. Pada keberadaan tungro tinggi (89,5% pada petakan kontrol), sedang (22,7% pada petakan kontrol), dan rendah (5% pada petakan kontrol) kemampuan efikasi antifidan sambilata menekan penularan tungro oleh wereng hijau berturut-turut 24%, 47%, dan 81%. Kepadatan populasi wereng hijau tidak berbeda nyata antara perlakuan sambilata dan kontrol. Dengari demikian perbedaan kemampuan mengisap mcnyebabkan perbedaan keberadaan tungro antar perlakuari dan kontrol. Aplikasi sambilata pada dosis sub-lethal menyebabkan perubahan kebiasaan mengisap wereng hijau dari jaringan floem beralih ke jaringan xylem. Hal tersebut menyebabkan wereng hijau berkurang kemampuannya menularkan virus, sebab virus tungro lebih banyak berada pada jaringan floem.
Analisis Jaringan Komunikasi Petani pada Berbagai Zona Agroekosistem di Kabupaten Bandung Iwan Setiawan
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008): April, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2234.66 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i1.641

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja koneksi, kinerja integrasi, Kinerja keterbukaan, struktur jaringan, dan peran petani dalam jaringan komunikasi pada berbagai zona agroekosistem (ZA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) koneksi petani pada berbagai ZA menampilkan kinerja yang lemah. Koneksi petani di ZA lahan kering dan ZA sawah lebih intensif ke dalam namun longgar ke luar sistem, sedangkan di ZA dataran tinggi sebaliknya; 2) integrasi petani pada berbagai ZA menampilkan kinerja yang moderat; 3) keterbukaan petani di ZA sawah dan ZA lahan kering menampilkan kinerja yang lemah, sedangkan di ZA dataran tinggi cenderung moderat; 4) struktur jaringan pada berbagai ZA lebih mendekati struktur “semua saluran” dan struktur "roda”; dan 5) pada berbagai ZA tidak ditemukan petani yang terisolir, sebagian anggota berperan sebagai opinion leaders, bridges dan liaisons. Ditemukan adanya ketimpangan akses terhadap ICT antara petani di ZA dataran tinggi dengan di ZA lainnya, dan antara mayoritas petani kecil dengan minoritas petani elit. Sebagai modal sosial, jaringan komunikasi layak diperhatikan dalam program pemberdayaan petani.
Kualitas Bibit dan Potensi Hasil Sembilan Kultivar lntroduksi Asparagus di Lembang,]awa Barat Tino Mutiarawati Onggo
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008): April, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1526.544 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i1.629

Abstract

Uji adaptasi sembilan kultivar asparagus introduksi dari Amerika dan New Zealand telah dilakukan di Lembang, lawa Barat, pada tahun 2003—2004 untuk menentukan potensi hasil kultivar tersebut dan mempelajari hubungan antara kualitas bibit dengan hasil rebung yang diperoleh pada periode panen awal selama 5 minggu. Lokasi penelitian berada pada ketinggian 1100 m dpl, jenis tanah Andisol, dan tipe curah hujan D3 menurut klasifikasi Oldeman. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan sembilan perlakuan dan tiga ulangan. Uji lanjut menggunakan Duncan’s test pada taraf kepercayaan 5%. Hasil menunjukkan bahwa kuitivar Appolo, Purple Passion, dan UC 157-F1 mempunyai bobot bibit yang tinggi, namun hasil rebung asparagus hijau yang tinggi diperoleh dari kultivar Atlas, Purple Passion, dan Pacific Purple. Hubungan antara bobot bibit, jumlah akar, dan jumlah tunas dengan hasil rebung pada periode awal panen tidak terlihat nyata. Kultivar Atlas menunjukkan potensi yang baik untuk dikembangkan di daerah Lembang.
Skrining Ex Situ Genotipe Padi Gogo Haploid Ganda Toleran lntensitas Cahaya Rendah Priatna Sasmita
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008): April, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1830.127 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i1.643

