cover
Contact Name
Jurnal Arsitektur Zonasi
Contact Email
jurnal_zonasi@upi.edu
Phone
-
Journal Mail Official
yudi.permana@upi.edu
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ZONASI
ISSN : 26211610     EISSN : 26209934     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Journal of Architectural ZONASI is an online open access journal. It features articles on a wide range of issues in architecture, including architectural history and theory, dwelling culture, building technology and material science, architectural design, interior design, landscape architecture, heritage and conservation, and urbanism. Published three annually, in February, June, and October, the journal welcomes contributions from all over the world
Arjuna Subject : -
Articles 213 Documents
Analisis Faktor Kebetahan Pengunjung Coffee Shop Melalui Penilaian Kinerja Elemen Interior. Studi Kasus: Kafe dan Coffee Shop di Kawasan L.R.E Martadinata, Bandung. Haristianti, Vika
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 2 (2021): Vol. 4 No. 2(2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i2.31609

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menilai kinerja dari elemen desain interior yang diterapkan pada kafe dan coffee shop studi kasus. Kinerja yang dimaksud berkaitan dengan faktor desain apa saja yang berpengaruh pada kemungkinan motivasi kunjungan frekuen yang dapat mengakibatkan perkembangan café society terus meningkat. Penelitian ini bersifat penelitian pragmatis atau gabungan yang disebut mixed methods. Jenis penelitian ini dipilih karena memungkinkan untuk dilakukan pengumpulan serta analisis data secara kualitatif dan kuantitatif dalam sebuah studi secara sekaligus. Metode pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu penelitian kepustakaan (secondary sources / pengumpulan data sekunder) dan penelitian lapangan (primary sources/ pengumpulan data primer). Adapun data tersebut diambil dari studi kasus berupa kafe dan coffee shop di kawasan L.R.E Martadinata Bandung, yaitu Dakken Restaurant dan Jardin Café. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen interior berpengaruh pada faktor kebetahan pengunjung kafe. Kata Kunci: kebetahan, coffee shop, café society, transformasi ruang kota.
TIPOLOGI DAN KONSEP TATA LETAK SANGGAH PADA KARANG UMAH DI DESA ADAT BAYUNG GEDE Yulianasari, Anak Agung Ayu Sri Ratih; Wiriantari, Frysa; Widiyani, Desak Made Sukma; Wijaatmaja, Arya Bagus Mahadwijati
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 3, No 3 (2020): Vol. 3 No. 3 (2020): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2020
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v3i3.27875

Abstract

Abstract: Sanggah is a shrine to worship the source of life, namely God Almighty for Balinese Hindu. In general, sanggah is positioned at sacred zone namely:hulu and/or Utama Mandala/Kaja Kangin. Unique layout of sanggah can be found at the settlement of Desa Adat (customary village) of Bayung Gede, one of Bali Aga (Ancient Bali) villages at Bangli Regency. This unique phenomenon raises questions about tipology of sanggah layout at Desa Adat Bayung Gede and the background concept of this phenomenon. The research had been done by field observation and interview with the locals and the elders of the community. Literature had been done as well as reference. The data was analyzed with descriptive-qualitative method. The conclusions of this research are: sanggah position in a house is influenced by the position of rurung (lane) as teben (profan) indicator in each housing unit. There are 3 (three) type of sanggah: (a) sanggah which is at east side of housing unit with rurung at west side of the housing unit; (b) sanggah which is at west side of housing unit with rurung at east side of the housng unit; and (c) sanggah which is at north side of the housing unit with rurung at south side of the housing unit.Keywords: the layout of sanggah, tradisional settlement, Architecture of Bali Aga. Abstrak: Sanggah merupakan tempat pemujaan kepada sumber kehidupan yaitu Tuhan Yang Maha Esa bagi umat Hindu Bali. Secara umum sanggah terletak pada zona sakral, yaitu: zona hulu dan/atau zona Utama Mandala/Kaja Kangin. Keunikan tata letak sanggah dapat ditemui pada permukiman Desa Adat Bayung Gede, salah satu desa Bali Aga (Bali Kuno) di Kabupaten Bangli. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan bagaimana tipologi tata letak sanggah Desa Adat Bayung Gede dan konsep apa yang melatarbelakangi hal itu. Penelitian ini dilakukan dengan metode observasi ke lapangan dan interview dengan beberapa tokoh masyarakat serta penduduk setempat, serta review literatur sebagai referensi. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Kesimpulan yang didapat adalah letak sanggah dalam pekarangan rumah Desa Adat Bayung Gede dipengaruhi oleh letak rurung (jalan perumahan) sebagai indikator teben (profan) dalam setiap pekarangan rumah. Terdapat tiga tipe sanggah: (a) Sanggah berada di sebelah timur dengan rurung berada di sebelah barat pekarangan rumah; (b) Sanggah berada di sebelah barat dengan rurung berada di sebelah timur; (c) Sanggah berada di sebelah utara dengan rurung berada di sebelah selatanKata Kunci: tata letak sanggah, permukiman tradisional, Arsitektur Bali Aga.
PENERAPAN PARTISI TRANSPARAN SEBAGAI ELEMEN INTERIOR DAYCARE DI MASA PANDEMI COVID-19 Rachmawati, Rizka; Akifah, Nabila
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 1 (2021): Vol. 4 Ni. 1 (2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Februari 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i1.27065

Abstract

Sejak pandemi Covid-19, banyak orang tua yang memiliki anak mengalami kendala untuk menjalani kehidupan sehari-hari akibat pembatasan yang perlu dilakukan untuk mencegah penularan virus Covid-19 ini. Salah satunya yaitu ketika orang tua dapat kembali bekerja dan terpaksa perlu menitipkan anak di fasilitas daycare. Hal ini juga beresiko khususnya terhadap anak usia dini.  Sehingga perlu adanya sistem normal baru dengan cara mematuhi protokol kesehatan di area publik. Perlu penanganan yang tepat untuk melindungi anak dari penyebaran virus corona terutama di dalam interior tempat penitipan anak (daycare). Elemen partisi ruangan menjadi hal yang penting untuk diterapkan guna mendukung physical distancing. Maka, pada penelitian ini akan ditelaah lebih dalam terkait studi kualitatif terhadap jenis dan penerapan partisi transparan pada daycare. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui penggunaan partisi transparan pada daycare yang efektif tanpa mengganggu sosialisasi anak satu dengan yang lainnya sebagai alternatif pendukung protokol kesehatan di situasi normal baru.
Penerapan Arsitektur Neo-Vernakular pada Bangunan Buday dan Hiburan Widi, Chaesar; Prayogi, Luthfi
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 3, No 3 (2020): Vol. 3 No. 3 (2020): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2020
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v3i3.23761

Abstract

Arsitektur neo–vernakular adalah salah satu konsep dari aliran post modern. Neo-vernakular adalah gabungan dari dua konsep yang berbeda yaitu modern dan vernakular. Neo–vernakular adalah interpretasi dari arsitektur vernakular. Bangunan budaya dan hiburan adalah salah satu bangunan yang banyak menggunakan konsep neo–vernakular dikarenakan adanya budaya tradisional didalamnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penerapan arsitektur neo–vernakular pada bangunan budaya dan hiburan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini diharapkan dapat mendeskripsikan penerapan arsitektur neo-vernakular pada bangunan budaya dan hiburan. Penelitian ini mempunyai satu studi kasus yaitu Rumah Keramik F. Widiyanto. Penelitian ini menggunakan ciri – ciri arsitektur neo–vernakular sebagai cara menganalisis studi kasus.  Penelitian ini menyimpulkan saung angklung udjo menerapkan lima ciri arsitektur neo-vernakular..
KAJIAN KAWASAN PERMUKIMAN PESISIR BERBASIS MITIGASI BENCANA GUNUNG BERAPI BAWAH LAUT MAHANGETANG (Studi Kasus Desa Lapango, Kecamatan Manganitu Selatan Kabupaten Kepulauan Sangihe) KAMURAHAN, STEVEN RICHARD
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 1 (2021): Vol. 4 Ni. 1 (2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Februari 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i1.30098

Abstract

Lapango Village is one of the villages in the Sangihe Islands Regency where the settlement is located in a coastal area, precisely in South Manganitu District. The geographical condition of this village is one of the areas close to the Mahangetang Underwater Volcano. From this geographical condition, it is necessary to study the Planning and Spatial Planning of Settlement Areas which are carried out by taking into account the physical conditions of geographic areas that are prone to disasters, especially submarine volcanic disasters, so they must be based on disaster mitigation. The purpose of this research is to obtain a study according to the zoning pattern of community settlements based on Disaster Mitigation. The method used in this research is descriptive quantitative and qualitative, data collection was carried out using a questionnaire to measure Respondents' Perceptions of Disaster Preparedness whose variables and indicators were measured based on Knowledge and Attitudes (PS), Policies, Regulations, and Guidelines (KPP). , Plan for Emergency Situation (RKD), Tsunami Warning System (SPB), Ability to Mobilize Resources (MSD), Next identify the geographical condition of the settlement in coastal areas and the human population inhabiting these settlements.        From this data, analysis is made with a GIS (Geographic Information System) and then followed by a study and concept of zoning for disaster-prone areas and providing information and recommendations to governments and communities in coastal areas in an effort to reduce disaster risk by including Disaster Hazard Map activities ( PRB) into the RPJM for the South Manganitu District, especially for Lapango VillageKeywords: Coastal Areas, Mitigation, Disasters, Lapango Village Abstrak: Desa Lapango merupakan salah satu desa yang berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe kedudukan pemukimannya berada di wilayah pesisir tepatnya di Kecamatan Manganitu Selatan. Kondisi geografi dari desa ini merupakan salah satu daerah berdekatan dengan Gunung Api Bawah Laut Mahangetang. Dari kondisi geografis tersebut, maka diperlukan kajian untuk Perencanaan dan Penataan Ruang Kawasan Permukiman yang diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi fisik wilayah geografis yang rentan bencana khususnya bencana gunung api bawah laut, sehingga harus berbasis mitigasi bencana. Tujuan dari penelitian ini untuk  mendapatkan kajian menurut pola zonasi permukiman masyarakat berbasis Mitigasi Bencana. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dan kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk mengukur Persepsi Responden Mengenai Kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana yang variabel dan indikatornya diukur berdasarkan, Pengetahuan dan Sikap (PS), Kebijakan, Peraturan, dan Panduan (KPP), Rencana Untuk Keadaan Darurat (RKD), Sistem Peringatan Bencana Tsunami (SPB), Kemampuan Memobilisasi Sumber Daya (MSD), Selanjutnya mengidentifikasi keadaan geografis dari permukiman wilayah pesisir dan populasi manusia yang mendiami permukiman tersebut.Dari data tersebut dibuat analisis dengan GIS (Geographic Information System) kemudian dilanjutkan dengan dibuat kajian dan konsep zonasi wilayah yang rawan bencana serta memberikan informasi serta rekomendasi kepada pemerintah dan masyarakat yang berada dikawasan pesisir dalam upaya mengurangi risiko bencana adalah dengan memasukkan kegiatan Peta Rawan Bencana (PRB) ke dalam RPJM Kecamatan Manganitu Selatan terlebih Khusus Desa Lapango.Kata Kunci: Wilayah Pesisir, Mitigasi, Bencana, Desa Lapango
KONDISI KUALITAS UDARA DI DALAM RUANGAN PEMUKIMANAN NON-KUMUH KOTA BANDUNG Kencanasari, R.A Vesitara; Surahman, Usep; Permana, Asep Yudi; Nugraha, Hari Din
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 3, No 3 (2020): Vol. 3 No. 3 (2020): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2020
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v3i3.28134

Abstract

Abstract: This research was initiated by the factors of poor indoor air quality conditions. So that it can cause Sick Building Syndrome (SBS) or sick building syndrome. The purpose of this research is to measure the picture of air quality conditions in non-slum rooms. The sample in this study was Pasteur Village RW6, Sukajadi District which was selected based on criteria, namely including non-slum areas, as well as high community participation. The research method used was cross-sectional. The results showed an overview of indoor air quality in non-slum dwellings, humidity was above the required standard, thus triggering fungal growth rates that exceeded normal limits. The temperature parameter is in the required category, but based on the findings, some people are uncomfortable with the room temperature in the house. The Formadehilda and VOC parameters are within normal limits, this is indicated because most people do not use chemical products, rarely smoke in the house, and rarely start motorized vehicles in the house.Keywords: Indoor Air Quality, Sick Building Sindrome (SBS) Abstrak: Penelitian ini diawali oleh faktor kondisi kualitas udara di dalam ruangan yang buruk. Sehingga dapat menyebabkan terjadinya Sick Building Syndrome (SBS) atau sindrom bangunan sakit. Tujuan peneltian ini adalah untuk mengukur gambaran kondisi kualitas udara di dalam ruangan non kumuh. Sampel pada penelitian ini adalah Kelurahan Pasteur RW6, Kecamatan Sukajadi yang dipilih berdasarkan kriteria yaitu termasuk kawasan non kumuh, serta partisipasi masyarakat yang tinggi. Metode Penelitian yang digunakan adalah cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan gambaran kualitas udara di dalam ruangan pada rumah tinggal non kumuh, kelembaban berada di atas standar yang dipersyaratkan, sehingga memicu tingkat pertumbuhan jamur yang melampaui batas normal. Parameter suhu berada dalam kategori yang dipersyaratkan, namun berdasarkan hasil temuan sebagian masyarakat kurang nyaman dengan suhu ruang pada rumah tinggal. Parameter Formadehilda dan VOC berada pada batas normal, hal tersebut diindikasikan karena sebagian besar masyarakat tidak menggunakan produk-produk kimia, jarang melakukan aktivitas merokok di dalam rumah, serta jarang menghidupkan mesin kendaraan bermotor di dalam rumah. Kata Kunci: kualitas udara di dalam ruangan, Sick Building Sindrome (SBS)
Pengaruh Aplikasi Material Fasade Bangunan Terhadap Upaya Konservasi Energi Dengan Pendekatan Evaluasi Desain Berbasis BIM (Building Information Modeling) Christian, Petra; Kamurahan, Steven Richard
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 1 (2021): Vol. 4 Ni. 1 (2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Februari 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i1.30181

Abstract

Pengunaan penghawaan udara buatan (AC) dan perangkat mekanikal bangunan saat ini umumnya memiliki porsi yang besar pengunaan energi listik selain untuk kebutuhan pencahayaan. Hal ini mendorong pentingnya pertimbangan desain serta pemilihan material bangunan secara seksama, sehinga selain dapat menghemat biaya operasional juga dapat memberi sumbangsih dalam upaya konservasi energi. Dengan pendekatan perancangan bangunan berbasis BIM (Building Information Modeling), bangunan dapat didesain secara virtual multidimensi berdasarkan komponen dan spesifikasi materialnya serta dapat disimulasikan karakteristik materialnya, salah satunya dalam hal kemampuan material untuk mengisolasi panas.  Semakin tinggi kemampuan material fasade menahan panas, maka semakin sedikit energi lisrik yang dipakai pada bangunan untuk unit pendinginan buatan (AC). Studi kasus penelitian ini adalah gedung kampus Universitas Prisma di Kota Manado yang selesai dibangun tahun 2018 dan  memasuki masa operasional dengan fungsi utama mewadahi aktifitas perkuliahan serta aktifitas administrasi penunjangnya. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah permodelan dan simulasi tiga dimensi (3D) bangunan yang  difokuskan pada evaluasi pengunaan energi dengan kriteria performa tertentu, yakni melalui fitur Evaluation Energy pada sofware Archicad R.24.Kata Kunci : Material Fasade, Evaluasi Energi, BIM Archicad  
Green Corridors: Potensi Peningkatan Ruang Terbuka Hijau Publik Ramah di Kota Padat (Studi Kasus Kota Malang) Aguspriyanti, Carissa Dinar
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 2 (2021): Vol. 4 No. 2(2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i2.33439

Abstract

Jalan-jalan perkotaan, sebagai infrastruktur utama yang mencakup sekitar sepertiga dari lanskap kota, dapat dipertimbangkan untuk dijadikan koridor hijau guna menjawab isu kurangnya ketersediaan ruang terbuka hijau di kota-kota padat, yang notabene memiliki keterbatasan ruang terbuka akibat pembangunan yang masif. Di sisi lain, jalan perkotaan tersebut juga mampu berperan sebagai ruang publik. Penelitian kuantitatif dan kualitatif yang mengambil studi kasus di salah satu kota padat di Indonesia, yaitu Kota Malang, ini bertujuan untuk menganalisis potensi perwujudan koridor hijau sebagai ruang publik yang ramah untuk melakukan aktivitas sosial, khususnya di kawasan komersial. Melalui studi teoritis and analisis best-practices, ditemukan prinsip-prinsip desain utama koridor hijau dan kriteria ruang publik yang ramah. Selanjutnya, dari hasil survey dan kuesioner dapat disimpulkan bahwa koridor hijau berpotensi menjadi ruang publik yang ramah sekaligus memainkan peran penting dalam meningkatkan cakupan ruang hijau di kota-kota yang padat. Semua temuan utama tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sebuah pedoman desain koridor hijau untuk site studi kasus terpilih.
Kajian Aspek Autentisitas dan Lokalitas pada Starbucks Reserve Dewata Fathona, Desti Dwi; Haristianti, Vika
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 3, No 3 (2020): Vol. 3 No. 3 (2020): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2020
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v3i3.27223

Abstract

Starbucks Reserve merupakan outlet Starbucks yang menyajikan kopi, menu, serta suasana yang lebih spesial kepada pengunjungnya dibandingkan outlet Starbucks pada umumnya. Dalam menciptakan suasana yang spesial tersebut, Starbucks selalu memunculkan aspek autentisitas  dan lokalitas sehingga masing-masing outlet Starbucks Reserve memiliki keunikan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana lokalitas dari suatu tempat dengan autentisitas dari sebuah brand dapat mempengaruhi elemen interior sehingga dapat memberikan dampak positif bagi brand tersebut. Objek penelitian yang digunakan yaitu Starbucks Reserve Dewata. Sedangkan Starbucks Reserve Roastery Tokyo dan Starbucks Reserve Roastery New York merupakan objek pembanding. Data dikumpulkan dengan metode kajian literatur dan observasi tidak langsung. Data tersebut kemudian dianalisis sehingga didapat kesimpulan bahwa aspek lokalitas memegang peranan penting dalam membangun store atmosphere yang unik di ketiga Starbucks Reserve. Hal tersebut disebabkan karena masing-masing lokasi atau daerah di mana outlet tersebut berada memiliki karakteristik tersendiri yang dipengaruhi oleh banyak aspek, misalnya sejarah, budaya, faktor geografis, dan lain-lain.
Komparasi Pengaruh Hubungan Keterikatan Tempat dan Citra Tempat Ketiga terhadap Desain Kafe Barkah, Muhammad; Agustriana, Krisna; Sharif, Shania Adhalia; Ekomadyo, Agus Suharjono; Susanto, Vanesa
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 4, No 1 (2021): Vol. 4 Ni. 1 (2021): Jurnal Arsitektur Zonasi Februari 2021
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v4i1.29926

Abstract

Kedai kopi/kafe di Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan. Jumlah gerai dan konsumsi domestik kopi meningkat dalam kurun waktu tiga tahun. Pertumbuhan kafe yang pesat dipengaruhi oleh budaya generasi Y dan Z yaitu singgah di kafe sembari menyesap kopi. Kafe sebagai tempat ketiga dapat memberikan dampak yang baik terhadap peningkatan kualitas hidup pelanggan dan lingkungan sekitarnya. Interaksi antara kafe dan konsumen dapat menimbulkan rasa keterikatan tempat yang mampu menghasilkan citra. Desain yang baik adalah desain yang memberikan pengaruh terhadap pemaknaan ruang bagi pengguna sehingga tercipta citra yang diharapkan sebagai tujuan kenapa fasilitas tersebut dirancang. Metodologi penelitian adalah kuantitatif dengan mengolah data hasil sebaran kuesioner dan kualitatif dengan observasi serta wawancara. Penyusunan kuesioner berlandaskan teori keterikatan tempat oleh Waxmann (2006). Pedoman wawancara berlandaskan teori kafe sebagai tempat ketiga oleh Tjora dan Scambler (2013). Panduan observasi berlandaskan teori tempat ketiga oleh Oldenburg (1999). Penentuan kafe sebagai objek penelitian berdasarkan asas kontradiksi. Kafe berada di lingkungan yang padat dan lengang. Tujuan penelitian ini adalah meninjau implikasi hubungan keterikatan tempat dan citra tempat ketiga terhadap desain. Hubungan antara keterikatan tempat dengan citra kafe sebagai tempat ketiga adalah timbal balik. Semakin tinggi derajat keterikatan tempat, maka semakin baik citra kafe sebagai tempat ketiga. Perbandingan pengaruh hubungan keterikatan tempat dan citra tempat ketiga terhadap desain kafe dapat ditinjau dari aspek sirkulasi, denah, pola ruang, aksesibilitas, akomodasi, universalitas, dan impresi.

Page 7 of 22 | Total Record : 213