cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
STRATEGI BARU PENGGUNAAN PENINGKAT PENETRASI KIMIA DALAM SISTEM PENGHANTARAN OBAT TRANSDERMAL Resa Handayani; Angga Prawira Kautsar
Farmaka Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.16 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i3.15470

Abstract

AbstrakSistem penghantaran obat transdermal menjadi salah satu inovasi penelitian yang paling sukses dalam sistem penghantaran obat sistemik dibandingkan dengan rute oral. Kesuksesan obat transdermal bergantung pada kemampuan obat untuk menembus kulit dalam jumlah yang cukup untuk mencapai efek terapeutik yang diinginkan. Artikel ini membahas artikel penelitian dari internet dengan menggunakan mesin pencari secara online seperti Google, website jurnal internasional dan nasional, seperti NCBI, Researchgate, Portalgaruda dengan kata kunci seperti penetration enhancer, chemical enhancer for transdermal drug transport. Kriteria inklusi artikel penelitian yang dicari adalah mengandung pokok bahasan tentang peningkat penetrasi kimia dalam obat transdermal, terbit 20 tahun terakhir, jurnal internasional ataupun nasional yang terakreditasi. Hasil penelusuran dari 42 artikel penelitian dan artikel tinjuan diperoleh 37 artikel yang memenuhi kriteria. Hasil studi ini membuktikan bahwa penggunaan peningkat penetrasi kimia dalam sediaan transdermal seperti air, golongan sulfoksida, golongan azon, surfaktan, asam lemak dan ester, oksizolidonin, golongan pirolidon, minyak atsiri, terpen dan siklodekstrin dapat meningkatan fluks obat dan meningkatkan bioavailabilitas obat dalam darah. Penggunaan peningkat penetrasi kimia dapat diterapkan dalam sistem penghantaran obat transdermal untuk memperbaiki ketersediaan hayati obat dalam sirkulasi darah melalui membran kulit untuk mencapai efek terapeutik yang diinginkan.                                                                                                                            Kata kunci:  Transdermal, peningkat penetrasi kimia, biovailabilitas, fluks ABSTRACT Transdermal drug delivery systems become one of the most successful research innovations in systemic drug delivery systems compared with oral routes. The success of transdermal drugs depends on the ability of the drug to penetrate the skin in sufficient quantities to achieve the desired therapeutic effect. This article discusses research articles from the internet by using online search engines such as Google, international and national journals websites, such as NCBI, Researchgate, Portalgaruda with keywords such as penetration enhancer, chemical enhancers for transdermal drug transport. The inclusion criteria of the research articles that are searched discuss about the chemical penetration enhancer in transdermal drugs, published in the last 20 years, accredited international or national journals. The search results from 42 research articles and article reviews are got 37 articles that according the criteria. The results of this literature study have shown that the use of chemical penetration enhancers in transdermal preparations such as water, sulphoxide groups, azone groups, surfactants, fatty acids and esters, oxyzolidonin, pyrrolidone groups, essential oils, terpenes and cyclodextrins can increase drug flux and increase the bioavailability of drugs in the blood. Use of chemical penetration enhancers can be applied in transdermal drug delivery systems to improve the bioavailability of drugs in the blood circulation through the skin membrane to get the desired therapeutic effect. Keywords: Transdermal, chemical penetration enhancer, biovailability, flux
MURBEI PUTIH (Morus alba) SEBAGAI HERBAL ANTIOKSIDAN DAN PENGHAMBAT α-Glukosidase PADA PENDERITA DIABETES MELITUS : ARTIKEL REVIEW ANNISA LAZUARDI LARASATI; RINI HENDRIANI
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.607 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17556

Abstract

Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang penderitanya telah mencapai 200 juta orang secara global. Maka dari itu dibutuhkan tanaman herbal yang dapat mengatasinya melalui beberapa mekanisme salah satunya yaitu antioksidan dan penghambatan enzim α-Glukosidase. Morus alba salah satu tanaman yang terbukti memiliki aktivitas antioksidan dan penghambatan enzim α-Glukosidase. Review ini bertujuan untuk memperlihatkan potensi Morus alba sebagai tanaman yang mengandung antioksidan dan memiliki aktivitas penghambatan terhadap α-Glukosidase dengan metode DPPH dan ABTS untuk antioksidan, serta penghambatan yang dapat ditunjukkan dari nilai IC50 untuk penghambatan enzim α-Glukosidase. Morus alba dapat berperan sebagai tanaman antioksidan dengan nilai penghambatan dengan metode DPPH sebesar 16,83% - 43,95%, serta penghambat alfa-glukosidase dengan nilai IC50 sebesar 550 μg/mL pada ekstrak air dan 241 μg/mL pada ekstrak etanol. Dapat disimpulkan bahwa Morus alba memiliki nilai yang baik sebagai antioksidan dan penghambat enzim α-Glukosidase. Kata kunci : Diabetes melitus, Morus alba, antioksidan, α-Glukosidase. 
Aktivitas Antiinflamasi dari Berbagai Tanaman : Sebuah Review Alicia Ima Dara; Ami Tjitraresmi
Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.702 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i3.10947

Abstract

Inflamasi memiliki peran penting pada perkembangan penyakit dengan pravalensi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi aktivitas anti-inflamasi dari berbagai family tanaman herbal. Model yang digunakan untuk mengetahui aktivitas inflamasi secara in vivo adalah induksi edema pada hewan uji. Sedangkan model in vitro yang digunakan adalah makrofag terstimulasi lipooksigenase. Ekstrak yang diuji berasal dari tanaman Aloe barbadensis, Curcuma longa, Mimosa tenuiflora, Lavandula angustifolia, Psidium guajava, Punica granatum, Pseudoptergorgia elisabethae, Solanum lycopersicum, Capsicum frutescens, dan Zingiber zerumbet. Aktivitas ekstrak dan komponen aktifnya dalam menghambat inflamasi antara lain melalui penurunan sitokin (IL)-6 atau (TNF)–α, penurunan prostaglandin dan nitric oxide, serta inaktivasi enzim MPO. Potensi anti-inflamasi tertinggi terdapat pada Capsicum frutescens dengan dosis rendah mampu memberikan efikasi yang besar. Kata kunci : anti-inflamasi, TNF-α, prostaglandin, myeloperoxidase, dan sitokin pro inflamasi
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK BERBAGAI SPESIES TUMBUHAN MANGROVE NIA KURNIASIH; Eli Halimah
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2570.56 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22265

Abstract

Penyakit infeksi merupakan penyakit yang prevalensinya cukup tinggi. Indonesia memiliki lautan yang luas yang didalamnya terdapat keanekaragaman hayati yang bermacam-macam salah satunya adalah tanaman mangrove yang memiliki berbagai macam spesies. Tanaman mangrove atau bakau dikenal sebagai tanaman yang hidup di area pesisir pantai dan digunakan sebagai tanaman yang menjaga area pantai agar tidak terjadi proses abrasi akibat ombak dari laut. Tanaman ini memiliki banyak manfaat seperti pencegah dan penyaring alami, tempat sumber makanan bagi biota laut, kayunya sebagai bahan bakar, serta sudah banyak digunakan secara empirik sebagai tanaman obat tradisional dan salah satunya sebagai antibakteri. Review artikel ini dilakukan untuk pengumpulan informasi mengenai aktivitas antibakteri dari beberapa jenis tanaman mangrove. Aktivitas antibakteri ini dilihat dari nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan diameter zona hambat. Hasil pengujian antibakteri yang diperoleh berdasarkan parameter diameter zona hambat, spesies mangrove yang memiliki aktivitas antibakteri kuat (diameter zona hambat >20mm) yaitu ekstrak air eksokarp Bruguiera gymnorrhiza terhadap bakteri Delftia sp. menghasilkan zona hambat sebesar 23±0,55mm, ekstrak air batang Nypa fructicans terhadap bakteri Bacillus subtilis menghasilkan zona hambat 22,16±0,76mm, sedangkan ekstrak air daunnya terhadap Pseudomonas aeruginosa dan Klebsiella pneumonia masing-masing menghasilkan zona hambat sebesar 20,33±0,95mm dan 20,03±1,08mm, serta ekstrak metanol daun Ricinus communis terhadap Staphylococcus aureus menghasilkan zona hambat sebesar 20,7mm. Tanaman mangrove mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai antibakteri.Kata Kunci : Mangrove, infeksi, antibakteri
Aktivitas Antimikroba Dari Senyawa Bioaktif Rumput Luat/Makroalga NUZAHA BAQIYATUS SHOLIHAH AZIMAH; Muchtaridi Muchtaridi
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1928.627 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.13240

Abstract

REVIEW ARTIKEL : TUMBUHAN DENGAN AKTIFITAS ANTI KANKER PAYUDARA Luthfi Utami Setyawati; Norisca Aliza Putriana
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4466.582 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17615

Abstract

Kanker payudara menjadi prevalensi penyakit kanker terbesar di Indonesia setelah kanker seviks.Kanker payudara juga merupakan salah satu penyebab kematian akibat kanker yang paling banyak. Penanganan kanker melalui tindakan operasi, radioterapi, dan kemoterapi seringkali menimbulkan efek samping yang serius serta residual morbiditas. Tumbuhan herbal dapat dijadikan sebagai alternatif karena dianggap lebih aman daripada penggunaan bahan kimia. Penulisan review artikel ini menggunakan metode studi pustaka. Dalam review ini dibahas mengenai beberapa tumbuhan dengan aktifitas anti kanker payudara. Dari hasil kupasan artikel didapatkan beberapa tumbuhan dengan aktifitas anti kanker payudara ini yaitu P. persica var. Rich Lady, Z. jujube, M. indica Linn., P. granatum, V. macrocarpon, Mentha spp., C. sinensis, C. roseus, W. somnifera, T. robiniophila Murr., A. membranaceus, U. dioica, A. muricata Linn., dan G. mangostana Linn. Yang memiliki berbagai macam aktifitas seperti anti-proliferatif dan/atau apoptosis sel kanker payudara MCF 7, MDA-MB-231, MDA-MB-435, SK-BR-3, 4T1 dan T47D.Kata kunci : kanker payudara, tumbuhan herbal, aktifitas anti kanker payudara
REVIEW ARTIKEL: PLAN-DO-CHECK-ACT (PDCA) DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT Qisti Fauza; Angga Prawira Kautsar
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.512 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i3.17729

Abstract

Plan-Do-Check-Act (PDCA) merupakan sistem manajemen kualitas yang banyak diterapkan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Kualitas pelayanan kesehatan dapat dinilai berdasarkan pelayanannya secara langsung dalam menangani pasien maupun sistem yang diterapkan. Pada review ini dijelaskan berbagai contoh penerapan siklus PDCA dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit. Manuskrip dicari dan diseleksi berdasarkan kriteria inklusi berupa penerapan siklus PDCA dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan kriteria eksklusi berupa manuskrip yang tidak memiliki teks lengkap, tidak dapat diakses, dan tidak menerapkan siklus PDCA. Penerapan siklus PDCA dinilai terhadap karakteristik utama dalam metode ini, diantaranya dokumentasi, perencanaan solusi, pengujian sementara berbasis prediksi dalam skala kecil, pemeriksaan keberhasilan pengujian solusi, dan pengulangan siklus. Hasil yang didapatkan yaitu siklus PDCA dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta menurunkan kesalahan pengobatan. Oleh karena itu,dapat disimpulkan bahwa siklus PDCA merupakan  intervensi yang efektif untuk dilakukan sehingga dapat diperoleh suatu perbaikan secara terus-menerus dalam suatu organisasiKata kunci: Kesalahan Pengobatan, Rumah Sakit, Kualitas Pelayanan Kesehatan, Siklus PDCA
ARTIKEL REVIEW: SUMBER DATA DALAM FARMAKOEPIDEMIOLOGI Oryza Sativa Sinuhaji; Sofa D. Alfian
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.727 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10839

Abstract

Sumber data dalam farmakoepidemiologi adalah informasi optimal dari subjek mengenai penggunaan obat dan efek obat dalam populasi yang dapat diintegrasikan pada pemahaman tentang data dan metode analisis. Artikel review ini berisi informasi sumber data dalam studi farmakoepidemiologi dengan tujuan mendapatkan perbandingan kerugian dan keuntungan penggunaan setiap sumber data. Jenis sumber data yang dimaksud yaitu, pelaporan langsung (spontaneous reporting), database pelayanan kesehatan (automated healthcare database), catatan medis (surveillance), rekam medis (electronic medical records), survei nasional (national survey), dan pemantauan resep (prescription-event monitoring). Referensi yang digunakan berupa jurnal ilmiah dan artikel ilmiah yang berkaitan dengan sumber data dalam farmakoepidemiologi melalui situs NCBI (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/). Hasil artikel review ini adalah perbandingan keuntungan dan kerugian dari setiap sumber data dalam farmakoepidemiologi. Setiap sumber data memudahkan peneliti dalam memperoleh data dan hasil yang sesuai dengan kondisi dari populasi, waktu dan lokasi penelitianKata kunci: sumber data, farmakoepidemiologi. 
Review Artikel: Aktivitas Antioksidan dari Suku Rutaceae AFRIDA CAHYA NIRWANA; Mutakin Mutakin
Farmaka Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3437.773 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i1.22129

Abstract

Antioksidan adalah senyawa yang berguna untuk menghalau terjadinya proses oksidasi karena adanya senyawa radikal yang bersifat reaktif (radikal bebas) yang terbentuk baik secara eksogen (dari luar tubuh) seperti radiasi sinar UV maupun secara endogen (dari dalam tubuh organisme). Senyawa ini berbahaya bagi tubuh karena paparan jangka panjang berpotensi memicu terjadinya kanker. Review artikel ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang tanaman obat dengan aktivitas antioksidan dari Suku Rutaceae berdasarkan data primer dari berbagai artikel ilmiah yang telah dikumpulkan melalu situs pencarian online. Suku Rutaceae adalah salah satu famili tanaman yang paling banyak memiliki aktivitas antioksidan, dengan 154 genus dan sekitar 2100 spesies yang paping banyak ditemukan di negara-negara beriklim tropis dan subtropis. Berdasarkan hasil pencarian dalam beberapa jurnal ilmiah, dari 154 genus tersebut penulis mendapatkan sekitar 38 spesies tanaman Rutaceae yang telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah spesifik mengenai aktivitas antioksidan. Profil informasi yang disajikan mencakup nama ilmiah, bagian tanaman yang digunakan, pelarut yang digunakan, metode uji yang digunakan dan hasil yang berkaitan erat dengan aktivitas antioksidan.
ARTIKEL TINJAUAN: PENGGUNAAN NSAIDs (NON STEROIDAL ANTI INFLAMATION DRUGS) MENGINDUKSI PENINGKATAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN ARTHRITIS FADHILA PUTRI IMANANTA; SULISTIYANINGSIH SULISTIYANINGSIH
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.586 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.16862

Abstract

NSAIDs (Non Steroidal Anti Inflamation Drugs) merupakan golongan obat antiinflamasi yang sering digunakan untuk mengatasi inflamasi pada pasien arthritis. Selain menghasilkan efek antiinflamasi, penghambatan sintesis prostaglandin oleh NSAIDs juga memiliki efek samping berupa peningkatan tekanan darah karena mekanisme yang berkaitan dengan retensi natrium dan air. Efek samping tersebut akan menjadi permasalahan ketika NSAIDs digunakan untuk mengatasi inflamasi pada pasien arthritis yang juga menderita hipertensi. Penghambatan sintesis prostaglandin oleh NSAIDs juga berdampak pada penurunakan aliran darah pada ginjal sehingga menyebabkan teraktivasinya sistem renin-angiotensin. Tujuan dari review ini yaitu untuk mengetahui efek penggunaan NSAIDs terhadap peningkatan tekanan darah pada pasien hipertensi dengan penyakit penyerta arthritis. Metode yang digunakan pada review ini yaitu dengan melakukan penelusuran pustaka berupa jurnal penelitian dan guideline. Didapatkan 16 jurnal dan guideline yang  berhubungan dengan penggunaan NSAIDs dan penyakit Hipertensi.  NSAIDs dapat menimbulkan peningkatan tekanan darah melalui mekanisme kerja penghambatan prostaglandin dan prostasiklin yang menyebabkan vasokonstriksi ginjal, peningkatan resobsi natrium dan air serta penurunan ekskresi natrium. Kata Kunci: NSAIDs, Hipertensi, Tekanan Darah, Arthritis

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue