cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Majalah Keperawatan Unpad
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 88 Documents
PENYEBARAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH BERDASARKAN FAKTOR CUACA DAN IKLIM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CIWARUGA KABUPATEN BANDUNG BARAT Redaksi Team
Majalah Keperawatan Unpad Vol 11, No 20 (2009): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.686 KB)

Abstract

Faktor cuaca dan iklim mempengaruhi perkembangan berbagai organisma, termasuk binatang pembawa penyakit (vector borne diseases) seperti nyamuk penyebab demam berdarah. Fenomena pemanasan global dan perubahan iklim diperkirakan akan meningkatkan kasus demam berdarah, antara lain di wilayah pegunungan dan wilayah lintang tinggi, yang tadinya tidak dihuni oleh nyamuk demam berdarah. Penelitian ini bertujuan mempelajari gambaran penyebaran penyakit demam berdarah berdasarkan faktor cuaca dan iklim di wilayah kerja Puskesmas Ciwaruga Kabupaten Bandung Barat. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif untuk mendapatkan gambaran tentang penyebaran penyakit demam berdarah serta gambaran faktor cuaca dan iklim. Data yang digunakan meliputi data pasien penderita penyakit demam berdarah yang berobat ke Puskesmas Ciwaruga selama tahun 2006-2009, data suhu udara  (1998-2007) dan curah hujan (1953-2007) yang dipantau oleh Stasiun Meteorologi Cemara Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah penderita demam berdarah di Puskesmas Ciwaruga meningkat pada bulan Februari dan bulan Agustus. Kenaikan tersebut diperkirakan dipengaruhi oleh kondisi kenaikan curah hujan dan kenaikan suhu udara yang juga memperlihatkan dua puncak dalam satu tahun. Hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai peringatan dini dalam upaya antisipasi terhadap penyebaran penyakit demam berdarah dengan meningkatkan kondisi lingkungan serta kesehatan masyarakat. Kata Kunci : Dengue, Demam, Cuaca AbstractWeather and climate affect development of various organisms, including vector borne diseases, such as mosquitos which caused dengue fever. Global warming and climate change are predicted to increase of dengue fever cases, especially at higher altitude and latitude, previously untraveled by the mosquitos. This research aims to describe distribution of dengue fever based on weather and climate condition in Ciwaruga Community Health Centre in West Bandung Regency. The data used include the number of patient suffering dengue fever seeking treatment at the health centre during 2006-2009, air temperature (1998-2007) dan rainfall (1953-2007) data monitored by the Cemara Meteorological Station in Bandung. The results indicated that the number of dengue fever patients at Ciwaruga Community Heath Centre increased in Februari and August. The increases tend to be affected by the increase in rainfall and air temperature, which also showed two peaks in one year. The results could be used as an early warning in an effort to anticipate develeopment of dengue fever by improving environmental condition and community health.  Keywords : Dengue, Fever, Weather
SIKAP SISWA SLTA TERHADAP PERILAKU SEKS BEBAS DI LINGKUNGAN KABUPATEN TASIKMALAYA Redaksi Team
Majalah Keperawatan Unpad Vol 11, No 20 (2009): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kasus seks bebas di Indonesia ternyata cukup mengejutkan, apabila dikaitkan dengan kenyataan bahwa negara Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama serta budaya tradisional yang sangat menabukan aktivitas seksual sebelum menikah terhadap siswa SLTA. Sikap siswa SLTA terhadap bentuk seks bebas merupakan suatu bentuk evaluasi perasaan terhadap suatu sikap yang cenderung menerima (favorable) atau cenderung tidak menerima (unfavorable) terhadap seks bebas yang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran sikap siswa SLTA terhadap seks bebas di kabupaten Tasikmalaya. Jenis penelitian adalah deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa SLTA di lingkungan Kabupaten Tasikmalaya. Jumlah sampel sebanyak 98 responden dengan teknik pengambilan simple random sampling dari 4 SMA yaitu SMA 1 Ciawi, SMA 1 Singaparna, SMA 1 Manonjaya dan MAN Cipasung. Data dikumpulkan dengan instrumen quesioner skala likert berdasarkan sub variable seks bebas, kemudian diolah dan dianalisa dengan menggunakan rumus persentase dan proporsi. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar dari responden (64,30%) yang tidak menerima (unfavorable) terhadap seks bebas, dan ada hampir setengahnya dari responden (35,70%) mempunyai sikap menerima terhadap seks bebas (favorable). Untuk sub variabel Necking (perilaku keintiman seksual dengan aktivitas menyentuh dan mencium bagian leher ke atas) hampir setengah (40%) dari siswa responden yang menerima terhadap perilaku Necking dan 60% dari siswa responden bersikap tidak menerima perilaku Necking. Untuk sub variabel Petting hampir setengahnya (36%) dari siswa responden yang bersikap menerima terhadap perilaku petting (perilaku keintiman seksual dengan cara pengaduan organ genital tanpa membuka baju) dan 64% tidak menerima perilaku Petting. Untuk sub variabel Premarital Intercourse, hampir setengahnya (30%) dari siswa responden yang mempunyai sikap menerima terhadap perilaku berhubungan intim sebelum menikah (premarital intercourse), sedangkan 70% tidak menerima perilaku tersebut. Berdasarkan hasil penelitian diatas maka disarankan kepada Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya diharapkan mampu membuat program pendidikan untuk mengisi waktu-waktu luang siswa dengan kegiatan keilmuan, keagamaan dan seni olahraga yang bermanfaat bagi siswa dan merancang pendidikan kesehatan reproduksi bagi siswa SLTA kabupaten Tasikmalaya. Kata Kunci : Sikap, Siswa SLTA, Seks Bebas ABSTRACT Free sex in Indonesia actually was horrified, if attributable to fact that Indonesia as a country that has a high norm and religion and eastern customs that unlikely about free sex activity before married of senior high school student. The attitude of student senior high school about a reaction evaluation type to accept (favorable) or not to accept (unfavorable) about free sex habit. The attitude is influenced by external and internal factors. The research was conducted to explore attitude of senior high school student on free sex in Tasikmalaya District. The type of this research was descriptive quantitative. Populations in this research were all student senior high school in Tasikmalaya Residence. Samples have taken by simple random sampling and total sample were 98 student from Senior High School 1 Ciawi, Senior High School 1 Singaparna, Senior High School 1 Manonjaya and Man Cipasung. The data was collected by questioner and then analyzed with percentage and proportion formula. Result of this research show that a half of respondents ( 64,30% ) were favorable about free sex and almost a half of respondents ( 35,70% ) has accept ( unfavorable ) about free sex. Based on necking sub variable, almost half of respondents has accept activity of Necking by touching and kissing from neck to up and 60% of respondents has don’t accept necking activity. Based on petting sub variable, almost half of respondents has accept petting activity, and half of respondents has didn’t accept petting activity. Based on premarital intercourse sub variable, almost half of respondents has accept premarital intercourse activity and 70% has didn’t accept premarital intercourse activity. The result of research show no good condition. Because of this situation, everyone especially government should plan a good education program seriously for substitute spend more time student’s by science activity, religion activity, art and sports that useful for students senior high school and must plan reproduction health education for students senior high school in Tasikmalaya Residence. Keywords : Free sex, Attitude, Senior High School Student
PENGARUH EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (EFT) TERHADAP PENINGKATAN HARGA DIRI NARAPIDANA PEREMPUAN DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS IIA BOGOR Nur Oktavia Hidayati; Achir Yani S. Hamid; Tutik Sri Hariyati
Majalah Keperawatan Unpad Vol 13, No 2 (2011): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.244 KB)

Abstract

Nur Oktavia Hidayati*Achir Yani S. Hamid**Tutik Sri Hariyati**                                                                                      ABSTRAKSalah satu isu penting dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) adalah masalah gender dan masalah psikososial. Hampir 73% gangguan jiwa di derita oleh narapidana perempuan di  Amerika Serikat. Salah satu masalah yang banyak dikeluhkan oleh narapidana perempuan yang ada di Lapas Bogor adalah harga diri rendah, sehingga perlu sekali suatu terapi seperti EFT yang berguna untuk meningkatkan harga diri mereka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh Emotional Freedom Technique (EFT) terhadap peningkatan harga diri narapidana perempuan. Desain penelitian adalah one group pre test–post test (before and after). Teknik penarikan sampel penelitian adalah purposive sampling dengan jumlah sampel 32 responden. Analisis data univariat dengan menganalisis variabel-variabel secara deskriptif dengan menghitung distribusi frekuensi dan proporsi, mean, median, standar deviasi, minimal–maksimal, 95%CI. Analisis bivariat menggunakan dependent sample t-test dan rank-spearman test. Hasil penelitian menunjukkan rata–rata umur responden 28,03 tahun, rata–rata lama masa hukuman adalah 2,72 tahun, pendidikan paling banyak berada pada tingkat SMA, dan responden paling banyak berstatus kawin. Rata-rata harga diri sebelum EFT adalah 21,16 dan rata-rata harga diri sesudah EFT adalah 24,72. Ada perbedaan yang signifikan antara harga diri sebelum dan sesudah EFT (p-value=0,000), ada hubungan yang signifikan antara umur dan harga diri setelah diberikan EFT (p-value=0,000), tidak ada hubungan antara pendidikan, status perkawinan dan lama masa hukuman dengan harga diri setelah diberikan EFT. Dari  hasil tersebut perlu adanya pelatihan-pelatihan dan seminar tentang EFT bagi tenaga kesehatan khususnya keperawatan dalam upaya meningkatkan pelayanan keperawatan bagi komunitas terbatas seperti narapidana yang ada di Lapas. Kata Kunci: EFT, Harga Diri, Lapas, Narapidana perempuan  ABSTRACTOne important issue in prisons is a matter of gender and psychosocial problems. Nearly 73% of mental disorder suffered by female inmates in the United States. One problem that many inmates complained of by the women in prison Bogor is low self esteem, so it is essential to a therapy such as EFT is useful for improving their self esteem. The goal of this research was to determine the influence of Emotional Freedom Technique (EFT) for self-improvement of women inmates. The design research used one group pre test - post-test (before and after). Sample was taken totally 32 respondents with purposive sampling. Univariat data analysis analyzed variables descriptively with calculating the frequency distribution and proportion, mean, median, deviation standart, minimal–maximal, 95%CI. Bivariat analysis used dependent sample t-test and rank-spearman test. The Results of this research showed the average age of respondents were 28.03 years old, the average of sentences was 2.72 years, the most education was on high school level, and most respondents were married. The average value of self esteems before the EFT was 21.16 and the average value of self esteem after the EFT was 24.72. There was significant difference in the self esteem level before and after EFT (p-value = 0.000), there was significant relation between age and self esteem after EFT (p-value = 0.000), there was no relation between education, marital status and duration sentences period with self esteem after given by EFT. This result encouraged necessary training and seminars about EFT for health worker especially nurse in effort to improve nursing services in the limited community such as inmates  in prison. Keywords : EFT, Prison, Self esteem, Women inmates
PENGELOLAAN BAYI BARU LAHIR DENGAN ASFIKSIA DI RUANG PERINATOLOGI RSUD SUMEDANG Redaksi Team
Majalah Keperawatan Unpad Vol 12, No 1 (2010): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.987 KB)

Abstract

ABSTRAK Tingginya angka kematian bayi baru lahir di Indonesia terlihat dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) asfiksia merupakan penyebab kematian ke-2 bayi baru lahir setelah BBLR. Tenaga kesehatan memiliki peran yang sangat penting dalam upaya penurunan mortalitas dan morbiditas akibat asfiksia. Dalam melakukan pengelolaannya, tentunya perawat harus dibekali pengetahuan yang memadai dan keterampilan harus dikuasai dengan baik agar terbentuk perilaku yang baik dalam pengelolaan ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengelolaan bayi baru lahir dengan asfiksia di Ruang Perinatologi RSUD Sumedang. Desain penelitian ini desriptif kuantitatif dengan 20 orang responden. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Dihitung secara persentase dan data disajikan dalam bentuk tabel dan diagram Pie disertai dengan pembahasannya. Hasil penelitian didapatkan pada aspek pengetahuan sebanyak 55% pada kriteria cukup, dalam hal persiapan dan penilaian bayi, 35% antara baik dan kurang dalam pelaksanaan, dan 55% kurang dalam pemantauan lanjutan. Sedangkan pada penatalaksanaannya sebanyak 60% termasuk kriteria baik dalam hal menjaga bayi tetap hangat dan mengeringkan serta memberi rangsang taktil. Pihak rumah sakit disarankan dapat dilakukan pengayaan tentang pengetahuan dan pelaksanaan untuk meningkatkan kualitas pengetahuan dan keterampilan perawat ruang Perinatologi RSUD Sumedang. Kata Kunci : Pengetahuan, Pengelolaan, Asfiksia, Bayi baru lahir ABSTRACT According to Indonesian’s Demography and Health Survey (IDHS) in 2003, Indonesia still has relatively high Infant mortality rate and asphyxia indicate as a main cause after low birth weight baby. Care providers act an active and important role in prevention for decreased infant mortality and morbidity effect of asphyxia. In management care, a nurse should be supported with basic knowledge and skills about care management of asphyxia. The purpose of this study was identifying of care management of infant with asphyxia in Perinatology ward RSUD Sumedang. This study was used descriptive quantitative and took desire sample size 20 respondents. Quantitative analysis was used percentage and further explanation through table and pie diagram including discussion. The result of this study showed the aspect of knowledge was 55% for criteria in moderate in terms of training and evaluation of infants, 35% indicate criteria in between good and less, and 55% less than in continued monitoring during process care management of asphyxia. Whereas the higher point 60% for good criteria in kept baby still warm and dry including provided tactile irritation. The findings of this study was suggested to Hospital to enhance for knowledge and skills nurses especially about management care of asphyxia to increased the quality of care . Keywords: Knowledge, Care management, Asphyxia, Infant
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENENTUAN DIAGNOSA KEPERAWATAN PADA MAHASISWA FAKULTAS KEPERAWATAN UNPAD Irman Somantri
Majalah Keperawatan Unpad Vol 13, No 1 (2011): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.119 KB)

Abstract

ABSTRAKProses keperawatan adalah suatu metode yang tersusun sistematis dan terorganisasi dalam pemberian asuhan keperawatan dengan fokus pada reaksi dan respons unik individu pada suatu kelompok atau perorangan terhadap gangguan kesehatan yang mereka alami, baik aktual maupun potensial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan diagnosa keperawatan oleh mahasiswa program A 2007 Fakultas Keperawatan UNPAD. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Alat pengumpulan data dengan teknik wawancara mendalam dengan menggunakan focus group discussion (FGD) partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa tingkat akhir Fakultas Keperawatan Unpad sejumlah 10 partisipan dan cara pengambilannya dengan cara purposive sampling yaitu disesuaikan dengan kriteria yang sudah ditentukan dan dengan mengocok nomor pokok mahasiswa program A 2007 untuk mendapatkan 10 dari 150 orang. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan menggunakan panduan diskusi terarah dan alat perekam (handycam). Tema  yang didapatkan adalah pengetahuan, penetapan standarisasi, persepsi fasilitator, model pembelajaran yang digunakan dan motivasi. Diperlukan penelitian lanjutan dengan metode kuantitatif untuk dapat melihat kekuatan hipotesis yang diperoleh. Kata Kunci : Diagnosa, Keperawatan, Kualitatif   ABSTRACT The nursing process is a method of systematically arranged and organized in the provision of nursing care with a focus on the unique reactions and responses of individuals in a group or individual to the health problems they experience, both actual and potential. The aim of this study was to know the description of the factors that affect the determination of nursing diagnoses by the student Regular program A-2007 in Faculty of Nursing Unpad. This study uses qualitative research methods with phenomenological approach. Focus group discussion (FGD) was used  to explore in depth information about the factors that influence the determination of nursing diagnoses student. Subject in this study is a student of Nursing Faculty Unpad. Determination of the number of partisipants is done by quota sampling is to be taken 10 partisipants and how uptake by simple random sampling is to shuffle the basic number of students A 2007 program to get 10 of 150 people. The main instrument in this study is the researchers themselves by using a discussion guide focused and tape recorders (camcorders). The theme of this study are the knowledge gained, setting standards, the perception of the facilitator, the learning models used and the motivation was found. Further research is necessary to be able to see a quantitative method for hypothesis gained strength.   Keywords : Diagnosis, Nursing, Qualitative research
KUALITAS HIDUP WANITA PENDERITA AIDS DAN WANITA PASANGAN PENDERITA AIDS DI KABUPATEN BANDUNG BARAT Redaksi Team
Majalah Keperawatan Unpad Vol 12, No 1 (2010): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.864 KB)

Abstract

ABSTRAK Angka kejadian HIV/AIDS di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Menurut data yang ada di Departemen Kesehatan maupun Komisi Penanggulangan AIDS Indonesia (KPAI) penderita HIV/AIDS sampai saat ini lebih banyak diderita oleh laki-laki dari pada perempuan dengan ratio 4,6:1 (KPAI 2007), meskipun demikian perempuan merupakan pihak yang paling rentan terhadap penularan HIV/AIDS dari pasangan atau suaminya. Kerentanan diakibatkan oleh adanya ketimpangan jender dan ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas hidup wanita dengan HIV AIDS dan wanita pasangan penderita HIV AIDS di Kabupaten Bandung Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan cara indepth interview pada enam orang informan dimana dua orang informan adalah wanita yang hidup serumah dengan penderita HIV/AIDS dan empat orang informan adalah wanita penderita HIV/AIDS. Analisa data dengan menggunakan “content analysis”. Hasil dari penelitian ini adalah secara umum tiga dari enam informan menyatakan kualitas hidup tidak ada perubahan, satu orang informan menyatakan kualitas hidup lebih baik, satu orang informan menyatakan kualitas hidupnya menurun, sedangkan satu orang informan masih dalam fase bingung dan terlihat masih tertutup. Sedangkan hasil penelitian berdasarkan kualitas hidup dari segi fisik, psikologis, sosial, spiritual dan hubungan interpersonal masing-masing informan mempunyai hasil yang bervariasi. Saran dari penelitian ini perawat sebagai pemberi pelayanan pada penderita HIV/AIDS perlu untuk senantiasa meningkatkan kualitas hidup wanita penderita HIV/AIDS dan senantiasa memperhatikan wanita pasangan/keluarga penderita HIV/AIDS untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Kata kunci : Kualitas hidup, wanita, HIV/AIDS
PENGARUH BEKAM TERHADAP PENINGKATAN DEFORMABILITAS ERITROSIT PADA PEROKOK Team, Redaksi
Majalah Keperawatan Unpad Vol 12, No 1 (2010): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.329 KB)

Abstract

ABSTRAK Deformabilitas eritrosit merupakan elastisitas bentuk eritrosit selama melewati mikrovaskuler untuk menyesuaikan diameter mikrovaskuler dan secara spontan eritrosit dapat kembali ke bentuk semula tanpa mengalami perubahan bentuk maupun fungsi. Bekam merupakan cara pengobatan tradisional yang memiliki prinsip kerja mengeluarkan darah (blood letting) di area tertentu di punggung sehingga dapat menyembuhkan penyakit. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh bekam terhadap peningkatan deformabilitas eritrosit pada perokok. Desain penelitan adalah quasy experimental dengan menggunakan rancangan Non random pretest-posttest control group design yang dilakukan terhadap manusia sebagai subjek penelitian. Dengan kuota sampling didapat 34 subjek penelitian yang terdiri dari 17 orang per kelompok. Data dianalisis secara deskriptif dan analitik dengan menggunakan komputer. Perbedaan deformabilitas eritrosit dari masing-masing kelompok berupa persentase dianalisis dengan uji t. Hasil paired-sample t-test didapat p value sebesar 0,001 maka dapat disimpulkan pengaruh bekam terhadap peningkatan deformabilitas eritrosit pada perokok pada kelompok perlakuan adalah sangat bermakna karena p < 0,05. Hasil independent t-test didapat p value sebesar 0,002. Karena p value < 0,05 maka dapat disimpulkan pengaruh bekam terhadap peningkatan deformabilitas eritrosit pada perokok pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan di akhir pengamatan adalah ada perbedaan bermakna. Jadi hipotesis penelitian diterima yaitu ada pengaruh bekam terhadap peningkatan deformabilitas eritrosit pada perokok. Merokok dalam jumlah dan waktu tertentu dapat menurunkan kemampuan kerja eritrosit melewati mikrovaskuler untuk menghantarkan oksigen ke tingkat sel. Bekam dapat digunakan sebagai terapi untuk meningkatkan kemampuan kerja eritrosit melewati mikrovaskuler karena terbukti dapat meningkatkan nilai deformabilitas eritrosit. Nilai deformabilitas eritrosit dapat mencapai lebih baik bila subjek penelitian berhenti merokok. Kata Kunci : Deformabilitas, Eritrosit, Bekam, H2O2 ABSTRACT Erythrocyte deformability is the elasticity of erythrocyte form during its course through microvasculature to adjust to the diameter of microvasculature, and it can spontaneously return to its original form without changes in shape and function. Cupping therapy is a traditional treatment with a principle of blood letting in certain areas on the back to heal a disease. This was a quasi-experimental study using non-random pretest-posttest control group design performed to human beings as the subject of study. By sampling quota, we obtained 34 subjects, comprising 17 individuals in each group. Data were analyzed descriptively and analytically using computer. The difference of erythrocyte deformability in each group, which was presented as percentage, was analyzed using t test. The result of paired sample t-test, the p value was found to be 0.001. Therefore, it can be concluded that the effect of cupping therapy on the increase of erythrocyte deformability in cigarette smokers in treatment group was highly significant since p < 0.05. The result of independent t-test revealed p value of 0.002. Since the p value was < 0.05, the effect of cupping therapy on the increase of erythrocyte deformability in cigarette smokers in control and treatment groups at final observation had significant difference. In conclusion, cupping therapy has effecto in the increase of erythrocyte deformability in cigarette smokers. Cigarette smoking in certain quantity and time may reduce the action capacity of the erythrocytes to pass microvasculature to deliver oxygen to cellular level. Cupping therapy can be applied as a therapy to increase the capacity of erythrocyte to pass the microvasculature as it has been proved to be able to increase erythrocyte deformability. The value of erythrocyte deformability can be increased more if the subjects cease to smoke. Keywords: Erythrocyte, Deformability, Cupping therapy, H2O2
Akreditasi dan Re-Akreditasi Redaksi Team
Majalah Keperawatan Unpad Lokakarya Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5696.462 KB)

Abstract

žSurat Edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi no. 152/ET/2012 ž ¡Kewajiban untuk mempublikasikan karya ilmiah ¡ ¡Sarjana S1, S2, dan S3
GAMBARAN PELAKSANAAN TUGAS KESEHATAN KELUARGA PADA BALITA DENGAN PNEUMONIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANJARAN NAMBO KABUPATEN BANDUNG Redaksi Team
Majalah Keperawatan Unpad Vol 12, No 1 (2010): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.074 KB)

Abstract

ABSTRAK Pneumonia masih menjadi penyebab pembunuh balita utama di dunia. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menurunkan angka kejadian dan kematian pneumonia salah satunya melalui peran keluarga. Keluarga memiliki peran besar dalam memelihara fungsi kesehatan anggotanya. Pemeliharaan fungsi kesehatan keluarga bergantung pada pelaksanaan tugas kesehatan keluarga, seperti mengenal masalah kesehatan balita, membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat, memberi perawatan pada balita yang sakit, menciptakan suasana rumah yang sehat, dan memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada dimasyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pelaksanaan tugas kesehatan keluarga pada balita dengan pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Banjaran Nambo. Penelitian ini dirancang dalam jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling, dengan jumlah responden sebanyak 92 orang ibu yang membawa balita pneumonia untuk berobat ke puskesmas. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan, pelaksanaan tugas kesehatan keluarga pada balita dengan pneumonia, sebagian responden yaitu sebanyak 51,1 % memiliki upaya keluarga dalam kategori tidak baik. Saran dari penelitian ini, perlu adanya upaya dari petugas kesehatan untuk melakukan penyuluhan untuk meningkatkan lagi upaya pelaksanaan tugas kesehatan keluarga terutama untuk keluarga dengan balita yang mengalami pneumonia. Kata Kunci : Pneumonia, Balita , Tugas kesehatan keluarga ABSTRACT Pneumonia has been a major cause for infant mortality around the globe. Efforts and initiatives have been undertaken to reduce the number of pneumonia related incident and mortality among infants, such as increasing the family engagement and participation. Family has a great role in preserving and maintaining the well-being of its members. The health functioning relies on how the role is exercised such as understanding the medical problem in infancy, executing the proper medical and social intervention, maintaining healthy home and lifestyle in family, and utilizing medical resources and access in community. This research aims at understanding, uncovering and providing the description about how the role of family in promoting health among infants is carried out in community health center (Puskesmas) at Banjaran Nambo,Kabupaten Bandung. This quantitative-descriptive research employs accidental sampling technique. There are 92 samples, consisting of mothers who come to the center with their babies for medical assistance. The data is collected with questionnaires. The research revealed that most respondents (51.1%) in “Good” category regard to providing medical functioning and roles among infants with pneumonia. Result suggests that there is a need for involvement of medical staff in promoting and enhancing the medical functioning and roles of families, particularly those who have infants in their households. Keywords: Pneumonia, Preschool children, Health functioning role of family
PERBEDAAN TEHNIK MENDESINFEKSI ALKOHOL 70% ANTARA CARA SPRAY DENGAN OLES SAAT PEMASANGAN INFUS DALAM MENURUNKAN JUMLAH BAKTERI PADA SITE INFUSE DI RUMAH SAKIT SANTO YUSUP BANDUNG Redaksi Team
Majalah Keperawatan Unpad Vol 12, No 1 (2010): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.008 KB)

Abstract

ABSTRAK Klien yang masuk rumah sakit dan menunjukkan tanda infeksi yang kurang dari 72 jam membuktikan bahwa masa inkubasi penyakit telah terjadi sebelum klien masuk rumah sakit, dan infeksi yang baru menunjukkan gejala setelah 72 jam klien berada dirumah sakit disebut infeksi nosokomial. Kejadian infeksi nosokomial dalam suatu rumah sakit menjadi suatu tolak ukur suatu mutu pelayanan yang diberikan kepada klien dari suatu rumah sakit dan salah satu strategi pengendalian infeksi nosokomial adalah cara mendesinfeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan Tehnik Mendesinfeksi Alkohol 70% Antara Cara Spray Dengan Oles Saat Pemasangan Infus Dalam Menurunkan Jumlah Bakteri Pada Site Infus Di Rumah Sakit Santo Yusup Bandung. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen yaitu Quasy Eksperimen , alat ukur yang digunakan observasi dengan menggunakan skala numeric, kategorik dan sampel yang diambil untuk penelitian sebanyak 30 klien terdiri dari 15 klien diberi desinfeksi alkohol 70% cara spray serta 15 klien cara oles saat pemasangan infus. Uji t-dependent Non Parametrik -Wilxocon adalah uji yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa nilai p value adalah 0,317 lebih besar dari α = 0,05 sehingga diperoleh hasil tidak terdapat perbedaan antara pemberian desinfeksi alkohol 70% cara spray dengan cara oles. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan desinfeksi alkohol 70% cara spray dan cara oles saat pemasangan infus dapat digunakan dalam prosedur tindakan keperawatan. Saran yang dapat diberikan adalah penggunaan alkohol 70% dengan cara spray maupun oles ketika pemasangan infus dapat digunakan sebagai alternatif desinfeksi dalam menurunkan jumlah bakteri pada site infus. Kata kunci : Tehnik desinfeksi alkohol 70% cara spray dan oles, site infuse ABSTRACT The client who enter the hospital and show infection sign least then 72 hour proves that the period of incubation diasese happen the client enter the hospital and the infection that has shown the sign after 72 hour when the client in the hospital called nosocomial infection. Insident nosocomial infection in the hospital becames parameter of quality service given to the client in the hospital dan one of strategy to control nosocomial infection is disinfection method. This researches aims to know the the difference of desinfect technic by alcohol 70% between spray and spread method in using intravenous technic to reducing total bacteria on infusion site of St. Joseph hospital in Bandung The design of the researches used is experiment quasy, the parameter used is observation with numeric scale category and sample taken from 30 client consist of 15 client given spray method and the other using spread method.This researches used t-dependent test with non parametric Wilcoxon. The result of this researches show that p value is 0,317 bigger than α=0,05 so there are no difference between a Spray and Spread Method in using alcohol 70% desinfectan. The researches conclude that using alcohol 70% desinfectan with spray and spread method inserting infusion can be given in nursing intervention prosedur. The suggestion that can be given is using alcohol 70% with spray and spread can be alternative to desinfect to minimize nosocomial infection incident. Keywords : Desinfect technic by alcohol 70% between spray and spread method, site infuse.