cover
Contact Name
Kholili Badriza
Contact Email
kholili.badriza@uin-suka.ac.id
Phone
+6285645196843
Journal Mail Official
thaqafiyyat2007@gmail.com
Editorial Address
Faculty of Adab and Cultural Sciences, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta JL. Marsda Adisucipto Yogyakarta, 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam
ISSN : 14115727     EISSN : 25500937     DOI : -
Thaqafiyyat: Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam is a journal which focuses on language, culture and Islamic Information. We invite to all contributors from all over the world to participate and share their research both library research or field research. Selected paper normally will be published on June and December in a year.
Articles 138 Documents
Ilmuwan Muslim: Ibnu Sina Pelopor Aromaterapi dan Destilasi Essential Oil H, Lola Hervina; Isman, Nofa
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 21, No. 2 (2022): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2022.21205

Abstract

Abstract: The use of essential oils in aromatherapy has numerous positive impacts on mental and physical health. Interestingly, the pioneering scientist in this field was a Muslim scholar, Ibn Sina. The purpose of this research is to investigate the pioneers of essential oil distillation, including the methods used and the first plants that were distilled for aromatherapy. In addition, we aim to explore how Ibn Sina's work became a reference for centuries. The research method employed is descriptive and qualitative. Our findings reveal that Avicenna (381-428 H/980-1037 AD) was the first scientist to invent a distillation apparatus, and he utilized steam distillation to extract essential oils from plants, a method still in use today. The first plant to be distilled was the rose, which made a significant contribution to the development of the fragrance and cosmetic industry. Lastly, Avicenna's book, al-Qānūn Fī at-Ṭibb, translated by Gerard of Cremona, became a mainstay reference in the field of medicine in universities for centuries, up until the 18th century.Abstrak: Penggunaan minyak atsiri sebagai aromaterapi membawa banyak pengaruh positif dalam bidang kesehatan, baik mental maupun fisik, ternyata pelopornya adalah seorang ilmuwan muslim yaitu Ibnu Sina. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dan siapa perintis pertama penyulingan minyak atsiri, bagaimana metode penyulingan dan tumbuhan pertama yang disuling untuk aromaterapi, serta bagaimana karya Ibnu Sina menjadi rujukan selama berabad-abad. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah Avicenna (381-428 H/980-1037 M) adalah ilmuwan pertama yang menemukan alat penyulingan, dengan metode yang ditemukan adalah penyulingan uap yang masih digunakan sampai sekarang untuk memperoleh minyak atsiri dari tumbuh-tumbuhan. Juga tanaman pertama yang disuling adalah bunga mawar yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan atras dan industri, terakhir adalah kitab al-Qānūn fī at-Ṭibb yang menjadi rujukan selama berabad-abad hingga abad ke-18, yang diterjemahkan oleh Gerard of Cremona dan dijadikan referensi utama dalam bidang kedokteran di perguruan tinggi.
Educated Women: Shaping Social Identity during the National Movement Setyaningsih, Wahyu
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 21, No. 2 (2022): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2022.21204

Abstract

Abstract: Women's label as konco wingking, the second sex, demonstrates an intensely patriarchal culture. The national movement period was involved in realizing their independence. This article explains the role of educated women during the national movement. This study is historical research with a political and psychological approach to comprehend how educated women could gain hegemony and power to create their social identity both in the domestic and public spheres. This study found that during the national movement, the social identity of educated women was gaining an existence as subjects who carried out various roles and got equal rights with men, both in the domestic and public spheres. Being educated subjects, women are aware of their identity as independent individuals, human rights that should be respected, and an equal position with men.Abstrak: Label perempuan sebagai konco wingking, jenis kelamin kedua, menunjukkan budaya patriarki yang kental. Masa pergerakan nasional terlibat dalam mewujudkan kemerdekaannya. Artikel ini menjelaskan peran perempuan terpelajar selama pergerakan nasional. Kajian ini merupakan penelitian sejarah dengan pendekatan politik dan psikologis untuk memahami bagaimana perempuan terpelajar dapat memperoleh hegemoni dan kekuasaan untuk menciptakan identitas sosialnya baik di ranah domestik maupun publik. Kajian ini menemukan bahwa pada masa pergerakan nasional, identitas sosial perempuan terpelajar memperoleh eksistensi sebagai subjek yang menjalankan berbagai peran dan mendapat hak yang sama dengan laki-laki, baik di ranah domestik maupun publik. Sebagai subjek terpelajar, perempuan menyadari identitasnya sebagai individu yang mandiri, hak asasi manusia yang harus dihormati, dan kedudukan yang setara dengan laki-laki.
Minahasa: Islamisasi dan Warisan Peradaban Islam di Sulawesi Muhammad Nur Ichsan Azis
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 21, No. 2 (2022): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2022.21203

Abstract

Abstract: In studies on Islamization, the Minahasa region is often overlooked because it is considered one of the regions that successfully underwent Christianization. However, upon closer examination, Islam in the Minahasa region is believed to have had contact with carriers of Islamic teachings from various regions in the Nusantara archipelago. Traces of Islamization can be found through the ongoing relationships and interactions between the community. This article uses a historical method with a descriptive-analytical social science approach. Minahasa is one of the regions with a unique legacy of Islamic civilization compared to other regions in the Nusantara. The meeting of Islam and Christianity has become a separate forum for the Minahasa community in fostering a sense of tolerance, plurality, and multiethnicity to the present day.Abstrak: Kawasan Minahasa, dalam kajian Islamisasi, seringkali  dilewatkan  karena dianggap sebagai salah satu kawasan yang mengalami kesuksesan dalam kristenisasi. Padahal apabila kita melihat lebih jeli, justru Islam di kawasan Minahasa dianggap lebih dahulu mengalami kontak dengan para pembawa ajaran Islam dari berbagai daerah di Nusantara. Jejak Islamisasi dapat ditemukan melalui hubungan dan interaksi masyarakat yang terus berkembang. Artikel ini merupakan tulisan yang menggunakan metode sejarah dengan pendekatan ilmu sosial yang bersifat deskriptif-analisis. Minahasa menjadi salah satu kawasan dengan warisan peradaban Islam yang cukup unik dibandingkan dengan kawasan lainnya di Nusantara. Pertemuan Islam dan Kristen menjadi wadah tersendiri bagi masyarakat Minahasa dalam menumbuhkan rasa toleransi, pluralitas,  dan multietnis hingga masa sekarang ini.
Literary Discourse on Quranic Studies: A Historical Study on The Model of Literary Interpretation to The Quran Fitriansyah, Nuzul
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 21, No. 2 (2022): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2022.21202

Abstract

Abstract: The aspect of the beauty of language ('ijaz lughawi) is one of the first miracles that emerged from the Qur'an. This aligns with the audience to whom the Qur'an was revealed around 14 centuries ago: people who are very close to the literary tradition. Interestingly, scholars of the Qur'an, from classical to contemporary, see this as an opportunity for studies and still developing and producing various monumental works. Through this paper, the author tries to trace chronologically how the Al-Qur'an and literature meet to become an approach in interpreting the Al-Qur'an. The research in this paper is carried out through essential matters by looking at how the Qur'an was revealed in Arab society, the interpretation practices carried out by the Prophet and his companions, to the contact of the Qur'an with modern literature. This study uses a socio-historical approach by looking at the macro-cultural context of early Arab society and the process of interpretation of the earlier era carried out by the Prophet, companions and tabi'in. This study argues that the emergence of a model of literary interpretation of the Qur'an is closely related to the traditions and culture of Arab society, which are close to literary traditions. Furthermore, this research contributes to the history of interpretation, especially in tracking the various approaches that appear in the study of the Quran.Abstrak: Aspek keindahan bahasa ('ijaz lughawi) merupakan salah satu keajaiban pertama yang muncul dari al-Qur'an. Hal ini sejalan dengan khalayak yang diwahyukan Al-Qur'an sekitar 14 abad yang lalu: orang-orang yang sangat dekat dengan tradisi sastra. Menariknya, para sarjana Al-Qur'an, dari klasik hingga kontemporer, melihat hal ini sebagai peluang untuk mengkaji dan tetap mengembangkan serta menghasilkan berbagai karya monumental. Melalui tulisan ini, penulis mencoba menelusuri secara kronologis bagaimana Al-Qur'an dan sastra bertemu untuk menjadi sebuah pendekatan dalam menafsirkan Al-Qur'an. Kajian dalam tulisan ini dilakukan melalui hal-hal esensial dengan melihat bagaimana Alquran diturunkan di masyarakat Arab, praktik tafsir yang dilakukan Nabi dan para sahabat, hingga kontak Alquran dengan sastra modern. Kajian ini menggunakan pendekatan sosio-historis dengan melihat konteks makro-budaya masyarakat Arab awal dan proses interpretasi era awal yang dilakukan oleh Nabi, sahabat dan tabi'in. Kajian ini berargumen bahwa munculnya model tafsir sastra al-Qur'an sangat erat kaitannya dengan tradisi dan budaya masyarakat Arab yang dekat dengan tradisi sastra. Lebih jauh lagi, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap sejarah tafsir, khususnya dalam menelusuri berbagai pendekatan yang muncul dalam kajian al-Qur'an.
Pembentukan Identitas Etnis dan Keagamaan Masyarakat Muslim Cina Benteng di Tangerang Banten Habiburrohman, Muhammad
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 21, No. 2 (2022): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2022.21201

Abstract

Abstract: Despite being born in the country for several generations, the Chinese people in Indonesia are still considered foreigners. Assimilation strategies, including religious conversion and amalgamation, have been implemented, but racism remains an issue. The Benteng Chinese community in Tangerang, who integrate with indigenous culture, are considered successful in assimilating. This study aims to explore the identity and religion of the Benteng Chinese Muslim community through anthropological-historical analysis. The research findings include: 1) the formation of the Benteng Chinese Muslims' identity involves amalgamation with the social reality in Tangerang, 2) the Benteng Chinese Muslim identity comprises two groups, converts and second-generation Muslims, and 3) the expressions of identity and religious typologies are complex and diverse, influenced by their intersection with the environment identity.Abstrak: Keberadaan orang-orang Tionghoa di Indonesia hingga kini masih dianggap sebagai orang asing, meskipun beberapa generasi sebelum mereka sudah terlahir di negeri ini. Berbagai strategi dilakukan untuk mendorong pembauran sosial, salah satunya melalui konversi agama dan amalgamasi. Namun, strategi tersebut tidak sepenuhnya berhasil, mereka kerap kali tetap menerima tindakan rasis yang mendorong terjadinya konflik. Di wilayah Tangerang terdapat Cina Benteng, sebutan bagi mereka, untuk membedakan mereka dari masyarakat Tionghoa lain di Indonesia. Cina Benteng cenderung integratif terhadap budaya pribumi sehingga mereka dianggap berhasil membaur. Melalui kajian antropologi-historis, penelitian ini bertujuan menjelaskan identitas dan keagamaan dalam tubuh masyarakat Muslim Cina Benteng di Tangerang.  Dengan analisis teori identitas sosial dan konsep diri, penelitian ini menemukan fakta-fakta; 1). Pembentukan identitas Muslim Cina Benteng berjalan melalui proses amalgamasi, mereka membentuk satu identitas baru di tengah realitas sosial masyarakat di Tangerang, 2). Identitas Muslim Cina Benteng tumbuh menjadi dua kelompok yakni, sebagai Islam mualaf dan Islam peranakan (second-generation), 3). Ekspresi identitas dan tipologi keagamaan Muslim Cina Benteng sangat beragam dan kompleks tergantung setting tempat di mana mereka bersinggungan dengan lingkungannya.
Dinamika dan Tipologi ‘Ulamā’ Indonesia Kontemporer Yaqin, Ainol
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 21, No. 1 (2022): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2022.21106

Abstract

Abstract: This paper aims to provide a comprehensive typology of contemporary Indonesian ulama and to explain the dynamics of Indonesian Islamic thought underlying this mapping. The changes and rapid developments in the Muslim world have broadly influenced the way of thinking and attitudes taken by Muslims, making the ulama's role and position significantly as the prophets' inheritors with the duty and responsibility to carry out the prophetic message. The analytical tools used in this paper are the concepts of typology and dynamics, which involve the classification or grouping of contemporary Indonesian scholars based on the dynamics of events and thoughts surrounding the journey of Indonesian scholars. The historical method is used to reconstruct events by collecting sources, criticizing and verifying sources, interpreting data, and presenting the results of historical research in writing or historiography. The analysis reveals five typologies of Indonesian ulama, each with its dynamics in contemporary Indonesian Islamic thought. These typologies include traditionalist, modernist, fundamentalist, moderate, and progressive clerics. These typologies are intertwined and contested, describing the different views of the ulama in interpreting Islam and responding to contemporary problems. Moderate and progressive clerics, based on NU (traditionalist) and Muhammadiyah (modernist), offer a good portrait of the dynamics of moderate and progressive Islamic thought for the future of Indonesian Islam. This study is necessary to understand the complexities of Indonesian Islamic thought and its impact on contemporary Indonesian society.Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk memetakan tipologi ulama Indonesia di masa kontemporer dan menjelaskan dinamika pemikiran Islam Indonesia yang ada di balik pemetaan tersebut. Kajian ini dinilai penting disebabkan berbagai perubahan yang terjadi dan perkembangan yang sangat cepat telah berpengaruh luas terhadap cara berpikir dan sikap yang diambil oleh umat Islam. Peran dan posisi ulama sangat penting sebab mereka adalah pewaris para nabi yang memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mengemban risalah kenabian. Alat analisis yang digunakan dalam tulisan ini adalah konsep tipologi dan dinamika. yakni melakukan klasifikasi atau pengelompokan berdasarkan jenis atau kategori ulama Indonesia kontemporer berdasarkan pada dinamika peristiwa dan pemikiran yang melingkupi perjalanan ulama Indonesia. Di samping itu juga berdasarkan pada metodologi yang digunakan dalam merefleksikan pemikiran keulamaannya. Adapun metode penelitiannya adalah metode sejarah yang berusaha untuk merekonstruksi peristiwa yang telah terjadi dengan cara mengumpulkan sumber, mengkritisi sumber atau melakukan verifikasi terhadap sumber yang telah didapatkan, melakukan penafsiran, dan menyajikan hasil penelitian sejarah dalam bentuk tulisan atau historiografi. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada lima tipologi ulama Indonesia yang sekaligus menggambarkan dinamikanya dalam pemikiran Islam Indonesia kontemporer. Tipologi tersebut adalah ulama tradisionalis, modernis, fundamentalis, moderat, dan ulama progresif. Kelimanya ada dalam irisan yang berkelindan, berkontestasi, dan menggambarkan pandangannya dalam memaknai Islam dan dalam merespon persoalan kontemporer. Ulama moderat dan ulama progresif yang juga berbasis dari NU (tradisionalis) dan Muhammadiyah (modernis) menggambarkan potret dinamika pemikiran Islam yang moderat dan progresif untuk masa depan Islam Indonesia.
Normativitas dan Historisitas sebagai Cara Pandang dalam Memahami Sejarah Islam Batubara, Taslim
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 21, No. 1 (2022): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2022.21105

Abstract

Abstract: The study of normative and historical views has become a widely discussed topic among Muslim scholars, particularly in Indonesia. Fazlur Rahman and Amin Abdullah are two key figures in the development of these views, emphasizing the importance of reinterpreting religious teachings in the context of the times to clarify issues of human religiosity. This article aims to discuss the influence of these views in Islamic history and underscore the significance of historical analysis for understanding the diverse Muslim population. The library research method was used to collect, read, record, and analyze sources. The study revealed that many scholars of Islamic history still adopt a normative view, despite the need for a historicity view to comprehend Islamic history based on factual data, given the diverse Muslim population worldwide. With the rapid advancement of technology and science, rigid normative views are increasingly being replaced by flexible historical views, which contextualize events in their era.Abstrak: Pandangan normatif dan historis menjadi topik kajian hangat yang saat ini banyak diperbincangkan oleh para cendekiawan muslim di berbagai negara, termasuk Indonesia. Sosok Fazlur Rahman dan Amin Abdullah menjadi dua tokoh sentral dalam perkembangan kedua pandangan tersebut. Kedua tokoh ini menekankan pentingnya reinterpretasi ajaran agama sesuai dengan konteks zaman, sehingga akan membantu memperjelas persoalan religiositas manusia. Artikel ini berfokus untuk membahas pengaruh pandangan normatif dan kesejarahan dalam sejarah Islam, serta menekankan pentingnya kesejarahan sebagai cara memahami umat Islam yang begitu plural. Artikel ini menggunakan metode penelitian kepustakaan yang penulis gunakan sebagai langkah dalam mengumpulkan sumber-sumber pustaka, membaca, mencatat, dan menganalisis sumber-sumber yang telah diperoleh. Hasil kajian menunjukkan bahwa masih banyak peneliti sejarah, khususnya dalam lingkup sejarah Islam, yang menggunakan pandangan normatif. Padahal, dengan pluralitas umat Islam di seluruh dunia, pandangan historisitas lebih dibutuhkan sebagai cara memahami sejarah Islam sesuai dengan fakta dan data yang ada. Namun dalam perkembangannya di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, pandangan normatif yang lebih kaku semakin ditinggalkan, dan digantikan oleh pandangan sejarah yang lebih fleksibel dan dapat menjelaskan suatu peristiwa sesuai dengan konteks zamannya.
Kontribusi Kesultanan Aceh Darussalam terhadap Kemajuan Kemaritiman dan Perdagangan di Nusantara Abad XVI-XVII M Putra, Johan Septian; Muhsin, Imam
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 21, No. 1 (2022): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2022.21104

Abstract

Abstract: The Sultanate of Aceh Darussalam played a significant role in developing maritime trade in the archipelago during the XVI-XVII centuries. This study aims to analyze the contributions of the Sultanate to this progress, using historical research methods that include heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The Sultanate controlled maritime and trade routes, which made it rich in natural resources and agricultural products. Its emergence as a new ruler in the Aceh region was due to opposition to monopoly actions and attempts to colonize Portuguese territory in Sumatra, particularly in the island's northern part. The Sultanate's military strength in the mid-sixteenth century also contributed to its strong maritime politics. Additionally, the Sultanate's trade economy continued to thrive, particularly in strategic areas of maritime trade, such as the regional part of Sumatra and the Malacca Straits. This research sheds light on the importance of the Sultanate of Aceh Darussalam in shaping the archipelago's maritime and trade history during the Middle Ages.Abstrak: Perkembangan dan kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam pada Abad Pertengahan di Nusantara adalah isu penting. Kelautan dan perdagangan yang dikuasai Kesultanan Aceh Darussalam menjadikan kesultanan ini kaya akan hasil tambang alam dan hasil bumi dari Selat Malaka hingga pantai barat Sumatera sebagai basis pendapatan kesultanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kontribusi Kesultanan Aceh Darussalam terhadap kemajuan maritim dan perdagangan di Nusantara pada abad XVI-XVII. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang meliputi empat tahapan yaitu heuristik berupa pengumpulan bahan/sumber; kritik sumber berupa kritik internal-eksternal; penafsiran; dan historiografi. Hasil dari penelitian ini adalah: Kesultanan Aceh Darussalam merupakan sebuah kerajaan yang berdiri sejak jatuhnya Kesultanan Malaka akibat serangan dari Kolonial Portugis. Kesultanan Aceh Darussalam hadir sebagai penguasa baru di wilayah Aceh karena menentang tindakan monopoli dan upaya menjajah wilayah Portugis di Sumatera, khususnya di bagian utara pulau Sumatera. Kemudian, politik maritim Kesultanan Aceh Darussalam menjadi sangat kuat pada pertengahan abad ke-16. Kekuatan tersebut diperoleh dari kemajuan Kesultanan Aceh Darussalam dalam bidang militer atau angkatan bersenjata. Terakhir, perekonomian perdagangan Kesultanan Aceh Darussalam terus mengalami kemajuan melalui peningkatan perdagangan dari kawasan-kawasan strategis perdagangan maritim, khususnya di wilayah Sumatera bagian dan Selat Malaka.
Jihād fī Sabīlillāh Ulama dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia: dari Surabaya ke Yogyakarta -, Miftahuddin; Widiyanta, Danar
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 21, No. 1 (2022): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2022.21103

Abstract

Abstract: The proclamation of Indonesian independence on August 17, 1945, was short-lived, as the Dutch subsequently reestablished their dominance. As such, the struggle for this nation's sovereignty continued, and the Indonesian people took up arms against the Dutch's attempt to reinstate their colonial rule. This study aims to investigate the role of the ulema in defending Indonesia's independence, focusing on the Hezbollah case in Surabaya and the Sabil Armed Forces in Yogyakarta. The ulema, in this context, provided not only fatwas but also led by example at the forefront of the battle against the Dutch's colonialism. The findings of this study revealed that in Surabaya and Yogyakarta, the ulama’s involvement in the fight against the Allies further fueled the Hezbollah members' enthusiasm as they witnessed the religious leaders directly participating in the battlefield. The presence of the clerics at the forefront, accompanied by the fatwa of jihād fī sabīlillāh and the slogan of living independently or dying as a martyr, effectively mobilized the students and youth to take up arms against the Dutch. Furthermore, the role of the clergy extended to the establishment of the Sabil War Force Ulama Headquarters (MUAPS) and its armed forces called the Sabil War Force (APS), which was responsible for defending the border area between Kedu and Semarang from Dutch attacks and was sent to Kebumen to block the Dutch's arrival.Abstrak: Kemerdekaan Indonesia sudah diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, tetapi kemerdekaan itu diusik kembali oleh Belanda. Perjuangan bangsa ini masih harus dilanjutkan untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan mengangkat senjata melawan bangsa Belanda yang ingin meneruskan penjajahannya kembali. Kajian ini akan melihat peran ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan melihat kasus Hisbullah di Surabaya dan Angkatan Perang Sabil di Yogyakarta. Ulama dalam konteks ini tidak hanya berfatwa saja, tetapi mereka memberi contoh memimpin di garis depan untuk melakukan perlawanan terhadap bangsa Belanda yang ingin menjajah Indonesia kembali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Surabaya dan Yogyakarta, bergabungnya para ulama dalam pertempuran melawan Sekutu, membuat semangat para anggota Hizbullah semakin berkobar dikarenakan para ulama ikut terjun langsung dalam medan peperangan. Dengan tampilnya ulama di garis depan disertai fatwa perang jihād fī sabīlillāh dan semboyan hidup merdeka atau mati syahid sangat efektif dalam memobilisasi para santri dan pemuda untuk mengangkat senjata melawan Belanda. APS (Angkatan Perang Sabil), yang ditugaskan untuk membantu mempertahankan wilayah di perbatasan antara daerah Kedu dan Semarang dari serangan Belanda dan dikirim ke Kebumen untuk menghadang kedatangan Belanda, juga atas peran ulama. Terbentuknya Markas Ulama Angkatan Perang Sabil (MUAPS) dan pasukan bersenjatanya yang bernama Angkatan Perang Sabil (APS) adalah berkat hasil musyawarah para ulama untuk ikut mempertahankan Indonesia.
Peran Perpustakaan Khalifah al-Hakam II dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan pada Zaman Keemasan Islam di Spanyol Auhaina, Adillya Kafilla; Sari, Khairunnisa Etika
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam Vol 21, No. 1 (2022): Thaqāfiyyāt
Publisher : Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/thaq.2022.21102

Abstract

Abstract: This research aims to ascertain the role played by the Caliph al-Hakam II library during the golden age of Islam in Andalusia, Spain, when science was rapidly flourishing. Historical research methodology, specifically library research, was employed in this study. The findings indicate that Caliph al-Hakam II had a strong affinity for science, reflected in the Cordoba Library's establishment by Muhammad I, its development by Abdurrahman III, and its further expansion under Hakam II's leadership. The Cordova Library ultimately became the most extensive and distinguished library of its time. The Caliph al-Hakam II Library was pivotal in advancing libraries, establishing schools and universities, transforming private libraries into public ones, promoting book translation movements, and showcasing Muslim scholars' work in language and literature, philosophy, education and reasoning, religion, and science.Abstrak: Kajian ini bertujuan untuk mengetahui peran perpustakaan Khalifah al-Hakam II yang pada saat itu ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan baik dan pesat, sehingga dikenal sebagai masa keemasan Islam di Andalusia, Spanyol. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan jenis penelitian kepustakaan. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dinasti Bani Umayyah II di Andalusia didirikan oleh Abdurrahman ad-Dakhil (756-1031 M), dari kepemimpinannya terdapat salah satu periode yang paling menonjol yaitu pada masa Hakam II pada 961-976 M Khalifah al-Hakam II memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, salah satunya diwujudkan dalam Perpustakaan Cordoba yang pembangunannya didirikan oleh Muhammad I, kemudian dikembangkan oleh Abdurrahman III dan kemudian pengembangan perpustakaan tersebut diperbaharui ketika masih di bawah kepemimpinan Hakam II, dengan mencapai puncaknya Perpustakaan Cordova menjadi yang terbesar dan terbaik. Peran Perpustakaan Khalifah al-Hakam II adalah pengembangan perpustakaan, pendirian sekolah dan universitas, perubahan dari perpustakaan swasta menjadi perpustakaan umum, buku gerakan penerjemahan, dan menghadirkan cendekiawan muslim dalam bidang bahasa dan sastra, filsafat, pendidikan dan akal, agama, dan sains.

Page 11 of 14 | Total Record : 138