cover
Contact Name
Frans Paillin Rumbi
Contact Email
fransrumbi24@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.bia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
ISSN : 26554682     EISSN : 26554666     DOI : -
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual adalah Jurnal peer-review yang diterbitkan oleh STAKN Toraja, berfokus pada isu-isu terbaru dalam dunia Teologi secara khusus berkaitan dengan Kontekstualisasi Teologi di Indonesia dengan beberapa spesifikasi yakni: 1.Studi Biblika 2.Injil dan Kebudayaan 3.Gereja dan Masyarakat 4.Dinamika Pendidikan Kristen 5.Riset Teologi Praktika 6.Musik Kontekstual
Arjuna Subject : -
Articles 167 Documents
Khotbah yang Berwawasan Misiologis Johana Ruadjanna Tangirerung
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.259

Abstract

A church is then called a church if it carries out a mission. Preaching is part of the mission of the church. Preaching in the context of Christianity is a form of verbal preaching of the gospel. The Protestant Church places preaching at the center of worship. The strategic position of this sermon can be the starting point for a missiological sermon. Even though the sermon is the center of worship and one of the models of preaching the gospel, but whether these sermons have a missiological perspective. The purpose of this study is to describe the basis of the sermon which is called missiological insight. Another goal is that through this descriptive description, the church understands further the mission of the church in preaching the gospel and then becomes an evaluative starting point for present-day church sermons towards missionary-minded sermons towards missionary congregations. This study uses a descriptive qualitative approach, which relies on efforts to describe and describe the phenomenon of contemporary sermons to be confronted with the reality of the sermons offered, namely sermons with a missiological perspective. This research shows that preaching the gospel through preaching is a means of preaching the gospel and it is part of the church's mission and churches need to develop missiological-minded preaching for church growth. A sermon with a missiological perspective is a sermon that can direct and move all elements of the congregation to be involved in carrying out God's mission as a result of these sermons in the context of church growth.Gereja barulah disebut gereja jika melakukan misi. Berkhotbah adalah bagian dari misi gereja. Khotbah dalam konteks kekristenan adalah salah satu bentuk pemberitaan Injil secara verbal. Gereja Protestan menempatkan khotbah sebagai pusat ibadah. Posisi strategis khotbah inilah yang dapat menjadi titik berangkat khotbah yang misiologis. Sekalipun khotbah adalah pusat ibadah dan salah satu model pemberitaan Injil, akan tetapi apakah khotbah-khotbah tersebut sudah berwawasan misiologis. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pendasaran khotbah yang disebut berwawasan misiologis. Tujuan lain adalah melalui uraian deskriptive ini gereja memahami lebih jauh misi gereja dalam pemberitaan Injil lalu menjadi titik berangkat evaluatif terhadap khotbah-khotbah gereja masa kini menuju khotbah yang berwawasan misiologis.Penelitian ini menggunakan metode pendekatan descriptive qualititavie, yang bertumpu pada upaya menguraikan dan mendeskripsikan fenomena khotbah-khotbah masa kini untuk diperhadapkan pada realitas khotbah yang ditawarkan yaitu khotbah yang berwawasan misiologis. Penelitian ini memperlihatkan bahwa pemberitaan Injil melalui khotbah adalah sarana pemberitaan Injil dan itu adalah bagian dari misi gereja dan gereja-gereja perlu untuk mengembangkan khotbah yang berwawasan misiologis untuk pertumbuhan gereja. Khotbah yang berwawasan misiologis adalah khotbah yang dapat mengarahkan dan menggerakkan seluruh elemen jemaat untuk terlibat dalam pelaksanaan misi Allah sebagai dampak dari khotbah-khotbah tersebut dalam rangka pertumbuhan gereja.
Teologi dan Etika Politik Dalam Gereja di Zaman Post-Modern Alter I Wowor
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i1.23

Abstract

Humans are essentially human politics (zoon politikon), so that all the dynamics of human life must always be related to politics, both as a political subject and as an object driven by politics itself. It can be clearly stated that the dynamics of human life in a country must be in circulation of the subject and object at once. Ideally, whether it is entrusted as a political leader or as a society controlled by politics itself, both are political subjects. That is, those who are entrusted with directing and regulating state politics are clearly a subject that always deals with politics in a concrete way, but the general public is also a subject, meaning that all aspects of life and community activities influence the political world both directly and indirectly, or with in other words it can be said that every activity of the community both in the world of education, religion, social, law, etc. is a political responsibility to organize, control, and direct all aspects of life for the common good, so that briefly it can be said that society is the determinant politics itself and as a function of political control, both directly and indirectly. AbstrakManusia pada hakikatnya adalah manusia politik (zoon politikon), sehingga seluruh dinamika kehidupan manusia pasti selalu berkenaan dengan politik, baik sebagai subjek yang berpolitik maupun sebagai objek yang digerakan oleh politik itu sendiri. Dengan jelas dapat dikatakan bahwa dinamika kehidupan manusia dalam suatu negara pasti berada dalam sirkulasi subjek dan objek sekaligus. Idealnya, baik yang dipercayakan sebagai pemimpin politik maupun sebagai masyarakat yang dikendalikan oleh politik itu sendiri, keduanya adalah subjek (pelaku) politik. Artinya, mereka yang dipercayakan mengarahkan dan mengatur politik negara jelas adalah subjek yang selalu bergelut dengan politik secara konkret , akan tetapi masyarakat umum juga adalah subjek, artinya segala aspek kehidupan dan aktivitas masyarakat membawa pengaruh bagi dunia politik baik  secara langsung maupun tidak langsung, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa setiap aktivitas masyarakat baik dalam dunia pendidikan, agama, sosial, hukum, dan lain sebagainya menjadi tanggung jawab politik untuk menata, mengendalikan, dan mengarahkan semua aspek kehidupan tersebut demi kebaikan bersama, sehingga dengan singkat dapat dikatakan bahwa masyarakat adalah penentu politik itu sendiri dan sebagai fungsi kontrol politik, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pendidikan Perdamaian Dengan 12 Nilai Dasar Perdamaian I Putu Ayub Darmawan
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i1.82

Abstract

Conflict is a problem that is being faced in Indonesia. A peaceful way is needed to bring peace to a multicultural nation. From the analysis of various biblical literature and texts there are several peace values, including education for peace must guide students to accept themselves, peace education provides guidance to avoid bad prejudice, needs to be built understanding and attitudes that respect ethnic diversity, religious differences, different types sex, social status such as poor wealth, and group differences, in an effort to build a path for peace, students need to understand diversity, understand conflict, build an attitude of resisting violence, willingness to start admitting mistakes, and willingness to forgive.Abstrak: Konflik merupakan masalah yang sedang dihadapi di Indonesia. Perlu dilakukan cara damai untuk menghadirkan perdamaian di bangsa yang multi-kultural.  Dari analisis berbagai literatur dan teks Alkitab ada beberapa nilai-nilai per-damaian, antara lain pendidikan untuk perdamaian harus membimbing murid menerima dirinya sendiri, pendidikan perdamaian memberikan bimbingan untuk mengindari prasangka buruk, perlu dibangun pengertian dan sikap yang meng-hargai keragaman etnis, perbedaan agama, perbedaan jenis kelamin, status sosial seperti kaya miskin, dan perbedaan kelompok, dalam upaya membangun jalan menunju perdamaian maka murid perlu memahami adanya keragaman, memahami konflik, membangun sikap menolak kekerasan, adanya kerelaan untuk memulai mengakui kesalahan, dan kerelaan untuk memberi maaf.
Agama Kristen dan Hoax: Peran Agama Kristen dalam Menekan Hoax Donny Paskah Martianus Siburian
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.257

Abstract

In the 4.0 era information has been transforming much faster and influencing daily interactions. Based on social recent phenomenon people were not given the interest to utilize these opportunities to look for the truth instead of prioritizing emotions, preferences to justify. This social atmosphere absolutely reduces the essential meaning of the ‘truth’ itself.  The 'truth' and 'untruth' can not be seen. The capability to analyze by the clear mind of intellect as one of the values of being a religious human has been paralyzed. The truth is claimed by like or dislike to something. How religion especially Christianity has its crucial functions as a social institution to reduce the hoax spreading behavior in its congregation will be provided in this paper. This study took palace in the HKBP Church in Bagansiapiapi, Rokan Hilir, Riau, Indonesia using the qualitative approach by taking the data from observation and interviews. The result shows found that religion by its dogma and religious leader comprehensively reduce the hoax spreading behavior in the congregation.Realitas Kemajuan Informasi 4.0 telah memengaruhi kehidupan. Berdasarkan fenomena terkini memperlihatkan bahwa orang-orang tidak lagi mau memberikan perhatian pada kebenaran yang hakiki dari sebuah informasi yang ia terima. Melainkan cenderung mengklaim kebenaran tersebut seturut dengan preferensi subjektif. Atmosfer kehidupan sosial seperti ini mereduksi perbedaan antara suka-tidak suka dan benar-salah menjadi demikian tipis. Alih-alih menjalani proses nalar yang panjang dan melelahkan, masyarakat cenderung tergesa-gesa mengklaim sesuatu yang disukainya sebagai kebenaran, sebaliknya tergesa-gesa menganggap salah atau sesat sesuatu yang dibenci/tidak disukai. Penelitian ini mencoba mengeksplorasi bagaimana agama sebagai pranata, khususnya agama Kristen memainkan peran yang krusial pada fenomena hoax. Penelitian ini dilaksanakan di Jemaat Gereja HKBP Bagansiapiapi ressort Bagansiapiapi, kabupaten Rokan Hilir, provinsi Riau-Indonesia menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan teknik wawancara dan observasi. Temuan memperlihatkan bahwa agama Kristen secara sistematis dan praksis menjalankan perannya sebagai pranata sosial melalui lembaga gereja. Peran tersebut berakar dari doktrin yang menekan prilaku penyebaran hoax. Penelitian juga memperlihatkan pemuka agama andil dalam menekan perilaku penyebar hoax bagi jemaat 
Iluminasi, Eksegesis, dan Doa Deky Hidnas Yan Nggadas
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i1.18

Abstract

This article is intended to discuss the doctrine of illumination in light of some current debates among scholars. In addition to the critical evaluation of the debate, I would like to contribute to this discussion by providing my own exegetical observation on various biblical texts. I will conclude this article with a brief review of the relationship between illumination and prayer. AbstrakArtikel ini dimaksudkan untuk membahas doktrin iluminasi terutama tentang beberapa perdebatan saat ini di antara para sarjana. Selain evaluasi kritis terhadap debat, saya ingin berkontribusi pada diskusi ini dengan memberikan pengamatan eksegetikal saya sendiri pada berbagai teks alkitabiah. Saya akan menyimpulkan artikel ini dengan tinjauan singkat tentang hubungan antara iluminasi dan doa
Menerapkan Prinsip Pelayanan Konseling Berdasarkan Injil Yohanes Selvianti Selvianti
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i2.48

Abstract

Counseling is a form of ministry that plays an important role in everyone's life, because everyone is always faced with various problems and in general people often have difficulty dealing with and resolving their problems. Therefore, a competent counselor is needed to provide careful consideration so that it can determine the right decision. The qualification of a counselor greatly influences effective counseling services. The example of a competent counselor can be learned from Jesus Christ because Jesus' loyalty as a counselor causes everyone to always seek and seek advice from Him. The principle of counseling services carried out by Jesus based on the Gospel of John uses very interesting counseling approaches according to the context of the counselee where every problem faced by the counselee can be resolved properly. The main thing that is always made by Jesus in counseling services is solving the problem of sin and sharpening the correct recognition of God because it is the foundation for the counselee in achieving life change. Life change is the main goal in every effective counseling service that is in accordance with Bible principles. Abstrak: Konseling merupakan bentuk pelayanan yang memegang peranan penting dalam kehidupan setiap orang, sebab setiap orang  selalu diperhadapkan dengan berbagai masalah dan pada umumnya orang sering mengalami kesulitan menghadapi dan menyelesaikan masalalnya. Oleh sebab itu, dibutuhkan seorang konselor yang kompeten untuk memberikan pertimbangan yang matang sehingga dapat menentukan keputusan yang benar. Kualifikasi seorang konselor sangat mempengaruhi pelayanan konseling yang efektif. Teladan seorang konselor yang kompeten dapat dipelajari dari diri Yesus Kristus sebab loyalitas Yesus sebagai konselor menyebabkan setiap orang selalu mencari dan meminta nasihat kepada-Nya. Prinsip pelayanan konseling yang dilakukan oleh Yesus berdasarkan Injil Yohanes menggunakan pendekatan-pendekatan konseling yang sangat menarik sesuai konteks si konseli dimana setiap masalah yang dihadapi konseli pasti dapat diselesaikan-Nya dengan baik. Hal utama yang selalu dibuat Yesus dalam pelayanan konseling adalah penyelesaian masalah dosa dan mempertajam pengenalan yang benar kepada Allah karena hal tersebut merupakan fondasi bagi konseli dalam mencapai perubahan hidup.  Perubahan hidup adalah sasaran utama dalam setiap pelayanan konseling yang efektif yang sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab.
Perhadliran dalam Sakramen Perjamuan Kudus di Gereja Protestan Maluku Sharon Michelle O. Pattiasina
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i2.107

Abstract

The article aims to analyze the meaning of perhadliran in the Sacrament of Holy Communion in the Protestant Church of Maluku. This study using qualitative methods with the techniques used are interviews and literature studies. In the study, data was obtained that the Protestant Church of Maluku did not have a clear historical background regarding the use term of the perhadliran. However, perhadliran was carried out by the Protestant Church of Maluku with the aim of preparing themselves before the Holy Communion was held. The Protestant Church of Maluku interpreted the perhadliran as a process of self-prepation, but some interpreted it as a means of confession, it is required to answer the four questions of the perhadliran. Based on the research data above, it is found that the perhadliran has three meanings, namely the meaning of self-preparation, the meaning of recognition, and the meaning of the agreement.  Abstrak: Artikel ini bertujuan menganalisis makna perhadliran dalam sakra-men perjamuan kudus di Gereja Protestan Maluku (GPM). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik yang dipakai ialah wawancara dan studi kepustakaan. Dalam penelitian, diperoleh data bahwa GPM tidak me-miliki latar belakang historis yang jelas terkait penggunaan istilah perhadliran. Namun, perhadliran dilakukan GPM dengan tujuan untuk persiapan diri sebe-lum Perjamuan Kudus dilaksanakan. GPM memaknai perhadliran sebagai proses persiapan diri, namun sebagian memaknai se-bagai sarana pengakuan dosa, karena di dalam ibadah perhadliran anggota jemaat diharuskan menjawab empat pertanyaan perhadliran. Berdasarkan data-data peneli-tian di atas maka ditemukan bahwa perhadliran memiliki tiga makna yaitu makna per-siapan diri, makna pengakuan dan makna perjanjian.
Pemberdayaan Kaum Miskin Sebagai Panggilan Gereja terhadap Masalah Kemiskinan Sharon Michelle O. Pattiasina
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i1.238

Abstract

This article aims to analyze empowerment measures as a church calling on the poverty problems faced by the people.These problems cover various aspects of life, namely education, health, economy and infrastructure including transportation, housing and drinking water.This research uses qualitative methods with interview techniques, observation, documentation, and literature study.The results of the study found that the people of Siahari hamlet experienced poverty in absolute and relative terms.Therefore, in the task and calling of the church, GPM is called to empower people by referring to the theological foundation of Christian faith. In addition, the church can also build cooperation with the government so that empowerment actions can be carried out holistically and produce change for them. AbstrakArtikel ini bertujuan menganalisis tindakan pemberdayaan sebagai panggilan gereja terhadap masalah kemiskinan yang dihadapi oleh umat. Masalah tersebut mencakup berbagai aspek kehidupan, yakni pendidikan, kesehatan, ekonomi dan infrastruktur yang meliputi transportasi, perumahan, dan air minum. Penelitianini menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara, observasi, dokumenasi, dan studi pustaka.Hasil penelitian menemukan bahwa masyarakat dusun Siahari mengalami kemiskinan secara absolut dan relatif.Oleh sebab itu, dalam tugas dan panggilan gereja maka GPM terpanggil untuk memberddayakan umat dengan mengacu pada landasan teologis iman Kristen. Selain itu, gereja juga dapat membangun kerja sama dengan pemerintah agar tindakan pemberdayaan dapat dilakukan secara holistik dan menghasilkan perubahan bagi mereka. 
Membaca Teks dalam Pandangan Poskolonial: Catatan Kritis atas Bacaan Terhadap Teks Kitab Suci Ivan Sampe Buntu
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i2.46

Abstract

Superior and inferior are two confronted words which are in postcolonial to build an awareness of "oppression". Oppression is not only in physical form, but more concerning is oppression in the mind. Postcolonial is a way of thinking to build an awareness of oppression. It did not merely show the residues of the Colonial mind, but at the same time gave a new postcolonial interpretation and tried to form a postcolonial identity. Postcolonial will always come into contact with two things namely text and context. Text and context are two things which always dialogue by interpreters. Thus talking about postcolonial means being unable to escape from context, text, and interpreters. This paper will describe how the text deals with the context and how the interpreter treats the text. Interpreters may be wrong in treating the text (according to their interests), thus making others become subalterns. This means that the process of interpreting is also political action.Abstrak: Superior dan inferior adalah dua kata yang saling bertentangan yang ada dalam postkolonial untuk membangun kesadaran akan "penindasan". Penindasan tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi yang lebih memprihatinkan adalah penindasan terhadap pikiran. Postkolonial adalah cara berpikir untuk membangun kesadaran penindasan. Ini tidak hanya menunjukkan sisa-sisa pikiran kolonial, tetapi pada saat yang sama memberikan interpretasi postkolonial baru dan mencoba membentuk identitas postkolonial. Postkolonial akan selalu bersentuhan dengan dua hal yaitu teks dan konteks. Teks dan konteks adalah dua hal yang selalu di-dialog-kan oleh penerjemah. Jadi berbicara tentang postkolonial berarti tidak dapat melepaskan diri dari konteks, teks, dan penerjemah. Makalah ini akan menjelaskan bagaimana teks berhubungan dengan konteks dan bagaimana penerjemah memperlakukan teks. Penerjemah mungkin salah dalam memperlakukan teks (sesuai dengan minat mereka), sehingga membuat yang lain menjadi hamba. Ini berarti bahwa proses penafsiran juga merupakan tindakan politik.
Interpretasi Yosua 6:1-27 tentang Penumpasan Kota Yerikho terhadap Kekerasan Atas Nama Agama Paul Cakra
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i2.135

Abstract

The reality of violence is a reality in relationship that has never disappeared from human life, the triggers also vary, ranging from personal issues, politics, economic culture, even religion. Violence is an action that always results in a bad impact for those who are the object of violence, so that it is not expected to exist in human relations. Furthermore, it cannot be denied that religion is one of the causes of violence, this is caused by various factors, one of which is the problem is about interpretation of the biblical text’s, so that it is necessary to study or interpret the biblical text with the right approach. The description in this research will focus on Joshua 6:1-27 with a narrative criticism approach which is certainly supported by other approaches such as historical criticism and grammatical criticism. So that through this study it will lead to an understanding that the story of the destroyed carried out by Joshua and the nation of Israel is a legitimate act because they acted on God's command. So that Joshua's actions cannot be classified as acts of violence in the name of religion. Abstrak: Realitas kekerasan adalah realitas dalam hubungan yang tidak pernah lenyap dari kehidupan manusia, pemicunya pun beragam, mulai dari masalah pribadi, politik, budaya ekonomi, bahkan agama. Kekerasan adalah tindakan yang selalu menghasilkan dampak buruk bagi mereka yang menjadi objek kekerasan, sehingga tidak diharapkan ada dalam hubungan manusia. Lebih jauh, tidak dapat dipungkiri bahwa agama adalah salah satu penyebab kekerasan, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah masalah penafsiran teks Alkitab, sehing-ga perlu dipelajari atau ditafsirkan teks Alkitab dengan pendekatan yang tepat. Des-kripsi dalam penelitian ini akan berfokus pada Yosua 6:1-27 dengan pendekatan kritik naratif yang tentu saja didukung oleh pendekatan lain seperti kritik sejarah dan kritik gramatikal. Sehingga melalui penelitian ini akan mengarah pada pemaha-man bahwa kisah kehancuran yang dilakukan oleh Yosua dan bangsa Israel adalah tindakan yang sah karena mereka bertindak atas perintah Tuhan. Sehingga tinda-kan Yosua tidak bisa digolongkan sebagai tindakan kekerasan atas nama agama. 

Page 10 of 17 | Total Record : 167