cover
Contact Name
Tanzil
Contact Email
tanzil.atjeh@gmail.com
Phone
+6285371610085
Journal Mail Official
lsamaaceh@gmail.com
Editorial Address
LSAMA Jl. T. Nyak Arief No. 101, Lamnyong, Banda Aceh, 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora
ISSN : 23382341     EISSN : 25979175     DOI : https://doi.org/10.47574/kalam.v9i1.101
Jurnal KALAM is published by Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA) in Banda Aceh. Its focus is to publish research articles in Islamic studies and society twice a year. Its scope consists of (1) Islamic theology; (2) Islamic law; (3) Islamic education; (4) Islamic mysticism and philosophy; (5) Islamic economics and politics; (6) Study of tafsir (Quran exegesis) and hadith; and (7) Islamic art and history.
Articles 115 Documents
POLA PENYELESAIAN KONFLIK YANG DILAKUKAN LEMBAGA ADAT PANGLIMA LAOT DALAM MASYARAT NELAYAN DI PESISIR GAMPONG KUALA BUBON Uswa, Uswatun Hasanah
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 12 No. 2 (2024): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pola penyelesaian konflik oleh lembaga adat yang umumnya digunakan adalah dengan mediasi. Dalam proses pemenuhan kebutuhannya sehari-hari tentu banyak hal yang akan terjadi pada kehidupan masyarakat nelayan di Gampong Kuala Bubon, misalnya konflik. Konflik adalah bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari. Konflik dapat timbul dari berbagai aspek, termasuk budaya, sosial, ekonomi, dan politik. Dalam masyarakat adat, konflik juga dapat timbul dan berpotensi mengganggu stabilitas dan keharmonisan masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana konflik dapat diselesaikan secara efektif dan efisien. Gampong Kuala Bubon, misalnya, memiliki lembaga adat yang berfungsi sebagai penyelesai konflik dalam masyarakat adat. Lembaga adat ini memiliki sistem dan prosedur yang telah ditentukan untuk menyelesaikan konflik, yang didasarkan pada nilai-nilai dan budaya masyarakat adat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pola penyelesaian konflik oleh lembaga adat di Gampong Kuala Bubon. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, melalui pendekatan konstruktivis, yaitu pendekatan yang menempatkan ukuran pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas yang ada di lapangan penelitian dengan teknik pengumpulan informasi berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik yang sering terjadi di Gampong Kuala Bubon adalah konflik antar nelayan terkait kerusakan jaring sebagai alat tangkap ikan yang saling terkait satu sama lain. Pola penyelesaian konflik oleh lembaga adat yang umumnya digunakan adalah melalui mediasi. Kata kunci: Lembaga adat, Panglima Laot, Konflik, Nelayan
MENGHADAP KIBLAT KETIKA SHALAT DI ATAS KENDARAAN MENURUT ULAMA EMPAT MAZHAB: (Studi Fikih Perbandingan) Muhammad Yunus, Saifullah; Muhammad Nazri, Atika Binti; Hanapi, Agustin
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 12 No. 2 (2024): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menghadap kiblat ketika shalat di atas kendaraan merupakan suatu perbuatan yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . Kendaraan yang sering dikendarai yaitu seekor unta dan lainnya. Namun seiring perkembangan zaman sampai saat ini, berbagai jenis transportasi yang digunakan oleh masyarakat bagi perjalanan yang jauh semakin banyak seperti mobil, pesawat terbang, kapal laut dan lain-lain. Permasalahan dalam penelitian ini, yaitu pertama, apa hukum menghadap kiblat ketika shalat di atas kendaraan menurut empat mazhab?. Kedua, bagaimana dalil dan metode ijtihad yang digunakan oleh ulama empat mazhab tersebut?. Selanjutnya metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan jenis kepustakaan dan penelitian ini menggunakan pendekatan komparatif yaitu perbedaan pada hukum fikih dan mencari pendapat yang mana lebih kuat. Hasil penelitian ini menemukan bahwa menurut mazhab Hanafi, Syafi’i dan Maliki wajib menghadap kiblat ketika shalat fardhu di atas kendaraan, sedangkan menurut mazhab Hanbali kewajiban tersebut gugur apabila berlaku kondisi yang tidak memungkinkan dan tetap sah apabila tidak menghadap kiblat, sekiranya kiblat tersebut beralih arah. Dalil yang digunakan oleh mazhab Hanafi dan Hanbali, yaitu dari riwayat Abu Daud r.a. Adapun pendapat mazhab Syafi’i dan Maliki bahwa dalil tersebut tidak diterima oleh kedua mazhab, karena menurut pendapat kedua ini dalil hadis tersebut mengkhususkan hanya untuk shalat sunnah saja. Kesimpulan dari penelitian ini, penulis menyimpulkan bahwa pendapat mazhab Hanafi dan Hanbali lebih dominan karena mempunyai qiyas yang jelas pada dalil hadis yang digunakan dengan alasan sakit sebab orang yang sakit tidak bisa ruku dan sujud, maka gugur kewajiban melakukan ruku dan sujud (rukun shalat), secara tidak langsung gugurnya kewajiban dalam menghadap kiblat dalam kondisi-kondisi tertentu.
Strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Lembaga Pendidikan Islam di Pedesaan : Studi MTsN 3 Aceh Jaya, Kecamatan Krueng Sabee Dewi, Nurma
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 13 No. 1 (2025): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47574/kalam.v13i1.280

Abstract

This article explores the leadership strategies of the head of MTsN 3 Aceh Jaya in enhancing the quality of Islamic education in rural areas. Facing challenges related to access to educational resources and the impacts of globalization, the head of the madrasah plays a vital role in establishing a strong external network. By collaborating with the government, teacher organizations, and the community, as well as ensuring transparency in financial management, the madrasah can bolster support from the local community. Improving teacher competencies and engaging alumni are also key priorities in the effort to enhance educational quality. Interviews reveal that a collaborative and participatory approach not only enriches the teaching and learning process but also fosters a sense of ownership among community members. Overall, active and responsive leadership is essential for overcoming challenges and achieving success in Islamic education in rural settings.
PERAN SITUS BERSEJARAH DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH: Studi Kasus di Situs Makam Po Teumeureuhom Aceh Jaya alfadhil, Musa; Samwil; Sopar; Khairan; Asra, Saiful
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 13 No. 1 (2025): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47574/kalam.v13i1.295

Abstract

Abstract Learning history through historical sites, like the Poe Teumeureuhom tomb in Aceh Jaya, can boost students' historical awareness by connecting lessons to relevant local history. However, this study found that even though these historical sites are close to several schools, activities that involve visiting them for history lessons are quite rare. The lack of integration of local history into the curriculum and the underutilization of historical sites as learning resources diminish students' understanding of their cultural identity. By using a site-based learning approach, students can learn history not just through theory but also by directly appreciating local historical values. This article suggests several steps to address these issues, such as incorporating local history into the curriculum, using technology to spread historical information, and organizing educational pilgrimage activities. The goal is to strengthen historical awareness and enhance pride in cultural heritage among students in Aceh Jaya.
Adat Bu Kulah Dengan Bungkusan Daun Pisang (Musa Paradisiaca) Sebagai Tradisi Memperingati Maulid Nabi lasri, Lasri; Akmal, Heri; Saprijal; Jamil, Muhammad Safwan
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 13 No. 1 (2025): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47574/kalam.v13i1.313

Abstract

Tradisi Bu Kulah merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang masih lestari dalam masyarakat Indonesia sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini ditandai dengan kegiatan membuat dan membagikan makanan yang dibungkus menggunakan daun pisang (Musa paradisiaca), yang mengandung nilai simbolis dan filosofis mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna, proses pelaksanaan, serta fungsi sosial dan budaya dari tradisi Bu Kulah. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bu Kulah tidak hanya berfungsi sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial, menanamkan nilai-nilai kebersamaan, dan menjadi media pelestarian budaya lokal. Tradisi ini mencerminkan hubungan yang harmonis antara agama, budaya, dan lingkungan. Di tengah tantangan modernisasi, pelestarian tradisi Bu Kulah menjadi penting untuk menjaga warisan budaya dan identitas masyarakat lokal. The Bu Kulah tradition is a form of local wisdom that is still preserved in Indonesian society as part of the commemoration of the Prophet Muhammad's birthday. This tradition is characterized by the activity of making and distributing food wrapped in banana leaves (Musa paradisiaca), which contains deep symbolic and philosophical values. This research aims to describe the meaning, implementation process, and social and cultural functions of the Bu Kulah tradition. The method used is descriptive qualitative with data collection techniques through observation, in-depth interviews, and documentation studies. The results showed that Bu Kulah not only functions as a form of respect for the Prophet, but also strengthens social solidarity, instills values of togetherness, and becomes a medium for preserving local culture. This tradition reflects the harmonious relationship between religion, culture, and the environment. Amidst the challenges of modernization, the preservation of the Bu Kulah tradition is important to maintain the cultural heritage and identity of local communities.  

Page 12 of 12 | Total Record : 115