cover
Contact Name
Frans Paillin Rumbi
Contact Email
fransrumbi24@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.bia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
ISSN : 26554682     EISSN : 26554666     DOI : -
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual adalah Jurnal peer-review yang diterbitkan oleh STAKN Toraja, berfokus pada isu-isu terbaru dalam dunia Teologi secara khusus berkaitan dengan Kontekstualisasi Teologi di Indonesia dengan beberapa spesifikasi yakni: 1.Studi Biblika 2.Injil dan Kebudayaan 3.Gereja dan Masyarakat 4.Dinamika Pendidikan Kristen 5.Riset Teologi Praktika 6.Musik Kontekstual
Arjuna Subject : -
Articles 162 Documents
Keadilan Dalam Bisnis Gadai Naomi Sampe
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i1.15

Abstract

The habit of debit and credit has become tradition in human culture as far back as. The system of debit and credit also happened in outgrowth. In hundreds years, it expand  from barter system in primitive society towards variety methods, until now. There are many ways for people to get loans, and morover in easier manner. The commonly way in taking the allowance is by using bailed out. Thats why,nowdays there so many institution or person pop out to offer a term loan, such as bank, cooperative (enterprise) that emerge in saving and loan, credit union, financing instituion, loan office, and even moneylender. This research is needed to help emerge any understanding into some problem solving on how the christian ethics addressing the alternatives to face this problem of pawning.AbstrakBudaya utang piutang telah menjadi tradisi dalam masyarakat sejak dahulu. Sistem transaksi utang piutang juga mengalami perkembangan. Dari sistem barter dalam masyarakat primitif sederhana, berkembang melalui ratusan tahun menjadi berbagai macam cara hingga saat ini. Cara-cara yang dapat ditempuh untuk mendapatkan pinjaman saat ini beragam dan semakin mudah metodenya. Yang paling umum dilakukan adalah mengambil kredit dengan memberikan jaminan. Lantas, bermunculanlah berbagai lembaga/orang yang dapat memberikan pinjaman dengan bunga yang disepakati, seperti bank, koperasi simpan pinjam, credit union, lembaga finance dan pegadaian bahkan rentenir dengan resiko masing-masing. Masalah ini memerlukan kajian penelitian untuk memberi pandangan etis kristiani sebagai salah satu alternatif teologi menghadapi persolan bisnis gadai ini.
Korupsi sebagai Musuh Bersama: Merekonstruksi Spiritualitas Anti Korupsi dalam Konteks Indonesia Bestian Simangunsong
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i2.52

Abstract

Abstract: Indonesian goverment established corruption as an extra ordinary crime. Government produced some policies as a manifestasion to prove that they are serious to overcome the practices of corruption and all of the impact in society. Not only government, church as an institution of religion which rich of moral and ethics views can play their role even to show their responsibilities  to construct some formulas to solve some problems related to corruption that occur in the life of nation, society and church. Actually, the synergy between all alements of nation is needed, including the church as an agent of change to raise awareness to understand about corruption and the latent danger of it’s impact. Corruption is the common enemy. It’s also a social concern in Indonesia. So, church as a symbol of a salt and light of the world, has a calling to play the role reconstructing anti-corruption spirituality based on theological dialog and tradition about distributing parjambaran in the context of Batak society.Abstrak: Pemerintah Indonesia menetapkan korupsi sebagai extra ordinary crime. Kebijakan ini sebagai salah satu wujud keseriusan pemerintah mengatasi praktek korupsi dan segala dampak yang ditimbulkannya di tengah masyarakat. Tidak hanya pemerintah, gereja sebagai lembaga agama yang kaya akan ajaran-ajaran moral juga bertanggungjawab untuk menemukan sebuah formula yang dapat mendorong percepatan penyelesaian persoalan-persoalan terkait korupsi yang terjadi di tengah kehidupan bangsa, masyarakat, dan gereja. Dibutuhkan sinergi antara seluruh elemen bangsa, termasuk gereja sebagai agen perubahan untuk menumbuhkan kesadaran di tengah masyarakat akan pentingnya memahami korupsi dan bahaya laten yang ditimbulkannya. Korupsi merupakan musuh bersama dan keprihatinan sosial di tengah Indonesia. Upaya merekonstruksi spiritualitas anti korupsi yang didasarkan pada penekanan integritas dengan mendialogkannya dengan kearifan lokal pembagian parjambaran pada masyarakat Batak merupakan sumbang pikir teologis terhadap perlawanan korupsi.
Tradisi Pendidikan Iman Anak dalam Perjanjian Lama Yohanes Krismantyo Susanta
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i2.127

Abstract

Abstract: Using a qualitative-descriptive approach, this article shows that in ancient Israel society there was a certain educational mechanism where a child had the opportunity to learn the Scriptures (faith education). Educating children from childhood in the context of ancient Israel society is a task entrusted by God to parents and the community. Children have the right to education from their parents. Children's faith education must be done by parents. However, the community is responsible for helping families to nurture their children. The tradition of ancient Israel can be a lesson for the current context that the family is the main place in the inheritance of the faith. Abstrak: Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dan menunjukkan bahwa dalam masyarakat Israel kuno telah terdapat mekanisme pendidikan tertentu dimana seorang anak mendapatkan kesempatan untuk mempelajari Kitab Suci (pendidikan iman). Mendidik anak sejak kecil dalam konteks masyarakat Israel kuno merupakan tugas yang dipercayakan Allah kepada orangtua dan komunitas. Anak-anak berhak mendapatkan pendidikan dari orangtua mereka. Pendidikan iman anak harus dilakukan oleh orangtua. Akan tetapi komunitas bertanggung jawab membantu keluarga dalam membina anak-anak mereka.  Tradisi Israel kuno tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi konteks saat ini bahwa keluarga merupakan tempat utama dalam pewarisan iman.
Implikasi Pedagogi Paulo Freire dan Antonia Harder Terhadap Tindak Pidana Perdagangan Manusia di Nusa Tenggara Timur Jear Nenohai
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i1.211

Abstract

Current research on human trafficking in the Christian Evangelical Church in Timor (GMIT) does not currently involve an educational approach to analyze the problem. So, the aim of this article is to contribute ideas about the pattern of contextual education for GMIT in countering human trafficking cases in East Nusa Tenggara. This study is based on a literature study comparing the critical pedagogy of Paulo Freire and Antonia Harder. After that, the authors uses this pedagogy to analyze the praxis of the mission of the Christian Evangelical Church in Timor and the contextual education practices of an alternative school named Lakoat.Kujawas. Through the mission and education dialogue, the authors see that the resistance base of GMIT has not involved culture and nature as a basis for resistance. Through the critical pedagogical analysis of Freire and Antonia Harder, the author shows the relevance of Lakoat.Kujawas’s liberation pedagogy and contextual education model for the resistance process undertaken by GMIT. Finally, this research is limited to the exploration of critical pedagogy for cases of human trafficking and not involve further politic of education, intercultural theological and practical studies on the pedagogy of liberation. AbstrakPenelitian tindak pidana perdagangan orang oleh Gereja Masehi Injili di Timor sejauh ini belum melibatkan pendekatan pendidikan di dalamnya. Oleh karena itu, tujuan artikel ini ialah membedah perdagangan orang dari sudut pandang pendidikan dan memberikan kontribusi pendekatan pendidikan terhadap pengembangan perlawanan Gereja Masehi Injili di Timor kasus perdagangan orang di Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini didasarkan pada studi pustaka dengan mengandalkan pendekatan pedagogi pembebasan Paulo Freire dan Antonia Harder. Ide kedua tokoh tadi penulis pakai untuk menganalisa praksis misi perlawanan yang dikerjakan oleh Gereja Masehi Injili di Timor. Melalui tulisan ini, penulis menunjukan bahwa dengan mengembangkan praktik pendidikan, Gereja Masehi Injili di Timor mampu mengembangkan perlawanan yang berciri membebaskan, dan berdimensi multi keilmuan dengan mengandalkan konteks warga Gereja agar Gereja Masehi Injili di Timur mampu mendidik warga Gereja agar tidak lagi menjadi pelaku perdagangan orang.
Mewartakan Injil - Menahan Roti: Sebuah Catatan Kritis atas Model Pelayanan Yudas Hendrikus Nayuf
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i2.9

Abstract

Poverty is often used as an excuse for fighting for justice and solidarity. Poverty becomes a magnet for anyone to raise it as an issue of partiality. Even poverty can be used as a means of struggle to criticize the leaders of the nation and the church. Jude, one of Jesus disciples show this in Jesus anointing narrative in Bethany. Jude fought for justice while at the same time showing his solidarity when criticizing Mary for anointing Jesus by using expensive aromatic oil. At the symbol level, Judas shows a concrete emphaty attitude. He showed partiality and dared to rebuke others so that they were not wasteful while poverty was so rampant. Even though Jude’s attitude was counter-productive with narratives about him. But the story becomes an inspiration and source of learning about the interpretation of poverty and also a warning sign for church leaders so that in their works, the must “proclaim the Gospel – share bread” and not “proclaim the Gospel – hold the bread.”Abstrak: Kemiskinan sering dijadikan alasan dalam memperjuangkan keadilan dan solidaritas. Kemiskinan menjadi magnet bagi siapa saja untuk mengangkatnya sebagai isu keberpihakan. Bahkan kemiskinan dapat dijadikan sebagai alat perjuangan untuk mengkritisi para pemimpin bangsa maupun pemimpin gereja. Yudas, salah satu murid Yesus telah menunjukkan hal tersebut dalam narasi pengurapan Yesus di Betania. Yudas memperjuangkan keadilan sekaligus menunjukkan sikap solidaritasnya saat mengkritik Maria yang mengurapi Yesus dengan menggunakan minyak narwastu yang mahal. Dalam tataran simbol, Yudas menunjukkan sikap empati yang konkrit. Ia menunjukkan keberpihakan dan berani menegor orang lain agar tidak berlaku boros sementara kemiskinan begitu merajalela. Walau sikap Yudas kemudian kontra produktif dengan kelanjutan narasi-narasi tentang dirinya. Tetapi kisahnya kemudian menjadi inspirasi dan sumber pembelajaran tentang penafsiran atas kemiskinan dan juga tanda awas bagi para pemimpin Gereja agar dalam karya-karyanya, harus “mewartakan Injil – membagi roti” dan bukan “Mewartakan Injil – Menahan Roti.”  
Pandangan Dunia Evolusioner dan Respon Iman Kristen John C. Simon; Stella Y.E. Pattipeilohy
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i1.66

Abstract

Abstract: The evolutionary worldview confirms its position since the discovery of various ancient human sites, and continues to develop with various genetic engineerings and protein discoveries as well as advances in the field of artificial intelligence (AI) technology. Initially the religious community was the party who felt most attacked by the theory of evolution because it stripped the Bible of the truth about the creation of the world and humans. Later some Catholic Church appreciative statements about the theory of evolution and the big bang theory, including Pierre Teilhard de Chardin's attempt to explain the evolution of human consciousness towards the cosmic Christ, showed a change in religion towards acceptance of the diversity of world views: religion, culture and science. This evolutionary world development raises ethical questions about what is religion’s contribution. One of them is the awareness about shadow. The awareness is derived from religion which teaches that men are created by God that even though unique, but mortal and finite creations. Shadow is liberation so that men are not shackled to matter. He is a fragile human who longs to evolve to be a Christ as the perfect human image.Abstraksi:Pandangan dunia evolusioner meneguhkan kedudukannya sejak penemuan berbagai situs manusia purba, dan terus berkembang dengan berbagai penemuan rekayasa genetik dan protein dan kemajuan di bidang teknologi artificial intelligence (AI). Semula kalangan agama menjadi pihak yang merasa paling diserang dengan teori evolusi karena melucuti kebenaran Alkitab tentang penciptaan dunia dan manusia. Belakangan beberapa pernyataan apresiatif Gereja Katolik terhadap teori evolusi dan teori big bang, termasuk usaha Pierre Teilhard de Chardin menjelaskan tentang evolusi kesadaran manusia menuju Kristus kosmis, memperlihatkan perubahan agama menuju penerimaan akan keragaman pandangan dunia: agama, budaya dan ilmu pengetahuan. Perkembangan dunia evolusioner ini memperhadapkan berbagai pertanyaan etis tentang apa sumbangan agama. Salah satunya adalah kesadaran tentang bayangan. Kesadaran akan bayangan diperoleh dari agama yang mengajarkan bahwa manusia yang diciptakan Tuhan, sekalipun unik, adalah ciptaan yang fana dan terbatas. Bayangan adalah pembebasan agar manusia tidak tertambat pada materi. Ia adalah manusia yang rapuh yang merindukan berevolusi menuju Kristus sebagai gambaran manusia yang sempurna.
Pilatus Dalam Pengakuan Iman Rasuli: Dalam Terang 1 Timotius 6:12-13 Yonky Karman
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.256

Abstract

Churches and theologians usually interpret the mention of Pilate in the Apostles' Creed as a time frame during the reign of Roman political rulers for the events of Jesus' passion, thereby providing a historical framework for Christ's redemptive work. The phrase “under Pontius Pilate” in the church creed is taken for granted with the same meaning as the Greek phrase epi Pontiou Pilatou in 1 Timothy 6:13, the only direct reference in the New Testament. However, the Bible translation of the Greek phrase is usually “before Pontius Pilate”, slightly different from the creedal formulation. Biblically, there is a connection between epi Pontiou Pilatou and Jesus’ long testimony before Pilate’s trial in the gospel of John, the only gospel that explicitly mentions Jesus coming into the world “to testify to the truth” (John 18:37, NRSV). This article adds a theological significance to that mention in light of I Timothy 6:12-13. Not only Jesus “suffered under Pontius Pilate”, He also gave testimony “before” the Roman administrator, a representation of the then world, and thus the witness of the church throughout the ages before the world.Gereja dan teolog biasanya menafsirkan penyebutan Pilatus dalam Pengakuan Iman Rasuli sebagai kerangka waktu selama pemerintahan penguasa politik Romawi untuk peristiwa sengsara Yesus, demikian memberikan kerangka sejarah untuk karya penebusan Kristus. Frasa “di bawah pemerintahan Pontius Pilatus” dalam kredo gereja diandaikan begitu saja sama maksudnya dengan frasa epi Pontiou Pilatou dalam teks Yunani 1 Timotius 6:13, satu-satunya rujukan langsung dalam Perjanjian Baru. Namun, terjemahan Alkitab untuk frasa Yunani itu biasanya “di muka Pontius Pilatus”, sedikit berbeda dari rumusan kredo. Secara alkitabiah, ada hubungan antara epi Pontiou Pilatou dan kesaksian panjang Yesus di muka pengadilan Pilatus dalam Injil Yohanes, satu-satunya Injil yang secara eksplisit menyebutkan Yesus datang ke dalam dunia “untuk memberi kesaksian tentang kebenaran” (Yoh. 18:37). Artikel ini menambahkan signifikansi teologis untuk penyebutan itu bahwa Yesus tidak hanya “menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus”, tetapi juga bersaksi “di muka” wali negeri Romawi itu, sebuah representasi dunia waktu itu. Begitu juga kesaksian gereja sepanjang masa di hadapan dunia.
Tujuh Kebajikan Utama Untuk Membangun Karakter Kristiani Anak Kalis Stevanus
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i1.21

Abstract

Character is something that is very important for human progress, both individually and in a nation. This article motivated by the decline of the character of society that appears in the rampant crime, anarchism, vigilante, radicalism, hatred, intolerance, disrespect, terrorism, injustice which is causing violence in various human relationships. Individual and social clashes occurred which are always based on the society background, such as ethnicity, religion and social condition. It cannot be denied if it is said that the root of all this is caused by character problem. Character influences ethical and moral judgment and decision making. By this context, Christian families are called to participate in building the nation through education in family. Christian families become character educators for their children. This article aims to describe seven virtues main, namely compassion, empathy, self-mastery, respect, tolerance, fairness, and patriotism to build child Christian character.  AbstrakKarakter adalah suatu hal yang sangat penting bagi kemajuan manusia, baik secara individual maupun suatu bangsa. Tulisan ini dimotivasi oleh merosotnya karakter masyarakat yang nampak dalam maraknya tindakan kejahatan, anarkhis, main hakim sendiri, radikalisme, kebencian, intoleransi, rasa tidak hormat, terorisme, ketidakadilan, sehingga menyebabkan membudayanya kekerasan dalam berbagai relasi. Terjadi perbenturan-perbenturan  individual dan social yang masih selalu terkait dengan latar  belakang masyarakat, seperti etnis, agama dan keadaan social. Tidak dapat disanggah bila dikatakan akar penyebab semua itu disebabkan oleh problem karakter. Karakter memengaruhi pertimbangan dan pengambilan keputusan etis dan moral. Dalam konteks inilah keluarga Kristen dipanggil untuk turut serta membangun bangsa melalui pendidikan di keluarga. Keluarga Kristen menjadi pendidik karakter bagi anak-anaknya. Tulisan ini bertujuan mendiskripsikan tujuh kebajikan utama, yaitu belas kasih, empati, penguasaan diri, rasa hormat, toleransi, adil, dan cinta tanah air, untuk membangun karakter Kristiani anak.
Prinsip Teologi Kristen Pendidikan Orang tua terhadap Anak di Era Revolusi Industri 4.0 Ruat Diana
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i1.79

Abstract

This article discusses the role of parents in educating children in the industrial revolution era 4.0 based on Christian principles. The author analyzes several library sources both books and journals related to the topic of discussion. From the results of the analysis of several literature sources, children's education is God's mandate given to parents. Parents have a role to educate them to become mature Christians. Spiritual maturity is the provision for children to face challenges in the era of the industrial revolution. Parents also play a role in educating about love and fairness. Love and fair moral values need to be instilled so that children can compete in a healthy manner in the era of the industrial revolution. The next role is to provide guidance to be able to live in groups. The development of digital media causes behavior changes that become increasingly individualistic, therefore children need to be educated to live in groups because humans cannot escape social life. Education in the era of the industrial revolution was done by example. Children need a model that is a role model for living in the digital age.Abstrak: Artikel ini memembasan tentang peran orang tua mendidik anak di era revolusi industri 4.0 berdasarkan prinsip Kristen. Penulis melakukan analisis beberapa sumber pustaka baik buku maupun jurnal yang terkait dengan topik bahasan. Dari hasil analisis beberapa sumber pustaka, pendidikan anak merupakan mandat Allah yang diberikan pada orang tua. Orang tua memiliki peran untuk mendidik mereka untuk menjadi orang Kristen dewasa. Kedewasaan rohani adalah bekal untuk anak-anak menghadapi tantangan di era revolusi industri. Orang tua juga berperan utnuk mendidik tentang kasih dan adil. Nilai moral kasih dan adil perlu ditanamkan agar anak-anak dapat bersaing secara sehat di era revolusi industri. Peran selanjutnya adalah memberikan bimbingan untuk dapat hidup dalam kelompok. Berkembangnya media digital menyebabkan perubahan perilaku yang menjadi semakin individualistis, oleh sebab itu anak-anak perlu dididik hidup dalam kelompok sebab manusia tidak dapat lepas dari kehidupan sosial. Pendidikan di era revolusi industri dilakukan melalui teladan. Anak-anak membutuhkan model yang menjadi teladan untuk hidup di era digital.
Raputallang sebagai Konsep Konseling Kontekstual di Masyarakat Toraja Ayub Alexander
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i2.110

Abstract

The Toraja people understand Raputallang as an expression of personifi-cation (symbolic) in which it expresses the meaning of family relations that are built based on flesh-blood relations (genealogy). The purpose of this research is to explain the concept of Raputallang as a counseling media for the people of Toraja. This research is motivated by the lack of impact and the limited reach of the counseling process carried out by the church to the Toraja people who are facing problems. Therefore, it is necessary to develop counseling media that can reach and provide a more effective impact to help the people of Toraja to improve the value of life which had declined due to the problems they faced. This study, using the theory of Community Counseling, was developed by Judith A. Lewis and colleagues. This paper use a qualitative research with a descriptive approach. The source of this research information are to minaa '(traditional leaders) and cultural observers in Toraja. This research shows that Raputallang becomes or is used as a medium for community counseling through a cultural awareness approach. Abstrak: Masyarakat Toraja memahami Raputallang sebagai ungkapan personifi-kasi (simbolik) yang di dalamnya mengungkapkan makna relasi kekeluargaan yang terbangun berdasarkan hubungan darah daging (genealogi). Tujuan penelitian ini untuk mengkaji Raputallang sebagai media konseling masyarakat Toraja. Penelitian ini dilatar belakangi oleh kurangnya dampak dan terbatasnya jangkauan dari proses konseling yang dilakukan oleh gereja kepada masyarakat Toraja yang sedang menghadapi permasalahan. Oleh sebab itu, perlu dikembangan media kon-seling yang bisa menjangkau dan memberikan dampak yang lebih efektif untuk membantu masyarakat Toraja meningkatkan nilai hidup yang sempat menurun akibat permasalahan yang dihadapinya. Penelitian ini, menggunakan teori Kon-seling Masyarakat yang di Kembangkan oleh Judith A. Lewis dan rekan-rekan. Penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sumber informasi penelitian ini ialah to minaa’ (tokoh adat) dan pemerhati budaya yang ada di Toraja.  Penelitian ini menunjukkan bahwa Raputallang menjadi atau dijadikan sebagai media kon-seling masyarakat melalui pendekatan kesadaran budaya.

Page 7 of 17 | Total Record : 162