cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
REVIEW ARTIKEL: KAJIAN ETNOBOTANI, FITOKIMIA, DAN AKTIVITAS FARMAKOLOGI FAMILY PANDANACEAE Nadiya, Nadiya; Kharina, Dhea Olga; Sari, Nadila Ambar; Dirgantara, Septriyanto
Farmaka Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v23i3.65980

Abstract

Genus Pandanus dan Sararanga merupakan anggota penting dari famili Pandanaceae yang banyak ditemukan di wilayah tropis, terutama Indonesia bagian timur seperti Papua dan Maluku. Tumbuhan dari kedua genus ini telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai bahan pangan, obat tradisional, dan dalam praktik budaya lokal. Studi ini bertujuan untuk meninjau potensi farmakologi dan kandungan senyawa aktif dari beberapa spesies utama seperti Pandanus amaryllifolius, Pandanus tectorius, Pandanus conoideus, Pandanus julianettii, dan Sararanga sinuosa. Metode yang digunakan adalah telaah literatur dari jurnal nasional dan internasional yang diperoleh melalui DOAJ, Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect. Dari total 105 jurnal yang ditemukan, sebanyak 42 jurnal yang relevan digunakan dalam analisis akhir. Hasil telaah menunjukkan bahwa genus ini memiliki beragam aktivitas farmakologi seperti antioksidan, antidiabetik, antiinflamasi, antivirus, antibakteri, antiglikasi, dan hipolipidemik. Senyawa bioaktif yang telah diisolasi meliputi flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, triterpenoid, steroid, fenolat, dan karotenoid. Khususnya, Pandanus julianettii dan Sararanga sinuosa menunjukkan potensi farmakologis yang menjanjikan, namun masih terbatas bukti ilmiahnya. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut yang mendalam dan terstandar untuk mengeksplorasi manfaat terapeutik dari kedua spesies tersebut secara lebih komprehensif.
Tata Cara Sertifikasi Pemenuhan Aspek Obat Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) secara Bertahap dalam Rangka Menjamin Mutu dan Keamanan Obat Bahan Alam di Jawa Barat Soewahju, Renata Bella; Husni, Patihul; Firmansyah, Firmansyah
Farmaka Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v23i3.69009

Abstract

Undang-Undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menjelaskan bahwasanya obat bahan alam hanya dapat diedarkan setelah memperoleh izin edar. Penerapan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) menjadi standar penting guna memberikan jaminan mutu dan keamanan produk. Namun, keterbatasan sumber daya pada Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT) maupun Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT) kerap menjadi hambatan dalam pemenuhan CPOTB secara menyeluruh. Untuk mendukung kesiapan pelaku usaha, BPOM menerapkan Sertifikasi Pemenuhan Aspek (SPA) CPOTB secara Bertahap. Artikel ini bertujuan memberikan gambaran mengenai persyaratan dan tahapan pengajuan SPA CPOTB secara Bertahap serta implementasinya di wilayah Jawa Barat melalui peran BBPOM Bandung. Metode penulisan menggunakan studi literatur dan penelusuran regulasi terkait sertifikasi. Permohonan diajukan melalui sistem OSS-RBA yang telah tersambung dengan e-sertifikasi BPOM dengan estimasi waktu proses sekitar 40 hari kerja. Sertifikat memiliki jangka waktu berlaku tiga tahun dengan opsi perpanjangan maksimal dua kali. Dengan pemahaman prosedur dan persyaratan yang tepat, UKOT dan UMOT diharapkan dapat melakukan proses sertifikasi lebih efektif dan efisien.
REVIEW: EFEKTIVITAS KOMBINASI Andrographis paniculata DENGAN TANAMAN HERBAL LAIN DALAM PENANGANAN PENYAKIT DIABETES MELLITUS TIPE 2 BERDASARKAN UJI IN VIVO Anandawijaya, Spica Diani; Indradi, Raden Bayu
Farmaka Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v23i3.66063

Abstract

Diabetes mellitus menjadi penyakit kronis yang umum dijumpai di masyarakat, terutama diabetes mellitus tipe 2 (DMT2). DMT2 dikarakterisasi dengan defisiensi insulin akibat ketidakmampuan tubuh dalam kompensasi kebutuhan insulin karena defisiensi insulin. Saat ini pengobatan terfokus pada obat-obatan sintetis, yang diketahui memberikan efek samping berbahaya terutama untuk penggunaan jangka panjang. Oleh karena itu, eksplorasi terkait potensi komponen zat aktif tanaman terhadap aktivitas antidiabetes menjadi suatu ketertarikan. Salah satunya adalah Andrographis paniculata yang juga dikenal sebagai sambiloto. Kombinasi A. paniculata dengan tanaman herbal lain diketahui memiliki efek penurunan glukosa darah lebih baik dibandingkan dengan ekstrak tunggal A. paniculata. Artikel ini dibuat untuk meninjau aktivitas antidiabetes kombinasi A. paniculata yang dilakukan dengan uji in vivo untuk mencari kombinasi tanaman A. paniculata dan tanaman herbal lain yang optimal menurunkan kadar glukosa darah. Peninjauan komprehensif dilakukan terhadap jurnal dari database dengan kata kunci pencarian untuk artikel Bahasa Indonesia “Andrographis paniculata, Tanaman Herbal, Hiperglikemia, Diabetes Mellitus, dan In Vivo” dan untuk artikel Bahasa Inggris “Andrographis paniculata, Herbal Plant, Hyperglycemia, Diabetes Mellitus, dan In vivo”. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak A. paniculata bersama dengan ekstrak tanaman herbal lain memberikan aktivitas antidiabetes yang lebih baik dibandingkan dengan ekstrak tunggal A. paniculata.
Implementasi Sertifikasi Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) Dalam Menjamin Mutu Obat pada Sarana Distribusi di Jawa Barat Noor Silmi Hermawan Ayodduki, Zahra; Agung Fitri Kusuma, Sri; Susanti, Marina
Farmaka Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v23i3.68985

Abstract

Obat merupakan komoditas kesehatan yang harus terjamin keamanan, efektivitas, dan mutunya sejak proses produksi hingga pendistribusian kepada masyarakat. Tahapan distribusi memegang peranan penting dalam menjaga mutu obat karena ketidaksesuaian pengelolaan pada tahap ini berpotensi menurunkan mutu dan efektivitas obat. Pedagang Besar Farmasi (PBF) sebagai sarana distribusi yang berwenang melakukan pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran obat dalam jumlah besar wajib menerapkan standar Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB). Penerapan CDOB bertujuan untuk menjamin mutu obat selama proses distribusi dan dibuktikan melalui kepemilikan sertifikat CDOB. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Bandung sebagai Unit Pelaksana Teknis Badan POM berperan dalam melaksanakan pelayanan sertifikasi CDOB bagi PBF di wilayah kerjanya. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tahapan sertifikasi CDOB serta perannya dalam mendukung penjaminan mutu obat selama pendistribusian di Jawa Barat. Artikel ini disusun berdasarkan studi literatur terhadap berbagai referensi ilmiah dan regulasi terkait CDOB. Proses sertifikasi CDOB meliputi pendaftaran pemohon, pengajuan permohonan, evaluasi dokumen, pembayaran, pemeriksaan sarana, pelaksanaan Corrective and Preventive Action (CAPA), hingga penerbitan sertifikat CDOB. Penerapan sertifikasi CDOB yang dilaksanakan secara terstruktur dan sesuai ketentuan berkontribusi dalam memperkuat sistem penjaminan mutu distribusi obat oleh PBF sehingga mutu obat selama pendistribusian dapat tetap terjaga.

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue