cover
Contact Name
Tanzil
Contact Email
tanzil.atjeh@gmail.com
Phone
+6285371610085
Journal Mail Official
lsamaaceh@gmail.com
Editorial Address
LSAMA Jl. T. Nyak Arief No. 101, Lamnyong, Banda Aceh, 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora
ISSN : 23382341     EISSN : 25979175     DOI : https://doi.org/10.47574/kalam.v9i1.101
Jurnal KALAM is published by Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA) in Banda Aceh. Its focus is to publish research articles in Islamic studies and society twice a year. Its scope consists of (1) Islamic theology; (2) Islamic law; (3) Islamic education; (4) Islamic mysticism and philosophy; (5) Islamic economics and politics; (6) Study of tafsir (Quran exegesis) and hadith; and (7) Islamic art and history.
Articles 115 Documents
KEMITRAAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN ORANG TUA DALAM PEMBINAAN KEAGAMAAN SISWA Abdullah Abdullah
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 6 No. 2 (2018): Jurnal Kalam (Juli-Desember 2018)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauhmana kerjasama yang dilakukan antara guru pendidikan agama Islam dengan orang tua siswa di SMK Negeri 1 penanggalan khususnya dalam pembinaan keagamaan siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Adapun hasil penelitian ini yaitu: (1) Bentuk kerjasama orang tua dengan guru dalam pembinaan keagamaan siswa berupa: melakukan konsultasi secara langsung antara guru dan orang tua melalui buku monitoring, melakukan kunjungan guru ke rumah orang tua siswa, melakukan komukasi via telepon/handphone dan pertemuan dengan wali murid pada setiap pembagian raport di akhir semester; (2) Upaya-upaya yang dilakukan oleh guru dan orang tua dalam pembinaan keagamaan siswa adalah memberikan contoh sifat keteladanan, memberikan contoh sifat kedisiplinan, dan dengan melakukan pembiasaan-pembiasaan yang baik dan dari orang tua berupa dengan cara membiasakan beribadah, dengan cara menanamkan kejujuran pada diri anak, serta memberikan pengetahuan agama; (3) Faktor pendukung: guru telah memiliki kemampuan mencakup kompetensi personal, sosial, dan profesional yang ditunjang dengan berbagai fasilitas sekolah seperti lingkungan kelas yang kondusif, media pembelajaran yang cukup memadai, serta berbagai program sekolah yang mendukung. Orang tua selalu memberikan nasehat secara terus menerus, selalu membiasakan anak-anak dirumah untuk menjalankan ibadah keagamaan, orang tua melakukan komunikasi yang baik dengan anak, dan orang tua secara terbuka mendukung semua proses pembelajaran. Faktor Penghambatnya adalah kurang maksimalnya guru dalam menangani siswa dikarenakan sebagian guru mengajar tidak hanya di satu tempat, sedangkan faktor penghambat yang berasal dari orang tua adalah karena sebagian dari orang tua mempunyai banyak kesibukan dan adanya kekurangan perhatian orang tua terhadap pendidikan anak di sekolah.
KERANGKA ETIK DALAM BERFATWA MENURUT KHALED M. ABOU EL-FADL (Sebuah Pendekatan Hermeneutika Terhadap Fatwa-Fatwa Keagamaan) Taufiqul Hadi
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 6 No. 2 (2018): Jurnal Kalam (Juli-Desember 2018)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan hubungan dari kerangka etik dalam berfatwa yang digagas oleh Khaled M. Abou El Fadl dengan pendekatan hermeneutika yang ditawarkannya. Tujuannya adalah untuk melihat pemikiran hukum Islam Abou El Fadl terutama dalam upayanya mengarahkan fikih yang bersifat otoriter menuju otoritatif, sehingga pemaknaan baru di dalam interpretasi hukum lebih humanis dan tidak terjebak pada otoritarianisme pembaca. Kerangka etik yang dikemukakan oleh Abou El Fadl ini merupakan sebuah modifikasi dan pengembangan kerangka etik yang dibuat oleh ulama salaf di dalam adāb al iftā’ yang lebih mengedepankan kualitas keilmuan dan kematangan kepribadian, bukan kepada prasyarat etika yang harus selalu dijaga oleh seorang mufti. Maka dalam hal ini, Abou El Fadl menetapkan lima prasyarat etika dalam berfatwa, yaitu kejujuran, kesungguhan, keseluruhan, rasionalitas dan pengendalian diri. Dari kelima prasyarat ini, seorang wakil Tuhan atau pembaca (reader) harus memiliki kewaspadaan untuk menghindari penyimpangan atas peran Tuhan atau pengarang (author) yang diwakili oleh teks (text). Dengan demikian, seorang pembaca harus mengenal batasan peran yang menjadi haknya, sehingga hasil pembacaan pun lebih otoritatif dan benar-benar mewakili suara Tuhan.
NILAI MULTIKULTURAL DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SEKOLAH (Studi Terhadap Upaya Membina Karakter Siswa di SMKN 1 Gerung Kec. Gerung Kab. Lombok Barat) Murzal Murzal
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 6 No. 2 (2018): Jurnal Kalam (Juli-Desember 2018)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil dari penanaman nilai-nilai multikultural melalui Pendidikan Agama Islam di SMKN 1 Gerung, Penelitian ini juga mengkaji tiga permasalahan utama yaitu: Nilai-nilai multikultural yang terdapat dalam pembelajaran PAI di SMKN 1 Gerung; Proses penanaman nilai multikultural dalam pembelajaran PAI di SMKN 1 Gerung; Metode pembinaan karakter melalui nilai multikultural dalam pembelajaran PAI di SMKN 1 Gerung. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai multikultural yang terdapat dalam buku mata pelajaran PAI meliputi nilai toleransi, nilai kesamaan, nilai persatuan, nilai kekerabatan, dan nilai keadilan. Penanaman nilai-nilai multikultural dalam pembelajaran PAI di SMKN 1 Gerung menggunakan dua metode yaitu metode keteladanan dan metode pembiasaan. Dampak penanaman nilai-nilai multikultural terhadap siswa yaitu tumbuhnya sikap saling toleran, menghormati, menerima pendapat orang lain, saling bekerjasama, tidak bermusuhan, dan tidak adanya konflik karena perbedaan budaya, suku, bahasa, adat istiadat, dan agama.
POLEMIK KONSEP ISLAM NUSANTARA: WACANA KEAGAMAAN DALAM KONTESTASI PEMILIHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2019 Fridiyanto Fridiyanto
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 6 No. 2 (2018): Jurnal Kalam (Juli-Desember 2018)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Polemik konsep Islam Nusantara tidak dapat dipisahkan dari peristiwa politik di Indonesia yang mencerminkan bangkitnya kelompok Islam Konservatif. Nahdlatul Ulama diasumsikan sebagai organisasi Islam yang mendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo. Oleh karena itu konsep polemik Islam Nusantara tidak hanya menjadi wacana pemikiran agama tetapi juga gerakan politik untuk kritik rejim Joko Widodo terutama dalam aspek agama yang dirancang oleh Islam konservatif yang menentang. Polemik konsep Islam Nusantara dikapitalisasi menjadi propaganda politik untuk momentum politik dalam Pemilihan Presiden pada 2019.
ACEH VERSUS BARUS REKONTRUKSI PENETAPAN TITIK NOL ISLAM NUSANTARA Khairul Azmi
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 6 No. 2 (2018): Jurnal Kalam (Juli-Desember 2018)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisa secara kritis tentang sejarah awal masuknya Islam ke Nusantara. Penelitian ini juga akan berbicara tentang penetapan Titik Nol Islam Nusantara di Barus dan kritik terhadap problematika penetapannya. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan studi pustaka, sedangkan metode penulisan sejarah, peneliti menggunakan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa awal masuknya Islam di Nusantara adalah 1) Lamuri berdasarkan penemuan situs dan nisan kuno di kampung Pande, 2) Perlak berdasarkan Naskah Melayu Tua, 3) Samudara Pasei berdasarkan batu Nisan Raja-raja Pasei. Sedangkan pernyataan dan penetapan Barus sebagai titik nol Islam Nusantara tidak memiliki bukti otentik yang dapat dipertanggung jawabkan dan peneliti akan memaparkan beberapa sumber bantahan tentang penetapan tersebut.
TENGKU HAJI MUHAMMAD AMIN (PEMIKIRAN DAN KIPRAHNYA DALAM DUNIA PENDIDIKAN) Muhammad Hasbi Amiruddin
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 6 No. 2 (2018): Jurnal Kalam (Juli-Desember 2018)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tengku Muhammad Amin lahir di desa Kuala Jeumpa, kemukiman Blang Bladeh, kecamatan Jempa, kabupaten Bireuen pada tanggal 17 Agustus 1932. Tengku Muhammad Amin menyelesaikan pendidikannya di Dayah Labuhan Haji pada tahun 1959. Ketika Tgk Muhammad Amin pulang dari medagang nya dari Labuhan Haji langsung dipercayakan memimpin dayah yang semula dipimpin kakek dan ayahnya. Keluasan ilmu dan pemikiran dari Tgk Muhammad Amin dalam semua disiplin ilmu yang menjadi tradisi di dayah yaitu, Tauhid, Fikih dan Tasawuf. Ketika memberi penjelasan ulasan ulasan kitab, Tgk Muhammad Amin mampu menghubungkan dengan ilmu-ilmu modern
IDENTIFIKASI PRAKTIK RADIKALISME DI PESANTREN SALAFI Munzir Munzir
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 6 No. 2 (2018): Jurnal Kalam (Juli-Desember 2018)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isu radikalisme yang berkembang akhir-akhirnya cukup meresahkan berbagai pihak. Radikalisme berdasarkan beberapa hasil penelitian juga sudah menyusupi banyak lembaga pendidikan Islam atau pesantren. Penelitian ini dilaksanakan pada satu buah pondok Pesantren di Kota Batu, Jawa Timur. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Fokus penelitian ini yaitu untuk menjawab pertanyaan, apa praktik radikalisme yang menjadi ciri kelompok radikal yang dilakukan di Pesantren kota Batu? dan bagaimana tanggapan pimpinan dan pengasuh Pesantren kota Batu terhadap praktik radikalisme tersebut? Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa teridentifikasi radikalisme dalam beberapa praktik keagamaan di pondok pesantren tersebut yaitu tidak melaksanakan upacara bendera, karena menurut mereka hormat kepada bendera adalah tidak diperbolehkan dalam agama Islam. Tidak memajang foto presiden dan wakil presiden di kantor, dengan alasan haram, memanjangkan jenggot dan haram mencukurnya kecuali tersisa jenggot satu genggam saja, dan isbal, yaitu haram mengenakan celana melebihi mata kaki, serta membid’ahkan perilaku selamatan dan walimahan yang diiringi musik.
BASIC PHILOSOPHY DALAM TEOLOGI RASIONAL HARUN NASUTION (Sebuah Pendekatan Filosofi dalam Memahami Islam) Sri Suyanta; Makhfira Nuryanti
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 7 No. 1 (2019): Jurnal Kalam (Januari-Juni 2019)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islam sebagai agama yang syamil (menyeluruh) dan kamil (sempurna) merupakan agama yang multidimensi, yang dapat dikaji dari berbagai aspek baik dari tinjauan sosial-kultural maupun dari aspek doktrin. Untuk dapat memahami berbagai dimensi ajaran Islam tersebut, dibutuhkan ragam pendekatan yang digali dari berbagai disiplin ilmu. Salah satunya adalah pendekatan filosofis, yang berusaha mencari penjelasan dari konsep-konsep ajaran agamadengan cara memeriksa dan menemukan sistem nalar yang dapat dipahami manusia, serta memberikan tawaran solusi dan pemecahan masalah dengan metode analitis-kritis dan analisis-spekultatif. Salah satu tokoh yang menggagas pendekatan filosofis dalam mengkaji Islam adalah Harun Nasution dengan pemikirannya tentang teologi rasional. Di dalamnya terlihat model pemikiran Harun dalam memahami Islam, yaitu Pertama, demitologisasi sumber-sumber primer Islam, al-Qur’an dan hadis. Di sini Harun membedakan mana wilayah absolut (qath’i) dan mana yang relatif (zhanni). Kedua, dialog antara teks suci dengan realitas zaman. Prinsip dasar pemikiran harus mengarah kepada ide kemajuan, karena dinamika pengetahuan selalu berkembang sesuai dengan perubahan zaman. Ketiga, perlawanan entitas secara oposisi biner antara rasional dan tradisional.
PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI PAKISTAN Muslem Muslem
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 7 No. 1 (2019): Jurnal Kalam (Januari-Juni 2019)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islamic Republic of Pakistan sebagai sebuah Negara yang merdeka merupakan hasil perjuangan yang cukup panjang. Negara ini memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar kedua di dunia setelah Indonesia, dan lebih khususnya Pakistan dengan konstitusi 1973-nya menjadikan Islam sebagai way of life. Maka, menelaah bagaimana kebijakan penyelenggaraan PAI di Pakistan adalah bagian penting sebagai sebuah konsep kebijakan pendidikan Islam. Penyelenggaraan PAI (Islamiyat atau Islamic Study istilah di Pakistan) merupakan pendidikan wajib mulai dari kelas III jenjang sekolah dasar sampai dengan menengah atas. Dilihat dari sisi muatan kurikulumnya terdapat kesamaan dengan muatan PAI di Indonesia. Bahkan, lebih luas kurikulum PAI di Pakistan terdapat muatan nilai-nilai kebangsaan. Kemudian, dilihat dari kelembagaannya, terdapat tiga kategori di sana, yaitu:(1) Quranic School,(2) Mosque Primary School, dan(3) Madrasah.
IDENTIFIKASI ISU RADIKALISME DI PESANTREN SALAFI Munzir Munzir
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 7 No. 1 (2019): Jurnal Kalam (Januari-Juni 2019)
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isu radikalisme yang berkembang akhir-akhirnya cukup meresahkan berbagai pihak. Radikalisme berdasarkan beberapa hasil penelitian juga sudah menyusupi banyak lembaga pendidikan Islam atau pesantren. Penelitian ini dilaksanakan pada satu buah pondok Pesantren di Kota Batu, Jawa Timur. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Fokus penelitian ini yaitu untuk menjawab pertanyaan, apa praktik radikalisme yang menjadi ciri kelompok radikal yang dilakukan di Pesantren kota Batu? Bagaimana tanggapan pimpinan dan pengasuh Pesantren kota Batu terhadap praktik radikalisme tersebut? Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa teridentifikasi radikalisme dalam beberapa praktik keagamaan di pondok pesantren tersebut yaitu tidak melaksanakan upacara bendera, karena menurut mereka hormat kepada bendera adalah tidak diperbolehkan dalam agama Islam. Tidak memajang foto presiden dan wakil presiden di kantor, dengan alasan haram, memanjangkan jenggot dan haram mencukurnya kecuali tersisa jenggot satu genggam saja, dan isbal, yaitu haram mengenakan celana melebihi mata kaki, serta membid’ahkan perilaku selamatan dan walimahan yang diiringi musik.

Page 5 of 12 | Total Record : 115