cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
Aktivitas Inhibitor Enzim Pengubah Angiotensin (ACE) dan Antioksidan Peptida Kolagen dari Teripang Gama (Stichopus variegatus) M. Habbib Khirzin; Sukarno Sukarno; N.D. Yuliana; Yusro Nuri Fawzya; Ekowati Chasanah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v10i1.242

Abstract

Teripang merupakan salah satu echinodermata yang memiliki kandungan protein tinggi dan sekitar 70% dari proteinnya merupakan kolagen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas inhibitor Angiotensin Converting Enzyme (ACE) dan antioksidan dari peptida kolagen teripang Gama (Stichopus variegatus). Ekstraksi kolagen dilakukan menggunakan asam asetat 0,5 M. Peptida kolagen diperoleh melalui hidrolisis kolagen menggunakan enzim pepsin dengan konsentrasi 0,1 U/g kolagen, selama 0; 30; 60; 90; 120; 180; dan 240 menit. Aktivitas inhibitor ACE dan antioksidan peptida kolagen diuji dengan metode spektroskopi. Kolagen yang dihasilkan memiliki rendemen 16,40% dengan berat molekul 130,33 kDa. Aktivitas inhibitor ACE tertinggi dihasilkan dari proses hidrolisis selama 180 menit dengan penghambatan sebesar 82,31%, sedangkan aktivitas antioksidan tertinggi dihasilkan oleh peptida kolagen dari hidrolisis kolagen selama 120 menit dengan nilai IC50 1,9 mg/ml.
Isolasi dan Karakterisasi Parsial Kolagen dari Teripang Gamma (Stichopus variegatus) Yusro Nuri Fawzya; Ekowati Chasanah; Achmad Poernomo; M. H. Khirzin
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v11i1.284

Abstract

Isolasi dan karakterisasi parsial kolagen dari teripang gamma (Stichopus variegatus) telah dilakukan. Isolasi dilakukan melalui tiga tahap yaitu preparasi, ekstraksi dan isolasi. Tahap preparasi meliputi tahapan penyiangan, pencucian dan perendaman dalam akuades, dalam alkohol, dalam larutan Tris-HCl dan etilenadiaminatetraasetat  (EDTA) dan perendaman dalam larutan natrium hidroksida (NaOH). Ekstraksi dilakukan dengan perendaman asam asetat 0,5M. Isolasi dilakukan dengan cara pengendapan menggunakan NaCl dilanjutkan proses dialisis. Isolat kolagen teripang gamma yang diperoleh memiliki rendemen sebesar 16,40% (bobot kering), nilai pH 6,08 dan derajat putih 77,02%. Gugus fungsi kolagen terdiri dari amida A (3412 cm-1), B (2929 cm-1), I (1654 cm-1), II (1554 cm-1), dan III (1239 cm-1). Asam amino utama penyusun kolagen yaitu glisin, prolin, dan alanin, masing-masing sebesar 16,88%; 6,71%; dan 6,42%. Kolagen yang dihasilkan merupakan kolagen tipe I, diduga terdiri dari 3 rantai a1 yang homolog dengan berat molekul 130,33 kDa.
Kelimpahan Fitoplankton Penyebab Hab (Harmful Algal Bloom) di Perairan Teluk Lampung pada Musim Barat dan Timur Giri Rohmad Barokah; Ajeng Kurniasari Putri; Gunawan Gunawan
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v11i2.302

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang analisis kelimpahan fitoplankton penyebab HAB (Harmful Algal Bloom) di Perairan Teluk Lampung pada musim barat dan musim timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi alga yang berpotensi menyebabkan HAB yang berada di Teluk Lampung dan melihat pola hubungan kelimpahan fitoplankton yang bepotensi menyebabkan HAB dengan nutrien yang terkandung di perairan Teluk Lampung, Kab. Pesawaran, ProvinsiLampung. Pengambilan sampel dilakukan pada musim timur (April) dan musim barat (Oktober) pada tahun 2015. Dari penelitian ini ditemukan bahwa pada musim timur fitoplankton yang teridentifikasi dan berpotensi menyebabkan HAB adalah Amphora sp., Nitzchia sp., Ceratium sp., Dynophisis sp., Gymnodinium sp., dan Nocticulla scintillans. Pada musim barat fitoplankon yang teridentifikasi dan berpotensi menyebabkan HAB adalah Amphora sp., Nitzchia sp., Pseudonitzchia sp.,Alexadrium sp., Ceratium sp ., Cochlodium polykiroides, Dhynophisis sp ., Gambirdiscus toxicus, Gymnodinium sp., Nocticula scintillans, Procentrum sp., Pyrodinium bahamase dan Peridinium sp. Pada musim timur kelimpahan fitoplankton penyebab HAB yang terdapat di perairan Teluk Lampung didominasi oleh spesies Ceratium sp. dengan rata-rata 1,802 ind/L sedangkan pada musim barat kelimpahan fitoplankton di Teluk Lampung didominasi oleh Nitczchia sp ., dengan rata-rata kelimpahan 161,207ind/L.
Karakteristik dan Sifat Kinetika Enzim Kitinase dari Isolat Bakteri T5a1 Asal Terasi Dedi Noviendri; Yusro Nuri Fawzya; Ekowati Chasanah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v3i2.15

Abstract

ABSTRAKKarakterisasi dan studi kinetika enzim kitinase dari isolat T5a1 asal terasi telah dilakukan. Karakterisasi ini mencakup penentuan suhu dan pH optimum, kestabilan enzim pada suhu optimumnya, dan pengaruh adanya ion logam terhadap aktivitas enzim. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa enzim kitinase T5a1 mempunyai suhu dan pH optimum masing-masing adalah 40oC dan 6,0. Enzim ini masih tetap stabil sampai dengan 160 menit inkubasi pada suhu 40oC. Kation Fe3+ dan Ca2+ dapat meningkatkan aktivitas enzim kitinase, sedangkan kation monovalin Mn2+, Mg2+, Cu2+, Co2+, Zn2+, Ba2+ NH4 +, K+, dan Na+ dengan konsentrasi akhir 1,0 mM dapat menurunkan aktvitas enzim kitinase dari isolat T5a1. Nilai Vmaks dan Km enzim kitinase T5a1 ini masing-masing adalah sebesar 0,0048 U/mL dan 1,037 mg/mL.
Seleksi dan Identifikasi Bakteri Selulolitik yang Dapat Mendegradasi Serat Kasar Daun Singkong Mulyasari Mulyasari; Widanarni Widanarni; M. Agus Suprayudi; M. Zairin Junior; M. Tri Djoko Sunarno
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v10i2.238

Abstract

Pemanfaatan daun singkong sebagai bahan baku pakan ikan belum dilaksanakan secara optimal karena mengandung selulosa yang cukup t inggi. Tujuan penelit ian ini adalah mendapatkan bakteri yang dapat mendegradasi serat daun singkong dan melakukan identifikasi jenis bakteri selulolitik tersebut. Seleksi bakteri selulolitik dilakukan pada 4 jenis isolat bakteriasal saluran pencernaan ikan gurame yaitu UG3, UG6, UG7, dan UG8 dengan mengukur aktivitas enzim selulase secara kuantitatif pada substrat Carboxy Methyl Cellulose (CMC) dan daun singkong menggunakan metode 3,5-dinitrosalicylic acid (DNS). Identifikasi bakteri dilakukan pada 3 isolat yang memiliki aktivitas enzim selulase tertinggi pada substrat daun singkong berdasarkan morfologi (perwarnaan Gram, motilitas dan bentuk bakteri), uji biokimia (oksidase dan katalase) dan analisis gen (16S-rRNA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 4 isolat yang diuji cobakan, isolat UG7 memiliki aktivitas enzim selulase (CMCase) tertinggi (0,0043 U/ml) sedangkan yang terendah adalah UG3 (0,0018 U/ml). Pada uji coba di substrat daun singkong, aktivitas enzim tertinggi terlihat pada isolat UG3 (0,107 U/ml) dan terendah adalah UG6 (0,077 U/ml). Hasil identifikasi dari 3 jenis isolat bakteri uj i yang memiliki kemampuan mendegradasi daun singkong tertinggi (UG3, UG7, dan UG8) menunjukkan bahwa ketiga jenis isolat tersebut merupakan bakteri jenis Gram positif berbentuk batang (basil). Berdasarkan data base dari GenBank, isolat UG3 memiliki kemiripan sebesar 93% dengan Bacillus clausii, UG7 memiliki kemiripan sebesar 96% dengan Bacillus amyloliquefaciens dan UG8 memiliki kemiripan sebesar 88% dengan Bacillus subtilis.
Uji Coba Alat Penghasil Asap Cair Skala Laboratorium dengan Bahan Pengasap Serbuk Gergaji Kayu Jati Sabrang atau Sungkai (Peronema canescens) Rodiah Nurbaya Sari; Bagus Sediadi Bandol Utomo; Bakti Berlyanto Sedayu
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v2i1.31

Abstract

ABSTRAKUji coba alat penghasil asap cair skala laboratorium telah dilakukan dengan menggunakan bahan pengasap serbuk gergaji kayu jati sabrang atau sungkai (Peronema canescens). Pada percobaan ini suhu pirolisis diatur antara 200–450oC. Parameter yang diamati adalah banyaknya asap cair yang dihasilkan, arang sisa pembakaran, jumlah komponen asap yang hilang, kinerja alat dan susunan senyawa kimia asap cair yang dihasilkan dengan menggunakan GCMS Shimadzu – QP2010. Hasil percobaan menunjukkan bahwa proses distilasi asap menghasilkan asap cair sebanyak 38,0%, arang sisa pembakaran 32,0%, jumlah komponen yang hilang 30,0%,energi yang dilepas dari pembentukan asap menjadi asap cair (-) 476,45 kJ/kg asap, energi yang diserap air kondensor sebesar 2,1 kJ/kg air sehingga jumlah air bersuhu 30,4oC yang dibutuhkan untuk mengembunkan 1 kg asap menjadi asap cair dengan suhu pirolisis 316,7oC adalah sebanyak 226,88 liter. Kinerja alat adalah 6,98 g/(jam. m). Komponen dominan dalam asap cair yang dihasilkan adalah senyawa 1,2-benzenedicarboxylic acid, diethyl ester (C12H14O4) sebanyak 23,61%.
Karakteristik Emulsi Beberapa Fraksi Gelatin dari Kulit Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Suryanti Suryanti; Djagal Wiseso Marseno; Retno Indrati; Hari Eko Irianto
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i1.331

Abstract

AbstrakFraksinasi ekstrak gelatin dari kulit ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan menggunakan kantong dialisis MWCO 100 kD telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik emulsi dari fraksi gelatin yang diperoleh melalui proses asam asetat 0,10 M (GAs) dan asam sitrat 0,05 M (GSi). Fraksi gelatin GAs yang diperoleh memiliki distribusi berat molekul  13,6-218,87 kD dan 15,27-61,1 kD sedangkan fraksi gelatin GSi sebesar 107,5-142,23 kD dan 12,5-82,9 kD. Gugus fungsional molekul dari keempat fraksi gelatin tersebut terdiri dari amida I (1648 cm-1), amida II (1452 cm-1) dan amida III (1089 cm-1). Karakteristik emulsi yang meliputi sifat emulsi (aktivitas dan stabilitas emulsi) serta ukuran partikel emulsi semakin meningkat dengan semakin meningkatnya berat molekul. Zeta potensial droplet emulsi gelatin dari proses asam sitrat 0,05 M (GSi) lebih banyak bermuatan ion positif daripada proses asam asetat 0,10 M(GAs). Emulsi yang terbentuk dari fraksi GAs dan GSi pada konsentrasi 0,1% termasuk dalam makroemulsi dengan ukuran droplet >100 nm dan stabilitas mencapai 22,62 menit yang dapat diaplikasikan pada produk pangan seperti whipping cream, salad dressing dan mayonnaise. The Emulsion Characteristic of Gelatin Fraction from Tilapia (Oreochromis niloticus) SkinAbstractFractionation of gelatin extract from tilapia (Oreochromis niloticus) skin was done by using dialysis bag of MWCO 100 kD. The aim of this research was to determine the emulsion characteristics of gelatin fraction from the process of 0.10 M acetic acid (GAs) and 0.05M citric acid (GSi). Gelatin GAs fraction has a molecular weight distribution of 13.6 to 218.87 kD and 15.27 to 61.1 kD while gelatin GSI fraction of 107.5 to 142.23 kD and 12.5 to 82.9 kD. Functional groups of the four fractions of gelatin molecules consist of amide I (1648 cm-1), amide II (1452 cm-1) and amide III (1089 cm1 ). Emulsion characteristics including the emulsion properties (activity and stability of emulsion) and particle size emulsion increased with the increasing of molecular weight. Zeta potential of emulsion droplet gelatin from 0.05M citric acid (GSi) method produced more positively charged ions than 0.10 M acetic acid process (GAs). Emulsion created by 0,1% GAs and GSi fraction was refer to macroemulsion with droplet size >100 nm and stability 22.62 minutes, which could be applied for food product such as ice cream, whipping cream and salad dressing.
Penggunaan Cetylperidinium Chloride sebagai Anti Bakteri pada Udang Radestya Triwibowo; Novalia Rachmawati; Irma Hermana
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v8i2.59

Abstract

Aplikasi Cetylperidinium Chloride (CPC) telah dilakukan pada produk udang segar yang diberi kontaminasi buatan bakteri patogen. Penggunaan CPC pada produk makanan telah  mendapat persetujuan dari Food and Drug Administration (FDA) dan European Food Safety Authority (EFSA) yang dikategorikan sebagai senyawa Generally Recognized As Safe (GRAS). Bakteri patogen yang digunakan dalam penelitian ini adalah E. coli, Salmonella sp., dan Vibrio parahaemolyticus dengan kepadatan sel 0,5 McFarland. Perlakuan konsentrasi CPC yang digunakan didasarkan atas hasil penelitian pendahuluan, yaitu: 0,4; 0,8; dan 1,2% (b/v) dan larutan akuades digunakan sebagai kontrol. Aplikasi larutan CPC dilakukan dengan cara pencelupan udang ke dalam larutan CPC selama ±1 menit kemudian dikeringanginkan selama 10 menit dan dikemas. Udang disimpan pada suhu ±4 ºC dan ±25 ºC dan dilakukan pengamatan terhadap pertumbuhan bakteri patogen. Hasil penelitian menunjukkan larutan CPC mampu menghambat pertumbuhan E. coli dan V. parahaemolyticus pada udang yang disimpan pada suhu ±4 ºC dan ±25 ºC, sedangkan pertumbuhan Salmonella sp. dapat dihambat hanya pada udang yang disimpan pada suhu ±4 ºC. Konsentrasi larutan CPC yang dianjurkan untuk digunakan sebagai larutan anti mikroba adalah 0,8%.
Kandungan Logam Berat Pada Ikan Yang Ditangkap Dari Muara Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah Nandang Priyanto; Jovita Tri Murtini
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v1i2.396

Abstract

Telah dilakukan penelitian residu logam berat pada ikan di perairan muara Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan April dan September 2005 di 6 stasiun pengamatan (3 stasiun berada di tepi muara sungai dan 3 stasiun lainnya berjarak 1 mil dari tepi muara sungai). Contoh yang diambil adalah ikan, air dan sedimen. Parameter yang diamati adalah logam berat (Hg, Cd, Cu dan Pb), kualitas air (suhu, kecerahan, salinitas, pH, DO, BOD dan COD) dan unsur hara (amonia, nitrit, nitrat, sulfit dan fosfat). Kandungan logam berat pada ikan masih di bawah ambang batas, tetapi sudah harus mendapat perhatian karena kandungannya sudah cukup tinggi. Kandungan Hg, Pb dan Cd pada sampel air yang diambil dari muara Sungai Kahayan sudah ada yang melebihi ambang batas yang diijinkan, sedangkan kandungan Cu pada semua sampel yang diteliti telah melebihi batas ambang. Sementara itu kandungan Hg, Pb, Cd dan Cu pada sedimen masih di bawah batas ambang yang diijinkan. Unsur pencemar lain secara umum masih cukup baik, meskipun pada bulan September kadar amonia sudah melebihi ambang batas.
Pengaruh Penambahan Pediococcus Acidilactici F-11 sebagai Kultur Starter terhadap Kualitas Rusip Teri (Stolephorus Sp.) Arifah Kusmarwati; Endang Sri Heruwati; Tyas Utami; Endang Sutriswati Rahayu
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v6i1.84

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan Pediococcus acidilactici F-11 sebagai kultur starter terhadap kualitas rusip melalui proses fermentasi. Rusip teri dibuat melalui fermentasi tanpa dan dengan penambahan starter dengan variasi penggaraman 10, 15, dan 20% dan masing-masing ditambah gula merah 10% dari berat ikan  pada suhu kamar (30 ± 2°C) selama 12 hari. Parameter yang diamati meliputi parameter mikrobiologi (ALT, total bakteri asam laktat (BAL), dan total coliform), kimiawi (pH, total asam, TVB, kadar air, dan kadar garam), dan sensori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan Pediococcus acidilactici F-11 dapat meningkatkan total BAL dan menurunkan total coliform produk rusip yang dihasilkan. Selain itu dapat mempersingkat waktu fermentasi dari 12 hari menjadi 9 hari dan menghasilkan produk rusip dengan sifat sensori yang lebih disukai terutama pada perlakuan penggaraman 15%. Produk rusip yang dihasilkan memiliki total BAL lebih tinggi yaitu sebesar 7,47 log, total coliform lebih rendah yaitu 3,34 log daripada rusip tanpa starter serta memiliki rasa dan tekstur yang lebih disukai. 

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue