cover
Contact Name
Jurnal Arsitektur Zonasi
Contact Email
jurnal_zonasi@upi.edu
Phone
-
Journal Mail Official
yudi.permana@upi.edu
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ZONASI
ISSN : 26211610     EISSN : 26209934     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Journal of Architectural ZONASI is an online open access journal. It features articles on a wide range of issues in architecture, including architectural history and theory, dwelling culture, building technology and material science, architectural design, interior design, landscape architecture, heritage and conservation, and urbanism. Published three annually, in February, June, and October, the journal welcomes contributions from all over the world
Arjuna Subject : -
Articles 213 Documents
FUNGSI, BENTUK, DAN MAKNA ATAP IMAH PANGGUNG SUNDA (Studi Perbandingan Atap Rumah di Kasepuhan Ciptagelar, Naga, dan Pulo) Nuryanto, Nuryanto
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 1 (2021): Vol. 4 Ni. 1 (2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Februari 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i1.27718

Abstract

Suhunan atau atap pada rumah memiliki posisi yang sangat vital bagi penghuni yang tinggal didalamnya. Atap rumah adalah sebuah keniscayaan, tidak terkecuali pada imah panggung masyarakat Sunda. Kondisi selama ini, masyarakat Sunda lebih memahami atap dari sisi fungsinya sebagai penutup dan pelindung rumah serta penghuni dari berbagai gangguan. Sedangkan dari sisi bentuk dan makna masih banyak yang tidak mengetahuinya. Mereka lebih mengenal atap pelana, perisai, dan dak beton dibandingkan jolopong, sontog, jangga wirangga, sulah nyanda, julang ngapak, tagog anjing, capit gunting/hurang, parahu kumureb, buka palayu, buka pongpok, dan badak heuay. Padahal hal ini sangat penting agar tidak kehilangan jati diri dan lepas dari lokalitas. Kondisi inilah yang melatarbelakangi dilakukannya kajian fungsi, bentuk, dan makna atap pada imah panggung Sunda berdasarkan perbandingan tiga kampung. Kajian ini bertujuan untuk menelusuri dan mengungkap makna (filosofi) dibalik bentuk dan fungsi atap pada imah panggung masyarakat Sunda. Lokasi kajian terdiri dari tiga kampung, yaitu: Kasepuhan Ciptagelar, Naga, dan Pulo. Metode yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif dengan studi kasus dan pendekatan tipomorfologi. Atap rumah pada kelima kampung tersebut dibandingkan untuk melihat persamaan dan perbedaannya, terutama pada bentuk dan makna. Kajian ini menghasilkan empat rumusan penting, yaitu: (1) Atap rumah lebih ditekankan pada fungsi melindungi dibandingkan fungsi estetika; (2) Bentuk dan nama atap banyak diilhami dari perilaku manusia dan binatang; (3) Atap merupakan simbol kepala pada tubuh manusia sebagai representasi Buana Nyungcung atau Ambu Luhur; (4) Makna atap adalah “manusa ka Gustina”, artinya hubungan vertikal manusia kepada Tuhannya (dimensi vertikal), dan “manusa ka sasamana”, artinya hubungan antara manusia dengan makhluk lainnya (dimensi horisontal). Kedua dimensi ini bersumber dari sistem religi masyarakatnya, baik yang memegang ajaran Sunda Wiwitan maupun yang sudah memeluk Islam.   Kata Kunci: Fungsi; Bentuk, Makna, Atap, Imah Panggung  
PERUBAHAN FUNGSI RUANG-DALAM TERHADAP POLA RUANG PADA BANGUNAN UTAMA BALAI KOTA CIREBON SIHOMBING, REZA PHALEVI
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 2 (2021): Vol. 4 No. 2(2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i2.31472

Abstract

Balai Kota Cirebon merupakan bangunan pusat pemerintahan daerah tingkat II atau kota madya yang memiliki tugas pokok sebagai sarana penyelenggaraan pemerintah, pelaksanaan pembangunan dan pelayanan, atau pembinaan kepada masyarakat Kota Cirebon. Dengan pentingnya fungsi dari bangunan ini, maka dibutuhkan kesesuaian fungsi ruang-dalam dengan aktivitas yang dilakukan dalam bangunan ini. Kajian bangunan utama Balai Kota ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami bagaimana pola ruang yang diterapkan terhadap perubahan fungsi ruang-dalam yang dilakukan pada bangunan utama Balai Kota Cirebon. Bentuk pola ruang dipengaruhi kedekatan secara fungsi dan alur aktivitas. Sedangkan perubahan fungsi-ruang dalam dipengaruhi perubahan kegiatan dan aktivitas yang dilakukan. Tahap analisis dilakukan menggunakan metode kualitatif, dengan cara melakukan observasi, mendeskripsikan dan menggambarkan fenomena yang ada, baik bersifat alamiah maupun rekayasa manusia, memperhatikan keterkaitan antar kegiatan, dan dilakukan melalui observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini dapat menunjukan kaitan antara pola ruang yang diterapkan dan perubahan fungsi ruang-dalam yang terjadi pada bangunan utama Balai Kota Cirebon.Kata Kunci: balai kota, ruang, fungsi, perubahan.
PROSES TUMBUH KEMBANG PERMUKIMAN PERDESAAN MUARA SUNGAI DI PESISIR BARAT ACEH DAN ADAPTASI BERKELANJUTANNYA Kasus: Gampong Geulanggang Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya Wulandari, Elysa Wulandari; Nasution, Burhan; Djamaludin, Masdar; Sabila, Farisa
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 3, No 3 (2020): Vol. 3 No. 3 (2020): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2020
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v3i3.27873

Abstract

Abstract: Related research on the growth and development process of rural settlement areas, with a case study in the Geulanggang Batee village area, which is located at the mouth of a river on the west coast of Aceh, is vulnerable to natural hazards. The development of the parts of the area is not the same which can be traced from the time of the Aceh kingdom to the 21st century. The aim of this research is to find out the causes of differences in the development of the region and the patterns of sustainable adaptation in the community. This study is important to carry out to determine the potential sustainability of a rural settlement that is prone to disasters. Qualitative research approach interpretative phenomenology in case studies. Physical data is obtained from satellite imagery looking at the potential location and changes in land use in the area. Non-physical data is obtained by interviewing community leaders about the dynamics of changes that have occurred. The data is analyzed with a dynamic system, looking at the cause and effect of changes. The results of the research are related to two things: a) the part of the area whose development has retreated due to the threat of natural disasters, adapting patterns by moving away from disasters, so that settlements become empty, improving disaster-prone areas by engineering land techniques and modifying livelihoods to survive: b) parts of the area whose development is progressing as a new place for people to live from the coast, modernizing agriculture, seems to have implemented the smart village concept, has high accessibility to the main roads of the area. The conclusion of this research is that the development of a rural area can synergize with geographical conditions, respond to the demands of modern life by transforming knowledge values that are in line with local values. Keywords: Growth and Development, Sustainable Adaptation, Rural Settlements, River Estuaries, Aceh West Coast Abstrak: Penelitian terkait tentang proses tumbuh kembang kawasan permukiman perdesaan, dengan studi kasus pada kawasan gampong Geulanggang Batee, yang berlokasi di muara sungai pesisir Barat Aceh serta rentan terhadap bahaya alam. Perkembangan bagian kawasan permukiman tersebut tidak sama yang dapat ditelusuri sejak masa kerajaan Aceh hingga abad 21. Tujuan kajian untuk menjelaskan sebab perbedaan perkembangan kawasannya dan pola adaptasi berkelanjutan dalam masyarakatnya. Kajian ini penting dilakukan untuk mengetahui potensi keberlanjutan suatu permukiman perdesaan yang rentan bencana. Pendekatan penelitian secara kualitatif fenomenologi interpretative pada studi kasus. Data fisik di peroleh dari citra satelit melihat potensi lokasi dan perubahan penggunaan lahan kawasan. Data non fisik diperoleh dengan wawancara tokoh masyarakat tentang dinamika perubahan yang terjadi. Data di analisa dengan sistem dinamis, melihat sebab akibat perubahan. Hasil penelitian terkait dua hal: a) bagian kawasan yang mundur perkembangannya karena ancaman bencana alam, melakukan pola adaptasi dengan menjauh bencana, perbaikan kawasan rawan bencana dengan rekayasa teknik lahan dan modifikasi sumber kehidupan untuk dapat bertahan: b) bagian kawasan yang maju perkembangannya sebagai tempat bermukim baru masyarakat tersebut, melakukan modernisasi pertanian, tampak telah menerapkan konsep smart village, memiliki  aksesibilitas tinggi ke jalan utama kawasan.  Kesimpulan penelitian bahwa perkembangan suatu kawasan perdesaan dapat bersinergis dengan kondisi geografis, menjawab tuntutan kehidupan modern dengan mentransformasi nilai-nilai pengetahuan yang sejalan dengan nilai setempat. Kata Kunci: tumbuh Kembang, Adaptasi Berkelanjutan, Permukiman Perdesaan Muara Sungai, Pesisir Barat Aceh
Kajian Tata Letak Interior Kafe di Jalan Braga Sebelum dan Sesudah Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Sarihati, Titihan; Lazaref, Sescya Maulida
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 1 (2021): Vol. 4 Ni. 1 (2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Februari 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i1.27412

Abstract

Abstract: Since the enactment of the New Normal, many cafes have begun to be visited because human needs for social interaction bring them back to the public area, but they will look for a safe and comfortable environment. With so many activities taking place in the cafe, it is necessary to optimize the interior layout to meet service needs and comply with health protocols. The method used in this research is data collection method and writing method. The data collection method was carried out by direct observation and literature study. The writing method uses a comparative method that compares the presence of one or more variables in two or more different samples. The result of this research is a comparison of data regarding the interior layout of the cafe before and after the New Normal period. In general, the theme and space requirements are maintained, significant changes are seen in reducing the number of seating facilities, increasing the distance between visitors' tables, and checking the cleanliness of the cafe. These changes support the comfort of visitors while in the cafe because they have a sense of security by implementing proper health protocols. The interior layout must adapt to create a balance in the service process.Keywords: Cafe; health protocols; interior; layout Abstrak: Sejak masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) diberlakukan, banyak kafe yang mulai ramai dikunjungi karena kebutuhan manusia pada interaksi sosial membawanya kembali ke area publik, tetapi mereka akan mencari lingkungan yang aman dan nyaman. Dengan banyaknya aktivitas yang berlangsung di dalam kafe, maka diperlukan pengoptimalisasian tata letak interior guna memenuhi kebutuhan pelayanan serta menaati protokol kesehatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengumpulan data dan metode penulisan. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung dan studi literatur. Metode penulisan menggunakan metode komparasi yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda. Hasil penelitian berupa komparasi data mengenai tata letak interior kafe sebelum dan sesudah masa AKB. Secara umum tema dan persyaratan ruang tetap dipertahankan, perubahan signifikan terlihat pada pengurangan jumlah fasilitas duduk, penambahan jarak antar meja pengunjung, serta pengecekan kebersihan kafe. Perubahan tersebut menunjang kenyamanan pengunjung saat berada di dalam kafe karena memiliki rasa aman dengan diterapkannya protokol kesehatan dengan baik. Tata letak interior harus beradaptasi untuk menciptakan keseimbangan dalam proses pelayanannyaKata Kunci: Kafe; protokol kesehatan; interior; tata letak 
KARAKTERISTIK TERMAL RUMAH BATU EKSPOS DI TROPIS PEGUNUNGAN (Studi Kasus di Desa Kwadungan, Wonosobo) hermawan, hermawan
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 2 (2021): Vol. 4 No. 2(2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i2.31786

Abstract

Pemborosan Energi menjadi isu yang menarik untuk dibahas. Salah satu pemborosan energi terjadi pada bangunan dalam mempertahankan kenyamanan termal penghuni. Pemborosan energi pada bangunan diakibatkan adanya peralatan pendinginan yang menggunakan energi besar akibat iklim panas di luar bangunan. Penggunakan peralatan untuk menciptakan kenyamanan termal penghuni juga terjadi pada wilayah dingin. Namun, peralatan penghangatan (perapian) yang digunakan menggunakan bahan bakar kayu yang didapat dari alam. Penggunaan perapian mempengaruhi karakteristik termal bangunan. Selain perapian, kondisi fisik bangunan juga mempengaruhi kenyamanan termal penghuni. Salah satu bangunan yang dianggap mampu menciptakan kenyamanan termal adalah bangunan vernakular. Pada wilayah dataran tinggi terdapat bangunan vernakular berdinding batu ekspos. Penelitian ini akan mengungkap karakteristik termal rumah batu ekspos di wilayah pegunungan.  Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan strategi pengukuran variabel termal dengan menggunakan alat pengukur termal. Variabel yang diukur diantaranya adalah suhu udara, kelembaban udara, kecepatan angin, suhu radiasi matahari rata-rata. Bangunan yang diteliti berjumlah 5 buah. Analisis menggunakan deskriptif yang menjelaskan grafik hasil rekap data. Analisis dikaitkan dengan kondisi fisik bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik termal rumah batu ekspos mampu membuat variabel iklim diterima oleh penghuni. Perapian menjadi unsur lokal yang sering dinyalakan untuk menambah kenyamanan termal penghuni. Penggunaan perapian dengan bahan bakar kayu tidak menciptakan pemborosan energi fosil yang terlalu tinggi.
ARSITEKTUR TROPIS PADA TATA RUANG DAN PERMUKIMAN DI KAMPUNG PULO GARUT Aprita, Dita Rizkia; Anisa, Anisa
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 3, No 3 (2020): Vol. 3 No. 3 (2020): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2020
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v3i3.26692

Abstract

Tradisional menurut KBBI merupakan cara berpikir dan bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma. Tradisional masih berkaitan dengan kesenian,ciri khas budaya dan permukiman. Permukiman tradisional merupakan hal terpenting ketiga setelah sandang dan pangan yang sangat dibutuhkan masyarakat. Permukiman merupakan suatu wadah tempat terbentuknya suatu komunitas dengan tujuan bermasyarakat satu dengan yang lainnya. Permukman tradisional merupakan hal yang sering diketahui oleh kebanyakan orang,terutama permukiman tradisional Sunda. Pada dasarnya permukiman Sunda sama dengan permukiman tradisional lainnya hanya saja konsep tata ruang dan konsep permukiman saja yang berbeda. Adapun permukiman yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah permukiman sunda lebih tepatnya Kampung Pulo Garut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengidentifikasi dan mendeskripsikan penerapan arsitektur tropis pada tata ruang dan pola permukiman tradisional Sunda. Adapun penerapan teori yang akan dikaji menggunakan beberapa aspek tropis dan pengkajian yang akan di analisis hanya beberapa aspek tropis,yaitu kenyamanan termal,suhu udara,kelembaban,pergerakan udara,intesitas matahari dan curah hujan.Adapun  metode yang akan digunakan metode deskriptif kualitatif. Adapun tujuan yang akan menjadi hasil dari penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan penerapan arsitektur tropis pada permukiman tradisional serta mengetahui hubungan faktor iklim dengan pola tata ruang.
Kajian Arsitektur Simbolik Pada Bangunan Olahraga Jakarta International Velodrome Havidz, Ichsan; Ashadi, Ashadi
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 3, No 3 (2020): Vol. 3 No. 3 (2020): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2020
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v3i3.24964

Abstract

Indonesia dibentuk oleh wilayah-wilayah yang memiliki bermacam-macam karakteristik, bahasa, nilai-nilai, dan simbol-simbol yang unik dan berasal dari budaya masyarakat Indonesia. Sebagai warga negara Indonesia, hal tersebut dapat menjadi sebuah kebanggaan dan harus tetap selalu melestarikannya. Ada beberapa cara dalam rangka menjaga kebudayaan di Indonesia, tak terkecuali di bidang arsitektur. Terlebih mulai diliriknya Indonesia untuk menjadi tuan rumah pada perhelatan ajang olahraga besar. Penyampaian pesan simbolik pada bangunan olahraga, merupakan salah satu cara dalam memperkenalan budaya Indonesia pada dunia. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan survey primer berupa observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Metode observasi dilakukan untuk mengetahui simbol bangunan di bangunan olahraga. Metode pengambilan data pada penelitian ini adalah dengan cara mengamati beberapa elemen-elemen seperti lantai, dinding, dan atap bangunan olahraga yang diduga memiliki simbol yang memiliki ciri khas budaya. Hal. Maka penilitian ini bertujuan untuk memahami konsep simbolik yang mengandung makna dari unsur budaya Indonesia, serta penerapannya pada bangunan olahraga.
KARAKTERISTIK DAN MAKNA TERITORI TERAS RUMAH BERLABUH MASYARAKAT SERUI ANSUS (Studi Kasus permukiman rumah berlabuh masyarakat Serui Ansus Kota Sorong, Papua Barat) Sahambangun, Devy Sarah; Soukotta, Dwars
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 1 (2021): Vol. 4 Ni. 1 (2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Februari 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i1.30087

Abstract

Terrace is a transitional space into the house in general which functions as a waiting room or a place to relax. However, at the rumah berlabuh settlement of Serui Ansus community, the terrace has more functionality than the lounge or waiting room because the houses are above sea level. The terrace functions as a central point for many activities. The shape of the territory as an area for different activities is an interesting point for further research.  This builds upon the research of the Community Settlement Pattern of Serui Ansus (2014). This study Used a qualitative descriptive method, the data used is the result of case study observations with a sign language approach and open interviews in case studies on rumah berlabuh settlements of the Serui Ansus community in Klademak 2 Village, Sorong City. The results of this study indicate that the pattern of coastal settlements built on water forms a pattern of activities that occur on the space terrace with various activities, which form the characteristics and meaning of the terraced territorial spaces in the Serui Ansus settlement. There are 3 characteristics of the terrace shape with 3 models of boundary patterns with different meanings. Some of the terraces in some case studies are primary territories, but there are terraces that are secondary territories or are used by a group of people for socializing. 
Konservasi Lahan Rawan Longsor di RW 9 Kelurahan Srondol Kulon, Kecamatan Banyumanik, Semarang Kurniati, Rina; Kurniawati, Wakhidah; Dewi, Diah Intan Kusumo; Ferawati, Nur Azizah
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 3, No 3 (2020): Vol. 3 No. 3 (2020): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2020
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v3i3.25927

Abstract

Srondol Kulon adalah salah satu kelurahan di sebelah Selatan Kota Semarang. Terletak di DAS Kaligarang dengan karakteristik perbukitan membuat wilayah tersebut rentan terkena bencana tanah longsor. Selain itu, perubahan tata guna lahan dari hutan ke pemukiman memperbesar resiko terjadinya longsor. Salah satu wilayahnya, yaitu RW 9 Kelurahan Srondol Kulon dilalui oleh sesar regional Kota Semarang sehingga menjadikan kawasan ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah. Keberadaan perumahan dengan tutupan lahan menggunakan perkerasan akan berdampak pada stabilitas lereng sehingga apabila terjadi pergerakan tanah dapat menimbulkan bencana. Di sisi lain, masyarakat belum memahami arti penting konservasi lahan pada kawasan rawan longsor. Oleh karena itu, perlu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konservasi lahan pada kawasan rawan longsor agar mereka dapat lebih peduli untuk menjaga lingkungan permukiman mereka. Pada jurnal ini akan dibahas mengenai potensi dan permasalahan kondisi fisik yang dimiliki oleh RW 9 Kelurahan sehingga dapat merekomendasikan langkah konservasi lahan yang memungkinkan dilakukan oleh masyarakat. Hasil dari penelitian ini akan dibuat dalam bentuk buku panduan konservasi yang mudah dipahami oleh masyarakat di RW 9 sehingga mereka dapat menerapkan cara konservasi lahan yang efektif untuk mencegah longsor.
Street Experience Jalan Braga : Memahami Pemenuhan Kebutuhan Pejalan Kaki melalui Media Google Street View Pradharma, Brian Filbert; Alnindya, Diandri Taqia; Pourine, Bunga Aninditya Mayang; Ekomadyo, Agus Suharjono; Susanto, Vanessa
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 1 (2021): Vol. 4 Ni. 1 (2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Februari 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i1.29920

Abstract

Abstract: The purpose of this study was to find out how pedestrian needs are met through visual elements of the streetscape to recognize the street experience offered by Braga Street, Bandung. Street is a place where people interact which shapes the aesthetic quality, economic activity, health and sustainability of society. There are 5 levels of needs for pedestrians or the hierarchy of walking needs, namely feasibility, accessibility, safety, comfort, and pleasurability. Braga Street itself has an active frontage form with wide building openings to increase the area's activity. As a heritage area, cultural heritage buildings on Braga Street have been preserved by making this area as tourist destination where the street is the main activities center. The method used is collecting image data of Braga Street via Google Street View and making a checklist of visual elements that can be applied from these aspects. From these findings, it can be concluded that all pedestrian needs based on the visual elements of the streetscape of Braga Street have been fulfilled, but the management still need to be improved to create a better quality of street experience for Braga Street.Keywords: street experience; walking needs; pedestrian; Google Street ViewAbstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana kebutuhan pedestrian dipenuhi melalui elemen-elemen visual streetscape untuk mengenali street experience yang ditawarkan Jalan Braga, Bandung. Jalan merupakan tempat dimana orang-orang berinteraksi yang membentuk kualitas estetika, kegiatan ekonomi, kesehatan dan keberlanjutan masyarakat. Terdapat 5 kebutuhan pejalan kaki atau walking needs yaitu feasibility, accessibility, safety, comfort, dan pleasurability. Jalan Braga sendiri memiliki bentuk active frontage dengan bukaan-bukaan bangunan yang lebar untuk meningkatkan keaktifan kawasan. Sebagai kawasan heritage, bangunan-bangunan cagar budaya di Jalan Braga dilestarikan dengan menjadikan kawasan ini sebagai tempat wisata dengan jalan sebagai pusat aktivitas utama Metode yang digunakan adalah pengambilan data gambar Jalan Braga melalui Google Street View dan membuat checklist item elemen visual yang menjadi pengaplikasian dari aspek kebutuhan pejalan kaki. Dari temuan-temuan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa semua kebutuhan pejalan kaki berdasarkan elemen-elemen visual streetscape Jalan Braga sudah terpenuhi, namun pengelolaannya dapat ditingkatkan kembali untuk menciptakan kualitas street experience Jalan Braga yang lebih baik.Kata Kunci: street experience; walking needs; pedestrian; Google Street View

Page 9 of 22 | Total Record : 213