cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
HUBUNGAN TEKANAN DARAH TERHADAP KADAR SERUM KREATININ DINA SOFA ISTIFADA
Farmaka Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.65 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i1.15178

Abstract

Kreatinin adalah bahan ampas dalam darah yang dihasilkan oleh penguraian sel otot secara normal selama beraktivitas.  Bila ginjal tidak bekerja normal, kreatinin akan bertumpuk dalam darah dan mengakibatkan tingginya kadar kreatinin dalam tubuh. Tekanan darah merupakan faktor yang amat penting pada system sirkulasi. Peningkatan atau penurunan tekanan darah akan mempengaruhi homeostatsis di dalam tubuh.Jika sirkulasi darah menjadi tidak memadai lagi, maka terjadilah gangguan pada system transportasi oksigen, karbondioksida, dan hasil-hasil metabolisme lainnya. Sehingga diduga terdapat korelasi antara tekanan darah dengan kadar serum kreatinin. Penelitian ini dilakukan untuk melihat korelasi antara tekanan darah dengan kadar serum kreatinin. Pada penelitian ini uji korelasi yang digunakan untuk tekanan darah dengan kadar serum kreatinin adalah dengan uji Pearson. Didapatkan hasil berupa Uji korelasi Pearson antara tekanan darah Sistol Pria terhadapat nilai kreatinin didapatkan r = -0,277 , P= 0,595. Uji Pearson antara tekanan darah Diastol Pria terhadap nilai kreatnin didapatkan r = -0,740 , P = 0,092. Uji Pearson antara tekanan darah Sistol Perempuan terhadap nilai kreatinin didapatkan r = -0,153 , P = 0,395. Uji Pearson antara tekanan darah Diastol Perempuan terhadap nilai kreatinin didapatkan r = -0,166 , P = 0,355. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa tekanan darah memiliki korelasi yang rendah dan tidak signifikan terhadap kadar kreatinin serum.. Uji korelasi Pearson antara tekanan darah Sistol Pria terhadapat nilai kreatinin didapatkan r = -0,277 , P= 0,595. Uji Pearson antara tekanan darah Diastol Pria terhadap nilai kreatnin didapatkan r = -0,740 , P = 0,092. Uji Pearson antara tekanan darah Sistol Perempuan terhadap nilai kreatinin didapatkan r = -0,153 , P = 0,395. Uji Pearson antara tekanan darah Diastol Perempuan terhadap nilai kreatinin didapatkan r = -0,166 , P = 0,355. 
Pengobatan Kanker Melalui Metode Gen Terapi CINDY APRILLIANIE WIJAYA; Muchtaridi Muchtaridi
Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.128 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i1.12285

Abstract

Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-sel pada jaringan tubuh yang mengalami mutasi dan perubahan struktur biokimia. Hingga saat ini, pengobatan kanker masih tidak memuaskan dikarenakan kecepatan kerusakan sel-sel kanker belum optimal dihadapi dengan terapi kimia. Obat anti-kanker yang telah ada sangat tidak spesifik untuk sel-sel kanker dan menyebabkan kematian pada sel-sel sehat dalam pengobatan kemoterapi. Terapi gen dapat dilihat sebagai terapi baru yang ampuh untuk meminimalkan atau mengatasi masalah tersebut. Dari beberapa penelitian  yang ditelaah  dari sumber data ulasan, terapi gen dengan virus menunjukkan dapat ditoleransi dengan baik dan secara parsial efektif dalam penyusutan tumor.Terjadi peningkatan waktu kelangsungan hidup pada  pasien.Kata kunci: Kanker, Anti-kanker, Terapi gen
REVIEW ARTIKEL : INFORMASI TENTANG PENYAKIT INFEKSI CACAR MONYET (Monkeypox) YANG MENYERANG MANUSIA FIKAMILIA HUSNA; Imam Adi Wicaksono
Farmaka Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (38.825 KB) | DOI: 10.24198/jf.v18i1.25532

Abstract

Cacar monyet merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh orthopoxvirus. Setelah pemberantasan cacar global pada tahun 1977, orthopoxvirus menjadi penyebab utama wabah cacar monyet pada manusia, terutama di negara-negara di Afrika Barat dan Tengah yang biasanya terjadi di daerah terpencil. Cacar monyet (monkeypox) memiliki manifestasi klinis seperti bentuk cacar biasa, termasuk gejala flu, demam, malaise, sakit punggung, sakit kepala, dan ruam. Saat ini, belum ada terapi yang tepat untuk mengobati penyakit cacar monyet yang menginfeksi manusia. Hal ini menimbulkan pemfokusan perhatian pada virus cacar monyet sebagai potensi ancaman terhadap pemberantasan cacar. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk memaparkan studi terkait dengan penyakit cacar monyet (monkeypox) agar masyarakat menjadi lebih paham dan waspada terhadap virus cacar monyet (monkeypox) yang telah terjadi di dunia. Artikel review ini menggunakan metode komparatif dari berbagai sumber artikel dan jurnal penelitian tentang cacar monyet. Data yang tersedia dalam tinjauan ini menunjukkan betapa terbatas dan terfragmentasi informasi tentang cacar monyet (monkeypox).
PENGGUNAAN DAN PENGEMBANGAN DIETARY FIBER: REVIEW JURNAL NOPI RANTIKA; TAOFIK RUSDIANA
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.802 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17790

Abstract

Pada beberapa dekade terakhir, para ilmuwan telah melakukan penelitian terhadap serat makanan (dietary fiber) yang memeiliki banyak manfaaat kesehatan. Serat pangan merupakan karbohidrat analog  yang tahan terhadap enzim pencernaan dalam usus, serta terfermentasi dengan lengkap atau parsial. Beberapa penelitian telah mengevaluasi manfaat dari serat pangan, diantaranya berperan dalam pencegahan konstipasi dan dalam mengendalikan kadar glukosa serta lipid darah. Sifat fisikokimia dari serat makanan sangat mempengaruhi efek fisiologisa dan teknologi fungsionalitas. Kandungan serat pangan dari berbagai sumber makanan, diantaranya adalah biji-bijian, kacang-kacangan, sayuran dan buah.
REVIEW ARTIKEL : AKTIVITAS HEPATOPROTEKTOR TRENGGULI (Cassia fistula L.) FIKAMILIA HUSNA; Patihul Husni
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.028 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i3.17387

Abstract

ABSTRAKTrengguli (Cassia fistula L.) atau kayu raja sering disebut sebagai golden shower yang diketahui sebagai tanaman obat. Trengguli (Cassia fistula L.) memiliki senyawa kimia berupa flavonoid, fenol, oxyantrakuinones, dan triterpenoid yang telah dibuktikan memiliki peran terapeutik. Review artikel ini akan memaparkan aktivitas hepatoprotektor dari trengguli (Cassia fistula L.). Review artikel ini menggunakan metode penelitian komparatif dari berbagai sumber yang didapat dari berbagai jurnal penelitian dengan jumlah 28 jurnal penelitian. Hasil dari review ini menyatakan bahwa trengguli (Cassia fistula L.) berpotensi sebagai hepatoprotektor. Bagian akar, batang, daun, buah, dan biji tanaman trengguli (Cassia fistula L.) telah terbukti memiliki aktivitas sebagai hepatoprotektor.Kata kunci: Hepatoprotektor, trengguli, Cassia fistula.
Terapi untuk Bell’s Palsy Berdasarkan Tingkat Keparahan Chintami Nurkholbiah; Eli Halimah
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.905 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10807

Abstract

Bell’s palsy adalah kelumpuhan akut yang terjadi pada bagian saraf wajah yang tidak diketahui penyebabnya.  Tujuan dari penulisan review ini yaitu untuk mengetahui terapi pada kasus Bell’s  palsy berdasarkan Guideline dan tingkat keparahan. Metode yang digunakan yaitu dengan  mencari beberapa jurnal ilmiah dan artikel ilmiah yang berkaitan dengan  topik yang akan dibahas dalam  tulisan ini. Berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi untuk Bell’s palsy dengan tingkat keparahan ringan, sedang, dan berati lebih efektif ketika diberi terapi kombinasi yaitu obat kortikosteroid dengan obat antiviral dibandingkan dengan terapi tunggal yaitu pemberian obat kortikosteroid atau obat antiviral. Dan untuk terapi tunggal, pemberian obat kortikosteroid lebih baik dibandingkan dengan terapi obat antiviral saja.Kata kunci: Bell’s palsy, kortikosteroid, antiviral
DEKSTROMETORFAN : PENGGUNAAN KLINIS DAN BERBAGAI ASPEKNYA DIAH SITI FATIMAH; Anas Subarnas
Farmaka Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.57 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i3.22090

Abstract

Dekstrometorfan merupakan obat antitusif derivat opioid dan juga analgesik yang banyak digunakan sebagai obat batuk. Obat ini banyak digunakan pada beberapa obat pilek dan batuk bebas baik pada obat generik maupun bermerek. Termasuk golongan obat bebas, obat ini dapat diperoleh dengan mudah tanpa memerlukan resep dokter. Hal ini menyebabkan mudahnya penyalahgunaan dekstrometorfan terutama oleh para remaja untuk tujuan rekreasi. Review ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai dekstrometorfan ditinjau dari struktur kimia, aktivitas farmakologi, efek samping yang ditimbulkan, interaksi dengan obat lain serta kontraindikasi pada pasien dengan kondisi tertentu.
APAKAH PEMBERIAN CITICOLIN DAPAT MENCEGAH LUARAN KLINIS BURUK PADA PASIEN STROKE? Rizaldy Taslim Pinzon; Yemina Hardjito
Farmaka Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.572 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i4.13736

Abstract

Pendahuluan: Stroke merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan yang utama. Ada banyak faktor prognosis stroke. Citicolin adalah salah satu obat yang sering digunakan untuk penanganan pasien stroke. Penggunaan citicolin sebagai neuroprotektor untuk penanganan awal diharapkan dapat memperbaiki prognosis dari pasien.Penelitian terkait manfaat citicolin di Indonesia masih sangat terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur apakah pemberian citicolin dapat menurunkan  luaran klinis buruk pasien stroke.Metode: Penelitian dengan kohort retrospektif. Data diperoleh dari register stroke dan rekam medis di Rumahsakit  Bethesda Yogyakarta pada tahun 2015-2017. Luaran klinik diukur dengan menggunakan skala Rankin yang dimodifikasi. Data yang diperoleh dianalisis secara univariat, kemudian dilanjutkan dengan uji chi-square dan uji-t independen untuk analisis bivariat. Regresi logistik untuk analisis multivariat.Hasil: Data diperoleh dari 385 pasien stroke. Stroke paling banyak dialami oleh pasien  dengan usia 51-60 tahun yang berjumlah 131 (34%).  Subjek terdiri dari  215(55.8%) laki-laki, dan 170 (44.2%) perempuan. Tipe  stroke yang  paling umum adalah stroke iskemik 253 (65.7%).  Pasien dengan luaran klinis baik (mRS < 2) sebanyak 219 (56.9%) pasien dan luaran klinis buruk (mRS ≥2) sebanyak 166 (43.1%) pasien.  Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa citicolin mempengaruhi luaran klinis pasien stroke (OR 0.516, 95% CI 0.34-0.79, p < 0.05).  Hasil analisis subgrup menunjukkan citicolin mempengaruhi luaran klinis pasien stoke iskemik (OR 1.79; 95%CI 1.01-3.18; p<0.05) tetapi tidak terhadap luaran klinis pasien stroke hemoragik (OR 1.7; 95%CI 0.77-3.75; p >0.05). Hasil analisis multivariat dengan regresi logistik didapatkan stroke hemoragik (OR 4.26, 95%CI 2.60-6.97, p< 0.05), dislipidemia (OR 0.519, 95% CI 0.31-0.88, p< 0.05), diabetes melitus (OR 0.495, 95%CI 0.26-0.95, p< 0.05) dan komplikasi (OR 1.608, 95%CI 1.02-2.54, p< 0.05) menjadi faktor yang berpengaruh terhadap buruknya luaran klinis pasien dibandingkan dengan faktor lain.Kesimpulan: Pemberian citicolin mempengaruhi luaran klinis pasien stroke di RS Bethesda Yogyakarta.  Pasien yang mendapat terapi citicolin memberikan luaran klinis lebih baik pada pasien stroke iskemik.Kata Kunci: citicolin, luaran klinis, stroke, modified Rankin Scale 
Alternatif Cantigi Ungu (Vaccinium varigiaefolium) Sebagai Antioksidan Anisa Nur Wulansari
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.11 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17574

Abstract

ABSTRAKBesarnya pengaruh radikal bebas terhadap stress oksidatif penyebab penuaan dini menjadi perhatian banyak orang saat ini. Tingginya permintaan produk kosmetik berbahan dasar antioksidan dipasaran merupakan salah satu gambaran bahwa masyarakat mulai menyadari bahaya radikal bebas terhadap tubuh. Sebagian besar produk kosmetik dipasaran mengandung antioksidan sintetik yang dapat berbahaya bagi tubuh jika terakumulasi dalam waktu yang lama. Tujuan ulasan artikel ini adalah untuk memberikan informasi mengenai aktivitas antioksidan alami tumbuhan cantigi ungu sebagai bahan dasar pembuatan kosmetik. Metode yang digunakan untuk menguji aktivitas antioksidan adalah DPPH (1,1-difenil-2-pikrihidrazil) dan ABTS ((2,2-Azinobis 3-ethyl benzothiazoline 6-sulfonic acid). Hasil yang didapatkan berupa aktivitas antioksidan cantigi ungu yang dilihat berdasarkan nilai IC50. Penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh antioksidan terhadap penghambatan penuaan dini perlu dilakukan.Kata kunci : Antioksidan, ABTS, Cantigi Ungu, DPPH. IC50 ABSTRACTThe effect of free radical on oxidative stress causes premature aging get people’s attention nowadays. Highly request cosmetic products based on antioxidant in the market is the reason that people began to realize the danger of free radical against human body. Most cosmetic products contain synthetic antioxidants that can be harmful to the body if accumulated in a long time. The purpose of this article’s review is to provide information about natural antioxidant from cantigi ungu as the basic ingredient of cosmetic. The methods used are DPPH and ABTS. The result of antioxidant activity is seen based on IC50 value. Advanced research about the effect of antioxidant on the inhibition premature aging is needed.Keywords : Antioxidant, ABTS, Cantigi Ungu, DPPH, IC50
PERANAN EPIDERMAL GROWTH FACTOR PADA PENYEMBUHAN LUKA PASIEN ULKUS DIABETES Dinar Erina Destyani Putri; Sriwidodo .
Farmaka Vol 14, No 4 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.422 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i4.9531

Abstract

Increased prevalence of diabetic raises a lot of concomitant diseases like diabetic ulcers. Diabetic ulcers which not treated properly can lead to amputation. Wound healing in patients with diabetic ulcers involves many factors including growth factor. Epidermal growth factor is a growth factor that plays a role in the formation of collagen in wounds. Some applications EGF has been applied to the diabetic ulcer of 1-4 degrees showed significant improvement of diabetic ulcer wounds. Safety studies about EGF also showed irritation was generally mild to moderate. 

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue