cover
Contact Name
Frans Paillin Rumbi
Contact Email
fransrumbi24@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.bia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual
ISSN : 26554682     EISSN : 26554666     DOI : -
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual adalah Jurnal peer-review yang diterbitkan oleh STAKN Toraja, berfokus pada isu-isu terbaru dalam dunia Teologi secara khusus berkaitan dengan Kontekstualisasi Teologi di Indonesia dengan beberapa spesifikasi yakni: 1.Studi Biblika 2.Injil dan Kebudayaan 3.Gereja dan Masyarakat 4.Dinamika Pendidikan Kristen 5.Riset Teologi Praktika 6.Musik Kontekstual
Arjuna Subject : -
Articles 167 Documents
Problematika Teologis Hubungan Istilah Gereja dan Israel Yusuf L M
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i1.119

Abstract

The terms Church and Israel are two words which have always been the subject of much debate among Christian theologians. There are those who try to separate these terms by using the argument that the two terms do have very different essences and are contradictory or two terms that are discontinuity. On the other hand there are also those who try to unify the two words with the argument that the two words are inseparable because they have the same essence or continuity. However, based on an analysis of the two terms, the same essence is found between the Church in the New Testament and Israel in the Old Testament. These two terms cannot be separated and refer to the same meaning which is God's people AbstrakIstilah Gereja dan Israel merupakan dua kata yang selalu menjadi bahan perdebatan di kalangan teolog Kristen. Ada yang berusaha memisahkan istilah tersebut dengan menggunakan argumentasi bahwa kedua istilah itu memang memiliki esensi yang sangat berbeda dan patut dipertentangkan atau dua istilah yang bersifat diskontinuitas. Di pihak lain ada juga yang berusaha untuk menyatukan kedua kata itu dengan argumentasi bahwa kedua kata tersebut memang tidak dapat dipisahkan karena memiliki esensi yang sama atau bersifat kontinuitas. Namun berdasarkan analisis terhadap kedua istilah tersebut, maka ditemukan adanya esensi yang sama antara Gereja dalam Perjanjian Baru dengan Israel dalam Perjanjian Lama. Kedua istilah ini tidak dapat dipisahkan dan merujuk kepada makna yang sama yakni umat Allah.
Gereja dan Gerakan Anti Vaksin: Sebuah Kajian Netnografi Komunitas Keagamaan Virtual Bakhoh Jatmiko
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.293

Abstract

The development of technology has created a new space for social interaction mediated by the internet (computer-mediated communications). Space which built on an agreement and shared understanding among the members. The author conducted research on virtual religious group expressing an opposite opinion to the general belief of the church, namely rejects COVID-19 vaccines. This research aims to find the religious reasons behind their exception on the COVID-19 vaccine. The research method applied in this study is qualitative with the netnography research approach. This approach was conducted to study culture and online community (cyberspace) using social interaction mediated by computer/internet. After underwent sets of research procedures, the author found the religious argumentations used to reject the vaccine, namely: the cares of an adverse effect of the vaccine; hesitancy of vaccine test procedures; moral and ethical objection; an intact of faith expression; religious - apocalyptic mindset; and the belief of global elite conspiracy.Perkembangan teknologi telah menciptakan ruang interaksi sosial baru yang dimediasi oleh internet (computer mediated communications). Ruang ini dibangun atas kesepakatan maupun kesepahaman antar anggotanya. Penulis melakukan penelitian terhadap kelompok virtual keagamaan yang mengungkapkan pemikiran yang berlawanan dengan keyakinan gereja pada umumnya, yaitu menolak vaksin COVID-19. Riset ini bertujuan untuk menemukan alasan-alasan keagaaman dibalik penolakan mereka terhadap vaksin COVID-19. Metode Penelitian yang digunakan di dalam kajian ini adalah kualitatif dengan pendekatan netnografi. Pendekatan ini dilakukan untuk mempelajari budaya dan komunitas daring (cyberspace) yang memanfaatkan interaksi sosial yang termediasi oleh komputer/internet. Setelah melewati serangkaian prosedur penelitian, penulis menemukan argumentasi-argumentasi keagamaan yang digunakan untuk menolak vaksin, yaitu: kekhawatiran terhadap efek negatif vaksin, keraguan dalam prosedur uji vaksin, keberatan moral dan etis, ekspresi iman yang utuh, pola pikir religious - apokaliptik, dan keyakinan tentang konspirasi elit global.
Kualitas Pemimpin Sebagai Pendidik Dalam Menghadapi Konflik Maidiantius Tanyid
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i1.24

Abstract

The leader is the person whom is responsible to ensure all the task will be done. Therefore the leader needs to delegate those tasks for each person that was considered has some competences. A leaders as an educator must be able to carry out leadership base on the truth of God which always educate and motivate the team work. Being a leader who able to educate or as educator who can lead is two resposibilities those cannot be separated. Because the leader as an educator must be able to demonstrate their integrity based on truth. AbstrakPemimpin merupakan orang yang bertanggung jawab melakukan tugas, dan tugas itu dipercayakan kepada setiap bawahan yang dianggap dapat bertanggungjawab melakukannya sesuai dengan kompetensi.  Pemimpin sebagai pendidik adalah pemimpin yang mampu menjalankan kepemimpinan dengan berstandar kebenaran, mendidik dan memotivasi.  Menjadi pemimpin yang mampu mendidik dan pendidik yang dapat memimpin, dan dua kata penting yaitu “pemimpin dan pendidik” tidak dapat dipisahkan dalam menjalankan tanggungjawab. Pemimpin yang mampu menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin sekaligus menjadi pendidik adalah pemimpin yang mampu menunjukkan integritasnya berdasarkan kebenaran.
Meretas Kecakapan Komunikasi Interpersonal Keluarga Kristen Memasuki Era 4.0 Naomi Sampe
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i1.84

Abstract

This article is a study to show that in these days, we all are living in the time that named industry revolution 4.0, which’s all communication tool are connected and communicate each other to make smart decisions without human role. As we see now that our world is borderless. The communication is rapidly informed, and we could feel, hear, see clearly that such as sophisticated so as every event in “the edge of this earth” could be known to us almost in the same time while it happened. The result of this research has found that this revolution has totally changed our interpersonal communication way. This study also suggests that in delivery of their mission, christian and the church leader ought to recreate and transform their duty to serve. The most basicly community of the churc is family, thats why this research is put a special notice to the interpersonal communication. This is the strategic point to form christian generation to have their own identity and assist them in faith grow as the child of God. AbstrakTulisan ini merupakan studi yang hendak menyajikan bahwa kita semua sudah berada dalam budaya kehidupan yang disebut Era 4.0, di mana semua alat komunikasi sudah terjaring satu sama lain dan ternyata telah sanggup mencipta sendiri keputusan cerdas dan seringkali tanpa peran atau bantuan manusia lagi. Sekarang yang disaksikan adalah dunia yang tanpa batas. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa era sekarang telah mengubah cara kita berkomunikasi secara interpersonal. Tulisan ini juga hendak menggagas bahwa dalam rangka melayankan misinya, kekristenan dan para pemimpin gereja seharusnya mencipta ulang dan atau mentransformasi tugas pelayanan mereka. Dalam hal ini, komunitas basis dari gereja adalah keluarga, itu sebabnya penelitian ini memberi tekanan khusus pada komunikasi interpersonal; karena ini adalah pintu masuk yang strategis untuk membentuk generasi kristen agara mereka memliki identitas diri dan mendampingi mereka dalam bertumbuh secara iman sebagai anak Tuhan. Pada masa kini, kita semua sudah berada dalam budaya kehidupan yang disebut Era 4.0, yang mana komputer yang sudah terjaring satu sama lain ternyata telah sanggup mencipta sendiri keputusan cerdas dan seringkali tanpa peran atau bantuan manusia lagi. Perkembangan dalam abad ketiga sekarang ini telah diwarnai dengan digitalisasi segala sektor dan dicirikan dengan ketidakpastian. Sekarang yang disaksikan adalah dunia yang tanpa batas. Komunikasi tercipta makin cepat, dan setiap orang dapat merasa, mendengar dan melihat dengan jelas bahwa segala bentuk temuan teknologi yang canggih di setiap ujung dunia manapun, kini dapat kita ketahui langsung dan bersamaan ketika peristiwa itu terjadi. Secara menyeluruh, era ini telah mengubah cara kita berkomunikasi secara interpersonal. Dalam rangka melayankan misinya, maka kekristenan dan para pemimpin gereja seharusnya mencipta ulang dan atau mentransformasi tugas pelayanan mereka. Dalam hal ini, komunitas basis dari gereja adalah keluarga, itu sebabnya penelitian ini memberi tekanan khusus pada komunikasi interpersonal; karena ini adalah pintu masuk yang strategis untuk membentuk generasi kristen agara mereka memliki identitas diri dan mendampingi mereka dalam bertumbuh secara iman sebagai anak Tuhan.
Interseksionalitas Pengalaman Perempuan Toraja: Sebuah Konstruksi Teologi Feminis Melalui Ritus Ma’ Bua’ Kasalle Vani Mega Rianna Mantong Tendenan
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i2.287

Abstract

This paper discusses the Toraja ritual, namely ma' bua' kasalle as a life thanksgiving ceremony which then becomes the basis for offering a feminist theological perspective, regarding the intersectionality of women's experiences in ritual. The method used in this article is a qualitative method with an analytical description approach that brings together Ronald L. Grimes' thoughts on ritual as a bodily experience with Denise L. Carmody's thoughts on women's experiences rooted in the experience of the Christian faith. The aim is to provide a feminist theological perspective that the intersectionality in the experience of Toraja women results in an attempt at equality in cultural rituals such as ma' bua' kasalle. The results show that the intersectionality of the experiences of Toraja women occurs through the first pa'gellu' dance, the second group of nani and simbong songs and the third is the placement of the fallen women who are in the tower. The three representations have created a dynamic and inclusive space for action, language, and relations. The interaction between the experiences of Toraja women is a source of self-empowerment and community. The thesis statement of this paper is that the intersectionality of the Toraja women's experience means a social interaction that involves the role of women with all their existence including faith, perspective, and presence as an effort to equal women in culture.Tulisan ini membahas tentang ritual Toraja yaitu ma' bua' kasalle sebagai upacara syukuran kehidupan yang kemudian menjadi dasar untuk menawarkan perspektif teologi feminis, tentang interseksionalitas pengalaman perempuan dalam ritual. Metode yang digunakan dalam artikel ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan deskripsi analitis yang mempertemukan pemikiran Ronald L. Grimes tentang ritual sebagai pengalaman tubuh dengan pemikiran Denise L. Carmody tentang pengalaman perempuan yang berakar pada pengalaman iman Kristen. Tujuannya adalah untuk memberikan perspektif teologis feminis bahwa interseksionalitas dalam pengalaman perempuan Toraja menghasilkan upaya kesetaraan dalam ritual budaya seperti ma' bua' kasalle. Hasil penelitian menunjukkan interseksionalitas pengalaman perempuan Toraja terjadi melalui pertama tari pa'gellu', kedua kelompok nyanyian nani dan simbong dan ketiga adalah penempatan tumbang perempuan yang berada di menara. Ketiga representasi tersebut telah menciptakan ruang aksi, bahasa dan relasi yang dinamis dan inklusif. Interaksi antar pengalaman perempuan Toraja menjadi sumber pemberdayaan diri dan komunitas. Pernyataan tesis makalah ini ialah interseksionalitas pengalaman perempuan Toraja berarti suatu interaksi sosial yang melibatkan peran perempuan dengan segala keberadaan dirinya termasuk iman, perspektif dan kehadirannya sebagai upaya kesetaraan perempuan dalam budaya.
Beritakan Injil Kepada Segala Makhluk Ibelala Gea
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i1.19

Abstract

This article aims to describe the results of research on how to preach the gospel to all beings, based on Mark 16:15-16. Preaching the gospel is a great commission from the Lord Jesus to His followers after His resurrection from the dead. The world is the address of the gospel preaching, not only to man but to all beings.The Gospel writer of  Mark wants to explain that the world is synonymous with evil, therefore the gospel serves to salt the evil world, so when Iniil is preached to the wicked, it is expected to change the mindset and human behavior.Greedy and greedy human behavior that only views nature as a commodity. Human evil is seen when only the task of exploiting natural resources and forget the responsibility of caring for, nurturing nature and the environment. Gospel preaching aims to awaken peoples not only to view nature as power (dominio) but as a fellow of creatures, and friends (communio). Preach the gospel to all beings and receiving each other with referring to reduce, reuse, recycle and replace as a responsibility to God who has given the mandate for us. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil penelitian tentang bagaimana memberitakan Injil kepada  seluruh makhluk, bertolak dari Markus 16:15-16. Memberitakan Injil adalah amanat agung dari Tuhan Yesus kepada para pengikut-Nya setelah kebangkitan-Nya dari antara orang mati.Dunia adalah sebagai alamat pemberitaan Injil, bukan hanya kepada manusia melainkan kepada segala makhluk. Penulis Injil Markus hendak menjelaskan bahwa dunia identik dengan kejahatan, sebab itu Injil berfungsi menggarami dunia yang penuh kejahatan itu, karena itu ketika Iniil diberitakan kepada orang-orang jahat, diharapkan akan mengubah mindset dan perilaku manusia. Perilaku manusia yang serakah dan tamak yang hanya memandang alam sebagai komoditi. Kejahatan manusia terlihat ketika hanya bertugas mengeksploitasi sumber-sumber daya alam dan lupa pada tanggung jawab merawat, memelihara alam dan lingkungan hidupnya.  Pemberitaan Injil menyadarkan manusia agar tidak hanya memandang alam sebagai kekuasaan (dominio) tetapi sebagai sesama ciptaan, sahabat yang bersifat communio. Memberitakan Injil kepada seluruh makhluk dan menghargai segala makhluk dengan saling memberi dan menerima dengan mengacu pada pola-pola reduce, reuse, recycle dan replace sebagai tanggung jawab kepada Tuhan yang telah memberi amanat.
Refleksi Teologis Kitab Yeremia tentang Pesan Sang Nabi Bagi Orang-orang Buangan Herowati Sitorus
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i2.58

Abstract

The Book of Jeremiah is very difficult to understand because the events are not in chronological order. Jeremiah understanding by critical studies provides a more complete understanding even though it was written not in chronological order. This study is built on the understanding of the supervisor writing the book that would expose us, the author of the book, the time and place of writing, the outline of the contents of the book. Historical background, social and political book is also very necessary to study to provide a broader picture of the book of Jeremiah. Jeremiah did his job during the reforms of Josiah in 621 BC, (2) reign of Jehoiakim king in 609 BC, (3) the reign of King Jehoiachin in December 598 to March 597 BC, and (4) of Zedekiah in 597-587 BC.Abstrak: Kitab Yeremia merupakan kitab yang sangat sulit dipahami karena peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya tidak berlangsung secara teratur. Memahami Yeremia dengan kajian-kajian yang kritis memberikan sebuah pemahaman yang lebih lengkap sekalipun tidak ditulis secara urut. Kajian ini dibangun atas pemahaman tentang penulisan kitab yang akan menyingkapkan tentang penulis kitab, waktu dan tempat penulisan, garis besar kitab. Latar belakang sejarah, baik secara politik dan ekonomi juga sangat penting untuk dikaji untuk memberikan gambaran yang lebih luas tentang kitab Yeremia. Yeremia melakukan pekerjaannya selama reformasi Yosia pada tahun 621 SM; pemerintahan raja Yoyakhim pada tahun 609; pemerintahan raja Yehoakim pada Desember 598 hingga Maret 597 SM, serta pada masa raja Zedekia tahun 597-587 SM.
Model Ibadah Sekolah Minggu Kreatif-Interaktif bagi Generasi Alfa di Gereja Toraja Daniel Fajar Panuntun; Rinaldus Tanduklangi; Merry Adeng; Christian Eleyazar Randalele
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 2, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v2i2.113

Abstract

: Industrial revolution 4.0 is bringing great impact into the global world, including children from the alpha generation. The alpha generation have a typical characteristic that need to gain a concern in terms of spiritual needs. Sunday schol expecially Toraja’s Church need to do an inovation to fulfill the spiritual need of The alpha generation. This study use Research and Development (RnD) method. The research produce a product which is a book with the tittle Sekolah Minggu Kreatif-Inovatif.The book is produced by a kualitatif approach with interactive analysis. The development of the product is done by critism of participant  about the product. The result is a Sekolah Minggu Kreatif-Inovatif book For the alfa generation of Toraja’s Church with the collaborative and confrontative principle.Abstrak: Revolusi Industri 4.0 menghasilkan pengaruh besar bagi dunia global, salah satunya pada anak-anak generasi alfa.Anak-anak generasi alfa memiliki ciri khas yang perlu untuk mendapatkan perhatian dalam hal kebutuhan rohaninya. Sekolah Minggu terkhusus di Gereja Toraja perlu untuk melakukan inovasi untuk menjawab kebutuhan rohani anak-anak generasi alfa. Kajian  ini menggunakan jenis penelitian dan pengembangan (RnD). Penelitian menghasilkan produk buku Sekolah Minggu Kreatif-Inovatif yang dihasilkan melalui pendekatan kualitatif dengan anali-sis interaktif. Pengembangan produk dilakukan dengan kristisi partisipan mengenai hasil produk yang dihasilkan.Hasil Akhir adalah buku Sekolah Minggu Kreatif-Inovatif bagi Generasi Alfa Gereja Toraja berdasarkan prinsip kolaboratif dan konfrontatif.
Optimis, Pesimis, atau Realistis: Kajian Terhadap Perspektif Qoheleth Mengenai Kehidupan Phillips Steven; David Alinurdin
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i1.230

Abstract

The book of Ecclesiastes shows Qoheleth’s viewpoints that seem contradictory. On the one hand, Qoheleth looks like a pessimistic nihilist about life under the sun, which is judged in vain because everything leads to death. However, on the other hand, Qoheleth also looks optimistic with his advice to enjoy pleasure through eating, drinking, and joyful living. Therefore, it is not surprising that Qoheleth was once considered a neurotic who doubted himself. However, recent studies show that Qoheleth deliberately uses contradictions as complex irony to invite readers to look at the realities of life and reflect on that life is meaningful because of its purpose, significance, and coherence. By referring to the view that Qoheleth is teaching the meaning of life, this paper aims to show Qoheleth’s perspective on life that is not pessimistic or optimistic but realistic. By using the method of in-textuality, inner-textuality, and inter-textuality analysis, it is concluded that Qoheleth views that although death is inevitable, it should not be treated with pessimism but by fearing God, carrying out His commands, and enjoying His blessings like Adam. and Eve in the garden of Eden, because God will bring every human act to the final judgment and there is life after death.AbstrakKitab Pengkhotbah memperlihatkan cara pandang Qoheleth yang tampak kontradiktif. Di satu sisi Qoheleth terlihat seperti seorang nihilis yang pesimistis terhadap kehidupan di bawah matahari, yang dinilainya sia-sia karena semua berujung pada kematian. Namun di sisi lain, Qoheleth juga terlihat optimis dengan nasihatnya untuk menikmati kesenangan melalui makan, minum dan bersukaria. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika Qoheleth pernah dianggap seorang neurotik yang meragukan dirinya sendiri. Namun demikian, studi terkini menunjukkan bahwa Qoheleth sengaja menggunakan kontradiksi sebagai ironi kompleks untuk mengajak pembacanya melihat realitas kehidupan dan merenungkan bahwa hidup itu bermakna karena ada tujuan, signifikansi dan koherensinya. Dengan mengacu kepada pandangan bahwa Qoheleth sedang mengajarkan makna kehidupan maka tulisan ini bertujuan untuk memperlihatkan perspektif Qoheleth mengenai kehidupan yang bukan pesimis atau optimis, melainkan realistis. Dengan menggunakan metode analisis in-textuality, inner-textuality dan inter-textuality dihasilkan kesimpulan bahwa Qoheleth memandang meskipun kematian tidak terhindarkan, tidak semestinya disikapi dengan pesimistis melainkan dengan takut akan Tuhan, melakukan perintah-perintah-Nya, dan menikmati berkat-Nya seperti Adam dan Hawa di taman Eden, karena Allah akan membawa setiap perbuatan manusia ke pengadilan akhir dan ada kehidupan sesudah kematian
Teologi Tentang Berpacaran Menurut Amsal 30:18-19 Eliyansen Saragih
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v1i2.40

Abstract

Dating is an irresistible phenomenon in today's youth life. Actually, dating is a way that brings youth in two directions, towards a good or bad life. Therefore all parties in the community must be wise to anticipate. Proverbs 30: 18-19 can be a theological basis for the phenomenon of dating. Interestingly, numerical poetry in this text can give direction about relationships between young men and women. In this text, we can see that poems direct all audiences through observing the movements of objects in nature, can observe the essence of the formation of relations between men and women. Practically, this text can be applied to equip young people in anticipating the phenomenon of dating. Every young couple who is committed to dating must be equipped with this theological basis, so that their lives can be constantly built physically, mentally and spiritually. To apply the text of the Proverbs 30: 18-19 is an attempt to answer it.Abstrak: Bepacaran adalah fenomena yang tak tertahankan dalam kehidupan remaja saat ini. Berpacaran adalah cara yang membawa kehidupan remaja ke dua arah, menuju kehidupan yang baik atau buruk. Semua pihak dalam masyarakat harus bijak mengantisipasinya. Amsal 30:18-19 dapat menjadi dasar teologis untuk fenomena berpacaran. Menariknya, sejumlah puisi dalam teks ini memberikan arahan tentang hubungan antara pria dan wanita. Dalam teks ini dapat dilihat bahwa penyair mengarahkan pembaca dengan mengamati pergerakan benda-benda di alam yang dapat menjadi dasar dari pembentukan hubungan antara pria dan wanita. Secara praktis, teks ini dapat diterapkan untuk memperlengkapi kaum muda dalam mengantisipasi fenomena berpacaran. Setiap pasangan remaja yang berkomitmen untuk berpacaran harus dilengkapi dengan dasar teologis ini, sehingga kehidupan mereka dapat terus dibangun secara fisik, mental dan spiritual. Menerapkan teks Amsal 30:18-19 merupakan upaya untuk menjawabnya. 

Page 11 of 17 | Total Record : 167