cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
INOVASI APLIKASI TEN-SHIELD UNTUK MENGURANGI DRUG RELATED PROBLEMS PADA PASIEN HIPERTENSI HANDI PURNAMA; Ernestine Arianditha Pranasti; Driyanti Rahayu; Norisca Aliza Putriana
Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.506 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i1.13353

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan global, di Indonesia sendiri 25,8% penduduknya menderita hipertensi. Hal ini menimbulkan suatu permasalahan baru, yaitu Drug Related Problems (DRP) pada penderita hipertensi. Di sisi lain, teknologi yang kian berkembang membuat sebagian besar masyarakat menggunakan ponsel pintar guna membantu kegiatan sehari-hari. Dengan memanfaatkan teknologi, inovasi aplikasi Ten-Shield menjadi solusi untuk mengurangi permasalahan DRP pada pasien hipertensi. Metode dilaksanakan dengan melakukan perincian terhadap masalah yang diteliti, pengumpulan data, analisis data dan penarikan kesimpulan. Hasil yang dicapai berupa aplikasi yang didesain khusus dengan berbagai fitur, antara lain laman pendaftaran, laman berita, faktor risiko, pengobatan, perkembangan kesehatan, pertanyaan dan komunitas, serta fitur profil. Aplikasi Ten-Shield yang berbasis sistem operasi ini dapat membantu mempertimbangkan pemilihan obat berdasarkan faktor risiko pribadi pasien, pertimbangan mengenai kombinasi maupun dosis obat. Melalui aplikasi yang menarik perhatian pasien, kepatuhan pasien dapat ditingkatkan terutama terkait penggunaan obat. Aplikasi terintegrasi dengan apoteker sehingga secara tidak langsung apoteker dapat memonitoring dan mengevaluasi penggunaan obat pada terapi.Kata kunci: hipertensi, DRP, Ten-Shield, obat, apoteker.
REVIEW ARTIKEL: PERBEDAAN EMULSI DAN MIKROEMULSI PADA MINYAK NABATI YASARAH HISPRASTIN
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2887.55 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17424

Abstract

Minyak nabati telah secara luas digunakan sebagai sumber daya alam alternatif karena memiliki sifat yang tidak beracun dan terbarukan. Namun, karena viskositas yang tinggi, minyak nabati perlu dilakukan modifikasi sebelum digunakan atau diolah menjadi suatu produk. Minyak nabati banyak digunakan terutama dalam industri makanan yaitu dalam bentuk emulsi. Emulsi merupakan dasar dari banyaknya produk makanan yang beredar di pasaran tetapi secara termodinamik, emulsi adalah sistem yang tidak stabil pada waktu tertentu. Stabilitas emulsi sangat penting karena dapat mempengaruhi kualitas produknya. Sekarang ini, penggunaan emulsi telah dimodifikasi salah satunya menjadi mikroemulsi. Tujuan dari literatur review ini adalah untuk mengetahui perbedaan emulsi dan mikroemulsi serta memperkenalkan mikroemulsi sebagai alternatif untuk pengolahan produk minyak nabati. Teknologi mikroemulsi juga lebih ekonomis, efisien, dan meyakinkan dalam pengolahan minyak di industri.
REVIEW: POTENSI TETRADOTOKSIN SEBAGAI PENGGANTI ANESTESI LOKAL RUTH MICHELLEE PARDEDE; ADE ZUHROTUN
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2071.88 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i3.17766

Abstract

Tetradotoksin adalah neurotoksin yang larut dalam air dan stabil terhadap panas yang belum ada penawarnya. Tetradotoksin dapat ditemukan di biota laut seperti ikan buntal, kepiting, gurita cincin biru. Namun, tetradotoksin tidak disintesis secara langsung oleh hewan-hewan tersebut melainkan berasal dari lingkungan luar seperti bakteri. Review ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai tetradotoksin yang dapat digunakan sebagai anestesi lokal. Metode yang digunakan dengan studi literatur berupa buku, jurnal nasional dan jurnal internasional mengenai topik yang terkait. Tetradotoksin memiliki mekanisme sama seperti anestesi lokal yaitu dengan blokade ion natrium (Na+) sehingga tidak ada potensial aksi. Adanya reaksi-reaksi yang tidak diinginkan dari anestesi lokal yang biasa digunakan seperti alergi, mengantuk bahkan seizure membuat penggunaan tetradotoksin menjadi pertimbangansebagai kandidat penggantinya.
Efektivitas Lima Jenis Tanaman Obat sebagai Antivirus Influenza A (H1N1) secara In Vivo dan In Vitro: Artikel Review AMELIA SUCI PRAFITRI YANI; Anas Subarnas
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.371 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10898

Abstract

Artikel ini mengulas berbagai jenis tanaman yang memiliki aktivitas sebagai antivirus terhadap Influenza A (H1N1). Virus Influenza A (H1N1) merupakan penyakit influenza yang sangat parah jika dibandingkan dengan Influenza B dan C. Dalam pencegahan dan pengobatannya dilakukan dengan pemberian vaksinasi dan antivirus. Tetapi dalam penerapannya hal itu dibatasi, karena dapat terjadi mutasi virus sehingga timbul strain virus baru yang resisten dan tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, penggunaan antivirus herbal dari suatu ekstrak tanaman dijadikan sebagai solusi. Keunggulan antivirus herbal yaitu dapat menghambat replikasi virus, inaktivasi virus secara langsung, mengurangi resiko resistensi, dapat digunakan dengan dosis relatif rendah, memiliki efek sinergis, serta memiliki efek samping kecil sehingga relatif aman digunakan. Dalam artikel ini, telah diulas dalam bentuk tabel data mengenai lima jenis ekstrak tanaman yang mempunyai aktivitas sebagai antivirus herbal terhadap Influenza A (H1N1) yang telah diidentifikasi secara in vitro dan in vivo dalam pengujian biologis yang berbeda.Kata Kunci : Antivirus herbal, Influenza A (H1N1), Uji In vivo dan In vitro
ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN VAKSIN PNEUMONIA DI BERBAGAI NEGARA Fanny Seftiani Dwi Saputri; Nasrul Wathoni
Farmaka Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.047 KB) | DOI: 10.24198/jf.v18i1.22281

Abstract

Pnemonia adalah penyakit infeksi yang menyerang sistem pernafasan bawah akut disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumonia dan merupakan salah satu penyakit yang memiliki presentase besar menyebabkan kematian. Oleh karena itu, diperlukan upaya preventif  yang optimal yaitu dengan menggunakan vaksin pneumonia (Pneumococcal Conjugate Vaccine) yang diduga memiliki hasil cost-effective. Cost Effectiveness Analysis (CEA) merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui efektivitas biaya dari penggunaan vaksin pnemonia di beberapa negara. Berdasarkan lima studi literature berbagai negara yaitu Cina, Filipina, Malaysia, Turki, Korea, Paraguay, Kolombia, United Kingdom, Peru, Taiwan, Belanda dapat diketahui setiap vaksin menghasilkan efektivitas dan biaya yang berbeda setiap negara. Umumnya, vaksin pnemokokus dapat digunakan sebagai upaya preventif penyakit pneumoni yang cost effective.
REVIEW: PHARMACOLOGICAL ACTIVITY, ACTIVE COMPOUND CONTENT AND MECHANISM ACTION OF JARAK KEPYAR ( Ricinus Communis L.) DANI SUJANA; Ronny Lesmana; Anas Subarnas
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.122 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.16926

Abstract

REVIEW: AKTIVITAS IMMUNOMODULATOR TANAMAN SAMBILOTO (Andrographis paniculata Nees) Maulana Yusuf Alkandahri; Anas Subarnas; Afiat Berbudi
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.811 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i3.14237

Abstract

Artikel ini mengulas tentang aktivitas immunomodulator tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Nees.) yang digunakan sebagai terapi alternatif dalam meningkatkan sistem imunitas tubuh. Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) merupakan tanaman asli Indonesia yang banyak diteliti saat ini, terutama aktivitas immunomodulator yang dimilikinya. Aktivitas immunomodulator dari sambiloto ini disebabkan karena adanya kandungan senyawa aktif berupa deoxyandrographolide, andrographolide, 14-deoxy-11, neoandrographolide, 12- didehydroandrographolide, homoandrographolide, diterpenoid dan flavonoid yang terkandung di dalam sambiloto. Sebagai agen immunomodulator, sambiloto dapat digunakan sebagai immunostimulator yang meningkatkan respon imun saat kekebalan tubuh menurun, dan juga bisa menjadi imunosupresor yang dapat menurunkan respon kekebalan tubuh saat sistem kekebalan tubuh meningkat melebihi kondisi tubuh normal. Selain itu, sebagai immunomodulator, sambiloto juga mampu menormalkan kondisi tubuh meskipun terjadi infeksi.Kata kunci : Sambiloto, Andrographis paniculata Nees., Immunomodulator, Andrographolide
Artikel Review: Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak, Fraksi dan Isolat Rimpang Curcuma sp. Terhadap Beberapa Bakteri Patogen SILVIA PERMATA SARI; IMAM ADI WICAKSONO
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.468 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.10721

Abstract

Curcuma sp. rhizome is a species that is often encountered in the community. The content of the common and largest of the rhizome of Curcuma sp. is the essential oils, flavonoids (curcuminoid) and terpenoids. The third component provides antibacterial activity with a force that varies depending on the levels of components in the rhizome. Tests conducted on some species of bacteria include Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, and others. Testing method of antibacterial activity is conducted disc diffusion method and the method of paper (paper disk). While the review method used was a meta-analysis. Source of data used in the form of research journal downloaded online. Journal obtained is 20 pieces and sorted to obtain 15 journals that met the inclusion criteria. Curcuma sp. used is Curcuma xanthorriza, Curcuma domestica, Curcuma longa, Curcuma mangga, Curcuma zedoria and Curcuma heyneana have antibacterial activity against several pathogenic bacteria in the form of extracts, fractions or isolates.Keywords: Curcuma sp., Antibacterial, curcuminoid, flavonoids.
Pencarian Obat Berbasis Bahan Alam dalam Penanganan Ulkus Diabetikum ARIDA SAFIRA; Sriwidodo Sriwidodo
Farmaka Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3657.196 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i3.22007

Abstract

Ulkus diabetikum merupakan komplikasi serius dari penyakit diabetes. Prevalensi ulkus diabetikum di dunia sebesar 6,3%. Pasien dengan ulkus diabetikum menghabiskan biaya 4 kali lebih besar jika dibandingkan dengan pasien yang hanya menderita diabetes tanpa komplikasi ulkus. Dengan demikian perlu dilakukan pencarian alternatif pengobatan baru dengan harapan biaya yang dihabiskan lebih kecil, salah satunya adalah penggunaan obat tradisional atau biasa disebut herbal. Banyak penelitian yang telah dilakukan terhadap berbagai macam jenis herbal untuk penyembuhan ulkus, seperti aloe vera, madu, minyak zaitun, Astragali Radix dan Rehmanniae Radix, kiwi, Annona squamosa, dan kitosan. Artikel ini bertujuan untuk memberikan perkembangan terkini terkait obat herbal yang telah digunakan dalam penyembuhan ulkus diabetikum.
Aktivitas Antikanker Tanaman Rumput Lidah Ular (Hedyotis difussa Wild): Review Yonahar Mas'ula; Arif Satria Wira Kusuma
Farmaka Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.503 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i3.14738

Abstract

AbstrakKanker merupakan penyakit yang mengancam kehidupan manusia. Besarnya efek samping obat sintetik pada pengobatan kanker menjadi latar belakang munculnya berbagai penelitian untuk mencari alternatif obat antikanker yang berasal dari herbal, yang diketahui memiliki efek samping yang lebih kecil. Rumput lidah ular (Hedyotis difussa Wild) telah dikenal sebagai obat tradisional Cina yang memiliki potensi sebagai alternatif antikanker. Aktivitas antikanker rumput lidah ular diamati pada lima jenis sel lini kanker manusia yaitu sel HT-29, sel Hep-3B, sel Hep-G2, sel MCF-7 dan sel Human umbilical vein endothelial cell (HUVEC). Hasil menunjukkan bahwa rumput lidah ular dapat menginduksi apoptosis sel kanker dengan cara menginduksi aktivasi caspases, menghambat proliferasi sel dan mengatur regulasi ekspresi mRNA Bcl-2, Proliferating cell nuclear antigen (PCNA), Cyclin D1, Cyclin-dependent kinase 4 (CDK4) dan p21.Kata kunci: Antikanker, Rumput lidah ular, Apoptosis, Proliferasi sel

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue