cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
Pengaruh Penyimpanan Beku terhadap Karakteristik Kimia dan Fisik Caulerpa racemosa, Drip, dan Filtratnya Nurhayati Nurhayati; Dina Fransiska; Agusman Agusman
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v16i2.743

Abstract

Caulerpa racemosa merupakan rumput laut hijau dengan kandungan air yang tinggi sehingga mudah mengalami kerusakan. Penyimpanan dalam suhu beku merupakan salah satu cara untuk memperpanjang masa simpan suatu produk. Namun, pembekuan produk juga dapat menyebabkan terjadinya berbagai perubahan yang tidak dikehendaki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penyimpanan pada suhu beku terhadap karakteristik kimia dan fisik C. racemosa, drip, dan filtrat yang dihasilkan. Sampel berupa C. rasemosa disimpan dalam ruangan penyimpan beku (cold storage) dan diamati setiap minggunya hingga minggu ke-4. Parameter uji yang diamati meliputi rendemen, komposisi proksimat, kadar garam, uji warna (L*, a*, b*), dan viskositas, masing-masing pada C. racemosa yang ditiriskan, drip, dan filtrat C. racemosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan beku C. racemosa dapat mengurangi berat pada sampel akhir karena sebagian besar drip keluar setelah pelelehan/thawing, yaitu sekitar 77,88-84,81%. Karakteristik fisik maupun kimia C. racemosa yang disimpan selama 1 hingga 4 minggu tidak berbeda nyata antar waktu penyimpanan, namun berbeda nyata pada C. racemosa tanpa disimpan beku, yaitu pada kadar air, abu, dan garam.Title: Effect of Frozen Storage on the Chemical and Physical Characteristics of Caulerpa racemosa, Drip, and its FiltrateCaulerpa racemosa is a green seaweed that has a high moisture content, so it is easily damaged. Frozen storage is one way to extend the shelf life of a product. However, freezing the product can cause various undesirable changes to occur. This study was aimed to analyze the effect of storage at freezing temperature on the chemical and physical characteristics of C. racemosa, drip, and the resulting filtrate. C. racemosa samples were stored in cold storage and observed every week until the 4th week. The test parameters observed were yield, proximate composition, salt content, color (L*, a*, b*), and viscosity on drained C. racemosa, drip, and C. racemosa filtrate. The results showed that frozen storage of C. racemosa could cause weight loss in the final sample because most of the drip came out after thawing, which was around 77.88 - 84.81%. Physical and chemical characteristics of C. racemosa stored for 1 to 4 weeks were not significantly different from unfrozen C. racemosa, i.e. water, ash, and salt content.
Optimasi Produksi Hidrolisat Protein Ikan Kuniran (Upeneus sulphureus) Secara Enzimatis Dewi Seswita Zilda; Gintung Patantis; Yusro Nuri Fawzya; Pujoyuwono Martosuyono
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v16i2.782

Abstract

Karakteristik hidrolisat protein ikan (HPI) dipengaruhi oleh kondisi proses hidrolisisnya. Optimasi produksi HPI kuniran (Upeneus sulphureus) telah dilakukan secara enzimatis dengan perlakuan perbandingan ikan dan air (1:1 dan 1:2) dan penambahan enzim protease 500 U, 1.000 U, dan 1.500 U per 25 g ikan. Nilai derajat hidrolisis (DH) HPI digunakan untuk menentukan kondisi optimum produksi HPI. Berdasarkan kondisi optimum tersebut, produksi HPI skala diperbesar dilakukan dengan 500 g ikan kuniran sebagai bahan baku. Karakteristik HPI skala diperbesar yang diamati adalah karakteristik kimia (air, abu, protein, lemak, asam amino, daya cerna protein, peptida, dan berat molekul) dan fisik (warna, aktivitas, dan stabilitas emulsi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan ikan, air, dan jumlah enzim berpengaruh terhadap nilai DH HPI. Pada skala produksi HPI diperbesar, karakteristik kimia dari HPI kuniran secara umum dipengaruhi oleh perbedaan perlakuan hidrolisis, tetapi tidak sifat fisiknya. Perbedaan kandungan protein, abu, dan peptida dari HPI lebih dominan dipengaruhi oleh perbedaan perlakuan perbandingan ikan dan air, sedangkan kombinasi perlakuan jumlah enzim dan perbandingan ikan dan air berpengaruh terhadap kandungan asam amino dan daya cerna protein HPI. Secara umum, perlakuan hidrolisis menggunakan enzim 1.000 U/25 g dan perbandingan ikan dan air 1:1 (kode E1000A11) memberikan perlakuan terbaik yang terlihat dari kandungan protein, asam amino, peptida, dan daya cerna tertinggi dibandingkan perlakuan lain. Kandungan kimia dan daya cerna yang tinggi tersebut memberikan peluang aplikasi HPI sebagai penambah nutrisi bagi balita. Title: Optimizaton of Enzymatically Production of Fish Protein Hydrolysate from Kuniran (Upeneus sulphureus)The characteristics of fish protein hydrolyzate (FPH) are affected by their hydrolysis process conditions. Production optimization of FPH kuniran (Upeneus sulphureus) has been carried out enzymatically with treatments of fish and water ratio (1: 1 and 1: 2) and protease enzymes 500 U; 1,000 U, and 1,500 U per 25 g fish. The degree of hydrolysis (DH) value of FPH was used to determine the optimum conditions of FPH production. Based on this optimum condition, the enlarged production of FPH (500 g of fish) was carried out. Chemical characteristics (moisture, ash, protein, fat, amino acids, protein digestibility, peptide, and molecular weight) and physical (color, the emulsion activity, and stability) of FPH from enlarged production were analyzed. The results showed that the ratio of fish and water and the amount of enzyme affect the DH value of FPH. At the enlarged scale, the chemical characteristics of FPH kuniran were generally influenced by different hydrolysis treatments but not their physical properties. The differences in protein, ash, and peptide content of FPH were more dominantly affected by differences in the fish and water ratio, while the combination treatments of the enzymes and the ratio of fish-water affected the amino acid content and protein digestibility of FPH. In general, the hydrolysis treatment using a 1,000 U enzyme/25 g fish and the ratio of fish and water 1:1 (code E1000A11) was the optimum treatment as seen from the highest protein, amino acid, peptide, and protein digestibility compared to other treatments. The high chemical content and digestibility of FPH provide an opportunity application of FPH as a nutritional enhancer for toddlers.
Prevalensi dan Tingkat Kontaminasi Listeria monocytogenes di Tambak dan Unit Pengolahan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) untuk Pasar Ekspor Yusma Yennie; Gunawan Gunawan; Farida Ariyani
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v16i2.702

Abstract

Listeria monocytogenes adalah salah satu bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit bawaan pangan. Penolakan ekspor produk udang beku Indonesia karena kontaminasi L. monocytogenes masih terjadi yang berdampak pada kerugian material bagi pelaku usaha. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi dan tingkat kontaminasi L. monocytogenes pada produk udang beku untuk pasar ekspor. Sampel yang diambil merupakan udang segar dari tambak dan bahan baku dari bagian penerimaan di Unit Pengolahan Ikan (UPI) serta udang beku sebagai produk akhir UPI, dengan menerapkan sistem ketertelusuran. Lokasi penelitian adalah Sumatra Utara (Medan), DKI Jakarta, Jawa Timur (Surabaya dan Banyuwangi), dan Sulawesi Selatan (Makassar). Identifikasi dan enumerasi L. monocytogenes dilakukan dengan metode MPN-PCR dengan target gen hlyA (~456bp). Prevalensi L. monocytogenes pada udang vaname secara keseluruhan sebesar 6,7% (9/135 sampel), dengan prevalensi di masing-masing titik pengambilan sampel berturut-turut 6,1% di tambak, 9,6% di bahan baku, dan 4% di produk akhir, yang merupakan sampel udang dari batch yang sama. Tingkat kontaminasi L. monocytogenes pada sampel udang vaname berkisar 6,1-1.100 APM/g. Persyaratan L. monocytogenes pada bahan pangan adalah negatif/25g, sehingga sampel udang yang terkontaminasi L. monocytogenes tersebut tidak memenuhi persyaratan sebagai pangan yang aman untuk dikonsumsi berdasarkan regulasi yang berlaku di Indonesia maupun di negara lain. Kontaminasi L. monocytogenes pada udang beku kemungkinan berasal dari tambak ataupun lingkungan pengolahan. Penerapan Good Aquaculture Practices (GAP) di lingkungan tambak udang, serta Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dan Good Manufacturing Practices (GMP) di UPI perlu dilakukan dengan benar sebagai upaya pengendalian kontaminasi L. monocytogenes. Selain itu, perlu dilakukan kajian lebih lanjut mengenai sumber dan titik kritis kontaminasi L. monocytogenes di sepanjang rantai pengolahan udang beku mulai dari tambak sampai produk akhir.Title: Prevalence and Contamination Level of Listeria monocytogenes in Culture and Processing Plant of Shrimp (Litopenaeus vannamei) for Export Market Listeria monocytogenes is pathogenic bacteria that can cause foodborne illness. Rejection of frozen shrimp exports due to L. monocytogenes contamination still occurs and causes economical losses for the industries. The objective of this study was to determine the prevalence and the level of L. monocytogenes contamination in frozen shrimp for export markets. Samples collected were fresh shrimp from shrimp culture and raw material from the receiving point of fish processing plants (UPI), and frozen shrimp as the end product, by implementing a traceability system. Study locations were in North Sumatra (Medan), Special Capital Region of Jakarta, East Java (Surabaya dan Banyuwangi), and South Sulawesi (Makassar). Identification and enumeration of L. monocytogenes were carried out using the MPN-PCR method with the target gene hlyA (~456bp). The prevalence of L. monocytogenes in vanname shrimp was 6.7% (9 out of 135 samples), where 6.1%, 9.6%, and 4% of the prevalence were found in samples from shrimp culture, raw material, and end product, respectively. These samples were from the same batch. The contamination level ranged from 6.1 to 1,100 MPN/g. L. monocytogenes in food should be negative/25g, thus the contaminated samples do not meet requirements as safe for human consumption based on food regulation in Indonesia and other countries. Findings from this study suggested that shrimp culture or fish processing environment are potential sources of L. monocytogenes contamination in frozen shrimp. Therefore, the implementation of Good Aquaculture Practices (GAP) in shrimp culture environment, as well as Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) and Good Manufacturing Practices (GMP) in shrimp processing plant are necessary to control L. monocytogenes contamination. Further studies regarding the sources and critical points of L. monocytogenes contamination throughout the processing of frozen shrimp from shrimp culture to end product are also needed.
Karakteristik Fisikokimia Petis dari Air Rebusan Ikan Layang (Decapterus sp.) dengan Kombinasi Bahan Pengisi Maulidya Julita Sari; Seftylia Diachanty; Irman Irawan; Bagus Fajar Pamungkas; Ita Zuraida
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v16i2.759

Abstract

Petis dapat dibuat dari bahan-bahan dasar berupa kaldu hasil rebusan ikan pindang, kupang, atau udang dan bahan pengisi yaitu berbagai jenis tepung. Penggunaan bahan pengisi dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas produk terkait karakteristik kimiawi dan kesukaan konsumen. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami karakteristik fisikokimia petis air rebusan ikan layang dengan kombinasi bahan pengisi. Bahan pengisi yang digunakan yaitu: (1) 20% tepung terigu, (2) 15% tepung terigu + 5% tepung tapioka, (3) 15% tepung terigu + 5% tepung beras, dan (4) 15% tepung terigu + 5% maizena. Parameter yang dianalisis terdiri atas proksimat, viskositas, warna, dan tingkat kesukaan (hedonik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi bahan pengisi berpengaruh nyata terhadap nilai proksimat petis (kadar abu, air, protein, lemak) dan sifat fisik (viskositas dan warna), namun tidak berpengaruh nyata terhadap nilai hedonik (warna, rasa, tekstur, aroma,dan kesukaan keseluruhan). Kadar air petis adalah 30-50% dengan protein 20-27% yang telah memenuhi standar SNI 1-2718-2013. Derajat putih petis 40,49-45,50% dengan viskositas 568,75-981,25 dPa’s. Penambahan bahan pengisi tepung terigu dan tepung tapioka merupakan perlakuan terbaik yang menghasilkan petis dengan kadar air 32,89%; abu 2,30%; protein 24,05%; lemak 3,63%; karbohidrat 37,13%; kecerahan (L) 50,93, (a*) 5,37, (b*) 23,10, derajat putih 45,50%, dan viskositas 981,25 dPa’s. Berdasarkan parameter rasa (6,55), tekstur (6,35), aroma (5,88), warna (6,68) dan kesukaan keseluruhan (7,03), data hasil analisis menunjukkan bahwa petis tersebut dapat diterima dengan baik oleh panelis.Title: Physicochemical Characteristics of Fish Paste from Shortfin Scad (Decapterus sp.) Boiled Fish Water with Filler Material CombinationsPetis is made of broth from boiled fish, mussels, or shrimp as basic ingredients and filler materials of flour. The use of fillers is intended to improve product quality related to chemical characteristics and consumer preferences. This study aims to determine the physicochemical characteristics of petis with a combination of fillers. The fillers used are: (1) 20% wheat flour, (2) 15% wheat flour + 5% tapioca flour, (3) 15% wheat flour + 5% rice flour, and (4) 15% wheat flour + 5% cornstarch. Parameters analyzed include proximate, viscosity, color, and level of preference (hedonic). Data were analyzed using a completely randomized design with three replications, while the hedonic test results were analyzed using Kruskal-Wallis. The combination of fillers had a significant effect on proximate values ( ash, moisture, protein, fat) and physical properties (viscosity and color), but had no significant effect on hedonic values (taste, color, odor, texture, and overall liking). The moisture content of petis was 30-50%, with protein content 20-27%, and has met the standard of SNI 1-2718-2013. The whiteness of the petis was 40.49-45.50%, while the viscosity ranged from 568.75 to 981.25 dPa’s. The addition of wheat flour and tapioca flour was the best treatment. This petis has a moisture content of 32.89%; 2.30% ash; 24.05% protein; 3.63% fat; 37.13% carbohydrate; with brightness of (L) 50.93, (a*) 5.37, (b*) 23.10, whiteness of 45.50%, and viscosity of 981.25 dPa’s. The hedonic sensory test (scale 1-9) showed that this petis was well received by the panelists based on the parameters of taste (6.55), texture (6.35), aroma (5.88), color (6.68), and overall acceptance (7.03). 
Skrining dan Identifikasi Bakteri Pembentuk Histamin yang Diisolasi dari Tuna, Tongkol, dan Cakalang Segar di Wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten Novalia Rachmawati; Radestya Triwibowo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v16i2.771

Abstract

Tuna, tongkol, cakalang (TTC) merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomis penting yang disukai oleh banyak konsumen di Indonesia. Namun demikian, distribusi, penanganan, dan pengolahan komoditas ini masih banyak mengalami kendala, di antaranya kontaminasi bakteri pembentuk histamin (BPH) yang dapat menyebabkan akumulasi histamin dan menimbulkan kerugian kesehatan pada konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi BPH dari komoditas TTC segar yang dijual di pasar domestik, mengevaluasi profilnya, serta mengkarakterisasi kemampuan BPH tersebut dalam menghasilkan histamin. Sebanyak 93 sampel TTC diperoleh dari TPI, pasar tradisional, dan pasar modern di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Dari 318 isolat presumtif BPH yang ditemukan, sebanyak 59 isolat (19%) terkonfirmasi positif gen hdc dan di antaranya sebanyak 43 isolat dikategorikan sebagai BPH prolifik. Hasil sekuensing 16S rDNA menunjukkan sebanyak 30 dari 43 isolat BPH prolifik (69,8%) adalah Morganella morganii. Selain M. morganii, isolat lain yang ditemukan dari semua jenis ikan yang diamati adalah Photobacterium damselae (6,9%), keduanya merupakan BPH mesofilik. Isolat mesofilik lain yang teridentifikasi dari sampel TTC berasal dari genus Klebsiella (4,7%), Proteus (4,7%), Raoultella (4,7%), Shewanella (2,3%), dan Vibrio (6,9%). Keberadaan BPH prolifik ini mengindikasikan adanya potensi akumulasi histamin pada produk akhir TTC apabila dalam penanganan dan pengolahannya tidak menerapkan sistem rantai dingin dengan benar.Title: Screening and Identification of Histamine Producing Bacteria Isolated from Fresh Tuna and Tuna-like from West Java, DKI Jakarta, and Banten AreasTuna and tuna-like fish are economically important and popular amongst Indonesian consumers. However, the distribution, handling, and processing of these commodities are still facing many problems, including contamination of histamine producing bacteria (HPB) which may lead to histamine accumulation and cause human adverse health effects. This study aimed to identify HPB from fresh tuna and tuna-like fish sold in domestic markets in Indonesia, evaluate their profile, and characterize their ability to produce histamine. A number of 93 fish samples were obtained from fish landing, traditional and modern fish markets in West Java, DKI Jakarta, and Banten. Of 318 presumptive HPB identified from the sample, 59 isolates (19%) were confirmed as hdc-gene positive with 43 isolates were categorized as prolific HPB. Bacterial identification with 16S rDNA sequencing identified 30 out of 43 (69.8%) prolific HPB as Morganella morganii. Besides M. morganii, another mesophilic HPB identified from all different type of fish was Photobacterium damselae (6.9%), while the remaining mesophilic HPB were identified from genus Klebsiella (4.7%), Proteus (4.7%), Raoultella (4.7%), Shewanella (2.3%), and Vibrio (6.9%). The presence of prolific HPB in the samples suggested that histamine accumulation in the final product is possible if cold-chain system is not properly applied during fish handling and processing.
Cover Depan JPBKP Vol. 13 No. 1 Tahun 2018 JPBKP JPBKP
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v13i1.537

Abstract

Cover Depan JPBKP Vol. 13 No. 2 Tahun 2018 JPBKP JPBKP
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v13i2.574

Abstract

Preface JPBKP Vol. 14 No. 2 Tahun 2019 Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi KP
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v14i2.644

Abstract

Karakteristik Sediaan Hidroksiapatit dari Cangkang Kerang Simping (Amusium pleuronectes) dengan Perlakuan Suhu dan Waktu Sintesis Rodiah Nurbaya Sari; Dina Fransiska; Fera Roswita Dewi; Ellya Sinurat
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i1.797

Abstract

AbstrakBiokeramik hidroksiapatit (HAp) adalah suatu komponen kimiawi sintetik dari turunan kalsium fosfat yang banyak digunakan untuk memperbaiki kerusakan jaringan keras. Salah satu bahan alami untuk membuat hidroksiapatit adalah cangkang kerang simping (Amusium pleuronectes), hasil samping dari usaha penangkapan kerang simping. Tujuan penelitian ini untuk menghasilkan sediaan HAp dari cangkang kerang simping dan mengkarakterisasi sediaan hidroksiapatit yang dihasilkan. Tahapan yang dilakukan adalah persiapan tepung cangkang kerang, proses kalsinasi dengan perlakuan suhu (700, 800, dan 900°C) dan waktu (6; 4,5; dan 3 jam), serta sintesis HAp menggunakan amonium dihidrogen fosfat. Hasil HAp terbaik diperoleh dari perlakuan suhu kalsinasi 800°C selama 4,5 jam dengan rendemen 75,20%. Gugus fungsi CO32- yang muncul mengindikasikan adanya vibrasi C-O dari gugus CO3 dan gugus hidrogen fosfat (HPO42-). Difraktogram HAp yang dihasilkan mendekati standar (HAp-S) dengan intensitas tinggi pada nilai 2θ: 25,88°; 31,75°; 32,18°; 32,88°; 34,05°; 39,77°; 46,61°; dan 49,97°. HAp yang dihasilkan memiliki unsur Ca dan P masing-masing 59,09 dan 40,91% dengan rasio Ca/P sebesar 1,44 dan diameter partikel rata-rata 396,88 nm. HAp ini memiliki morfologi berbentuk aglomerat dan tidak terdapat permukaan dengan tepi runcing dan tajam sehingga relatif aman untuk diaplikasikan pada jaringan lunak manusia. AbstractHydroxyapatite bioceramic (HAp) is a synthetic chemical component of calcium phosphate derivatives generally used to repair hard tissue damage. One of the natural ingredients for making hydroxyapatite is scallop shells (Amusium pleuronectes), a by-product of catching fresh scallops, which only use the adductor meat/muscle. This study aimed on HAp preparations from scallop shells and characterized the resulting hydroxyapatite formulation. The steps taken were preparing scallop shell flour, the calcination processed with temperatures of 700, 800, and 900°C and times 6; 4.5; and 3 hours, and the synthesis processed using Ammonium Dihydrogen Phosphate (ADP). The results obtained were the best hydroxyapatite treatment at a calcination temperature of 800°C for 4.5 hours with a yield of 75.20%. The functional group found of CO32- indicated C-O vibrations from the CO3 group and the hydrogen phosphate group (HPO42-). The diffractogram of HAp was similar to standard hydroxyapatite (HAp-S) with high intensity at values of 2θ: 25,88°; 31.75°; 32.18°; 32.88°; 34.05°; 39.77°; 46.61°; and 49.97°. HAp from this study has an agglomerate morphology, without sharp surface and edges. Based on SEM-EDS analysis, the HAp contains Ca and P 59.09 and 40.91%, respectively, with a Ca/P ratio of 1.44. The average particle diameter size was 396.88 nm. The morphology of the resulting HAp will be safe for human soft tissue application.
Karakteristik Bakso Ikan Etong (Abalistes stellaris) Instan dengan Penambahan Daun Kelor (Moringa oleifera) Rika - Nuryahyani; Dita Kristanti; Dewi - Desnilasari; Devry P. Putri; Achmat Sarifudin; Diki N. Surahman; Woro Setiaboma
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i1.760

Abstract

AbstrakBakso merupakan produk olahan yang digemari oleh masyarakat, sehingga banyak dilakukan pembuatan bakso ikan sebagai upaya peningkatan konsumsi ikan. Fortifikasi daun kelor telah dilakukan untuk meningkatkan kandungan protein dan zat besi pada bakso ikan. Proses pembuatan bakso ikan menjadi produk instan dilakukan sebagai upaya mempermudah dan memperpanjang masa simpannya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perlakuan terbaik pada pembuatan bakso ikan etong dengan penambahan daun kelor yang akan dijadikan bakso instan dan mengetahui karakteristik fisikokimia bakso instan tersebut. Bakso ikan etong dibuat dengan variasi penambahan daun kelor segar sebesar 0% (A0), 5% (A1), 10% (A2), dan 15% (A3) dari berat daging ikan. Bakso ikan terbaik dipilih menggunakan metode De Garmo berdasarkan kandungan protein dan Fe. Hasil perlakuan terbaik berdasarkan analisis De Garmo adalah bakso A3. Bakso instan A3 memiliki karakteristik kadar air 11,82 % bb, protein 33,17% bb, zat besi 1,27 mg/100 g bb, waktu rehidrasi 13 menit, dan kecerahan 65,62.Kata Kunci : AbstractMeatballs are processed products favored by the community, so the manufacturing of fish meatballs could increase fish consumption. Fortification of moringa leaves was carried out to increase the protein and iron content of fish meatballs. The fish meatball processing into an instant product was done to extend the shelf life. This study aimed to determine the best treatment of triggerfish meatballs with the addition of moringa leaves to produce instant meatballs and evaluate the physicochemical characteristics of producing instant meatballs. Triggerfish meatball was made with the addition of fresh moringa leaves by 0% (AO), 5% (A1), 10% (A2), and 15% (A3) of the weight of the fish. The best fish meatball was selected using the De Garmo method based on protein and Fe values. The best treatment result based on De Garmo’s analysis was the A3 treatment with the following characteristics: water content 11.82% ww, protein 33.17% ww, iron 1.27 mg/100 g ww, rehydration time 13 min, and lightness 65.62.

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue