cover
Contact Name
Jurnal Arsitektur Zonasi
Contact Email
jurnal_zonasi@upi.edu
Phone
-
Journal Mail Official
yudi.permana@upi.edu
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ZONASI
ISSN : 26211610     EISSN : 26209934     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Journal of Architectural ZONASI is an online open access journal. It features articles on a wide range of issues in architecture, including architectural history and theory, dwelling culture, building technology and material science, architectural design, interior design, landscape architecture, heritage and conservation, and urbanism. Published three annually, in February, June, and October, the journal welcomes contributions from all over the world
Arjuna Subject : -
Articles 213 Documents
Ornamen Tradisional Bali Pada Interior Bangunan Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Bali Utami, ardiarani
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 2 (2021): Vol. 4 No. 2(2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i2.30950

Abstract

Ragam hias pada Arsitektur Tradisional Bali terbagi menjadi dua, yaitu ornamen dan dekorasi. Ornamen adalah bagian dari ragam hias yang keberadaannya menempel pada bagian yang dihias dan cenderung permanen sifatnya. Contoh ornamen adalah Pepatran, Kekarangan, Lelengisan, dll. Ornamen atau ragam hias pada bangunan, dibuat dan ditempatkan bukan saja dengan keserasian, keindahan bentuk, halusnya ukiran tapi juga melihat norma, kepustakaan maupun mitologi yang diyakini kebenarannya. Ornamen dalam seni arsitektur tradisional Bali ada juga yang bermotif kedok wajah, dimana lazim dipahatkan pada material batu alam, bata merah atau kayu dan ditempatkan pada posisi tertentu. Taman Budaya Provinsi Bali sebagai salah satu pusat kesenian Provinsi Bali yang diharapkan dapat mengadopsi unsur positif seni budaya luar serta menangkal unsur negatifnya sehingga seni budaya Bali dapat tumbuh lestari sepanjang masa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, untuk mengungkapkan jenis ornamen tradisonal Bali yang digunakan pada interior Bangunan Ksirarnawa, sehingga dapat digunakan sebagai referensi lagi untuk peneliti lain terkait ragam hias. Pada interior bangunan Gedung Ksirarnawa ini terdapat dua jenis ornamen, satu adalah ornamen yang dibuat dengan nilai filosofis dari mitologi yang diyakini kebenararan dibaliknya, yaitu sesuai cerita pemutaran Gunung Mandhara dan ornamen yang dibentuk untuk memperindah interior bangunan dan berciri khas Tradisonal Bali.
KAJIAN ARSITEKTUR BIOMIMIKRI DALAM PERANCANGAN ROKAN HULU BUTTERFLY PARK AND CONSERVATION CENTER Nasution, Fery Azani; Aldy, Pedia; Susilawaty, Mira Dharma
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 3, No 3 (2020): Vol. 3 No. 3 (2020): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2020
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v3i3.26876

Abstract

Abstract: Rokan Hulu is a region that is rich in biodiversity, with natural tropical conditions making Rokan Hulu a suitable habitat for flora and fauna. One of them is butterfly fauna. There are various types of endemic butterflies preserved in the tourist area of Hapanasan Rokan Hulu which has an information center and butterfly breeding, which is one of the most visited tourist attractions in Rokan Hulu. The Rokan Hulu Butterfly Park and Conservation Center are a butterfly research and breeding facility that serves as a conservation area and educational activities, to provide updated information about butterflies for the public. By implementing Biomimicry Architecture, it is able to create a relationship between architecture and nature by implementing natural strategies into building designs. Through the concept of 'butterfly metamorphosis' and transformed with biomimicry architecture approach, this building has architectural qualities that can stimulate the life of the butterfly habitat and plants as source of food.Keywords: Biomimicry; Butterfly Park; Conservation Center Abstrak: Rokan Hulu merupakan daerah yang kaya akan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Kabupaten ini memiliki keadaan alam yang beriklim tropis sehingga menjadikan Rokan Hulu sebagai habitat yang cocok untuk flora dan fauna salah satunya adalah fauna kupu-kupu. Terdapat berbagai macam jenis kupu-kupu endemik yang dilestarikan di kawasan wisata Hapanasan Rokan Hulu yang memiliki pusat informasi dan penangkaran kupu-kupu yang merupakan salah satu kawasan wisata yang paling banyak dikunjungi di Rokan Hulu. Rokan Hulu Butterfly Park and Conservation Centre merupakan wadah penelitian dan penangkaran kupu-kupu yang berfungsi sebagai ruang interaksi kegiatan konservasi dan edukasi, sehingga dapat memberikan informasi mengenai kehidupan kupu-kupu kepada masyarakat. Dengan implementasi Arsitektur Biomimikri, pendekatan arsitektur ini mampu menciptakan hubungan antara arsitektur dan alam dengan mengaplikasikan strategi alam ke dalam rancangan bangunan. Melalui konsep ‘metamorphosis kupu-kupu’ dan ditransformasikan dengan pendekatan arsitektur biomimikri bangunan ini memiliki kualitas arsitektur yang dapat menstimulasi kehidupan habitat kupu-kupu dan tanaman yang menjadi sumber makanannya.Kata Kunci: Biomimikri; Butterfly Park; Conservation Center
FILOSOFI ARSITEKTUR MASJID AL-MISHBAH:Studi Arsemiotika Ikon-Indeks-Simbol Gunardi, Yudhi; Handayani, Sri; Permana, Asep Yudi; Widaningsih, Lilis
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 2 (2021): Vol. 4 No. 2(2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i2.32963

Abstract

Abstract: Al-Mishbah Mosque is an architectural work with unique contemporary ideas and symbolic meaning requirements so that its existence is interesting to study. The researcher who is also the architect of the Al-Mishbah Mosque aims to examine the visually identified symbolic signs and describe the meaning of the architectural philosophy behind the design of the Al-Mishbah Mosque. This study uses a qualitative descriptive method and is analyzed using the theory of architectural semiotics (arsemiotics) to investigate signs which, according to Charles Sanders Peirce, are icons, indexes, and symbols. Based on the analysis of visually identified signs, the results of this study can be concluded that the signs and meanings of the architectural philosophy of the Al-Mishbah Mosque are as follows: (1) The black cube shape in the main building, is a symbolic idea of the Kaaba, which means as the center of the building. Qibla orientation of Muslim prayer, as well as a symbol of one direction and unity of Muslims. (2) The shape of the asymmetrical curved concrete hat is a symbolic idea of people prostrating, which means the main function as a mosque (a place of prostration), also has a meaning as a symbol of servitude to Allah. (3) The form of the text lafadz "Allah" on the facade of the upper building, is a symbolic idea of Baitullah, which means a place to glorify Allah, also means the mosque as "House of Allah". (4) The configuration of asymmetrical mass forms is a symbolic idea of Ijtihad, which means a genuine effort to find solutions to the problems of the people, also means not taking pre-existing general habits without understanding their essence (taqlid). (5) The shape of the mihrab wall with an open gap, from inside the mosque you will see the sky and the earth as a symbolic idea of the Kauniah verse which means that humans must see the verses of Allah have a balance between dhikr and thinking, also the existence of the universe and life is interpreted as evidence of existence almighty God. (6) The light that radiates out of the building resembles a person prostrating, is a symbolic idea of the light of prayer which means preventing heinous acts and evil deeds, and showing submission, obedience and obedience to Allah (taqwa).Keywords: Mosque Architecture, Semiotics, Arsemiotics, Symbolic Meaning, Al-Mishbah Mosque.Abstrak: Masjid Al-Mishbah merupakan suatu karya arsitektur dengan gagasan kontemporer yang unik dan syarat makna simbolik sehingga keberadaanya menarik untuk diteliti. Peneliti yang juga sekaligus arsitek Masjid Al-Mishbah bertujuan meneliti tanda-tanda simbolik yang teridentifikasi secara visual dan mendeskripsikan makna filosofi arsitektur dibalik rancangan Masjid Al-Mishbah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan dianalisis menggunakan teori semiotika arsitektur (arsemiotik) untuk menyelidiki tanda yang menurut Charles Sanders Peirce, sebagai ikon, indeks, dan symbol. Berdasarkan analisis tanda-tanda yang teridentifikasi secara visual, hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tanda dan makna filosofi Arsitektur Masjid Al-Mishbah adalah sebagai berikut : (1) Bentuk kubus hitam pada bangunan utama, merupakan gagasan simbolik Ka’bah, yang bermakna sebagai pusat orientasi qiblat shalat umat Islam, juga sebagai simbol satu kesatuan arah dan persatuan umat  Islam.  (2) Bentuk topi beton lengkung asimetris merupakan gagasan simbolik orang bersujud, yang bermakna fungsi utama sebagai masjid (tempat bersujud), juga bermakna sebagai simbol penghambaan kepada Allah. (3) Bentuk teks lafadz “Allah” pada fasad gedung bagian atas, merupakan gagasan simbolik Baitullah, yang bermakna tempat mengaggungkan Allah, juga bermakna masjid sebagai “Rumah Allah”. (4) Konfigurasi bentuk massa asimetris merupakan gagasan simbolik Ijtihad, yang bermakna upaya sungguh-sungguh untuk mencari solusi permasalahan umat, juga bermakna tidak mengambil mentah-mentah kebiasaan umum yang sudah ada sebelumnya tanpa memahami makna esensinya (taqlid). (5) Bentuk dinding mihrab dengan celah terbuka, dari dalam masjid akan terlihat langit dan bumi sebagai gagasan simbolik Ayat Kauniah yang bermakna manusia harus melihat ayat-ayat Allah memiliki keseimbangan antar berdzikir dan berfikir, juga adanya alam semesta dan kehidupan dimaknai sebagai bukti ada dan mahakuasanya Allah. (6) Cahaya yang memancar keluar dari bangunan menyerupai orang sujud, merupakan gagasan simbolis cahaya shalat yang bermakna mencegah perbuatan keji dan munkar, serta menunjukan sikap tunduk, patuh dan taat kepada Allah (Taqwa).Kata Kunci: Arsitektur Masjid, Semiotika, Arsemiotik, Makna Simbolik, Masjid Al-Mishbah.
PENERAPAN BIOPHILIC PADA RANCANGAN SPORT CENTER DI CIPONDOH KOTA TANGERANG Apipah, Anggun Nur
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 2 (2021): Vol. 4 No. 2(2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i2.31851

Abstract

Abstract: Tangerang is a modern city with a large number of residents from outside the region as well as immigrants, along with high enthusiasm in the field of sports, and sports achievements that continue to increase, unfortunately are not accompanied by any improvement in facilities and infrastructure in the field of sports. Therefore, the Government of Tangerang City plans to build a Sport Center located in Cipondoh, to accommodate young athletes and prepare to host the 6th Provincial Sports Week (PORPROV) in 2022. The Sport Center is planned to be built in the Cipondoh area, so that the eastern and northern Tangerang people do not have to come all the way to the Center of the government, and this plan is also a form of equitable development in Tangerang City. This Sport Center refers to the Biophilic approach where a Sport Center design with the Biophilic approach restores the closeness between humans and nature, especially in Tangerang City which is starting to be eroded by modernization, and the application of Biophilic is also to save the natural elements in Tangerang City, especially the Cipondoh area. In addition, the design of a Sport Center using Biophilic approach is to accommodate sports, and as a means to increase the interest in sports for the general public, as well as to increase achievements in sports.Keywords: Sport Center, Cipondoh, Tangerang, Biophilic. Abstrak: Kota Tangerang merupakan sebuah kota modern, dengan banyaknya penduduk dari luar daerah maupun pendatang, dengan antusias dibidang olahraga yang cukup tinggi, dan prestasi olahraga yang terus meningkat, akan tetapi tidak di iringi dengan peningkatan fasilitas sarana dan prasarana di bidang olahraga, maka dari itu pemerintah Kota Tangerang berencana membangun Sport Center yang berlokasi di Cipondoh, untuk mengakomondir atlet-atlet muda dan bersiap untuk menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan PORPROV ke-6 tahun 2022. Pemilihan Sport Center di daerah Cipondoh, agar masyarakat  Tangerang pada bagian timur dan bagian utara tidak harus jauh - jauh datang ke pusat pemerintahan, dan rencana ini juga sebagai wujud dari pemerataan pembangunan di Kota Tangerang. Sport Center ini mengacu pada pendekatan Biophilic, dimana desain Sport Center dengan pendekatan Biophilic ini menggembalikan kedekatan manusia dengan alam, khususnya di Kota Tangerang, yang mulai tergerus oleh modernisasi, dan juga penerapan Biophilic untuk menyelamatkan unsur alam di daerah kota Tangerang, khususnya daerah Cipondoh. Selain itu, perancangan Sport Center dengan pendekatan Biophilic, selain untuk mewadahi olahraga, dan sebagai sarana untuk meningkatkan minat olahraga bagi masyarakat umum, serta  untuk meningkatkan prestasi di bidang olahraga.Kata Kunci: Sport Center, Cipondoh, Tangerang, Biophilic.
GALERI SEBAGAI WADAH POTENSI PENGEMBANGAN HOME INDUSTRI DI KAWASAN KELURAHAN KOPO KOTA BANDUNG Wisesa, Elgri Yugawati
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 2 (2021): Vol. 4 No. 2(2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i2.31733

Abstract

Abstract: This gallery design aims to accommodate 206 Small and Medium Enterprises, 5 food stalls, 32 street vendors, 3 food industries, 8 handicraft industries and 3 clothing industries. This is because there is no place for the potential of Home Industry to become a means of developing new business actors, both micro and macro. This gallery design is located in Kopo Village with an area of 28 hectares consisting of 12 RW and 86 RT which are spatially located in slum areas scattered in Kopo Village according to the Bandung Mayor's Decree regarding Housing and slum settlements in Bandung City.The method used in planning and designing this gallery is a participatory approach. A participatory approach is used as an approach that is closer to the community in order to create a sense of belonging in the Kopo District community. Data collection techniques used were interviews and field observations. As well as data collection from the RPJMD and BPS Kota Bandung. The purpose of planning and designing the Gallery building is to realize its potential container by mobilizing the creative economy community (Ekraf) and jointly building facilities and infrastructure to support the creative economy (Ekraf) in Kopo Village.Keywords: Kampung Kota, gallery, creative economy, home industry Abstrak: Perancangan Galeri ini bertujuan untuk mewadahi 206 UKM, 5 Warung makan, 32 Pedagang kaki lima (PKL), 3 Industri Makanan, 8 Industri Kerajinan dan 3 Industri Pakaian. Karena belum ada wadah potensi Home industry yang menjadi sarana berkembangnya pelaku usaha baru baik itu mikro ataupun makro. Perancangan Galeri ini bertempat di kelurahan Kopo dengan luas wilayah mencapai 28 Ha yang terdiri dari 12 RW dan 86 RT yang secara spasial berada di kawasan permukiman kumuh yang tersebar di Kelurahan Kopo sesuai dengan Kepwal Walikota Bandung tentang perumahan dan permukiman kumuh di Kota Bandung.Metode yang digunakan pada perencanaan dan perancangan galeri ini adalah pendekatan partisipatif. Pendekatan partisipatif di gunakan sebagai pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat agar memunculkan sense of belonging dari masyarakat kawasan kelurahan Kopo. Teknik pengambilan data yang dilakukan adalah melakukan wawancara dan observasi lapangan. Serta mengumpulkan data dari RPJMD dan BPS Kota Bandung. Tujuan perencanaan dan perancangan gedung Galeri yaitu mewujudkan wadah potensi dengan menggerakan komunitas ekonomi kreatif (ekraf) dan bersama-sama untuk membangun sarana dan pra-sarana sebagai penunjang ekonomi kreatif (ekraf) di Kelurahan KopoKata Kunci: Kampung Kota, galeri, ekonomi kreatif, home industri
PENGARUH BENTUK GUBAHAN MASSA DINAMIS TERHADAP ESTETIKA DAN KENYAMANAN SPASIAL PADA BANGUNAN HOTEL U JANEVALLA Latifah, Nur Laela
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 2 (2021): Vol. 4 No. 2(2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i2.32945

Abstract

Abstract: Hotel is a commercial building and the success of its design has a very positive impact on increasing its selling value. Generally, hotel buildings in cities or city hotels are designed based on the form follow function theory so that the interior space is functioning optimally, but the shape of the square block buildings that occur tends to look monotonous. In order to make the visual appearance more attractive, through the strategy of transforming the mass composition of the hotel to be dynamic, there will be a consequence where the layout and furnishings of the existing interior may reduce the spatial comfort (space) for the user. Another thing that must be tested from a dynamic mass composition is its aesthetic value in terms of proportion and scale. As a research case study, Hotel U Janevalla was chosen in Jl. Aceh No. 65 Bandung. The analysis was carried out in a comparative way between case studies and theory, both in terms of qualitative and quantitative. The benefit value of this research is an insight into how the dynamic mass composition of hotels influences the aesthetic value and spatial comfort of users in the bedroom.Keywords: Hotel, Dynamic mass composition transformation, Aesthetics, Spatial comfort. Abstrak: Hotel adalah bangunan komersial dan keberhasilan desainnya berdampak sangat positif bagi peningkatan nilai jualnya. Umumnya bangunan hotel di kota atau city hotel dirancang berdasarkan teori form follow function agar ruang dalamnya berfungsi optimal, tetapi bentuk bangunan blok persegi yang terjadi cenderung terlihat monoton. Agar tampilan visualnya lebih menarik, melalui strategi transformasi gubahan massa hotel dibuat menjadi dinamis, maka timbul konsekuensi dimana dengan tata letak dan kelengkapan interior yang ada dapat terjadi kemungkinan berkurangnya kenyamanan spasial (ruang gerak) bagi pengguna. Hal lain yang harus diuji dari gubahan massa dinamis adalah nilai estetikanya ditinjau dari proporsi dan skala. Sebagai kasus studi penelitian, dipilih Hotel U Janevalla di Jl. Aceh No. 65 Bandung. Analisis dilakukan dengan cara komparatif antara kasus studi dengan teori, baik ditinjau dengan cara kualitatif maupun kuantitatif. Nilai manfaat dari penelitian ini adalah wawasan bagaimana pengaruh bentuk gubahan massa hotel yang dinamis terhadap nilai estetika dan kenyamanan spasial pengguna pada kamar tidur.Kata Kunci: Hotel, Transformasi gubahan massa dinamis, Estetika, Kenyamanan spasial.
UNGKAPAN BENTUK DAN MAKNA FILOSOFI DALAM KAIDAH ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL MINANGKABAU, PADANG, INDONESIA Supriatna, Cecep; Handayani, Sri
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 2 (2021): Vol. 4 No. 2(2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i2.32964

Abstract

Abstract: Islamic architecture appears not only as mere ornament, but is a media that plays an important role that has its own charm for every visitor/user, because a good design must respond to geography, location, climate, size, culture and others. The dome-shaped mosque building has thrived in the Islamic world and has become a symbol of expression of the structure and identity of a mosque. However, in the last two decades, many mosques without domes have appeared in Indonesia. Mosques with modern geometric elements are increasingly standing majestically in several areas in Indonesia. Some architects began to eliminate the dome element in the mosque, but still displayed Islamic values. One of the mosques without a dome is the Great Mosque of West Sumatra. The design is a square building that instead of a dome but instead forms a gonjong. The design of the Great Mosque of West Sumatra was criticized by several figures in West Sumatra, who said that the design of the mosque was unusual because it did not have a dome due to some literature stating that one part of the mosque was a 'dome'. news about the existence of a mosque ornament which is claimed to be a form of motif commonly used by Jews (Pentagram). The purpose of the study was to identify the design idea of the Roof of the Great Mosque of West Sumatra which describes the shape of the stretch of cloth used to carry the Hajar Aswad stone, the concept of three symbols: the springs (the elements of nature), the crescent moon and the Gadang House. The method used in this research is descriptive qualitative. The results of the study indicate that the value and meaning of the architectural design philosophy of the roof of the Great Mosque of West Sumatra, which is represented by the architect in its design concept, has a lot of compatibility with the mosque building that has been designed. The concept is very clearly visible so that even ordinary people are very easy to understand.Keywords: Mosque Roof, Bagonjong Roof, Representation Abstrak: Arsitektur Islam muncul bukan hanya sebatas ornamen semata tetapi merupakan media yang berperan penting yang memiliki daya tarik tersendiri bagi setiap pengunjungnya/pemakainya, karena sebuah desain yg baik harus merespon geografi, lokasi, iklim, ukuran, budaya dan lain-lain. Bangunan Masjid berbentuk kubah telah tumbuh subur dalam dunia Islam dan menjadi sebuah simbol ekspresi struktur dan identitas dari sebuah masjid. Namun dua dekade terakhir ini di Indonesia mulai banyak bermunculan bangunan masjid tanpa kubah. Masjid dengan unsur-unsur geomotrik modern semakin banyak berdiri dengan megah di beberapa wilayah di Indonesia. Beberapa arsitek mulai menghilangkan unsur kubah pada masjid, namun tetap menampilkan nilai-nilai Islami. Salah satu masjid tanpa kubah tersebut adalah Masjid Raya Sumatera Barat. Rancangannya berupa bangunan persegi yang alih-alih berkubah tapi justru membentuk gonjong. Hasil rancangan Masjid Raya Sumatera Barat pernah dikritik oleh beberapa tokoh di Sumatera Barat, yang menyebutkan rancangan masjid tidak lazim lantaran tidak memiliki kubah karena adanya beberapa literatur yang menyatakan bahwa salah satu bagian dari masjid itu adalah ‘kubah’, bahkan ada beberapa keraguan tersebut yang berhembus kabar tentang adanya bentuk ornament masjid yang diklaim sebagai bentuk motif yang biasa dipakai orang Yahudi (Pentagram). Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi gagasan desain Atap Masjid Raya Sumatera Barat yang menggambarkan bentuk bentangan kain yang digunakan untuk mengusung batu Hajar Aswad, konsep dari tiga simbol: sumber mata air (the springs: unsur alam), bulan sabit dan Rumah Gadang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai dan makna filosofi desain arsitektur atap masjid Raya Sumatera Barat yang direpresentasikan oleh arsitek dalam konsep desainnya, terdapat banyak kesesuaian dengan bangunan masjid yang sudah dirancangnya. Konsep tersebut sangat nampak jelas terlihat sehingga orang awam pun sangat mudah untuk memahaminya.Kata Kunci: Atap Masjid, Atap Bagonjong, Representasi
IDENTIFIKASI STAKEHOLDER DAN IMPIKASINYA TERHADAP KESUKSESAN SEBUAH PROYEK STUDI KASUS: PROYEK THE BALADEWA VILLAS-BALI Widanan, I wayan; Gunawarman, Anak Agung Gede Raka
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 2 (2021): Vol. 4 No. 2(2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i2.34428

Abstract

Penelitian ini akan memaparkan proses identifikasi stakeholder dan menganalisa pengaruhnya dalam mencapai kesuksesan sebuah proyek. Selain itu penelitian ini akan memaparkan pemahaman tim terhadap budaya organisasi dan karakteristik dari budaya negara asal timnya. Isu ini akan di analisa melalui studi kasus proyek baladewa villa – Bali. Penelitian ini akan dimulai dengan mengekplorasi dan mengkaji literatur manajemen stakeholder dan dan budaya dalam konteks manajemen proyek. Kemudian akan dilakukan penjelasan singkat dan deskripsi studi kasus dan menunjukkan bagaimana manajemen stakeholder dapat berkontribusi positif terhadap kesuksesan sebuah proyek.Penelitian ini akan meyimpulkan pengaruk stakeholder dan harapan manajemen terhadap keberhasilan sebuah proyek. Penelitian ini juga akan berkontribusi dalam memberikan pemahaman yang lebih baik  terhadap budaya organisasi dan budaya sebuah negara untuk mempertajam harapan dari stakeholder kunci dan membangun sebuah strategi manajemen stakeholder yang efektif dalam pelaksanaan sebuah proyek. 
Perancangan Kawasan Wisata Desa Bokor Dengan Pendekatan Arsitektur Tepian Air Iria, Pahmi
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 2 (2021): Vol. 4 No. 2(2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i2.28087

Abstract

Abstract: Bokor Village is not only from the natural side, but also culture, arts, crafts, culinary, and historical relics. Bokor Village also as a tourist gate is still very minimal with the facilities provided by the Government and local people, this is caused by a lack of socialization about tourism in Bokor village. So, the tourism area of the Bokor village to make it easier for tourists to enjoy the tourism in Bokor village, especially on the banks of the Bokor River, then be treated to design waterfront architecture approach in this area. So in this design apply the concept of tual Sago in the region. The activities in the area are oriented towards the water, and are able to help the activities in the area.Keywords: Bokor Village, tourism area, Waterfront Architecture. Abstrak: Desa Bokor bukan hanya berasal dari sisi alamnya saja, tapi juga budaya, kesenian, kerajinan, kuliner, hingga peninggalan bersejarah. Desa Bokor juga sebagai gerbang wisata masih sangat minim dengan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah dan masyarakat setempat, ini diakibatkan oleh kurangnya sosialisasi tentang pariwisata pada Desa Bokor. Maka diperlukanlah perancangan kawasan wisata Desa Bokor untuk memudahkan wisatawan menikmati wisata yang ada di Desa Bokor khususnya di tepian sungai bokor maka diterapkanlah perancangan pendekatan arsitektur tepian air pada kawasan ini. Sehingga pada perancangan ini menerapkan konsep tual sagu pada kawasan. Maka aktifitas pada kawasan nantiknya berorientasi kearah air, dan mampu membantu setiap kegiatan yang ada pada kawasan.Kata Kunci: Desa Bokor, Kawasan Wisata, Arsitektur Tepian Air.
REDEFINISI ARSITEKTUR MONUMEN PERJUANGAN DI INDONESIA: ARSITEKTUR MONUMEN SEBAGAI REFLEKSI CITA-CITA Hadi, Cipta; Minggra, Restu
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 2 (2021): Vol. 4 No. 2(2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i2.33895

Abstract

Apakah ekspresi arsitektur monument perjuangan bisa lebih dari sekadar peringatan peristiwa lampau? Bagaimana memperkenalkan kembali skala manusia pada arsitektur monument di Indonesia? Tulisan ini mengenai ulasan proyek sebagai riset desain untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Arsitektur monumen perjuangan di Indonesia memiliki makna dan ekspresi yang terbatas dan gagal dalam memenuhi fungsinya sebagai ruang publik bagi manusia. Melalui kompetisi desain monumen perjuangan Balikpapan yang diadakan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dilakukan eksplorasi sebuah ide desain monumen tanpa ‘monumen’. Dilakukan studi literatur sebagai dasar teori memahami makna monumen dan monumental, serta studi preseden dari karya-karya arsitek yang menerapkan pendekatan desain berdasarkan dasar teori tersebut. Riset ini menggunakan dasar teori anti-monumental dan dialogical sebagai pendekatan dalam mendesain. Desain monumen ini merupakan upaya menambah nilai entitas tidak hanya sebagai peringatan peristiwa lampau, namun juga sebagai penyongsong cita-cita masa depan dan memperkenalkan kembali skala manusia pada arsitektur monumen.

Page 10 of 22 | Total Record : 213