cover
Contact Name
Nyoman Angga Krishna Pramana
Contact Email
anggakrishna@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
anggakrishna.dr@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Callosum Neurology Journal : Jurnal Berkala Neurologi Bali
ISSN : 26140276     EISSN : 26140284     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Callosum Neurology Journal is an official journal managed by The Indonesia Neurological Association XXV Branch of Denpasar. This journal is open access to the rules of peer-reviewed journaling which aims as scientific publications and sources of actual information in the field of neurology and neuroscience. Callosum Neurology Journal is published three times a year in January, May, and September and contains original articles of research, case reports, case series reports, literature reviews, and communications from and to editors.
Arjuna Subject : -
Articles 75 Documents
SINDROM GUILLAIN-BARRE PADA PASIEN DENGAN INFEKSI SARS-COV-2 SELAMA MASA PANDEMI Johann Andrasili; Anak Agung Bagus Ngurah Nuartha
Callosum Neurology Vol 3 No 3 (2020): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v3i3.124

Abstract

Latar Belakang: Corona Virus Disease 19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus korona yang sekarang dinamakan Severe Acute Respiratory Syndrome – Corona Virus -2 (SARS-CoV-2). Selain sistem pernapasan, penyakit ini utamanya dapat memengaruhi sistem saraf dalam bentuk penyakit autoimun salah satunya sindrom Guillain-Barre (SGB). Ditemukan sebanyak 12 laporan kasus dari berbagai negara yang menunjukkan pasien terinfeksi SARS-CoV-2 dengan SGB. Tujuan: Untuk menjelaskan patogenesis terjadinya SGB pada infeksi SARS-CoV-2 dan meningkatkan kewaspadaan klinisi terhadap kejadian ini. Diskusi: Keterlibatan SARS-CoV-2 terhadap sistem saraf kemungkinan dapat melalui dua cara, yaitu melalui dugaan kemampuan neurothropic yang terlihat dari virus memasuki bulbus olfaktorius sehingga menyebabkan peradangan dan demielinisasi (neuroinvasif) serta melalui penyakit autoimun. Simpulan: Dengan ditemukannya SGB pada pasien infeksi SARS-CoV-2, maka diperlukan kewaspadaan yang tinggi dari klinisi terhadap hal tersebut. Kata Kunci: Sindrom Guillain-Barre, SARS-CoV-2, Autoimun, Mimikri Molekuler
MENGENALI NEURITIS OPTIK POST-PARTUM PADA DAERAH TERPENCIL: SEBUAH LAPORAN KASUS Harris Kristanto Soedjono; Candida Isabel Lopes Sam
Callosum Neurology Vol 3 No 3 (2020): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v3i3.125

Abstract

Latar Belakang: Neuritis optik adalah suatu proses inflamasi demielinisasi yang menyebabkan gangguan penglihatan mendadak yang bisa timbul pada satu maupun kedua mata secara simultan maupun berturut-turut. Kasus: Seorang wanita berusia 22 tahun datang ke Poliklinik Saraf dengan keluhan utama kehilangan penglihatan mendadak pada kedua mata secara bersamaan sejak 2 hari. Keluhan tambahan berupa nyeri kepala dan pusing. Pasien dalam kondisi post-partum hari ke-7 saat onset. Tidak ada masalah selama kehamilan maupun proses persalinan. Visus pada pemeriksaan awal 1/300 pada kedua mata. Pasien kemudian rawat inap dan diberikan kortikosteroid dosis tinggi. Setelah perawatan, pasien pulang dengan visus menjadi lebih dari 6/60. Diskusi: Pasien ini mungkin memiliki defisiensi B6, B12, dan asam folat yang dapat menyebabkan proses demielinisasi nervus optikus. Mungkin juga merupakan manifestasi awal dari Sklerosis Multipel, suatu proses autoimun yang muncul saat periode post-partum. Kesimpulan: Kehamilan memiliki efek protektif terhadap penyakit autoimun, sedangkan periode post-partum rentan terhadap penyakit autoimun. Pasien ini sedang dalam periode post-partum sehingga lebih rentan terhadap penyakit ini. Kata Kunci: Neuritis Optik, Post-Partum, Kehilangan Penglihatan Mendadak
PEMERIKSAAN PET DAN SPECT SCAN PADA BEDAH EPILEPSI Anna Marita Gelgel; Tommy Sarongku
Callosum Neurology Vol 3 No 3 (2020): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v3i3.128

Abstract

Latar Belakang: Epilepsi merupakan penyakit sistem saraf pusat yang ditandai dengan bangkitan berulang karena terganggunya aktivitas sel di otak. Sekitar 1% populasi didunia menderita epilepsi. Penderita epilepsi yang masih mengalami suatu bangkitan, meski sudah mendapatkan 2 jenis obat anti epilepsi, perlu dipertimbangkan untuk dilakukan suatu tindakan bedah epilepsi. Tujuan: Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pemeriksaan PET dan SPECT Scan pada bedah epilepsi. Diskusi: PET Scan merupakan suatu alat pencitraan yang dapat membantu menentukan lokasi fokal epileptogenik berdasarkan area yang mengalami hipometabolisme sementara SPECT pada fase iktal mampu melokalisir area epileptogenik. Kesimpulan: PET dan SPECT Scan merupakan salah satu pencitraan yang perlu dilakukan untuk mengevaluasi lokasi fokus epileptogenik pada pasien sebelum dilakukan tindakan bedah epilepsi. Kata Kunci: PET, SPECT Scan, Bedah Epilepsi
FENOMENA PSIKOSIS PADA PASIEN EPILEPSI: GAMBARAN KLINIS DAN TATALAKSANA Ria Damayanti; Machlusil Husna; Lovita Meika Savitri; Nur Izzati
Callosum Neurology Vol 4 No 1 (2021): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v4i1.132

Abstract

Latar Belakang: Epilepsi terjadi akibat lepasnya muatan listrik yang berlebihan, paroksismal dan abnormal pada neuron otak. Kelainan di bidang psikiatri seringkali muncul bersama dengan epilepsi. Hampir 20% sampai 60% pasien epilepsi memiliki beberapa jenis komorbiditas psikiatri. Kelainan di bidang psikiatri yang paling umum pada pasien epilepsi adalah depresi, ansietas dan psikotik.  Tujuan: Pada artikel ini akan dibahas mengenai epilepsi dengan komorbiditas psikiatri terutama psikosis dari tinjauan klinis, patofisiologi dan manajemen yang direkomendasikan, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien epilepsi secara umum. Diskusi: Secara umum psikosis epilepsi diklasifikasikan berdasarkan hubungannya dengan kejang yang yaitu iktal psikosis, postiktal psikosis dan interiktal psikosis. Epilepsi dengan komorbiditas psikiatri diduga disebabakan oleh faktor neuropatologi, neurokimia, genetik, dan psikososial. Simpulan: Pengetahuan khusus diperlukan untuk pemilihan obat anti epilepsi (OAE) pada pasien epilepsi dengan psikosis karena seringkali terjadi interaksi obat, efek sinergi, serta efek samping yang tidak diharapkan. Kata Kunci: Manajemen Psikosis, Epilepsi, Anti Psikotik, Anti Epilepsi
KEJANG PADA PASIEN STROKE NON HEMORAGIK Jessica Jessica; Fidelia Christy R; Desie Yuliani; Harun Nurdiansah Ahmad; Adrean Hartanto Halim
Callosum Neurology Vol 4 No 1 (2021): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v4i1.134

Abstract

Pendahuluan: Stroke menyumbang 10% penyebab epilepsi dan 55% penyebab kejang yang baru terdiagnosis di antara orang tua. Post Stroke Seizure (PSS) dapat diklasifikasikan menjadi acute symptomatic seizure (ASS) dan unprovoked seizure (US). Ketepatan diagnosis PSS dapat membantu memprediksi risiko kejang berulang sehingga dapat melakukan edukasi dengan tepat terhadap pasien. Laporan Kasus: Seorang wanita berusia 55 tahun datang dengan keluhan tiba-tiba mengalami lemas pada separuh tubuh kanan sehingga pasien sempat terjatuh serta mengeluh suara pelo dan bibir agak mencong sejak 5 jam sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Setengah jam setelah berada dalam IGD pasien mengalami kejang kelojotan di bagian lengan dan tangan kanan selama 1 menit. Pasien langsung diberikan diazepam 5 mg bolus lambat intravena sehingga kejang langsung berhenti. Satu jam setelah diberikan diazepam pasien mengalami kejang kelojotan pada seluruh tubuh selama 1 menit. Terhadap pasien, langsung diberikan diazepam 5 mg bolus lambat intravena kedua, selanjutnya dilakukan loading fenitoin 300 mg intravena. CT Scan kepala non kontras menunjukkan subacute ischemic cerebral infarction di kapsula interna kiri dan chronic ischemic cerebral infarction di basal ganglia kiri serta atrofi otak ringan. Diskusi: Iskemia otak dapat menyebabkan kerusakan reversibel maupun ireversibel yang akan memicu aktivitas elektrik yang tidak terorganisasi yang selanjutnya menimbulkan manifestasi kejang. Pada pasien kami, jenis kejang yang berelasi dengan stroke-nya dapat tergolong ASS yang disimpulkan dari manifestasi klinis kejadian stroke akut dan manifestasi klinis kejangnya fokal (dengan generalisasi sekunder), maupun epilepsi post stroke (unprovoked seizure) terkait stroke lama pasien yang didapat dari hasil CT Scan kepala non kontras. Simpulan: Kejang dapat menjadi manifestasi klinis penyerta pasien yang datang dengan stroke. Sangat penting untuk membedakan tipe kejang post stroke berupa acute symptomatic seizure (ASS) atau provoked seizure ketika terjadi manifestasi kejang dalam satu minggu setelah kejadian stroke dan unprovoked seizure (US) ketika terjadi manifestasi kejang setelah lebih dari satu minggu setelah kejadian stroke. Penegakan diagnosis yang tepat membantu untuk memberikan tatalaksana yang tepat untuk mengetahui tingkat rekurensi kejang berulang pada pasien stroke. Kata Kunci : Kejang Pasca Stroke, Epilepsi Pasca Stroke, Stroke Non Hemoragik
ASSOCIATION OF LIPID PROFILES AND COGNITIVE FUNCTION DETERIORATION OF GERIATRIC OUTPATIENTS AT NEUROLOGY CLINIC GUNUNGSITOLI REGIONAL GENERAL HOSPITAL Stefanus Erdana Putra; Berkat Hia; Muhammad Hafizhan; Astrida Fesky Febrianty; Fauzi Novia Isnaening Tyas
Callosum Neurology Vol 4 No 1 (2021): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v4i1.135

Abstract

Background: The increase of life expectancy in Indonesia causes increasing numbers of dementia, mostly caused by Alzheimer's disease (AD). High serum cholesterol level has been suggested as a risk factor for AD. The strongest evidence linking lipid profile with AD provided by previous experimental studies where adding or reducing cholesterol altered amyloid precursor protein (APP) and amyloid ?-protein (A?) levels is the basic of this research. Objective: To determine whether lipid profile is associated with cognitive function deterioration of geriatric outpatients at Neurology Clinic Gunungsitoli Regional General Hospital. Methods: Participants of this cross-sectional study were outpatient geriatric patients at Neurology Clinic Gunungsitoli Regional General Hospital (n=85; mean age, 62.46±5.49 years old). The cognitive state was evaluated using Montreal Cognitive Assessment Indonesian Version (MoCA-INA) and those with MoCA-INA score <24 were considered cognitively declined. Concentrations of serum lipid profile were measured and correlated with cognitive state using Pearson’s correlation. Multiple logistic regression analysis was used to calculate odds ratios (ORs) for cognitive decline. Results: Based on Pearson’s correlation test, high-density lipoprotein (HDL) level had significant strong positive correlation with MoCA-INA score (r=0.876;p=0.000) and triglyceride level had significant strong negative correlation with MoCA-INA score (r=-0.726;p=0.000). Relatively to cognitive decline, ORs for decreased HDL level was 3.19 (95%CI 2.02-4.36) and increased triglyceride level was 2.59 (95%CI 1.29-3.91). Conclusion: There was a significant relationship between decreased HDL-cholesterol level and increased triglyceride level with cognitive decline in geriatric outpatients.
HUBUNGAN ABNORMALITAS EKG DENGAN MORTALITAS PADA PASIEN STROKE HEMORAGIK Peter Peter; Joshua Asley; Alfansuri Kadri; Putri Chairani Eyanoer; Eddy Bangun; Felisia Felisia
Callosum Neurology Vol 4 No 1 (2021): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v4i1.136

Abstract

Latar Belakang: Stroke merupakan penyebab kematian terbanyak kedua di dunia setelah penyakit jantung. Di negara berkembang, stroke hemoragik mencakup 34% dari semua stroke, yang disebabkan oleh perdarahan intraserebral dan perdarahan subaraknoid. Kelainan EKG dapat ditemukan pada pasien stroke hemoragik  pada 72 jam pertama setelah kejadian. Penelitian ini bertujuan menilai hubungan abnormalitas EKG pada pasien stroke hemoragik yang mungkin berdampak pada peningkatan mortalitas, disertai pengaruh faktor usia, jenis kelamin, dan tekanan darah sistolik terhadap mortalitas pasien stroke hemoragik. Metode: Penelitian potong lintang retrospektif pada data rekam medis pasien stroke hemoragik di RS Haji Adam Malik, Medan periode 2017-2020, dengan teknik total sampling. Jumlah sampel yang masuk dalam kriteria inklusi sebanyak 157 sampel, yang kemudian di bagi berdasarkan karakteristik usia, jenis kelamin, tekanan darah sistolik, abnormalitas EKG, dan mortalitas. Hasil: Subjek penelitian yang meninggal dengan EKG abnormal berjumlah 45/77 (58,4%), sedangkan subjek yang meninggal dengan EKG normal sebanyak 32/77 (41,6%). Didapatkan hubungan bermakna antara abnormalitas EKG dan mortalitas pasien stroke hemoragik dengan odd ratio (OR) 3,281; 95% IK 1,698-6,341; p<0,001. Usia (OR 0,985; 95% IK 0,960-1,010; p=0,234), jenis kelamin (OR 0,794; 95% IK 0,424-1,487; p=0,472), dan tekanan darah sistolik (OR 0,993; 95% IK 0,984-1,002; p=0,135) tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan mortalitas pasien stroke hemoragik. Simpulan: Pasien stroke hemoragik dengan kelainan EKG memiliki kemungkinan mortalitas lebih tinggi dibandingkan dengan pasien normal, sedangkan variasi usia, jenis kelamin, dan tekanan darah sistolik tidak memiliki hubungan signifikan dengan mortalitas pasien stroke hemoragik. Kata Kunci: EKG, Mortalitas, Stroke, Perdarahan Intrakranial
PROFIL SKRINING INFEKSI COVID-19 DAN KADAR D-DIMER PADA PASIEN STROKE DI RSUP SANGLAH DENPASAR Ida Ayu Sri Indrayani; Ida Bagus Kusuma Putra; I Gusti Ngurah Ketut Budiarsa; Anak Agung Bagus Ngurah Nuartha; Angga Krishna; Kumara Tini; I Made Odie Lastrawan; Putu Ngurah Arya Darmawan; Eric Hartono Tedyanto; Aurelia Vania
Callosum Neurology Vol 4 No 1 (2021): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v4i1.157

Abstract

Pendahuluan: Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) diumumkan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020. Studi menemukan stroke dapat merupakan salah satu manifestasi neurologi COVID-19. Studi mengenai karakteristik pasien stroke pada masa pandemi COVID-19 dipublikasi untuk menunjang data mengenai COVID-10 pada pasien stroke sehingga mendukung penyusunan pedoman tatalaksana stroke yang lebih baik di masa pandemi COVID-19 Tujuan: Untuk mengetahui karakteristik pasien stroke selama pandemi COVID-19 di RSUP Sanglah Kota Denpasar Metode: Studi ini merupakan studi deskriptif dengan kriteria inklusi pasien yang didiagnosa stroke di RSUP Sanglah pada periode Juni-Agustus 2020. Subjek dipilih menggunakan teknik consecutive sampling Hasil Penelitian: Studi melibatkan 69 pasien stroke dengan laki-laki sebanyak 62,3% dan perempuan 37,7%. Stroke non-hemoragik didapatkan sebanyak 67,7% dan stroke hemoragik 33,3%. Dari skrining Rapid Test ditemukan 7,2% hasil reaktif dan 92,8% non-reaktif. Pemeriksaan PCR pada tes swab menunjukkan hasil 10,1% positif, negatif 11,6%, dan yang tidak diperiksa sebanyak 78,3%. Hasil pemeriksaan rontgen thorax menunjukkan gambaran pneumonia sebanyak 23,2%, tidak pneumonia sebanyak 75,4%, dan TB 1,4%. Hasil pemeriksaan D-Dimer ditemukan 62,3% normal dan 37,7% meningkat. Dari pasien yang memiliki hasil swab test positif (7 orang), didapatkan 7 orang dengan hasil D-Dimer meningkat Simpulan: COVID-19 dapat ditemukan sebagai penyebab atau penyakit penyerta pasien stroke pada masa pandemi ini. Kadar D-dimer yang tinggi dapat menjadi marker gangguan koagulasi pada COVID-19 yang merupakan salah satu mekanisme penyebab stroke pada infeksi SARS-CoV-2 ini Kata Kunci: COVID-19, D-dimer, Karakteristik, Stroke
NEUROMYELITIS OPTICA SPECTRUM DISORDER (NMOSD) DENGAN ANTIBODI AQP4 POSITIF Rima Febry Lesmana; Anak Agung Mas Putrawati Triningrat; Made Paramita Wijayanti; I Made Agus Kusumadjaja; Ida Ayu Sri Indrayani; Gede Kambayana
Callosum Neurology Vol 4 No 2 (2021): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v4i2.138

Abstract

Background: Neuromyelitis optica (NMO) is an in?ammatory demyelinating autoimmune disease of the central nervous system that most commonly affects the optic nerves and spinal cord. Seropositive antiAQP4 differentiates NMO from MS and the presence of manifestation in the postrema, brainsteam or diencephalic areas extend to NMO Spectrum Disorder (NMOSD). Case Description: A 18 years old male complain sudden vision loss on his left eye since 2 weeks ago. The examination show the visual acuity on the right eye was 6/6 and LPBP on the left eye. Positive RAPD on the left eye, funduscopy and the OCT RNFL within normal limits. Head MRI focus orbita with contrast show optic neuritis. Patient was diagnosed with left eye retrobulbar optic neuritis and ONTT therapy was given. The visual acuity improved to 1/60 then therapy change to oral steroid. Four months later, the patient suddenly got vision loss on the right eye accompanied by paraparesis. The visual acuity on the right eye was NLP and the left eye was 1/300, with mid-dilated papil. The results of the OCT RNFL show on the right eye edema papil and left eye atrophy papil. An MRI of the head focus orbital and whole spain was reexamined followed by VEP examination and an AntiAQP4 which showed an NMOSD. He was given ONTT then continued with immunosuppressants. The visual acuity of the right eye improved to 3/60 and the left eye remained 1/300. Discussion: This patient first presented with complain on the left eye with clinical and supporting symptoms suggesting an optic neuritis. The presence of a new attack on the right eye with paraparesis is a clinical feature of NMO supported by MRI results and seropositive AQP4 indicates an NMOSD. Conclusion: Establishment of diagnosis and administration of therapy quickly and precisely can reduce the severity and risk of recurrence which leads to greater disability and blindness. Key Words: Neuromyelitis Optica, Neuromyelitis Optica Spectrum Disorder, AQP4
HUBUNGAN KADAR TRIGLISERIDA DALAM DARAH TERHADAP LUARAN KLINIS PENDERITA STROKE ISKEMIK AKUT Daniel Mahendrakrisnna; Aria Chandra GTS
Callosum Neurology Vol 4 No 2 (2021): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v4i2.143

Abstract

Latar Belakang: Profil lipid dalam darah diketahui berpengaruh terhadap stroke, terutama stroke iskemik akut. Walaupun masih kontroversial, kadar trigliserida dalam darah diduga turut berpengaruh terhadap luaran klinis maupun mortalitas stroke iskemik akut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan kadar trigliserida dalam darah terhadap luaran klinis troke iskemik akut. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan metode potong lintang. Semua pasien  stroke iskemik akut serangan pertama yang dibuktikan dengan Computed Topography Scan (CT-Scan) pertama diikutkan sebagai subyek. Data dermografi pasien dan hasil laboratorium didapatkan dari rekam medis. Luaran klinis diukur dengan modified Rankin Scale (mRS). Nilai p<0.05 dianggap bermakna secara statistik. Hasil: Dari 73 subyek penelitian yang disertakan pada penelitian ini, sebanyak 41 subyek (56,2%) adalah laki-laki  dengan rerata usia sebesar 60.73 tahun. Sebanyak 16 subyek (32,7%) didapatkan hiperglikemia saat masuk, 42 subyek  (57,5%) didapatkan hipertensi saat masuk, 22 subyek (30,1%) didapatkan hiperkolesterolemia saat masuk, dan 24 subyek (32,9%) didapatkan hipertrigliseridemia saat masuk. Terdapat korelasi yang bermakna secara statistic antara kadar trigliserida dalam darah terhadap luaran klinis stroke iskemik akut pada subyek wanita (koefisien r=-0,358, nilai p=0,044) dan tanpa peningkatan kadar gula darah puasa/non hiperglikemia (koefisien r= -0,320, nilai p=0,028). Kesimpulan: Terdapat hubungan terbalik antara kadar trigliserida dalam darah penderita stroke iskemik akut wanita atau tanpa kenaikan kadar gula darah puasa saat masuk terhadap luaran klinis stroke iskemik akut. Kata Kunci: Luaran Klinis, Prognostik, Stroke iskemik, Trigliserida