cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
Paper-Based Analytical Device For Detection of Metal, Non-Metal, and Organic Pollutants: Review Rieda Nurwulan Septyani; Aliya Nur Hasanah
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.807 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17584

Abstract

AbstractThe environment is the unity of space with all things, energy, circumstances, and living things, including human and his behavior, which affects nature itself, continuity of life, and human welfare and other living beings. Today, the environment has been polluted by the impact of intentional and unintentional human activities. To detect that an environment is contaminated the method it still expensive and difficult, that's why the method to analysis environmental pollution is still rarely done. Paper-based Analytical Device is an analytical method that is now often used to detect many things, from chemical compounds, bacteria, pollutants, and use for diagnostics. In this method, only samples with small volumes are required. Nor does it need external support equipment because the sample fluids are controlled largely by capillarity and evaporation. Many researchers now use PAD as an alternative method to test the contaminants present in an environment such as metal contaminants, non-metals, and organic compounds.Keywords: Environmental pollution, Paper-based Analytical Device, metal, non-metal, organic compound.
PENGARUH SUHU TERHADAP STABILITAS OBAT SEDIAAN SUSPENSI alifa nur zaini; Dolih Gozali
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.52 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10820

Abstract

Stabilitas obat merupakan salah satu pengujian yang penting dalam evaluasi obat, salah satunya adalah dengan mengetahui pengaruh suhu terhadap stabilitas obat. Adapun jika dilihat dari beberapa jurnal penelitian menujukkan bahwa suhu dapat mempengaruhi stabilitas obat, khususnya sediaan suspensi. Dalam jurnal penelitian yang menjelaskan mengenai suspensi diklofenak pada suhu 4oC, 22oC, 40oC,60oC, suhu yang paling stabil adalah pada suhu 4oC (96,3%) dan terjadi penurunan kadar yang signifikan pada suhu 40oC (89,58%) dan 60oC (85,17%). Pada jurnal lain yang membahas mengenai suspensi asam folat menunjukan bahwa obat stabil pada suhu 4oC dan 25oC kecuali pada hari ke 90 terjadi kenaikan pH. Dalam jurnal lain yang membahas mengenai suspensi cefuroxime axetil pada suhu 20o C konsentrasi dari suspensi cefuroxime axetil adalah 87,68% dan pada suhu 5o C adalah 92,35%. Untuk jurnal penelitian yang membahas mengenai suspensi amoksisilin-klavulanat menunjukkan bahwa konsentrasi amoksisilin mulai mengalami penurunan pada hari ke 7 yaitu di bawah 80% dalam sementara klavulanat yaitu kurang dari 70%. Keempat sediaan suspensi tersebut dapat dikatakan stabil pada suhu yang diujikan.Kata Kunci : Stabilitas obat, suspensi, suhu.
REVIEW JURNAL : AKTIVITAS ANTIHIPERLIPIDEMIA PADA TANAMAN HERBAL DENGAN METODE INDUKSI HEWAN PERCOBAAAN WAHYU EKA SAPUTRI; Sri Adi Sumiwi
Farmaka Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.978 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i3.25909

Abstract

AbstrakHiperlipidemia merupakan disregulasi metabolik yang sangat berkaitan erat dengan diabetes mellitus, gangguan ini ditandai dengan adanya peningkatan profil lipid dalam tubuh antara lain LDL, VLDL, asam lemak bebas, trigliserida. Beberapa tanaman herbal memiliki aktivitas antihiperlipidemia yang telah dibuktikan dengan dilakukannya penelitian dengan menggunakan hewan percobaan yang diberikan perlakukan penginduksian hiperglikemia maupun diabetes. Hasil yang diperoleh adalah terdapat 13 jenis ekstrak tanaman yang memiliki aktivitas antihiperlipidemia dengan adanya penurunan profil lipid yang signifikan pada hewan percobaan.Kata Kunci : Hiperlipidemia, Antihiperlipidemia, profil lipid , tanaman herbal, induksi hewa uji.AbstractHyperlipidemia is a metabolic dysregulation that is closely related to diabetes mellitus, this disorder is characterized by an increase in lipid profiles in the body including LDL, VLDL, free fatty acids, triglycerides. Some herbal plants have antihyperlipidemic activity which has been proven by conducting research using experimental animals which are treated to induce hyperglycemia and diabetes. The results obtained were 13 types of plant extracts which had antihyperlipidemic activity with a significant decrease in lipid profile in experimental animals.Keywords: Hyperlipidemia, Antihyperlipidemia, lipid profile, herbal plants, induction of test hives.
FITOSOM SEBAGAI SISTEM PENGHANTAR OBAT TRANSDERMAL : Formulasi Baru Obat Herbal untuk Perkembangan Farmasetika di Indonesia AKBAR ROZAAQ MUGNI; Aliya Nur Hasanah
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.16 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.16854

Abstract

Indonesia memiliki tiga perempat spesies tanaman di bumi sehingga menjadi mega-center keanekaragaman hayati dunia. Keragaman budaya, suku dan etnis yang  memiliki warisan pengetahuan masing-masing dibidang pengobatan membuat Indonesia berpotensi menguasai pengembangan obat herbal. Namun, hal tersebut dibatasi oleh kurangnya pemanfaatan sumber daya alam serta penerimaan praktisi kesehatan terhadap pengobatan herbal. Disisi lain, perkembangan industri kefarmasian Indonesia mengalami masalah terkait bahan baku obat. Terobosan terkait pemanfaatan sumber daya alam sebagai bahan baku obat herbal dengan formulasi yang lebih mutakhir diperlukan untuk mengatasi dilemma tersebut. Peluang tersebut didapat melalui aplikasi fitosom sebagai sistem penghantar obat transdermal yang baru dikembangkan dunia kefarmasian. Dalam review artikel ini akan dibahas berbagai aspek dan aplikasi dari fitosom pada formulasi sediaan obat herbal transdermal serta peluang Indonesia dalam mengembangkan teknologi tersebut sebagai inovasi pengembangan farmasetika di Indonesia.
REVIEW: AKITIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK TUMBUHAN Melastomataceae TERHADAP BAKTERI Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus WICHELIA NISYA FITRI; Driyanti Rahayu
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1764.326 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17624

Abstract

AbstrakDiare merupakan salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Escherichia coli  dan  Staphylococcus aureus  yang masih menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat serta berpotensi mengakibatkan kematian. Sebagian besar bakteri ini telah mengalami resisten terhadap antibiotik. Maka, diperlukan suatu alternatif yang dapat mengatasi masalah tersebut dengan melakukan tinjauan mengenai aktivitas antibakteri pada tumbuhan dari keluarga melastomataceae yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri E.coli dan S. aureus. Tumbuhan dari keluarga melastomataceae yang memiliki aktivitas antibakteri diantaranya Melastoma malabathricum L, Melastoma candidum, Dissotis thollonii Cogn dan Dissotis rotundifolia T dengan senyawa kimia yang berperan yaitu triterpenoid (asam asiatik, asam ursolat), flavonoid (kuersetin, kaemferol, asam allegic, tokoferol), glikosida, saponin, tanin, dan alkaloid.Kata kunci: antibakteri, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, melastomataceae
KLONING FRAGMEN DNA PENGKODE S80-180 GALUR ALAMI DAN MUTAN G145R VIRUS HEPATITIS B PADA ESCHERICHIA COLI JM109 TINA ROSWATI ROSTINAWATI; debbie sofie retnoningrum
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.714 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.8558

Abstract

Virus hepatitis B (HBV) merupakan penyebab infeksi hepatitis kronis di dunia. Pemberian vaksin yang mengandung protein S dapat menginduksi antibodi protektif melawan semua subtipe HBV. Sebuah mutasi titik pada gen pengkode determinan “a” HBsAg yang menyebabkan substitusi glisin (G) oleh arginin (R) pada posisi 145 (mutan G145R) menurunkan kemampuan pengikatan antibodi yang diinduksi oleh antigen HBsAg galur alami dan ini merupakan salah satu contoh mutan lolos vaksin. Protein rekombinan dapat melengkapi uji imunologi yang saat ini hanya spesifik untuk HBsAg galur alami. Penelitian ini difokuskan pada gen pengkode fragmen S80-180 (merentang residue pada posisi 80 hingga 180 protein S). Tujuan penelitian adalah mengkonstruksi gen pengkode protein S80-180 galur alami dan mutan G145R pada vektor kloning pGEM-T pada Escherichia coli  ( E. coli ) JM109. Fragmen DNA pengkode protein S80-180 galur alami dan mutan G145R diamplifikasi dengan reaksi polimerase berantai (PCR) menggunakan cetakan HBV. Produk PCR tersebut diligasikan pada vektor kloning pGEM-T dan hasil ligasi ditransformasikan ke E. coli JM109. Transforman diskrining dengan ampisilin dan  sistem seleksi biru / putih. Plasmid dari transforman putih resisten ampisilin diisolasi dan dikarakterisasi dengan analisis migrasi, PCR, pemotongan ganda, dan penentuan urutan nukleotida DNA sisipan. Hasil analisis migrasi menunjukkan bahwa pGEM-T rekombinan bermigrasi lebih lambat dibandingkan dengan pGEM-T non rekombinan. PCR menggunakan primer T7 dan SP6 menghasilkan pita DNA yang berukuran sekitar 500 pasangan basa (pb) yang hampir sama dengan ukuran teoritis , 545 pb. . Analisis pemotongan dengan enzim BamHI dan NdeI memberikan pita DNA sisipan yang berukuran di bawah 500 pb (secara teoritis 339 pb)  dan pGEM-T linier yang berukuran sekitar 3000 pb.  Analisis terhadap hasil penentuan urutan nukleotida menggunakan program BLAST (Basic Local Alignment Tool) menunjukkan bahwa DNA sisipan untuk gen pengkode S80-180 galur alami dan mutan G145R memiliki homologi  99% dengan urutan nukleotida gen S (kode akses GenBank AB113220.1 dan AB 113238.1). Hasil pensejajaran urutan nukleotida gen pengkode S80-180 galur alami dengan mutan G145R   
REVIEW ARTIKEL: METODE PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIKONVULSAN SEBAGAI SKRINING PENGOBATAN EPILEPSI Praditya Alfathan; Nasrul Wathoni
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.277 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.21938

Abstract

Antikonvulsan adalah suatu aktivitas yang diberikan oleh senyawa tertentu yang dapat mengobati penyakit yang memiliki gejalan kejang seperti epilepsi. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui potensi obat yang ingin dikembangkan untuk penyakit epilepsy. Pengujian antikonvulsan ini dibagi dengan tiga cara yaitu secara in vitro, in vivo, dan in silico. Dalam pengujian ini terdapat uji MES, Neurotoksisitas, Induksi PTZ, Induksi PIL, Midazolam Sleeping Assay, Electrophysiological recording, [3H] Flunitrazepam Binding, [3H]-t-Butylbicycloortho benzoate ([3H] TBOB) Binding,  dan molecular docking.
STUDI FORMULASI DAN EVALUASI FISIK SEDIAAN KRIM ANTISKABIES DARI MINYAK MIMBA (Azadirachta Indica A.Juss) ANGGIA DIANI AMALIAH; Rimadani Pratiwi
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.224 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.13010

