cover
Contact Name
Frans Paillin Rumbi
Contact Email
fransrumbi24@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.bia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
ISSN : 26554682     EISSN : 26554666     DOI : -
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual adalah Jurnal peer-review yang diterbitkan oleh STAKN Toraja, berfokus pada isu-isu terbaru dalam dunia Teologi secara khusus berkaitan dengan Kontekstualisasi Teologi di Indonesia dengan beberapa spesifikasi yakni: 1.Studi Biblika 2.Injil dan Kebudayaan 3.Gereja dan Masyarakat 4.Dinamika Pendidikan Kristen 5.Riset Teologi Praktika 6.Musik Kontekstual
Arjuna Subject : -
Articles 162 Documents
Kontribusi Hermeneutis 1 Raja-Raja 21 terhadap Konflik Agraria di Indonesia Admadi Balloara Dase
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i1.88

Abstract

Agrarian conflict is a very classic discussion in Indonesia. It affects humanity and environmental issues. As many discriminations happens toward marginalized society, it’s needed to be a concern. The author will dialogue this issue with text 1 Kings 21. This event is almost the same with the text 1 Kings 21, about the seizure of land between King Ahab and Naboth. To investigate and review the meaning of 1 Kings 21, the author uses critical history method. In conclusion, greed is the cause, so there was a land seizure between King Ahab and Nabot which resulted in the killing of Nabot as a weaker person. However, God declared justice for His people, and declared judgment on King Ahab. The event like this also often occurred in Indonesian society, due to economic interests and the legitimacy of national development. However, it is unfortunate that the prophetic voice from the church could not be heard. AbstrakKonflik agraria merupakan persoalan yang sangat klasik di Indonesia. Konflik tersebut berdampak pada kemanusiaan, bahkan pada masalah lingkungan. Dengan banyaknya terjadi diskriminasi terhadap orang-orang marginal (tak berdaya) tentunya ini perlu menjadi perhatian. Penulis akan mencoba melihat impikasi dari teks 1 raja-raja 21 terhadap konteks saat ini. Peristiwa diskriminasi tersebut tentunya hampir sama terjadi dalam teks 1 Raja-raja 2, tentang perebutan tanah antara raja Ahab dan Nabot. Dalam menyelidiki dan mengkaji makna dari 1 Raja-raja 21, penulis mengunakan metode penafsiran kritik sejarah (historis). Kesimpulannya, keserakahan yang menjadi penyebab, sehingga terjadi perebutan tanah antara Raja Ahab dan Nabot yang mengakibatkan terbunuhnya Nabot sebagai yang lemah. Namun, Tuhan tetap menyatakan keadilannya bagi umat-Nya, dan menyatakan penghakiman kepada raja Ahab. Peristiwa tersebut juga sering terjadi dalam masyarakat Indonesia, dikarenakan kepentingan ekonomi dan legitimasi pembangunan nasional. Namun, sangat disayangkan gaungan suara kenabian dari gereja tak begitu terdengar.
Memaknai Penyelamatan Zipora atas Rencana Tuhan Membunuh Musa Firman Panjaitan
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i2.71

Abstract

In the Bible it is often found a difficult part to understand, especially in this paper about the plan of the Lord who wanted to kill Moses. Even if you look deeper, Moses is a person sent by the LORD to free the nation of Israel from occupation in Egypt. This section needs to be examined more deeply, so that it can be searched for what is the basis of this action of the Lord, and at the same time what theological meanings are contained in this section, which are also relevant to present life. Through word study research efforts, it can be found that the plan of the Lord to kill Moses was not a playful plan, but it was a truly serious plan. But all these plans could be failed because Zipporah, the wife of Moses, succeeded in making atonement with the LORD through the foreskin of Moses 'son who was affixed to Moses' pubic. This indicates that the Lord's plan occurred because Moses was negligent in keeping his holiness, which is to circumcise his child. Holiness is the most important thing in carrying out all forms of service and call of God. If this holiness was ignored, then it could be that the Lord's plan to send someone turned into the anger of the LORD against the one sent.Abstrak: Dalam Alkitab seringkali dijumpai bagian yang sulit untuk dipahami. Terkait dengan tulisan ini, bagian yang sangat sulit itu adalah tentang rencana TUHAN yang hendak membunuh Musa. Padahal kalau dilihat lebih dalam lagi, Musa adalah orang yang diutus oleh TUHAN untuk membebaskan bangsa Israel dari kerja paksa di Mesir. Bagian ini perlu untuk diteliti lebih dalam lagi, agar dapat dicari apa yang menjadi dasar dari tindakan TUHAN ini, dan sekaligus ditarik makna teologi apa yang terkandung dalam bagian ini, yang juga relevan bagi kehidupan sekarang. Melalui studi kata, maka dapat dijumpai bahwa rencana TUHAN membunuh Musa bukanlah rencana yang main-main, tetapi merupakan rencana yang memang sungguh-sungguh. Namun semua rencana itu dapat digagal-kan karena ada Zipora, istri Musa, yang berhasil mengadakan upaya ‘pendamaian’ dengan TUHAN melalui kulit khatan anak Musa yang ditempelkan ke ‘kemaluan’ Musa. Ini menandakan bahwa rencana TUHAN itu terjadi karena Musa telah lalai dalam menjaga kekudusan dirinya, yaitu menyunatkan anaknya. Kekudusan meru-pakan hal terpenting dalam menjalankan segala bentuk pelayanan dan panggilan TUHAN. Apabila kekudusan ini diabaikan, maka bisa saja rencana TUHAN mengutus seseorang berubah menjadi kemarahan TUHAN terhadap yang diutus. 
Signifikansi YouTube Sebagai Medium Pewartaan Injil bagi Generasi Milenial di Indonesia David Eko Setiawan
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.190

Abstract

The rapid development of information technology has given rise to a variety of social media platforms that can connect many people from all walks of life, and in all places quickly. In various studies show that most users of the platform have the millennial generation. Freedom and speed to access it is a consideration for the use of social media as a medium for proclaiming the gospel. YouTube as a social media platform, very popular with millennials, can help evangelists in communicating it attractively, creatively, interactively, and inspiratively. The problem with this research is how is the significance of YouTube as a medium for evangelism for the millennial generation in Indonesia? While the purpose of this study is to explain the significance of YouTube as a medium for proclaiming the gospel for the millennial generation in Indonesia. In this study, it was found that basically, YouTube is significant as a medium for proclaiming the gospel for the millennial generation in Indonesia because it is in accordance with the context of those who like social media platforms that are attractive, creative, interactive, and inspiring.Perkembangan teknologi informatika yang begitu cepat memunculkan berbagai platform media sosial yang dapat menghubungkan banyak orang dari segala lapisan, dan di segala tempat secara cepat. Dalam berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengguna terbanyak dari platform tersebut ada generasi milenial. Kebebasan dan kecepatan untu mengaksesnya, menjadi pertimbangan pemanfaatan media sosial sebagai medium pewartaan Injil. YouTube sebagai salah satu platform  media sosial, sangat digemari oleh generasi milenial, dapat menolong pewarta injil dalam mengkomunikasikannya secara atraktif ,  kreatif, interatif dan inspiratif. Masalah penelitian ini adalah bagaimanakah signifikansi YouTube sebagai medium pewartaan Injil bagi generasi milenial di Indonesia? Sedangkan tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan signifikansi YouTube sebagai medium pewartaan Injil bagi generasi milenial di Indonesia. Pada penelitian ini ditemukan bahwa pada dasarnya YouTube  signifikan sebagai medium pewartaan Injil bagi generasi milenial di Indonesia karena sesuai dengan konteks mereka yang menggemari platform media sosial yang atraktif,  kreatif, interatif dan inspiratif. 
Tradisi Massuru' dan Pertobatan Dalam Injil Sinoptik Rumbi, Frans Paillin
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i1.17

Abstract

This paper juxtaposes two models of wrong forgiveness and sin. Massuru 'in Toraja culture and repentance in the gospel. This research study is explanatory in order to explain the concept of masu suru and repentance from the theological roots that shape it. The materials used are sourced from the literature but in dialogue with the observations or experiences that the author has encountered in the field, both when observing the way the Toraja interpret their traditions and interpret liturgical confessions in the congregation. The results of this study found that massuru and repentance had a more or less the same basic pattern, which was initiated by false recognition or sin, forgiveness and finally peace. Another similarity is improving behavior, reestablishing relations with God and fellow creatures. But there are differences in terms of initiative, targets in the visible and inner aspects, atonement victims. Massuru 'can be used as a model for confession in congregations and repentant pastoral models, but it needs to adjust its meaning to the values of the contain of Christian teachings. AbstrakTulisan ini menyandingkan dua model pengampunan salah dan dosa. Massuru’ dalam kebudayan Toraja dan pertobatan dalam Injil. Kajian penelitian ini bersifat eksplanasi untuk menjelaskan konsep massuru’ dan pertobatan dari akar tradisi-teologis yang membentuknya. Bahan-bahan yang digunakan bersumber dari kepustakaan tetapi di dialogkan dengan pengamatan atau pengalaman yang selama ini penulis jumpai di lapangan, baik ketika mengamati cara orang Toraja memaknai tradisinya maupun memaknai liturgi pengakuan dosa dalam jemaat. Hasil penelitian ini menemukan bahwa massuru' dan pertobatan memiliki pola dasar yang kurang lebih sama, yakni dimulai dengan pengakuan salah atau dosa, pengampunan dan akhirnya perdamaian. Kesamaan lain yakni memperbaiki perilaku, membangun kembali relasi dengan Allah dan sesama ciptaan. Tetapi terdapat perbedaan dari segi inisiatif, sasaran pada aspek kelihatan dan batin, korban pendamaian. Massuru' dapat digunakan sebagai model akta pengakuan dosa dalam jemaat maupun model pastoral tobat, akan tetapi perlu menyesuaikan maknanya dengan nilai-nilai yang terkandung alam ajaran Kristen.
Memahami Bangsa-bangsa Lain dalam Injil Matius Adi Putra
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i2.59

Abstract

This article described one of the uniqueness of the Gospel of Matthew, namely: the emergence of systemic and consistent elements of other nations (gentile). Though Matthew's Gospel is a gospel written for Jews with an emphasis on fulfilling the Old Testament in Jesus and His ministry. Then, why are the elements of other nations in it? This paper answers it by looking more at the salvation (soteriology) aspects designed by God and also includes other nations in it. Abstrak: Artikel ini menjelaskan salah satu keunikan dari Injil Matius, di mana secara sistematis dan konsisten menjelaskan unsur bangsa-bangsa lain (gentile). Meskipun injil Matius ditulis kepada orang Yahudi dengan sebuah penekanan penggenapan PL dalam Yesus dan pelayanan-Nya. Lalu, mengapa unsur bangsa-bangsa lain dijelaskan secara konsisten dan sistematis di dalamnya? Penelitian ini menjawabnya dengan melihat lebih kepada aspek keselamatan yang telah didesain oleh Allah juga bagi bangsa-bangsa lain
Kajian Ekoteologis tentang Konsep Tanah dalam Perjanjian Lama dan Implikasinya bagi Pemeliharaan Tanah Roy Charly Sipahutar
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i2.95

Abstract

This article is an echotheological study of the basis of Israel's election and agreement as God's people in relation to the ownership of the Land of Canaan. Israel as a nation and chosen people certainly have a duty as a blessing to others. This study departs from the meaning of the agreement affirmed on Mount Sinai, namely that God wants Israel to live in loyalty and always care for social life. The agreement was subsequently implemented in the form of the giving of the land of Canaan as another symbol. The promised land management is not only for the benefit of the people of Israel, but also must have a social dimension for the poor, oppressed, and marginalized, this is the ethical basis of Israel's life as God's people. Land must be cultivated as a source of God's peace (syalom) for all His creatures, because only in this way can they breathe in the covenant with the Divine, God the Almighty. Furthermore, at the end of this paper it will be concluded that human beings as God's representatives do not mean acting according to their own desires, because humans must always remember that everything will be accounted for back to God.Abstrak: Artikel ini adalah sebuah kajian ekoteologis mengenai dasar pemilihan dan perjanjian Israel sebagai umat Allah dalam hubungannya dengan kepemilikan Tanah Kanaan. Israel sebagai bangsa dan umat pilihan tentunya memiliki tugas sebagai berkat bagi orang lain. Kajian ini berangkat dari makna perjanjian yang ditegaskan di Gunung Sinai, yaitu bahwa Tuhan menginginkan Israel hidup dalam kesetiaan dan selalu peduli pada kehidupan sosial. Perjanjian itu selanjutnya diem-plementasikan dalam bentuk pemberian tanah Kanaan sebagai simbol yang lain. Pengelolaan tanah yang dijanjikan tidak hanya untuk kepentingan rakyat Israel, tetapi juga harus memiliki dimensi sosial untuk orang miskin, tertindas, dan ter-pinggirkan, hal tersebutlah yang menjadi dasar etis kehidupan Israel sebagai umat Allah. Tanah harus diusahakan sebagai sumber kedamaian Allah (syalom) untuk semua makhluk-Nya, karena hanya dengan cara ini mereka dapat bernafas dalam ikatan perjanjian dengan yang Ilahi, Allah Yang Maha Kuasa. Selanjutnya, pada bagian akhir tulisan ini akan disimpulkan bahwa manusia sebagai wakil Allah bukan berarti berbuat sesuai dengan keinginan dirinya sendiri, karena manusia harus selalu mengingat bahwa segala sesuatu akan dipertanggungjawabkan kem-bali kepada Allah.
Pemikiran Nicholas of Cusa Tentang Coincidentia Oppositorum dan Sumbangsihnya Dalam Ilmu Pengetahuan Jessica Layantara
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i1.247

Abstract

Nicholas of Cusa. Cusa's thinking has undergone several changes in several of his works, in connection with the influences of negative theology, humanism, scholasticism, nominalism, and the philosophy of Neo-Platonism. Nevertheless, Coincidentia Oppositorum is still a central theme in all of Cusa's work. Starting in the 18th century until the present, thinkers believe that Cusa's thoughts on the Coincidentia Oppositorum deserve to be reappointed as an academic discussion. Some thinkers have even linked Cusa's theological concept with secular sciences. Based on this background, this paper was written to describe Cusa's thoughts on the Coincidentia Oppositorum, then analyze the contribution of these thoughts to the integration of theology with sciences such as mathematics, science, psychology, and philosophy. The thesis of this paper is that Cusa's thought regarding the Coincidentia Oppositorum is still relevant to be discussed today, it can even provide a unio oppositorum between theology and other sciences. AbstrakKonsep Coincidentia Oppositorum adalah tema utama dalam pemikiran Nicholas of Cusa. Pemikiran Cusa sempat mengalami beberapa perubahan dalam beberapa karyanya, sehubungan dengan pengaruh-pengaruh teologi negatif, humanisme, skolastisisme, nominalisme, dan filsafat Neo-Platonisme. Namun demikian, Coincidentia Oppositorum masih merupakan tema sentral dalam semua karya Cusa. Dimulai pada abad ke-18 sampai saat ini, para pemikir meyakini bahwa pemikiran Cusa mengenai Coincidentia Oppositorum layak diangkat kembali sebagai sebuah pembahasan akademik. Beberapa pemikir bahkan menghubungkan konsep teologis Cusa ini dengan ilmu-ilmu sekuler. Berdasarkan latar belakang tersebut, paper ini dibuat untuk mendeskripsikan pemikiran Cusa mengenai Coincidentia Oppositorum, kemudian menganalisa sumbangsih pemikiran tersebut bagi integrasi teologi dengan ilmu-ilmu pengetahuan seperti matematika, sains, psikologi, dan filsafat. Tesis paper ini adalah pemikiran Cusa mengenai Coincidentia Oppositorum masih relevan diperbincangkan pada masa kini, bahkan dapat memberikan unio oppositorum antara teologi dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya.Kata Kunci: Coincidentia Oppositorum, Nicholas of Cusa, teologi negatif, teologi mistis 
Kompetensi Pedagogik Menurut Analisis Ulangan 6:7-9 dengan Pendekatan Hermeneutik Schleiermacher Syani Bombongan Rantesalu
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i2.14

Abstract

A Primary educator is that parents have an obligation to educate their children to know God. God through Moses ordered the parents of the Israelites to love God with all their heart and not only be limited to that but then also taught their children about God. The method delivered by Moses, which must be done by parents is to teach repeatedly, talk at all times, tie it to the hands and forehead and write on the door and the gate. From these four methods it can be concluded that Moses commanded the Israelites to love God by the method of teaching repeatedly, talking at all times, binding to their hands and forehead and writing on the door of the house and gate, then every Israelite looked at God in sacredness and studied God in the context of life with, so that the teachings of God are one with the child and are realized in every life.Abstrak: Pendidik yang utama adalah para orang tua yang memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anak mereka untuk mengenal Allah. Allah melalui Musa memerintahkan agar para orang tua di Israel untuk mengasihi Allah dengan segenap hati dan tidak hanya terbatas pada hal tersebut, melainkan juga mengajarkan anak-anak mereka tentang Allah. Metode yang diajarkan oleh Musa agar para orang tua mengajarkan hal tersebut kepada anak-anak secara berulang-ulang, membicarakannya dalam segala waktu, mengikatnya di tangan dan dahi mereka serta menuliskannya pada pintu rumah dan pintu gerbang. Dari empat metode ini dapat disimpulkan bahwa Musa memberikan perintah orang-orang Israel untuk mengasihi Allah dengan cara mengajarkannya secara berulang-ulang, membicarakannya di segala waktu, mengikatnya pada tangan dan dahi, serta menulikannya pada pintu dan gerbang, maka setiap anak-anak Israel akan memandang Allah dengan kekudusan dan belajar tentang Allah melalui kehidupan, sehingga pengajaran tentang Allah dinyatakan dalam setiap kehidupan.
Presuposisi dan Metode Yesus dalam Menyampaikan Pendapat: Sebuah Pedoman bagi Para Akademisi Deflit Dujerslaim Lilo
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i1.86

Abstract

Freedom of speech is the human rights of every human being. This freedom must be implemented responsibly with based on the right of thinking, good intentions and goals, and attention to the rules of thinking. This article examines how Jesus underlies and builds His paradigm and the method that He used to tell His arguments to others. By using a descriptive analysis method and hermeneutic approach to the narratives in the Gospels, it can be concluded that Jesus told his argument by using a logical and comprehensive paradigm and method so that it could be used as a guideline for the academics. Abstrak: Kebebasan berpendapat merupakan hak asasi setiap manusia. Kebebasan ini harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan berlandaskan pemikiran yang sehat, maksud dan tujuan yang baik, serta memperhatikan aturan-aturan penalaran. Artikel ini meneliti bagaimana Yesus mendasari dan membangun paradigma berpikir-Nya serta cara yang digunakan-Nya untuk menyampaikan pendapat kepada orang lain. Menggunakan metode analisis deskriptif serta pendekatan yang hermenutis pada narasi-narasi di kitab-kitab Injil, dapat ditarik kesimpulan bahwa Yesus menyampaikan pendapat dengan menggunakan paradigma dan metode yang logis dan komprehensif, sehingga dapat dijadikan sebagai suatu contoh bagi para akademisi.
Mencari Definisi Kehadiran Antar-Subjek yang Bermakna di Ruang Digital Binsar Jonathan Pakpahan
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i1.219

Abstract

We need to re-define what is presence, especially in the frequent use of digital rooms and encounters during the Covid-19 pandemic. The article argues that meaningful presence in the digital rooms could be understood through Martin Heidegger idea in the metaphysics of presence and and Jacques Derrida's critique on it. Heidegger states that Dasein must think and analyze his or her thrownness in the world presence, so the presence is not an accidental event. Dasein also builds a relationship with other Dasein. Meanwhile, through the critique of the metaphysics of presence Derrida helps us to understand the signs and traces of presence that comes to us in his discussion on speech and text. By constructing an imagined discussion between both philosophers in the context of our question, the article will build an argument that meaningful presence between subjects can be achieved in the digital space. AbstrakDalam penggunaan pertemuan di ruang digital yang menjadi salah satu mode pertemuan di masa pandemi Covid-19, kita perlu memberi definisi ulang mengenai apa itu kehadiran. Makalah ini akan berargumen bahwa kehadiran yang bermakna di ruang digital bisa dipahami melalui lensa berpikir metaphysics of presence yang diajukan oleh Martin Heidegger dan Jacques Derrida. Heidegger mengatakan bahwa kehadiran tidak boleh menjadi sebuah proses yang tidak sengaja dan harus menjadi relasi yang membuat Dasein (subjek) menyadari keterlemparannya dalam ruang dan waktu. Derrida akan membuat kita menyadari akan tanda dan jejak kehadiran yang datang kepada kita dalam pembahasannya mengenai speech (ucapan) dan text (teks). Melalui kombinasi pemikiran keduanya, tulisan ini menunjukkan bahwa kehadiran antar-subjek yang bermakna bisa dicapai dalam ruang digital.

Page 9 of 17 | Total Record : 162