Articles
11 Documents
Search results for
, issue
"Vol 14, No 4 (2016): Farmaka"
:
11 Documents
clear
Pengaruh Konseling Apoteker dan Pemanfaatan Media Eletronik terhadap Perbaikan Manajemen Asma
nailil fadhilah;
Norisca Aliza Putriana
Farmaka Vol 14, No 4 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (4808.459 KB)
|
DOI: 10.24198/jf.v14i4.10607
Asma merupakan penyakit kronis yang masih menjadi masalah di Negara maju khususnya terkait manajemen asma yang buruk. Dalam hal ini Apoteker memiliki pengaruh penting dalam memberikan edukasi terkait manajemen asma yang baik dalam meningkatkan kualitas hidup, kontrol asma dan kepatuhan pasien. Review ini dilakukan dengan pencarian jurnal menggunakan kata kunci counseling, asthma, asthma counseling, asthma management, asthma control dan pharmacist counseling di US National Library of Medicine National Institutes of Health PubMed website. Konseling dan monitoring yang dilakukan oleh apoteker secara langsung maupun dengan memanfaatkan media elektronik dapat meningkatkan skor kuesioner kontrol asma (ACQ), perbaikan penggunaan inhaler, penurunan dosis obat dan kunjungan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD), peningkatan kualitas hidup, pengetahuan asma pasien dan peningkatan kepatuhan pasien. Apoteker berperan penting dalam meningkatkan manajemen asma pasien melalui konseling secara langsung dengan poin penyampaian berupa patofsiologi asma, pengobatan, pemeriksaan fungsi paru-paru, motivasi pasien, dan teknik penggunaan inhaler yang tepat serta pemanfaatan media elektronik menjadi rekomendasi dalam memberikan edukasi dan monitoring pasien asma.
Ko-Kristal: Teknik Pembuatan Ko-Kristal
Dewi Permatasari;
iyan Sopyan;
Muchtaridi Muchtaridi
Farmaka Vol 14, No 4 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (457.844 KB)
|
DOI: 10.24198/jf.v14i4.10461
Banyak obat yang telah beredar dipasaran memiliki masalah-masalah biofarmasi seperti rendahnya kelarutan, laju disolusi, permeabilitas yang berakibat pada bioavailabilitas dan kefektifan obat tersebut dalam mengobati penyakit. Untuk mengatasi hal tersebut, teknologi formulasi sediaan farmasi semakin berkembang sehingga dapat menghasilkan obat yang lebih berkualitas. Dalam satu dekade ini, sudah banyak publikasi yang menjelaskan tentang strategi dan teknik untuk mengembangkan desain obat-obat tersebut, salah satunya adalah kokristal. Kokristal dalam farmasi merupakan metode modifikasi suatu zat aktif, seperti penambahan gugus hidrogen, antara zat aktif dan koformer. Modifikasi yang dilakukan dengan harapan dapat memperbaiki masalah yang dimiliki suatu zat aktif obat tersebut tanpa mengubah efek farmakologisnya. Teknik-teknik pembuatan kokristal yang paling sering digunakan secara umum adalah grinding dan solvent based method (solvent evaporation dan slurry). Akan tetapi, saat ini sudah diterapkan pula metode sintesis kokristal dengan penambahan antisolvent, hot melt extrusion, bahkan teknologi cairan superkritis. Pertimbangan pemilihan metode ini dilihat dari sifat zat aktif dan koformer yang digunakan, serta mempertimbangkan teknologi yang dimiliki.Keywords: ko-kristal, teknik ko-kristal, karakterisasi, kokristal farmaseutikal
TANAMAN HERBAL YANG MEMILIKI AKTIVITAS HEPATOPROTEKTOR
Desi Dina Hanifa;
Rini Hendriani
Farmaka Vol 14, No 4 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (436.389 KB)
|
DOI: 10.24198/jf.v14i4.11131
Hati merupakan organ yang memiliki fungsi penting untuk metabolisme dalam tubuh. Kerusakan yang terjadi pada hati dapat disebabkan senyawa yang bersifat hepatotoksik. Untuk memperbaiki dan mengobati kerusakan hati, dapat menggunakan hepatoprotektor. Banyak tanaman herbal telah dilaporkan memiliki aktivitas sebagai hepatoprotektor. Mekanismenya diduga karena adanya antioksidan yang dapat mencegah terbentuknya radikal bebas yang dihasilkan oleh hepatotoksin. Dari 20 tanaman yang ditelaah dari sumber data review berupa jurnal dan internet, kayu manis memiliki efek hepatoprotektor terbesar dengan dosis 10 mg/Kg BB, diikuti dengan daun legundi dan gambir dengan dosis 30 mg/Kg BB.Kata kunci : Tanaman herbal, Hepatoprotektor, Antioksidan
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK BUAH CANTIGI UNGU (Vaccinium varingiaefolium (Bl.) Miq.)
GHALIB SYUKRILLAH SYAHPUTRA;
Yoppi Iskandar;
Aliya Nur Hasanah
Farmaka Vol 14, No 4 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (626.144 KB)
|
DOI: 10.24198/jf.v14i4.10511
Saat ini Bilberry telah dikenal dikalangan optamologis sebagai tumbuhan obat yang dapat berperan dalam kesehatan mata. Di sekitar kawah pegunungan Patuha (Bandung selatan) dapat dijumpai tumbuhan yang cukup mendominasi vegetasi di daerah tersebut yaitu tumbuhan cantigi ungu (Vaccinium varingiaefolium (Bl.) Miq.). Melalui pendekatan kemotaksonomi maka cantigi ungu dapat berpotensi sebagai obat untuk memelihara kesehatan mata. Diet antioksidan merupakan tindakan preventif dalam menanggulangi gangguan kesehatan, salah satunya seperti yang telah dilaporkan bahwa diet antioksidan dapat membantu memelihara kesehatan penglihatan khususnya dapat berpotensi mengobati katarak (Carey et al., 2011; Varma et al., 2012). Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui khasiat antioksidan yang dimiliki tumbuhan cantigi ungu. Tahapan metode yang dilakukan yaitu pengumpulan bahan, ekstraksi, pengukuran kadar flavonoid total dan pengujian aktivitas antioksidan ekstrak buah cantigi ungu menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Dari hasil penelitian kadar flavonoid total ekstrak cantigi ungu yaitu 37.6 ppm ekuivalen kuersetin. Untuk pengujian kemampuan antioksidan cantigi ungu lebih rendah dibanding vitamin C dan tablet ekstrak bilberry dari data IC50 yang didapat yaitu IC50 vitamin C 5.710 ppm; IC50 Ekstrak cantigi ungu 242.924 ppm; IC50 Tablet Ekstrak bilberry 44.994 ppm.Kata kunci : Vaccinium, Cantigi ungu, Bilberry, Antioksidan
Hubungan Antara HLA-B*1502 dengan Steven-Jonhson Syndrome yang diinduksi oleh Karbamazepin pada Berbagai Populasi dan Mekanisme Interaksinya : Review
Syifa Afiifah Latief;
Dudi Runadi
Farmaka Vol 14, No 4 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (446.876 KB)
|
DOI: 10.24198/jf.v14i4.10928
FDA mengeluarkan peringatan pada tahun 2007 bagi para pasien yang hendak menggunakan karbamazepin untuk melakukan skrining HLA-B*1502 terlebih dahulu. Karbamazepin (CBZ) merupakan obat anti kejang yang digunakan secara luas untuk mengobati epilepsi, bipolar disorder, trigeminal neuralgia, dan nyeri kronis. Salah satu efek samping yang dapat diinduksi oleh CBZ adalah penyakit Steven-Johnson syndrome (SJS) dan Toxic Epidermal Necrolysis (TEN). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Chung et al., CBZ dapat menginduksi SJS/TEN (CBZ-SJS/TEN) pada pasien dari etnis Cina Han yang memiliki alel HLA-B*1502. Studi literatur dilakukan dengan menggunakan artikel dan jurnal penelitian yang telah dipublikasi sebelumnya. Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa HLA-B*1502 memiliki hubungan yang kuat dengan CBZ-SJS/TEN terutama pada etnis Asia. Mekanisme interaksi antara HLA-B*1502 dan CBZ diduga berlangsung secara langsung tanpa ada ikatan kovalen yang kemudian merangsang aktivasi sel T.Kata kunci: HLA-B*1502, Karbamazepin, Steven-Johnson Syndrome, Toxic Epidermal Necrolysis
Polimorfisme TLR-4 dan Pengaruh Ras pada Infeksi Helicobacter pylori
Theresia Ratnadevi;
Melisa Intan Barliana
Farmaka Vol 14, No 4 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (490.687 KB)
|
DOI: 10.24198/jf.v14i4.10567
Helicobacter pylori merupakan salah satu bakteri yang berada pada lambung manusia. Setengah dari penduduk dunia diketahui telah terpapar bakteri tersebut. Infeksi bakteri pada mukosa lambung menyebabkan suatu respon inflamasi yang disebut sebagai gastritis. Gastritis kronik dapat menyebabkan penyakit-penyakit lambung lainnya yang lebih berbahaya. Penelitian menemukan salah satu faktor penyebab meningkatnya keparahan dari gastritis akibat bakteri H. pylori karena terjadinya polimorfisme yang terjadi pada gen Toll-like receptors-4 (TLR-4) manusia yang berperan dalam mengatur sistem imun bawaan dan imun spesifik. Dua polimorfisme TLR-4 yang telah diketahui adalah Asp299Gly dan Thr399Ile. Adanya polimorfisme pada TLR-4 menyebabkan perubahan respon imun dalam mengatasi keberadaan H. pylori di dalam lambung sehingga terjadi keadaan inflamasi kronis. Berdasarkan beberapa penelitian, kedua polimorfisme tersebut menunjukkan asosiasi yang berbeda terhadap respon inflamasi atau keluaran oleh infeksi bakteri H. pylori. Perbedaan asosiasi tersebut disebabkan adanya perbedaan ras pada populasi di seluruh dunia sehingga respon yang ditimbulkan berbeda-beda.
REVIEW VIRUS ZIKA
NUR FITRIATUZZAKIYYAH;
Sri Agung Fitri Kusuma
Farmaka Vol 14, No 4 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (373.204 KB)
|
DOI: 10.24198/jf.v14i4.10603
Virus zika telah menarik perhatian dunia pasca terjadinya kasus wabah di Pulau Yap. Virus zika sebenarnya telah ditemukan sejak tahun 1947 dengan kasus pertamanya terjadi didaerah Uganda pada tahun 1952, kemudian virus ini terus menyebar ke wilayah afrika serta asia dan prevalensinya semakin tinggi dalam satu dekade terakhir. Pada mei 2015 PAHO (the Pan American Health Organization) mengeluarkan peringatan tentang infeksi virus Zika pertama dikonfirmasi di Brasil dan akhirnya Pada tanggal 1 Februari, 2016 (WHO) menyatakan Virus Zika sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (PHEIC). Kenyataannya penigkatan penyebaran virus zika ini tidak diiringi dengan penigkatan kesadaran masyarakat terhadap ancaman virus zika, karena seringkali infeksi zika tidak menunjukkan gejala apapun. Namun, pada ibu hamil kondisi ini menjadi faktor resiko terjadinya cacat bawaan serius yang disebut mikrosefalus. Dalam review ini akan dibahas mengenai epidemiologi, hubungannya dengan kejadian mikrosefalus, jalur transmisi serta pengobatan dan pencegahan yang direkomendasikan untuk virus zika.Kata kunci: virus zika, mikrosefalus, wabah, transmisi, pencegahan, pengobatan
PERANAN EPIDERMAL GROWTH FACTOR PADA PENYEMBUHAN LUKA PASIEN ULKUS DIABETES
Dinar Erina Destyani Putri;
Sriwidodo .
Farmaka Vol 14, No 4 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (304.422 KB)
|
DOI: 10.24198/jf.v14i4.9531
Increased prevalence of diabetic raises a lot of concomitant diseases like diabetic ulcers. Diabetic ulcers which not treated properly can lead to amputation. Wound healing in patients with diabetic ulcers involves many factors including growth factor. Epidermal growth factor is a growth factor that plays a role in the formation of collagen in wounds. Some applications EGF has been applied to the diabetic ulcer of 1-4 degrees showed significant improvement of diabetic ulcer wounds. Safety studies about EGF also showed irritation was generally mild to moderate.
PENYISIHAN LOGAM BERAT DARI LIMBAH CAIR LABORATORIUM KIMIA
MARISA DWI ARIANI;
DRIYANTI RAHAYU
Farmaka Vol 14, No 4 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (335.193 KB)
|
DOI: 10.24198/jf.v14i4.10595
Limbah cair laboratorium dihasilkan dari berbagai kegiatan yang dilakukan di laboratorium dan mengandung banyak senyawa berbahaya, salah satunya ialah logam berat. Logam Fe, Cr, Hg, dan Ag merupakan beberapa logam berat yang sering ditemukan dalam limbah cair laboratorium. Dalam prakteknya, pembuangan limbah cair laboratorium belum diolah dengan baik, sehingga masih mengandung logam berat terlarut di dalamnya. Artikel ini membandingkan beberapa metode dalam penyisihan logam berat pada limbah cair laboratorium kimia di beberapa wilayah Indonesia. Data-data pada artikel ini didapatkan dari beberapa studi yang telah dilakukan, kemudian dibandingkan satu sama lainnya. Metode yang dibandingkan adalah adsorpsi, presipitasi, koagulasi, dan kombinasi kedua metode. Dari studi yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa metode kombinasi presipitas dan adsorpsi memberikan persentasi penurunan tertinggi dalam penyisihan logam pada limbah cair laboratorium dengan presentasi penurunan konsentrasi logam berat sebesar 98,09-99,99%.Kata kunci : adsorpsi, presipitasi, dan koagulasi.
Polimorfisme CYP2D6 dan Pengaruhnya Terhadap Metabolisme Kodein: Review
ANNISA MAYANGSARI;
Tina Rostinawati
Farmaka Vol 14, No 4 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (568.129 KB)
|
DOI: 10.24198/jf.v14i4.10584
Setiap individu dapat memberikan respon yang berbeda terhadap obat yang sama. Perbedaan respon ini diakibatkan adanya variabilitas genetik hasil dari polimorfisme pada DNA yang mengkode enzim metabolisme dan eliminasi obat. Salah satu polimorfisme yang sering ditemukan yaitu pada gen CYP2D6, yang mengkode enzim CYP2D6. Enzim CYP2D6 merupakan salah satu enzim yang berperan dalam metabolisme beberapa obat, salah satunya kodein. Kodein merupakan analgesik golongan opiat lemah yang digunakan untuk beberapa pengobatan. CYP2D6 berperan dalam mengkonversi kodein menjadi bentuk aktifnya yaitu morfin. Adanya polimorfisme pada gen CYP2D6 mempengaruhi aktivitas metabolisme enzim yang dikodenya. Terdapat empat macam metabolisme hasil polomorfisme pada CYP2D6, yaitu Extensive Metabolizer (EM), Intermediate Metabolizer (IM), Poor Metabolizer (PM) dan Ultra-rapid Metabolizer (UM). Perbedaan metabolisme kodein ini akan mempengaruhi kadar metabolit aktif kodein dan efek analgesik yang ditimbulkan. Berdasarkan fakta tersebut, perlu dilakukannya penyesuaian terapi kodein untuk tiap individu berdasarkan polimorfisme CYP2D6.