cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Rekayasa Hijau
ISSN : 25794264     EISSN : 25501070     DOI : -
Jurnal Rekayasa Hijau diterbitkan 3 kali dalam satu tahun. Berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian dan kajian analisis di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, desain dan kebijakan ramah lingkungan.
Arjuna Subject : -
Articles 281 Documents
Studi Penanganan Ruas Jalan Bulu – Batas Kota Tuban Provinsi Jawa Timur Menggunakan Data FWD dan Data Mata Garuda Rahmi Zurni; Welly Pradipta; Ganny Rian Kusnandar
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v1i1.1338

Abstract

ABSTRAK Kondisi jalan di Indonesia saat ini cukup mengkhawatirkan, banyak jalan di Indonesia yang mengalami kerusakan, oleh karena kondisi jalan tersebut memerlukan penanganan yang serius. Penanganan yang sesuai akan menjaga jalan tetap pada kondisi pelayanan mantap. Penanganan jalan dianalisis menggunakan metode AASHTO 1993, dimana hasilnya berupa nilai (Structural Number). Nilai SN sangat dipengaruhi oleh data lendutan dari alat FWD dan data International Roughness Index dari survei alat Mata Garuda.Perbandingan nilai dengan menghasilkan nilai (Stuctural Condition Index) yang menentukan penanganan jalan tersebut. Dari hasil analisis diperoleh nilai yang bervariasi, sehingga menghasilkan penanganan jalan yang berbeda-beda setiap segmennya. Nilai terendah adalah 0,18 dengan penanganan berupa rekontruksi, sedangkan untuk nilai terbesar adalah 1,19 dengan penanganan berupa pemeliharaan. Kata kunci: penanganan jalan, lendutan, mata garuda    ABSTRACT The road condition in Indonesia is quite alarming, many roads in Indonesia that was damaged, therefore that condition of the road require serious treatment. Proper treatment will keep the road stay in good service condition. Road treatment analyzed by using AASHTO 1993 method, where the result is the value of (Structural Number). The value of is very affected by deflection data from FWD tools and International Roughness Index data that surveyed from Mata Garuda tools. The comparison of value and value resulting (Structural Condition Index) value that determine the treatment of that road. The analysis resulting variated value, so the road  treated differently on each segment. The lowest value is 0.18 with the reconstruction road treatment, meanwhile the highest value is 1.19 with the maintenance road treatment. Keywords: road maintenance, deflection, mata garuda
Penerapan Hitungan Volume Metode Simpson untuk Menghitung Volume Kapal dan Topografi Darat Ni Made Rai Ratih Cahya Perbani; - Rinaldy
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v2i1.2046

Abstract

ABSTRAKDalam bidang hidrografi volume kapal diperlukan untuk menentukan titik kestabilan bagi peletakan transduser alat perum gema guna memperoleh ketelitian yang lebih baik. Hitungan volume juga diperlukan untuk menentukan tebal sedimen untuk rekayasa laut. Permukaan yang akan ditentukan volumenya umumnya tidak beraturan sehingga volume ditentukan berdasarkan hasil pengukuran sehingga belum dapat diketahui secara pasti keterwakilan volume yang dihasilkan terhadap volume sebenarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana volume kapal yang dihitung menggunakan aturan Simpson dapat mewakili volume yang sebenarnya sehingga dapat diterapkan pada bidang permukaan tidak beraturan seperti untuk menghitung volume topografi darat atau dasar laut. Bentuk kapal diambil bidang setengah elipsoid supaya dapat dibandingkan dengan yang sebenarnya. Volume dihitung dengan menerapkan Aturan Pertama Simpson setelah proses gridding. Setelah diketahui sifat-sifatnya maka akan dapat diterapkan pada bidang permukaan yang tidak beraturan. Dari penelitian ini diperoleh bahwa kualitas keterwakilan volume lebih ditentukan oleh terwakilinya seluruh bentuk permukaan (terutama di tempat-tempat yang ekstrem) dibandingkan dengan ukuran grid, namun pertimbangan ukuran grid diperlukan untuk efisiensi proses hitungan.Kata kunci: volume, Aturan Pertama Simpson, ukuran grid.ABSTRACTIn hydrography the vessel volume is required to determine the stability point for setting up the transducer of echosounder to obtain better accuracy. Volume calculation is also required to determine thickness of sediment for marine engineering. Surface which the volume under it will be determined is generally irregular, so that the volume from the measurements will always have the uncertainty how fit it with the actual volume. This research is objected to find how the vessel volume calculated by Simpson rule can represent the actual volume so that it can be applied to irregular surface area such as land or seabed topography. Half ellipsoid is taken as the vessel ship so it can be compared with the actual. After gridding process then volume is calculated by applying Simpson First Rule. The characteristics which are found will give the consideration in application for irregular surfaces. It is found that the quality of volume representation more determined by how fit the entire surface shape (especially at extremes points) then the grid size. However, the grid size consideration is still required for efficiency in calculation.Keywords: volume, Simpson First Rule, grid size.
Analisis Pengaruh Konsentrasi Asam dan Basa terhadap Recovery Tembaga (Cu) dari Limbah Elektronika Salafudin -; Netty Kamal; Vibianti Dwi Pratiwi
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v3i1.2819

Abstract

ABSTRAKPenangan limbah elektronika dengan cara recycle dapat menjadi sumber alternatif untuk mendapatkan material yang bernilai. Salah satu komponen utama dalam pembuatan peralatan elektronika adalah PCB. Printed Circuit Board (PCB) mengandung banyak material logam yang berharga seperti tembaga (Cu) sekitar 25% b/b. Dari segi ekonomi maupun kebutuhan pasar, material tembaga layak untuk di recovery. Salah satu cara recovery tembaga dari PCB limbah elektronika adalah dengan proses hidrometalurgi. Pada proses ini PCB direaksikan dengan larutan asam kuat seperti HNO3 sehingga membentuk Cu(NO3)2. Parameter yang digunakan adalah konsentrasi perolehan tembaga, sedangkan variabel yang berubah pada penelitian ini adalah konsentrasi HNO3, NaOH dan jenis PCB sebagai limbah elektronika. Konsentrasi tembaga yang dihasilkan dalam percobaan ini dicari menggunakan metode AAS (Atomic Absorption Spectroscopy). Hasil yang didapatkan dihitung menggunakan Anova dengan software Minitab 17 untuk melihat pengaruh konsentrasi asam dan basa terhadap jenis PCB limbah elektronika. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan anova dengan Minitab 17 didapatkan pengaruh HNO3 7N pada waktu percobaan 60 menit lebih signifikan dalam mendaur-ulang tembaga dari PCB televisi.Kata Kunci: Limbah Elektronik, PCB, Tembaga, MinitabABSTRACTHandling of electronic waste by recycle can be an alternative source for obtaining valuable material. One of the main components in making electronic equipment is PCB. Printed Circuit Board (PCB) contains many valuable metal materials such as copper (Cu) around 25% b / b. In terms of economy and market needs, copper material is suitable for recovery. One method of copper recovery from PCB electronic waste is the hydrometallurgical process. In this process the PCB is reacted with a strong acid solution such as HNO3 to form Cu(NO3)2. The parameters used were the concentration of copper recovery, while the variable that changed in this study was the concentration of HNO3, NaOH and PCB type as electronic waste. The concentration of copper produced in this experiment was sought using the AAS method (Atomic Absorption Spectroscopy). The results obtained were calculated using Anova with Minitab 17 software to see the effect of acid and base concentrations on the type of electronic waste PCB. Based on the calculation results using Anova by Minitab 17, the influence of the HNO3 7N on the 60 minute was found to be more significant in recycling copper from a television PCB.Keywords: Electronic Waste, PCB, Copper, Minitab
Keragaan Usaha dan Nilai tambah Pada Agroindustri Keripik Tike (Studi Kasus di Desa Jumbleng Kecamatan Losarang Indramayu) Endah Djuwendah
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v2i1.2037

Abstract

ABSTRAKKeripik tike merupakan pangan lokal tradisional dari Kabupaten Indramayu yang berasal dari umbi tumbuhan Tike (Eleocharis dulcis Brumn f). Tike merupakan tumbuhan rawa pasang surut sulfat masam. Tanaman ini memiliki manfaat kesehatan karena mengandung Zat antibiotik puchiin dan vitamin C. Usaha pengolahan keripik tike memiliki peran penting dan potensial untuk dikembangkan karena mampu memberikan nilai tambah dari umbi tike menjadi komoditas pangan yang khas (local spesifik), memiliki cita rasa enak, bermanfaat bagi kesehatan, menciptakan kesempatan kerja dan memberikan pendapatan bagi masyarakat. Oleh karena itu cukup potensial untuk berkembang. Namun hingga saat ini usaha keripik tike belum berkembang secara luas karena terkendala oleh berbagai faktor diantaranya keterbatasan bahan baku, permodalan dan wilayah pemasaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis keragaan usaha dan nilai tambah agroindusti keripik tike yang berada di desa Jumbleng Kecamatan Losasang Kabupaten Indramayu. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknis penelitiannya berupa studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengadaan bahan baku umbi tike diperoleh dari Kabupaten Bekasi dan Cilacap dengan harga berkisar Rp 16.000 s,d 18.000 per Kg. Terjadi keterbatasan bahan baku tike saat peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan. Tenga kerja yang digunakan berasal dari desa setempat dan berjumlah 2-6 orang per unit usaha dengan sistem upah harian. Modal penyedia bahan baku terdiri dari modal pribadi dan modal pinjaman. Pengolahan keripik tike melalui proses pencucian, perendaman, penyangraian, penumbukan, penjemuran, penggorengan dan pengemasan. Pemasaran Keripik tike dilakukan oleh pedagang perantara yaitu penyalur dan pengecer dengan harga jual berkisar Rp 2000 – 10,000 untuk pemasaran langsung kemasan kecil dan Rp 80.000 s.d 90.000/kg untuk pemasaran tidak langsung melalui penyalur. Wilayah pemawaran keripik tike umumnya di wilayah Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Kapasitas produksi keripik tike rata-rata 50 kg umbi tike per proses produksi dengan tingkat konversi produk akhir mencapai 0,96. Nilai tambah per kilogam bahan baku adalah Rp 35.320, rasio nilai tambah 45,99 % dan keuntungan per nilai tambah adalah 30,36 %. Margin balas jasa terhadap faktor produksi paling besar dimiliki oleh keuntungan pengrajin yaitu 57,16 %, pendapatan tenaga kerja sebesar 29,41% dan sisanya 13,43% merupakan balas jasa terhadap sumbangan input lain.Kata kunci: Keripik tike, keragaan usaha, nilai tambahABSTRACTTike Chips is a traditional local food from Indramayu Regency derived from tuber Tike (Eleocharis dulcis Brumn f). Tike is a sulphurous acid wet tidal swamp. This plant has health benefits because it contains Puchiin antibiotic and vitamin C. Tike chips processing business has an important role and potential to be developed because it can provide added value from tike bulb to be a specific local food commodity, has good taste, beneficial for health, creating employment opportunities and providing income for the community. It is therefore quite potential to develop. However, until now the business of tike chips has not developed widely due to constrained by various factors such as limited raw materials, capital and marketing area. The purpose of this research is to analyze business performance and value added agroindustry tike chips that located in Jumbleng Village, Subdistrict of Losasang of Indramayu Regency. The research method used is descriptive qualitative with technical research in the form of case study. The results of research shows that the procurement of tike tuber raw material is obtained from Bekasi and Cilacap regencies with prices ranging from Rp 16.000 s, d 18,000 per kg. There is a limitation of tike raw materials during the transition from dry season to rainy season. Working tillers are from local villages and numbered of 2-6 people per business unit with daily wage system. Capital providers of raw materials consist of personal capital and loan capital. Processing of tike chips through washing process, immersion, roasted, collision, drying, frying and packaging. Marketing Chips tike is done by intermediary traders ie dealers and retailers with selling prices ranging from Rp 2000 - 10,000 for direct marketing of small packaging and Rp 80.000 s.d 90.000 / kg for indirect marketing through distributors. Tike chips offer areas generally in the districts of Indramayu and Cirebon. The production capacity of tike chips averages 50 kg of tike bulbs per production process with a final product conversion rate of 0.96. The added value per kilogram of raw materials is Rp 35,320, the value added ratio is 45.99% and the profit per added value is 30.36%. The greatest profit margin for the factor of production is owned by the craftsman's profit of 57.16%, the employment income of 29.41% and the remaining 13.43% representing the remuneration to other input contributions.Keywords: Tike chips, business performance, added value
Pengolahan Limbah Cair Domestik dengan Tanaman Eceng Gondok (Eichornia Crassipes) untuk Menghasilkan Air Bersih di Perumahan Green Tombro Kota Malang Anita Rahmawati; Warsito -
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v4i1.1-8

Abstract

ABSTRAKHampir semua pemukiman di Indonesia khususnya di Kota Malang membuang limbah hasil aktivitas cuci, mandi, dan dapur langsung ke saluran pembuangan air tanpa diolah terlebih dahulu, sehingga menimbulkan bau tak sedap dan menimbulkan berbagai penyakit. Sebelum air limbah dibuang ke badan air, ataupun dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan irigasi, maka air limbah tersebut perlu ditampung dan diolah terlebih dahulu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode filtrasi dan pemanfaatan tanaman eceng gondok (eichornia crassipes) sebagai media penyerap polutan limbah cair domestik. Karakteristik limbah cair domestik sebelum terjadi pengolahan di Perumahan Green Tombro Kota Malang yaitu memiliki pH = 9, kandungan COD sebesar 296,45 mg/l, dan kandungan BOD sebesar 14,813 mg/l, Sedangkan setelah mengalami proses pengolahan, karakteristik limbah cair domestik memiliki pH = 7 (dikatakan netral), kandungan COD sebesar 296,45 mg/l dan kandungan BOD sebesar 80,85 mg/l, yang berarti sudah memenuhi ketentuan baku mutu air limbah cair domestik yang mengacu pada peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia No. P.68/Menlhk/Setjen/Kum.1/8/2016.Kata kunci: limbah cair domestik, fitoremediasi, eceng gondok (eichornia crassipes)ABSTRACTAlmost all settlements in Indonesia, especially in the city of Malang, dispose waste from washing, bathing, and kitchen activities directly into the water bodies without being processed first. In the long term, the results of this cause odor and cause various diseases. Before wastewater is discharged into water bodies, or reused for irrigation purposes, the waste water needs to be collected and treated. The method used in this study was a filtration method and utilization of water hyacinth plants (Eichornia crassipes) as a pollutant absorber for domestic waste. Before treatment, domestic wastewater in Green Tombro Housing, Malang City has a pH = 9, a COD of 296.45 mg / l, and a BOD of 14.813 mg / l, whereas after undergoing treatment, the domestic liquid waste has a pH = 7 (said to be neutral), a COD content of 296.45 mg / l and a BOD content of 80.85 mg / l, which means that it meets the quality standards of domestic liquid waste water refering to the regulation of the Minister of Environment and Forestry of Indonesia No. P.68 / Menlhk / Setjen / Kum.1 / 8/2016.Keywords: domestic liquid waste, phytoremediation, water hyacinth (Eichornia crassipes)
Kajian Teori Integral dalam Efektivitas Transformasi Kesadaran Lingkungan pada Bangunan Berkelanjutan Anwar Subkiman
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v1i2.1632

Abstract

ABSTRAKPenerapan Prinsip Bangunan Hijau dimaksudkan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, terutama di kemudian hari. Lingkungan binaan yang diciptakannya mendorong kesejahteraan masyarakat yang dilingkupinya. Namun, perilaku desainnya baru semata penyelesaian teknis terhadap permasalahan krisis lingkungan yang tengah kita hadapi. Di sini, diperlukan juga peran perilaku manusianya yang juga berkesadaran lingkungan[1]. Perilaku desain, karena sifat teknisnya, cenderung akan mengalami kegagalan dalam masa penggunaannya. Untuk itu diperlukan kemantapan kesadaran lingkungan masyarakat untuk menjaga Perilaku Desain Hijau tetap berlangsung. Peran desainer tidak hanya selesai pada solusi teknis tetapi juga hendaknya mempertimbangkan faktor manusianya untuk mencapai kesadaran terhadap lingkungan. Untuk mewujudkan tujuan ini, desainer dapat melakukan pendekatan dari empat perspektif Kuadran AQAL Teori Integral dengan Dinamika Spiral manusia sebagai aspek psikologisnya. Kuadran AQAL memetakan permasalah penerapan Desain Hijau dan menguraikan proses interaksi antara perilaku desain dengan perilaku kesadaran manusianya sebagai model stimulus – respon. Diharapkan proses argumentatif perilaku desain dalam mengintervensi kesadaran lingkungan masyarakat dapat tercapai secara efektif.Kata kunci: Bangunan Hijau, Teori Integral, Dinamika Spiral, kesadaran lingkungan. ABSTRACTGreen Building Principles was applied to make we have a better life, especially in the future. Built enviroment that it created encourages well-being of its people. Design Behavior just solved the problem of enviroment crisis with the technical aspect. Also, we need role of human behavior with environmental consciousness. As technical aspect, Design Behavior has tend to failure operation. Therefore, the environmental consciousness people can be able to preserve Green Design Behavior. The designer should be not only solve the problems with technical aspects but also consider human factors to achieve they environmental consciousness. To get this goal, designer can make approach with four perspectives of AQAL and Spiral Dynamics integral. AQAL maps the problems of Green Design applied then analyze the proses of interaction between Design Behavior and people consciousness behavior as stimulus – response model. We hope that Design Behavior can take a role to make argumentative proses to intervent people reach they environmental consciousness effectively.Keywords: green building, Integral Theory, Spiral Dinamic, environmental consciousness. 
Pengaruh Komposisi Media Pertumbuhan Terhadap Produksi Scleroglucan Pada Fermentasi Aerob Sclerotium rolfsii InaCC F-05 Bintang Iwhan Moehady; Nancy Siti Djena
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v2i3.2511

Abstract

ABSTRAKScleroglucan adalah Eksopolisakarida yang dihasilkan dari fermentasi jamur Sclerotium rolfsii (S.rolfsii) dan telah digunakan di berbagai negara maju sebagai bahan pengental, industri makanan, farmasi, minyak dan industri lainnya. Berdasarkan hasil pengujian pada hewan tikus dalam jangka pendek dan panjang, scleroglucan tidak bersifat toksik dan tidak menunjukkan efek samping yang signifikan. Di Indonesia scleroglucan ini belum dikenal, lain halnya dengan jamur S. rolfsii yang lebih dikenal sebagai salah satu jamur patogen yang menyebabkan beberapa penyakit pada tanaman. Penyakit yang dihasikan oleh S.rolfsii merupakan penyakit potensial khususnya pada tanaman kedelai karena bila terserang akan mati serta patogen dan dapat bertahan lama di dalam tanah dalam bentuk sklerotia. Sehingga berbagai penelitian yang telah dilakukan di Indonesia hanya terbatas pada pencegahan, pengendalian dan karakterisasi dalam mengurangi sifat patogen dari S. rolfsii tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menentukan komposisi media pertumbuhan S. Rolfsii InaCC F-05 untuk menghasilkan scleroglucan menggunakan substrat hidrolisat tepung tapioka. Dalam penelitian ini scleroglucan dibuat dalam media PDB dan media PDB termodifikasi yang masing masing menggunakan substrat dari gula cair 7% pada 28oC, pH 5, pengadukan 180 rpm dengan waktu fermentasi S.rolfsii masing masing 46 dan 68 jam secara aerob. Hasil analisis FTIR menunjukkan bahwa scleroglucan hasil penelitian mempunyai puncak serapan pada 3408, 2933, 1633, 1408 dan 1031- 1151 cm-1. Puncak puncak serapan ini secara kualitatif telah sesuai dengan puncak serapan scleroglucan pada literatur. Secara keseluruhan dapat disebutkan bahwa S. rolfsii yang ditumbuhkan dalam media PDB termodifikasi dengan menggunakan substrat gula cair 7% telah berhasil memproduksi scleroglucan dengan yield dan konversi tertinggi masing masing sebesar 15,0805 g/L dan 21,5400%. Scleroglucan yang diperoleh mempunyai viskositas 1,9358 - 3,6579 cP. Nilai ini sudah memenuhi kriteria untuk dijadikan bahan campuran pada industri kimia.Kata kunci : S.rolfsii, scleroglucan, fermentasi.ABSTACTScleroglucan is an Exopolisaccharide produced from the fermentation of Sclerotium rolfsii (S.rolfsii) and has been used in many developed countries as a thickener, food, pharmaceutical, oil and other industries. Based on the results of tests on rats in the short and long term, it was found that scleroglucan is not toxic and have not shown significantly side effects. Scleroglucan is not well known in Indonesia, unlike fungus S. rolfsii which is better known as one of the pathogenic fungi that causes diseases in plants, especially in soybean crops where it will die and the pathogen can survive for a long time in the ground in the form of sclerotia. This is why the various studies that have been conducted in Indonesia are limited to prevention, control, and characterization in reducing the pathogenic of S. rolfsii. The objective of this study was to determine the growth media composition of S. Rolfsii InaCC F-05 to produce scleroglucan using tapioca starch hydrolysate substrate. In this study scleroglucan was made in PDB and modified PDB media, each using a substrate of 7% liquid sugar at 28oC, pH 5, stirred at 180 rpm with fermentation time of 46 and 68 hours in aerobic method. Based on FT-IR analysis showed that scleroglucan of this study had an absorption peak at 3408, 2933, 1633, 1408 and 1031 to 1151 cm-1. This absorption peak corresponds to the peak of scleroglucan uptake in the literature. Overall it can be concluded that S. rolfsii grown in modified PDB medium using a 7% liquid sugar substrate has succeeded in producing scleroglucan with the highest yield and conversion of 15.0805 g/L and 21.5400% respectively. The obtained scleroglucan has a viscosity of 1.9358 - 3.6579 cP. These value has met the criteria in the chemical industry.Keywords: S.rolfsii, scleroglucan, fermentation.
Analisis Kinerja Struktur Bangunan Rumah Tinggal dengan Kayu Glulam Mahoni Nessa Valiantine Diredja; Erma Desmaliana; Raca Prasetyo
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v3i3.3431

Abstract

ABSTRAK Rumah merupakan salah satu bangunan gedung yang harus memenuhi persyaratan keselamatan. Untuk memenuhi persyaratan keselamatan tersebut maka dalam perancangannya perlu mengikuti pedoman dan standar yang berlaku. Penelitian ini menganalisis kinerja struktur bangunan rumah tinggal kayu glulam dari kayu Mahoni berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 7973:2013 dan Eurocode menggunakan program SAP2000. Dari hasil preliminary design didapatkan dimensi balok dengan ukuran 170 x 340 mm dan kolom berukuran 300 x 400 mm untuk SNI dan balok berukuran 270mm x 550 serta kolom berukuran 450 x 600 mm untuk Eurocode. Hasil analisis program SAP2000 menunjukan bahwa kinerja struktur kedua bangunan telah memenuhi syarat ketahanan gempa yaitu perioda struktur, simpangan ijin, dan nilai minimum ragam alami struktur. Berdasarkan hasil analisis non-linier pushover didapatkan bahwa bangunan rumah tinggal termasuk dalam kategori tingkat kinerja Damage Control untuk SNI, sedangkan bangunan rumah tinggal berdasarkan Eurocode termasuk kedalam kategori tingkat kinerja Immediate Occupancy. Kata Kunci: Kayu glulam, Mahoni, SNI 7973:2013, Eurocode, Kinerja Struktur ABSTRACT Basically a house is a building that must meet safety requirements. To meet these safety requirements, in its design it is necessary to follow applicable guidelines and standards. This study analyse the structure performance of glulam residential building from Mahogany wood based on Indonesian National Standard (SNI) 7973:2013 and Eurocode using SAP2000 Program. Based on preliminary design, different dimensions of structural elements are obtained, which is beam size 170 x 340 mm and column size 300 x 400 mm for SNI and beam size 270 x 550 mm and column size 450 x 600 mm for Eurocode. SAP2000 program analysis showed that the performance of the structures of two building has met the earthquake resistance requirements such as period of structure, story drift and minimum value of modal participation ratio. Based on the result of non-linear pushover analysis, the SNI residential building were included in the Damage Control Performance level category, while Eurocode residential building were included in the category of Immediate Occupancy performance level. Keywords: Glulam wood, Mahony, SNI 7973:2013, Eurocode, Level of Performance
Studi Perubahan Garis Pantai Berdasarkan Interpretasi Citra Satelit Landsat dan Perhitungan Rasio Lahan di Wilayah Pesisir Indramayu Jawa Barat Thonas Indra Maryanto; Wiwin Windupranata; Samsul Bachri
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v1i1.1332

Abstract

ABSTRAKWilayah pesisir sebagai kawasan peralihan yang menghubungkan ekosistem darat dan ekosistem laut, sangat rentan terhadap kerusakan dan perubahan yang diakibatkan oleh berbagai aktifitas manusia di darat maupun di laut. Kabupaten Indramayu merupakan salah satu wilayah di Pesisir Utara Jawa Barat yang mengalami kerusakan paling parah diantara seluruh kabupaten di wilayah pesisir Utara Jawa Barat serta memiliki penggunaan lahan pesisir yang cukup lengkap mulai dari pemukiman, persawahan, tambak, dan industri (PLTU dan MIGAS)..Besarnya perubahan garis pantai yang meliputi abrasi dan sedimentasi diturunkan dari data citra satelit Landsat wilayah pesisir Kabupaten Indramayu tahun 1994-2009 dengan metode komposit RGB 4, 5, 7 dan Metode AGSO kemudian dilakukan proses digitasi.. Luas abrasi di 11 Kecamatan Pesisir Indramayu dari tahun 1994 – 2009 sebesar 3900,41 Ha dengan laju abrasi rata-rata sebesar 23,64 Ha/ tahun dan Luas sedimentasi sebesar 650,29 Ha dengan laju sedimentasi rata-rata sebesar 4,81 Ha/tahun. Hasil perhitungan regresi terhadap rasio lahan penduduk untuk tahun 2015 sebesar 0,07 Ha/ jiwa dan menurun pada tahun 2025 menjadi 0,05 Ha/jiwa .Rasio lahan petani untuk tahun 2015 sebesar 0,66 Ha/petani dan menurun menjadi 0,55 Ha/petani di tahun 2025.Kata Kunci : Pesisir indramayu, citra satelit, abrasi dan sedimentasi, Rasio lahanABSTRACTCoastal areas as a transitional region connecting the land ecosystems and marine ecosystems, are vulnerable to damage and changes caused by various human activities on land and at sea. Indramayu regency is one of the areas in the North Coast of West Java is the most severely damaged among all districts in the northern coast of West Java and has a coastal land use complete enough from residential areas, wet rice fields, ponds, and industrial (power plant and Gas). The number of change in coastal line include erosion and sedimentation derived from Landsat satellite image data coastal areas of Indramayu district in 1994-2009 with the composite method RGB 4, 5, 7 and methods AGSO then do the digitization process. The extent of abrasion in 11 districts of the coastal Indramayu from 1994 - 2009 are 3900.41 hectares with average abrasion rate of 23.64 ha / year and sedimentation area of 650.29 hectares with an average sedimentation rate of 4.81 ha / year. Results of regression calculations to land ratio for the 2015 population of 0.07 ha / life and decreased in 2025 to 0.05 hectares /life .Rasio farmers' fields for 2015 of 0.66 ha / farmer and decreased to 0.55 Ha / farmers in 2025. Keywords: Coastal area of indramayu, satellite imagery, erosion and sedimentation, land Ratio
Kajian Daya Tampung Sungai Citarik Provinsi Jawa Barat Eka Wardhani; Lina Apriyanti Sulistiowati
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v2i2.2393

Abstract

ABSTRAKKajian perhitungan daya tampung Sungai Citarik diharapkan menjadi data/informasi yang diperlukan dalam menganalisis kebijakan pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air. Sungai Citarik merupakan sungai lintas kabupaten. Maksud dilaksanakannya penelitian ini yaitu mendapatkan data gambaran hasil perhitungan tampung beban pencemaran untuk parameter BOD dan COD. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah: mendapatkan angka DTBP (daya tampung beban pencemaran) Sungai Citarik; memperoleh angka jumlah beban pencemar yang harus dikurangi dari masing-masing sumber pencemar agar kualitas air Sungai Citarik memenuhi kelas air yang ditetapkan DTBP nya; dan mencari berbagai pilihan kebijakan untuk menurunkan beban pencemaran dan dampaknya. Berdasarkan hasil perhitungan daya tampung beban pencemaran Sungai Citarik di DAS Citarik yang berada di 3 kabupaten yaitu Kabupaten Bandung, Sumedang, dan Garut menunjukkan bahwa kualitas air Sungai Citarik telah tercemar hal ini terlihat dari beberapa parameter seperti: TDS, TSS, BOD, COD, DO, Nitrat, Krom heksavalen, Tembaga, Nitrit, Klorin Bebas, Sulfida, Detergen MBAS, Total Colli dan Fecal Coli yang tidak memenuhi baku mutu. Ditinjau dari status mutu air Sungai Citarik termasuk katagori tercemar sedang sampai dengan berat. Kehadiran beberapa jenis logam berat di Sungai Citarik harus diwaspadai mengingat sifat dari logam yang, persistent, toksik, dan bersifat bioakumulasi.Berdasarkan hasil perhitungan terlihat bahwa daya tampung beban pencemaran air Sungai Citarik untuk parameter BOD dan COD sudah jauh terlampaui.Kata Kunci: Sungai Citarik, Daya Tampung, Beban PencemaranABSTRACTThe Citarik River capacity calculation study is expected to be the data / information needed in analyzing water quality management and water pollution control policies. Citarik River is a crossdistrict river. The purpose of this research is to obtain the image of the calculation result of load pollution load for BOD and COD parameters. The purpose of this research is to obtain DTBP number (pollution load capacity) of Citarik River; obtain the number of polluted loads to be reduced from each pollutant source so that the water quality of the Citarik River meets the water class set by its DTBP; and look for policy options to reduce pollution loads and their impacts. Based on the calculation of pollution load capacity of Citarik River in Citarik River Basin located in 3 regencies of Bandung, Sumedang, and Garut Regency shows that the water quality of Citarik River has been polluted this can be seen from several parameters such as: TDS, TSS, BOD, COD, DO, Nitrates, Chromium hexavalent, Copper, Nitrite, Chlorine Free, Sulfide, MBAS Detergent, Total Colli and Fecal Coli that do not meet the quality standard. Viewed from the status of Citarik River water quality including the category of moderate to severe pollution. The presence of some heavy metals in the Citarik River should be cautioned given the nature of the metal that is, persistent, toxic, and bioaccumulative. Based on the calculation results show that the water pollution load capacity of Citarik River for BOD and COD parameters is far exceeded.Key Words: Citarik River, Capacity, Pollution Load