cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bionatura
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Cikal bakal jurnal ilmiah di Unpad adalah Majalah Unpad. Majalah Unpad pada tahun 1999 dipecah menjadi dua berdasarkan bidangnya yaitu eksak dan sosial. Untuk bidang eksak diterbitkan Jurnal Bionatura sedangkan untuk bidang sosial diterbitkan Jurnal Sosiohumaniora.
Arjuna Subject : -
Articles 260 Documents
ISOLASI, IDENTIFIKASI, DAN KARAKTERISASI JAMUR ENTOMOPATOGEN DARI LARVA SPODOPTERA LITURA (FABRICIUS) Sanjaya, Y. -; Nurhaeni, H. -; Halima, M. -
Bionatura Vol 12, No 3 (2010): Bionatura Nopember 2010
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai isolasi, identifikasi dan karakterisasi jamur entomopatogen dari larva serangga Spodoptera litura yang terinfeksi di lapangan. Larva yang terinfeksi diisolasi dan diidentifikasi di laboratorium mikrobiologi jurusan pendidikan biologi Universitas Pendidikan Indonesia. Pengamtan secara morfologis baik secara makroskopis maupun secara mikroskopis dan uji patogenisitas dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengetahui karakter yang dimiliki isolat jamur yang diperoleh. Dari lima isolat yang diperoleh, dua diantaranya berpotensi sebagai agen pengendali hayati terhadap S. litura yaituisolat satu dan isolat lima, keduanya diketahui sebagai Mucor.Kata Kunci: Jamur entomopatogen, isolasi lima isolat
MODEL MATEMATIKA PENYEBARAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH Asep K. Supriatna; Edy Soewono
Bionatura Vol 2, No 3 (2000): Bionatura Desember 2000
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.079 KB)

Abstract

Di dalam paper ini dibahas model matematika deterministik untuk penyebaranpenyakit demam berdarah. Ambang batas epidemik dapat ditentukan sebagaifungsi dari pertumbuhan nyamuk Aedes aegypti. Pertumbuhan nyamuk ini jugamenentukan kestabilan dari state bebas demam berdarah dan state endemikdemam berdarah. Analisis selanjutnya memperlihatkan bahwa pengontrolanepidemik yang efektif adalah dengan cara mengontrol pertumbuhan nyamuktersebut secara periodik.Kata kunci : model matematika, demam berdarah, ambang batas epidemik, state bebas demamberdarah, state endemik demam berdarah, kestabilan titik tetap, Aedes aegypty
ISOLATION OF COMMON CARP b-ACTIN PROMOTER Hidayani, A.A -; Carman, O. -; Alimuddin -
Bionatura Vol 15, No 3 (2013): Bionatura Nopember 2013
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.343 KB)

