cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Rekayasa Hijau
ISSN : 25794264     EISSN : 25501070     DOI : -
Jurnal Rekayasa Hijau diterbitkan 3 kali dalam satu tahun. Berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian dan kajian analisis di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, desain dan kebijakan ramah lingkungan.
Arjuna Subject : -
Articles 281 Documents
Citra Visual Koridor Kawasan Kota Lama Semarang Ditinjau Dari Potensi Wisata Edukasi Arsitektur Heritage Eka Virdianti; Septya Ayu Vatrina; Ditia Permata Angkasa
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v1i1.1331

Abstract

ABSTRAKKawasan Kota Lama Semarang pada zaman dahulu merupakan sebuah benteng yang dibangun oleh Kolonial. Perkembangan masa kini beralih menjadi sebuah kawasan dengan beragam fungsi dan memiliki nilai arsitektural yang dikatakan sebagai kawasan cagar budaya. Koridor jalan Letjen Soeprapto merupakan salah satu koridor utama yang memiliki tatanan bangunan yang khas dengan kuantitas yang cukup banyak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rancangan koridor jalan Letjen Suprapto di Kawasan Kota Lama Semarang ditinjau dari potensi wisata edukasi arsitektur heritage. Pendekatan penelitian menggunakan kualitatif dengan studi kasus. Pengambilan data melalui observasi, dokumentasi dan wawancara. Metoda analisis digunakan dengan metode deskripsi. Hasil kesimpulan terlihat pemerintah kota Semarang telah melihat potensi wisata yang ada pada Kota Lama Semarang dengan menjadikan “world destination”. Koridor Jl. Letjen Soeprapto dirancang sebagai zona 1-culture sebagai pusat informasi kawasan Kota Lama. Pada koridor Jl. Letjen Soeprapto terdapat 39 bangunan dan 30 merupakan langgam heritage,5 bangunan merupakan high priority buiding. Hal tersebut menjadi potensi dalam wisata edukasi arsitektur heritage khususnya pada aspek visual lingkage, konsep kontras, ornamen langgam yang dapat menjadi wisata dan sumber edukasi arsitektur heritage.Kata kunci: citra visual, potensi wisata edukasi arsitektur, heritage ABSTRACTKota lama Semarang was once a defensive bastion built by the Colonials. Throughout the years, this area is consisted by buildings with various of functions and is categorized as a cultural and heritage conservation area as its esteemed architectural value. Jalan letjend soeprapto is the main corridor of Kota Lama Semarang and has its own distinctive mass-blocking arrangement with great quantities. This research is purposed to analyse the corridor design of Jl. letjen Soeprapto considered by the potential of heritage architecture educational excursions. This research uses qualitative method and case studies with data compilations of observations, documentations, and interviews, and uses descriptive analysis method. Eventually, the Semarang government has a vision to actualize Kota Lama Semarang as a world tourist destination and design the corridor of jalan letjend soeprapto as the zona 1 - cultural as the information center of Kota Lama Semarang. In the corridor Jl. letjen Soeprapto there were 39 buildings and 30 is a heritage style, the building is a high priority 5 buiding. It became potential in educational excursions architectural heritage, especially the visual aspect Linkage, the concept of contrast, ornamenal style that can be a source of educational exsursions and architectural heritageKeywords: visual image, potential of heritage architecture educational excursions, heritage
Analisis Kualitas Sedimen Sungai Segah Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Utara Eka Wardhani; Lina Apriyanti Sulistiowati
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v2i2.2392

Abstract

ABSTRAKSungai Segah adalah salah satu sungai terbesar yang berada di Kabupaten Berau. Sungai Segah membentang dari hulu Kecamatan Segah dan bertemu dengan Sungai Kelay tepat di jantung kota Tanjung Redeb pusat pemerintahan Kabupaten Berau. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kontaminasi sedimen oleh pencemaran logam berat Cr, Cu, Cd, Pb, dan Zn. Sedimen merupakan tempat akumulasi logam berat dalam ekosistem perairan. Sedimen merupakan tempat akumulasi logam berat dalam ekosistem perairan. Logam berat akan terlepas dan menjadi sumber pencemaran di perairan tersebut. Sedimen memegang peranan penting dalam pergerakan dan akumulasi logam berat yang berpotensi menimbulkan dampak toksisitas terhadap biota. Metode penelitian menggunakan contamination Factor, diharapkan dapat memberi gambaran nyata mengenai pencemaran lima logam berat yaitu Cr, Cu, Cd, Pb, dan Zn yang terjadi sehingga dapat memberikan masukan untuk pengelola sungai dalam mengambil langkah pengendalian pencemaran air yang tepat. Berdasarakan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa konsentrasi lima logam berat yaitu Cr, Cu, Cd, Pb, dan Zn yang terkandung di Sungai Segah masih memenuhi bakumutu berdasarkan ANZECC, 1995. Berdasarkan penilaian kualitas sedimen Sungai Segah dengan menggunakan metode Cf dinyatakan bahwa sedimen telah tercemar oleh logam berat terutama Cd dengan katagori tercemar sangat berat. Sumber logam berat Cd dan logam berat lainnya diprediksi berasal dari aktivitas pertambangan di DAS Segah. Diperlukan upaya pengendalian pencemaran dari sumbernya supaya pencemaran sedimen di sungai ini tidak menimbulkan dampak lebih lanjut.Kata Kunci: Berau, Contamination Factor, Segah, SedimenABSTRACTSegah River is one of the largest rivers located in Berau District. Segah River stretches from upstream of Segah District and meets Kelay River right in the heart of Tanjung Redeb district of Berau District Government. This study aims to assess the level of sediment contamination by heavy metal pollution Cr, Cu, Cd, Pb, and Zn. Sediments are places of heavy metal accumulation in aquatic ecosystems. Sediments are places of heavy metal accumulation in aquatic ecosystems. Heavy metal will be released and become a source of pollution in these waters. Sediments play an important role in the movement and accumulation of heavy metals that could potentially impact toxicity to biota. The research method using contamination Factor is expected to give a real picture of the contamination of five heavy metals that Cr, Cu, Cd, Pb, and Zn that occur so as to provide input for river managers in taking appropriate water pollution control measures. Based on the result of the research, it can be concluded that the concentration of five heavy metals of Cr, Cu, Cd, Pb, and Zn contained in Segah River still fulfill stream standard based on ANZECC, 1995. Based on the assessment of Segah River sediment quality using Cf method it is stated that sediment has been contaminated by heavy metal especially Cd with the heavy contaminated category. Sources of heavy metals Cd and other heavy metals are predicted to come from mining activities in the Segah River Basin. There is a need to control pollution from the source so that sediment contamination in the river will not cause a further impact.Keywords: Berau, Contamination Factor, Segah, Sedimen
Pemetaan Area Berisiko Persampahan di Kota Cimahi Berdasarkan Pedoman Strategi Sanitasi Kabupaten/ Kota 2018 Indah Fionita; Iwan Juwana
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v3i2.3142

Abstract

ABSTRAKKota Cimahi merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang masih menghadapi permasalahan persampahan, seperti terbatasnya penerapan kegiatan pemilahan sampah, terbatasnya jumlah Tempat Penampungan Sementara (TPS), terjadi pembuangan sampah secara sembarangan ke sungai, terdapat penanganan sampah dengan cara dibakar dan ditimbun, dan lain-lain. Dalam menindaklanjuti berbagai permasalahan sampah tersebut serta mencapai target 30% pengurangan sampah yang ditentukan oleh Kebijakan Strategis Nasional (Jakstranas), maka diperlukan suatu instrumen yang mampu menganalisis area berisiko berdasarkan tingkat risiko persampahan per kelurahan di Kota Cimahi. Area berisiko tersebut digambarkan dalam bentuk peta dengan mengacu pada pedoman Strategi Sanitasi Kabupanen/Kota (SSK) 2018. Area berisiko dinilai melalui skor 1 s.d. 4 secara berturut-turut untuk risiko sangat rendah, rendah, tinggi, dan sangat tinggi. Skor tersebut diperoleh dengan mengalikan parameter Impact dan parameter Exposure. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat tiga kelurahan dengan risiko persampahan sangat tinggi, yaitu Kelurahan Cibeureum, Setiamanah, dan Padasuka serta satu kelurahan dengan risiko persampahan tinggi, yaitu Kelurahan Melong. Penambahan jumlah unit pengolahan direkomendasikan di beberapa kelurahan sehingga terjadi perubahan skor area berisiko.Kata Kunci: Kota Cimahi, Peta Area Berisiko, Persampahan ABSTRACTCimahi City is one of the cities in West Java that still faces solid waste problems, such as the limited implementation of waste sorting activities, the limited number of temporary shelter sites, the indiscriminate waste disposal on river, open burning of solid waste, etc. In following up on these various waste problems and achieving the target of 30% waste reduction determined by the National Strategic Policy, an instrument is needed to analyze risk areas based on the level of risk of solid waste per village in Cimahi City. These risk areas are depicted in the form of maps by referring to the 2018 District/City Sanitation Strategy Guidelines. Risk areas are assessed through a score of 1 s.d. 4 for very low, low, high and very high risks. The score is obtained by multiplying the Impact parameters and Exposure parameters. The results of this study indicate that there are three villages with very high risk of solid waste, namely Kelurahan Cibeureum, Setiamanah, and Padasuka and one village with high risk of solid waste, namely Kelurahan Melong. The addition of the number of processing units was recommended in several villages so that changes in the score of risk areas occurred. Keyword: Cimahi City, Map of Risk Areas, Waste Solid
Efisiensi Desain Ruang-Dalam pada Bangunan Pasar Vertikal di Kota Bandung Reza Phalevi Sihombing; Novan Prayoga
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v2i1.2041

Abstract

ABSTRAKPembangunan pasar saat ini banyak mengarah ke pengembangan vertikal. Efisiensi dan keterbatasan lahan menjadi pertimbangan untuk membangun pasar secara vertikal. Permasalahan yang sering terjadi adalah tidak berfungsinya lantai (ruang) di lantai atas bangunan sehingga sepi tidak ada aktivitas. Permasalahan yang telah diketahui tersebut hampir terus berulang seiring pembangunan pasar secara vertikal. Tidak adanya pertimbangan budaya berpasar masyarakat Indonesia mungkin menjadi salah satu kegagalan bangunan pasar vertikal. Penelitian ini akan mengkaji desain beberapa pasar vertikal di Bandung yang kurang maksimal dalam pemakaian ruang di lantai atas. Dari hasil kajian penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai mengapa area ruang lantai atas pasar vertikal cenderung tidak diminati.Kata kunci: Efisiensi Desain, Ruang Dalam, Pasar VertikalABSTRACTThe current market development leads much to vertical development. Efficiency and limitations of the land into consideration to build the market vertically. The problem that often happens is the malfunction of the floor (space) on the top floor of the building so quiet there is no activity. Known issues are almost constantly recurring as the market develops vertically. The absence of cultural considerations based on Indonesian society may be one of the failures of vertical market buildings. This research will examine the design of some vertical market in Bandung which is less than maximum in the use of space upstairs. From the results of this research study is expected to provide an overview of why the upper floor space area of the vertical market tends not to be in demand.Keywords: Design Efficiency, Space, Vertical Market
Studi Awal Pertumbuhan dan Induksi Mikroalga Haematococcus Pluvialis Judy Retti B. Witono; Y.I.P. Arry Miryanti; Herry Santoso; Angela Justina Kumalaputri; Valine Novianty; Alvin Gunadi
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 2, No 3 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v2i3.2516

Abstract

ABSTRAKMunculnya makanan cepat saji dan polusi udara mendatangkan kerusakan tubuh akibat radikal bebas. Untuk melawan radikal bebas, antioksidan menjadi semakin populer di berbagai kalangan dan salah satunya astaxanthin. Haematococcus pluvialis merupakan sumber astaxanthin alami tertinggi. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari pertumbuhan H. Pluvialis. Sebagai variabel dalam penelitian ini adalah (1) konsentrasi inoculum awal yang berbeda (yaitu 10%-v/v dan 20%-v/v) terhadap kepadatan dan jumlah sel; (2) penambahan garam NaCl dan induksi cahaya terhadap rasio karotenoid dan klorofil. Mikroalga H. pluvialis secara fotoautotrof selama sembilan hari. Karotenogenesis diinduksi oleh penambahan NaCl 0,8%-b/v, diikuti oleh induksi di bawah intensitas cahaya tinggi. Kadar klorofil dan total karotenoid dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan H. pluvialis lebih baik dikulturkan dengan konsentrasi inokulum 10% dan diperoleh jumlah 70 x 105 sel/mL. Penambahan garam NaCl 0,8%-b/v disertai induksi intensitas cahaya tinggi dapat meningkatkan rasio kadar karotenoid terhadap klorofil sebesar 28,9%.Kata kunci:,Haematococcus pluvialis, induksi cahaya, karotenoid, klorofil, mikroalga.ABSTRACTFast food and air pollution lead to the production of free radicals in our body. To fight those, it is needed anti-oxidant. That is the reason why antioxidant become a popular supplement for many people and one of them is astaxanthin. Haematococcus pluvialis is the highest source of natural astaxanthin. The goal of this study is to observe the cell growth of H. pluvialis. The variables used in this research are (1) a different initial inoculum concentrations (i.e. 10%-v/v and 20%-v/v) to the density and number of cells; (2) the addition of salt NaCl and light induction to the ratio of carotenoids to chlorophyll. Microalgae H. pluvialis was cultured in batch mode and photoautotrophic cultivation for nine days. The carotenogenesis was induced by addition of NaCl 0.8%-b/v, followed by induction under high-light intensity. Chlorophyll levels and total carotenoids were analyzed using a spectrophotometer. It was observed that growth of H. pluvialis was preferable cultured with 10% inoculum concentration and obtained 70 x 105 cells/mL. The addition of NaCl 0.8%-b/v salt followed by high light intensity induction could increase the ratio of carotenoids to chlorophyll levels by 28.9%.Keywords: carotenoid, chlorophyll, Haematococcus pluvialis, light induction, microalgae.
Alternatif Rancangan Alat Panggang Kue Balok Ramah Lingkungan Menggunakan Liquefied Petroleum Gas (LPG) Dwi Novirani; Hari Adianto; Ricky Januar E
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 1, No 3 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v1i3.1772

Abstract

ABSTRACTThe design of green Kue Balok baking equipment fueled by gas needs to be made because the cake seller in Bandung still uses the baking tools with fueled by charcoal, which has shortcomings such as charcoal burning which takes a long time, charcoal residue such as smoke and dust which contain carcinogen materials , which is bad for health, so it must be eliminated in order to make it more secure and comfortable, and is expected to be used in restaurants, malls and weddings. This designing alternative uses the VDI 2222 method.Keywords: Design, Baking Equipment, Kue Balok, Gas, GreenABSTRAKPerancangan alat panggang Kue Balok ramah lingkungan berbahan bakar gas, perlu dilakukan karena penjual Kue Balok di Kota Bandung masih menggunakan alat panggang dengan bahan bakar arang, yang mempunyai kekurangan seperti pembakaran awal yang membutuhkan waktu lama, sisa pembakaran arang seperti asap dan debu yang menggandung karsinogen, yang buruk untuk kesehatan, sehingga kekurangan tersebut harus dihilangkan supaya lebih bersih aman dan nyaman, dan diharapkan dapat digunakan di restoran, mall dan acara pernikahan. Alternatif perancangan ini menggunakan metode VDI 2222.Kata kunci: Perancangan, Alat Panggang, Kue Balok, Gas, ramah lingkungan.
Perencanaan Strategi Pengelolaan Hutan Palasari dengan Metode AHP Wedayani Ni Made; Widyasari Ni Luh
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v4i1.43-47

Abstract

ABSTRAK Pengelolaan kawasan Hutan Palasari sebagai sabuk hijau penting dilakukan sebagai upaya pelestarian lingkungan. Hutan Palasari yang terletak di desa Ekasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana berperan aktif dalam mencegah erosi dan menjaga sumber air bagi masyarakat sekitar. Kawasan Hutan Palasari yang dekat dengan daerah waduk menjadikan hutan ini sebagai kawasan sabuk hijau yang perlu dilestarikan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji langkah-langkah yang tepat dalam pengelolaan dan pelestarian Hutan Palasari dengan menggunakan metode AHP, sehingga diperoleh rangkaian prioritas strategi yang dapat diusahakan masyarakat sekitar demi keberlanjutan Hutan Palasari. Strategi pelestarian Hutan Palasari yang menjadi prioritas yaitu menerapkan sistem agroforestri dengan mengutamakan tanaman berkayu yang bernilai ekonomis serta mampu menahan air dan erosi seperti tanaman endemik hutan yaitu pohon bayur dan pulai demi menjaga kawasan Hutan Palasari agar tetap lestari dan berkelanjutan.Kata kunci: hutan, sabuk hijau, waduk, AHPABSTRACTManagement of the Palasari Forest area as a green belt is important as an effort to preserve the environment. Palasari Forest, located in Ekasari Village, Melaya District, Jembrana Regency, has an active role in preventing erosion and maintaining water sources for the surrounding community. Palasari Forest area which is close to the reservoir area makes this forest a green belt area that needs to be preserved. The purpose of this study is to examine the appropriate steps in the management and preservation of Palasari Forest by using the AHP method, in order to obtain a series of strategic priorities that can be pursued by local communities for the sustainability of Palasari Forest. The Palasari Forest preservation strategy which is a priority is to implement an agroforestry system by prioritizing woody plants that are economically valuable and able to withstand water and erosion such as forest endemic plants, namely bayur and pulai trees in order to maintain the Palasari Forest area to remain sustainable and sustainable.Keywords: forests, green belts, reservoirs, AHP
Kajian Emisi Partikulat Dan Gas Dari Suatu Pertambangan Nikel Di Halmahera Tengah Agung Ghani Kramawijaya
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v1i2.1637

Abstract

ABSTRAKNikel merupakan jenis logam yang sangat penting untuk infrastruktur modern, sehingga pencarian deposit nikel terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nikel di dunia. Indonesia merupakan negara dengan deposit nikel yang sangat besar, yaitu 16.200 kt nikel. Salah satu lokasi di Indonesia yang memiliki kandungan nikel adalah Halmahera Tengah. Bijih lateric yang mengandung nikel diangkat dari dalam bumi untuk diolah dan dihasilkan bijih nikel. Keberadaan pertambangan nikel memiliki berbagai dampak negatif terhadap lingkungan, salah satunya adalah penurunan kualitas udara akibat peningkatan konsentrasi pencemar udara. Berbagai jenis pencemar diemisikan dari kegiatan pertambangan, diantaranya adalah partikulat, NOx, SO2, SO3+H2SO4, debu nikel, dan H2S. Tingkat konstribusi pertambangan nikel terhadap pencemaran udara dapat dilihat dengan menghitung laju emisi dari kegiatan operasional pertambangan. Laju emisi dari pertambangan nikel dapat diperoleh melalui invetarisasi emisi. Kegiatan dan proses di pertambangan nikel yang berpotensi menjadi sumber emisi diidentifikasi terlebih dahulu dalam tahap pertama inventarisasi emisi. Selanjutnya, perhitungan emisi dilakukan berdasarkan ketersediaan data yang diperoleh. Faktor emisi yang dipilih dalam perhitungan emisi mempertimbangkan ketersediaan data. Emisi dihitung dengan mengalikan faktor emisi dengan data aktifitas. Berdasarkan hasil inventarisasi emisi, diketahui bahwa pencemar yang paling banyak dihasilkan oleh pertambangan nikel adalah partikulat dengan jumlah 35.173,96 ton. Sumber utama partikulat adalah pertambangan bijih dengan kontribusi sebesar 83%. Sementara itu, gas pencemar yang paling banyak diemisikan dari pertambangan nikel adalah SO2 dengan jumlah 8.392,61 ton. Sumber utama gas SO2 adalah pabrik asam dengan kontribusi sebesar 72%.Kata Kunci: inventarisasi emisi, pertambangan nikel, emisi gas, emisi partikulat ABSTRACTNickel is one kind of a very important metal used for modern infrastructure, so the exploration of nickel deposits conducted continuesly to meet the needs of nickel around the world. Indonesia is a country with very large nickel deposits, ie 16,200 kt of nickel. One of the locations in Indonesia which has a nickel content is Central Halmahera. Lateric bijih containing nickel was mined from the earth to be processed and produced nickel bijih. Nickel mining has many negative environment impacts, one of them is air quality decrease due to increased concentration of air pollutants. Various types of pollutants are emitted from mining activities, such as particulates, NOx, SO2, SO3+H2SO4, nickel dust, and H2S. The contribution of air pollution from nickel mining can be found by estimate the emissions rate from mining operations. Emission rate of the nickel mining can be obtained through emission inventory. The emission source of the activities and processes in nickel mining has to be identified first in the first stages of emission inventory. Furthermore, the estimation of emissions is conducted based on the availability of obtained data. The chosen emission factor in the estimation of emissions considers the availability of data. Emissions are calculated by multiplying the emission factor with activity data. Based on the result of emission inventory, the most pollutants emitted from nickel mining is particulate. Total amount of particulate emission is 35,173.96 tonnes. Main source of particulate is ore mining with contribution of 83%. Meanwhile, the most emitted gas from nickel mining is SO2 with the amount of 8,392.61 tons.Main source of SO2 is acid plant with contribution of 72%.Keywords: emission inventory, nickel mining, gas emission, particulate emission 
Rancang Bangun Mesin Pencacah Plastik Tipe Gunting Nuha Desi Anggraeni; Alfan Ekajati Latief
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v2i2.2397

Abstract

ABSTRAKJumlah sampah plastik yang dibuang kelaut oleh Indonesia jumlahnya mendekati 200 juta ton. Jumlah ini berada di bawah Tiongkok yang menghasilkan sampah plastik mencapai 262,9 juta ton. Pada saat yang sama, kebutuhan akan plastik di Indonesia baru terpenuhi sekitar 64% dari total 5 juta ton plastik. Sampah plastik yang dibuang kelaut, seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Sampah plastik yang telah ada, perlu diolah agar dapat dimanfaatkan kembali sebagai plastik produksi. Pengolahan sampah plastik yang paling sederhana adalah dengan mencacah plastik yang telah ada menjadi serpihan-serpihan kecil menggunakan mesin pencacah. Mesin pencacah dapat digunakan dimanapun karena menggunakan mesin diesel sebagai penggeraknya. Mekanisme pencacahan yang digunakan menggunakan tipe gunting. Hasil perancangan mesin pencacah menggunakan 5 mata pisau dengan spesifikasi, panjang 180 mm, lebar 50 mm, tebal 10 mm dan sudut mata pisau 35° dengan panjang poros penggerak 450 mm, diameter 30 mm.Kata kunci:plastik, mesin, daur ulang.ABSTRACTThe amount of plastic waste discharged into the sea by Indonesia is approximately 200 million tons. This amount is below China which produces plastic waste reaches 262.9 million tons. At the same time, the need for plastics in Indonesia is only fulfilled about 64% of the total 5 million tons of plastic. Plastic waste discharged into the sea, should be utilized to meet these needs. Plastic waste that has been there, needs to be processed in order to be reused as a production plastic. The simplest plastic waste processing is to chop the already existing plastic into small pieces. This chopper machine can be used anywhere because it uses a diesel engine as its propulsion. The enumeration mechanism used with scissor type. The design of the enumerator machine uses 5 blades with specifications, length of 180 mm, width 50 mm, 10 mm thick and 35 ° knife angle with 450 mm drive length, 30 mm diameter.Keyword: plastic, machine, recycle
Penentuan Nilai Ekonomi Taman Nasional Gunung Ciremai Dengan Metode Contingen Valuation Method Ali Al Madaidy; Iwan Juwana
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v3i2.3147

Abstract

ABSTRAKTaman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) di Jawa Barat merupakan kawasan konservasi dan salah satu wisata alam di Indonesia. Pengelolaan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Jalur Pendakian Apuy dikelola oleh Mitra Pariwisata Gunung Ciremai (MPGC) Argamukti dan didampingi oleh Seksi Pengelola Taman Nasional II (SPTN II) resort Argalingga. Menjadi destinasi pendakian gunung oleh wisatawan menimbulkan permasalahan tersendiri bagi TNGC sebagai sebuah kawasan hutan. Permasalahan yang timbul antara lain adalah sampah yang dibawa oleh pengunjung taman nasional yang tidak terkelola dengan baik. Selain itu, keterbatasan pengetahuan dan keterbatasan dana yang dihadapi oleh pengelola menambah pelik permasalahan persampahan di area wisata ini. Salah satu alasan dilakukannya penelitian ini adalah belum adanya penelitian mengenai Willingness to pay (WTP) untuk pengelolaan persampahan di Taman Nasional Gunung Ciremai. Contingent Valuation Method (CVM) yang digunakan dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menentukan nilai WTP dan nilai tersebut nantinya dijadikan sebagai informasi awal biaya untuk pengelolaan persampahan di Taman Nasional Gunung Ciremai Hasil penelitian ini menunjukan bahwa rataan WTP responden wisatawan berdasarkan CVM adalah sebesar Rp. 13.646,- atau Rp. 200.996.776 /tahun.Kata kunci: Willingness to Pay, Travel Cost Method, Contingent Valuation Method, Taman Nasional Gunung Ciremai. ABSTRACTMount Ciremai National Park (TNGC) in West Java is a conservation area and one of nature tourism in Indonesia. The Apuy Track in Mount Ciremai National Park are managed by Argamukti’sCiremai Mountain Ascent Community (MPGC) and accompanied by Section II of The National Park Management (STPN II) Argalingga resort. Being a mountain climbing destination raises its own problems for TNGC as a forest. The problems that arise include visitors wastes in national parks are not properly managed. Furthermore, limited knowledge and funds which is faced by the management are increasing the waste problems in this tourism area. One of the reason of this study is the research on Willingness to Pay (WTP) for solid waste management still rare in Mount Ciremai National Park. Contingent Valuation Method (CVM) are used to determine the WTP value and it will be used as first information for waste management costs in Mount Ciremai National Park. The results of this research shown that the average WTP of tourist respondents based on CVM is Rp. 13.646,- or Rp. 200.996.776,- /year.Keywords: Willingness to Pay, Travel Cost Method, Contingent Valuation Method, Mount Ciremai National Park.