cover
Contact Name
Tanzil
Contact Email
tanzil.atjeh@gmail.com
Phone
+6285371610085
Journal Mail Official
lsamaaceh@gmail.com
Editorial Address
LSAMA Jl. T. Nyak Arief No. 101, Lamnyong, Banda Aceh, 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora
ISSN : 23382341     EISSN : 25979175     DOI : https://doi.org/10.47574/kalam.v9i1.101
Jurnal KALAM is published by Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA) in Banda Aceh. Its focus is to publish research articles in Islamic studies and society twice a year. Its scope consists of (1) Islamic theology; (2) Islamic law; (3) Islamic education; (4) Islamic mysticism and philosophy; (5) Islamic economics and politics; (6) Study of tafsir (Quran exegesis) and hadith; and (7) Islamic art and history.
Articles 115 Documents
SOSIAL-BUDAYA: HARMONISASI AGAMA DAN BUDAYA DALAM PENDIDIKAN TOLERANSI Yunus Yunus; Mukhlisin
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 8 No. 2 (2020): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47574/kalam.v8i2.78

Abstract

Tana Luwu dihuni oleh komunitas multietnis seperti Bugis, Makassar, Rongkong dan Toraja. Beragam suku, kepercayaan, dan agama yang berbeda. Mereka hidup rukun bersama, mengatasi kerjasama dalam segala aspek kehidupan, baik ekonomi, sosial, budaya, politik, hingga kegiatan keagamaan telah membentuk pemahaman tentang toleransi dalam beragama, yaitu saling menghormati dan menghormati pemeluk agama. Kota Palopo memiliki beberapa kearifan lokal antara lain; Sipakatau artinya saling memanusiakan, Sipakalebbi artinya saling menghormati, Sipakaingge 'artinya saling mengingatkan. Hal ini harus dijaga dan disosialisasikan agar menjadi perekat kreasi dan pemeliharaan umat beragama di Kota Palopo. Pembelajaran kearifan lokal budaya Bugis UNANDA dan IAIN Palopo yang menunjukkan bahwa pembelajaran menciptakan kesadaran empati (Pesse) terhadap orang lain yang memiliki identitas pribadi dan budaya yang berbeda. Kearifan lokal, pembinaan aspek afektif seperti sikap, minat, konsep diri, pengembangan nilai, dan moral diperlukan dalam masyarakat majemuk sehingga dapat memberikan makna belajar bagi peserta didik.
PERSEPSI NON MUSLIM TERHADAP PENERAPAN SYARI’AT ISLAM DI ACEH Fakhrul Rijal
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 8 No. 1 (2020): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47574/kalam.v8i1.87

Abstract

Artikel ini menjelaskan, meringkas berbagai kondisi, berbagai situasi yang timbul dari non muslim dalam memandang penerapan Syariat Islam di Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian umat Kristen dan Buddha sangat setuju dengan diterapkan Syariat Islam di Aceh karena mempunyai unsur pencegahan terhadap perbuatan-perbuatan kemaksiatan/kriminal seperti berjudi, berzina, mabukmabukkan, mencuri dan lain-lain. Menurut mereka dengan adanya hukum Syariat Islam akan lebih baik masyarakatnya dan selalu dalam keadaan damai, aman dan tentram.
SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU DARI KLASIK HINGGA KONTEMPORER Lalu Khothibul Umam
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 8 No. 2 (2020): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47574/kalam.v8i2.89

Abstract

Sejarah adalah suatu peristiwa yang terjadi di masa lampau dimana peristiwa tersebut memiliki unsur yakni tempat, waktu serta individu atau kelompok yang menjadi bukti bahwa kejadian tersebut benar adanya, demikian halnya dengan sejarah perkembangan ilmu penegtahuan, apa yang melatarbelakangi sehingga ilmu itu lahir, baik ilmu dari zaman klasik, Islam pertengahan, Modern sampai Kontemporer, makalah ini fokus kepada empat zaman tersebut, untuk menambah wawasan penegtahuan kita tentang bagaimanakah perkembanagan ilmu pada ke empat zaman tersebut, siapakah yang menjadi tokohnya, dan dimana peristiwa tersebut terjadi, dengan harapan setelah kita membahasnya kita bisa memiliki konsep dasar ilmu yang konfrehensif dari sumber sejarahnya sehingga kita mampu berkontribusi positif bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara serta umat manusia secara keseluruhan sebagaimana tujuan dari mata kuliah ini.
Perspektif Kritis Jamal Khashoggi dalam artikel Washington Post terhadap kebijakan Arab Saudi Rahmat Firnanda
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 8 No. 2 (2020): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47574/kalam.v8i2.93

Abstract

A critical perspective of Jamal Khashoggi towards the Saudi Arabia policy is part of the free expression which Khashoggi expected can be implemented in his homeland Saudi. The dispute in defining a narration between the Saudi government and Khashoggi toward to some policy Saudi took caused of his departure to Washington DC and started to voice his critics and opinions by writing articles in Washington Post from 2017 until 2018. The issues which he touched on were about free expression, the Yemen war, corruption, and Ikhwanul Muslimin. This paper attempts to understand the problem Saudi faces which he wants to criticize on Saudi moves whether it is a domestic or foreign policy through qualitative narrative. This paper attempts to answer what are the big issues Khashoggi tries to deliver in the Washington Post articles he wrote. It can be found there are many detailed issues which Khashoggi has a different opinion to what Saudi has done under MBS. The reform that Saudi promise only applied to infrastructure. Ironically it is not followed by reform in free expression, free speech, and political rights for Saudi citizens as equality before the law.
INOVASI KURIKULUM PAI BERBASIS MULTIKULTURAL DI MADRASAH ALIYAH Syamsul Bahri
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 8 No. 2 (2020): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47574/kalam.v8i2.94

Abstract

Artikel ini akan menguraikan inovasi kurikulum Pendidikan Agama Islam berbasis multikultural di Madrasah Aliyah. Karena itu fokus persoalan yang dimunculkan dalam penelitian ini yaitu; bagaimana kurikulum PAI berbasis multikultural? Bagaimana inovasi yang dilakukan dalam kurikulum PAI berbasis multikultural di Madrasah Aliyah? Penelitian ini dilakukan secara konseptual, yaitu penulis mengumpulkan data-data penelitian dari literasi yang ada, terkait tema yang diangkat, kemudian mengulasnya secara naratif-deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum PAI berbasis multikultural pada tingkat Madrasah Aliyah harus dilihat aspek perkembangan peserta didik, yang berusia 12-18 tahun. Pada tahapan ini mata pelajaran PAI harus mencerminkan nilai-nilai multikultural, yaitu siswa mampu memelihara saling pengertian, dan menunjukkan sikap saling menghargai. Pada tahapan ini siswa sudah mampu untuk mengenal diri sendiri dengan berdiskusi dengan orang lain, yang berbeda secara kultural. Hal ini bertujuan agar siswa dapat membedakan aspek multikultural di sekeliling mereka (sekolah), dan mampu hidup berpartisipasi. Adapun upaya menanamkan sikap multikultural dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu kontributif, aditif, dan aksi sosial. Inilah yang dijadikan inovasi kurikulum PAI di Madrasah Aliyah.
Peningkatan Keterampilan Proses Sains Siswa melalui Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses Pada Mata Pelajaran IPA Di Kelas V MI Syamsul Bahri; Wati Oviana; Soga Billiyan
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 8 No. 2 (2020): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47574/kalam.v8i2.95

Abstract

The learning process in MIN in general, the learning process carried out is still lacking in supporting student development as a whole that is cognitive, affective, and psychomotor. This is due to the lack of choosing a learning approach that is appropriate to student development, so that students are less active and not directly involved in learning so that it affects the low science process skills possessed by students and the lack of teachers in providing opportunities/space for students to develop science process skills and apply in the science learning process. Based on this, one of the efforts to improve and improve science process skills in learning science is to apply a process skills approach. This study aims to analyze and describe the increase in teacher activity, student activity, and students' science process skills through the process skills approach to the singular and mixed object. This research uses the Classroom Action Research method. The data collection technique uses teacher activity observation sheets, student activities and test to test student process skills. Data analysis uses percentage formulas. Based on data processing research results obtained that in the first cycle, teacher activity (80%) with good categories, student activities (77%) with good categories and student process skills (56.72%) with less skilled categories. Whereas in cycle II there was an increase in teacher activity (92%) in the category of excellent, student activity (92%) in the category of excellent and students' scientific process skills (92.67%) in the highly skilled category. Thus it can be concluded that the process skills approach can improve teacher activity, student activity and student science process skills in science subjects in class V MIN 09 Aceh Timur. Keywords: Process Skills Approach, Science Process Skills. Proses pembelajaran IPA di Sekolah MIN umumnya masih terfokus pada pengembangan kognitif siswa. Sedangkan pengembangan keterampilan proses sains siswa sebagai salah satu tujuan pembelajaran IPA masih sering terabaikan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mendukung peningkatan keterampilan proses sains siswa adalah dengan memilih pendekatan pembelajaran yang berdampak pada pengembangan keterampilan proses sains siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan aktivitas guru, aktivitas siswa, dan keterampilan proses sains siswa melalui pendekatan keterampilan proses di kelas V MIN 09 Aceh Timur. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Adapun teknik pengumpulan data dengan menggunakan lembar observasi aktivitas guru, aktivitas siswa dan test untuk menguji keterampilan proses siswa. Data dianalisis dengan menggunakan rumus persentase. Berdasarkan pengolahan data hasil penelitian diperoleh bahwa pada siklus I, aktivitas guru (80%) dengan kategori baik, aktivitas siswa (77%) dengan kategori baik dan keterampilan proses siswa (56,72%) dengan katagori cukup terampil. Sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan pada aktivitas guru (92%) katagori baik sekali, aktivitas siswa (92%) kaatagori baik sekali dan keterampilan proses sains siswa (92,67%) katagori sangat terampil. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendekatan keterampilan proses dapat meningkatkan aktivitas guru, aktivitas siswa dan keterampilan proses sains siswa pada mata pelajaran IPA di kelas V MIN 09 Aceh Timur. Kata Kunci: Pendekatan Keterampilan Proses, Keterampilan Proses Sains
MEMBENTUK KARAKTER RELIGIUS PESERTA DIDIK MELALUI PROGRAM MABIT (MALAM BINA IMAN DAN TAQWA) DI MAN MODEL BANDA ACEH Muzammil Muzammil; FAKHRUL RIJAL
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 8 No. 2 (2020): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47574/kalam.v8i2.96

Abstract

Permasalah penelitian ini tentang bagaimana penerapan program Mabit (Malam Bina Iman Dan Taqwa) dalam upaya membentuk karakter religius peserta didik di MAN Model Banda Aceh. Karakter muslim yang baik merupakan komponen utama yang harus ada dalam setiap muslim. Pembinaan karakter religius peserta didik ini harus digalakkan karena melihat kondisi moral peserta didik hari ini sangat menurun sehingga salah satu diantara usaha tersebut adalah dengan melaksanakan MABIT di sekolah. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan MABIT di MAN Model serta dampak apa saja yang diharapkan untuk peserta didik itu sendiri. Penelitian ini bersifat kualitattif yang menggunakan metode observasi dan wawancara. Adapun hasil penelitian ini menggambarkan penerapan MABIT di MAN Model selaras dengan nilai nilai pendidikan karakter dalam islam sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah Saw. Abstract The problem of this research is how the implementation of the Mabit program (Night of Building Iman and Taqwa) in an effort to form the religious character of students in the MAN Model Banda Aceh. A good Muslim character is a major component that must be present in every Muslim. The development of the religious character of students must be encouraged because seeing the moral condition of students today is very decreasing so that one of the efforts is to implement MABIT at schools. The purpose of this research is to find out how the application of MABIT in the MAN Model and what impacts are expected for the students themselves. This research is qualitative, using observation and interview methods. The results of this study describe the application of MABIT in the MAN Model is in line with the values ​​of character education in Islam as has been done by the Prophet Muhammad.
GENDER DAN FENOMENA TERORISME PEREMPUAN Achievinna Mirza Senathalia; Zaitunah Subhan; Ida Rosyidah
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 9 No. 1 (2021): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47574/kalam.v9i1.101

Abstract

Artikel ini mendiskusikan fenomena teroris perempuan dari perspektif teori gender dan femenisme. Fenomena empirik keterlibatan perempuan dalam aksi-aksi terorisme di berbagai negara, terutama di Indonesia dekade terakhir ini (2010-2020) seolah-olah menunjukkan pengakuan gender dalam aksi dan paham terorisme. Kajian artikel ini mengklaim bahwa fenomena aksi terorisme yang melibatkan perempuan tak cukup kuat dan tak logis dipandang sebagai perjuangan gender baik dari perspektif teori gender maupun sejarah femenisme. Tak ada gender dalam terorisme meski dilakukan oleh perempuan karena sifat tindakan teror yang merusak dan meresahkan. Keterlibatan perempuan dalam tindakan terorisme tetap merupakan tindakan kriminal, dan karena itu proses hukum tetap penting diupayakan oleh negara.   This article discusses the phenomenon of female terrorists from the perspective of gender theory and feminism. The empirical phenomenon of women's involvement in acts of terrorism in various countries, especially in Indonesia in the last decade (2010-2020) seems to show the recognition of gender in acts and understanding of terrorism. The study of this article claims that the phenomenon of acts of terrorism involving women is not strong enough and it is illogical to see it as a gender struggle, both from the perspective of gender theory and the history of feminism. There is no gender in terrorism even though it is carried out by women because of the destructive and disturbing nature of acts of terror. The involvement of women in acts of terrorism remains a criminal act, and therefore the legal process is still important to be pursued by the state.
ARAH DAN MODEL PEMBINAAN MUALLAF PADA ORGANISASI DEWAN DAKWAH ACEH DAN FORUM DAKWAH PERBATASAN Juhari
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 9 No. 1 (2021): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47574/kalam.v9i1.103

Abstract

Penelitian ini bertitik tolak dari minimnya perhatian terhadap pembinaan kaum muallaf yang diberikan oleh banyak pihak, baik bersifat individu maupun organisasi. Dalam kondisi ini dijumpai ada dua organisasi Islam, yaitu Dewan Dakwah Islam Aceh (DDA) dan Forum Dakwah Perbatasan (FDP) yang serius memberikan perhatian terhadap pembinaan Muallaf, terutama mereka yang menjadi muslim sebagai bagian dari keberhasilan dakwah FDP dan DDA. Karena itu penelitian dilakukan di kedua organisasi Islam ini dengan pendekatan kualitatif. Proses pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara,observasi dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 (tiga) arah pembinaan yang dilakukan, yaitu bina Agama, Bina Ekonomi dan Bina Pendidikan. Untuk melakukan pembinaan terhadap ketiga sisi tersebut, maka diperlukan model yang efektif. Berdasarkan data yang dikumpulkan menunjukkan ada 2 (dua) model pembinaan yang selama ini dilakukan banyak pihak, yaitu (1) Model Strukturalis, dan (2) model Kolaboratif. Dari kedua model ini, kolaboratif merupakan model yang dipraktikkan oleh FDP dan DDA dalam membina kaum muallaf baik melalui pendekatan personal, silaturrahmi maupun halaqah. Bila dikaitkan dengan teori Constructuralis karya Von Glasersfield maka pembinaan  agama dan ekonomi dilakukan melalui  proses pendidikan. Glasersfield menyimpulkan bahwa pendidikan memegang peran strategis dalam melakukan pemberdayaan masyarakat, khususnya para muallaf.   This research based on the low of attention to coaching of muallaf  by many parties, both individuals and organizations. In this case, found two Islamic organizations  namely Dewan  Dakwah Aceh and the Forum Dakwah Perbatasan which seriously paid attention to empowering of the Muallaf, especially those who became Muslims as part of the process of their dakwah activities. Therefore the research was carried out in these two Islamic organizations with a qualitative approach. The data collection process was carried out by interviewing, observing and studying documents. The results of the research showed  3 (three) directions of coaching, namely Religious Development, Economic Development and Education Development. To do coaching on these three sides, an effective model is needed. Based on the data collected, it shows that there are 2 (two) coaching models that have been carried out by many parties, namely (1) the Structuralist Model, and (2) the Collaborative Model. Based on these models, collaborative is one of a model that is practiced by the FDP and DDA in fostering the muallaf through personal, friendship and halaqah approaches. In relation to the theory of Constructuralist  by Von Glasersfield, religious and economic development is carried out through the educational process. Glasersfield concluded that education is a strategic role in empowering the community, especially the Muallaf.
URGENSI PEMBINAAN AKHLAK ANAK DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Muhammad Ichsan Thaib
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 9 No. 1 (2021): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47574/kalam.v9i1.108

Abstract

Abstrak Pembinaan Akhlak anak adalah suatu pembinaan yang dilakukan oleh banyak pihak. Pembinaan dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya melalui mata pelajaran tertentu atau pokok bahasan atau sub pokok bahasan khusus dan melalui program-program lainnya. Adanya akhlak adalah untuk mencapi kebahagian hidup umat manusia dalam kehidupannya, baik di dunia maupun akhirat. Pentingnya akhlak semakin terasa jika dikaitkan dengan maraknya aksi tauran remaja, perampokan, penjambretan, penodongan, korupsi, manipulasi dan berbagai macam kejahatan lainya. Untuk mencegah perilaku tersebut timbul pada para anak dilakukan upaya melaluli penanaman akhlakul karimamah. Karena jika seseorang dari kecil ditanami dengan akhlakul karimah, kelak jika mereka telah dewasa entah mereka kaya atau miskin, perpendidikan tinggi atau redah, memiliki jabatan tinggi atau rendah, ataupun tidak memiliki jabata sama sekali, insya Allah akan dapat memperoleh kebahagiaan. Jika generasi muda memiliki akhlakul karimah, di dalam menyongsong kemajuan zaman, bangsa akan memiliki moral kualitas unggul. Bangsa yang unggul dalam perspektif Islam adalah bangsa yang berakhlakul karimamah. Dengan seseorang memiliki akhlakul karimah, memiliki fungsi agar manusia menjalankan perilaku yang baik dan santun tanpa unsur ketertekanan maupun keberatan. Hal ini terjadi ketika moralitas yang baik ini telah menjadi „malakah‟ (telaten) yang menancap kokoh dalam diri hingga menjadi karakter dirinya. Anak yang memiliki akhlak yang baik pada dirinya, diharapkan akan terwujud manusia yang ideal, anak yang bertawakal kepada Allah SWT dan cerdas. Di dunia pendidikan, akhlak yang baik sangat penting dalam pembentukan mental anak atau remaja agar tidak mengalami penyimpangan. Abstrac Moral development of children is a development carried out by many parties. Coaching can be done in various ways, including through certain subjects or specific subjects or sub-subjects and through other programs. The existence of morals is to achieve the happiness of human life in their lives, both in this world and the hereafter. The importance of morals is increasingly felt when it is associated with the rampant adolescent tauran, robbery, mugging, mugging, corruption, manipulation and various other crimes. In order to prevent this behavior from arising in children, efforts are made through the cultivation of morals of Karimamah. Because if someone from a child is planted with akhlakul karimah, later when they grow up whether they are rich or poor, high or low education, have a high or low position, or do not have jabata at all, God willing, they will be able to get happiness. If the younger generation has good morals, in welcoming the progress of the times, the nation will have superior quality morals. A nation that excels in an Islamic perspective is a nation with good morals. With someone having the akhlakul karimah, it has a function so that humans carry out good and polite behavior without stress or objection. This happens when this good morality has become 'malakah' (painstaking) which has stuck firmly in him to become his character. Children who have good morals in themselves, are expected to realize an ideal human being, a child who puts trust in Allah SWT and is intelligent. In the world of education, good morals are very important in the mental formation of children or adolescents so as not to experience deviations.

Page 7 of 12 | Total Record : 115