cover
Contact Name
Frans Paillin Rumbi
Contact Email
fransrumbi24@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.bia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
ISSN : 26554682     EISSN : 26554666     DOI : -
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual adalah Jurnal peer-review yang diterbitkan oleh STAKN Toraja, berfokus pada isu-isu terbaru dalam dunia Teologi secara khusus berkaitan dengan Kontekstualisasi Teologi di Indonesia dengan beberapa spesifikasi yakni: 1.Studi Biblika 2.Injil dan Kebudayaan 3.Gereja dan Masyarakat 4.Dinamika Pendidikan Kristen 5.Riset Teologi Praktika 6.Musik Kontekstual
Arjuna Subject : -
Articles 162 Documents
Mengisahkan Ziarah Eksodus Melalui Eskterior Bangunan Gereja Rasid Rachman
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.273

Abstract

The exterior of Church building is the clearest face of the community of its members because it is openly showed by anybody. It is not only evidence of the very art and historical heritage but also a content of theological narrative and re-narrative of Church role in the world. This writing will show that there is a theological narrative behind the Church building. In this writing, that theological narrative is limited to the story of the journey and the sojourn of the Israel people in the wilderness to the promised land. From the exodus narrative, I renarrate the role of the Church in the context where it lives. This writing used the theory of bottom with three elements, namely: concept, category, and proposition. The early concept is the exodus narrative according to the Bible. Catching the category, this exodus concept will be anriched by the blended with the narrative of some Church buildings in Indonesia, theology of the Old Testament and liturgy, the anthropology of culture, and the philosophy of architecture. The result of this research is renarrative of the living Church buildings. The proposition is an offer on an interrelation between Biblical narrative, a historical roll of the Church building, and the renarrative or the storytelling renewal, with the present of Church mission. Eksterior bangunan gereja adalah wajah paling jelas persekutuan anggotanya, sebab terlihat secara terbuka oleh siapa pun. Ia bukan hanya bukti mahakarya seni arsitektur dan peninggalan sejarah, tetapi juga berisi narasi teologis dan merenarasikan peran gereja di dunia. Tulisan ini ingin memperlihatkan bahwa ada narasi teologi di balik eksterior bangunan gereja. Dalam tulisan ini, narasi teologi tersebut dibatasi pada kisah perjalanan dan persinggahan umat Israel di padang gurun menuju tanah perjanjian. Dari narasi eksodus tersebut, saya merenarasikan peran gereja di dalam konteksnya.Tulisan ini menggunakan teori dari bawah dengan tiga unsur, yaitu: konsep, kategori, dan proposisi. Konsep awal adalah narasi eksodus sebagaimana kesaksian Alkitab. Untuk mencapai kategori, konsep eksodus ini akan diperkaya dengan memadukan narasi beberapa bangunan gereja di Indonesia, teologi Perjanjian Lama dan liturgi, antropologi budaya, dan filsafat arsitektur. Hasil penelitian adalah renarasi bangunan gereja yang hidup. Proposisi berupa tawaran akan hubungan-hubungan antara narasi Alkitab, guliran historis bangunan gereja berdiri, dan renarasi atau pembaruan penceritaan, dengan misi gereja kini. 
Toleransi Berdasarkan Cerita Rakyat Tallu To Sala Dadi di Toraja Rantesalu, Marsi Bombongan; Iswanto, Iswanto
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i1.16

Abstract

Tolerance is described as a concept of cultural phenomena that are integrated through religious life. Conflict as an internal problem while the challenges of the times (globalization) are goals that must be answered through a spirit of tolerance. The concept that will be analyzed is based on folklore tallu to sala 'dadi in Toraja. This study intends to examine the structure of the tallu to sala 'dadi story, and the tolerance value contained in the story. The theory used in this study is the semiotic social theory. While the method used is a qualitative method of content analysis and hermeneutic methods. As a result, data was obtained that the story was of a novel type, which revealed the struggles of human life in living everyday life. The values of tolerance contained include the value of acceptability and understanding that are paired with togetherness and complementarity. Based on these findings, it can be defined that tolerance is the attitude of accepting and understanding shortcomings and differences through togetherness and complementarity.AbstrakToleransi dideskripsikan sebagai konsep fenomena budaya yang terintegriasi melalui kehidupan beragama. Konflik sebagai masalah internal sedangkan tantangan jaman (globalisasi) merupakan tujuan yang harus dijawab melalui semangat toleransi. Konsep itulah yang akan dianalisa berdasarkan cerita rakyat tallu to sala’ dadi di Toraja. Penelitian ini bermaksud mengkaji struktur ceritera tallu to sala’ dadi, dan nilai toleransi yang terkandung dalam ceritera tersebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini ialah teori semiotik sosial. Sedangkan metode yang digunakan ialah metode kualitatif analisis kontent serta metode hermeneutik. Hasilnya, diperoleh data bahwa cerita tersebut berjenis novel, yang mengungkapkan pergumulan hidup manusia dalam menjalani hidup sehari-hari. Adapun nilai-nilai toleransi yang terkandung meliputi nilai keberterimaan dan kesepahaman yang dipadankan dengan kebersamaan  dan saling melengkapi. Berdasarkan temuan tersebut dapat di definisikan bahwa toleransi adalah sikap menerima dan memahami kekurangan dan perbedaan melalui kebersamaan  dan sikap saling melengkapi.
Memaknai Iconography Kristen dari Perspektif Keluaran 20:4-6 James Anderson Lola
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i2.62

Abstract

The presence of statues in the Church has led a debate in various aspects of life, one of the issues raised is related to the commandments in God's ten commandments not to make statues and to worship the statue (Exodus 20: 4-6; Deut. 5: 8-10; Lev. 19: 4). As much as possible, this study wants to see how this statue relates to the second commandment of ten laws. In the hermeneutic approach, the researcher found that the meaning of this command was to clearly reject the establishment of a statue that was used to personalize divinity especially believed to be a manifestation of God himself.Abstraksi: Kehadiran patung dalam Gereja telah menimbulkan pro dan kontra dalam berbagai aspek kehidupan, salah satu isu yang dimunculkan adalah berkaitan dengan salah satu perintah dalam sepuluh perintah Allah untuk tidak membuat patung dan sujud menyembah patung tersebut (Keluaran 20:4-6, bandingkan Ul. 5:8-10; Im.19:4). Penelitian ini sedapat mungkin ingin melihat bagaimana hubungan patung ini dengan perintah kedua dari sepuluh hukum. Dalam pendekatan hermenutik, peneliti menemukan  bahwa makna dari perintah  ini adalah dengan jelas menolak pendirian patung yang digunakan untuk mempersonafikasikan keillahian apalagi dipercaya sebagai wujud dari Allah itu sendiri
Keadilan dan Advokasi sebagai Panggilan Gereja dalam Konteks Kehidupan Kaum Buruh Ravanelly Fabrizio Gabriel
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i2.106

Abstract

Abstract: This article aims to analyze several issues of injustice, which can threaten the welfare of port workers and build an advocacy theology as a form of defending the rights of their lives. These problems are related to the distribution of basic wages and overtime wages, as well as social benefits. The research uses a practical theological model with four phases, namely descriptive empirical task, interpretive task, the normative task, and the pragmatic task. It has a qualitative method with interview techniques, observations, documentation, and library studies. The results of study found that the existence of port workers in Ambon was in an unfair and prosperous situation. In addressing the issue, the Maluku Protestant Church was called to carry out advocacy actions by referring to theological foundations related to God’s justice. Acvocacy actions carried out in the church context can be based on social values with social dimensions such as truth, welfare, justice, and transparency in everything that is done. In addition, the Maluku Protestant Church can establish cooperation with govermment and followers of other religions to seek prosperity, uphold justice and truth for all members of the workers. Abstrak: Artikel ini bertujuan menganalisis masalah ketidakadilan yang dapat mengancam kesejahteraan hidup kaum buruh pelabuhan dan membangun teologi advokasi sebagai bentuk pembelaan hak-hak hidup mereka. Masalah tersebut ber-kaitan dengan pembagian upah pokok dan upah lembur kerja, serta tunjangan-tunjangan sosial. Penelitian ini menggunakan model teologi praktis dengan empat tahapan, yakni descriptive empirical task, interpretive task, the normative task, dan the pragmatic task. Didalamnnya terdapat metode kualitatif dengan teknik wawan-cara, observasi, dokumenasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menemukan bahwa eksistensi kaum buruh pelabuhan di Ambon berada pada situasi yang tidak adil dan sejahtera. Dalam menyikapi persoalan tersebut, Gereja Protestan Maluku terpanggil untuk melakukan tindakan advokasi dengan mengacu pada landasan-landasan teologis terkait keadilan Allah. Tindakan advokasi yang dilakukan dalam konteks bergereja dapat didasarkan pada nilai-nilai keagamaan yang berdimensi sosial seperti kebenaran, kesejahteraan, keadilan dan transparasi terhadap segala sesuatu yang dilakukan. Selain itu, Gereja Protestan Maluku dapat membangun kerja sama dengan pemerintah dan pemeluk agama lain untuk mengupayakan kesejahteraan, menegakkan keadilan dan kebenaran bagi seluruh anggota kaum buruh.
Gereja Profetik Menurut Paulo Freire Merensiana Hale; Franklin Ton
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i1.234

Abstract

This paper aims to elaborate Paulo Freire's thoughts on the prophetic church and its relevance for the church today. The method used to achieve the goal is library research. In particular, it is focused on the thoughts of one educational figure, Paulo Freire, who contributed to his thoughts on liberation education by the church in the prophetic church concept. The conclusion of this paper is that education in the church is an important means of bringing about change in society. Consientization by the church is carried out in the spirit of raising the critical awareness of the congregation.    Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk mengelaborasi pemikiran Paulo Freire tentang gereja yang profetik dan relevansinya bagi gereja masa kini. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan adalah penelitian kepustakaan (library research). Secara khusus difokuskan pada pemikiran salah satu tokoh pendidikan, Paulo Freire, yang memberi sumbangan pemikiran mengenai pendidikan pembebasan oleh gereja dalam konsep gereja yang profetik. Kesimpulan tulisan ini adalah pendidikan dalam gereja merupakan sarana penting dalam mewujudkan perubahan dalam masyarakat. Konsientisasi oleh gereja dilakukan dengan semangat menumbuhkan kesadaran kritis jemaat.
Refleksi Konsep Proto Logos Lukas dalam Membangun dan Meningkatkan Kegiatan Publikasi Ilmiah di Lingkungan Sekolah Tinggi Teologi Harls Evan R. Siahaan
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i2.61

Abstract

The activity of scientific publication is an academic reflection in the field of higher education. This activity has been increasing significantly in the last two years, especially with the regulations of the ministry of research and higher education which regulated publishing research issues in the online journals. Theological College as a higher education under the Ministry of Religion is not immune to the effects of regulations concerning scientific journals. This article aimed to show a biblical reflection on building and improving scientific publications. By using a descriptive analysis method on the text of Luke 1:1-4, the conclusion obtained is that the writing process of the Gospel of Luke reflected the phases of scientific publication, so that it could become a theological reflection for theological colleges to carry out academic activities in building and improving publication activities through online journals.Abstrak: Kegiatan publikasi ilmiah merupakan sebuah refleksi aktivitas akademis di lingkungan sekolah-sekolah pendidikan tinggi. Kegiatan ini telah mengalami eskalasi yang siginifikan dalam dua tahun belakangan, terlebih lagi dengan munculnya peraturan kementrian riset dan pendidikan tinggi yang mengatur publikasi penelitian dalam bentuk jurnal online. Sekolah Tinggi Teologi sebagai pendidikan tinggi yang berada di bawah Kementrian Agama tidak luput dari imbas peraturan yang menyangkut jurnal ilmiah. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan sebuah refleksi biblikal untuk membangun serta meningkatkan publikasi ilmiah. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif pada teks Lukas 1:1-4, maka diperoleh kesimpulan bahwa proses penulisan Injil Lukas merefleksikan fase-fase publikasi ilmiah, sehingga hal ini menjadi sebuah refleksi teologis bagi Sekolah-sekolah Teologi untuk melakukan kegiatan akademis membangun dan meningkatkan kegiatan publikasi ilmiah melalui jurnal online.
Pentingnya Komunikasi dalam Penafsiran Alkitab Lyly Grace Mantiri
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i1.75

Abstract

This article will discuss a theological correlation between communication and biblical interpretation. After having established that coherence, it will show that the Reader-Response Criticism, one of the most attractive approach in Biblical interpretation among the postmodern scholars, is not only irrational but also dangerous to some degree even inapplicable and without spiritual value. Abstrak: Artikel ini membahas hubungan teologis antara komunikasi dan penafsiran Alkitab. Setelah menemukan hubungan antara kedua hal tesebut, artikel ini akan menelaah secara khusus mengenai Kritik Respons-pembaca, salah satu pendekatan paling menarik dalam penafsiran Alkitab di antara para sarjana postmodern, Artikel ini akan memperlihatkan bahwa metode ini tidak hanya irasional tetapi juga berbahaya sampai taraf tertentu, bahkan tidak dapat diterap-kan dan tanpa nilai spiritual.
Kepercayaan Kepada Debata Tiga Batu Tungku Sebagai Pola Kepercayaan Untuk Lebih Memahami Ajaran Allah Tritunggal Yang Kontekstual Di Mamasa Abialtar Abialtar
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i1.185

Abstract

The author understands that the Debata Tiga Batu Tungku belief system in the To Salu tribe in Mamasa can be an interesting instrument (which the authors call "bridges") for understanding the system of teaching or doctrine of the Triune God in Christianity. The author is very sure that Debata Tiga Batu Tungku is a symbol of the presence of the same God in Christianity for the Mamasa context. First, the author examines the Debata Tiga Batu Tungku belief system and its meaning for the life of the To Salu tribe in Mamasa. Second, the writer traces the responses of the evangelists who were present and brought the teachings of the Triune God in that context. Third, analyze the Debata Tiga Furnace teaching system with the perspective of relevant theologians. The research method in this paper is qualitative. The author collects the data needed through the study of literature relating to the doctrine of the Triune God, contextual theology and so forth. Hold in-depth observations accompanied by interviews with native people. The author finds an understanding of the contextual, natural God from the perspective of the Debata Tiga Batu Tungku doctrine system. God's attributes in the Bible are clearly illustrated through the analysis of the intended doctrine system. AbstrakPenulis memahami bahwa sistem kepercayaan Debata Tiga Batu Tungku pada suku To Salu di Mamasa dapat menjadi instrumen yang menarik (yang penulis sebut "jembatan") untuk memahami sistem pengajaran atau doktrin Dewa Tritunggal dalam agama Kristen. Penulis sangat yakin bahwa Debata Tiga Batu Tungku adalah simbol kehadiran Tuhan yang sama dalam agama Kristen untuk konteks Mamasa. Pertama, penulis meneliti sistem kepercayaan Debata Tiga Batu Tungku dan artinya bagi kehidupan suku To Salu di Mamasa. Kedua, penulis menelusuri tanggapan para penginjil yang hadir dan membawa ajaran-ajaran Allah Tritunggal dalam konteks itu. Ketiga, menganalisis sistem pengajaran Debata Tiga Tungku dengan perspektif para teolog yang relevan. Metode penelitian dalam tulisan ini adalah kualitatif. Penulis mengumpulkan data yang dibutuhkan melalui kajian literatur yang berkaitan dengan doktrin Allah Tritunggal, teologi kontekstual dan lain sebagainya.  Mengadakan observasi mendalam disertai wawancara dengan pihak pribumi. Penulis menemukan pemahaman tentang Allah Tritunggal yang kontekstual dan alami dari sudut pandang sistem doktrin Debata Tiga Batu Tungku. Atribut Allah dalam Alkitab dengan jelas diilustrasikan melalui analisis sistem doktrin yang dimaksud. 
Continuing the Paul Mission for the Gentiles in the New Era Naomi Sampe; Perdi Masuang; Gantina Banne Lembang; Rinus Menok Sara; Karel Sanda Toding
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.319

Abstract

The research in this paper seeks to find some thought as a product of research that examines the important role of Paul's mission in the early church planting. In addition, this article will examine the pattern of Paul's mission so that church growth is very sporadic. The purpose of this research is to show that Paul's success strategy in mission is very worthy and interesting to be researched and studied, so that it becomes a cornerstone for the church today to continue Paul's mission pattern. Methodology in this research is going to use the theory of Francis Watson which based on the freedom of Paul mission, and also it want to take advantage based on the theory of Terence L. Donaldson that stated the universalism of Paul mission. This research shows that through God's help, Paul succeeded in establishing Gentiles churches. The churches today may learn that the preaching of the Gospel to the new generation today has its own challenges, because the different context. Another thing that today's church needs to learn is that Paul's passion and strategy in his mission has enabled him to build churches for other nations in various places for the glory of Christ.Penelitian dalam tulisan ini hendak berupaya menemukan beberapa refleksi sebagai hasil riset yang meneliti tentang peran penting misi Paulus terhadap perintisan gereja perdana. Selain itu, risalah ini hendak meneliti bagaimana pola misi Paulus sehingga pertumbuhan gereja sangat sporadis. Tujuan penelitian ini adalah hendak menunjukkan bahwa strategi keberhasilan Paulus dalam misi sangat layak dan menarik untuk diteliti dan dipelajari, agar menjadi batu penjuru bagi gereja masa kini untuk melanjutkan pola misi Paulus. Teologi misi Paulus yang berkaitan dengan pekerjaan misionaris yang dia layani saat itu. Tulisan ini mencoba menggunakan perspektif Francis Watson tentang kebebasan misi rasul Paulus. Selain itu juga didasarkan pada teori Terence L. Donaldson yang menyatakan tentang universalisme dari misi Paulus. Metodologi dalam penelitian ini akan menggunakan teori Francis Watson yang didasarkan pada kebebasan misi Paulus, serta ingin memanfaatkan teori Terence L. Donaldson yang menyatakan universalisme misi Paulus. Penelitian ini memperlihatkan bahwa melalui pertolongan Tuhan, Paulus berhasil mendirikan gereja-gereja non-Yahudi. Manfaat bagi gereja masa kini adalah bahwa Pemberitaan Injil bagi generasi era baru saat ini memiliki tantangan tersendiri karena konteksnya tidak sama lagi dengan era Paulus. Hal lain yang perlu dikaji oleh gereja era masa kini adalah semangat dan strategi Paulus dalam misinya, telah memampukannya membangun gereja-gereja bagi bangsa-bangsa lain untuk kemuliaan Kristus.
Memahami Peran Psikologi Pendidikan Bagi Pembelajaran Junier Sakerebau
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i1.22

Abstract

Educational psychology as a science that examines the problems of the soul and psychological activity of a person in relation to education as an interaction is a discipline that is quite important in examining the problems that interfere with or support the psyche of students in the learning process, so that through understanding the mental state of students then the teacher can set and try to find a solution to the problem, so for this matter, it is fitting for a teacher to need to have comprehensive knowledge about the psychology of education so that learning can take place effectively and directed. AbstrakPsikologi pendidikan sebagai ilmu yang meneliti masalah jiwa dan aktivitas psikologis seseorang dalam kaitannya dengan pendidikan sebagai interaksi adalah disiplin yang cukup penting dalam memeriksa masalah yang mengganggu atau mendukung jiwa siswa dalam proses pembelajaran, Sehingga dengan memahami keadaan mental siswa maka guru dapat mengatur dan berusaha mencari solusi atas masalah tersebut, sehingga untuk hal ini, sepatutnya seorang guru perlu memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang psikologi pendidikan sehingga pembelajaran dapat berlangsung efektif dan terarah.

Page 8 of 17 | Total Record : 162