cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Rekayasa Hijau
ISSN : 25794264     EISSN : 25501070     DOI : -
Jurnal Rekayasa Hijau diterbitkan 3 kali dalam satu tahun. Berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian dan kajian analisis di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, desain dan kebijakan ramah lingkungan.
Arjuna Subject : -
Articles 281 Documents
Evaluasi Keandalan Jembatan Gantung Pejalan Kaki Dengan Variasi Letak dan Jenis Beban Lalu Lintas Euneke Widyaningsih
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v4i2.72-81

Abstract

ABSTRAKUntuk mendukung pembangunan infrastruktur jembatan, pemerintah mengeluarkan panduan untuk perencanaan jembatan gantung dengan judul Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum No. 02/SE/M/2010 tentang Pemberlakukan Pedoman Perencanaan dan Pelaksanaan Konstruksi Jembatan Gantung Untuk Pejalan Kaki. Jembatan gantung yang dirancang sesuai dengan panduan tersebut harus mampu menahan beban pejalan kaki sebesar 5 kPa. Dengan mengacu pada pedoman tersebut, direncanakanlah sebuah jembatan gantung dengan panjang total 127.34 meter. Agar dapat mengetahui perilaku jembatan terhadap beban yang direncanakan, dibuatlah pemodelan jembatan menggunakan software MidasCIVIL dengan menggunakan 4 variasi letak pembebanan dan 80 variasi beban mewakili bobot pejalan kaki dan kendaraan bermotor roda dua. Tujuan dilakukannya analisis ini adalah untuk mengetahui nilai keandalan struktur yang direncanakan dengan beban sesuai Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum No. 02/SE/M/2010 terhadap variasi beban pejalan kaki dan kendaraan bermotor yang sesungguhnya mungkin terjadi pada jembatan. Evaluasi struktur menggunakan metode probability based menghasilkan keandalan struktur jembatan sebesar 100% yang dianalisis terhadap lendutan, tegangan kabel, tegangan batang penggantung serta tegangan pilar. Sehingga dapat dikatakan bahwa beban 5 kPa yang disyaratkan oleh pedoman memiliki nilai yang konservatif dan akan menghasilkan struktur jembatan yang sangat aman.Kata kunci: : Jembatan Gantung, Variasi Letak Beban, Pejalan Kaki, Probability Based Design ABSTRACTTo support the establishment of bridge infrastructure, the government issued a guide for planning a suspension bridge with the title Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum No. 02 / SE / M / 2010 concerning the Implementation of Guidelines for Planning and Construction of Suspension Bridges for Pedestrians. Suspension bridges designed according to these guidelines must be able to withstand pedestrian loads of 5 kPa. With reference to these guidelines, a suspension bridge is planned with a total length of 127.34 meters. In order to know the bridge's behavior towards the planned load, a bridge modeling was made using MidasCIVIL using 4 position of loading and 80 load variations representing pedestrian weight and two-wheeled motorized vehicles. The purpose of this analysis is to determine the value of the bridge reliability that planned with load according to the Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum No. 02 / SE / M / 2010 against variations in pedestrian and motor vehicle loads that might actually occur on bridges. Structural evaluation using probability-based methods produces 100% bridge structure reliability which is analyzed for deflection, cable stress, hanger stress and pillar stress. So, it can be said that the 5 kPa load required by the guidelines has a conservative value and will produce a very safe bridge structure.Keywords: Suspension Bridge, Load Position Variation, Pedestrian, Probability Based Design
Pemanfaatan Teknik Pemodelan Digital untuk Meningkatkan Kualitas Bentuk dan Ergonomi pada shoe last Sepatu Mohamad Arif Waskito
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v5i1.49-62

Abstract

ABSTRAKPada produk sepatu, kenyaman pakai merupakan faktor penting yang harus diperhatikan. Oleh karena itu sepatu yang baik akan memperhatikan kualitas bentuk dan ukuran shoe last pada saat pembuatannya. Ketidaksesuaian bentuk dan ukuran sepatu yang pakai pada kaki akan beresiko menyebabkan cedera secara temporer, bahkan untuk penggunaan dalam waktu lama dapat menimbulkan kecacatan pada kaki. Namun di industri kecil/menengah (IKM) alas kaki penentuan bentuk dan ukuran produk shoe last umumnya tidak melalui prosedur verifikasi yang baku. Penggunaan teknologi pemodelan digital pada pembuatan shoe last akan dapat membantu meningkatkan kualitas bentuk dan ukuran yang dihasilkannya. Melalui metode eksperimentasi digital yang didukung dengan data antropometri anatomi kaki responden lokal diharapkan akan menghasilkan sebuah metode baku perancangan shoe last tersebut. Metode perancangan digital untuk produk shoe last ini diharapkan akan bermanfaat bagi para pelaku usaha kecil alas kaki agar kualitas kenyamanan sepatu yang dibuatnya menjadi lebih baik dan berstandar.Kata kunci: Pemodelan digital, shoe last, IKM, kualitas kenyamanan ABSTRACTIn shoe products, wear comfort is an important factor that must be considered. Therefore, good shoes will pay attention to the quality of the shape and size of the last shoe at the time of manufacture. The improper shape and size of the shoes that are used on the feet will risk causing temporary injury, even for prolonged use, it can cause disability in the feet. However, in the small / medium-sized footwear industry (IKM), determining the shape and size of shoe last products generally does not go through a standard verification procedure. The use of digital modeling technology in making shoe lasts will help improve the quality of the shape and size it produces. Through the digital experimentation method that is supported by anthropometric data on the anatomy of the local respondents' feet, it is hoped that it will produce a standard method of designing the shoe last. It is hoped that this digital design method for shoe last products will be useful for small footwear entrepreneurs so that the quality of the comfort of the shoes they make becomes better and standard.Keywords: Digital modeling, shoe last, SMEs, comfort quality
Memanfaatkan Potensi dan Keindahan Bangunan Kolonial melalui Alih Fungsi Bangunan Studi Kasus: Heritage the Factory Outlet di Jl Riau Bandung Nurtati Soewarno
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 4, No 3 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v4i3.133-144

Abstract

ABSTRAKBangunan peninggalan kolonial merupakan warisan budaya yang saat ini banyak dialih fungsikan terutama untuk fungsi komersial. Bangunan ini mempunyai gaya arsitektur yang unik dan beradaptasi terhadap iklim tropis dengan penerapan bukaan lebar, plafond tinggi dan atap bersudut tajam. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana memanfaatkan potensi bangunan peninggalan kolonial. Dengan melakukan observasi diperoleh data bahwa keindahan gaya arsitektur menjadi daya tarik pengunjung dan dengan tata letak furniture yang tepat akan diperoleh kenyamanan termal dan pencahayaan alami yang optimal. Heritage the Factory Outlet dipilih sebagai kasus studi karena alih fungsi terbilang sukses, tidak menghilangkan keaslian gaya arsitekturnya bahkan menjadikannya daya tarik tersendiri. Bangunan tambahan di bangun tidak lebih menonjol dari bangunan utama sehingga keberhasilan alih fungsi ini diharapkan dapat diterapkan pada bangunan cagar budaya lainnya. Diperlukan dukungan Pemerintah Daerah dalam pengawasan pelaksanaan perubahan agar tidak melanggar aturan konservasi dan menindak tegas segala bentuk pelanggaran yang dapat merusak bangunan sebagai warisan budaya.Kata kunci: bangunan peninggalan kolonial, alih fungsi, adaptasi gaya arsitektur, bangunan cagar budaya, adaptive reuseABSTRACTColonial heritage buildings are cultural heritages that nowadays many of them are undergoing functional shift, mainly into commercial function. These buildings have an architectural style that adapt to tropical climate by applying wide openings, high ceilings with sharp angeled roof. This research goal is to explore how to benefit the potential of colonial heritage buildings. Observation results showed that beauty of the architectural style is the attraction for visitors together with the right furniture layout, thermal comfort and optimal natural lighting. “Heritage” Factory Outlet was selected as a case study because of the function shift was successful, does not eliminate the beauty of the architectural style and in fact it becomes its unique attraction. The additional building does not become more prominent of the main building so that the succes of function shift is expected to be applied to other cultural heritage building. Local Government support is required in monitoring the implementation of changes that do not violate the rules of conservation and take firm action against any violation that may damage the building as a cultural heritage.Keywords: Colonial heritage building, building function shift, architecture style addaptation, cultural heritage building, adaptive reuse
Pemantauan Fase Pertumbuhan Tanaman Padi Menggunakan Citra Radarsat-2 Quad Polarimetrik Rian Nurtyawan; Gerryn Maulannisaa
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v5i1.1-14

Abstract

ABSTRAKIndramayu merupakan salah satu lumbung padi Indonesia yang ada di wilayah Jawa Barat dimana Badan Pusat Statistik mencatat pada tahun 2014, Indramayu menghasilkan padi sebesar 1.361.374 ton. Untuk memantau produksi padi, sangat diperlukan pemantauan fase pertumbuhan tanaman padi, salah satu metodenya dengan teknologi penginderaan jauh sistem RADAR menggunakan citra RADARSAT-2 quad polarimetrik. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasi daerah fase pertumbuhan tanaman padi menggunakan metode Cloude Pottier H/A/α (entropi/anisotropi/sudut alfa) dan mengevaluasi metode tersebut dalam klasifikasi fase pertumbuhan tanaman padi. Hasil dari penelitian ini yaitu peta klasifikasi fase pertumbuhan tanaman padi dimana dari keseluruhan akuisisi citra, luas lahan tertinggi adalah fase germination/laut yang berjumlah 2.368.242 m2 (22 September 2014). Hasil klasifikasi ini disesuaikan dengan bidang H-α classification plane untuk mengetahui pada zona mana yang memiliki hamburan paling dominan. Hasil pada 18 Juni 2014 dan 5 Agustus 2014 menunjukkan zona 7 (fase panicle initiation/inisiasi malai), zona 8 (fase milk stage/gabah matang susu), dan zona 9 (fase germination/perkecambahan benih atau fase seeding/pertunasan) menjadi zona yang dominan dimana ketiga mekanisme memiliki arti double-bounce scattering (Z7), volume scattering (Z8), dan surface scattering (Z9) sedangkan pada 22 September 2014 dan 16 Oktober 2014 hamburan yang paling dominan terdapat pada Z8 (fase milk stage/gabah matang susu) dengan mekanisme volume scattering dan Z9 (fase germination/perkecambahan benih atau fase seeding/pertunasan) dengan mekanisme surface scattering.Kata kunci: Pertumbuhan Padi, Klasifikasi, RADARSAT-2, H/A/α ABSTRACTIndramayu is one of Indonesia's granary in West Java where Statistic Data Center noted that in 2014 Indramayu produced 1.361.374 tons of rice. It’s necessary to monitor growth phase of rice plant for monitoring rice production, one of the method is remote sensing technology is the RADAR system with RADARSAT-2 image quad-polarimetric. This study aims to classify the phase of growth of rice plants using the Cloude Pottier H / A / α method (entropy / anisotropy / alpha angle) and evaluate these methods in classification of rice plant growth phases. The results of this study are the classification map of the rice plant phase where from the overall image acquisition, the highest land area is the germination / sea phase, which amounts to 2,368,242 m2 (22 September 2014). The classification results are adjusted with the H-α classification plane to find out which zone has the most dominant scattering. The result on 18 June 2014 and 5 August 2014 showed zone 7 (panicle initiation phase), zone 8 (milk stage phase), and zone 9 (germination/seeding) to be the dominant zone where the three mechanisms mean double-bounce scattering (Z7), volume scattering (Z8), and surface scattering (Z9) while on 22 September 2014 and 16 October 2014 the most dominant scattering is in Z8 (milk stage phase) with volume scattering mechanism and Z9 (germination/seeding phase) with surface scattering mechanismKeywords: Rice Growth , Classification, RADARSAT-2, H/A/α.
Analisis Perbandingan Biaya pada Pekerjaan Pengerukan di Alur Pelabuhan Bandar Bakau Jaya Banten Aden Firdaus; Muhammad Rizkiansyah; Yessi Nirwana
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v4i2.62-71

Abstract

ABSTRAKPelabuhan Bandar Bakau Jaya yang terletak di Provinsi Banten saat ini dapat melayani kapal yang berjenis 5.000 DWT, dan rencananya akan melayani kapal 10.000 DWT. Pekerjaan pengerukan akan dilakukan pada Alur Pelabuhan dengan dimensi panjang 2.391 m dengan jenis tanah adalah tanah halus berpasir. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan biaya dan waktu pelaksanaan dari masing- masing jenis kapal keruk yang dapat melakukan pekerjaan pengerukan dengan kondisi tanah yang ada di alur pelabuhan. Metode yang digunakan adalah dengan memperhitungkan berapa lama waktu pekerjaan pengerukan sehingga didapatkan biaya dari masing-masing jenis kapal keruk. Hasil dari analisis didapatkan 3 jenis kapal keruk yaitu, TSHD dalam waktu 2,11 bulan dan biaya Rp27.316.912.819,63, SD dalam waktu 8,34 bulan dan biaya Rp27.887.202.652,35, dan CSD dalam waktu 6,08 bulan dan biaya Rp37.995.671.214,00. Jenis kapal keruk yang paling efisien untuk pekerjaan pengerukan di alur pelabuhan ini adalah TSHD dengan 7 tugboat dan barge.Kata kunci: pengerukan, alur pelayaran, kapal keruk ABSTRACTBandar Bakau Jaya Port, located in Banten Province, currently serves 5,000 DWT vessels, and it is planned to serve 10,000 DWT vessels. Dredging work will be carried out on the Port Channel with a dimension of 2,391 m in length with a fine sandy soil type. The purpose of this study is to compare the cost and implementation time of each type of dredger that can carry out dredging work with existing soil conditions in the port channel. The method used is to calculate how long the dredging work is so that the cost of each type of dredger is obtained. The results of the analysis found 3 types of dredges namely, TSHD in 2.11 months and costs Rp27,316,912,819.63, SD in 8.34 months and costs Rp27,887,202,652.35, and CSD in 6, 08 months and costs Rp37,995,671,214.00. The most efficient type of dredger for this work is TSHD with 7 tugboats and barges.Keywords: dredging, fairway, dredger
Analisis Sistem Pengelolaan Limbah B3 Di Industri Tekstil Kabupaten Bandung Eka Wardhani; Dea Salsabila
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v5i1.15-26

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengelolaan LB3 yang telah dilakukan di indsutri tekstil. Metode penelitian menggunakan metode perbandingan antara kondisi di lapangan dengan peraturan yang berlaku. Berdasarkan hasil evaluasi mengenai pengelolaan LB3 yang dilakukan oleh PT X dapat disimpulkan beberapa hal yaitu sumber LB3 berasal dari proses produksi, lumpur IPAL, boiler, labolatorium, pemeliharaan mesin, dan klinik. Jenis LB3 yang dihasilkan berasal dari sumber spesifik umum yaitu lumpur IPAL dan limbah medis, sumber spesifik khusus yaitu hanya fly ash dan sumber tidak spesifik yang meliputi lampu TL, drum bekas LB3, oli bekas dan reagen. Karakteristik LB3 terdiri dari beracun, mudah menyala, korosif dan infeksius. PT X telah melakukan pengelolaan LB3 yang meliputi aspek pengemasan dan pewadahan, pengumpulan, penyimpanan, pengangkutan dokumen pengelolaan LB3, dan pelabelan LB3. Untuk kegiatan pengangkutan PT X bekerja sama dengan pihak ketiga diantaranya adalah PT Hijau Lestari, PT PPLI, PT Khalda, dan WGI. Berdasarkan hasil analisis pengelolaan LB3 di perusahaan ini termasuk kategori baik. Upaya pengelolaan LB3 yang harus ditingkatkan yaitu pada proses pelekatan simbol dan label, pengemasan, dan penyimpanan LB3.Kata Kunci: Kabupaten Bandung, Industri Tekstil, Limbah B3,ABSTRACTThis study aims to determine the management of LB3 that has been carried out in the textile industry. The research method uses a comparison between conditions in the field and applicable regulations Based on the evaluation results on the management of hazardous materials carried out by PT X, it can be concluded several things, namely the source of hazardous materials originating from the production process, sludge from the wastewater treatment plant, boilers, laboratory, engine maintenance, and clinics. The types of hazardous materials produced come from general specific sources such are sludge from the wastewater treatment plant and medical waste, specific sources which are fly ash and non-specific sources which include lamps, drums used in hazardous materials, used oil and reagents. The characteristics of hazardous materials consist of toxic, flammable, corrosive, and infectious. PT X has managed the management of hazardous materials which includes aspects of packaging, storage, collection, storage, transportation of documents on the management of hazardous materials, and labeling of hazardous materials. For transportation activities, PT X cooperates with third parties including PT Hijau Lestari, PT PPLI, PT Khalda, and WGI. Based on the analysis the achievement of the management of dangerous substances in this company including the good category. Efforts to manage toxic and hazardous materials must be improved in the process of sticking symbols and labels, packaging, and storing toxic and hazardous materials.Keywords: Bandung Regency, Testile iIndustry, hazardous waste materials
Analisa Bentuk Foil pada Kapal Hydrofoil Supported-Catamaran (Hysucat) Yokhebert Natasya Siahaan; Samuel Samuel; Berlian Arswendo Adietya
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 4, No 3 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v4i3.145-156

Abstract

ABSTRAKKapal katamaran yang terintegrasi dengan foil bertujuan untuk menghasilkan performance lebih baik. Hydrofoil Supported-Catamaran (Hysucat) merupakan kapal katamaran yang dirancang untuk kecepatan tinggi menggunakan foil. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan metode numerik untuk mempresentasikan aliran fluida menggunakan RANS (Reynolds-Averaged Navier-Stokes). Aliran fluida pada penelitian ini menggunakan dua fasa yaitu air dan udara untuk menganalisis hambatan dan gaya angkat kapal katamaran yang telah dimodifikasi menjadi hysucat. Hysucat pada penelitian ini dibedakan oleh tiga macam bentuk foil yaitu lurus, sweep belakang dan sweep depan dengan tambahan variasi pada chord line dan sudut serang foil. Penambahan foil pada penelitian ini memberikan informasi bahwa hysucat dengan bentuk foil sweep belakang chord line 1.2 dan AOA(sudut serang) 0º mengurangi hambatan kapal sebesar 21% dari hambatan kapal katamaran tanpa foil. Gaya angkat tertinggi dihasilkan hysucat dengan bentuk foil sweep belakang chord line 1 dan AOA (sudut serang) 0º sehingga bentuk foil yang direkomendasikan untuk digunakan adalah sweep belakang.Kata kunci: hysucat, hambatan, gaya angkat, foil, CFDABSTRACTCatamaran hull-form using foil aims to produce better performance. Hydrofoil Supported-Catamaran (Hysucat) is a catamaran which is designed for high-speed craft using foil. This research was conducted with a numerical method approach to present fluid flow using RANS (Reynolds-Averaged Navier-Stokes). The numerical method uses two phases, namely water phase, and air phase to analyze catamaran hull-form, which have been modified being hysucat. Hysucat is distinguished by three types of foil form namely straight foil, backward sweep foil, and forward sweep foil with additional variations in chord line and angle of attack (AOA). The addition of foil in this study provides information that hysucat with backward foil, chord line 1.2, and AOA 0º reduce ship resistance by 21% from catamaran resistance without foil. The highest lift force is produced by hysucat with backward foil, chord line 1 and AOA 0º so that foil form which is recommended to be used is backward sweep foil.Keywords: hysucat, resistance, lift force, foil, CFD
A Study on the Self-Sustaining Solar Module by Utilizing Solar Cell from Non-Degradable Waste Farah Aina Mohd Jamal; Juliza Jamaludin; Syarfa Najihah Raisin; Bushra Naeem
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v5i1.27-38

Abstract

ABSTRACTPresently, Malaysia is fostering growth in the green energy sector in order to reduce its carbon emissions and contribute in the fight against global warming. Renewable Energy (RE) such as solar cell could no longer be considered as a green technology because at the end of their lifecycle, they become non- biodegradable waste which in turn constitutes pollution and contributes to global warming. Thus, the aim of this research is to study a self-sustaining solar module produced by upcycling solar cells from non- biodegradable waste. Several solar cells from electronic devices were reused in this study. The results obtained show that a combination of 4V, 3V and 2V reused solar cells produced 10.20V and 47.9mW of power. This indicates that the proposed upcycled solar module is feasible and has the potential to aid in the promotion of clean and renewable energy use in order to attain the desired sustainable development goals.Keywords: solar module, self-sustaining, solar cell, non-degradable waste
Pemetaan Wilayah Lahan Basah Berdasarkan Data Penginderaan Jauh Optik Dan Radar Rian Nurtyawan; Ervan Muktamar Hendarna
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v4i2.48-61

Abstract

ABSTRAKPada umumnya lahan basah dikelola menjadi area pertanian ataupun perkebunan. Fungsi lahan basah memiliki fungsi ekologis seperti pengendali banjir, pencegah intrusi air laut, erosi, pencemaran, dan pengendali iklim global. Data pengindraan jauh yang digunakan pengelolaan lahan basah yaitu pengindraan jauh optik dan radar. Tujuan dari penelitian ini adalah mengeksplorasi korelasi potensial dari data optik dan radar untuk mengamati dinamika pada kawasan lahan basah tersebut dan melakukan pemetaan. Metode yang digunakan pada pengindraan jauh optik yaitu LST (Land Surface Temperature) berdasarkan Citra Satelit Landsat-8 dan metode yang digunakan pada pengindraan jauh radar yaitu estimasi kelembaban tanah berdasarkan Citra Satelit Sentinel-1A. Hasil pengamatan dinamika dan pemetaan pada wilayah Kabupaten Bandung Raya memiliki nilai kelembaban tanah tertinggi pada Bulan Mei dengan nilai kelembapan tanah tanah rata-rata sebesar 20,9 % pada polarisasi VH. Suhu permukaan tanah terendah terjadi pada bulan Mei dengan nilai suhu rata-rata sebesar 19.5 °C. Kolerasi antara nilai kelembapan tanah tanah dan suhu permukaan tanah pada wilayah Kabupaten Bandung Raya berdasarkan metode koefisien determinasi sebesar R2=0.705 didapatkan bahwa semakin tinggi nilai kelembapan tanah tanah maka nilai suhu permukaan tanah akan semakin rendah.Kata kunci: Kawasan lahan basah, Pengindraan Jauh Optik, Pengindraan Jauh Radar, Pengamatan Dinamika, Pemetaan. ABSTRACTIn general wetlands managed become an area of agriculture or plantations. The extent of wetland that has been used can be damaged if it is not managed properly and integrated.. The purpose of this research is to explore the potential correlations between several parameters of optical and radar data to observe the dynamics of wetlands area and mapping the wetlands area. The methodology that was used in optical remote sensing is LST (Land Surface Temperature) based on Landsat-8 Satellite Image and the method used in remote radar sensing is estimation of soil moisture based on Sentinel-1A Satellite Image. The result of the observation in the area and mapping the dynamics in Bandung Raya District had the highest soil moisture values in May with 27% of soil water level in VH polarization and 78.1% in VV polarization and the lowest value in each month is 11.8% and the highest soil surface temperature in August with a value 37.9 ° C and the minimum value 19 ° C..Keywords: Wetland Area, Optical Remote Sensing, Remote Radar Sensing, Dynamics Observation, Mapping.
Non-Edible Moringa Oleifera Seeds for Environmentally Friendly Biodiesel – A Review Miranti Nur Arafah; Raden Sukmawati; Hasna Mutiara Safitri; Herawati Budiastuti
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v5i1.79-90

Abstract

ABSTRAKKetersediaan bahan bakar fosil semakin lama semakin berkurang. Hal tersebut menyebabkan dibutuhkannya pengganti bahan bakar alternatif yaitu biodiesel. Minyak biji kelor memiliki potensi sebagai bahan baku pembuatan biodiesel, karena kandungan asam oleatnya yang tinggi yaitu 75,36 –87,49%. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pembuatan biodiesel, penggunaan katalis heterogen serta pengaruh parameter operasi terhadap hasil dan kualitas biodiesel dari minyak biji kelor dengan metode studi literatur. Tahapan yang dilakukan dalam studi literatur ini adalah pengumpulan, pemisahan dan analisis artikel jurnal serta perumusan pembahasan dan kesimpulan. Pembuatan biodiesel minyak biji kelor dilakukan dengan beberapa tahapan proses, yaitu pengambilan minyak dari biji, proses esterifikasi-transesterifikasi dan pemurnian biodiesel. Parameter operasi yang paling berpengaruh dalam menghasilkan biodiesel minyak biji kelor adalah rasio molar metanol dan minyak, konsentrasi katalis, waktu reaksi dan temperatur reaksi. Penggunaan katalis heterogen mampu menghasilkan yield biodiesel minyak biji kelor yang tinggi yaitu rata-rata lebih besar dari 90%. Biodiesel minyak biji kelor telah sesuai dengan standar nasional (SNI 7182 : 2015) dan internasional (ASTM D6751 dan EN 14214)Kata Kunci: Biodisel Minyak Biji Kelor, Katalis Heterogen, Parameter Operasi, Karakteristik Biodiesel. ABSTRACTThe availability of fossil fuels is decreasing over time. This causes the need for an alternative fuel substitute, namely biodiesel. Moringa oleifera seeds are the raw material for making Moringa seed oil, used as raw material for making biodiesel. This is due to its high oleic acid contents, in the range of 75,36% - 87,49% the objectives of this study are to observe the production of biodiesel from Moringa seed oil, the use of heterogeneous catalysts in the production of Moringa seed oil biodiesel, the effect of operating parameters on the yield and quality of biodiesel produced. Literature study was done in this research, including the collection of journal articles, separation and analysis of journal articles, as well as the formulation of discussions and conclusions. Based on this study, there are several stages in the production of Moringa seed oil biodiesel, namely extracting oil from the seeds, esterification- transesterification, and refining of biodiesel. Operating parameters affect the manufacture of Moringa seed oil biodiesel. The most influential operating parameters are the molar ratio of methanol and oil, catalyst concentration, reaction time, and reaction temperature. The use of heterogeneous catalysts is able to produce a high yield of Moringa seed oil biodiesel, which is on average greater than 90%. Moringa seed oil biodiesel complies with both national (SNI 7182: 2015) and international (ASTM D6751 and EN 14214) standardr.Keywords: Moringa Seed Oil, Biodiesel, Heterogeneous Catalyst, Operating Parameters

Page 10 of 29 | Total Record : 281