cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022" : 8 Documents clear
Karakteristik Nori Campuran Rumput Laut Ulva sp. dan Gracilaria sp. yang Diproses dengan Metode Casting Dina Fransiska; Nurhayati Nurhayati; Ellya Sinurat; Subaryono Subaryono; Bagus Sediadi Bandol Utomo; Rinta Kusumawati; Sihono Sihono
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i2.728

Abstract

Produk nori saat ini cukup diminati konsumen, namun rumput laut Phorphyra sebagai bahan baku nori merupakan jenis rumput laut yang ketersediaannya terbatas. Untuk itu diperlukan teknologi pengolahan nori yang bahan bakunya ada di Indonesia, antara lain Ulva sp. dan Gracilaria sp. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik dan kimia nori yang dibuat dari campuran rumput laut Ulva sp. dan Gracilaria sp. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan nori menggunakan rumput laut Ulva sp. dan Gracilaria sp. dengan rasio sebesar 100:0; 75:25; 50:50; 25:75; 0:100 (b/b) melalui metode casting. Parameter yang diamati yaitu karakteristik fisik (ketebalan, kekerasan, dan warna) dan karakteristik kimia (kadar air, abu, lemak, protein, serat pangan, dan total karbohidrat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik nori yang dihasilkan berbeda nyata antar perlakuan. Perlakuan terbaik pada penelitian ini yaitu nori dengan rasio Ulva sp. dan Gracilaria sp. 100:0 b/b, walaupun kualitasnya masih di bawah nori komersial. Nori tersebut memiliki ketebalan 0,62 mm, parameter warna (L 31,59; a* -1,11; b* 15,51), kekerasan 595,06 g, kadar air 8,63%, abu 23,47%, lemak 10,64%, protein 9,34%, total karbohidrat 47,91%, dan serat pangan 28,20%. AbstractNori Product become more popular recently, however, the availability of Porphyra as raw material for nori is very limited in Indonesia. For this reason, nori processing technology using seaweeds other than Porphyra such as  Ulva sp. and Gracilaria sp. is required. The objective of this experiment is to evaluate the physico-chemical characteristics of nori which was processed from Ulva sp. and Gracilaria sp. seaweeds. In this experiment, the proportions of Ulva sp. and Gracilaria sp. for nori processing were 100:0; 75:25; 50:50; 25:75; 0:100 (w/w) using casting method. The parameters used to evaluate the physical characteristics were thickness, colour, and hardness, while the chemical parameters were moisture, ash, fat, protein, dietary fiber, and total carbohydrate. The results showed that the characteristics of the processed nori were different significantly between samples. The best treatment was gained from ratio of  Ulva sp. and Gracilaria sp. in a proportion of 100:0 w/w. The quality of the product, however, was still lower than commercial nori, with the characteristics as follows: thickness 0.62 mm, colour (L 31.59; a* -1.11, b* 15.51), hardness 595.06 g, moisture content 8.63%, ash 23.47%, fat 10.64%, protein 9.34%, total carbohydrate 47.91%, and dietary fibre 28.20%  
Efek Penggunaan Pelarut Berulang pada Proses Pre-Ekstraksi Terhadap Mutu Alginat dari Sargassum cristaefolium Sugiono Sugiono; Alfan Nur Abadi; Sulfiatus Zannuba; Alvin Taufiky; Matheus Nugroho
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i2.804

Abstract

Pre-ekstraksi alginat dari alga coklat dengan pelarut asam membutuhkan reaktan dan air dalam jumlah banyak, serta menghasilkan mengeluarkan banyak limbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan pelarut asam dengan melakukan penggunaan pelarut secara berulang dan mengetahui pengaruhnya terhadap mutu alginat, reduksi kebutuhan air dan reaktan, serta reduksi limbah pelarut. Penggunaan kembali pelarut asam pada proses pre-ekstraksi dilakukan dengan variasi penggunaan pelarut ke 0, 1, 2, 3, dan 4. Rancangan acak lengkap dengan tiga kali ulangan digunakan untuk menentukan pengaruh penggunaan pelarut berulang terhadap mutu alginat. Parameter yang diamati meliputi rendemen, viskositas, berat molekul alginat, kebutuhan air dan HCl, serta limbah pelarut asam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pelarut berulang dapat menghasilkan alginat dengan rerata rendemen 26,7%. Penggunaan pelarut berulang ke 0-2 dapat menghasilkan alginat kualitas sedang dengan viskositas 270,9-360,0 mPa.s dan berat molekul alginat 122,04-175,44 kDa. Pre-ekstraksi makrolaga dengan pelarut berulang ke 0-2 dapat menurunkan kebutuhan air 22,2%, HCl 66,7%, dan limbah pelarut menurun 66,7%. Pre-ekstraksi makroalga dengan pelarut berulang mempunyai potensi efisiensi dan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada skala yang lebih besar. AbstractPre-extraction of alginate from brown algae with acidic solvents requires a lot of reactants and water that produce a lot of solvent wastes. This study aimed to optimize the use of acidic solvents by using solvents repeatedly and to determine the effect on alginate quality, water consumption and reactant, and acid solvent waste. Repeated use of solvents on pre-extraction stage was carried out with variations of 0, 1, 2, 3, and 4 times. A Completely Randomized Design (CRD) with three replications was used to determine the effect of repeated use of solvents on the alginate quality. Parameters observed were yield, viscosity, molecular weight of alginate, water consumption, HCl requirement, and the amount of acid solvents waste. The result showed that the repeated use of solvents in the pre-extraction stage produced alginate with an average yield of 26.7%. Repeated use of solvents of 0 to 2 times produced medium quality of alginate with a viscosity of 270.9-360.0 mPa.s and alginate molecular weight of 122,04-175,44 kDa. Pre-extraction of macroalgae by repeated use of solvents can reduce water consumption 22,2%, HCl 66,7%, and waste solvents 66,7%. Pre-extraction of macroalgae by repeated use of acid solvents was potential for efficiency, and further research is needed for a larger scale extraction process.
Nilai Gizi dan Hedonik Bubur Bayi Instan dari Ubi Jalar Ungu dan Ikan Rucah Asri Silvana Naiu; Yeni Talib; Rahim Husain
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i2.877

Abstract

Bubur bayi instan bisa dibuat dengan bahan-bahan yang murah dan sehat dari bahan baku lokal. Bahan pangan lokal seperti ubi jalar dan ikan rucah dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan gizi bayi. Ubi jalar memiliki konsentrasi protein yang rendah, sehingga dapat difortifikasi dengan ikan rucah dalam bubur bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula campuran tepung ubi jalar ungu dan tepung ikan rucah yang optimal untuk bubur bayi instan. Perlakuan dalam penelitian ini terdiri atas tiga taraf, yaitu P1 (30% tepung ikan rucah : 70% tepung ubi jalar), P2 (40% tepung ikan rucah : 60% tepung ubi jalar), dan P3 (50% tepung ikan rucah : 50% tepung ubi jalar). Rancangan acak lengkap (RAL) dan ANOVA digunakan untuk membandingkan parameter mutu kadar air , abu, protein, lemak, dan serat makanan. Parameter warna, rasa, aroma, dan tekstur diuji dengan metode Kruskal-Wallis. Uji Duncan dilakukan pada parameter yang terpengaruh signifikan. Semua perlakuan memenuhi SNI 01-7111.1-2005 tentang MP-ASI untuk kebutuhan pangan protein (19,64–21,55%), lemak (8,53–9,06%), serat pangan (3,1-4,2%), kadar air (3,44–3,52%), dan abu (3,17–3,35%). Berdasarkan nilai hedonik, formula P1 (tepung ikan rucah 30% : tepung ubi jalar 70%) adalah yang paling disukai dan komposisinya memenuhi angka kecukupan gizi (AKG) protein 42,2%, lemak 9,65%, dan serat 16,8% untuk bayi 7-11 bulan. AbstractInstant infant porridge can be made with ingredients from the cheap and healthy locally resources. Local resources like sweet potatoes and trash fish can be used to boost infants nutrition. Sweet potato has a low protein concentration, so it can be fortified with trash fish in infant porridge. This study attempts to discover the optimum formula of purple sweet potato and trash fish meal mix for instant infant porridge. The treatments in this study comprised three levels: P1 (30% trash fish meal: 70% sweet potato flour), P2 (40% trash fish meal: 60% sweet potato flour), and P3 (50% trash fish meal: 50% sweet potato flour). Randomized Complete Design (RCD) and ANOVA were used to compare the products parameters of moisture, ash, protein, fat, and dietary fiber. Color, taste, aroma, and texture parameters were tested using the Kruskal-Wallis method. A Duncan test was subsequently assigned  on the parameters that are significantly affected. All treatments satisfied SNI 01-7111.1-2005 on MP-ASI dietary requirements for protein (19.64–21.55%), fat (8.53–9.06%), food fiber (3.1-4.2%), moisture (3.44–3.52%), and ash (3.17–3.35%). Based on hedonic value, formula P1 (30% trash fish meal : 70% sweet potato flour) is the most desired, where the composition meets the adequacy nutritional rate (RDA) of 42.2% protein, 9.65% fat, and 16.8% fiber for  infants of 7-11 months.
Perlakuan Jenis Minyak Berbeda Sebagai Bahan Enkapsulasi Hidrolisat Ikan Gabus (Channa striata) Syukri Syukri; Gatot Siswo Hutomo; Samliok Ndobe
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i2.845

Abstract

Salah satu sumber albumin adalah ikan gabus (Channa striata). Albumin dapat mengalami kerusakan yang diakibatkan proses oksidasi selama penyimpanan. Enkapsulasi dapat menjadi salah satu teknologi yang dapat mempertahankan mutu albumin dari kerusakan oksidatif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kualitas ekstrak hidrolisat ikan gabus (C. striata) yang dienkapsilasi dengan minyak berbeda (VCO, zaitun, kemiri, atau wijen) dengan lama penyimpanan 8 minggu. Penelitian terdiri atas beberapa tahap yang meliputi ekstraksi hidrolisat ikan gabus, proses enkapsulasi (maltodekstrin + minyak sesuai perlakuan), dan dilakukan perlakuan penyimpanan 0, 2, 4, 6, dan 8 minggu pada suhu kamar (± 25°C). Parameter yang diamati adalah kadar albumin, kapasitas antioksidan, asam lemak bebas, kadar air, dan kadar abu. Hasil pengujian memperlihatkan perlakuan jenis minyak bahan enkapsulasi berpengaruh terhadap kadar albumin, sedangkan waktu penyimpanan tidak berpengaruh terhadap perubahan kadar albumin. Selain itu, perlakuan perbedaan jenis minyak bahan enkapsulasi dan waktu penyimpanan memberikan pengaruh terhadap kapasitas antioksidan, asam lemak bebas, kadar air, dan kadar abu ekstrak hidrolisat ikan gabus. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa minyak kemiri merupakan bahan enkapsulasi terbaik, diiikuti oleh minyak wijen, minyak zaitun, dan VCO. Ekstrak hidrolisat ikan gabus yang dienkapsulasi dengan minyak kemiri hanya mengalami penurunan 0,79% setelah disimpan selama 8 minggu, lebih rendah dari perlakuan dengan minyak wijen (1,02%), minyak zaitun (1,35%), dan VCO (1,72%). AbstractSnakehead fish (Channa striata) has been known as a source of albumin. Albumin is susceptible to oxidation, so that it can be degraded during storage. The encapsulation method is one of technologies to maintain the quality of albumin. This study aimed to determine the hydrolyzed property of snakehead fish (C. striata) encapsulated with olive oil, virgin coconut oil (VCO), candlenut oil, or sesame oil during storage. The stages of research included the manufacture of snakehead fish hydrolysate, encapsulation with a combination of a treatment oil and maltodextrin, and storage time (0, 2, 4, 6, and 8 weeks) at room temperature (± 25°C). The parameters observed were albumin content, antioxidant capacity, free fatty acid, water content, and ash content. The results showed that the type of oil as an encapsulating material affected albumin levels, while storage time did not affect changes in albumin levels. In addition, treating different types of encapsulated oil and storage time affects the antioxidant capacity, free fatty acid content, water content, and ash content of snakehead fish hydrolysate. From the present study, it can be concluded that candlenut oil was the best encapsulation material, followed by sesame oil, olive oil, and VCO. The hydrolyzed snakehead fish extract, encapsulated with candlenut oil, only decreased by 0.79% after being stored for eight weeks, lower than treatment with sesame oil (1.02%), olive oil (1.35%), and VCO (1.72%). 
Karakteristik Fisiko-Kimia Kukis dengan Penambahan Tepung Tulang Ikan Tenggiri (Scomberomorus commerson) Nirmala efri hasibuan; Sumartini Sumartini
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i2.842

Abstract

Tulang ikan tenggiri (Scomberomorus commerson) merupakan salah satu limbah industri pengolahan ikan yang dapat digunakan sebagai sumber mineral. Pada penelitian ini tepung tulang ikan tenggiri dimanfaatkan sebagai bahan pengisi pada pembuatan kukis dan diharapkan mampu meningkatkan kandungan nutrisinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh fortifikasi tepung tulang ikan tenggiri pada pembuatan kukis terhadap sifat fisik, kimia dan mutu sensori (hedonik) kukis yang dihasilkan. Kukis dibuat dengan variasi perlakuan penambahan tepung tulang ikan yaitu 0, 10%, 20%, dan 30 %. Parameter yang diamati adalah hedonik, protein, karbohidrat, lemak, abu, air, kalori, kalsium, fosfor dan hardness. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kukis dengan penambahan tepung tulang ikan tenggiri memiliki kalsium, fosfor, protein, lemak, kadar abu dan hardness yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa sifat fisik, kimia dan hedonik kukis terbaik dihasilkan dari perlakuan fortifikasi tepung tulang ikan 10%, dengan kadar air 4,24%, protein 7,22 %, karbohidrat 55,40%, lemak 27,38%, abu 3,24%, kalsium 7,76%, fosfor 5,31 %, kalori 520 kkal, hardness 21,06 N, dan nilai rata-rata hedonik berdasarkan parameter kenampakan, bau, rasa, dan tekstur adalah 6,9-7,8. ABSTRACTNarrow-barred spanish mackerel fish bone (Scomberomorus commerson) is one of the fish processing industrial waste that can be used as a mineral source. In this study, the narrow-barred spanish mackerel fish bone flour was used to fortify the manufacture of cookies and is expected to increase the nutritional content. The purpose of this study was to determine the effect of adding the narrow-barred spanish mackerel fish bone flour to the manufacture of cookies on the physico-chemical properties and sensory quality (hedonic) of cookies based on experimental method. Cookies were made with variations in the addition of fish bone flour, namely 0, 10%, 20%, and 30%. Parameters tested were hedonic value, protein, carbohydrate, fat, ash, moisture, calories, calcium, phosphorus and hardness. The results showed that cookies with the addition of narrow-barred spanish mackerel bone flour had higher calcium, phosphorus, protein, fat, ash content and hardness compared to controls. Based on the results of the study, it was found that the best physico-chemical properties and hedonic of cookies were obtained from the addition of 10% fish bone flour. Cookies from this treatment had moisture content of 4,24%, protein 7,22%, carbohydrates 55,40%, fat 27,38%, ash 3,24%, calcium 7,76%, phosphorus 5,31%, calories 520 kcal, hardness 21,06 N, and hedonic average value based on appearance, odour, taste, and texture parameters of 6,9-7,8.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Keong Matah Merah (Cerithidea obstusa) Terhadap Kadar Enzim Transaminase Tikus Putih (Rattus novergicus) Dewi Ulfa Trisdiani; Sri Purwaningsih; Ekowati Handharyani
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i2.853

Abstract

Keong matah merah (Cerithidea obtusa) terbukti memiliki potensi farmakologis sebagai obat. Penelitian ini bertujuan menganalisis kadar enzim transaminase, yaitu serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) dan serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) pada serum tikus putih (Rattus novergicus) jantan galur Sprague Dawley yang diberi ekstrak etanol daging keong matah merah (C. obtusa) selama 28 hari. Kadar SGOT dan SGPT yang mengalami peningkatan secara bersamaan dapat menjadi indikator kerusakan hati. Hasil penelitian menunjukkan daging mentah segar keong matah merah (C. obtusa) mempunyai kadar air, protein, lemak, dan abu berturut-turut sebesar 74,22%; 11,99%; 0,63%, dan 8,40%. Ekstrak etanol daging mentah segar keong matah merah memiliki rendemen sebesar 3,41%. Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus putih jantan, yang dibagi secara acak menjadi 4 kelompok dan mendapatkan perlakuan yang berbeda selama 28 hari. Kelompok 1 (kontrol) beri akuades 2 ml/hari, kelompok 2 beri metotreksat 0,125 mg/kg BB/dua hari , kelompok 3 dan 4 diberi ekstrak etanol daging keong matah merah berturut-turut dengan dosis 100 dan 200 mg/kg BB/hari. Pengambilan sampel serum darah dilakukan pada hari ke-29 secara intrakardiak, kemudian dilakukan analisis kadar SGOT dan SGPT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daging keong matah merah dengan dosis 100 dan 200 mg/kg BB/hari secara signifikan menurunkan kadar SGOT dan SGPT pada serum tikus putih jantan. KATA KUNCI: ABSTRACT The red eyed snail (Cerithidea obtusa) has been shown to have pharmacological potential as a drug. This study aimed to anal,yze the levels of transaminase enzymes, namely serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) and serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) in the serum of male white rats (Rattus novergicus) Sprague Dawley strain given ethanol extract of red eye snail meat (C. obtusa) for 28 days. Levels of SGOT and SGPT which increase simultaneously can be an indicator of liver damage. The results showed that fresh raw meat of red eyed snail (Cerithidea obtusa) had water, protein, fat and ash content respectively of 74.22%; 11.99%; 0.63%, and 8.40%. Ethanol extract of fresh raw meat of red eyed snail has a yield of 3.41%. This study used 24 male white rats which were randomly grouped into 4 groups and received different treatments for 28 days. Group 1 (control) was given a 2 ml of distilled water/day, group 2 was treated with methotrexate 0.125 mg/kg BW/two days, while groups 3 and 4 were fed with ethanol extract of red eye snail meat of 100 and 200 mg/kg BW/day respectively. Blood serum samples were taken by intracardiac method on the 29th day and then analyzed for SGOT and SGPT levels. The results showed that the red eye snail meat ethanol extract with doses of 100 and 200 mg/kg BW/day was significantly able to reduce SGOT and SGPT levels in male white rats serum.
Pengaruh Penambahan Kappaphycus alvarezii terhadap Mutu Bakso Udang Dogol (Metapenaeus monoceros) Riski Sulistio Aji; Ita Zuraida; Bagus Fajar Pamungkas; Irman Irawan; Seftylia Diachanty
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i2.846

Abstract

Salah satu karakteristik khas bakso adalah kekenyalannya yang dapat diatur dengan penambahan bahan pengenyal. Di antara bahan pengenyal alami yang dapat digunakan adalah rumput laut Kappaphycus alvarezii. Tujuan penelitian ini ialah melihat nilai organoleptik, sifat fisika, dan sifat kimia bakso udang dogol yang ditambahkan K. alvarezii. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima rasio perbandingan dan diulang sebanyak tiga kali, yaitu (i) 80% daging udang dogol, (ii) 70% udang : 10% rumput laut (iii) 60% udang : 20% rumput laut, (iv) 50% udang : 30% rumput laut, dan (v) 40% udang : 40% rumput laut. Data diolah menggunakan analisis sidik ragam dan dilanjutkan menggunakan DMRT pada taraf 5%. Berdasarkan penelitian, terdapat perbedaan yang nyata (p<0,05) pada bakso udang dogol yang ditambahkan K. alvarezii terhadap kadar proksimat, sifat fisika (EMC/expressible moisture content dan warna), serta kesukaan konsumen (parameter tekstur dan penerimaan keseluruhan). Komposisi terbaik pada bakso udang dogol dengan penambahan K. alvarezii lumat berdasarkan karakteristik fisiko-kimia adalah pada perlakuan 20% rumput laut dan 60% daging udang dogol. Perlakuan ini menghasilkan bakso dengan kadar air 73,23%; abu 1,83%; lemak 0,96%; protein 9,83%; EMC 5,23%; Load max 53,04 kgf; displacement max 23,03 mm; kecerahan (L) 53,19; (a*) 5,00; (b*) 12,70, dan derajat putih 51,21%. Hasil uji kesukaan menunjukkan bahwa produk tersebut diterima oleh penelis, dengan nilai 6,10 (agak suka) untuk parameter warna; 6,77 (suka) untuk aroma; 6,90 (suka) untuk tekstur, dan 6,93 (suka) untuk rasa. AbstractOne of the characteristics of meatball is their elasticity, which can be adjusted by adding a thickening agent. The thickening agent that can be used is Kappaphycus alvarezii. The purpose of this study was to determine the organoleptic value, physical and chemical properties of the dogol shrimp balls added with K. alvarezii. The experiment was performed using a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 3 replications : (i) 80% dogol shrimp meat, (ii) 70% dogol shrimp meat and 10% seaweed, (iii) 60% dogol shrimp meat and 20% seaweed, (iv) 50% dogol shrimp meat and 30% seaweed and (v) 40% dogol shrimp meat and 40% seaweed. As a result, the addition of K. alvarezii to processed dogol shrimp balls had a significant effect (p<0.05) on proximate values, physical properties (EMC/expressible moisture content and color), and consumer preferences (texture and general parameters). The best composition of dogol shrimp balls with the addition of K. alvarezii based on physicochemical characteristics was the treatment of 20% seaweed and 60% dogol shrimp meat. This formula produces shrimp balls with moisture content of 73.23%; ash 1.83%; fat 0.96%; 9.83% protein; EMC 5.23%; maximum load 53.04 kgf; maximum displacement 23.03 mm; brightness (L) 53.19; (a*) 5.00; (b*) 12.70, and white degree 51.21%. The results of the preference test showed that the product was accepted by the panelists, with value 6.10 (slightly like) for the color parameter; 6.77 (like) for the scent; 6.90 (like) for texture, and 6.93 (like) for flavor. 
Peningkatan Nilai Tambah Kulit Ikan Tuna sebagai Bahan Baku Pupuk Organik Cair Ainal Mardhiah; Nadia Putri; Dwi Apriliani; Lia Handayani
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i2.861

Abstract

Limbah kulit ikan tuna sirip kuning merupakan produk sampingan dari PT. YPT, Banda Aceh yang belum dimanfaatkan. Kulit ikan mengandung unsur N, P, dan K yang yang dapat dimanfaatkan untuk pupuk. Penggunaan Pupuk Organik Cair (POC) berbasis hasil samping industri hasil perikanan masih belum berkembang dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah kulit ikan tuna sirip kuning menjadi POC menggunakan metode fermentasi tradisional, mengkaji komposisi kimia (mineral) yang terkandung, dan menentukan dosis terbaik penambahan POC yang dihasilkan pada tanaman kangkung. POC dibuat dengan 2 perlakuan, yaitu penambahan molase sebanyak 2% (POC2%) dan 4% (POC4%). Uji organoleptik meliputi parameter aroma dan warna kemudian dianalisis menggunakan Uji Kruskal-Wallis. Analisis komposisi mineral POC menggunakan X-ray flouresence (XRF) dengan pupuk cair kimia sebagai pembanding. Pengujian aplikasi pupuk cair (POC dan pupuk cair komersil) pada tanaman kangkung dilakukan dengan parameter pengamatan tinggi tanaman dan jumlah daun. Berdasarkan uji organoleptik diketahui bahwa perlakuan POC4% lebih cepat mengalami proses pematangan dibandingkan dengan POC2%. Uji Kruskal-wallis menunjukkan bahwa konsentrasi molase berpengaruh nyata terhadap parameter warna, namun tidak berpengaruh terhadap parameter aroma. Hasil uji XRF menunjukkan bahwa POC menghasilkan berbagai unsur hara mikro (Si, Cl, Fe, Mn, B, dan Zn) serta unsur makro (P, K, Ca, dan S) yang relatif lengkap memenuhi kebutuhan tanaman. Berdasarkan uji yang dilakukan, POC4% memiliki karakteristik yang lebih baik dibandingkan POC2%. Dosis penggunaan optimal POC4% adalah 4 ml/L, namun aplikasi dengan konsentrasi 2 ml/L telah menghasilkan pertumbuhan kangkung yang setara dengan penggunaan pupuk cair komersil sebanyak 12 ml/L (dosis yang disesuaikan anjuran penggunaan pada kemasan).AbstractYellow-fin tuna skin waste is a by-product of PT. YPT, Banda Aceh that has not been utilized. The fish skin waste contains N, P, and K elements which are applicable for fertilizer. Currently, the use of Liquid Organic Fertilizer (LOF) is still not well developed. This study aims to determine the utilization of yellow-fin tuna skin waste into LOF using traditional fermentation methods, examining the chemical composition (minerals) contained and detecting the best dose of liquid organic fertilizer for the growth of water spinach. LOF was made with 2 treatments: molasses addition of 2% (POC2%) and 4% (POC4%). The organoleptic test included odour and color parameters, analyzed using the Kruskal-Wallis Test. Mineral composition test was performed using X-ray fluorescence (XRF), with chemical liquid fertilizer as a comparison. Application test of liquid fertilizer (LOF and commercial liquid fertilizers) on water spinach with observation parameters of the plant height and number of leaves. Based on the organoleptic test, it is known that LOF4% treatment undergoes a maturation process faster than that of LOF2%. The Kruskal-Wallis test showed that molasses concentration had a marked effect on the color parameter but had no effect on the odour parameter. The results of the XRF test showed that the LOF from this study contained relatively complete range of micronutrients (Si, Cl, Fe, Mn, B, and Zn) and macronutrients (P, K, Ca, and S) which are needed by plants. Based on the test conducted, LOF4% has better characteristics than LOF2%. The optimal application dose of LOF4% is 4 ml/L, but the use of 2 ml/L has resulted in water spinach growth equivalent to the application of commercial liquid fertilizer of 12 ml/L (the dose recommended for use on the package).

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2022 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue