cover
Contact Name
pramesti
Contact Email
fadesti@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
fadesti@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa
ISSN : 20870795     EISSN : 26220652     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
The main focus of this journal is to promote global discussion forums and interdisciplinary exchanges among academics, practitioners and researchers of visual arts and visual culture. Series will encourage practice and research innovation that focuses on visual arts and visual culture, contributing to a better understanding of the highly dynamic development of dynamic theories, practices and discourses of visual art and visual culture.
Arjuna Subject : -
Articles 452 Documents
PERANCANGAN IDENTITAS VISUAL KELURAHAN BALUWARTI SEBAGAI KAMPUNG WISATA BUDAYA DI SURAKARTA Zarkasi, Much. Sofwan; Panindias, Asmoro Nurhadi
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 7 No. 2 (2015)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/bri.v7i2.1593

Abstract

Untuk mencapai tujuan sebagai kampung wisata budaya, dibutuhkan branding agar Baluwarti tertata dan terarah, memiliki satu tujuan, satu gaya, satu visual sehingga memiliki brand image atau citra di benak target konsumen. Tujuan dari kekaryaan seni ini adalah untuk memecahkan masalah dalam merancang destination branding identitas visual Baluwarti sebagai Kampung Wisata Budaya dengan menguatkan image tradisional dan klasik melalui media komunikasi visual. Perancangan ini menggunakan pendekatan A-A Procedure sebagai pentahapan komunikasi persuasif mulai dari usaha membangkitkan perhatian (attention) kemudian berusaha mempengaruhi orang untuk melakukan kegiatan (action) seperti yang diharapkan. Kemudian dalam mendapatkan data karakter kawasan Baluwarti    digunakan teori dari Kevin Lynch yang menyebutkan 5 elemen yang membentuk kawasan yaitu Path (jalur), Edge ( tepian ), District (kawasan), Nodes (simpul), Landmark (Tetenger) dan selain itu juga data dari Consumers journey (pengamatan kunjungan konsumen). Produk perancangan yang dihasilkan, berupa prototype pedoman sistem identitas termasuk eksplorasi dalam perancangan nama, logo, warna, tipografi berupa logo Baluwarti dan nama kampung di kawasan Baluwarti yang menjadi bagian rangkaian sistem identitas. Penguatan image tradisional menjadi acuan utama dalam perancangan ini mengingat Baluwarti masuk dalam kawasan Kraton Kasunanan Surakarta yang masih menjunjung tinggi nilai tradisi, diharapkan akan menunjukan keunikan, kekhasan dan kekuatan dari Baluwarti. Kata kunci : Identitas visual, destination branding, Baluwarti
HIASAN WAYANG PADA ATAP RUMAH TRADISIONAL KUDUS DALAM KAJIAN MAKNA DAN SIMBOLIS Afrizal, A.,
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 7 No. 2 (2015)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/bri.v7i2.1595

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mencari jawaban atas pertanyaan mengenai sejarah terbentuknya hiasan wayang pada atap rumah tradisional Kudus. Pertanyaan tersebut meliputi: apa yang dimaksud dengan hiasan wayang; mengapa diciptakan; kapan mulai diciptakan; siapa pemrakarsanya; dan bagai mana arah perkembangannya. Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi penggunaan simbol hiasan wayang pada atap rumah tradisional Kudus merupkan perpaduan antara kepercayaan agama Hindu dengan kepercyaan agama Islam. Faktor internal bahwa masyarakat pada umumnya mereka itu mengenal tokoh- tokoh dalam pewayangan dengan baik dan di antaranya kebanyakan menganggap bahwa Bima sebagai tokoh idola dan legendaris mereka. Faktor eksternal adanya perubahan bentuk pada wayang-wayang yang dilakukan oleh para ulama agar tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Di antara wayang hasil karya para ulama atau wali tersebut adalah wayang purwa dan wayang kancil. Wayang Purwa yang terbuat dari kulit kerbau itu ditransformasikan menjadi wayang kulit yang bercorak Islami. Para wali penyebar Islam di Jawa pun mengubah cerita wayang dengan menyisipkan ajaran-ajaran dan pesan moral yang sesuai dengan ajaran Islam. Salah satu contoh ajaran moral Islam yang terkandung dalam cerita wayang dapat kita jumpai pada tokoh Bima dalam lakon “Bima Suci”.Ajaran moral Islam yang terkandung dalam lakon “Bima Suci” dibagi ke dalam empat tahapan, yakni syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.Hiasan pada atap rumah tradisonal Ku­dus, merupakan hiasan tiga dimensi, dan sebenarnya merupakan wujud dari sebuah wuwung. Secara umum bentuk hiasan pada atap rumah tradisional Kudus, dapat dikategori­kan menjadi dua macam. Ragam hias pertama oleh masyarakat setempat sering disebut sebagai bentuk hiasan wayangan.dan kedua  bentuk gelung wayang. Kata kunci : Ornamen, Wuwung 
ESTETIKA SENI TATO KOMUNITAS PUNK DI SURAKARTA Suriandari, Dyah Agustin
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 7 No. 2 (2015)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/bri.v7i2.1599

Abstract

Fokus bahasan artikel ini adalah: estetika tato pada komunitas punk yang memiliki pewarnaan dan pemilihan bentuk yang berbeda dari visual tato pada umumnya. Metode penelitian menggunakan penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Objek yang diteliti adalah karya seni tato dengan mengamati estetika yang tekandung pada tato anggota komunitas punk. Validitas data yang digunakan adalah teknik triangulasi data dengan memanfaatkan sumber data dan wawancara narasumber. Proses Penelitian ini berusaha mengungkapkan estetika yang terkandung dalam karya seni tato pada anggota komunitas punk di Surakarta. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif untuk mengkaji estetika bentuk dan makna yang terkandung dalam pada karya seni tato komunitas punk di Surakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Anggota komunitas punk di Surakarta mengekspresikan dirinya dengan menggunakan seni tato. Perwujudan seni tato yang di temukan pada komunitas punk di Surakarta dilatar belakangi oleh apresiasi penghargaan untuk mengabadikan nama anak, rasa sayang kepada ibu dan mencari jati diri dengan mentato tubuh. Karakteristik tato pada komunitas punk di Surakarta, terdapat pada pemilihan bentuk tengkorak, kata against,living free,dan kubus keseluruhannya bertema kritik sosial. Estetika seni tato komunitas punk di Surakarta yaitu pada pencapaian karakter bentuk, gradasi warna, garis, letak penempatan pada media tubuh yang sesuai dengan visual gambar. Kata kunci: Estetika, punk, tato
KAJIAN ESTETIKA SENI LUKIS OBJEK ALAM KARYA ARFIAL ARSAD HAKIM Asmoro, Yudo Apri
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 7 No. 2 (2015)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/bri.v7i2.1601

Abstract

Artikel ini membahas tentang proses penciptaan karya seni lukis yang dilakukan oleh Arfial Arsad Hakim. Fokus permasalahan yang menjadi pokok bahasan skripsi ini adalah: Estetika Seni lukis Objek Alam Arfial Arsad Hakim. Metode penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Kajian estetika seni lukis objek alam karya Arfial Arsad Hakim menggunakan teori dari Weits Mooris. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai nara sumber, sumber tertulis dan foto guna memperoleh data yang diperlukan. Penulis menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, studi pustaka, dan pendokumentasian. Proses analisis data interpretasi dan interaksi denganpendekatan teori Weitz Moris dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu: pengumpulan data, reduksi, sajian data, serta kesimpulan. Hasil penelitian dari Kajian Estetika Seni Lukis Objek Alam Karya Arfial Arsad Hakim adalah, pencarian jati diri merupakan sesuatu yang berat bagi Arfial Arsad Hakim, pengaruh seni abstrak yang merubah gaya seni lukis Arfial Arsad Hakim untuk meninggalkan objek alam namun tetap beraliran naturalis, objek alam dbuat dengan mendistorsi bentuk sehingga lebih sederhana namun tetap harmonis dan menyederhanakan warna. Bentuk visual seni lukis karya Arfial Arsad Hakim mengalami penyederhanaan bentuk dan warna, bentuk divisualkan lebih sederhana namun tetap harmonis dengan sapuan kuas yang halus, menggunakan warna yang teduh dan tidak kontras, sapuan yang halus menghasilkan garis yang lembut. Sedangkan menurut Pendapat pengamat seni mengenai lukisan karya Arfial Arsad Hakim melukiskan alam yang berbeda dengan pelukis alam lainya melainkan alam yang telah mengalami perubahan dari segi objek dan komposisi dan memberikan kesan ketenangan dan kelembutan walaupun Arfial Arsad Hakim adalah seorang yang teguh dan keras akan tetapi Arfial Arsad Hakim senang berdialog dengan ketenangan dan kelembutan.Kata kunci: Estetika, Objek, Seni Lukis Arfial Arsad Hakim 
BATU NISAN ITU BERNAMA “IDENTITAS” Problem “Refleksivitas” dalam Pemikiran filsafat “Post-Modernisme” terhadap masyarakat multikultural Dharsono, D.,
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 7 No. 2 (2015)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/bri.v7i2.1603

Abstract

Post-Modern merupakan fenomena baru yang berkembang di dunia belahan barat. Sekelompok filosuf Perancis yang terlibat dalam upaya menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran, makna dan subyektivitas: Foucault, Derrida, lyotard, Lacan dan Deleuze. Kaum Post-Strukturalis dan akhir-akhir ini sering disebut sebagai pemikir post-modernis mengajukan gugatan dan menentang pandangan dunia universal yang menyeluruh, tunggal dan mencakup; baik yang bercorak politik, religius maupun sosial seperti marxisme, kristianitas, kapitalisme, demokrasi liberal, humanisme, islam, fiminisme dan sains modern.Kaum post-modern juga mempertanyakan gagasan tentang kemajuan (progress) serta keunggulan masa kini atas masa lampau. Mereka tidak mengakui adanya batas yang tegas antara ilmu alam, humaniora, ilmu sosial, seni dan sastra, antara budaya dan kehidupan, fiksi dan teori, citra dan realitas. Mereka juga menolak gaya ‘discourse’ akademis yang konvensional (pemikiran modern). Penilaian yang negatif ini berasal dari kesalahan memposisikan pemikiran tradisi filsafat Barat secara umum. Pertama, pemikiran pukul-rata dan dimasukan ke dalam satu kotak dengan sesuatu yang jamak disebut “post-modernisme”. Kedua yaitu Dengan menyamaratakan dekonstruksi dengan post-modernisme, orang-orang cenderung memberikan label nihilis, relativis dan anarkis terhadap dekonstruksi. Ruang Fleksibilitas: mediasi musikal dalam konsep post-modernitas merupakan ruang inter-refleksitas terhadap masyarakat multikultur. Apabila di dalam konsep modern dalam mediasi kesenian  terikat oleh konvensi-konvensi yang beku maka di dalam pemikiran pos-modern secara konsepsi kembali ke konteknya walau dalam situasi yang berbeda oleh pranata sosial masyarakat Kunci: modern, dekontruksi, post-modern, ruang fleksibelitas
KAJIAN SENI LUKIS KARYA SUATMADJI TEMA SAVE THE CHILDREN PERIODE 2004-2013 Wulandari, Diyah Eka
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 8 No. 1 (2016)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/bri.v8i1.1797

Abstract

Pokok bahasan artikel ini adalah: perjalanan seni lukis karya Suatmadji, dengan tema "Save The Children",  periode 2004-2013, proses penciptaan seni lukis karya Suatmadji, dan estetika seni lukis karya Suatmadji dengan tema "Save The Children",  periode 2004-2013. Pendekatan penelitian menggunakan teori estetika dari Teori Monroe Beardsley untuk menganalisis bentuk lukisan. Pendekatan penelitian lainnya dengan menggunakan aspek teknis dengan analisis interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Suatmadji adalah seniman yang memiliki gaya seni lukis kontemporer dengan teknik mixed media, menggunakan medium readymade (barang jadi). Bagi Suatmadji, kontemporer adalah sarana komunikasi. Selain itu, Suatmadji tetap memasukan elemen-elemen tradisional berupa aksen-aksen Jawa yang kental. Semua karya Suatmadji mengharapkan kesederhanaan, kejujuran kedamaian, bagi kehidupan masyarakat dengan konsep jawa sebagai pendidikan budi pekertinya. Lewat metode analisis Interpretasi pada lukisan Suatmadji dapat mengetahui bahwa karya Suatmadji tema Save The Children periode 2004-2013 menggunakan asas informal (tidak simetris) untuk menggekspresikan makna agar dapat mudah dipahami dan dimengerti oleh penikmat. Kata kunci : Seni lukis, Suatmadji, Save The Children periode 2004-2013
KARYA SENI LUKIS BIBIT WALUYA PADA PAMERAN TEMACULTUUR=TANDUR DI BENTARA BUDAYA JAKARTA TAHUN 2012 Firdausi, Findha Dwi Laila
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 8 No. 1 (2016)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/bri.v8i1.1799

Abstract

Artikel ini menjelaskan latar belakang konsep berkesenian Bibit Waluya yang cenderung mengangkat konsep peristiwa dalam aktivitas kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Istilah cultuur dalam bahasa Belanda berasal dari kata mengelola atau mengolah tanah (bercocok tanam), merupakan sebuah konsep dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Bibit Waluya melakukan pendekatan terhadap suatu kebudayaan sebagai tema pameran tunggalnya serta dalam konsep karya-karya lukisnya. Dilihat dari tema dan konsep yang telah diusung oleh Bibit Waluya, karya lukisnya memunculkan aktivitas masyarakat dari berbagai kalangan seperti petani, pedagang, pejabat, budayawan dan sebagainya. Hal ini bertujuan agar masyarakat dapat menjaga serta melestarikan budaya Jawa berdasarkan atas gagasan tentang pesan moral yang diungkapkan oleh Bibit Waluya dalam karya lukisnya. Pembahasan mengenai estetika seni lukis karya Bibit Waluya  menggunakan pendekatan teori Monroe Beardsley tentang kesatuan (unity), kerumitan (complexity), dan kesungguhan (intensity). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Bibit Waluya telah menjadikan identitas budaya Jawa sebagai tema yang diusung dalam pameran tunggalnya. Kemudian Bibit Waluya telah mengolah rupa wayang beber menjadi bentuk wayang beber yang menjadi khas dalam lukisannya yaitu dengan proporsi realis. Selain itu juga mempunyai karakter dalam bentuk garis yaitu teknik sunggingnya serta mengangkat konsep yang berhubungan dengan budaya Jawa dalam karya-karya lukisnya. Kata kunci : seni lukis, Bibit Waluya, cultuur=tandur
SIMBOL NAGA CINA SEBAGAI RANGSANG CIPTA STUDI PENCIPTAAN KARYA ACTION PAINTING Djaka S, Tegus
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 8 No. 1 (2016)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/bri.v8i1.1801

Abstract

Gagasan isi karya dalam studi penciptaan karya action painting ini yaitu untuk membuat karya seni rupa berdasarkan hasil riset tetang figur naga sebagai lambang, dan simbol ekspresi dalam kebudayaan Cina.Citra visual yang dihadirkan dalam studi penciptaan karya action painting ini menggunakan konsep brikolase, yaitu penataan ulang dan pemaduan objek-objek penanda yang sebelumnya tidak saling terkait untuk menghasilkan makna-makna baru dalam konteks yang baru. Dalam brikolase sebuah objek yang telah mempunyai endapan makna simbolik tertentu dimaknai kembali dalam hubungannya dengan artefak lain dan dalam konteks yang baru. Dalam hal ini tentu saja yang dimaksud dengan tanda-tanda kultural yang sudah punya makna mapan, adalah figur naga dalam kebudayaan Cina.Selain itu, studi penciptaan karya action painting ini berbasis riset yang fokus pada penelusuran simbol naga Cina sebagai rangsang penciptaan karya dan teori “gerak” Issac Newton untuk mengeksplorasi pantulan bola yang menjadi salah satu elemen dalam action painting.Simbol naga dalam kebudayaan Cina tersebut dipinjam sebagai bahasa metafora dalam penciptaan karya seni action painting dengan ekpresi personal dan kultural. Kata Kunci: simbol. naga Cina, brikolase, ekspresi personal, action painting.
KEBERADAAN SENI LUKIS DAMAR KURUNG MASMUNDARI Utama, M. Wahyu Putra
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 8 No. 1 (2016)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/bri.v8i1.1803

Abstract

Damar Kurung sebagai aset budaya yang memiliki sejarah Abouti sejarah dan keberadaan Walisanga sebagai agama Islam penyebar dan budaya sebagai alat untuk membuat atau media sebagai penyebaran Islam. Pengembangan dan keberadaan Damar Kurung Masmundari dalam proses menciptakan sebuah lukisan dipengaruhi oleh gejala yang ada di sekitar Masmundari tinggal. Masmundari catatan peristiwa dalam kehidupan sosial dan dituangkan ke dalam pekerjaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi Masmundari dalam menciptakan lukisan adalah fenomena yang terjadi di masyarakat di mana tempat tinggal pada waktu tertentu, yang menyebabkan perubahan dalam masyarakat Gresik. Perubahan-perubahan yang terjadi secara bertahap sehingga menimbulkan budaya baru yang merupakan hasil dari kondisi penyesuaian masyarakat. Sebuah budaya baru dalam perubahan berarti dalam kebiasaan orang di luar hal-hal yang harus dilakukan setiap hari. Masmundari kehidupan masyarakat mendongeng Gresik yang meliputi segi agama, budaya, seni, kehidupan sosial, dan teknologi melalui lukisan. Proses kreativitas dalam memvisualisasikan menjadi karya seni yang dibuat untuk latar belakang Masmundari pengalaman estetis, membuat lukisan Masmundari memiliki karakter yang khas dari visual. Penggunaan simbol-simbol sederhana dalam penggambaran, Masmundari ingin menyampaikan bahwa masyarakat Gresik keragaman dan kekayaan budaya yang khas dari pengaruh nuansa Islam.Keyword: Damar Kurung, Eksistensi, Masmundari
SARANG BURUNG MANYAR SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA SENI RUPA Dardiri, Achmad; Bahari, Nooryan; Ardianto, Deny Try
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 8 No. 1 (2016)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/bri.v8i1.1805

Abstract

Penciptaan Karya Seni dengan mengangkat Judul Sarang Burung Manyar sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Rupa ini bertujuan untuk : (1). Menggali nilai Artistik  dan simbolik dari Sarang Burung Manyar (2). Mengeskpresikan kegelisahan akan permasalahan kondisi ekologi burung akibat berkurang habitat bagi burung, dengan harapan mampu memberikan kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya perlindungan akan alam.  (3). Mengaplikasikan Medium plat besi Janur recycle yang memiliki karakter sebagaimana medium dalam sarang burung Manyar kedalam karya seni (4)Penerapan teknik Anyam Acak dari medium Limbah Besi Janur menjadi karya seni.Hasil karya dalam penciptaan karya ini ada 6 buah karya dengan media utama limbah besi janur dengan didukung  plat besi dan besi Hollow. 6 karya tersebut antara lain: 1.Egg Shadow (120 X 50 X 152 cm), 2. Beda Bolehkan ?(Sarang Thick Billed) (170 X 50 X 195 cm), 3. The Apartemen (70 X 70 X 205 cm), 4. Home of The Explorer (60 X 90 X 60 cm), 5. Calon Generasi Penganyam ( 60X120X100 cm) , 6. Maaf Aku Mengambil Makananmu ( 40X40X140 cm). Ke enam karya mencoba mengkomunikasikan tentang sarang burung Manyar.Kata Kunci : Karya seni rupa, sarang burung Manyar