cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Teknik Sipil dan Arsitektur
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 380 Documents
STUDI PERBANDINGAN PENGGUNAAN SUMINA SUMINA; Muh.Sigit Budi Laksana
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 4 No. 8 (2007): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Campuran aspal beton merupakan campuran dari agregat bergradasi rapat dan aspal, Sehingga rongga-rongga antar butir hampir seluruhnya terisi dengan butiran yang lebih kecil, hanya menyisakan sebagian kecil diisi oleh aspal. Filler yang sering digunakan adalah abu batu, pada penelitian ini digunakan filler pengganti yaitu portland cement, kaolin dan kapur padam, mengingat ketiganya memenuhi sebagai filler yang disyaratkan dalam gradasi karena lolos saringan No. 200 (0,074 mm). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan filler portland cement, kaolin dan kapur padam terhadap karakteristik Marshall pada campuran aspal beton serta perbandingan dari ketiga nilai karakteristik Marshall tersebut Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kadar aspal optimum campuran aspal beton yang didapatkan sebesar 5,6%, selain itujuga diketahui bahwa nilai density bulk, VFWA dan flow pada campuran aspal beton yang menggunakan filler portland cement, kaolin dan kapur padam cenderung mengalami peningkatan dengan semakin bertambahnya kadar dari masing-masing filler, sedangkan nilai VITM pada campuran aspal beton yang menggunakan filler portland cement, kaolin dan kapur padam cenderung mengalami penurunan dengan semakin bertambahnya kadar dari masing-masingfiller. Nilai stabilitas maksimum campuran aspal beton yang menggunakan filler portland cement terjadi pada penggunaan filler sebesar 5,988 % dengan nilai stabilitas 973,865 kg dengan kecenderungan menurunnya nilai stabilitas apabila penggunaan filler portland cement lebih dari 5,988%, dan nilai stabilitas maksimum campuran aspal beton yang menggunakan Jitter kaolin terjadi pada penggunaan filler sebesar 6,272% dengan nilai stabilitas 848,316kg dengan kecenderungan menurunnya nilai stabilitas apabila penggunaan filler kaolin lebih dari 5,988%, sedangkan nilai stabilitas maksimum campuran aspal beton yang menggunakan filler kapur padam terjadi pada penggunaan filler sebesar 6,015% dengan nilai stabilitas 796,042 kg dengan kecenderungan menurunnya nilai stabilitas apabila penggunaan filler kapur padam lebih dari 6,015% Nilai Marshall Quotient maksimum campuran aspal beton yang menggunakan filler portland cement terjadi pada penggunaan filler sebesar 5,742% dengan nilai Marshall Quotient 308,168 kg/mm dengan kecenderungan menurunnya nilai Marshall Quotient apabila penggunaan filler portland cement lebih dari 5,742%, dan nilai Marshall Quotient maksimum campuran aspal beton yang menggunakan filler kaolin terjadi pada penggunaan filler sebesar 5,938% dengan nilai Marshall Quotient 247,787 kg/mm dengan kecenderungan menurunnya nilai Marshall Quotient apabila penggunaan filler kaolin lebih dari 5,938%, sedangkan nilai Marshall Quotient maksimum campuran aspal beton yang menggunakan filler kapur padam terjadi pada penggunaan filler sebesar 5,688% dengan nilai Marshall Quotient 234,258 kg/mm dengan kecenderungan menurunnya nilai Marshall Quotient apabila penggunaan filler kapur padam lebih dari 5,688 %.
FUNGSI CITY WALK JALAN SLAMET RIYADI KOTA SURAKARTA DJUMIKO DJUMIKO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 13 No. 17 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

City walk dikenal dengan istilah mall atau pedestrian. Pedestrian berasal dari kata latin pedos yang artinya kaki. Pejalan kaki sebagai istilah aktif, adalah orang yang bergerak atau berpindah dari suatu tempat titik tolak ke tempat tujuan tanpa menggunakan alat yang bersifat mekanis (kecuali kursi roda). Jalur pedestrian atau jalur pejalan kaki, adalah tempat atau jalur khusus bagi para pejalan kaki. City walk yang berada di jalan Slamet Riyadi kota Surakarta merupakan jalur pedestrian, mempunyai panjang 4 km membentang dari Stasiun Kereta Api Purwosari di pinggir kota bagian Barat sampai Gapura Gladak sebagai pintu masuk kawasan Keraton Surakarta yang berada di pusat kota Surakarta. Dengan melakukan pengumpulan data, observasi lapangan dan analisis, dihasilkan fungsi city walk di jalan Slamet Riyadi kota Surakarta meliputi: sebagai jalur pedestrian fasilitas pejalan kaki, sebagai unsur keindahan kota, sebagai media interaksi sosial, sebagai sarana konservasi kota, sebagai tempat bersantai dan bermain, sebagai penghubung fasilitas kota, dan sebagai tempat parkir.
IDENTIFIKASI ARSITEKTUR PADA DAERAH PINGGIRAN KOTA SURAKARTA Kasus: Lingkungan Batas Kota Gerbang Makutho DWI SUCI SRI LESTARI
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 13 No. 17 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah pinggiran kota atau periphery adalah daerah yang terletak antara kota dan desa, ditandai dengan penggunaan tanah campuran. Hal ini dapat terjadi karena adanya interaksi antara kota dan desa dengan berbagai faktor atau unsur dalam desa, dalam kota dan di antara desa dan kota. Interaksi ini dapat dilihatsebagai suatu proses sosial, ekonomi, budaya ataupun politik, yang lambat ataupun cepat dapat menimbulkan suatu realita atau kenyataan. Lingkungan sekitar Gerbang Makutho di Jalan Adi Sucipto di bagian barat kota Surakarta, adalah merupakan daerah pinggiran kota yang mengalami interaksi antara kota Surakarta dan desa di sekitarnya dalam lingkup wilayah Karanganyar. Dengan adanya interaksi dimaksud, menarik untuk dilakukan penelitian yang lebih mendalam, khususnya dilihatdari aspek arsitektur meliputi: fungsi, gaya bangunan, ketinggian bangunan, kepadatan bangunan, dan teknologi. Dengan melakukan pengumpulan data, observasi lapangan,dan analisis, dihasilkan: a) fungsi bangunan untuk: pendidikan, industri, hotel, kantor, gedung pertemuan, restoran, ibadah, rumah sakit, mini market, dealer mobil/ motor, bengkel/ cuci mobil, olah raga, rumah dan toko/ usaha, toko bahan bangunan, ibadah, dan rumah tinggal. b) Gaya bangunan meliputi: arsitektur Vernakular Jawa, Arsitektur Modern, Arsitektur Modern Tropis, dan Arsitektur Post Modern. c) Ketinggian bangunan satu sampai dengan lima lantai. d) Kepadatan bangunan relatif belum padat. e) Teknologinya, bersifat konvensional maupun modern.
MEKANISME PEMBEBASAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM (Studi Kasus Jalan Selatan-Selatan Kabupaten Wonogiri) HERMAN SUSILA
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 10 No. 14 (2011): jurnal teknik sipil dan arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ada banyak alternative untuk mengurangi kemacetan lalulintas, diantaranya adalah menambah atau meningkatkan infrastruktur jalan. Hal ini ditempuh pemerintah dalam mengurangi kemacetan di jalan pantura, yaitu dengan membangun Jalan Lintas Selatan Selatan (JLSS) Jawa. Kabupaten Wonogiri salah satu daerah yang dilalui JLSS, untuk kepentingan tersebut pemerintah Wonogiri perlu adanya pengadaan tanah untuk pembangunan JLSS. Namun dalam proses pembebasan tanah ditemui kendala-kendala, yaitu sebagian warga kecamatan Giriwoyo tidak mau menerima nilai ganti rugi yang telah disepakati bersama antara warga dan panitia pengadaan tanah untuk kepentingan umum. Untuk mengatasi kendala tersebut pemerintah dalam hal ini Panitia Pengadaan Tanah melakukan pendekatan melalui musyawarah dan juga melakukan perhitungan penaksiran harga ganti rugi secara transparan dan sesuai dengan harga nyata di masyarakat. Apabila upaya-upaya musyawarah telah ditempuh dan ternyata masih belum  ada kesepakatan, maka berdasarkan UU No. 20 tahun 1961 dan pasal 27 Instruksi Presiden tahun 1973 dapat dilakukan pencabutan hak atas tanah, hal ini mengingat agar pembangunan JLSS tidak terhambat.
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KONFLIK DALAM PELAKSANAAN PROYEK KONSTRUKSI HERMAN SUSILA
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 11 No. 15 (2012): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam tahap pelaksanaan proyek konstruksi melibatkan banyak pihak yang saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Perbedaan-perbedaan tujuan, pandangan, pendapat dari masing-masing pihak akan dapat menimbulkan konflik. Konflik tersebut harus segera diselesaikan dengan cara yang tepat untuk meminimalkan pengaruh buruk terhadap keberhasilan proyek. Oleh karena itu, identifikasi terhadap konflik yang berpotensi terjadi dalam pelaksanaan proyek menjadi sangat penting untuk dilakukan agar diketahui cara pengelolaan konflik yang efektif. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk dapat mengetahui faktor-faktor dominan yang dapat menimbulkan konflik dalam pelaksanaan proyek konstruksi. Penelitian ini dilakukan di Surakarta dan data diperoleh melalui survei kuesioner dengan responden yang diteliti adalah kontraktor, konsultan pengawas dan owner pada tingkat manajemen menengah yang pernah terlibat dalam pelaksanaan pembangunan konstruksi gedung. Analisis faktor-faktor dominan penyebab konflik dalam penelitian ini adalah dengan mencari nilai mean terbesar dari tiap-tiap fariabel. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada tahap pelaksanaan konstruksi, konflik yang sering muncul adalah wewenang dan tanggung jawab yang kurang jelas, penempatan personil tidak sesuai dengan keahliannya, kesalahan desain dan spesifikasi, keterlambatan peralatan dan bahan, estimasi biaya yang tidak akurat dan pendekatan menangani masalah.
KARAKTER ARSITEKTUR TRADISIONAL SUKU BADUY LUAR DI GAJEBOH BANTEN DJUMIKO DJUMIKO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 4 No. 8 (2007): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suku Baduy merupakan masyarakat yang hidup di daerah Lebak, Banten dan merupakan masyarakat yang hidup dengan tetap memelihara tradisi nenek moyang. Masyarakat Baduy membagi diri dalam dua kelompokyang disebut Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam bersikap menutup diri terhadap pengaruh kebudayaan dari luar wilayah, sedang Baduy Luar bersikap lebih terbuka terhadap pengaruh-pengaruh dari luar wilayahnya. Aspek arsitektur yang berkembang di Baduy Luar tidak berbeda dari yang berkembang di Baduy Dalam, Bangunan yang ada pada setiap kelompok sama yaitu : kelompok rumah tinggal, kelompok lumbung, fasilitas bersama seperti tempat menumbuk padi / lesung, tempat mandi dan cud. Perbedaan yang ada adalah pada detail-detail bangunan.
KAJIAN LUAS RUMAH SEDERHANA SEHAT BAGI MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DJUMIKO DJUMIKO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 11 No. 15 (2012): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah layak huni merupakan hak dasar bagi warga negara. Tetapi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tidak mudah untuk mewujudkannya. Hal ini disebabkan daya beli masyarakat menurun salah satunya akibat dari kenaikan harga bahan bangunan, menyebabkan kebutuhan akan rumah menjadi menurun/berkurang. Untuk membantu MBR dalam memenuhi kebutuhan rumah yang layak dengan harga yang terjangkau maka diperlukan suatu pedoman mengenai standar luas bangunan Rumah Sederhana Sehat yang memenuhi luas minimal untuk suatu keluarga. Sebagai dasar analisis diasumsikan untuk Rumah Sederhana Sehat ini dihuni untuk 4 orang, meliputi seorang Bapak, seorang Ibu, dan dua orang anak. Luas Rumah Sederhana Sehat akan dianalisis dari beberapa aspek meliputi standar luas bangunan dan lahan, luas lantai hunian per orang dan luas per unit Rumah Sederhana Sehat berdasarkan kebutuhan udara segar, luas tapak/kavling, macam dan luas ruang, studi ruang, macam dan luas ruang, perilaku manusia, dan kebutuhan manusia. Dari analisis yang telah dilakukan menghasilkan luas Rumah Sederhana Sehat yang dihuni 4 orang (Bapak, Ibu, dan dua orang anak) idealnya mempunyai luas minimal 36 m2 dengan luas tapak 90 m2, agar keluarga tersebut dapat menjalankan aktivitasnya di rumah dengan lancar dan baik.
KONDISI KENYAMANAN THERMAL BANGUNAN GEREJA BLENDUK SEMARANG DWI SUCI SRI LESTARI
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 10 No. 14 (2011): jurnal teknik sipil dan arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam perancangan arsitektur, pengaruh iklim merupakan salah satu faktor pertimbangan. Antara lain meliputi pengaruh-pengaruh: sinar matahari, angin, hujan, radiasi dan kelembaban. Implementasinya dalam desain bangunan meliputi: orientasi, bentuk atap, dinding, struktur, ataupun pemilihan bahan bangunan. Terkait hal itu, mengkaji karya arsitek bangsa asing: Belanda di bumi tropis Indonesia seperti halnya Gereja Blenduk Semarang dari aspek kenyamanan thermalnya, yang dipengaruhi oleh angin, suhu, radiasi panas dan kelembaban, sangatlah menarik. Hasil kajiannya, juga dapat untuk mengingatkan kepada setiap arsitek, bahwa keberhasilan perancangan bukan semata-mata dari pandangan arsiteknya sendiri, melainkan juga penilaian pengguna, antara lain melalui pengalamannya merasakan kenyamanan thermal bangunannya. Kajian dilakukan dengan alat ukur anemometer, psychometer dan thermometer, serta analisis kondisi interiornya. Ternyata hasil kondisi kenyaman thermal interiornya: kurang nyaman, disebabkan suhu Corected Effective Temperature (CET) interior: 29º C - 30,2º C adalah di atas persyaratan kenyamanan thermalnya: 22º C - 27º C
PENYELENGGARAAN RUMAH SUSUN UNTUK MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH BERDASARKAN REGULASI TERKAIT DWI SUCI SRI LESTARI
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 14 No. 18 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diamanatkan dalam pasal 28H UUD 1945, rumah merupakan hak dasar manusia selain sandang dan pangan, serta merupakan pencerminan jati diri manusia, baik secara perorangan maupun dalam satu kesatuan dan kebersamaan dengan lingkungan alamnya. Terkait hal itu, gagasan penyelenggaraan hunian vertikal (rumah susun) diharapkan menjadi salah satu alternatif penyediaan rumah untuk memenuhi kebutuhan rumah penduduk dengan mengedepankan efisiensi lahan/tanah di perkotaan. Sampai saat ini pembangunan rumah susun untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) masih berlanjut. Adanya program percepatan pembangunan rumah susun di kawasan perkotaan membutuhkan Model Penyelenggaraan rumah susun yang comprehensive, sehingga dapat membantu bagi penyelenggara dan pelaku pembangunan Rumah susun di daerah. Dengan melakukan kajian berdasarkan regulasi yang terkait penyelenggaraan rumah susun, dihasilkan penyelenggaraan rumah susun meliputi tiga tahap yaitu: a). Pra konstruksi, meliputi: penentuan Lokasi, perolehan tanah/lahan, rancang bangun, perizinan, tes pasar, pola kerja sama, mix-use; b). Konstruksi, meliputi: pembiayaan, subsidi, insentif, sosialisasi, pemasaran, pertelaan, pelaksanaan konstruksi, pre cast, value engineering; c). Pasca konstruksi, meliputi: sertifikasi sarusun, serah terima kunci, penghunian, kependudukan, perhimpunan pemilik dan penghuni rumah susun (pppsrs), pengelolaan, pemeliharaan dan perawatan, unsur-unsur biaya, dan peningkatan kualitas.
MODEL DESAIN RUMAH SUSUN DENGAN PENDEKATAN PROTOTIPE DAN PREFABRIKASI UNTUK MEMPERCEPAT PENGADAAN RUMAH DJUMIKO DJUMIKO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 14 No. 18 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gagasan penyelenggaraan hunian vertikal (Rumah Susun) diharapkan menjadi salah satu alternatif penyediaan rumah untuk memenuhi kebutuhan rumah penduduk dengan mengedepankan efisiensi lahan/ tanah di perkotaan. Tujuan penelitian ini untuk membuat model rumah susun dengan pendekatan prototipe dan prefabrikasi untuk mempercepat pengadaan rumah. Dengan melakukan pengumpulan data, kajian pustaka, membuat model rumah susun, dan analisis, dihasilkan: a) Pada tahap desain dengan menggunakan prototipe, gambar-gambar asli/ dasar dapat dipergunakan lagi/ berulang, b) Pada tahap pelaksanaan pembangunan rumah susun, elemen/ komponen bangunan rumah susun dapat dibuat di pabrik/ tempat lain, c) Waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan pembangunan rumah susun lebih cepat, jika dibandingkan dengan cara konvensional, d) Kualitas bangunan rumah susun dapat lebih terjaga.

Filter by Year

2001 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 31 No 1 (2026): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol 30 No 2 (2025): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 30 No. 1 (2025): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 29 No. 2 (2024): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 29 No. 1 (2024): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 28 No. 2 (2023): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 28 No. 1 (2023): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 27 No. 2 (2022): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 27 No. 1 (2022): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 26 No. 2 (2021): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 26 No. 1 (2021): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 25 No. 2 (2020): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 25 No. 1 (2020): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 24 No. 2 (2019): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 24 No. 1 (2019): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 23 No. 27 (2018): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 22 No. 26 (2018): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 21 No. 25 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 20 No. 24 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 19 No. 23 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 18 No. 22 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 17 No. 21 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 16 No. 20 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 15 No. 19 (2014): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 14 No. 18 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 13 No. 17 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 12 No. 16 (2012): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 11 No. 15 (2012): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 10 No. 14 (2011): jurnal teknik sipil dan arsitektur Vol. 9 No. 13 (2011): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 8 No. 12A (2010): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 8 No. 12 (2010): jurnal teknik sipil dan arsitektur Vol. 7 No. 11 (2010): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 6 No. 10 (2009): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 5 No. 9 (2008): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 5 No. 9.A (2008): JURNAL TEKNIL SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 4 No. 8 (2007): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 3 No. 7 (2006): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 2 No. 6 (2003): jurnal teknik sipil dan arsitektur Vol. 2 No. 5 (2003): JURNAL TEKNIL SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 2 No. 4 (2002): jurnal teknik sipil dan arsitektur Vol. 2 No. 2 (2001): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 1 No. 3 (2001): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 1 No. 2 (2001): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR More Issue