Abstract

Salah satu penyakit kulit menular yang sebagian besar terjadi di negara berkembang adalah skabies. Saat ini belum terdapat pedoman terapi skabies yang komprehensif dan rekomendasi suatu negara mungkin tidak cocok untuk negara lain. Penatalaksanaan skabies umumnya menggunakan  sediaan krim. Sediaan krim lebih disukai karena sederhana dalam pembuatan, mudah dalam penggunaan, mudah dicuci, dan menimbulkan rasa nyaman bagi pengguna. Sediaan krim yang banyak dikembangkan saat ini adalah dengan memanfaatkan tanaman herbal. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antiskabies adalah tanaman Mimba (Azadirachta indica A.Juss). Minyak mimba yang diperoleh dari ekstrak biji mimba telah digunakan di berbagai negara untuk pengobatan antiparasit dan antiskabies. Pengembangan formula untuk sediaan krim dengan minyak mimba telah banyak dikembangkan, diantaranya dengan berbagai penelitian menggunakan berbagai jenis basis krim seperti emolient cream yang mengandung minyak mimba 10% b/b dan emulsifier  nonionic arachidyl glucosidase (APG), Poly Herbal Cream yang mengandung minyak mimba 0,5% b/b  dengan menggabungkan berbagai konsentrasi asam stearat dan setil alcohol serta basis Vanishing Cream dengan variasi konsentrasi minyak mimba 0% b/b – 10% b/b. Masing-masing formula dievaluasi untuk mendapatkan formula yang memiliki karakteristik fisikokimia paling stabil dalam waktu penyimpanan yang lama. Kata kunci: skabies, minyak mimba, krim.
Tinjauan Pustaka Mengenai Karakteristik Radioisotop yang Digunakan pada Pembuatan Radiofarmaka RISDA RAHMI ISLAMIATY; ELI HALIMAH
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1785.756 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17452

Abstract

Radiofarmaka merupakan suatu obat yang biasa digunakan untuk diagnosis ataupun terapi. Perbedaan antara radiofarmaka dengan obat biasa adalah terkandungnya radioisotop. Radioisotop merupakan isot­op yang bersifat tidak stabil sehingga akan memancarkan suatu energi radioaktif untuk mencapai bentuk yang stabilnya. Pancaran radioaktif yang ditimbulkan pada setiap jenis radioisotop yang digunakan pada radiofarmaka memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan pada pancaran radioaktif mempengaruhi tujuan pengaplikasian radiofarmaka. Radioisotop yang memiliki sifat pemancar sinar gamma umum  digunakan untuk diagnosis sedangkan yang memancarkan sinar beta umum digunakan untuk terapi. Karakteristik lain yang dilihat, antara lain sifat metal dan non metal radioisotop yang menyebabkan perbedaan metode pembuatan radiofarmaka.Kata Kunci : Radiofarmaka, Radioisotop, sinar gamma, sinar beta.
Review Artikel : Pengembangan Valsartan dalam Meningkatkan Kelarutan dan Bioavailbilitas dalam Tubuh SILVI RISTATIANTI; Anis Yohana Chaerunissa
Farmaka Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.646 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i1.18756

Abstract

Valsartan merupakan salah satu obat yang digunakan dalam terapi antihipertensi yang termasuk golongan angiotensin II reseptor blocker. Valsartan saat ini sangat banyak diproduksi mengingat prevalensi hipertensi yang tinggi, akan tetapi perkembangan produksi valsartan terbentur oleh sifat dari valsartan yang berbentuk amorf. Valsartan termasuk ke dalam salah satu obat golongan BCS  kelas III yang memiliki kelarutan dan permeabilitas yang rendah. Review ini, menjelaskan tentang  perkembangannya valsartan dibuat dalam bentuk kristal yang akan meningkatkan kelarutan yang berhubungan dengan bioavailbilitas. Selain itu, valsartan memiliki tiga pengotor yang sering terbawa dan dalam produksinya. Kesimpulannya, pengembangan sediaan obat valsartan dikembangkan dengan perubahan bentuk amorf menjadi kristal dengan solvasi dan co-crystal kemudian pengembangan dalam pemisahan pengotor dilakukan dengan HPLC yang dibantu oleh detektor NMR dan MS.

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue