cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Teknik Sipil dan Arsitektur
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 380 Documents
ANALISIS PENGARUH KONFLIK DALAM PELAKSANAAN KONSTRUKSI TERHADAP KESUKSESAN PROYEK HERMAN SUSILA; SURYO HANDOYO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 16 No. 20 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada tahap pelaksanaan proyek konstruksi sangat besar kemungkinannya terjadi konflik karena dalam pelaksanaan proyek konstruksi sumberdaya yang digunakan besar, jumlah kegiatan yang sangat banyak dan melibatkan banyak pihak yang saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Perbedaan-perbedaan tujuan, pandangan, pendapat dari masing-masing pihak akan dapat menimbulkan konflik. Analisis pengaruh konflik dalam pelaksanaan konstruksi terhadap kesuksesan proyek ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk dapat mengetahui faktor-faktor dominan yang dapat menimbulkan konflik dan bagaiman pengaruh konflik terhadap kesuksesan proyek. Data diperoleh melalui survei kuesioner dengan responden yang diteliti adalah kontraktor, konsultan pengawas dan dari pihak pemilik pada tingkat manajemen menengah yang pernah terlibat dalam pelaksanaan pembangunan konstruksi gedung. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Untuk mengetahui keakuratan data dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Untuk mengetahui faktor dominan yang dapat menimbulkan konflik dilakukan analisis mean dan untuk menganalisis pengaruh konflik dengan kesuksesan proyek dilakukan anilisis korelasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor-faktor yang sering menimbulkan konflik dalam pelaksanaan proyek konstruksi adalah wewenang dan tanggung jawab yang kurang jelas, tugas yang tidak sesuai keahliannya, kesalahan desain dan spesifikasi, keterlambatan peralatan dan bahan, estimasi biaya yang tidak akurat dan pendekatan menangani masalah. Berdasar uji konkordansi kendall menunjukkan bahwa variabel konflik dari kontrak dan spesifikasi, sumber daya manusia, manajemen dan organisasi, biaya, dan perbedaan kultur mempunyai korelasi yang rendah terhadap kesuksesan proyek atau mampu mempengaruhi kesuksesan proyek sebesar 23% sedangkan 77% dipengaruhi oleh faktor lain.
PENGGUNAAN STRUKTUR BRESING KONSENTRIK TIPE X UNTUK PERBAIKAN KINERJA STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT TERHADAP BEBAN LATERAL AKIBAT GEMPA SRI HARYONO; DIAN ARUMNINGSIH DIAH PURNAMAWANTI
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 16 No. 20 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan bertujuan untuk melakukan evaluasi struktur gedung pada kondisi terjadinya gempa sebelum dan setelah penambahan bresing X. Analisis menggunakan metode analisis gempa statis dan dinamis dengan bantuan program SAP 2000. Evaluasi dilakukan pada gaya moment (bending moment), gaya geser (shear force), gaya normal (axial force), dan perpindahan (displacement) antara struktur sebelum dan sesudah penambahan bresing X. Berdasarkan analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa kinerja batas layan dan batas ultimit struktur tanpa bresing berdasarkan analisis gempa dinamis tidak tidak aman baik untuk arah X maupun arah Y. Kinerja batas layan dan batas ultimit struktur dengan penambahan bresing alternatif 1 tidak aman untuk arah X sedangkan untuk arah Y sudah aman. Kinerja batas layan dan batas ultimit struktur dengan penambahan bresing alternatif 2 aman untuk arah X dan arah Y. Kinerja struktur dengan penambahan bresing alternatif 2 jauh lebih baik jika dibandingkan struktur tanpa bresing dan struktur dengan penambahan bresing alternatif 1. Penambahan bresing dengan lokasi yang tepat dapat memperbaiki kinerja struktur secara signifikan.
PENGEMBANGAN POTENSI BAMBU SEBAGAI BAHAN BANGUNAN RAMAH LINGKUNGAN ABITO BAMBAN YUUWONO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 18 No. 22 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini planet bumi sedang menghadapi anomali perubahan iklim yang cukup mengancam kelangsungan kehidupan semua makluk di planet ini, sehingga semua pihak dituntut untuk mampu menekan kegiatan yang menimbulkan emisi krbon dengan teknologi, alat, maupun sistem yang lebih ramah lingkungan. Penyumbang terbesar terjadinya global warming atau pemanasan global adalah penggunaan bahan bakar minyak bumi atau bahan bakar fosil sebagai sumber energi utama untuk menggerakan mesin-mesin industri, kendaraan bermotor, antara lain mobil, motor, kereta api, kapal laut sampai dengan pesawat terbang yang jika diakumulasi penggunaannya diseluruh dunia maka akan menjadi penyumbang sumber emisi karbon yang terbesar, disamping hal tersebut percepatan terjadinya global warming ini dipicu karena semakin menipisnya luasan hutan di muka bumi karena guna memenuhi berbagai kepentingan dan tuntutan kebutuhan manusia sehingga dari tahun ke tahun semakin besar hutan yang di babat sehingga berubah menjadi lahan pertanian, perkebunan bahkan jadi kwawasan hunian. Bertolak dari kondisi tersebut saat ini semua industri telah berlomba-lomba mencari solusi teknologi yang ramah lingkungan, banyak negara telah mengemmbangkan sumber-sumber energy alternatif yang ramah lingkungan dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil antara lain dengan solar cell, pembangkit listrik tenaga panas bumi, PLTA, pembangkit listrik Tenaga Angin dsb. Dunia Arsitektur merupakan penyumbang terjadinya percepatan global warming karena setiap tahun dibangun puluhan juta rumah diseluruh muka bumi dan mayoritas rumah -rumah ini dibangun dengan bahan dasar kayu sehingga secara otomatis mempercepat terjadinya perusakan hutan karena kebutuhan sebagai bahan bangunan, meskipun hutan yang dibabat dapat ditanami kembali namun butuh waktu yang sangat lama untuk pulih, paling cepat 30 tahun, sedangkan kayu-kayu tertentu butuh sampai ratusan tahun untuk pulih kembali menjadi hutan, dunia arsitektur juga tidak ketinggalan dengan inovasi-inovasi barunya yang telah melahirkan banyak bangunan maupun kawasan yang telah menerapkan konsep maupun teknologi arsitektur ramah lingkungan Bambu dapat menjadi salah satu alternatif bahan bangunan yang ramah lingkungan,yang dapat menggantikan kayu, karena bambu mudah untuk dibudidayakan, dapat hidup dengan baik hampir disemua jenis tanah, mulai dari dataran rendah hingga tinggi, dan relatif singkat untuk bisa dipanen dan setelahnya  dapat dipanen secara terus-menerus.
MORFOLOGI BATAS KOTA SURAKARTA Kasus: Batas Kota Surakarta, Sukoharjo dan Karanganyar DJUMIKO DJUMIKO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 18 No. 22 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah batas kota atau periphery adalah daerah yang terletak antara kota dan desa yang ditandai dengan penggunaan tanah campuran. Hal ini dapat terjadi karena adanya interaksi antara kota dan desa dengan berbagai faktor  atau unsur   yang ada dalam desa, dalam kota dan di antara desa dan kota. Interaksi ini dapat dilihat sebagai suatu proses sosial, ekonomi, budaya ataupun politik, yang lambat ataupun cepat dapat menimbulkan suatu realita atau kenyataan. Batas kota di  Jalan Adi Sucipto yang terletak di bagian barat kota Surakarta merupakan batas kota Surakarta, Sukoharjo   dan Karanganyar, daerah ini mengalami interaksi antara kota Surakarta dan desa di sekitarnya yang masuk daerah Kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar. Dengan adanya  interaksi tersebut,  menarik untuk dilakukan penelitian yang lebih mendalam, khususnya dilihat dari aspek morfologi. Dengan melakukan pengumpulan data, observasi lapangan,dan  analisis, dihasilkanbatas kota Surakarta, Sukoharjo dan Karanganyar berupa morfologi  lingkungan baru dengan karakter desa-kota, hal ini dapat dilihat dari: faktor-faktor yang mendorong pertumbuhan dan perkembangan, pioneer pertumbuhan dan perkembangan, tata guna lahan, pola jalan,fungsi bangunan,dan ketinggian bangunan.
KEKELIRUAN PERSEPSI DALAM PENYEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU DI PENGGAL JALAN YOSODIPURO SURAKARTA DWI SUCI SRI LESTARI
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 18 No. 22 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang terbuka kota serta jalur pedestrian merupakan dua dari delapan elemen fisik perancangan kota yang harus terdapat dalam perancangan kota. Ruang terbuka kota dapat berbentuk ruang terbuka hijau (RTH), maupun ruang terbuka non hijau (RTNH) sebagaimana: jalan, jalur pedestrian; maupun badan air. Di antara bermacam-macam fungsi utama ruang tata hijau, adalah menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara kota, sebagai peneduh, produsen oksigen. Di tengah situasi perubahan iklim global yang berdampak kerusakan lingkungan dan bencana yang semakin memprihatinkan, sebagai responnya adalah pasal 63 UU Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH):  prinsipnya pemerintah bertugas dan berwenang membina dan mengawasi pelaksanaan kebijakan nasional, peraturan daerah, dan peraturan kepala daerah, dengan salah satu instrumen pembinaan dan pengawasan berupa: Program  Menuju Indonesia Hijau (Program MIH). Ini dilatarbelakangi oleh makin merosotnya luasan RTH di Surakarta hingga 11,9 %. Kementerian Pekerjaan Umum terdorong untuk mewujudkan Kota Hijau sebagai metafora Kota Berkelanjutan, yang mendorong  timbulnya  Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) bagi setiap kota, antara lain di Surakarta. Diduga terdapat kekeliruan persepsi dan bagi perencana dan pelaksanaan pelaksana P2KH dalam penambahan RTH, sehingga jalur-jalur pedestrian pada beberapa bagian penggal-penggal jalan di kota Surakarta, antara lain di penggal jalan Yosodipuro dari perempatan Monumen Pers Nasional–pertigaan dengan Jalan dr. Muwardi yang merupakan RTNH berubah menjadi RTH. Jalur pedestrianpun menghilang. Penelitian ini bertujuan untuk menggali macam kekeliruan persepsi dalam penyedian RTH pada penggal jalan Yosodipuro dari Monumen Pers Nasional-pertigaan dengan jalan dr. Muwardi. Macam metoda penelitiannya, deskriptik analitis kualitatif. Hasil penelitiannya, terdapat enam kelompok tema yang dirinci dalam sembilan macam tema kekeliruan dalam dan solusi penganggulangannya bagi pihak-pihak terkait di Surakarta
KAJIAN MANAJEMEN SIRKULASI TERMINAL BUS ( Studi Kasus : Terminal Bus Tirtonadi Surakarta ) GATOT NURSETYO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 18 No. 22 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terminal merupakan bagian dari jaringan pelayanan transportasi sebagai simpul dari suatu rangkaian jaringan transportasi jalan. Keberadaan terminal sangat vital dalam penyelenggaraan angkutan umum. Karena disitu adalah merupakan tempat bertemunya antara penyedia jasa dan pengguna jasa, tempat menaikkan dan menurunkkan penumpang atau barang, tempat awal dan berakhirnya perjalanan angkutan umum, tempat pengendalian, pengawasan, pengaturan dan pengoperasian lalu lintas, serta istirahat awak kendaraan angkutan umum. Terminal adalah fasilitas yang sangat kompleks, banyak kegiatan yang dilakukan di terminal terkadang secara bersamaan dan terkadang secara paralel, yang terkait pada variasi dan volume kedatangan atau waktu yang dibutuhkan untuk memproses kendaraan, penumpang, dan barang. Kinerja operasional Terminal Tirtonadi Surakarta dalam pelayanannya kepada masyarakat pengguna jasa transportasi mengalami perubahan tingkat pelayanan dan kapasitas pada terminal. Aspek pelayanan penumpang di terminal percontohan nasional sudah dipacu secara maksimal dan diklaim setara dengan bandara. Kajian manajemen sirkulasi terminal bus ini menunjukkan adanya permasalahan parkir khusus mobil yang diarahkan ke ruang terbuka di lantai II. Sementara parkir kendaraan roda dua dan sepeda berada di depan pintu drop off penumpang. Pembangunan lahan parkir yang nyaman bagi pengunjung masih berproses beserta pengembangan Terminal Tirtonadi ke depan, terminal bus sebagai pusat perbelanjaan dan hotel baru.
ANALISIS FAKTOR DOMINAN RESIKO BIAYA PADA PELAKSANAAN PROYEK KONSTRUKSI GEDUNG DI SURAKARTA HERMAN SUSILA; SURYO HANDOYO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 18 No. 22 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pekerjaan konstruksi merupakan pekerjaan yang banyak mengandung risiko, salah satunya adalah risiko biaya. Biaya adalah salah satu komponen penting dalam pelaksanaan proyek konstruksi gedung selain sumber daya material, pekerja dan waktu. Penggunaan biaya yang melebihi anggaran yang ditentukan merupakan pembengkaan biaya terhadap anggaran tersebut, sehingga akan merugikan perusahaan. Agar pembengkaan ini tidak terjadi, maka kontraktor perlu mengetahui faktor-faktor dominan yang menyebabkan terjadinya penyimpangan biaya. Analisis faktor resiko biaya pada tahap pelaksanaan proyek konstruksi gedung ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk dapat mengetahui faktor-faktor dominan yang menyebabkan pembengkaan biaya. Penelitian dilakukan di Surakarta dan data diperoleh melalui survei kuesioner dengan responden yang diteliti adalah kontraktor yang pernah terlibat dalam pelaksanaan pembangunan konstruksi gedung. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Untuk mengetahui keakuratan data dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Untuk mengetahui faktor dominan yang dapat mengakibatkan pembengkaan biaya dilakukan analisis mean dan analisis faktor. Faktor-faktor dominan yang dapat menimbulkan resiko pembengkaan biaya pada tahap pelaksanaan konstruksi gedung yang pertama adalah Faktor perencanaan dan profesionalisme yang terdiri dari spesifikasi material yang kurang jelas, metode pelaksanaan yang kurang tepat, keterlambatan pengadaan material di lapangan, pengetahuan dan pengalaman subkontraktor yang kurang, kesalahan dan keterlambatan dalam pengambilan keputusan, teknik dan metode estimasi yang kurang tepat, Kurangnya kedisiplinan kerja. Yang kedua adalah Faktor lingkungan dan estimasi yang terdiri dari terjadi huru-hara, lingkungan proyek yang tidak aman, dan Kecakapan estimator. Yang ketiga adalah Faktor  material yang terdiri dari kelangkaan material di pasaran dan kelemahan dalam perencanaan logistik. Faktor paling dominan yang dapat menimbulkan resiko pembengkaan biaya pada tahap pelaksanaan konstruksi gedung adalah Faktor Perencanaan dan Profesionalisme sebesarnya 35,21 %, selanjutnya Faktor Lingkungan dan Estimasi besarnya 21,47 % kemudian Faktor Material sebesar 10,04 %.
PERAN PENDAMPINGAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PADA KAWASAN KRATON SURAKARTA SEBAGAI BAGIAN DARI UPAYA MEMINIMALISIR DEGRADASI KUALITAS KAWASAN CAGAR BUDAYA RULLY RULLY
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 18 No. 22 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyusunan peraturan bangunan khusus merupakan rancangan pengendalian bangunan kawasan yang diperlukan setelah adanya rencana tata ruang pada kota dimaksud. Kegiatan penyusunan peraturan bangunan khusus dimaksudkan untuk mewujudkan tertib bangunan, sehingga dapat berjalan tertib dan lancar sesuai dengan karakteristik bangunan setempat, pengaturan keselamatan bangunan yang bertujuan agar setiap bangunan dapat memberikan keselamatan, keamanan dan kenyamanan bagi penghuninya, mendukung keselarasan dan keseimbangan lingkungannya. Kedudukan masyarakat yang bergiat pada lingkungan permukiman pada Kawasan Cagar Budaya Kraton Surakarta perlu diarahkan agar mampu memberi nilai positif sebagai bagian yang menentukan dalam upaya meminimalisir degradasi kualitas kawasan cagar budaya, melalui pendampingan dalam penatan bangunan dan lingkungan permukiman.
GATED COMMUNITY Studi Kasus: Perumahan Casa Grande di Yogyakarta TRI HARTANTO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 18 No. 22 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gated community merupakan bagian dari kota dan kemunculannya juga tidak lepas sebagai dampak dari perkembangan kota itu sendiri. Di lain pihak gated community juga tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia karena keberadaannya merupakan pengaruh dari pergeseran gaya hidup manusia yang semakin hari semakin berkembang. Kehidupan manusia di jaman sekarang selalu dipenuhi oleh kesibukan & aktivitas, hingga akibatnya gaya hidup yang dijalani adalah gaya hidup individualis. Oleh karena itulah, tepat jika dikatakan bahwa fenomena gated community di perkotaan memang tidak terelakkan. Kini hampir semua kota di dunia memiliki gated community dengan karakteristik dan latar belakang yang berbeda-beda. Di Indonesia sendiri, gated community yang ada menunjukkan karakteristik yang berbeda dari gated community pada umumnya. Walaupun membatasi diri dengan dinding dan pagar di sekelilingnya, Gated community di Indonesia masih mengizinkan orang luar bukan penghuni untuk masuk dan menikmati sebagian fasilitas yang ada. Kondisi yang seperti ini tidak lain disebabkan oleh adanya peraturan pembangunan perumahan oleh pengembang yang mengatur agar sebagian lahan yang dibangun tersebut menyerahkan fasilitas umum dan fasilitas sosial yang terdapat di dalamnya, ke pemerintah daerah setempat agar dapat dipergunakan oleh publik. Peraturan inilah yang menyebabkan pola-pola perumahan yang ada di Indonesia umumnya berbentuk cluster-cluster yang terkumpul dalam satu kompleks. Namun, aplikasi di lapangan  khususnya gated community Casa Grande berbeda, fasilitas umum warga berupa jalan tidak dapat digunakan oleh masyarakat sekitar. Jalan tersebut hanya dikhususkan kepada penghuni perumahan. Fasilitas pendukung juga hanya dapat digunakan oleh masyarakat yang terdaftar sebagai member. Untuk menjadi member fasilitas tersebut, warga sekitar perumahan tidak mampu mengingat pendapatan mereka yang rendah.
KARAKTER LINGKUNGAN PADA DAERAH PINGGIRAN KOTA SURAKARTA Kasus : Lingkungan Batas Kota Gerbang Makhuto DJUMIKO DJUMIKO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 12 No. 16 (2012): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah pinggiran kota atau periphery adalah daerah yang terletak antara kota dan desa yang ditandai dengan penggunaan tanah campuran. Hal ini dapat terjadi karena adanya interaksi antara kota dan desa dengan berbagai faktor  atau unsur   yang ada dalam desa, dalam kota dan di antara desa dan kota. Interaksi ini dapat dilihat sebagai suatu proses sosial, ekonomi, budaya ataupun politik, yang lambat ataupun cepat dapat menimbulkan suatu realita atau kenyataan. Lingkungan  sekitar  gerbang Makhuto di  Jalan Adi Sucipto yang terletak di bagian barat kota Surakarta, adalah merupakan daerah pinggiran kota yang mengalami interaksi antara kota Surakarta dan desa di sekitarnya yang masuk daerah Kabupaten Karanganyar. Dengan adanya  interaksi tersebut,  menarik untuk dilakukan penelitian yang lebih mendalam, khususnya dilihat dari aspek perkembangan fisik lingkungan. Dengan melakukan pengumpulan data, observasi lapangan,dan  analisis, dihasilkan perkembangan lingkungan di batas kota Gerbang Makhuto  membentuk lingkungan baru dengan karakter desa-kota, hal ini dapat dilihat dari: faktor-faktor yang mendorong pertumbuhan dan perkembangan, pioneer pertumbuhan dan perkembangan, tata guna lahan, pola jalan, ruang terbuka, dan  sirkulasi dan parkir.

Filter by Year

2001 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 31 No 1 (2026): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol 30 No 2 (2025): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 30 No. 1 (2025): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 29 No. 2 (2024): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 29 No. 1 (2024): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 28 No. 2 (2023): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 28 No. 1 (2023): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 27 No. 2 (2022): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 27 No. 1 (2022): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 26 No. 2 (2021): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 26 No. 1 (2021): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 25 No. 2 (2020): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 25 No. 1 (2020): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 24 No. 2 (2019): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 24 No. 1 (2019): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 23 No. 27 (2018): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 22 No. 26 (2018): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 21 No. 25 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 20 No. 24 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 19 No. 23 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 18 No. 22 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 17 No. 21 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 16 No. 20 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 15 No. 19 (2014): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 14 No. 18 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 13 No. 17 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 12 No. 16 (2012): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 11 No. 15 (2012): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 10 No. 14 (2011): jurnal teknik sipil dan arsitektur Vol. 9 No. 13 (2011): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 8 No. 12A (2010): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 8 No. 12 (2010): jurnal teknik sipil dan arsitektur Vol. 7 No. 11 (2010): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 6 No. 10 (2009): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 5 No. 9.A (2008): JURNAL TEKNIL SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 5 No. 9 (2008): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 4 No. 8 (2007): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 3 No. 7 (2006): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 2 No. 6 (2003): jurnal teknik sipil dan arsitektur Vol. 2 No. 5 (2003): JURNAL TEKNIL SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 2 No. 4 (2002): jurnal teknik sipil dan arsitektur Vol. 2 No. 2 (2001): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 1 No. 3 (2001): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 1 No. 2 (2001): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR More Issue