cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bionatura
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Cikal bakal jurnal ilmiah di Unpad adalah Majalah Unpad. Majalah Unpad pada tahun 1999 dipecah menjadi dua berdasarkan bidangnya yaitu eksak dan sosial. Untuk bidang eksak diterbitkan Jurnal Bionatura sedangkan untuk bidang sosial diterbitkan Jurnal Sosiohumaniora.
Arjuna Subject : -
Articles 260 Documents
SANTON TERPRENILASI AKTIF ANTOKSIDAN DARI KULIT BATANG Garcinia cowa Roxb. Darwati -; Husen H. Bahti -; Dachriyanus -; Supriyatna -
Bionatura Vol 11, No 2 (2009): Bionatura Juli 2009
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Garcinia (Gutteferae) adalah genus yang kaya dengan senyawa santon yang teroksigenasi dan terprenilasi, benzofenon, dan flavonoid, dimana golongan ini mempunyai gugus fungsi fenolik dan cincin trisiklik yang linier, sehingga memiliki aktivitas biologis dan farmakologis yang bervariasi seperti sitotoksik, antiimflamasi, antimikroba, antifungi, dan antioksidan. Salah satu spesiesnya dalah Garcinia cowa Roxb yang dikenal dengan nama daerah kandis, yang pemanfaatannya sampai saat ini masih terbatas pada kayunya sebagai bahan bangunan, buahnya sebagai manisan dan bumbu masak. Di daerah tertentu sudah dimanfaatan sebagai obat tradisional namum belum optimal, sehingga perlu penelitian secara ilmiah tentang kandungan senyawa kimia aktifnya. Dalam penelitian ini untuk mencari senyawa aktif biologi, telah dilakukan ekstraksi terhadap kulit batang G. cowa berturut turut dengn n-heksan, diklorometan, dan metanol. Senyawa rubrasanton telah diisolasi dari fraksi aktif anti oksidan kulit batang Garcinia cowa Roxb. Struktur senyawa tersebut telah dielusidasi berdasarkan data spektroskopi, meliputi IR, 1H-NMR, 13C-NMR, HMQC dan HMBC. Aktivitas antioksidan terhadap senyawa yang telah diisolasi ditentukan dengan metoda DPPH memberikan daya inhibisi (aktivitas peredaman) 58,69%. Kata kunci : Santon terprenilasi, rubrasanton, Garcinia cowa Roxb.
ISOLASI, KARAKTERISASI DAN UJI AKTIVITAS PENCEGAHAN ANTIKALKULI LUTEOLIN 7-O-GLUKOSIDA DARI DAUN Sonchus arvensis L., PADA TIKUS DENGAN METODE MATRIKS-ASAM GLIKOLAT Diah Dhianawaty; Kosasih Padmawinata; Iwang Soediro; Andreanus A -; Soemardji -
Bionatura Vol 5, No 3 (2003): Bionatura Nopember 2003
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.493 KB)

Abstract

Banyak tumbuhan yang digunakan untuk mengobati penyakit batu kandungkemih dalam pengobatan tradisional Indonesia. Diantaranya: Orthosiphonaristatus (Bl.)Miq., Sonchus arvensis L., Phyllanthus niruri L., Strobilanthus crispusL. dan Imperata cylindrica L., Sonchus arvensis L. telah diteliti efek antikalkulinyaterhadap batu oksalat kandung kemih eksperimental pada tikus jantan.Kandungan kimia yang telah diketahui yaitu asam fenolat dan turunannya,flavonoid (antara lain luteolin 7-O-glukosida), terpena, kumarin, lipid dan minyakatsiri. Senyawa luteolin 7-O-glukosida telah diisolasi dari ekstrak etanol dandikarakterisasi dengan spektrofotometri ultraviolet, inframerah, massa danresonansi magnet inti. Uji aktivitas antikalkuli luteolin 7-O-glukosida dilakukandengan metode matriks-asam glikolat. Bobot batu kandung kemih yang terjadidigunakan sebagai parameter untuk mengevaluasi aktivitas antibatu kandungkemih. Dari penelitian diperoleh, luteolin 7-O-glukosida aktif sebagai antikalkulipada dosis 0,15 mg/kg bb tikus: pada upaya pencegahan berkhasiat 51,62%(P≤0,05) dan pada upaya pengobatan, terjadi penekanan 3,77% walaupunsecara statistik tidak bermakna.
POTENSI ENERGI SELULER BENIH IKAN LELE, Clarias batrachus L. PADA BERBAGAI TINGKAT PEMBERIAN PAKAN DAN SUHU MEDIA Amin Setiawan -; Ukun MS Soedjanaatmadja
Bionatura Vol 12, No 1 (2010): Bionatura Maret 2010
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Potensi energi seluler yang tersedia untuk metabolisme dalam suatu organisme dapat diukur dari muatan energi adenilat (MEA) yang dihitung dari konsentrasi ATP, ADP dan AMP-nya. Tinggi-rendahnya nilai MEA memiliki korelasi yang sangat penting untuk memantau proses pertumbuhan dari organisme hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman potensi energi seluler (MEA) pada benih ikan lele Clarias batrachus L., sebagai respons terhadap keragaman pemberian pakan berupa Daphnia (dengan tingkat pemberian 0,0; 33,3; 66,7 dan 100% dari kebutuhan pakan harian maksimalnya); masing-masing pada suhu kamar, 20, 24, 28 dan 32oC selama 16 hari. ATP, ADP dan AMP dari masing-masing kelompok perlakuan diekstrasi dan dianalisis dengan metode yang dikembangkan oleh Ivanovicy (1981). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pemberian pakan disertai dengan peningkatan MEA yang merupakan cerminan potensi energi seluler, dan nilai MEA cenderung menurun dengan meningkatnya suhu. Benih ikan lele dalam kondisi defisiensi nutrisional dengan pertumbuhan negatif mempunyai nilai rata-rata MEA antara 0,47 sampai 0,58, sedangkan benih ikan lele dengan pertumbuhan positif mempunyai nilai rata-rata MEA di atas 0,78.Kata kunci: Potensi energi, tingkat pemberian pakan, suhu media, benih ikan lele
PENGARUH PENGGANTIAN CAMPURAN BUNGKIL KACANG KEDELAI DAN DEDAK OLEH BUNGKIL BIJI KAPOK TERHADAP KONSUMSI PROTEIN DAN IMBANGAN EFESIENSI PROTEIN PADA AYAM BROILER UMUR 4 – 8 MINGGU M. Datta H. Wiradisastra
Bionatura Vol 4, No 1 (2002): Bionatura Maret 2002
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.311 KB)

Abstract

Penelitian telah dilakukan selama 4 minggu di Fakultas Peternakan UniversitasPadjadjaran, Jatinangor, Sumedang. Rancangan acak lengkap dengan perlakuan6 tingkat penggantian campuran bungkil kedelai dan dedak oleh bungkil bijikapok, yaitu R0 (0% bungkil biji kapok), R1 (2.5% bungkil biji kapok), R2 (5%bungkil biji kapok), R3 (7.5% bungkil biji kapok), R4 (10% bungkil biji kapok),R5 (12.5% bungkil biji kapok) dalam ransum dari tiap perlakuan diulang 5 kali.Dalam penelitian ini digunakan 120 ekor ayam broiler umur 4 minggu, yangdtempatkan dalam 30 petak kandang secara acak. Peubah yang diukur adalah :konsumsi protein dan imbangan efisiensi protein. Hasil penelitian menunjukkanbahwa penggantian campuran bungkil kedelai dan dedak sampai 7.5% dalamransum oleh bungkil biji kapok tidak memberi pengaruh yang berbeda nyataterhadap konsumsi dan imbangan efisiensi protein dengan R0 (ransummengandung 0% bungkil biji kapok).Kata kunci : Broiler, bungkil kacang kedelai, dedak, konsumsi protein, imbangan efisiensi protein.
RESPONS PERTUMBUHAN, KADAR PROTEIN DAN AKTIVITAS TRIPTOFAN DEKARBOKSILASE AGREGAT SEL Catharanthus roseus (L) G. Don YANG DIBERI PREKURSOR TRIPTOFAN Dingse Pandiangan -; Wenny Tilaar -; Karyono -; Rizkita Rahmi Esyanti -; Anas Subarnas -
Bionatura Vol 13, No 1 (2011): Bionatura Maret 2011
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.662 KB)

Abstract

Salah satu cara untuk meningkatkan kandungan metabolit sekunder dalamkultur jaringan adalah dengan penambahan prazat (prekursor). Oleh karena itutelah dilakukan penelitian mengenai penambahan triptofan sebagai prekursorterhadap pertumbuhan, kadar protein dan aktivitas Triptofan Dekarboksilase(TDC) pada kultur agregat sel Catharanthus roseus (L) G.Don. Penelitian inibertujuan untuk meningkatkan kandungan katarantin dalam kultur agregat selCatharanthus roseus (L) G.Don yang didukung dengan pertumbuhan yangoptimum. Penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium. Konsentrasiprekursor triptofan digunakan dari 50-250 mg.L-1. Pertumbuhan ditentukandengan penimbangan berat basah dan berat kering serta pengamatan perubahansecara morfologis. Kadar protein ditentukan dengan spektrofotometer. AktivitasTDC ditentukan dengan spektrofluorometer. Pertumbuhan maksimum kulturagregat sel terjadi pada perlakuan triptofan 150 mg.L-1 pada Erlenmeyer.Penambahan triptofan dapat menginduksi sintesis protein dan meningkatkanaktivitas TDC pada kultur agregat sel C.roseus. Kandungan protein dan aktivitasTDC tertinggi terjadi pada perlakuan 250 mg.L-1 setelah 10-14 hari kultur.Perlakuan triptofan menimbulkan pengaruh yang berbeda terhadap kandunganprotein, aktivitas TDC, pada kultur Erlenmeyer. Kesimpulannya adalah perlakuanprekursor triptofan dapat meningkatkan kadar protein dan aktivitas TDC yangdiberi prekursor triptofan dan optimum pertumbuhan agregat selnya pada triptofan150 mg.L-1 setelah 14 hari kultur.Kata Kunci: Triptofan, agregat sel, Catharanthus roseus, kadar protein, aktivitasTDC
OPTIMALISASI PERAN KOMPOS BIOAKTIF DENGAN PENAMBAHAN ASAM HUMAT DAN ASAM FULVAT UNTUK MENINGKATKAN KETAHANAN TANAMAN MENTIMUN TERHADAP SERANGAN Pythium sp. Surono -; Soekarno, B.P.W. -; Hendra -
Bionatura Vol 15, No 1 (2013): Bionatura Maret 2013
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mentimun merupakan tanaman sayuran penting diIndonesia. Penyakit rebah kecambah yang disebabkanPythium sp. merupakan penyakit utama yang menurunkanproduksi mentimun. Tujuan penelitian ini adalahuntuk mengetahui pengaruh kompos bioaktif sebagaimedia tumbuh dengan penambahan asam humat danasam fulvat untuk meningkatkan ketahanan tanamanmentimun terhadap penyakit rebah kecambah yangdisebabkan Pythium sp. Semua kandungan media tumbuhdapat mengurangi kejadian penyakit rebah kecambahbaik pada percobaan A (tanah yang terinfestasi) ataupercobaan B (tanah yang diinfestasi) yaitu sebesar 70-100%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa semua kombinasiperlakuan media tumbuh dapat meningkatkan pertumbuhantanaman mentimun dengan tolok ukur potensitumbuh maksimum, daya kecambah, tinggi tanaman,dan jumlah daun. Penambahan asam humat, asamfulvat, dan bioaktivator dalam medium pertumbuhanpercobaan A dan percobaan B dapat meningkatkanpertumbuhan tanaman mentimun dengan tolok ukurpotensi tumbuh maksimum, daya kecambah, tinggitanaman, dan jumlah daun. Penambahan asam humat,asam fulvat, dan bioaktivator dalam media tumbuhmampu untuk meningkatkan keragaman populasimikroba tanah.
RESPON PEMBERIAN PHYTOESTROGEN BERASAL DARI TEPUNG KEDELAI PADA KELINCI (Oryctolagus cuniculus) LUAS JARINGAN INTERSTITIAL, SPERMATOGENESIS DAN KUALITAS SPERMA Yasmi Purnamasari Kuntana, -; Yetty Yusri Gani -; Kartiawati Alipin -
Bionatura Vol 11, No 1 (2009): Bionatura Maret 2009
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.31 KB)

Abstract

Kedelai, sebagai salah satu bahan penyusun ransum ternak diketahui mengandung senyawa phytoestrogen. Akumulasi senyawa phytoestrogen ini dalam ternak jantan telah mempengaruhi sistem reproduksi mencakup perubahan anatomi makro, mikro, dan fungsi organ reproduksi, menghambat pertumbuhan sel gamet, kemampuan fertilisasi dan tingkah laku seksual. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pemberian tepung kedelai dan mencari dosis tepung kedelai yang tidak mengganggu terhadap luas jaringan interstitial, spermatogenesis dan kualitas sperma pada kelinci. Penelitian dilaksanakan secara eksperimental di laboratorium dengan menggunakan pola rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan terdiri dari 4 macam dosis tepung kedelai yaitu kontrol (K1), tepung kedelai dosis 123 mg/kg berat badan (bb) kelinci (K2), tepung kedelai dosis 246 mg/kg bb kelinci (K3) dan tepung kedelai dosis 490 mg/kg bb kelinci (K4). Setiap perlakuan diulang 4 kali. Kelinci jantan umur dua bulan digunakan sebagai hewan model berjumlah 16 ekor. Pengujian variabel meliputi pengukuran persentase sperma hidup, abnormalitas sperma, pengamatan spermatogenesis serta luas jaringan interstitial. Data hasil pengujian variabel dianalisis menggunakan Analisis Varians (ANAVA) dan Uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung kedelai sebagai sumber phytoestrogen pada kelinci menurunkan luas jaringan interstitial, spermatogenesis dan kualitas sperma akan tetapi dari ketiga dosis tepung kedelai yang diberikan, dosis 123 mg/kg bb kelinci memberikan hasil yang sama dengan kontrol bagi terbentuknya sperma hidup, terbentuknya abnormalitas sperma dan luas jaringan interstitial sehingga dapat dikatakan dosis 123 mg/kg bb kelinci adalah dosis yang relatif aman diberikan pada kelinci.Kata Kunci : phytoestrogen, tepung kedelai, kualitas sperma, spermatogenesis, luas jaringan interstitial, kelinci.
PERIKANAN DAN TERUMBU KARANG YANG RUSAK: BAGAIMANA MENGELOLANYA? Chair Rani
Bionatura Vol 5, No 2 (2003): Bionatura Juli 2003
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.45 KB)

Abstract

Terumbu karang telah mengalami degradasi yang serius oleh berbagai aktivitasmanusia. Di sisi lain, nelayan pesisir sangat bergantung pada perikanan terumbukarang. Terumbu karang memberikan beberapa fungsi ekologi terhadap biotalaut (ikan dan invertebrata), yaitu sebagai daerah pemijahan, daerahpembesaran, dan daerah mencari makan. Terumbu karang yang sehat denganstruktur bio-fisik yang kompleks akan menyediakan makanan yang maksimalterhadap pelbagai organisme, menyediakan mikrohabitat yang baik untukberlangsungnya proses-proses reproduksi dan perlekatan larva, dan memberiperlindungan fisik dari predator (khususnya untuk larva). Kerusakan terumbukarang akan memberikan pengaruh tidak hanya berupa penurunan keragamanhayati tetapi juga berdampak sosial-ekonomi bagi masyarakat pesisir (nelayan).Oleh karena itu, diperlukan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan usaha-usahaagar dapat membatasi kerusakan tersebut (regulasi), dan melindungi ataumelakukan restorasi terhadap terumbu karang yang rusak.
HERITABILITAS DAN KEMAJUAN GENETIK KADAR ANTOSIANIN, KADAR AIR, TEBAL KULIT BUAH, KADAR LIGNIN KULIT BUAH, DAN KETAHANAN TANAMAN CABAI MERAH TERHADAP PENYAKIT ANTRAKNOS Ai Komariah -
Bionatura Vol 13, No 3 (2011): Bionatura Nopember 2011
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.02 KB)

Abstract

Persilangan resiprokal antara tanaman cabai merah genotip RS-07 (produktivitas tinggi, sangat rentan terhadap Antraknos) dan cabai ungu (produktivitas rendah, imun terhadap Antraknos) untuk mendapatkan tanaman F1, F1 resiprokal, BC1, BC2, and F2 telah dilaksanakan di rumah kasa Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti dari bulan April 2007 sampai dengan bulan September 2007. Selanjutnya buah cabai dari tanaman F1 dan F1 resiproknya diuji pengaruh tetua betinanya di Laboratorium Hama dan penyakit, Fakultas Pertanian, Universitas Winaya Mukti. Hasil pengujian menunjukkan tidak terdapat pengaruh tetua betina untuk semua karakter yang diamati. Pegujian heritabilitas dan kemajuan genetik untuk karakter penciri ketahanan dilakukan pada genotip P1 (RS-07), P2 (Cabai ungu), F1, BC1, BC2, dan F2.Hasil penelitian menunjukkan bahwa heritabilitas dalam arti luas dan arti sempit untuk karakter kadar antoasianin, kadar air, tebal dan kadar lignin kulit buah tergolong tinggi.Karakter ketahanan tanaman cabai merah terhadap serangan C. gloeosporioides di lapangan termasuk tinggi, dan dalam arti sempit tergolong rendah. Karakter ketahanan tanaman cabai merah di laboratorium tergolong sedang, dan dalam arti sempit tergolong tinggi. Nilai duga kemajuan genetik karakter kadar antosianin dan karakter ketahanan tanaman cabai merah terhadap serangan C. gloeosporioides di lapangan termasuk kriteria agak rendah, kadar air termasuk kriteria tinggi, karakter tebal dan kadar lignin kulit buah termasuk kriteria rendah, dan karakter ketahanan tanaman cabai merah terhadap serangan C. gloeosporioides di laboratorium termasuk tinggi.Kata kunci : heritabilitas, kemajuan genetik, antosianin, lignin, resistensi, antraknos
PENGUJIAN KONDISI LIKUIFIKASI DALAM PRODUKSI SIRUP GLUKOSA DARI PATI SAGU (Metroxylon sp.) Iman Permana Maksum; Yeni Wahyuni; Yanyan Mulyana
Bionatura Vol 3, No 2 (2001): Bionatura Juli 2001
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.435 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh suhu,kecepatan pengadukan dan konsentrasi enzim α-amilase terhadap proseslikuifikasi. Kadar gula pereduksi (mg/mL) yang dihasilkan ditentukan denganspektrofotometri-Nelson Somogyi. Pengujian kondisi likuifikasi dilakukan pada pH7,0, suhu 80 0C dan 90 0C, kecepatan pengadukan 100 rpm dan 180 rpm sertakonsentrasi enzim sebesar 1,066U/mL, 1,599 U/mL dan 2,132 U/mL selama 2jam. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kondisi likuifikasi optimumdiperoleh pada suhu 80 0C dan kecepatan pengaduan 180 rpm dengan kadar gulapereduksi sebesar 7,649 mg/mL. Konsentrasi enzim tertinggi yaitu sebesar 2,132U/mL menghasilkan kadar gula pereduksi tertinggi sebesar 14,749 mg/mL.Kata kunci : Likuifikasi, sirup glukosa, enzim α-amilase