cover
Contact Name
Muhammad Kurniawan Alfadli
Contact Email
m.kurniawan@unpad.ac.id
Phone
+6285669298592
Journal Mail Official
bsc.ftg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bulletin of Scientific Contribution : Geology
ISSN : 16934873     EISSN : 2541514X     DOI : doi.org/10.24198/bsc%20geology.v18i1
BSC Geology adalah jurnal yang dikelola oleh Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran,terbit 3 kali dalam setahun (April, Agustus, dan Desember), yang menerbitkan karya tulis ilmiah dalam bidang kebumian terutama yang berkaitan dengan geologi seperti : Petrologi Paleontologi Geomorfologi Stratigrafi Geologi Dinamik Geologi Lingkungan dan Hidrogeologi Geologi Teknik Geokimia Geofisika Sedimentologi. Setiap artikel yang akan diterbitkan adalah bersifat tanpa biaya (no processing charges dan no submission charges). Dewan redaksi dan penerbit tidak pernah meminta bayaran untuk penerbitan pada jurnal ini. Tujuan dari jurnal ini adalah untuk memperkaya pengetahuan dan informasi tentang ilmu kebumian dan dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama.
Articles 419 Documents
DEPOSITIONAL ENVINRONMENT AND PALEOCURRENT THE MIDDLE OF WARUKIN FORMATION BASED ON SEISMIC AND WELL LOG DATA IN NORTH-EAST PART BARITO BASIN, SOUTH KALIMANTAN Yuniardi, Yuyun; Mardiana, Undang; Mohammad, Febriwan; Nur, Andi Agus; Alfadli, Muhammad Kurniawan
Bulletin of Scientific Contribution Vol 18, No 3 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v18i3.31550

Abstract

Explorations in the Barito basin has started nearly 100 years and was marked by the discoveryof the Tanjung Field in 1938 (Maso at all 1993). The middle of Warukin Formation is one of thereservoir formation in the Barito basin of North-Northeast. Barito Basin is located betweenSundaland in the west and Meratus in the east (Satyana, Awang.1994). An understanding of thedepositional environment and paleo-current will be very useful for the exploration and fielddevelopment optimization of oil and gas. The data used in this researcher seismic 3D data and well data. From the existing data createdseismic facies maps and correlation maps well with the markers used datum is the Top FormationMiddle Warukin. Downlap termination pattern found on the seismic line 75H - 37 at the lower limit indicates thetime of formation of this facies occur sea level rise. Configuring the parallel reflection pattern -subparallel and divergent indicate the depositional environment is shelf / platform or deltaplatform (Serra, O, 1990). Coarsening upward to fining upward pattern relatively evolved fromwireline log analysis, in which a pattern is formed on the shore face transgressive delta thenserrated pattern formed in the shelf. Based on the seismic data and log data as well as supportingdata from the regional geology of the Barito Basin, it can be interpreted that the study area isformed on the delta depositional environment - shelf. Paleo-current study area can be determined based on seismic facies maps and regionalconditions Barito Basin. Of seismic facies maps can be interpreted Paleo-current direction isrelative to the south - west with relative sediment supply from the north - east.
Penentuan Lingkungan Purba Berdasarkan Analisis Palinologi Pada Daerah Cihideung, Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat ISANJARINI, VISMAIA; Aulia, Suci; Winantris, .
Bulletin of Scientific Contribution Vol 18, No 3 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v18i3.29202

Abstract

Studi palinologi dilakukan untuk menginterpretasi lingkungan purba pada daerah penelitian yang berada pada daerah Cihideung, Kebupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk studi kelimpahan polen spora yang ada pada daerah penelitian. Berdasarkan data didapati presentase lingkungan polen spora lowland 1.62% dan hanya pada kedalaman 84-85 cm, stream side 4.87% dan melimpah pada kedalaman 84-85 cm, swamp berjumlah 24.39% dan melimpah pada keadalaman 89-90 cm, freshwater 10.56% dan melimpah pada kedalaman 10-19 cm, forest 47.15% yang melimpah pada keadalaman 9-10 cm, dan montane 11.38% dan melimpah pada kedalaman 10-19 cm. Hasil ini menunjukan bahwa daerah penelitian dahulunya merupakan swamp yang kemudian mengalami pengangkatan karena dipengaruhi oleh sesar lembang dan terjadi aktivitas vulkanisme yang memengaruhinya yang menyebabkan lingkungan berubah menjadi forest.  Hal ini sejalan dengan hasil kelimpahan polen spora forest sebesar 47% yang dicirikan oleh kelimpahan polen Podocarpus dan spora Lycopodium dan Dycranopteris.Kata Kunci: Lingkungan, Lembang, Podocarpus, Lycopodium, Dycranopteris
PRELIMINARY INTERPRETATION FOR GEOTHERMAL POTENTIAL AREA USING DEM AND LANDSAT OLI 8 IN MOUNT ENDUT MAHARANI, ALYA; SALSANUR, VISKA; HILAL, ALBI; APRILIAN, YOGA
Bulletin of Scientific Contribution Vol 19, No 1 (2021): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v19i1.32489

Abstract

Regard to the increasing need for fossil energy in Indonesia, it is necessary to explore alternative energy. For example is geothermal energy, which is known as a sustainable and eco-friendly energy source. Indonesia is one of the countries with the most substantial geothermal potential reaching 23.9 GW. Therefore, this study using the remote sensing method to predict potential areas for geothermal systems in the Mount Endut, Lebak, Banten. The research using Landsat 8 OLI for analysis Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) and Land Surface Temperature (LST), along with DEM imagery is used for Fault Fracture Density (FFD) analysis. The results of Land Surface Temperature (LST) analysis showed the highest value in the northern and middle part of the research area with a value of 33.7°C. This is related to the results of the NDVI analysis, which areas has lower values in the northern and middle areas with values about 0.36 - 0.06. The lineament mostly has a northwest-southeast direction, with the highest value of the lineament density is 2.69 km / km2, mostly located in the middle part of the research area that can be related to the weakest zone as a geothermal path to the surface. Based on the results, it shows the relationship between the LST is the opposite of the NDVI value. Thus, it can be concluded that the area which has geothermal potential is located from western to the middle of the research area, which is correlated with the presence of manifestation regarding to hot springs.
ALTERASI MINERALISASI GRANODIORIT CIHARA DAN SEKITARNYA, KABUPATEN LEBAK, BANTEN Patonah, Aton; Permana, Haryadi; Rosyid, Vendi Hakim Ar; Ramadhan, Taufik
Bulletin of Scientific Contribution Vol 18, No 3 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v18i3.30930

Abstract

Penambangan emas di Cihara dan sekitarnya yang dilakukan oleh masyarakat setempat menarik untuk diteliti, karena keberadaan emas semakin berkurang, khususnya pada granodiorit, Ketika dilakukan penambangan semakin dalam.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik alterasi dan mineralisasi serta tipe endapan dengan pendekatan observasi lapangan dan analisis laboratorium, yaitu petrografi, mineragrafi dan AAS.  Hasil menunjukkan bahwa alterasi di daerah penelitian dibagi menjadi 3 (tiga) zona; (1) zona serisit – klorit – epidot – kuarsa – karbonat (2) zona kuarsa – karbonat – klorit – serisit - biotit (3) zona klorit – karbonat – kuarsa – serisit. Lebih lanjut lagi, mineralisasi yang tersingkap di daerah ini didominasi oleh pirit, sfalerit, galena, sebagian kecil hadir mineral kalkopirit, kovelit dan emas. Logam dasar umumnya terdapat pada urat kuarsa bersama dengan emas; sementara pada granodiorit (disseminasi), jumlahnya berkurang. Hal ini ditunjukkan dengan data hasil assay bahwa kadar logam dasar dan emas relatif lebih tinggi pada urat kuarsa dibandingkan pada tekstur disseminasi. Berdasarkan data – data tersebut, jenis endapan di daerah tersebut memiliki kemiripan dengan endapan porfiri yang berasosiasi dengan karbonat – logam dasar.
ANALISA TANAH LUNAK MENGGUNAKAN METODE STANDAR PENETRATION TEST DAN GROUND PENETRATION RADAR Adsura, Softy Putri; Nur, Andi Agus
Bulletin of Scientific Contribution Vol 19, No 1 (2021): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v19i1.30921

Abstract

Berkembangnya teknologi pada saat ini lebih memudahkan dalam identifikasi lapisan permukaan maupun bawah permukaan yang mana dapat dilakukan dengan penggalian ataupun dengan memanfaatkan radar. Untuk mengetahui karakteristik dan persebaran litologi dapat dilakukan analisa dengan pengambilan data secara vertikal maupun horizontal. Pengambilan data secara vertikal dapat dilakukan dengan menggunakan metode Standar Penetration Test (SPT) sedangkan untuk pengambilan data secara horizontal dapat dilakukan dengan menggunakan Ground Penetrating Radar (GPR). Ground Penetrating Radar (GPR) atau georadar adalah salah satu alat yang digunakan untuk mendeteksi benda yang terkubur dibawah permukaan dengan memanfaatkan gelombang radio. Pembangunan gedung atau penyelidikan tanah dalam suatu proyek perlu dilakukan analisa secara cepat, tepat, dan efisien sehingga dalam pembangunannya akan berjalan lancar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Pengambilan data ini dilakukan di lapangan maupun dilaboratorium untuk mengetahui keselarasan antara kedua metode yang digunakan. Analisa ini diharapkan dapat digunakan untuk mengetahui kondisi lapisan bawah permukaan baik secara horizontal maupun secara vertikal secara tepat. Selain itu, analisa ini juga dapat dijadikan acuhan untuk mengurangi resiko yang mungkin terjadi karena dengan analisa ini dapat menentukan tipe tanah dan daya dukung tanah. Adapun hasil analisa daerah telitian menunjukkan daerah telitian tersusun oleh litologi dominan berupa lempung pada kedalaman 0 hingga kurang lebih 16 meter, pada 16 dan seterusnya ditemukan batupasir dengan sifat yang padat, semakin dalam analisa dilakukan semakin kompak batuan yang ditemukan .Kata kunci : Ground Penetrating Radar, Georadar, Standar Penetration Test, Geologi teknik
Identifikasi Awal Zona Resapan Berdasarkan Kondisi Geologi Dan Sifat Fisik Air Daerah Cipatat Dan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat Freitas, Cecilia Soares; Trisnadiansyah, Moch Ridfan; Mutaqin, Deden Zaenudin; Barkah, M Nursiyam; Hadian, M Sapari Dwi
Bulletin of Scientific Contribution Vol 18, No 3 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v18i3.29333

Abstract

Daerah resapan air merupakan daerah yang perlu dijaga keberadaannya. Kawasan pegunungan pada umumnya merupakan daerah tangkapan sekaligus daerah resapan air hujan yang sangat baik. Daerah dengan kapabilitas tangkapan air yang baik perlu dikonservasi atau dilakukan suatu pengaturan agar daerah tersebut tidak ditutup sebagai lahan pemukiman. Terkhusus pada daerah Cipatat dan Padalarang merupakan salah satu daerah yang termasuk kedalam cekungan air tanah Batujajar. Daerah ini di dominasi oleh endapan vulkanik muda berupa breksi fragmen supported, breksi matriks supported, lava andesit dan lapili tuf yang berasal dari produk gunung Tangkuban Perahu serta endapan vulkanik tua berupa lapili skoria. Sumber daya air berpotensi baik dengan media akuifer kombinasi rekahan dan pori. Identifikasi awal zona resapan daerah penelitian menggunakan analisa kondisi geologi, kemiringan lereng, fault fracture density (FFD) dan drainage density (Dd), parameter sifat fisik air berupa EC-TDS dan debit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian teridentifikasi zona resapan berada di bagian timur laut pada elevasi 750 mdpl – 901 mdpl dengan kemiringan lereng berkisar 35o - 55o dengan litologi penyusun berupa breksi matriks supported, lapili tuf dan lava andesit. Hubungan antara airtanah dengan air permukaan pada zona ini bersifat influent, debit sungai kecil dengan nilai 4,54 L/s yang bersumber dari sungai Cipada. Zona ini memiliki nilai densitas FFD dan Dd sedang yaitu 0,2-0,8 m/km2 dan0-0,6 km/km2 dengan sifat fisik airtanah pada mata air memiliki rentang TDS antara 42-99 mg/l dan EC 62-144 µS/cm, sumur memiliki rentang TDS 11- 76 mg/l dan EC 17 – 118 µS/cm.
KARAKTERISASI RESERVOAR MENGGUNAKAN METODE SEISMIK INVERSI IMPEDANSI AKUSTIK DAN MULTIATRIBUT SERTA APLIKASI METODE SIMULASI MONTE CARLO UNTUK ESTIMASI SUMBERDAYA PADA LAPANGAN PRO Rizki Ordas, Perdana
Bulletin of Scientific Contribution Vol 19, No 1 (2021): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v19i1.31234

Abstract

Karakteristik reservoar sangat penting di dalam ekspiorasi hidrokarbon.  Penelitian ini dilakukan di Lapangan “PRO” Cekungan Bonaparte.  Analisis karakter fisis pada reservoar batupasir pada penelitian ini menggunakan metode inversi impedansi akustik dan multiatribut seismik.  Dengan menggunakan metode ini, kita dapat memisahkan dengan baik antara batupasir dan serpih Formasi Plover yang terdapat pada Lapangan “PRO” Cekungan Bonaparte. Metode seismik inversi akustik yang digunakan dalam penelitian yaitu Modelbased, sedangkan seismik multiatribut yang digunakan adalah multiatribut regresi linier dalam memetakan volume densitas, porositas dan saturasi air (Sw). Reservoar batupasir yang mengandung hidrokarbon dominan berada pada bagian selatan daerah penelitian ditunjuukkan oleh nilai impedansi akustik sebesar 10.000-35.000 (ft/s)*(g/cc), serta nilai densitas sebesar 2.4-2.6 gr/cc, nilai porositas efektif sebesar 15-20%, dan nilai Sw yang rendah sekitar 10-20% yang mengindikasikan hidrokarbon berupa gas.  Hasil dari inversi impedansi akustik dan multiatribut seismik dapat digunakan dalam melakukan perhitungan sumberdaya. Metode yang digunakan adalah metode simulasi Monte Carlo yang merupakan pemodelan probabilistik karena pada bawah permukaan memiliki uncertainty (ketidakpastian) yang tinggi.  Berdasarkan perhitungan sumber daya dengan metode simulasi Monte Carlo, didapatkan P10 nilai sumber daya yang terdapat di dalam reservoir hidrokarbonya sebesar 365.72 BCF (bilion cubic feet), kemudian pada P50 214.04 BCF (bilion cubic feet) dan P90 memiliki nilai sumber daya sebesar 86.32 BCF (bilion cubic feet). Kata kunci: inversi, multiatribut seismik, saturasi air, Monte Carlo.
PERBANDINGAN POTENSI GUNUNG KENDENG DAN GUNUNG PATUHA BERDASARKAN STUDI VULKANOSTRATIGRAFI Nandiwardhana, Damar; Hidayat, Ryan; Rakhmatan, Chikal
Bulletin of Scientific Contribution Vol 18, No 3 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v18i3.31124

Abstract

Proses pemetaan daerah vulkanik merupakan salah satu metode survei eksplorasi pendahuluan sistem panasbumi vulkanik. Akan tetapi proses ini memiliki kendala yaitu kesulitan dalam membedakan berbagai macam produk erupsi berdasarkan pusat erupsinya, hal ini dikarenakan adanya kenyataan bahwa perbedaan sumber erupsi dapat menghasilkan susunan produk gunungapi yang memiliki karakteristik fisik hampir serupa di lapangan. Pada penelitian ini manfaat pemetaan vulkanostratigrafi yang berada pada daerah Ciwidey, Jawa Barat digunakan untuk mengkaji prospek panasbumi Gunung Kendeng dengan perbandingan terhadap Gunung Patuha yang telah berproduksi. Metodologi penelitian ini mengacu pada konsep eksplorasi panasbumi yang dibuat oleh Wohletz (1992). Interpretasi peta tofografi sekala 1:50.000 terdapat 5 khuluk (Khuluk Padang, Khuluk Patuha, Khuluk Rancabali, Khuluk Ciwide dan Khuluk Kendeng) dan 12 Gumuk (Gumuk Rancabali, Gumuk Ciwidey, Gumuk Prug, Gumuk Kunti, Gumuk Putri, Gumuk Tambagruyeng, gumuk Kutalak, Gumuk Tikukur, Gumuk Cadas, Gumuk Wayang, Gumuk Tilu, Gumuk Cadaspanjang dan Gumuk Masigit). Volume Gunung Kendeng sebesar 137,9 km3 dengan energi panas yang tersimpan sebesar 2,1 X 1018 Joule dan Volume Gunung Patuha sebesar 61,5 km3 dengan energi panas sebesar 1.8 x 1017 Joule. Berdasarkan Perbandingan Volume dan energi panas yang tersimpang maka Gunung Kendeng memiliki prospek panasbumi yang lebih berpotensi jika dibandingkan dengan Gunung Patuha.
KORELASI BIOSTRATIGRAFI FORAMINIFERA PLANKTON DAN NANNOPLANKTON TERSIER INDONESIA BAGIAN TIMUR (Studi Kasus: Pulau Sumba) Isnaniawardhani, Vijaya; Abdullah, Chalid Ilham; Pratiwi, Santi Dwi
Bulletin of Scientific Contribution Vol 19, No 1 (2021): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v19i1.33039

Abstract

ABSTRAKStudi korelasi biostratigrafi Tersier dilakukan di Pulau Sumba yang tersusun oleh batuan sedimen klastik hasil pengendapan di lingkungan laut dalam. Foraminifera plankton dan nannoplankton dijumpai melimpah pada singkapan-singkapan batuan yang secara stratigrafi bisa ditelusuri kemenerusannya. Zonasi biostratigrafi foraminifera plankton dan korelasinya dengan zonasi biostratigrafi nannoplankton ditentukan berdasarkan batas pemunculan dan kepunahan spesies indeks. Tatanan biostratigrafi foraminifera plankton Pulau Sumba dapat dikelompokkan menjadi 12 zona, yang berurutan dari tua ke muda sebagai berikut: (1) zona selang Globigerina tripartita - Globorotalia centralis, (2) zona kisaran Globorotalia mexicana, (3) zona kisaran Globorotalia centralis, (4) zona kisaran Globigerina tapuriensis, (5) zona kisaran Globigerina ampliapertura, (6) zona kisaran Globigerinoides quadrilobatus altiaperturus, (7) zona kisaran Praeorbulina glomerosa curva, (8) zona kisaran Sphaeroidinella subdehiscens, (9) zona selang Globorotalia acostaensis – Globorotalia plesiotumida, (10) zona selang Globorotalia plesiotumida - Globorotalia tumida, (11) zona selang Globorotalia tumida - Sphaeroidinella dehiscens, dan (12) zona kisaran Sphaeroidinella dehiscens. Tatanan biostratigrafi nannoplankton Pulau Sumba dapat dibedakan menjadi 11 zona, yaitu: (1) zona kisaran Discoaster tani nodifer, (2) zona selang Chiasmolithus oamaruensisSphenolithus pseudoradians, (3) zona selang Sphenolithus pseudoradians – Sphenolithus distentus, (4) zona selang Sphenolithus distentus – Discoaster druggi, (5) zona selang Discoaster druggi - Helicosphaera ampliapertura, (6) zona selang Helicosphaera ampliapertura - Sphenolithus heteromorphus, (7) zona kisaran Discoaster hamatus, (8) zona selang Discoaster hamatus – Discoaster quinqueramus, (9) zona kisaran Discoaster quinqueramus, (10) zona selang Discoaster quinqueramus - Discoaster asymmetricus, dan (11) zona kisaran Discoaster asymmetricus. Korelasi biostratigrafi berdasarkan foraminifera plankton dan nannoplankton pada urutan batuan Paleogen yang umumnya tersingkap di Sumba Barat; maupun Neogen yang tersingkap di Sumba Barat dan Timur menunjukkan resolusi yang baik dalam penentuan umur.Kata Kunci:biostratigrafi, foraminifera plankton, sumba barat, paleogen, penentuan umur.ABSTRACTTertiary biostratigraphy correlation studies were carried out on Sumba Island which is composed of clastic sedimentary rocks deposited in the deep-sea environment. Plankton foraminifera and nannoplankton are abundantly found in rock outcrops which can be traced stratigraphically. The plankton foraminifera biostratigraphy zonation and its correlation with the nannoplankton biostratigraphy zonation was determined based on the occurrence and extinct of index species. The plankton foraminifera succession on Sumba Island can be grouped into 12 zones, from old to young as follows: (1) Globigerina tripartita - Globorotalia centralis interval zone, (2) Globorotalia mexicana range zone, (3) Globorotalia centralis range zone, (4) ) Globigerina tapuriensis range zone, (5) Globigerina ampliapertura range zone, (6) Globigerinoides quadrilobatus altiaperturus range zone, (7) Praeorbulina glomerosa curva range zone, (8) Sphaeroidinella subdehiscens range zone, (9) Globorotalia acostaensis - Globorotalia plesiotumida interval zone, (10) Globorotalia plesiotumida - Globorotalia tumida interval zone, (11) Globorotalia tumida - Sphaeroidinella dehiscens interval zone, and (12) Sphaeroidinella dehiscens range zone. The nannoplankton biostratigraphic succession on Sumba Island can be divided into 11 zones, namely: (1) Discoaster tani nodifer range zone, (2) Chiasmolithus oamaruensis - Sphenolithus pseudoradians interval zone, (3) Sphenolithus pseudoradians - Sphenolithus distentus interval zone, (4) Sphenolithus distentus - Discoaster druggi interval zone, (5) Discoaster druggi - Helicosphaera ampliapertura interval zone, (6) Helicosphaera ampliapertura - Sphenolithus heteromorphus interval zone, (9) Discoaster hamatus range zone, (8) Discoaster hamatus - Discoaster quinqueramus interval zone, (9) Discoaster quinqueramus range zone, (10) Discoaster quinqueramus - Discoaster asymmetricus interval zone, and (11) Discoaster asymmetricus range zone. Biostratigraphic correlation based on foraminifera plankton and nannoplankton in Paleogene rock sequences which are generally exposed in West Sumba; and Neogene exposed in West and East Sumba show a good resolution in age determination.Keyword: biostratigraphy, plankton foraminifera, west sumba, paleogen, age determination.
Optimasi Lereng Highwall Tambang Batu Bara Terbuka Asam Asam Pit "X" Berdasarkan Mohr-Coulomb Failure Criterion Prajnanta, Aditya Bayu; Sihombing, Felix M.H.; Wusqa, Urwatul; Risyana, Teten; Bramantyo, Prima Laksana
Bulletin of Scientific Contribution Vol 18, No 3 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v18i3.29901

Abstract

Kestabilan lereng merupakan aspek yang perlu diperhatikan dalam tambang batubara terbuka Asam Asam untuk mencegah terjadinya kelongsoran. Kestabilan lereng dapat dipelajari menggunakan analisis kesetimbangan batas yang didasarkan dari teori Mohr–Coulomb Failure Criterion untuk mengetahui respons dari material batuan terhadap suatu gaya yang diberikan. Dari analisa tersebut tingkat kestabilan di lereng pertambangan dapat dikuantifikasi dengan mengukur nilai faktor keamanan (FK) dari sebuah lereng. Pada penelitian ini, penulis melakukan analisis kestabilan lereng pada tiga desain lereng highwall tambang batu Bara terbuka Asam Asam di Pit “X” yang dioperasikan oleh PT. Arutmin Indonesia, dengan bantuan perangkat lunak Geostudio SLOPE/W dan metode perhitungan nilai kesetimbangan batas Morgenstern–Price. Analisis pada ketiga lereng menunjukkan bahwa faktor keamanan dari desain lereng masih relatif tinggi dibanding standar perusahaan, sehingga penulis dapat memberi rekomendasi berupa optimasi desain. Optimasi desain lereng tambang bertujuan untuk mengurangi jumlah material yang tidak diinginkan namun masih memperhatikan nilai standar faktor keamanan dari tiap lereng. Penulis menemukan bahwa memungkinkan dilakukan optimasi dari ketiga lereng dengan mengurangi lebar bench tiap lereng dari 10 meter menjadi 7 meter, sehingga pengurangan lebar bench membuat sudut keseluruhan masing-masing lereng menjadi semakin tegak dengan kenaikan sudut sebesar 4o. Dengan dilakukannya optimasi, maka pihak perusahaan dapat mengurangi jumlah material yang tidak diinginkan dalam proses pengupasan, sehingga dapat mengurangi waktu dan biaya yang dibutuhkan dalam kegiatan ekstraksi batu bara.

Filter by Year

2005 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 23, No 2 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 23, No 1 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 22, No 3 (2024): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 22, No 2 (2024): Bulletin of Scientific Contribution:GEOLOGY Vol 22, No 1 (2024): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 21, No 3 (2023): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 21, No 2 (2023): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 21, No 1 (2023): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 20, No 3 (2022): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 20, No 2 (2022): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 20, No 1 (2022): Bulletins of Scientific Contribution : Geology Vol 19, No 3 (2021): Bulletins of Scientific Contribution : Geology Vol 19, No 2 (2021): Bulletins of Scientific Contribution : Geology Vol 19, No 1 (2021): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 18, No 3 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 18, No 2 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 18, No 1 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 17, No 3 (2019): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 17, No 2 (2019): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 17, No 1 (2019): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY Vol 16, No 3 (2018): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY Vol 16, No 2 (2018): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY Vol 16, No 1 (2018): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY Vol 15, No 3 (2017): Bulletin of Scientific Contribution:GEOLOGY Vol 15, No 2 (2017): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY Vol 15, No 1 (2017): Bulletin of Scientific Contribution Vol 14, No 3 (2016): Bulletin of Scientific Contribution Vol 14, No 2 (2016): Bulletin of Scientific Contribution Vol 14, No 1 (2016): Bulletin of Scientific Contribution Vol 13, No 3 (2015): Bulletin of Scientific Contribution Vol 13, No 2 (2015): Bulletin of Scientific Contribution Vol 13, No 1 (2015): Bulletin of Scientific Contribution Vol 12, No 3 (2014): Bulletin of Scientific Contribution Vol 12, No 2 (2014): Bulletin of Scientific Contribution Vol 12, No 1 (2014): Bulletin of Scientific Contribution Vol 11, No 3 (2013): Bulletin of Scientific Contribution Vol 11, No 2 (2013): Bulletin of Scientific Contribution Vol 11, No 1 (2013): Bulletin of Scientific Contribution Vol 10, No 2 (2012): Bulletin of Scientific Contribution Vol 10, No 1 (2012): Bulletin of Scientific Contribution Vol 9, No 3 (2011): Bulletin of Scientific Contribution Vol 9, No 2 (2011): Bulletin of Scientific Contribution Vol 9, No 1 (2011): Bulletin of Scientific Contribution Vol 8, No 3 (2010): Bulletin of Scientific Contribution Vol 8, No 2 (2010): Bulletin of Scientific Contribution Vol 8, No 1 (2010): Bulletin of Scientific Contribution Vol 7, No 2 (2009): Bulletin of Scientific Contribution Vol 7, No 1 (2009): Bulletin of Scientific Contribution Vol 6, No 2 (2008): Bulletin of Scientific Contribution Vol 6, No 1 (2008): Bulletin of Scientific Contribution Vol 5, No 3 (2007): Bulletin of Scientific Contribution Vol 5, No 2 (2007): Bulletin of Scientific Contribution Vol 5, No 1 (2007): Bulletin of Scientific Contribution Vol 4, No 2 (2006): Bulletin of Scientific Contribution Vol 4, No 1 (2006): Bulletin of Scientific Contribution Vol 3, No 2 (2005): Bulletin of Scientific Contribution More Issue