Abstract

Promoter in the transgene construct plays an importantrole on regulating of transgene expression levelin transgenic fish. In fish transgenesis, researcherconvinced that use all-fish promoter more safetyand prospective. This study was performed to isolateâ-actin promoter, - the promoter which has ubiquitous,constitutive, house keeping characteristics, fromcommon carp. -actin promoter from common carp(ccBA) was isolated using PCR method with FBP1,RBP1 and RBP2 primers. Sequencing was performedusing ABI PRISM 3100 machine and analysis ofsequences was conducted using GENETYX version 7software. The results of sequence analysis showed thatthe length of DNA fragment obtained approximately1,5 kb and containing the evolutionary conservedsequences of transcription factor for â-actin promoterincluding CCAT, CArG and TATA box. The resultsdemonstrated that isolated sequence was a commoncarp â-actin promoter.Key words: Homologous promoter, GFP, carp transgenic
PENGARUH KONSENTRASI TRIPOLIFOSFAT (TPP) TERHADAP PEMBENTUKAN UKURAN PARTIKEL PADA FORMULASI NANOPARTIKEL EKSTRAK SELEDRI (Apium graveolens L.) MENGGUNAKAN TEKNIK GELASI IONIK Dessy Ikasari; taofik rusdiana
Bionatura Vol 17, No 1 (2018): Bionatura Maret 2018
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekstrak seledri (Apium graveolens L.) memiliki berbagai khasiat untuk mengobati penyakit, terdiri dari beragam senyawa kimia namun memiliki sifat fisikokimia yang kurang menguntungkan sehingga perlu dilakukan modifikasi dalam memformulasikannya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan sistem penghantaran ekstrak seledri dengan membuat nanopartikel menggunakan teknik gelasi ionik. Pada pembuatan nanopartikel digunakan polimer kitosan sebagai kation dan Tripolifosfat (TPP) sebagai anion. Konsentrasi kitosan dibuat sama untuk setiap formula yaitu 0,2% dalam asam asetat 0.3% sedangkan konsentrasi TPP dibuat tiga variasi yaitu 0,1%; 0,2%; dan 0,3 %. Hasil pengukuran ukuran partikel menunjukkan bahwa penambahan TPP  0,1; 0,2; dan 0,3 % secara berturut-turut adalah 539 nm, 492 nm, dan 389,8 nm dengan nilai persen penjerapan sebesar 98,76%; 98,78% dan 98,80%.
ONCOSPERMA TIGILLARIUM MERUPAKAN BAGIAN PALINO KARAKTER DELTA PLAIN DI DELTA MAHAKAM, KALIMANTAN Winantris -; Syafri, I -; Rahardjo, AT. -
Bionatura Vol 14, No 3 (2012): Bionatura Nopember 2012
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Delta Mahakam adalah salah satu delta terkenal sebagai penghasil minyak bumi. Delta ini termasuk tipecampuran yang dipengaruhi proses sungai dan pasang surut. Enam puluh sampel diambil dari delta plaindan delta front telah dianalisis. Pemisahan polen dari sedimen menggunakan metode asetolisis. Polapenyebaran polen Oncosperma tigillarium dianalisis dengan metode kluster. Uji beda Mann Whitneydigunakan untuk melihat perbedaan kelimpahan polen di delta plain dan delta front. Kelimpahanpolen di delta plain lebih tinggi daripada delta front. Seluruh sampel dari delta plain mengandungpolen Oncosperma tigillarium, tetapi tidak seluruh sampel dari delta front mengandung polen tersebut.Rata-rata jumlah polen Oncosperma tigillarium di delta plain 15,23 dan di delta front 3,6. Temuan inimenunjukkan bahwa delta plain mendapat pasokan polen Oncosperma tigillarium lebih banyak danmerata daripada delta front. Polen tersebut dapat menjadi salah satu penciri dataran delta bersama polenlain.Kata kunci: Delta plain, polen Oncosperma tigillarium, palino karakter
KARAKTERISASI GENETIKA RUMPUT LAUT EUCHEUMA spp. DARI TIGA DAERAH DI INDONESIA (KEPULAUAN SERIBU, KERUAK, DAN SUMENEP) Santi Rukminita Anggraeni1; Sudarsono -; Dedi Soedharma -
Bionatura Vol 10, No 3 (2008): Bionatura Nopember 2008
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.223 KB)

Abstract

Eucheuma merupakan salah satu spesies alga merah yang tumbuh di Indonesia sebagai penghasil karaginan. Pengenalan taksonomi Eucheuma dengan menggunakan karakter morfologi banyak menghasilkan kesalahapahaman penamaan spesies secara ilmiah dan pemberian nama komersil, karena tingginya tingkat plastisitas morfologi yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi variasi genetik jenis rumput laut Eucheuma yang tumbuh liar dan yang dibudidayakan di beberapa perairan Indonesia menggunakan penanda RAPD. Analisa RAPD meliputi isolasi dan purifikasi DNA, amplifikasi PCR dengan primer RAPD dan analisa statistik data molekuler menggunakan program NTSYS dan Minitab 14. Diperoleh sebelas primer RAPD : OPF-15, OPA-3, OPA-4, OPA-15, OPA-17, OPB-3, OPB-6, OPB-18, OPC-8, OPC-10 dan OPC-15 yang dapat mendeteksi variasi dan keragaman genetik yang ada pada 5 jenis rumput laut yang dibudidaya yang diidentifikasi sebagai Eucheuma cottonii atau Kappaphycus alvarezii dan 3 jenis rumput laut liar yang secara fenotip merupakan Eucheuma cottonii, Eucheuma spinosum dan E. edule. Hasil analisa similaritas dan gerombol membagi kedelapan jenis rumput laut tersebut terbagi menjadi tiga grup pada tingkat kemiripan genetik 64% dimana grup 1 terdiri dari : Grup 1(P, Kc, Krw); Grup 2 (dua subgrup : subgrup 1( L1 dan M1) dan subgrup 2 (L2 dan L3) dan Grup 3: M2. Spesies Eucheuma cottonii liar dengan yang yang dibudidaya memiliki hubungan kekerabatan dan kedekatan genetik. Perbedaan atau jarak genetik yang diperoleh menunjukkan bahwa hubungan kekerabatan ditentukan oleh jenis spesies, varietas spesies dan asal bibit.Kata kunci : Rhodophyta, keragaman genetik, RAPD, Eucheuma spp.
KAJIAN KARAKTERISTIK CURAH HUJAN DI SUB DAS CITARIK, DAS CITARUM JAWA BARAT Tossin Apandi
Bionatura Vol 5, No 3 (2003): Bionatura Nopember 2003
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.667 KB)

Abstract

Rainfall characteristics are important factors in watershed managementplanning. Citarik sub watershed as a part of Citarum watershed is an area beingdeveloped. The objective of this experiment was to study the rainfallcharacteristics at Citarik sub watershed. Survey method was used in thisexperiment, by compiling rainfall data from five rainfall stations in andsurrounding the sub watershed. The results showed that based on depth anddistribution of rainfall, the wet season begins on September until May, and dryseason begins from June to August. The area of rainfall is 1,874 mm/year, withthe number of rainy days is between 88-160 mm/year. Average rainfall intensitywere 34 mm/hour. The frequency of rainfall for 2, 5, 10, 20 and 50 years returnperiods are 103 mm/day, 126 mm/day, 142 mm/day, 162 mm/day and 185mm/day respectively.
STUDI KEANEKAAN JENIS BURUNG DAN HABITATNYA DI LERENG TIMUR HUTAN PEGUNUNGAN SLAMET, PURBALINGGA, JAWA TENGAH W.Widodo -
Bionatura Vol 12, No 2 (2010): Bionatura Juli 2010
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.905 KB)

Abstract

Studi tentang jenis burung dan habitatnya telah dilakukan di lereng timur Gunung Slamet, Kabupaten. Purbalingga, Propinsi Jawa Tengah. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji keanekaan jenis, kekayaan jenis dan perataan jenis-jenis burung dan habitat burung pada hutan alam dan hutan produksi terbatas di daerah pegunungan. Studi dilakukan tanggal 2-11 Maret 2010, pada jalur pendakian “Pondok Walangan” (koordinat 070 13,608' LS dan 1090 14,859' BT), di ketinggian antara 1700-2200 m dari atas permukaan laut. Metode “PointTransect” digunakan untuk pencatatan jenis burung dan sistem kuadran digunakan untuk penelitian habitat burung. Hasil penelitian telah mencatat 45 jenis burung, 36 jenis di hutan alam dan 14 jenis di hutan produksi terbatas. Jenis burung yang paling dominan di habitat hutan alam adalah pleci gunung (Zosterops montanus) dengan nilai dominansi (Ab=22,72 %), sedang di hutan produksi terbatas adalah kutilang (Pycnonotus aurigaster) dengan nilai dominansi (Ab=22,88%). Di hutan alam, indeks keanekaan jenis (H'=3,02), nilai indeks kekayaan jenis (R=6,19), dan indeks perataan jenis burung (E=0,84), lebih besar bila dibandingkan dengan nilai H', R dan E di habitat hutan produksi terbatas, yaitu masing-masing 2,09, 2,72 dan 0,79. Nilaiindeks ketidaksamaan jenis-jenis burung pada habitat hutan alam dan hutan produksi terbatas cukup tinggi, yaitu 80%. Delapan jenis tumbuhan tercatat sebagai penyusun habitat burung di hutan alam dengan indeks nilai penting (INP) tertinggi ditempati oleh pohon walangan (Vernonia arborea) sebesar 135,29%. Sedangkan di hutan produksi terbatas terdapat 4 tanaman sebagai penyusun habitat burung dengan INP tertinggi adalah pohonpinus sebesar 165,50%.Kata kunci: jenis burung, gunung Slamet, habitat, hutan pegunungan.
KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS LOGAM TRANSISI Cr, Mn, DAN Ag DENGAN GLISIN MELALUI SPEKTROFOTOMETRI ULTRAUNGU DAN SINAR TAMPAK Eddy Sudjana; Maman Abdurachman; Yuyu Yuliasari
Bionatura Vol 4, No 2 (2002): Bionatura Juli 2002
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.971 KB)

Abstract

Glisin merupakan asam amino yang paling sederhana dan dapat berdisosiasimembentuk suatu anion glisin H2N-CH2-CO2-, yang dapat bertindak sebagai liganterhadap kation logam transisi. Glisin digolongkan kepada ligan bidentat, ligansemi, dan ligan negatif, karena mempunyai pasangan elektron bebas dalam atomN dan pasangan elektron dalam atom O sebagai kelebihan elektron. Dalampenelitian ini disintesis senyawa koordinasi logam transisi Cr, Mn, dan Ag denganglisin, menghasilkan kristal kompleks Cr-glisinato berwarna merah, Mn-glisinatoberwarna merah muda, dan Ag-glisinato tidak berwarna. Pada pengukuranspektrum inframerah, serapan yang dihasilkan sebagian besar berasal dari glisin.Dengan cara membandingkan serapan glisin dengan serapan kompleksnya,didapatkan hasil regang ikatan logam dengan glisin. Cr-N pada 468,7 cm-1, Cr-Opada 401,2 cm-1, Mn-N pada 532,3 cm-1, Mn-O pada 447,5 cm-1, Ag-N pada 422,1cm-1, dan Ag-O pada 366,4 cm-1. Adanya regangan ikatan logam dengan ligantersebut menunjukkan bahwa glisin berkoordinasi dengan logam melalui atom Ndan O. Pengukuran spektrum ultraungu dari kompleks yang terbentukmenunjukkan adanya serapan glisin. Hal ini menandakan bahwa glisinberkoordinasi dengan logam. Pengukuran spektrum sinar tampak menunjukkanadanya energi yang diserap oleh senyawa kompleks yang terbentuk, untukkompleks Cr-glisinato pada 520 nm, Mn-glisinato pada 570 nm, sedangkan Agglisinatotidak memberikan serapan pada daerah ini karena senyawanya tidakberwarna. Ag-glisinato memberikan serapan pada daerah ultraungu denganpanjang gelombanbg 300 nm.Kata kunci : Senyawa kompleks, logam transisi, glisin, spketrofotometri
PENGARUH MOLAR RASIO TETRACALCIUM PHOSPHATE DAN DICALCIUM PHOSPHATE DAN PENAMBAHAN CHITOSAN SEBAGAI GELLING AGENT DALAM SINTESIS PASTA CALCIUM PHOSPHATE CEMENT Bambang Sunendar Purwasasmita; Gina Mayang Lestari; Niki Prastomo -; Frank Edwin -
Bionatura Vol 13, No 1 (2011): Bionatura Maret 2011
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.898 KB)

Abstract

Bone cement berbasis calcium phosaphate banyak digunakan dalam aplikasi kedokteran karena memiliki in-situ-setting ability, osteoconductivity, dan bone-replacement capability yang baik. Akan tetapi, calcium phosphate cement memiliki keterbatasan yaitu setting time yang lama, mudah washout, dan memiliki strength yang rendah. Oleh karena itu, pada studi ini penulis mencoba memodifikasi sifat dari calcium phospate cement tersebut dengan memodifikasi molar rasio tetracalcium phosphate (TTCP) dan dicalcium phosphate (DCPA), dan menambahkan chitosan sebagai gelling agent. Modifikasi molar rasio bertujuan untuk menurunkan setting time, sedangkan penambahan chitosan bertujuan untuk meningkatkan washout resistance, mempercepat pertumbuhan apatit dan mempercepat setting time. Modifikasi molar rasio tetracalcium phosphate (TTCP) dan dicalcium phosphate (DCPA) dari 1:1 menjadi 1:2 menunjukan penurunan setting time yang signifikan dari 30 menit menjadi 12 menit untuk sampel tanpa penambahan chitosan, dan untuk sampel dengan penambahan chitosan terjadi penurunan setting time dari 28 menit menjadi 8 menit. Penambahan chitosan terbukti efektif mempercepat setting time sekitar 2-4 menit, mempercepat pertumbuhan apatit dan dapat meningkatkan washout resistance semua sampel.Kata kunci: Tetracalcium phosphate (TTCP); Dicalcium phosphate (DCPA); Calcium phospate cement; Chitosan; Washout.