Abstract

Penelitian skrining/penapisan genotipe padi gogo haploid ganda toleran naungan secara ex situ bertujuan untuk mendapatkan galur—galur baru padi gogo unggul toleran terhadap naungan. Percobaan dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2005 di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Bogor. Percobaan dilakukan secara ex situ menggunakan metode Uji Cepat Fase Bibit dan Metode Uji Paranet. Bahan tanaman yang digunakan adalah 91 galur padi gogo haploid ganda hasil kultur antera ditambah Sembilan kultivar dan galur. Kultivar Jatiluhur dan Kalimutu, berturut-turut digunakan sebagai kontrol toleran dan peka terhadap naungan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 22 galur haploid ganda, dua kultivar, dan satu galur termasuk kategori toleran terhadap intensitas cahaya rendah yang konsisten berdasarkan kedua metode skrining yang digunakan. Galur—galur haploid ganda toleran yaitu: GI-7, GI-8, GI-12, lG-l9, IG-38, JW-70, JW-7l, JW-75, WI-43, WI-44, Wl-49, IW-53, IW-54, IW-56, IW-58, IW-59, lW-60, IW-64, IW67, IW-l05, IW-107, dan IW-108. Dua Kultivar termasuk kategori toleran yaitu Jatiluhur dan Dodokan, serta satu galur termasuk toleran yaitu galur ITA-247. Kultivar Jatiluhur dan Kalimutu berturut-turut sebagai kontrol toleran dan peka, pada penelitian ini keduanya konsisten. Untuk mempercepat perolehan genotipe padi toleran naungan, secara ex situ skrining dapat dilakukan dengan Uji Cepat Fase Bibit.
Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah Kultivar Kuning pada Status Hara P Total Tanah dan Dosis Pupuk Fospat yang Berbeda Lajang Sauman Hamdani
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008): April, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2219.069 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i1.631

Abstract

Percobaan bertujuan untuk memperoleh dosis pupuk fosfat yang tepat pada tiga jenis tanah dengan status hara P total tanah yang berbeda (Vertisol, Inceptisol, dan Ultisol) yang berpengaruh paling baik dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil bawang merah Kultivar Kuning. Percobaan dilaksanakan dari bulan Oktober 2005 sampai Ianuari 2006 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Iatinangor, pada ketinggian tempat 754 m di atas permuakaan air laut, dan tipe iklim D3 menurut Oldeman, dengan menggunakan tiga jenis tanah yaitu Vertisol, lnceptisol, dan Ultisol. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial, yang terdiri atas dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah status hara P total tanah yang terdiri atas tiga taraf yaitu rendah (1-20 mg.100g-1, Ultisol), sedang (2l-40 mg.100g-1, Inceptisol), dan tinggi (> 40 mg.100g-1, Vertisol). Faktor kedua adalah dosis pupuk Fosfat (P2O5) yang terdiri atas 5 taraf yaitu 0; 60; 120; 180; dan 240 kg.ha-1. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah pada status hara P total yang berbeda tidak bergantung pada dosis pupuk fosfat yang diberikan. Status hara P total tanah berpengaruh terhadap serapan P tanaman dan semua parameter yang diamati Bawang merah yang ditanam pada tanah dengan status hara P tinggi (jenis tanah Vertisol) menghasilkan bobot umbi tertinggi yaitu 65,03 g/rumpun (16,25 ton.ha-1). Pemberian dosis pupuk fosfat 180 kg.ha-1 memberikan bobot umbi per tanaman tertinggi yaitu 59,8 g (14,6 ton.ha-1), serta memberikan indek panen tertinggi.
1 Pengaruh Biji EKstrak Barringtonia asiatica L. (Kurz) (Lecythidaceae) Terhadap Mortalitas Larva dan Fekunditas Crocidolomia pavonana F. (Lepidoptera: Pyralidae) Danar Dono; Syarif Hidayat; Ceppy Nasahi; Emelda Anggraini
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008): April, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2528.08 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i1.601

Abstract

Ekstrak biji Barringtonia asiatica (Lecythidaceae) memiliki aktivitas insektisida, namun pengaruhnya terhadap fekunditas Crocidolomia pavonana (Lepidoptera: Pyralidae) belum diketahui. Percobaan uji toksisitas dilakukan urituk mendapatkan nilai LC50 dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri aras perlakuan ekstrak biji B. asiatica pada konsentrasi 0.02%: 0.05%: 0,1%: 0.2%; 0.3%: dan kontrol. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Pengujian dilakultan dengan menggunakan metode residu pada daun sawi pakan. Uji pengaruh ekstrak biji B. asiatica terhadap fekunditas C. pavonana dilakukan dengan metode residu pada daun sawi pakan ke dalam ekstrak biji B asiatica pada konsentrasi 0.09%; 0,15%; 0,22% - (setara dengan LC30, LC50, LC70); dan kontrol. Imago yang berkembang dari larva yang diberi pakan perlakuan diamati fekunditasnya. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ekstrak biji B. asiatica bersifat toksik terhadap larva C. pavonana dengan nilai LC50 sebesar 0,15% dan memiliki pengaruh sebagai penghambat aktivitas makan (antifidan). Ekstrak biji B. asiatica pada selang konsentrasi 0,09%-0.22% yang diberikan pada larva C. pavonana berpengaruh terhadap waktu pembentukkan telur, produksi telur, masa oviposisi, dan fertilitas dibandingkan dengan perlakuan kontrol.
Kemampuan Ekstrak dan Bakteri Inhabitan Mucuna pruriens Linn. dalam Menekan Penyakit Bercak Daun Cercospora dan Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman Kacang Tanah Endah Yulia; Fitri Widiantini; Ramdan Firmansah; Agung Karuniawan
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008): April, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2212.172 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i1.637

Abstract

Tanaman velvet bean (Mucunna spp.) merupakan tanaman yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan biopestisida. Senyawa kimia yang diekstrak dari biji Mucuna telah banyak digunakan dalam pengobatan beberapa penyakit dalam bidang kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ekstrak biji dan daun Mucuna dalam menekan pertumbuhan Cercospora sp. serta menguji kemampuan bakteri inhabitan Mucuna dalam memacu pertumbuhan tanaman dan menekan perkembangan penyakit bercak daun cercospora pada tanaman kacang tanah. Metode penelitian berupa metode eksperimen untuk menguji potensi ekstrak biji dan daun Mucuna dalam menekan pertumbuhan Cercospora sp. dari dua aksesi Mucuna asal NTT dan Jabar, dan menguji kemampuan isolat bakteri yang diisolasi dari dua aksesi tersebut dalam memacu pertumbuhan tanaman dan penekanan penyakit bercak daun cercospora yang diaplikasikan melalui perlakuan benih pada benih kacang tanah. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi dan rumah kaca Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, pada ketinggian + 700 m dpl, dari bulan Juli sampai bulan November 2007. Hasil penelitian menunjukkan potensi antimikrobial ekstrak Mucuna and ekstrak etanol biji Mucuna asal NTT menunjukkan penekanan pertumbuhan Cercospora sp. yang lebih baik dibandingan dengan ekstrak lainnya. Sementara itu, enam isolat bakteri inhabitan Mucuna cenderung meningkatkan pertumbuhan tanaman kacang tanah dan terdapat satu isolat bakteri yang secara nyata menekan penyakit bercak daun cercospora dengan penekanan penyakit sebesar 70,85%.
Kajian Pengembangan Usahatani Padi Organik SRI (System of Rice Insensification) Berwawasan Agribisnis dalam Mendukung Program Ketahanan Pangan Secara Berkelanjutan Tarya J. Sugarda; Anne Charina; Lisye Setiagustina; Iwan Setiawan
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008): April, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2740.391 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i1.625

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah merumuskan alternatif pengintegrasian on farm dengan off farm dalam sistem agribisnis untuk mewujudkan pola pengembangan SRI secara berkelanjutan di Iawa Barat. Melalui wawancara dengan pelaku padi organik di Kab. Ciamis, Kab. Tasikmalaya, dan Kota Sukabumi, serta analisis perbandingan. Diperoleh beberapa temuan; 1) Secara spasial, pilot project SRI masih terkonsentrasi di zona ekologi ]awa Barat bagian selatan. Secara sosial, mayoritas petani belum mengetahui informasi dan teknis SRI. Secara ekonomis, jika input organik diproduksi sendiri, metode SRI lebih menguntungkan dibandingkan dengan metode konvensional. Secara ekologis, dengan metode SRI, tanah menjadi lebih baik. Secara teknis. SRI dipandang rumit oleh petani, sehingga penerapannya masih berada pada tahap mencoba (trial) kecuali beberapa tokoh tani; 2) sosialisasi SRI berjalan terlalu tergesa-gesa dan orientasi yang bias (pseudo); 3) pengembangannya belum didukung payung hukum atau pemihakan politis; 4) perilaku bertani organic petani yang Iemah, ketergantungan pada metode konvensional, kurangnya motivasi, kurangnya supply pupuk, belum berperannya kelompok tani, belum memadainya tenaga fasilitator, minimnya informasi SRI, dan lemahnya akses jaringan pemasaran padi organik berpengaruh terhadap perkembangan padi SRI; dan 5) strategi untuk mengatasi permasalahan di atas meliputi: memproduksi pupuk organik yang lebih praktis dalam skala besar; menerapkan manajemen rice estate dan corporate farming berbasis kelompok tani; mengintegrasikan metode SRI dengan agribisnis peternakan; menguatkan modal sosial (seperti budaya beternak dan kerjasama); mengintegrasikan pasar padi organik; menggulirkan program rehabilitasi lahan, dan mengembangkan petani-petani SRI yang berusia muda, berpendidikan, dan berwawasan lestari.

Page 1 of 1 | Total Record : 9