cover
Contact Name
Ahmadi Riyanto
Contact Email
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Phone
+628111166998
Journal Mail Official
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Editorial Address
Gedung Widyasatwaloka, Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI Jl. Raya Jakarta-Bogor Km 46, Cibinong 16911
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology)
ISSN : 16930339     EISSN : 25798634     DOI : https://doi.org/10.32491
Aims and Scope Aims: Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology) aims to publish original research results on fishes (pisces) in fresh, brackish and sea waters including biology, physiology, and ecology, and their application in the fields of fishing, aquaculture, fisheries management, and conservation. Scope: This journal publishes high-quality articles dedicated to all aspects Aquaculture, Fish biodiversity, Fisheries management, Fish diseases, Fishery biotecnology, Moleculer genetics, Fish health management, Fish biodiversity.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 16 No 3 (2016): October 2016" : 12 Documents clear
Utilization of clove oil Syzigium aromaticum to improve feed efficiency on striped catfish Pangasia nodon hypophthalmus (Sauvage,1876) Nurina Pratiwi; Dedi Jusadi; Sri Nuryati
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 16 No 3 (2016): October 2016
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v16i3.22

Abstract

This research was conducted to analyze the effect of clove oil supplementation in the stripped catfish diet for feed effi- ciency utilization on catfish Pangasianodon hypophthalmus. Diet treatment consists of five factors and three replica- tions. The treatments were 0 mg100 g-1 (without clove oil supplementation), 5 mg100 g-1, 10 mg 100 g-1, 15 mg 100 g-1, and 100 mg100 g-1 diet, respectively. The fish was taken from fish farming at Parung, Bogor, with initial weight of 5.0±0.6 g and rearing in 15 aquariums filled with 100 liters volume and 20 fish for each aquarium. For growth test, fish were reared during 50 days. The fish were fed three times a day at satiation level. The treatment of supplementation of 10 mg clove oil 100 g-1 diet has an optimal result. This treatment showed that 78.9% feed efficiency value, 45.7% pro- tein retention, 112.6% lipid retention. Abstrak Penelitian dilakukan untuk menganalisis penambahan minyak cengkeh terhadap pertumbuhan dan efisiensi pakan pada ikan patin Pangasianodon hypophthalmus. Pada penelitian ini, dosis yang ditambahkan pada pakan terdiri atas lima per- lakuan dengan masing-masing tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas 0 mg 100 g-1 (tanpa penambahan minyak cengkeh), 5 mg 100 g-1pakan, 10 mg100 g-1pakan, 15 mg 100 g-1pakan, dan 100 mg100 g-1pakan. Ikan uji yang digunakan berasal dari pembudidaya di daerah Parung, Bogor dengan berat 5,0±0,6 g yang dipelihara pada 15 akuarium yang diisi air sampai volume 100 L per akuarium dengan padat penebaran 20 ekor per akuarium. Ikan dipelihara selama 50 hari untuk uji pertumbuhan. Pemberian pakan secara at satiation tiga kali sehari. Perlakuan yang memberikan hasil terbaik adalah perlakuan dengan penambahan dosis 10 mg minyak cengkeh per 100 g pakan. Hasil yang diperoleh adalah nilai efisi- ensi pakan sebesar 78,9%, retensi protein 45,7% dan retensi lemak 112,6%.
Seed performance of striped catfish Pangasianodon hypophthalmus Sauvage, 1878 and pasupati (Pangasius sp.) with different stocking density on the nursery recirculation system Jadmiko Darmawan; Evi Tahapari; Wahyu Pamungkas
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 16 No 3 (2016): October 2016
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v16i3.23

Abstract

The increasing demand for striped catfish and pasupati seed will be met through an intensive hatchery with a recirculation system and increased stock density. The purpose of this research was to figure out the effect of stocking density on the performance of growth and survival rate of striped catfish and pasupati in the nursery recirculation system. Rearing was carried out on the fiber with a capacity of 30 liters and equipped with aeration installation and recirculation systems. The study was conducted with three stocking density treatments, namely A) 1 fish L-1 , B) 5 fish L-1 , and C) 10 fish L-1 . We used juveniles of striped catfish and pasupati aged 28 days with an average standard length of 2.14 ± 0.31 cm and 2.22 ± 0.25 cm, and total length of 2.63 ± 0.39 cm and 2.75 ± 0.29 cm, and weight of 0.14 ± 0.06 g and 0.16 ± 0.04 g, respectively. The fish were fed thrice a day at satiation level with floating pellet with 30% crude protein content. The result showed that the optimum stocking density for striped catfish was 5 fish L-1 . During this treatment, the survival rate of of striped catfish was 92.33% with specific growth rate of the weight, standard length and total length of fish for 45 days of rearing were 7.85%, 2.42% and 2.40% , respectively. However, an optimum stocking density for pasupati was 1 fish L-1 . The survival rate of pasupati was 71.67% with specific growth rate of weight, standard length and the total length for 45 days of rearing were 10.78%, 3.35% and 3.32%, respectively. Abstrak Permintaan benih ikan patin siam dan pasupati yang terus meningkat akan dapat terpenuhi melalui pembenihan secara intensif dengan sistem resirkulasi dan peningkatan padat penebaran. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh padat penebaran terhadap performa pertumbuhan dan tingkat sintasan benih ikan patin siam dan pasupati pada pende- deran sistem resirkulasi. Kegiatan pendederan dilakukan pada bak fiber kapasitas 30 liter yang dilengkapi dengan insta- lasi aerasi dan sistem resirkulasi. Penelitian dilakukan dengan tiga perlakuan padat penebaran, yaitu A) 1 ekor L-1 , B) 5 ekor L-1 , dan C) 10 ekor L-1 . Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan patin siam dan pasupati berumur 28 hari dengan rata-rata panjang baku 2,14±0,31 cm dan 2,22±0,25 cm, panjang total 2,63±0,39 cm dan 2,75±0,29 cm, serta bobot 0,14±0,06 g dan 0,16±0,04 g. Pakan diberikan secara at satiation berupa pelet terapung dengan kandungan protein ka- sar 30% dan frekuensi pemberian pakan sebanyak tiga kali sehari. Hasil penelitian pada ikan patin siam menunjukkan bahwa padat penebaran optimum ditunjukkan oleh perlakuan 5 ekor L-1 dengan laju pertumbuhan spesifik terhadap bo- bot, panjang baku, panjang total selama 45 hari pemeliharaan sebesar 7,85%, 2,42% dan 2,40%, dengan tingkat sintasan sebesar 92,33%. Hasil penelitian pada ikan patin pasupati menunjukkan bahwa padat penebaran optimum ditunjukkan oleh perlakuan 1 ekor L-1 dengan laju pertumbuhan spesifik terhadap bobot, panjang baku dan panjang total selama 45 hari pemeliharaan sebesar 10,78%, 3,35% dan 3,32%, dengan tingkat sintasan sebesar 71,67%.
Evaluation of vitamin E addition in the diet for decreasing malondialdehide value and lead accumulation in the nile tilapia Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758)] Sheny Permatasari; Nur Bambang Priyo Utomo; Kukuh Nirmala
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 16 No 3 (2016): October 2016
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v16i3.24

Abstract

This study aimed to evaluate the effect of the different doses of vitamin E in diet toward malondialdehide value and accumulation of heavy metal of Tilapia Oreochromis niloticus (Linnaeus 1758) exposed by lead (Pb). This study consists of four treatments, three replications and one negative control which was analyzed with descriptive method. Vitamin E supplementation treatments in the diet were KN (negative control 0 mg kg-1 , no exposed by lead); KP (positive control 0 mg kg-1 ); P100 (100 mg kg-1 ); P300 (300 mg kg-1 ); P500 (500 mg kg-1 ). Tilapia (13.17±1.06 g fish-1 ) were reared in 15 aquariums (135 liters volume) with a density of 13 fish in each aquarium for 60 days exposed by lead with 9.119 mg L-1 concentrations (except negative control). Fish were fed thrice a day at at 08.00 am, 12.00 pm, and 16.00 pm with the satiation level. An addition of Vitamin E alpha-tocopherol of 100 mg kg-1 in diet exposed by lead could decrease the accumulation of lead and MDA in fish liver of 1.47 mg kg-1 and 5.41 µg g-1, respectively. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan vitamin E dengan dosis berbeda pada pakan terha- dap nilai malondialdehid hati dan akumulasi logam berat pada tubuh ikan nila Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) yang terpapar timbal (Pb). Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan empat perlaku- an dan tiga ulangan, dan satu perlakuan kontrol negatif yang diolah secara deskriptif. Perlakuan penambahan vitamin E: KN (kontrol negatif 0 mg kg-1 tanpa paparan Pb); KP (kontrol positif 0 mg kg-1 ); P100 (100 mg kg-1 ); P300 (300 mg kg-1 ); P500 (500 mg kg-1 ). Ikan nila (13,17±1,06 g ekor -1 ) dipelihara dalam 15 akuarium (volume 135 liter) dengan ke- padatan 13 ekor akuarium-1 selama 60 hari paparan Pb konsentrasi 9,119 mg L-1 kecuali kontrol negatif tanpa paparan. Ikan diberi pakan secara at satiation sebanyak tiga kali sehari pada pukul 08.00, 12.00, dan 16.00. Hasil penelitian me- nunjukkan bahwa vitamin E alpha-tokoperol sebanyak 100 mg kg-1 pada pakan ikan nila yang terpapar Pb (timbal) kon- sentrasi 9,119 mg L-1 dapat menurunkan nilai akumulasi logam Pb dan nilai malondialdehid hati ikan mencapai 1,47 mg kg-1 dan 5,41 µg g-1 .
Genotype diversity and morphometric of tinfoil barb Barbonymus schwanenfeldii (Bleeker 1854) from Sumatera, Java, and Kalimantan Deni Radona; Dinar Tri Soelistyowati; Odang Carman; Rudhy Gustiano
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 16 No 3 (2016): October 2016
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v16i3.25

Abstract

Study on genotype and phenotype diversity of initial population tinfoil barb from Sumatera, Java and Kalimantan is an effort to use genetic sources of tinfoil barb for sustainable aquaculture. This study was to evaluate the diversity of genotype and phenotype of tinfoil barb from Sumatra, Java and Kalimantan. Analysis of genotype diversity was con- ducted by RAPD methods using primer (OPA 08, OPA 09 and OPC 02) and phenotype based on truss morphometric measurement. The result showed that the highest genetic polymorphism (40%) was found in the male population of Java and female from Kalimantan with heterozygosity 0.18; while the lowest polymorphism was detected in the female population from Java (18%) with the heterozigosity level at 0.08. Based on the relationship between tinfoil barb from Java, Sumatera and Kalimantan by using three primer of RAPD showed that the genetic distance ranged from 0.48- 0.55, whereas between male and female population was ranged from 0.19-0.24. Canonical analysis using truss morpho- metric from 21 measured characters among three populations showed the different kind of genetic dispersion. From intrapopulation genetic sharing percentage, the highest interpopulation genetic sharing component was found in the tinfoil barb from Java (66.7-86.7 %), while interpopulation genetic sharing component ranged 0-6 % and 0 % were found in the tinfoil barb from Kalimantan and Sumatera, respectively. According to our results, the genotype diversity and phenotype of tinfoil male from Java and female from Kalimantan are genetic resources for developing tinfoil barb aquaculture. Abstrak Studi keragaman genotipe dan fenotipe populasi awal ikan tengadak (Barbonymus schwanenfeldii) asal Sumatera, Jawa, dan Kalimantan merupakan upaya pemanfaatan sumber daya genetik ikan tengadak untuk kegiatan budi daya secara berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan evaluasi keragaman genotipe dan fenotipe ikan tengadak asal Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Analisis keragaman genotipe dilakukan secara molekuler dengan metode Random Amplified Polymorphism DNA (RAPD) menggunakan primer OPA 08, OPA 09 dan OPC 02 sedangkan keragaman fenotipe dilakukan berdasarkan pengukuran truss morphometric. Hasil penelitian menunjukkan polimorfisme genetik tertinggi (40%) ditemukan pada ikan jantan populasi asal Jawa dan ikan betina asal Kalimantan dengan nilai heterozi- gositas tertinggi 0,18 sedangkan polimorfisme terendah (18%) ditemukan pada ikan betina populasi asal Jawa dengan tingkat heterozigositas 0,08. Jarak genetik ketiga populasi berkisar 0,48-0,55 sedangkan antara ikan jantan dan betina berki-sar 0,19-0,24. Hasil analisis fungsi kanonikal truss morfometrik ikan tengadak pada 21 karakter terukur menun- jukkan sebaran pengukuran ketiga populasi berada pada kuadran yang berbeda. Persentase indeks keseragaman intra- populasi menunjukkan indeks keseragaman genetik tertinggi pada populasi Jawa (66,7-86,7 %) dengan indeks kesera- gaman interpopulasi (0-6%) pada populasi Kalimantan dan (0%) pada populasi Sumatera. Berdasarkan data keragaman genotipe dan fenotipe ikan jantan asal Jawa dan ikan betina asal Kalimantan berpotensi sebagai sumber genetik donor untuk pengembangan budidaya ikan tengadak.
Feminization of raibow Iriatherina werneri (Meiken, 1974) using estradiol-17β hormone Rodhi Firmansyah; Odang Carman; Dinar Tri Soelistyowati
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 16 No 3 (2016): October 2016
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v16i3.26

Abstract

Feminization of the rainbow (Iriatherina werneri) is an initial step to get the functional females (XY). If those functional females crossbreeding with normal males (XY), we will produce super males (YY) individuals. This study aimed to evaluate the optimum condition of feminization on I. werneri using estradiol-17β hormone treatment at different doses and immersion duration with a completely randomized factorial design which consists of different doses and immersion durations with three replicates. The data were analyzed statistically ( ANOVA ). Eyed stage embryos were immersed in 0, 200, 400 and 600 μg L-1 of estradiol-17β for six, 12 and 18 hours; and then the larvae were reared up to 70 days. The results showed that estradiol-17β treatments could increase the percentage of I. werneri female. The doses of 400 and 600 μg L-1 for both six and 12 hours immersion could increase the percentage of female significantly (p<0.050) with value ranged from 85,56-92,22%. The duration of estradiol-17β immersion significantly affected (p<0,05) the I. werneri survival rate. The duration of immersion for six hours showed the highest survival rate. On the other hand, both of doses and duration of immersion did not affect the hatching rate of I. werneri (p>0.05) Abstrak Pembetinaan ikan pelangi (Iriatherina werneri) adalah langkah awal untuk mendapatkan individu betina fungsional (XY). Jika individu betina fungsional ini dikawinkan dengan jantan normal (XY) akan menghasilkan individu ikan jantan super (YY). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi optimum dosis dan lama perendaman yang berbeda untuk pembetinaan ikan pelangi dengan menggunakan hormon estradiol-17β yang dirancang menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial yang terdiri atas faktor dosis dan lama perendaman masing-masing diulang tiga kali kemudian data dianalisis secara statistik (ANOVA). Telur ikan pelangi stadia embrio bintik mata direndam dalam larutan estradiol-17β dosis 0, 200, 400 dan 600 μg L-1 selama 6, 12, dan 18 jam, kemudian larva dipelihara selama 70 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan estradiol-17β dapat meningkatkan persentase betina; dosis 400 dan 600 μg L-1 selama 6 dan 12 jam meningkatkan persentase betina secara nyata (p<0,05) dengan nilai 85,56-92,22%. Lama perendaman berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap tingkat kelangsungan hidup dan perendaman selama enam jam memberikan hasil yang terbaik. Sementara itu, dosis dan lama perendaman tidak memengaruhi tingkat penetasan (p>0,05).
Detection of major histocompatibility complex class II gene on sowang giant gourami (Osphronemus goramy Lacepede, 1801) fingerling from one spawning Kusbiyanto Kusbiyanto; Agus Nuryanto; Petrus Hary Tjahja Soedibja
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 16 No 3 (2016): October 2016
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v16i3.27

Abstract

The fish farmer belief that strain sowang of giant gourami has the high growth rate. Nevertheless, the culture of this strain was constrained by high mortality due to low resistance to Aeromonas hydrophila infection. Resistance is a genetically inherited character from their parents. Resistant brood stock can be obtained through selection using molecular marker that is associated with resistance, such as major histocompatibility complex class II (MHC II) gene. At first step, detection of MHC II gene on sowang strain needs to be done. The aims of this study were 1) to detect the presence of the MHC II gene on sowang strain and 2) to analyze the resistance level of sowang strain from one spawning. A total of 100 individuals of sowang strain fingerling was infected with 0.1 ml 108 CFU of A. hydrophila. Genomic DNA was isolated using the thermoscienstific DNA easy kit and the fragmen of MHC II gene was amplified using two different primer pairs of stickleback fish. The presence of the MHC II gene was defined based on DNA band appearance on agarose gel, while resistance level was analyzed descriptively based on the total number of death and live individuals after infection. Amplification of the MHC II gene using the second primer pair from death individuals results in approximately of 400 bp fragment. However, MHC II gene amplification from living individuals resulted of approximately of 400 bp and 585 bp length of DNA fragments. The 585 bp fragment of the MHC II gene is a specific molecular marker for sowang giant gourami strain which is resitant to A. hydrophila infection. A total of 71% fingerling was death and 29% of fingerling was survived. This proved that the fingerling from one spawning have different resistance characteristic. Abstrak Petani ikan percaya bahwa ikan gurami ras sowang memiliki laju pertumbuhan yang tinggi. Namun budi daya ras tersebut terkendala oleh kematian yuwana yang tinggi akibat rendahnya resistensi terhadap infeksi Aeromonas hydrophila. Resistensi merupakan sifat yang diwariskan oleh induk ke anakan. Induk resisten dapat diperoleh melalui seleksi menggunakan penciri molekuler terkait dengan sifat resisten, seperti Major Histocompatibility Complex kelas II (MHC II). Sebagai langkah awal, perlu dilakukan deteksi keberadaan gen MHC II pada yuwana gurami sowang. Tujuan penelitian ini adalah 1) mendeteksi keberadaan gen MHC II pada yuwana gurami sowang dan 2) menganalisis tingkat resistensi yuwana ikan gurami sowang yang berasal dari satu pemijahan. Sebanyak 100 ekor ikan diinfeksi mengguna- kan 0,1 ml bakteri Aeromonas hydrophila dengan kepadatan koloni 108 CFU. DNA diisolasi menggunakan Thermo- scienstific DNA easy kit dan gen MHC II dimplifikasi menggunakan dua pasang primer dari ikan stickleback. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Keberadaan gen MHC II ditentukan berdasarkan kemunculan pita DNA pa- da gel agarosa, sedangkan tingkat resistensi ditentukan berdasarkan jumlah ikan yang mati dan hidup pascainfeksi. Am- plifikasi gen MHC II dari individu yang mati menghasilkan fragmen DNA sepanjang 400 bp. Namun, amplifikasi gen MHC II dari individu yang tetap hidup pascainfeksi menghasilkan fragmen DNA sepanjang sekitar 400 pb dan 585 bp. Fragmen gen MHC II berukuran sekitar 585 bp merupakan marka molekuler spesifik untuk gurami sowang tahan infek- si A. hydrophila. Sebanyak 71% ikan mati dan 29% hidup setelah 14 hari pascainfeksi. Hasil tersebut membuktikan bahwa yuwana gurami sowang memiliki resistensi berbeda terhadap Aeromonas hydrophila.
Growth performance and health status of catfish (Clarias gariepinus, Burchell 1822) fed with various levels of dietary organic selenium addition Hasrah Hasrah; M. Agus Suprayudi; Nur Bambang Priyo Utomo
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 16 No 3 (2016): October 2016
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v16i3.28

Abstract

This study aimed to determine the effect of organic selenium to growth performance and health status of catfish Clarias gariepinus.The treatments applied was the addition of organic selenium into the diet with different dose, which was 0, 1, 4, and 8 g kg-1 of the diet. The organic selenium concentration in the diet was 0.30, 0.79, 2.26, and 5.79 mg kg-1 . The catfish with an initial body weight of 5.97 ± 0.06 g and stocking density of 150 individuals tank-1 were rearing for 56 days in the cemen tank with a capacity of 300 liters. During the research, the fish were fed thrice a day at 07.00 am, 02.00 pm, and 08.00 pm with number of diet was 3% of body weight. The result showed that additional organic selenium of 2.26 mg kg-1 in dietary was significantly affecting the retention protein, fat and selenium by 34.8±2.9%, 63.9±4.1% and 28.6±1.9%, respectively. Supplementation of organic selenium in the same dose also enhanced the number of white blood cells of 1.60±0.13 cells mm3 ×105 and hemoglobin concentrations of 7.93±0.1 g %. Supplementation of the organic selenium of 2.26 mg kg-1 in dietary can improve the growth performance and health status of catfish. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh selenium organik terhadap kinerja pertumbuhan dan status kese- hatan ikan lele (Clarias gariepinus). Perlakuan empat dosis selenium organik yang ditambahkan dalam pakan yaitu: 0 (kontrol), 1, 4, dan 8 g kg-1 pakan dengan kadar selenium pakan berturut-turut 0,30; 0,79; 2,26 dan 5,79 mg kg-1 . Ikan lele yang digunakan dengan bobot awal rata-rata 5,97+0,06 g, dipelihara dalam 12 bak beton bervolume 300 liter de- ngan kepadatan 150 ekor per bak selama 56 hari. Ikan diberi pakan 3% dari bobot tubuh dengan frekuensi tiga kali se- hari pada pukul 07.00, 14.00, dan 20.00. Percobaan didesain menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat per- lakuan dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan selenium 2,26 mg kg-1 pakan memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada retensi protein, lemak, dan selenium berturut-turut sebesar 34,8±2,9%, 63,9±4,1% dan 28,6±1,9% dibandingkan dengan perlakuan lainnya (p<0,05). Penambahan selenium dengan dosis yang sama juga dapat meningkatkan jumlah sel darah putih sebesar 1,60±0,13 sel mm3 ×105 dan kadar hemoglobin sebesar 7,93±0,1 g %. Penambahan selenium 2,26 mg kg-1 pakan mampu meningkatkan kinerja pertumbuhan dan status kesehatan ikan lele.
Combination of additional Spirulina platemsis and Curcuma longa supplements in diet and hormonal induction to improve reproduction performance of tinfoil barb Barbonymus schwanenfeldii (Bleeker, 1854) Tuti Puji Lestari; Agus Oman Sudrajat; Tatag Budiardi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 16 No 3 (2016): October 2016
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v16i3.29

Abstract

The experiment was conducted in order to determine the role of each supplement combination of Spirulina platensis and Curcuma longa in the diet as well as the induction of Oodevto to tinfoil barb maturation and rematuration process. Randomized block design (RBD) with two factors consists of twelve treatments and five replicates of fish individuals was used. The dietary treatment comprises of four type, i.e. control diet, 3% kg-1 fish weight of turmeric supplementation in the diet, 3% kg-1 fish weight of spirulina supplementation in the diet; and the combination of turmeric and spirulina with 6% kg-1 supplementation in the diet. Meanwhile, the hormonal factor consists of three levels, i.e. 0.0 ml kg-1 fish weight, 0.25ml kg-1 fish weight (FW) and 0.50 ml kg-1 fish weight. We used sixty female broodstock with initial weight ranged 150-400 g and at stage II of gonad maturation. Fish were fed twice a day at 07.00 am and 05.00 pm at satiation level during 14 weeks. During the rearing period, gonado somatic index, maturation level, maturation period, 17 β estradiol concentration, eggs diameter and fecundity were observed. The result shows that all diet types which was combined with 0.50 ml kg-1 fish weight hormonal induction could improve reproductive performance up to 220%. This result comparatively higher than 0 ml kg-1 and 0.25 ml kg-1 hormonal inductions. Supplementation of 3% turmeric meal in the diet could produce 100% of mature broodstock out of season spawning. Thus, the combination of supplement either spirulina or tumeric with 0.5 ml kg-1 fish weight hormone induction can improve the induction maturation up to 2.2 times faster on the out-of- season spawning. Abstrak Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi peran kombinasi Spirulina platensis dan Curcuma longa dalam pakan dengan induksi Oodev terhadap proses pematangan gonad dan pematangan gonad kembali ikan tengadak. Metode yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dua faktor yang terdiri atas 12 kombinasi perlakuan dan 5 ulangan. Ulangan yang digunakan berupa ulangan individu. Faktor pakan terdiri atas empat jenis pakan yaitu pakan kontrol, pakan ditambah tepung kunyit 3% kg-1 bobot ikan, pakan ditambah tepung spirulina 3% kg-1 bobot ikan, dan kombinasi kunyit dengan tepung spirulina 6% kg-1 bobot ikan. Faktor hormon terdiri atas tiga taraf yaitu: 0,0 mL kg-1 bobot ikan, 0,25 mL kg-1 bobot ikan, dan 0,50 mL kg-1 bobot ikan. Ikan uji yang digunakan sebanyak 60 ekor ikan betina dengan bobot 150-400 g dan sudah mencapai tingkat kematangan gonad II. Ikan diberi pakan dua kali sehari (pagi dan sore) secara at satiation selama 14 minggu. Selama masa pemeliharaan parameter yang diamati meliputi indeks kematangan gonad, tingkat kematangan gonad, waktu pematangan gonad, konsentrasi 17β estradiol, diameter telur, dan fekunditas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua jenis pakan yang dikombinasi dengan induksi hormon 0,50 mL kg-1 bobot ikan dapat meningkatkan kinerja reproduksi lebih baik (220%) dibandingkan induksi hormon 0,25 dan 0,0 mL kg-1 bobot ikan. Penambahan tepung kunyit 3% dalam pakan dapat menghasilkan induk matang 100% di luar musim pemijahan. Dengan demikian, pemberian kombinasi suplemen baik spirulina atau kunyit dengan induksi hormon 0,5 mL kg-1 bobot ikan dapat menginduksi 2,2 kali lebih cepat di luar musim pemijahan.
Immune responses and growth performance of catfish (Clarias gariepinus Burchell 1822) cultivated in bioflok system with different carbon sources and infected with Aeromonas hydrophila Windu Sukenda; Widanarni Widanarni; Mia Setiawati
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 16 No 3 (2016): October 2016
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v16i3.30

Abstract

One of the diseases that often attack the catfish is motile aeromonas septicemia (MAS) caused by Aeromonas hydrophila. This study aimed to evaluate the immune responses and growth performance of catfish that cultivated on biofloc systems with different carbon sources and infected by A. hydrophila. This study was conducted over 30 days, consists of five treatments with three replications viz., providing molasses carbon source (A), tapioca flour (B), wheat flour (C), positive control (D) and a negative control (E). The results showed that the immune response such as total erythrocytes, hematocrit, hemoglobin concentration, total leukocyte, phagocytic activity, and respiratory burts activity at molasses (A), tapioca flour (B),and wheat flour (C) treatment showed better results than the control. Carbon sources from molasses, tapioca and wheat were able to increase total bacteria and decrease the growth of A. hydrophila in the waters as well as in catfish organs. Catfish growth performance in biofloc system with tapioca flour carbon source provide daily growth rate which was higher and significantly different (p <0.05) than control. While the biofloc system with molasses, tapioca and wheat carbon source could decrease feed conversion ratio and increase the retention of the protein. Retention of lipid in the biofloc system with molasses carbon source showed the highest results. The addition of molasses, tapioca and wheat as carbon sources into bioflock system could reduce the abundance of A. hydrophila, while immune response and growth performance of catfish increase well. Abstrak Salah satu penyakit yang sering menyerang ikan lele adalah Motil Aeromonad Septicemia yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respon imun dan kinerja pertumbuhan ikan lele yang dibudidayakan pada sistem bioflok dengan sumber karbon yang berbeda serta diinfeksi oleh A. hydrophila. Peneli- tian dilakukan selama 30 hari, menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas lima perlakuan dengan tiga ulangan yaitu penambahan sumber karbon molase (A), tepung tapioka (B), tepung terigu (C), kontrol positif (D), dan kontrol negatif (E). Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon imun seperti total eritrosit, hematokrit, kadar hemoglo- bin, jumlah leukosit, aktivitas fagositosis, dan ledakan pernapasan pada perlakuan molase (A), tepung tapioka (B), dan tepung terigu (C) menunjukkan hasil yang lebih baik daripada kontrol. Sumber karbon molase, tapioka, dan terigu mampu meningkatkan total bakteri dan menekan pertumbuhan A. hydrophila di air dan organ ikan lele. Kinerja pertum- buhan ikan lele di sistem bioflok dengan sumber karbon tepung tapioka memberikan laju pertumbuhan harian yang le- bih tinggi dan berbeda nyata (P <0,05) dibandingkan kontrol. Sistem bioflok dengan sumber karbon molase, tapioka, dan terigu dapat menurunkan nisbah konversi pakan dan meningkatkan retensi protein. Retensi lemak dalam sistem bio- flok dengan sumber karbon molase menunjukkan hasil tertinggi. Penambahan sumber karbon molase, tapioka, dan teri- gu dalam sistem bioflok dapat menurunkan kelimpahan A. hydrophila dan meningkatkan respon imun dan kinerja per- tumbuhan ikan lele.
Effect of fasting in waters with different salinity on physiological responses of Asian swamp eel, Monopterus albus Zuiew 1793 Yani Hadiroseyani; Sukenda Sukenda; Enang Harris Surawidjaja; Nur Bambang Priyo Utomo; Ridwan Affandi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 16 No 3 (2016): October 2016
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v16i3.31

Abstract

This study aimed to evaluate the physiological responses of Asian swamp eel, Monopterus albus during the fasting period at different salinity levels. Fasting period was three days at four levels of salinity, i.e., 0 g L -1 , 3 g L - 1 , 6 g L - 1 , and 9 g L - 1 . The eels were stocked at a density of 200 kg m - 3 . Physiological parameters studied were blood plasma cortisol which was measured by radioimmunoassay method, blood plasma glucose and liver glycogen which were measured by spectrophotometer, blood plasma sodium which was analyzed by Atomic Absorption Spect rophotometer, and osmolality which was measured using osmometer. The results showed that salinity affected the physiological status of the eels. Fasting the eels could increase the blood plasma cortisol levels, but in at higher salinity levels the hormone was lower. Blood plasma sodium levels of the eels increased in line with higher salinity. Fasting the eels at salinity of 0 and 3 g L - 1 was increasing the glucose levels significantly compared to the eel at a salinity of 6 and 9 g L - 1 . In contrary, the liv er glycogen levels were statistically lower in salinity of 0 and 3 g L - 1 compared to the eels at a salinity of 6 and 9 g L - 1 . Fasting the fish for three days at all salinity treatments did not change the condition factor of the eels. The eels were exhibite d the best physiological performance during the three - days fasting period at a salinity of 9 g L - 1 . Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meng evaluasi respons fisiologis ikan belut Monopterus albus pada pemberokan dengan tingkat salinitas yang berbeda. Pemberokan dilakukan pada ikan belut yang berukuran panjang 26,64 ± 2,94 cm dan b o - bot 12,57±4,99 g , selama tiga hari dalam media air dengan perlakuan empat tingkat salinitas, yaitu 0 g L - 1 , 3 g L -1 , 6 g L - 1 , dan 9 g L - 1 . B iomassa belut adalah 1 kg dalam 5 L air atau pada densitas 200 kg m - 3 . Parameter fisiologis yang diu - kur meliputi kortisol plasma darah dengan metode radioimunoasai, glukosa plasma darah dan glikogen hati dengan spektrofotometer, natrium plasma darah diana lisis dengan Atomic Absorption Spectrophotometer , dan osmolalitas de - ngan menggunakan osmometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa p emberokan dan salinitas mengakibatkan peru - bahan kondisi fisiologis ikan belut. Pemberokan mengakibatkan k adar kortisol meningkat , n amun peningkatan salinitas dapat menekan kadar hormon tersebut. Kadar natrium plasma darah ikan belut mengalami peningkatan sejalan dengan semakin tingginya salinitas. Kadar glukosa belut yang diberok pada salinitas 0 dan 3 g L - 1 secara statistik lebih tinggi dan berbeda sangat nyata di b andingkan dengan belut pada salinitas 6 dan 9 g L - 1 . Hal sebaliknya t erjadi pada kadar gli - kogen hati, yaitu secara statistik lebih rendah pada salinitas 0 dan 3 g L - 1 dibandingkan dengan belut pada salinitas 6 dan 9 g L - 1 . P emberokan selama tiga hari pada semua perlakuan salinitas t idak mengakibatkan perubahan nilai faktor kondisi belut . Ikan belut memberikan respons fisiologis yang paling baik pada pemberokan tiga hari dengan salinitas 9 g L - 1.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol 22 No 2 (2022): June 2022 Vol 22 No 1 (2022): February 2022 Vol 21 No 3 (2021): October 2021 Vol 21 No 2 (2021): June 2021 Vol 21 No 1 (2021): February 2021 Vol 20 No 3 (2020): October 2020 Vol 20 No 2 (2020): June 2020 Vol 20 No 1 (2020): February 2020 Vol 19 No 3 (2019): October 2019 Vol 19 No 2 (2019): June 2019 Vol 19 No 1 (2019): February 2019 Vol 18 No 3 (2018): October 2018 Vol 18 No 2 (2018): June 2018 Vol 18 No 1 (2018): February 2018 Vol 17 No 3 (2017): October 2017 Vol 17 No 2 (2017): June 2017 Vol 17 No 1 (2017): February 2017 Vol 16 No 3 (2016): October 2016 Vol 16 No 2 (2016): June 2016 Vol 16 No 1 (2016): February 2016 Vol 15 No 3 (2015): October 2015 Vol 15 No 2 (2015): June 2015 Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015 Vol 14 No 3 (2014): Oktober 2014 Vol 14 No 2 (2014): Juni 2014 Vol 14 No 1 (2014): Februari 2014 Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013 Vol 13 No 1 (2013): Juni 2013 Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012 Vol 12 No 1 (2012): Juni 2012 Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011 Vol 11 No 1 (2011): Juni 2011 Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010 Vol 10 No 1 (2010): Juni 2010 Vol 9 No 2 (2009): Desember 2009 Vol 9 No 1 (2009): Juni 2009 Vol 8 No 2 (2008): Desember 2008 Vol 8 No 1 (2008): Juni 2008 Vol 7 No 2 (2007): Desember 2007 Vol 7 No 1 (2007): Juni 2007 Vol 6 No 2 (2006): Desember 2006 Vol 6 No 1 (2006): Juni 2006 Vol 5 No 2 (2005): Desember 2005 Vol 5 No 1 (2005): Juni 2005 Vol 4 No 2 (2004): Desember 2004 Vol 4 No 1 (2004): Juni 2004 Vol 3 No 2 (2003): Desember 2003 Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003 Vol 2 No 2 (2002): Desember 2002 Vol 2 No 1 (2002): Juni 2002 Vol 1 No 2 (2001): Desember 2001 Vol 1 No 1 (2001): Juni 2001 More Issue