cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
Hubungan Antara Musim Dengan Kadar Caulerpin Dalam Cauterpa Racemosa Hedi Indra Januar; Thamrin Wikanta; Emma Hastarini
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v10i3.359

Abstract

Makroalga hijau Caulerpa racemosa dipanen pada dua musim berbeda, yaitu pada musim penghujan (Mei 2003) dan pada musim kemarau (Agustus 2003). Senyawa Caulerpin diekstrak dari Caulerpa racemosa dengan metanol, kemudian ekstrak metanol tersebut dihitung rendemennya dan dianalisis kadar caulerpinnya. Spektra FTIR dari ekstrak metanol menghasilkan puncak‑puncak absorpsi yang khas pada frekuensi 3500 cm‑1 (‑OH), 1638 cm‑' (‑NH), 1421 cm‑1 (‑C=C‑), dan 1168 cm‑1 (‑0‑). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendernen ekstrak metanol pada musim penghujan (3,49%) lebih tinggi dari pada musim kemarau (2,22%). Perhitungan kadar caulerpin dilakukan berdasarkan log [Po/P] puncak karakteristik spektra Fourier Transfer­Infra Red (FT‑IR). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa konsentrasi caulerpin pada musim penghujan 19,4 % lebih tinggi daripada musim kemrau.
Optimasi Pembuatan Gelatin dari Tulang Ikan Kaci-Kaci (Plectorhynchus chaetodonoides Lac.) Menggunakan Berbagai Konsentrasi Asam dan Waktu Ekstraksi Tazwir Tazwir; Diah Lestari Ayudiarti; Rosmawaty Peranginangin
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v2i1.26

Abstract

ABSTRAKOptimasi pembuatan gelatin dari tulang ikan kaci-kaci (Plectorhynchus chaetodonoides Lac.) telah dilakukan. Tulang ikan didegreasing pada suhu 70OC selama 25 menit kemudian dibersihkan dari sisa-sisa daging. Tulang yang telah dibersihkan lalu dipotong-potong ukuran 1-1,5 cm dan dijemur di bawah sinar matahari sampai kering. Tulang kering direndam dalam HCl 4%, 5% dan 6% hingga terbentuk ossein. Setelah terbentuk ossein, diekstrak menggunakan aquadest dengan perbandingan osein dan aquades 1:3. Ekstraksi dilakukan pada suhu 70OC dengan menggunakan variasi waktu 5 dan 7 jam. Kemudian disaring dan selanjutnya dikeringkan menggunakan oven pada suhu 50-55OC. Berdasarkan hasil penelitian, gelatin yang terbaik diperoleh dari tulang yang menggunakan perendaman HCl 4% dengan waktu ekstraksi 5 jam dengan rendemen 9,48%,kadar air 7,72%, kadar abu 0,86%, pH 4,82, viskositas 6,20 cPs dan kekuatan gel 163,63 g bloom.
Pengaruh Konsentrasi CaCl2 Dan Alginat Terhadap Karakteristik Analog Bulir Jeruk Dari Alginat Rosmawaty Peranginangin; Anna Mardiana Handayani; Dina Fransiska; Djagal W. Marseno; Supriyadi Supriyadi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v10i2.375

Abstract

Alginat memiliki sifat dapat membentuk gel dengan adanya ion Ca2+, yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan bulir jeruk analog. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi alginat dan CaCl2 yang optimum dalam pembuatan bulir jeruk analog  dengan menggunakan response surface methodology (RSM) dan mempelajari karakteristik bulir jeruk analog yang dihasilkan. RSM dengan central composite design (CCD) pada software Design Expert 7 (DX 7) digunakan dengan variasi konsentrasi alginat dan konsentrasi CaCl2 sebagai variabel. Parameter yang diamati pada analog bulir jeruk meliputi kekuatan gel, viskositas, sineresis, dan pH. Selain itu juga diamati kadar air, kadar abu, kadar serat, dan uji sensoris (hedonik skala 5). Analog bulir jeruk disimpan dalam larutan sari jeruk  selama 1 bulan dengan pengamatan berat dan warna periode per minggu. Optimasi dilakukan dengan menggunakan program DX 7 (RSM) dan 5 kali ulangan pada bulir jeruk yang dibuat dari alginat 0,8% dan CaCl2 0,5%.  Analog bulir jeruk yang dihasilkan memiliki kekuatan gel 130,29 g/cm2; viskositas larutan 118,6 cPs; sineresis 43,47% dan pH 3,99; sedangkan kadar air 94,05%; kadar abu 0,35%; kadar serat 2,46%. Hasil uji hedonik skala 5 pada analog bulir jeruk  memiliki nilai yaitu mendekati suka untuk tekstur (3,73), suka untuk kenampakan (4) dan antara agak suka hingga suka untuk rasa (3,53). 
Bioaktivitas Kitooligosakarida yang Diproduksi dari Kitosan Menggunakan Kitosanase Microminospora T5a1 sebagai Antikapang Ekowati Chasanah; Yusro Nuri Fawzya; Fiona Ariani Karmawidjaja; Maruli S.
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v8i1.54

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji kitooligosakarida (COS) yang diproduksi secara biologi menggunakan kitosanase dari Microminospora T5a1 terhadap kapang perusak dan penghasil toksin pada makanan. Kitooligosakarida diuji dengan konsentrasi 250–1000 ppm, dan sebagai kontrol positif telah digunakan produk antikapang komersial yaitu Na-benzoat dan K-sorbat pada konsentrasi aplikasi komersial 1000 ppm serta kitosan pada konsentrasi uji sama seperti COS. Kapang yang digunakan adalah Aspergillus flavus, Aspergillus niger dan Penicillium sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan penghambatan kapang oleh COS tidak linear dengan konsentrasi yang diaplikasikan. Untuk Aspergillus flavus, penghambatan terbaik diperoleh pada aplikasi COS 250 ppm, sedangkan untuk Aspergillus niger dan Penicillium A12 dengan konsentrasi 750 dan 500 ppm. Kitosan memiliki aktivitas penghambatan yang sama dengan COS untuk ketiga kapang uji. Dibandingkan dengan kontrol positif, COS memiliki aktivitas antikapang yang tidak berbeda dengan sodium benzoate dan potasium sorbate, sehingga COS yang dihasilkan berpotensi digunakan sebagai pengganti ke dua produk komersial tersebut, dengan konsentrasi yang lebih rendah.
Pembuatan Edible Film Dari Komposit Karaginan, Tepung Tapioka dan Lilin Lebah (Beeswax) Hari Eko Irianto; Muhamad Darmawan; Endang Mindarwati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v1i2.391

Abstract

Penelitian pembuatan edible film dari komposit karaginan, tepung tapioka dan lilin lebah telah dilakukan. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Penelitian pendahuluan bertujuan untuk menentukan kisaran konsentrasi karaginan (1, 2, dan 3%) yang akan digunakan pada penelitian utama. Penelitian utama bertujuan untuk menentukan konsentrasi optimum dari karaginan (1,5; 2; dan 2,5%), tepung tapioka (0,3; 0,5; dan 0,7%) dan lilin lebah (0,3 dan 0,5%) yang digunakan pada pembuatan edible film. Parameter yang diamati adalah kenampakan edible film secara organoleptik dan karakteristik fisiknya yang meliputi pemanjangan, ketebalan, kuat tarik dan laju transmisi uap air. Hasil penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa konsentrasi karaginan 2% menghasilkan kenampakan edible film yang lebih baik dibandingkan dengan dua konsentrasi lain yang diuji. Dari hasil penelitian utama diketahui bahwa perlakuan konsentrasi karaginan berpengaruh nyata terhadap persen pemanjangan, kuat tarik, laju transmisi uap air dan ketebalan edible film. Perlakuan konsentrasi tepung tapioka berpengaruh nyata terhadap laju transmisi uap air edible film. Sedangkan perlakuan konsentrasi lilin lebah tidak memberikan pengaruh nyata terhadap sernua parameter yang diamati. Edible film terbaik dihasilkan dari perlakuan penambahan karaginan 2,5%, tepung tapioka 0,3% dan lilin lebah 0,3% dengan karakteristik produk: persentase pemanjangan 4%, nilai kuat tarik 990,48 kg f/cm2, laju transmisi uap air 1054,5 g/M2/hari dan ketebalan 0,079 mm.
Aktivitas Sitotoksik dan Induksi Apoptosis dari Ekstrak Etil Asetat Ulva fasciata Delile terhadap Sel CaSki dan Sel MCF-7 Thamrin Wikanta; Mahanie Rasyidin; Lestari Rahayu; Asri Pratitis
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v7i2.72

Abstract

Berbagai senyawa produk alam kelautan menunjukkan aktivitas farmakologi dan berguna sebagai senyawa panduan obat, terutama untuk melawan penyakit-penyakit seperti kanker, AIDS, arthritis, dan lainnya. Salah satu biota laut yang berpotensi sebagai antitumor adalah rumput laut Ulva fasciata Delile. Di Indonesia, ada dua jenis kanker yang paling banyak terjadi yaitu kankerpayudara dan kanker serviks. Telah dilakukan penelitian tentang uji apoptosis dari 9 fraksi ekstrak etil asetat Ulva fasciata Delile terhadap dua jenis sel lestari yaitu sel CaSki (sel kanker serviks) dan sel MCF-7 (sel kanker payudara). Uji sitotoksik menggunakan metode neutral red assay yang dilanjutkan dengan uji apoptosis masing-masing fraksi menggunakan Annexin V. Hasil uji sitotoksik terhadap sel CaSki menunjukkan nilai IC50 dari Fraksi F1-F9 berkisar antara 18,58–31,54 µg/ml. Persentase apoptosis terhadap sel CaSki oleh Fraksi F1-F9 berkisar antara 2,60–3,92%. Persentase apoptosis terhadap sel MCF-7 oleh Fraksi F1-F9 berkisar antara 4,43–12,93%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap fraksi etil asetat mampu menginduksi apoptosis terhadap sel CaSki dan MCF-7 dan bekerja lebih potensial terhadap sel MCF-7 daripada terhadap sel Caski.
Aktivitas Anti-Hiperglikemia Ekstrak Etanol Turbinaria decurrens Thamrin Wikanta; Dian Kristi; Lestari Rahayu; Nurrahmi Dewi Fajarningsih
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v6i2.407

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh pemberian ekstrak etanol Turbinaria decurrensterhadap penurunan kadar glukosa darah tikus hiperglikemik. Dibuat 6 kelompok perlakuan hewan percobaan, masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor. Hewan percobaan (kecuali kontrol normal)  dibuat hiperglikemik dengan suntikan aloksan tetrahidrat secara intravena pada dosis 130 mg/kg BB. Kelompok I (kontrol normal) tidak diberi perlakuan; kelompok II (kontrol negatif) diberikan perlakuan air suling; kelompok III diberikan ekstrak T. decurrens dosis rendah 0,85 g/kg BB; kelompok IV diberikan ekstrak T. decurrensdosis sedang 1,70 g/kg BB; kelompok V diberikan ekstrak T. decurrensdosis tinggi 3,40 g/kg BB; kelompok VI kontrol positif diberikan glibenklamid 0,90 mg/kg BB. Ekstrak T. decurrensdan obat glibenklamid diberikan secara oral selama 20 hari. Pada hari ke-0, 5, 10, 15, dan 20 sejak kondisi awal hiperglikemik, s emua hewan perc obaan diambil sampel darahnya, dan diukur kadar glukosa darahnya. Di akhir masa percobaan, semua tikus dibedah dan diambil organ pankreasnya untuk dilakukan pengamatan histopatologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol T. decurrens pada dosis 0,85 g/kg BB, dosis 1,70 g/kg BB, dan dosis 3,40 g/ kg BB dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus yang mengalami kondisi hiperglikemik. Ekstrak etanol T. decurrens dos is 3,40 g/kg BB mempunyai potens i yang lebih baik dibandingkan glibenklamid dosis 0,90 mg/kg BB sebagai control positif dalam menurunkan kadar glukosa darah tikus. Analisis histopatologi menunjukkan bahwa ekstrak etanol T. decurrens dapat membantu pemulihan kondisi hiperglikemia tikus yang ditandai dengan peningkatan nilai rata-rata diameter pulau Langerhans dan jumlah sel-b pankreas di dalam pulau Langerhans hingga kembali mendekati kondisi normal.
Variasi Temporal dan Stabilitas Fisik dan Kimia Senyawa Bioaktif Karotenoid Rumput Laut Coklat Turbinaria decurrens Rini Susilowati; Hedi Indra Januar
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i1.96

Abstract

Pada pengembangan senyawa bioaktif karotenoid dari rumput laut coklat Turbinaria decurrens sebagai produk nutrasetikal atau pangan fungsional, pengetahuan mengenai variasi temporal dan stabilitas fisik dan kimia senyawa tersebut merupakan hal yang penting. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan variasi temporal dan stabilitas fisik dan kimia senyawa karotenoid dari T. decurrens. Bahan baku T. decurrens diambil dari Pantai Binuangeun, Banten. Kuantifikasi kadar karotenoid pada sampel dilakukan terhadap ekstrak kasar etanol dari sampel dengan menggunakan teknik spektrofotometri UV-Vis. Variasi temporal kadar karotenoid dilakukan dengan pengambilan sampel pada musim penghujan (Februari), musim peralihan (April dan Oktober), serta musim kemarau (Juni dan Agustus), pada tahun 2012. Analisis variabel air (DO, pH, suhu, temperatur, salinitas, fosfat, dan nitrogen anorganik terlarut) dari titik pengambilan sampel juga dilakukan, untuk mengetahui faktor utama yang mempengaruhi produksi senyawa ini di alam. Analisis stabilitas senyawa dilakukan dengan perlakuan penambahan asam, basa, oksidator, dan suhu. Hasil pengujian menunjukan bahwa kadar karotenoid temporal dari alga ini berkisar 0,002–0,063 mg/g (bobot segar). Analisis korelasi terhadap variabel air menunjukkan bahwa kadar karotenoid dipengaruhi faktor musim, tidak tergantung pada variabel air lokal. Terkait dengan probabilitas fungsinya dalam fotosintesis, kadar tertinggi senyawa ini terdapat pada musim penghujan. Karotenoid dapat meluruh sebesar 84% pada perlakuan asam, 15% pada perlakukan basa, 28% pada perlakukan oksidasi, dan 15% pada suhu tinggi (70 oC). Dengan demikian, pada pengembangannya sebagai produk pangan fungsional atau nutrasetikal, diperlukan teknik mikroenkapsulasi untuk menjaga stabilitas fisik dan kimia senyawa karotenoid T. decurrens.
Pengaruh Penambahan Iota Karaginan pada Ekstraksi Agarosa dari Agar Agar menggunakan Cetyl Piridinium Klorida. Subaryono Subaryono; B.S.B. Utomo B.S.B. Utomo; T. Wikanta T. Wikanta; N. Satriyana N. Satriyana
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i5.461

Abstract

Penelitian pemurnian agarosa dari agar‑agar menggunakan cetyl piridinium klorida dengan penambahan iota karaginan telah dilakukan. Faktor    yang diteliti adalah besarnya penambahan iota karaginan yang digunakan dalarn proses tersebut ( 0%; 0,5% ; 1%; 1,5%   dari  bobot  rumput   laut kering) terhadap kualitas agarosa yang dihasilkan. Parameter yang diamati meliputi rendemen  agarosa,  kadar air,  kadar sulfat,  kadar 3,6‑anhidro‑galaktosa, kekuatan  gel,  suhu  pembentukan  gel,  dan  suhu  pelelehan  gel.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi iota karaginan yang paling baik digunakan pada proses tersebut adalah  1 %, yang  menghasilkan agarosa dengan kadar sulfat sebesar 0,59% dan kekuatan gel sebesar 188,14 g/cm'. Perlakuan tersebut tidak   memberikan   pengaruh   yang  nyata   terhadap rendemen, kadar air,  kadar  3,6‑anhidro‑galaktosa, suhu pembentukan gel dan suhu pelelehan gelnya.
Penggunaan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava) sebagai Pengawet Pindang Tongkol Farida Ariyani; Jovita Tri Murtini; Tuti Hartati Siregar
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v5i1.424

Abstract

Penelitian aplikasi ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava) untuk menghambat kemunduran mutu pindang tongkol (Scomber australasicus CV) telah dilakukan. Pada penelitian ini digunakan 4 konsentrasi ekstrak daun jambu (0, 3, 6, dan 9%) sebagai larutan perebus pada pengolahan pindang tongkol. Perubahan mutu ikan pindang diamati setiap 24 jam secara organoleptik, kimia (TVB, TBA) dan mikrobiologi (TPC, kapang), sedangkan pengamatan terhadap perubahan asam lemak dilakukan pada ikan pindang dengan perlakuan terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak daun jambu sebagai larutan perebus pada pemindangan ikan tongkol mampu menghambat peningkatan kadar TBA dan menekan oksidasi asam lemak tidak jenuh, tetapi tidak mampu menghambat peningkatan kadar TVB dan pertumbuhan mikroorganisme selama penyimpanan pada suhu ruang. Meskipun penggunaan ekstrak daun jambu menyebabkan warna pindang cenderung menjadi lebih gelap (kecoklatan), pindang tongkol yang direbus dengan ekstrak daun jambu mempunyai intensitas bau dan rasa tengik yang sangat rendah dan tekstur yang lebih baik bila disbanding kontrol. Perlakuan ekstrak daun jambu yang paling efektif sebagai pengawet pindang tongkol dengan nilai sensori terbaik adalah perlakuan ekstrak daun jambu pada konsentrasi 9%.

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue