cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
Review Jurnal Formulasi Krim Antioksidan Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val) untuk Anti Aging Nadia Ariati Mutiana; Iyan Sopyan
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (22.049 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i3.17423

Abstract

Rimpang kunyit (Curcuma domestica Val) diketahui memiliki kurkumin yang bisa digunakan sebagai antioksidan. Sebagai antioksidan, ekstrak kunyit dapat digunakan untuk menghindari radikal bebas dan sebagai anti-aging. Review artikel kali ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang metode pembuatan formulasi sediaan krim anti-aging yang didalamnya terkandung ekstrak rimpang kunyit. Metode ini dimulai dari mengetahui pembuatan ekstrak kunyit, pembuatan krim ekstrak kunyit, dan dilanjutkan pada tahap pengujian krim. Dalam penelitian ini krim ekstrak rimpang kunyit mempunyai nilai IC50 <50 ppm hal ini dapat dinyatakan bahwa krim ini memiliki aktivitas antioksidan berkekuatan sangat kuat. Krim yang boleh digunakan harus memiliki syarat formulasi diantaranya aman, efektif, dan memiliki efek yang baik. Dalam penggunaan krim ekstrak rimpang kunyit didapatkan hasil  dapat menyamarkan kerutan kulit, hidrasi, kandungan melanin, elastisitas biologis, dan viskoelastisitas pada minggu 3 hingga minggu ke 8.  Kata kunci: Rimpang kunyit, antioksidan, anti-aging, krim
Kultur Sel IKA KHUMAIROH; Irma M. Puspitasari
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.622 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10810

Abstract

Penelitian menggunakan kultur sel saat ini banyak dilakukan. Kultur sel merupakan proses penghilangan atau perpindahan sel dari manusia, hewan, atau tanaman ke dalam medium terkontrol yang sesuai untuk menumbuhkan sel tersebut. Kultur sel biasanya digunakan untuk pengujian yang tidak mudah dilakukan secara in vivo. Oleh karena itu, pada artikel ini akan dijelaskan mengenai definisi kultur sel, keuntungan kultur sel, keterbatasan kultur sel, perbedaan finite cell line dan continous cell line, kondisi pada saat kultur sel, morfologi sel pada kultur sel, serta aplikasi kultur sel. Metode yang digunakan adalah penelusuran pustaka dari mesin pencari Google dan PubMed Electronic Database. Dari hasil penelusuran pustaka ini, diperoleh hasil mengenai definisi kultur sel, keuntungan kultur sel, kerugian kultur sel, perbedaan finite cell line dan continous cell line, kondisi pada saat kultur sel, morfologi sel pada kultur sel meliputi sel fibroblast, sel epitel, dan sel limfoblast, serta aplikasi atau penerapan kultur sel dalam penelitian.Kata Kunci : kultur sel, cell line, in vitro.
KANDUNGAN METABOLIT SEKUNDER DAN AKTIVITAS SENYAWA BIOAKTIF TUMBUHAN MANGROVE PEREPAT (Sonneratia alba) Rizqa Nurul Aulia; Rr Sulistiyaningsih
Farmaka Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.321 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i3.25902

Abstract

ABSTRAK Sonneratia alba merupakan salah satu spesies dari tumbuhan mangrove yang tumbuh di Indonesia. Sonneratia alba memiliki usur-unsur kimia metabolit sekunder dan senyawa bioaktif yang memiliki berbagai macam aktivitas yang bermanfaat. Senyawa-senyawa bioaktif dari tumbuhan Sonneratia alba diidentifikasi dari berbagai bagian tanaman seperti daun, akar, batang dan buah. Hasil dari beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan adanya berbagai kandungan senyawa bioaktif dan metabolit sekunder. Metabolit sekunder yang didapatkan antara lain fenolat, triterpenoid, flavonoid, saponin, tannin, alkaloid, sterol, gamma linolenic acid, asam oleanic dan polisakarida yang juga memiliki aktivitas senyawa bioaktif yang umumnya sebagai antioksidan dan antibakteri, namun terdapat aktivitas senyawa bioaktif lain seperti antikolesterol, anti diabetic bahkan anti kanker. Kandungan metabolit sekunder dan aktivitas senyawa bioaktif dari S.alba dapat sangat bermanfaat bahkan untuk perkembangan pembuatan obat baru.Kata kunci : Sonneratia alba, meabolit sekunder, senyawa bioaktif ABSTRACTSonneratia alba is a species of mangrove plant that grows in Indonesia. Sonneratia alba has the chemical elements of secondary metabolites and bioactive compounds that have a variety of useful activities. Bioactive compounds from the Sonneratia alba plant are identified from various plant parts such as leaves, roots, stems and fruit. The results of several studies that have been carried out indicate the presence of various bioactive compounds and secondary metabolites. Secondary metabolites obtained include phenolics, triterpenoids, flavonoids, saponins, tannins, alkaloids, sterols, gamma linolenic acid, oleanic acid and polysaccharides which also have activity of bioactive compounds which are generally antioxidants and antibacterial, but there are other bioactive compounds such as anti-cholesterol, anti-diabetic and even anti-cancer. The content of secondary metabolites and the activity of bioactive compounds from S.alba can be very useful even for the development of making new drugs.Keywords : Sonneratia alba, secondary metabolites, bioactive compounds
Efektivitas Beberapa Jenis Tanaman Sebagai Antivirus Flu Burung (Avian Influenza) NUR ALFI KUSUMAH DEWI; ANAS SUBARNAS
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.923 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.11077

Abstract

AbstrakArtikel ini mengulas tentang efektivitas senyawa obat yang diambil dari beberapa jenis tanaman sebagai obat antivirus Flu Burung yaitu Tapak Liman (Elephantopus scaber L), Jahe Merah (Zingiber officinale Roscoe), The sea grass (T. Ciliatum), Fortunella margarita Lour, Eugenia jambolana Lam dan Capparis sinaica Veill. Metode yang digunakan umumnya menggunakan ekstraksi tanaman kemudian mengisolasi senyawa aktifnya. Target dari senyawa aktif yang diisolasi adalah menghambat proses replikasi virus Flu Burung ( Avian influenza ). Dalam artikel ini data – data mengenai senyawa aktif dikumpulkan untuk mengetahui keefektifannya dalam menghambat proses replikasi virus Flu Burung.Kata kunci: Flu Burung, Elephantopus scaber L, Jahe Merah (Zingiber officinale Roscoe), T. Ciliatum, Fortunella margarita L. , Eugenia jambolana L. dan Capparis sinaica VeillAbstractThis article reviews the effectiveness of drug compounds derived from several types of plants as Avian Influenza antiviral drugs are Tapak Liman (Elephantopus scaber L), Red Ginger (Zingiber officinale Roscoe), The sea grass (T. ciliatum), Fortunella margarita Lour, Eugenia jambolana Lam and Capparis sinaica Veill. The methods generally used extraction plant and then isolating the active compound. The target of the active compound isolated is to inhibit viral replication Avian Influenza process. In this article the collected data on the active compound to determine its effectiveness in inhibiting the replication of avian influenza virus.Keywords : Avian influenza, Elephantopus scaber L, Jahe Merah (Zingiber officinale Roscoe), T. Ciliatum, Fortunella margarita L. , Eugenia jambolana L. dan Capparis sinaica Veill
METODE PENAMBAHAN SURFAKTAN SEBAGAI SUBSTRAT PG-P UNTUK MENINGKATKAN KELARUTAN OBAT LIPOFILIK : ARTICLE REVIEW Amira Nur Hasanah; Taofik Rusdiana
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (716.356 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17620

Abstract

Saat ini, pengembangan obat berkembang cepat dan terus dilakukan. Salah satu permasalahan formulasi yang mempengaruhi efektivitas obat adalah kelarutan, terutama pada obat dengan kelarutan rendah. Obat-obat yang termasuk BCS kelas II mempunyai sifat permeabilitas tinggi dengan kelarutan rendah karena termasuk obat lipofilik. Metode yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan adalah penambahan surfaktan sebagai substrat p-glikoprotein. Tujuan formulasi tersebut adalah mendapatkan bioavailabilitas untuk mencapai efek terapetik. Penambahan surfaktan sudah dibuat dalam berbagai bentuk sediaan, seperti nanokristal, granul, mikroemulsi, dan lain-lain. Hasil dari berbagai penambahan surfaktan dan bentuk sediaan tersebut berfungsi sebagai substrat p-glikoprotein sehingga kelarutan obat lipofilik meningkat dan bioavailabilitasnya menjadi lebih baik. Kata Kunci: surfaktan, BCS kelas II, kelarutan.
PENELUSURAN ANTIBAKTERI EKSOSIMBION BAKTERI LAUT PADA MAKROALGA TERHADAP BIOFILM Staphylococcus aureus ATCC 25923 sri agung fitri kusuma; Untung Kurnia Agung; Josi Meka
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.09 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.8501

Abstract

Kemampuan Staphylococcus aureus dalam membentuk biofilm dapat meningkatkan sifat virulensi dan resistensinya terhadap antibiotik yang selama ini efektif digunakan. Penemuan kandidat antibakteri terhadap biofilm tersebut dapat menjadi solusi untuk mengatasi infeksi S.aureus. Bakteri yang bersimbiosis dengan makroalga telah diketahui menghasilkan senyawa antibiotik terhadap bakteri patogen. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh isolat bakteri eksosimbion makroalga yang mengandung produk ekstrasel yang dapat bekerja sebagai antibakteri terhadap biofilm S.aureus. Tahapan metode yang dilakukan adalah pengambilan dan determinasi bahan makroalga yang diperoleh dari Pantai Santolo, Kab.Garut,  isolasi dan pemurnian bakteri eksosimbion pada makroalga dengan metode pulas, isolasi produk ekstrasel bakteri dengan metode sentrifugasi, skrining aktivitas antibakteri terhadap S.aureus plankton dengan metode difusi agar dan terhadap biofilm menggunakan metode turbidimetri dengan pewarnaan kristal violet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari tiga jenis makroalga, diperoleh 17 isolat koloni tunggal yang memiliki warna dan morfologi koloni yang berbeda. Dari 17 isolat tersebut diperoleh lima isolat koloni, yaitu isolat 9,10,11,12,dan 13, yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap S.aureus ATCC 25923 plankton dan satu isolat koloni, yaitu isolat 9, yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bentuk biofilmnya.
REVIEW ARTIKEL: AKTIVITAS ANDROGRAPHOLIDA DAN SENYAWA TURUNANNYA DARI TANAMAN SAMBILOTO (Andrographis paniculata) SEBAGAI ANTIHIPERLIPIDEMIA Dinda Nur Afra; Yoppi Iskandar
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.105 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.21869

Abstract

Sambiloto (Andrographis paniculata) merupakan salah satu tanaman bahan obat yang sudah lama dimanfaatkan untuk beberapa masalah kesehatan. Andrographis paniculata memiliki senyawa aktif andrographolida yang dikenal memiliki aktivitas anti-inflamasi dan kini diketahui juga memiliki aktivitas antihiperlipidemia. Tujuan dilakukan review ini adalah untuk mengetahui aktivitas andrographolida dan senyawa turunannya sebagai antihiperlipidemia. Dosis efektif andrographolida sebagai antihiperlipidemia yang di uji pada mencit dan tikus adalah 50-100 mg/kg dan dapat menurunkan kadar Low Density Lipoprotein (LDL) hingga 36%.Kata kunci: Andrographis paniculata, andrographolida dan antihiperlipidemia.
REVIEW ARTIKEL : PENGGUNAAN TEKNOLOGI NANO PADA FORMULASI OBAT HERBAL BERLIAN HANUTAMI N.P.; Arif Budiman
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.221 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12947

Abstract

Abstrak Penggunaan obat herbal dalam beberapa waktu terakhir mulai meningkat di dunia khususnya di berbagai negara seperti Indonesia, China dan India. Penggunaan obat herbal mengalami peningkatan karena memiliki efek farmakologi hampir pada semua penyakit dengan efek samping yang ringan. Permasalahan umum dalam obat herbal yaitu bioavailabilitas,  kelarutan, absorbsi zat aktif dan stabilitas yang rendah . Untuk mengatasi permasalahan ini maka dilakukan pengembangan terhadap teknologi yang digunakan untuk formulasi obat herbal. Salah satu contoh yaitu teknologi nano. Teknologi nano adalah suatu teknologi dimana partikel obat dibuat dalam skala nano (10 nm – 1000nm). Penggunaan teknologi nano diharapkan dapat mengatasi masalah dalam obat herbal serta meningkatkan efek terapi dan mengurangi toksisitas. Contoh teknologi nano yang dapat digunakan yaitu polimer nanopartikel, solid lipid nanopartikel, magnetik nanopartikel dan lain-lain. Teknologi nano dibuat dengan meggunakan metode preparasi yang cocok untuk setiap jenis obat herbal. Kata Kunci: Teknologi Nano, Obat Herbal, Formulasi, Bioavailabilitas
REVIEW ARTIKEL : Manajemen Terapi Demam Tifoid : Kajian Terapi Farmakologis dan Non Farmakologis Vani Rahmasari; Keri Lestari
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.558 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17445

Abstract

Demam tifoid adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Penderita demam tifoid di Indonesia mencapai 81% per 100.000. Demam tifoid dapat diberikan terapi farmakologis maupun non farmakologis yang bertujuan untuk mempercepat penyembuhan, meminimalkan komplikasi sekaligus untuk mencegah penyebaran penyakit. Metode yang digunakan dalam pengerjaan literatur review ini adalah studi literatur yang bersumber dari jurnal, e-book, dan artikel ilmiah nasional maupun internasional dengan tahun terbit maksimal 5 tahun terakhir. Terapi farmakologis yang dapat diberikan pada penderita demam tifoid yaitu terapi antibiotik seperti penggunaan Ciprofloxacin, Cefixime, Kloramfenikol, Tiamfenikol, Azitromisin, Ceftriaxone dan terapi kortikosteroid seperti penggunaan Dexametasone. Namun, perlu diperhatikan dalam penggunaan antibiotik maupun kortikosteroid dalam pengobatan demam tifoid. Penggunaan secara sembarangan menyebabkan peningkatan kejadian demam tifoid yang resistensi terhadap antibiotik maupun timbulnya efek samping terhadap antibiotik maupun kortikosteroid yang justru memperburuk kondisi penderita demam tifoid.Terapi non farmakologis untuk demam tifoid yaitu tirah baring, diet lunak rendah serat serta menjaga kebersihan. Kajian terapi farmakologis diperlukan dalam pemilihan jenis obat  yang akan sangat menentukan kualitas penggunaan obat dalam pemilihan terapi dan kajian non farmakologis diperlukan untuk mendukung keberhasilan terapi.Kata Kunci : Demam tifoid, terapi farmakologis, terapi non farmakologis
MUTASI PADA PENYAKIT PHENYLKETONURIA (PKU) Rani Rubiyanti
Farmaka Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.164 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i1.19009

Abstract

Phenylketonuria (PKU) merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh adanya gangguan genetik karena ketidakmampuan metabolisme suatu enzim fenilalanin hidroksilase (PAH). Enzim ini tidak dapat bekerja karena adanya mutasi pada kromosom 12. Gen yang mempengaruhi penyakit fenilketonuria diketahui mencapai ratusan gen. Terdapat mutasi yang mempengaruhi dalam pengobatan menggunakan saptopterin, yaitu dua mutasi digolongkan sebagai mutasi yang memiliki respon, yaitu V245A dan E390G. Epat mutasi digolongkan sebagai mutasi potensial  yaitu F39L, D415N, R158Q, dan I65T dan tiga mutasi tidak konsisten yaitu Y414C, L48S, dan R261QKata Kunci : Phenylketonuria, Fenilalanin Hidroksilase, Mutasi Kromosom

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue