cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
Kultivasi Fungi Mfw-01-08 yang Diisolasi dari Ascidia Aplidium longithorax dan Uji Aktivitas Sitotoksiknya Terhadap Sel Kanker Payudara T47D Muhammad Nursid; Asri Pratitis; Ekowati Chasanah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v5i2.412

Abstract

Mikroba laut, khususnya fungi, banyak digunakan sebagai sumber senyawa bioaktif baru. Banyak dari senyawa ini digunakan sebagai senyawa pemandu dalam pencarian obat-obatan baru antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas sitotoksik ekstrak fungi MFW -01-08. Fungi diisolasi dari ascidia laut Aplidium longithoraxyang diambil dari Taman Nasional Laut Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Fungi MFW-01-08 diisolasi dengan menggunakan media malt extract agar (MEA) kemudian dikultivasi selama 5 minggu (statis) pada suhu 27–29oC dalam media SWS yang mengandung pepton soya (0,1%), pati larut air (2,0%), dan air laut buatan (1 L). Uji sitotoksik dilakukan menggunakan sel lestari T47D (kanker payudara) berdasarkan metode MTT assay. Senyawa metabolit sekunder dari miselium fungi diekstraksi dengan campuran diklorometan – metanol 1 : 1 sedangkan media kultur fungi diekstraksi dengan etil asetat. Hasil uji MTT memperlihatkan bahwa ekstrak media kultur memiliki aktivitas sitotoksik medium (IC50= 92,6 µg/mL) dan ekstrak miselium tidak menunjukkan aktivitas sitotoksik (IC50183,6µg/mL) terhadap sel T47D. Oleh karena itu penelitian lanjutan akan difokuskan pada ekstrak media kultur.
Penambahan Kalsium Karbonat Pada Pembuatan Tepung Puding Instan Berbahan Alginat Dina Fransiska; Annisa Indah Permatasari; Sakinah Haryati; Aris Munandar; Subaryono Subaryono; Muhamad Darmawan; Wahyu Rahmad
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i1.101

Abstract

Penelitian mengenai penambahan kalsium karbonat pada pembuatan tepung puding instan berbahan alginat telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan konsentrasi CaCO3 terbaik pada pembuatan tepung puding instan berbahan alginat yang diekstrak dari rumput laut coklat Sargassum filipendula dan menentukan karakteristik mutu tepung puding terbaik. Formulasi tepung puding terdiri atas alginat, guar gum, CaCO3 , perisa strawberry, pewarna, gula jagung, dan susu skim serta bahan pembentuk gel yaitu Glucono-ä-lactone. Pengujian produk puding instan dari alginat dilakukan terhadap sifat fisik yaitu kekuatan gel, elastisitas, sineresis dan uji organoleptik. Pada uji organoleptik, parameter yang dinilai meliputi tekstur, rasa, kenampakan, dan aroma. Formulasi produk tepung puding instan terbaik pada penelitian ini adalah tepung puding dengan penambahan CaCO3 konsentrasi 5% yang menghasilkan puding dengan kekuatan gel 168,84 g/cm², elastisitas 43,09 mm, dan sineresis 3,38%. Pada hasil uji organoleptik, puding instan terpilih mendapatkan nilai rata-rata uji rangking 45 (sangat suka), uji sensori kenampakan 3,00 (netral), aroma 4,33 (suka), rasa 3,27 (netral) dan tekstur 4,00 (suka). Mutu tepung puding instan terbaik memiliki kadar air 2,70±0,13%, kadar abu 14,96±3,57%, kadar lemak 0,41±0,08%, kadar protein 3,67%, kadar karbohidrat by difference 78,26% dan aw 0,23±0,01. Sedangkan pada analisis mikrobiologi tepung puding instan terbaik memiliki nilai rata-rata angka lempeng total (ALT) <25 x 102 koloni/g.
Pengaruh Perlakuan Alkali dan Volume Larutan Pengekstrak terhadap Mutu Karaginan dari Rumput Laut Eucheuma Cottonii. Th. Dwi Suryaningrum; Murdinah Murdinah; Mei Dwi Erlina
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i5.466

Abstract

           Penelitian ekstraksi rumput laut Eucheuma cottonii menjadi karaginan kertas telah dilakukan. Penelitian dilaksanakan dengan rancangan acak lengkap dengan variasi perlakuan bahan baku yaitu rumput laut yang diberi perlakukan KOH 6% dan 8% dan volume larutan pengekstrak 60 kali dan 50 kali dari bobot rumput laut kering. Percobaan dilakukan dengan 3 kali ulangan. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan larutan KCI 0,1% selama 3 jam pada suhu 90‑950C. Pengamatan dilakukan terhadap rendemen karaginan, sifat kimia (kadar air, abu, abu tak larut asam, sulfat dan 3,6‑anhydrogalaktosa) dan sifat fisik (kekuatan gel dan kekentalan) karaginan yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan rumput laut yang diberi perlakuan KOH 6% menghasilkan rendemen dan kekentalan larutan karaginan yang lebih baik sedangkan perlakuan KOH 8% menghasilkan karaginan yang mempunyai kadar air, kadar abu dan kadar abu tak larut asam yang lebih baik. Perlakuan terhadap bahan baku rumput laut dan volume larutan pengekstrak tidak berpengaruh nyata terhadap kadar sulfat dan kekuatan gel yang dihasilkan. Jika rendemen dan kekuatan gel diprioritaskan maka dalam ekstraksi karaginan dapat disarankan menggunakan rumput laut yang telah diberi perlakuan KOH 6% dan diekstraksi dengan larutan KCI 0,1% selama 3 jam dengan volume larutan pengekstrak 60 kali bobot rumput laut kering.
Mutu Protein Dendeng Ikan Hiu yang Diolah Dengan Cara Pengeringan Berbeda Ratna Sari Dewi; Nurul Huda; Ruzita Ahmad; Wan Nadiah Wan Abdullah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v5i1.429

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu protein dendeng ikan hiu (Chiloscyllium sp.) yang dikeringkan dengan menggunakan tiga jenis metode pengeringan yang berbeda, yaitu pengeringan dengan sinar matahari, oven udara panas (60°C) dan oven vakum (60°C). Sebelum dikeringkan, irisan daging ikan (ukuran 4 cm x 12 cm x 3 mm) direndam dalam larutan bumbu dan dikeringkan sehingga kandungan airnya berkisar antara 23-25%. Analisis dilakukan terhadap kandungan asam amino bahan baku dan dendeng hiu, dan nilai asam amino digunakan untuk menghitung skor kimia, skor asam amino, dan indeks asam amino. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada daging ikan hiu segar, skor kimia, skor asam amino, dan indeks asam amino esensial lebih tinggi dibandingkan dengan dendeng ikan hiu dengan berbagai cara pengeringan. Secara umum, pengeringan menyebabkan terjadinya penurunan mutu protein dendeng ikan hiu. Skor kimia, skor asam amino, dan indeks asam amino esensial daging ikan hiu segar berturut-turut adalah 65,93; 100,49; dan 89,13; pengeringan oven 56,48; 82,59; dan 75,86; pengeringan sinar matahari 51,15; 61,55; dan 79,43; dan pengeringan oven vakum 51,86; 62,41; dan 72,44. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dendeng ikan hiu dengan pengeringan oven udara panas memiliki nilai skor kimia dan skor asam amino lebih tinggi, sedangkan dendeng dengan pengeringan sinar matahari memiliki indeks asam amino esensial lebih tinggi dari sampel lain
Rekayasa Alat Penghasil Asap Cair untuk Produksi Ikan Asap 1. Uji Coba Alat Penghasil Asap Cair Skala Laboratorium Rodiah Nurbaya Sari; Bagus Sediadi Bandol Utomo; Tri Nugroho Widianto
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v1i1.232

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah melakukan uji coba alat penghasil asap cair skala laboratoriumdengan bahan pengasap tempurung kelapa. Suhu pirolisis diset antara 200–250o C dan 300-450o C. Parameter yang diuji adalah banyaknya asap cair yang dihasilkan, sisa pembakaranberupa arang yang terbentuk, jumlah komponen asap yang hilang, kinerja alat dan susunansenyawa kimia asap cair yang dihasilkan. Analisis susunan senyawa kimia asap cair yangdihasilkan menggunakan Gas Chromatography–Mass Spectrophotometry(GC-MS). Hasilpenelitian menunjukkan bahwa pada suhu pembakaran 200-250o C, tempurung kelapa dengan kadar air 11,40% menghasilkan asap cair sebanyak 48,10%, sisa pembakaran berupa arang sebanyak 31,33%, jumlah komponen yang hilang sebanyak 20,56% dengan kinerja alat sebesar 250,52 g/jam.m kondensor. Komponen terbanyak asap cair yang dihasilkan adalah senyawa 9-octadecenoic acid (Z)-, tetradecyl ester (C32H62O2) sebanyak 71,68%. Pada suhu pembakaran 300–450oC asap cair yang dihasilkan sebanyak 48,66%, sisa pembakaran berupa arangsebanyak 26,30%, komponen asap yang hilang sebanyak 25,04% dengan kinerja alat 253,44 g/jam.m kondensor. Pada suhu tersebut komponen terbanyak asap cair adalah senyawa 2-lauro-1,3-didecoinyaitu 37,53%.
Optimasi Metode Ekstraksi Fukoidan Kasar dari Rumput Laut Cokelat Sargassum binderi Sonder Ellya Sinurat; Rinta Kusumawati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i2.388

Abstract

AbstrakFukoidan merupakan polisakarida sulfat yang berasal dari rumput laut cokelat.  Salah satu faktor yang mempengaruhi mutu fukoidan adalah metode ekstraksi. Pada penelitian ini dilakukan optimasi ekstraksi fukoidan kasar dari rumput laut Sargassum binder Sonder untuk mendapatkan rendemen dan mutu paling tinggi. Optimasi tersebut dilakukan dengan empat metode ekstraksi yaitu: HCl 0,1 N pH 4 pada suhu kamar selama 6 jam, HCl 0,1 N pH 4 pada suhu 85 °C selama 4 jam, akuades pada suhu 85 °C selama 4 jam dan larutan CaCl2 2% pada suhu 85 °C selama 4 jam. Untuk masing-masing metode dilakukan 3 kali ulangan dengan bahan baku yang sama dan pada waktu berbeda. Parameter mutu fukoidan yang dianalisis meliputi: rendemen, total gula, asam uronat, kadar sulfat dan gugus fungsi polisakarida sulfat dengan FT-IR. Rendemen tertinggi diperoleh dengan metode ekstraksi HCl 0,1 N pH 4 pada suhu 85 oC selama 4 jam sebesar 6,0% dan terendah dengan metode ekstraksi menggunakan larutan CaCl2 2% sebesar 2,57%. Kandungan sulfat tertinggi diperoleh dengan metode larutan CaCl2 2% selama 4 jam sebesar 8,69%. Metode ekstraksi kasar fukoidan dari S. binderi Sonder yang paling optimum menggunakan pelarut air pada suhu 85 °C selama 4 jam dengan rendemen dan kandungan sulfat yaitu 3,36% dan 8,10%. Optimization of Crude Fucoidan Extraction Methods from Brown Seaweed  Sargassum  binderi  SonderAbstractFucoidan is a sulphate polysaccharide isolated from brown seaweed. One of the factors that affect the quality of fucoidan is the method of extraction. To obtain the highest yield and highest quality, crude fucoidan was extracted from  Sargassum  binderi Sonder using four methods; at room temperature in 0.1 N HCl pH 4 solution for 6 hours, at 85 °C in 0.1 N HCl pH 4 solution for 4 hours, at 85 °C in water for 4 hours and at 85 °C containing 2% CaCl2 in water for 4 hours. Three replications were performed for each method with the same raw material and different times. The fucoidan quality parameters analyzed were fucoidan yield, total sugar, uronic acid, sulphate content and functional groups of the sulphate polysaccharide with FT-IR. The highest yield was obtained by extraction method of 0.1 N HCl at 85  °C, pH 4 for 4 hours (6.0%), whereas extraction by 2% CaCl2 solution only produced 2.57% fucoidan. The optimum method of extraction crude fucoidan from  S.  Binderi Sonder with highest fucoidan yield (3.36%) and sulphate content (8.10%) of and was achieved by water extraction at 85 °C for 4 hours.
PENGARUH PEMBEROKAN DAN KEPADATAN TERHADAP KELULUSAN HIDUP IKAN GURAMI (Oshpronemus gouramy) DALAM TRANSPORTASI SISTEM BASAH Diah Ikasari; Theresia Dwi Suryaningrum; Syamdidi Syamdidi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v4i2.446

Abstract

Penelitian mengenai pengaruh pemberokan dan kepadatan selama transportasi terhadap kelulusan hidup ikan gurami (Oshpronemus gouramy) telah dilakukan. Pemberokan dilakukan terhadap ikan gurami selama 0, 1, 2, dan 3 hari sebelum transportasi. Ikan gurami kemudian ditransportasikan selama 18 jam menggunakan transportasi sistem basah dengan dua kepadatan 1:4 dan 1:3 (kg ikan/L air). Setelah ditransportasikan ikan gurami dibugarkan dalam bak penampung selama 24 jam. Pengamatan dilakukan terhadap mortalitas dan kondisi ikan setelah transportasi serta aktivitas ikan dan kualitas air selama transportasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah transportasi, mortalitas ikan pada perlakuan pemberokan 0, 1, 2, dan 3 hari untuk kepadatan 1:4 berturut-turut adalah 0%; 0%; 16,6%; dan 5,9%, sedangkan mortalitas ikan untuk kepadatan 1:3 berturut-turut adalah 5%; 0%; 4,8%; dan 38,8%. Nilai mortalitas terendah (0%) diperoleh pada perlakuan 1 hari pemberokan, baik dengan kepadatan 1:4 maupun dengan kepadatan 1:3. Sekitar 42-70% ikan gurami menunjukkan gejala kebutaan setelah transportasi, ditunjukkan dengan adanya kabut putih pada mata ikan. Pengamatan terhadap kualitas air media selama transportasi menunjukkan kadar oksigen yang cenderung menurun, sedangkan kadar amonia semakin meningkat pada semua perlakuan.
Pengaruh Waktu Ekstraksi terhadap Mutu Ekstrak Cair Rumput Laut Gracilaria sp. sebagai Bahan Baku Pupuk Cair Nurhayati Nurhayati; Olivia Oktaviani; Jamal Basmal
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v13i1.505

Abstract

AbstrakEkstrak cair rumput laut kini telah banyak digunakan dalam bidang pertanian karena mengandung senyawa penting yang dibutuhkan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu ekstraksi terhadap mutu ekstrak cair Gracilaria sp. sebagai bahan pupuk cair. Ekstrak cair diekstrak menggunakan larutan KOH 0,3% pada suhu 80 °C dengan waktu ekstraksi 0, 2, 4, dan 6 jam. Parameter yang diamati yaitu nilai pH, EC (electrical conductivity), TDS (total dissolved solids), viskositas, C-organik, serta kadar unsur hara makro N dan K. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan optimum untuk menghasilkan ekstrak cair terbaik adalah pada perlakuan waktu ekstraksi selama 2 jam yaitu dengan nilai pH 6,35, EC 4,9 mS/cm, TDS 4839 ppm, viskositas 1,6 cPs, C-organik 0,18%, kadar unsur hara N 0,022% dan K 0,082%. Effect of Extraction Time on Quality of  Gracilaria sp. Sap as Raw Material for Liquid FertilizerAbstractSeaweed sap has now been widely used in agriculture due to the content of essential compounds needed by plants. This study aimed to determine the effect of extraction time on the quality of Gracilaria sp. sap as material for liquid fertilizer. Seaweed sap was extracted using 0.3% KOH solution at 80 °C with various extraction times of 0, 2, 4, and 6 hours. The parameters observed were pH, EC (electrical conductivity), TDS (total dissolved solids), viscosity, C-organic, and macro nutrient content of N and K. The results showed that the optimum treatment was extraction for 2 hours produced sap with pH value of 6.35, EC of 4.9 mS/cm, TDS of 4839 ppm, viscosity of 1.6 cPs, C-organic of 0.18%, nutrient content N of 0.022% and K of 0.082%.
Isolasi dan Identifikasi Mikroba Lipolitik dari Limbah Cair Surimi dan Rajungan Devi Ambarwati Oktavia; Singgih Wibowo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v11i2.262

Abstract

Industri pengolahan hasil perikanan di sepanjang pantai Utara Jawa seperti pengalengan rajungan di Cirebon (Jawa Barat) dan pengolahan surimi di Kendal (Jawa Tengah), menghasilkan air limbah yang mengandung banyak protein dan lemak. Bakteri yang hidup di limbah yang banyak mengandung protein dan lemak tersebut diperkirakan memiliki kemampuan untuk menghidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol sehingga berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bioremedian alami bagi penanganan air limbah hasil perikanan di tempat lain. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penapisan dan identifikasi bakteri lipolitik potensial sebagai bioremedian air limbah perikanan. Penapisan dilakukan terhadap 11 isolat bakteri lipolitik dari air limbah yang diambil dari industri pengalengan rajungan di Cirebon dan pengolahan surimi di Kendal dengan menggunakan media spesifik agar tributirin. Isolat bakteri lipolitik potensial ditentukan berdasarkan zona bening yang terbentuk di sekitar koloni, yaitu sekurang-kurangnya 6 mm. Isolat bakteri potensial ini selanjutnya diidentifikasi secara molekuler berdasarkan analisis sekuen 16S-rDNA. Dari penapisan diperoleh empat isolat bakteri potensial, yaitu isolat SPB, SHj, SOr dan SKn. Identifikasi molekuler menunjukkan bahwa isolat SPB dan SHj masing-masing adalah Serratia fonticola 10AdanBacillus cereus strain 103.2.2dengan kemiripan 97%, isolat SOr memiliki kemiripan 96% dengan Bacillus pumilus strain vit bac1 dan isolat SKn adalah Enterococcus pseudoavium strain L3C21K2dengan kemiripan 87%. Keempat isolat tersebut berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bioremedian pada air limbah dari industri pengolahan hasil perikanan di Indonesia.
Pengaruh Perendaman dalam Asam Klorida Terhadap Kualitas Gelatin Tulang Kakap Merah (Lutjanus sp.) Rinta Kusumawati; Tazwir tazwir; Ari Wawasto
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v3i1.10

Abstract

ABSTRAKPenelitian dilakukan untuk melihat pengaruh perlakuan perendaman tulang kakap merah (Lutjanus sp.) dalam asam klorida (HCl) pada konsentrasi 2, 3, dan 4% terhadap kualitas gelatin yang dihasilkan. Bahan baku yang digunakan adalah tulang kakap merah (Lutjanus sp.) yang telah dibersihkan dan disimpan selama 3 bulan dalam suhu ruang. Proses perendaman dilanjutkan dengan tahap ekstraksi, filtrasi, evaporasi, dan pengeringan. Analisis statistik menunjukkan bahwa konsentrasi HCl berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kekuatan gel, viskositas, dan rendemen gelatin, tetapi tidak berpengaruh terhadap pH. Hasil yang terbaik diperoleh dari perendaman dengan HCl 2%, yaitu rendemen 14,16%, kekuatan gel 202 g Bloom, viskositas 7,46 cPs, dan pH 4,43.

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue