cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
LONG-CIRCULATING NANOPARTIKEL MENGGUNAKAN POLIMER PLGA (Poly-Lactic-co-Glicolyc Acid) DAN POLOXAMER Yuli Agung Prasetyo; PATIHUL HUSNI; Soraya Ratnawulan Mita
Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.379 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i1.13322

Abstract

Nanopartikel yang memiliki kemampuan bersirkulasi lama dalam aliran darah merupakan hal yang penting untuk meningkatkan interaksi nanopartikel dengan sel yang terinfeksi. nanopartikel berbasis polimer PLGA sering digunakan sebagai karier yang efektif untuk penghantaran obat ke dalam sel.  Nanopartikel PLGA mudah dikenali oleh sistem imun tubuh dan kemudian dieliminasi dari sistem sirkulasi. Hal ini disebabkan oleh nanopartikel PLGA bersifat hidrofob sehingga dapat terjadi opsonisasi dan nanopartikel dieliminasi oleh makrofag (reticuloendothelial system/RES). Modifikasi permukaan nanopartikel PLGA dengan polimer hidrofilik seperti poloxamer dilakukan untuk mencegah opsonisasi sehingga nanopartikel dapat bersirkulasi lama.Kata kunci: Nanopartikel, PLGA, poloxamer
FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN GRANUL EFFERVESCENT DAN SEDIAAN TABLET DENGAN METODE GRANULASI BASAH SHARIMINA VENU GOPALAN
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.13 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17353

Abstract

Dalam penelitian pertama, digunakan tanaman herbal Calliandra haematocephala (Fabaceae) yang berguna sebagai anti-oksidan, antiinflamasi, imunomodulator, antikonvulsan, antiulcerogenik dan juga antibakter. Daun kering serbuk tanaman diekstraksi dan dilakukan pendahuluan tes kimia. Kemudian diformulasikan ke dalam butiran-butiran halus dan kemudian dievaluasi untuk berbagai parameter seperti sudut istirahat, studi pembubaran, dan waktu berhentinya efervesen. Pendahuluan studi kimia menunjukkan bahwa ekstrak mengandung karbohidrat, alkaloid, flavonoid, glikosida dan protein. Diformulasikan granul effervescent menunjukkan sifat aliran yang sangat baik yang menunjukkan sudut istirahat yang baik, indeks Carr, rasio Hausner, jumlah besar kepadatan dan kerapatan yang disadap. Fenofibrate adalah obat dari kelas fibrat yang  digunakan untuk mengurangi  kadar kolesterol pada pasien yang berisiko penyakit kardiovaskular. Dalam penelitian ini, tablet fenofibrate  disiapkan dengan metode granulasi basah menggunakan sodium lauryl sulfate (SLS) dan Povidone k-30 sebagai agen pengikat dengan berbagai konsentrasi dan dievaluasi untuk keseragaman berat, kerapuhan, kekerasan, ketebalan, disintegrasi dan pembubaran. Di antara formulasi ini Feno1 telah menunjukkan pelepasan yang lebih baik dari Feno2 dan Feno3.
EFEKTIVITAS KECOMBRANG (Etlingera elatior) dan KUNYIT (Curcuma longa L) SEBAGAI ANTIOKSIDAN DAN ANTIINFLAMASI WENNI H.P PAKPAHAN; Dika Paramita Destiani
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2859.04 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i3.17746

Abstract

Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menetralisir potensi kerusakan yng disebabkan oleh radikal bebas, sedangkan antiinflamasi merupakan senyawa yang dapat menekan inflamasi yang disebabkan oleh stress oksidatif berlebih. Penggunaan antioksidan dan antiinflamasi secara sintesis sudah umum digunakan dalam pengobatan berbagai penyakit degeneratif, namun memberikan efek samping pada penggunanya. Sehingga dikembangkan antioksidan dan antiinflamasi alami yang berasal dari tumbuhan. Studi kali ini membahas efektifitas dari tumbuhan kecombrang dan kunyit yang dibandingkan dengan antioksidan dan antiinflamasi sintesis berdasarkan hasil riview dari beberapa jurnal penelitian. Efektivitas antioksidan yang paling baik ditunjukkan oleh kecombrang pada bagian daunnya dibanding kunyit, vitamin A dan vitamin C. Sedangkan efektivitas anti-inflamasi yang baik ditunjukkan oleh rimpang kunyit dengan kurkumin sebagai senyawa fitokimia yang berperan penting.Kata Kunci : Antioksidan, Antiinflamasi, Kecombrang, Kunyit
Review: Teknik Isolasi dan Identifikasi Kurkuminoid dalam Curcuma longa DHITA DWI PRICILIA; Nyi Mekar Saptarini
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.158 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10872

Abstract

ABSTRAKIsolasi dan identifikasi senyawa kurkuminoid telah dilakukan pada tanaman yang termasuk genus Curcuma, termasuk Curcuma longa L (kunyit). Senyawa kurkuminoid memiliki banyak aktivitas terapeutik, seperti antioksidan, anti-inflamasi, dan antikarsinogenik. Proses isolasi dan identifikasi menggunakan variasi metode yang berbeda. Review ini bertujuan untuk membandingkan metode isolasi dan identifikasi yang paling efisien, mudah, sederhana, dan murah. Metode yang digunakan adalah studi pustaka primer penelusuran jurnal yang membahas isolasi kurkuminoid dalam rimpang kunyit, kemudian membandingkan metode yang dipakai. Metode yang paling efisien adalah metode ekstraksi menggunakan alat soxhlet dengan  pelarut aseton, fraksinasi dengan kromatografi kolom, isolasi dan identifikasi menggunakan spektrofotometer UV-Vis didapat kurkuminoid dengan kadar 84% pada fraksi no 1-31. Kata Kunci : Curcuma longa, kurkuminoid, isolasi, identifikasi
PRODUKSI ENZIM METIONIN GAMMA-LYASE (MGL) SEBAGAI ANTIKANKER DAN PENGEMBANGAN KEJU DENGAN TEKNOLOGI DNA REKOMBINAN Reza Laila Najmi; Tina Rostinawati
Farmaka Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.718 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i1.22278

Abstract

Metionin gamma-lyase (MGL) adalah enzim yang mendegradasi asam amino yang mengandung belerang yang berperan dalam proses biologis . Enzim MGL ditemukan di beberapa bakteri anaerob, protozoa parasite, dan tumbuhan. MGL telah digunakan dan dikembangkan untuk kebutuhan terapetik terutama sebagai antikanker dan pengembangan keju dengan cara teknologi DNA rekombinan. Pengujian dilakukan dengan elektroforesis atau SDS PAGE dengan memisahkan DNA berdasarkan massa molekular . 
APLIKASI KOLOM MONOLITIK DALAM ANALISIS FARMASI: REVIEW FIRDHA SENJA MAELANINGSIH; Akhmad Sobarudin; Aliya Nur Hasanah
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.514 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17041

Abstract

Kolom monolitik dapat menggantikan kolom partikel yang saat ini ada di pasaran. Kolom ini dibuat dengan cara polimerisasi in situ, memiliki beberapa keunggulan antara lain, permeabilitas yang lebih tinggi, tekanan balik rendah, ketahanan aliran yang lebih rendah, resolusi dan pemisahan yang lebih baik dengan waktu pemisahan yang relatif lebih singkat dibandingkan dengan kolom partikel biasa. Kelemahan kolom yang ada di pasaran yaitu membutuhkan fase gerak yang cukup banyak, oleh karena itu kolom monolit dengan diameter dalam yang lebih kecil dapat mengatasi masalah tersebut. Kolom monolit berpotensi digunakan sebagai fase diam untuk pemisahan dan analisis obat dalam campuran yang kompleks. Dalam review ini dibahas perkembangan terbaru aplikasi kolom monolitik untuk pemisahan dan analisis farmasi.
POTENSI TUMBUHAN SEBAGAI WHITENING AGENT MUFIDAH MAWADDAH; Yasmiwar Susilawati
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.171 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17661

Abstract

Biomarker Penyakit Sindrom Nefrotik Resisten Steroid : Review QISTY AHLA DZIKRY AL HASIMY; Insan Sunan Kurniawansyah
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.633 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.10599

Abstract

Sindrom nefrotik idiopatik merupakan penyakit glomerulus dan umumnya terjadi pada anak, Penyakit ini ditandai dengan proteinuria, hipoalbuminemia, hiperlipidemia dan edema. Steroid resistance nephrotic syndrome (SRNS)  sangat sulit dibedakan dengan sensitive steroid nephrotic syndrom (SSNS). Dibutuhkan biomarker khusus seperti urinary vitamin D-binding protein (uVDBP), soluble urokinase-type plasminogen activator receptor (sUPAR), urinary N-acetyl-beta-D glucosaminidase (uNAG), dan fractional excretion of magnesium (FE Mg). Dari keempat penelitian masing-masing biomarker dapat ditarik kesimpulan bahwa keempat biomarker belum bisa dijadikan sebagai standar biomarker untuk SRNS dikarenakan belum tervalidasinya biomarker, walaupun memiliki hasil yang signifikan.
PERBANDINGAN METODE ANALISIS INSTRUMEN HPLC DAN UHPLC : ARTICLE REVIEW Safira Annissa; Ida Musfiroh; Lina Indriati
Farmaka Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.444 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i3.21894

Abstract

AbstrakSaat ini, sebagian besar metode analisis obat yang direkomendasikan oleh Farmakope didasarkan pada teknik kromatografi. High Performance Liquid Chromatography (HPLC) adalah teknik kromatografi cair (LC) yang penting dan sering digunakan untuk pemisahan berbagai komponen dalam campuran.  Tujuan penggunaan HPLC adalah memisahkan molekul dalam waktu minimum. Karena berbagai alasan kekurangan dari metode HPLC, dewasa ini muncul suatu instrumentasi yang disebut sebagai UHPLC (Ultra High Performance Liquid Chromatograph) yang menawarkan efisiensi tinggi dalam analisis. UHPLC mencakup pemisahan LC menggunakan kolom yang mengandung partikel yang lebih kecil dari ukuran 2,5-5-µm yang biasanya digunakan dalam HPLC. Salah satu manfaat yang ditawarkan dalam  sistem UHPLC adalah efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan HPLC. Artikel ini akan mereview beberapa jurnal penelitian dengan mengulas penggunaan metode UHPLC dan HPLC serta menelusuri keuntungan dan kerugian dari kedua metode ini. Metode yang digunakan adalah review dari beberapa jurnal penelitian terkait. Peneliti menggunakan sumber data primer yang dilakukan mengunakan instrumen search engine online seperti Google, Google Scholar, Pubmed, Science Direct sebagai sumber informasi dan data dalam artikel review ini. Hasil yang diperoleh adalah analisis menggunakan metode UHPLC terbukti dapat meningkatkan efiensi dibandingkan dengan metode konvensional HPLC. Efisensi tersebut berupa penurunan waktu analisis, jumlah sampel dan fase gerak yang dibutuhkan, serta biaya. Selain itu, keuntungan dari metode UHPLC adalah peningkatan sensitivitas yang ditunjukkan dengan penurunan nilai LOD dan LOQ dibandingkan degan metode HPLC konvensional.Kata kunci : HPLC, UHPLC, Efisiensi
SMART INSULIN PATCH: INOVASI SISTEM PENGHANTARAN INSULIN TRANSDERMAL ASTRI SULASTRI; Patihul Husni
Farmaka Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.554 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i4.14638

Abstract

Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolik kronik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah. Sebagian besar pasien diabetes diresepkan insulin dengan alasan karena tubuh mereka tidak mampu memproduksi insulin (diabetes tipe 1) atau insulin yang dihasilkan tidak sensitif (diabetes tipe 2). Masalah pada terapi insulin timbul akibat injeksi berulang setiap hari dan pengambilan sampel darah yang mengakibatkan rasa sakit serta timbul trauma atau kerusakan pada kulit sehingga sulit untuk mencapai rejimen pengobatan yang optimal. Kepatuhan terhadap rejimen pengobatan cenderung lebih tinggi jika prosedurnya sederhana dan tidak menimbulkan rasa sakit. Olehkarena itu, dikembangkan smart insulin patch sebagai alternatif strategi pengobatan pada pasien diabetes dengan menerapkan teknologi microneedle untuk meningkatkan penghantaran insulin transdermal dan mengoptimalkan efek terapi. Teknologi microneedle menjadi pilihan yang memungkinkan untuk meningkatkan kontrol glikemik karena prosedurnya sederhana, tidak menimbulkan rasa sakit dan dapat meningkatkan kepatuhan pasien terhadap rejimen pengobatan.Kata kunci: diabetes mellitus, microneedle, smart insulin patch  

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue