cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 1 (2002)" : 6 Documents clear
Components of Quantitative Resistance to Philippine Downy Mildew In Maize D. Ruswandi; A. D. Raymundo; R. M. Lantican; D. M. Hautea; A. M. Salazar; A. L. Carpena
Zuriat Vol 13, No 1 (2002)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v13i1.6719

Abstract

Resistance to Philippine downy mildew (Peronosclerospora philippinensis) was observed in a BC1F2 population developed from a cross between the susceptible inbred line Pi 23 and the resistant inbred line P 345. Five components of resistance namely, disease incidence, disease severity, onset of systemic symptoms, the-area- underdisease-progress- curve (AUDPC), and rate of downy mildew development affected host resistance reactions. All components were significantly correlated. The adult plant resistant reaction was evident in resistant progenies showing prolonged onset of systemic symptoms. Transgressive segregation that exceeded the high and low parent values was also observed for all components of quantitative resistance to Philippine downy mildew.
Quantitative Trait Loci Mapping Of Philippine Downy Mildew Resistance Gene In Maize (Zea Mays L.) D. Ruswandi; D. M. Hautea; A. L. Carpena; R. M. Lantican; A. M. Salazar; A. D. Raymundo
Zuriat Vol 13, No 1 (2002)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v13i1.6724

Abstract

An experiment to locate QTL conferring resistance against Peronosclerospora philippinensis causing Philippine downy mildew was observed in a BC1F2 population developed from a cross between the susceptible inbred line Pi 23 and the resistant inbred line P 345. Phenotypic data were collected in Los Baños, UPLB for disease incidence. A total of four regions were associated with disease incidence. Some of QTL associated with disease incidence have been reported previously, and the remaining QTL are described here for the first time. The results on QTL analysis using molecular markers also agree with the previous study using classical generation mean analysis of the cross combination Pi 23 x P 345.
Hubungan Kekerabatan Genetik Antar Tanaman The F1 dari Persilangan TRI 2024 X PS 1 Berdasarkan Penanda RAPD Bambang Sriyadi; R. Setiamihardja; A. Baihaki; W. Astika
Zuriat Vol 13, No 1 (2002)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v13i1.6715

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan tetua dalam program persilangan untuk memperbaiki potensi hasil dari klon-klon seri TPS. Penelitian dilakukan di Labolatorium Biologi Molekuler dan Imunologi, Unit Penelitian Biologi Perkebunan, Bogor dari bulan Mei sampai dengan Juni 2000. Bahan yang digunakan adalah daun segar dari klon TRI 2024, PS 1, dan 45 tanaman F1 dari persilangan TRI 2024 X PS 1. Penanda RAPD dibangkitkan menggunakan 11 praimer dengan DNA dari seluruh genotipe. Pengamatan dilakukan terhadap munculnya penanda RAPD pada setiap genotip untuk setiap praimer. Kesamaan antar genotip dihitung menggunakan indeks kesamaan dan hubungan kekerabatan genetik dikonstruksi dengan UPMA. Hasil penelitian menunjukkan jumlah penanda RAPD yang dibangkitkan menggunakan 11 praimer pada DNA klon TRI 2024, PS 1, dan 45 tanaman F1 sebanyak 118, yang 80 (68%) diantaranya merupakan penanda RAPD polimorfik. Pada tingkat perbedaan 28% genotipe yang diuji dapat dipisahkan dua kelompok, yaitu klon TPS 24/5 dan TPS 88/2 yang berkerabat dekat dengan TRI 2024 dan klon TPS lainnya yang berkerabat dekat dengan klon PS 1. Dari 45 tanaman F1 ternyata 40 klon memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan klon PS 1. Pada tingkat kesamaan genetik 74% klon-klon yang mempunyai potensi hasil tinggi dan tahan terhadap penyakit cacar the terpisahkan dalam tiga kelompok, yaitu I. TPS 17/3, TPS 3/2, TPS 93/3, dan TPS 94/1 yang berkerabat dekat dengan PS 1, II. TPS 127/1 dan TPS 24/2 yang memiliki hubungan kekerabatan agak jauh dengan PS 1 dan, III. TPS 87/1 yang memiliki hubungan kekerabatan genetik sangat jauh dengan PS 1. Rancangan persilangan yang memberikan peluang besar untuk mendapatkan turunan yang mempunyai sifat tahan terhadap penyakit dan berpotensi hasil tinggi adalah tetua klon TPS 17/3, TPS 3/2, TPS 93/3, dan TPS 94/1 disilangkan dengan klon TPS 87/1.
Genetic Relationships Between Grain Types and Agronomic Traits In Rice Sugiono Moeljopawiro
Zuriat Vol 13, No 1 (2002)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v13i1.6727

Abstract

The genetic relationships between grain types and agronomic traits in rice (Oryza sativa L.) were studied in 6 x 6 diallel cross (excluding reciprocals) involving long-, medium-, and short-grain cultivars were studied. Combining ability analyses revealed that mean squares due to GCA were larger than those due to SCA, except for heading date. Vsca for heading date, plant height, panicle number, and grains per panicle were larger than Vgca for those traits. Panicle length, grain length, grain width, and 100-grain weight had larger Vgca than Vsca. General combining ability effects obtained in this study suggested that ‘Brazos’ was a good combiner for earliness. ‘Starbonnet’ was a good combiner for plant height, grains per panicle, and ‘Starbonnet’ and ‘Lebonnet’ were good combiners for grain length. ‘Nortai’ combined well for high panicle number and ‘Nortai’ and ‘S201’ combined well for grain width. ‘M401’ and ‘S201’ were good combiners for 100-grain weight. Phenotypic and genetic correlations followed a similar trend, except the latter was of a higher magnitude. Grain width and 100-grain weight were positively correlated with each other, but negatively correlated with the other traits. Grain length and grain width were negatively correlated. In general, heritability estimates in the broad sense were high. Moderate narrow sense heritability estimates for plant height, panicle length, grain length, grain width, and 100-grain weight suggested that these traits can be selected with the pedigree method, and the bulk method would be better for selecting heading date and grains per panicle.
Optimizing Selection for Yield Using Selection Index Sugiono Moeljopawiro
Zuriat Vol 13, No 1 (2002)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v13i1.6726

Abstract

Kekerabatan Antar Genus Anggrek Sub Tribe Sarcanthinae Berdasarkan Data Fenotip dan Pola Pita DNA Suskandari Kartikaningrum; Nani Hermiati; Achmad Baihaki; Murdaningsih Haeruman K.; Nurita Toruan Mathius
Zuriat Vol 13, No 1 (2002)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v13i1.6704

Abstract

Kekerabatan genetik di antara tanaman anggrek ‘sub tribe’ Sarcanthinae perlu diketahui untuk melakukan persilangan dalam program pemuliaan. Persilangan antara genus-genus dalam ‘sub tribe’ Sarcanthinae berkerabat dekat akan meningkatkan peluang keberhasilan persilangan. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan tingkat kemiripan dan jarak genetik di antara genus anggrek ‘sub tribe’ Sarcanthinae berdasarkan pola pita DNA dan fenotip. Hubungan kekerabatan 13 genotip anggrek dianalisis menggunakan 39 data fenotip biner dan 185 pita DNA yang diperoleh dari hasil amplifikasi 14 praimer dekamer acak RAPD. Selanjutnya dilakukan analisis gerombol menggunakan koefisien Dice atau rumus Nei dan Li (1979). Dari hasil analisis diperoleh matrik kemiripan yang digunakan untuk menentukan jauh dekatnya kekerabatan antar genotip anggrek dan untuk membentuk dendrogram berdasarkan fenotip, pola pita DNA serta gabungan data fenotip dan pola pita DNA. Tingkat kemiripan berdasarkan fenotip berkorelasi positif (r = 0.5485) dengan tingkat kemiripan berdasarkan pola pita DNA. Berdasarkan gabungan data fenotip dan pola pita DNA ditetapkan bahwa pada skala koefisien Dice ³ 0.38 merupakan batas kekerabatan yang dekat (pada jarak genetik £ 0.62). Hubungan kekerabatan diantara tanaman anggrek berdasarkan fenotip tidak konsisten dengan pola pita DNA. Berdasarkan fenotip hubungan kekerabatan anggrek ‘sub tribe’ Sarcanthinae adalah dekat tetapi berdasarkan pola pita DNA dan gabungan keduanya adalah jauh. Semua genotip dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok. Renanthera dan Paraphalaenopsis merupakan genus yang berkerabat terjauh dengan genusgenus yang lain.

Page 1 of 1 | Total Record : 6