cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
Cover Depan JPBKP Vol. 15 No. 2 Tahun 2020 Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi KP
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v15i2.725

Abstract

Penapisan dan Identifikasi Bakteri Penghasil Agarase dari Sampel Sedimen Laut Bara Caddi, Sulawesi Selatan Dewi Seswita Zilda; Gintung Patantis; Mada Triandala Sibero; Yusro Nuri Fawzya
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v16i1.699

Abstract

Agarase adalah enzim yang mampu menghidrolisis agar menjadi oligoagar yang sudah banyak diaplikasikan dalam industri kesehatan dan kosmetika. Bakteri laut merupakan mikroba yang paling banyak dilaporkan sebagai sumber untuk isolasi bakteri penghasil agarase. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penapisan, isolasi, dan identifikasi bakteri penghasil agarase dari sedimen laut. Sampel sedimen diambil dari pantai Pulau Bara Caddi, Sulawesi Selatan. Penapisan dilakukan menggunakan media air laut yang ditambahkan tripton 0,5%, ekstrak ragi 0,1%, dan agar 2%. Identifikasi dilakukan dengan amplifikasi gen 16S rRNA. Sebanyak 45 isolat berhasil dimurnikan, 16 diantaranya merupakan bakteri penghasil agarase. Pola zona bening yang terbentuk terlihat berbeda-beda, hal ini diduga disebabkan oleh perbedaan jenis agarase yang dihasilkan oleh masing-masing isolat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 genera bakteri yang memiliki kemiripan yang tinggi dengan 16 isolat bakteri penghasil agarase yang terdapat pada sampel sedimen, yaitu Vibrio, Alteromonas, Salinivibrio, dan Marinobacter. Vibrio merupakan genus yang paling dominan diikuti oleh Alteromonas dan hanya satu isolat yang menunjukkan kesamaan dengan Salinivibrio dan Marinobacter. ABSTRACTAgarase is an enzyme that hydrolyze agar into agaro oligosaccharide which have been applied in health and cosmetic industries. Marine bacteria are the most widely reported microbes as a source for isolation of agarase-producing bacteria. This work was aimed to screen, isolate, and identify the agarase-producing bacteria from marine sediment. The sediment samples were collected from the sea around Bara Caddi Island, South Sulawesi. The screening of agarase-producing bacteria was carried out using seawater media containing 0.5% tryptone, 0.1 % yeast extract, and 2 % agar. The identification of the bacteria obtained was carried out by amplification of the 16S rRNA gene. A total of 45 isolates were successfully purified, 16 of which were agarase-producing bacteria. The clear zone formed on solid medium by some isolates showed different pattern which may be caused by the type of agarase produced by each isolate. The results showed that there were 4 genera of bacteria which similar to the 16 isolates agarase-producing bacteria found in sediment samples i.e. Vibrio, Alteromonas, Salinivibrio, and Marinobacter. Vibrio is the most dominant genus followed by Alteromonas and only one isolate showed similarity to Salinivibrio and Marinobacter. 
Kandungan Pigmen dan Potensi Antioksidan Beberapa Jenis Makroalga dari Pantai Gunungkidul, Yogyakarta Wiwin Kusuma Perdana Sari; Suharyanto Suharyanto
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v16i1.674

Abstract

Makroalga merupakan biota laut yang mengandung berbagai jenis senyawa potensial, termasuk pigmen. Pigmen alami makroalga telah terbukti menunjukkan berbagai aktivitas biologis yang bermanfaat, termasuk sebagai antioksidan. Meskipun informasi mengenai kandungan pigmen maupun potensi antioksidan makroalga dari Pantai Gunungkidul telah banyak diteliti, namun penelitian yang menelaah korelasi antara kandungan pigmen dan aktivitas antioksidan makroalga dari wilayah ini masih terbatas. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji korelasi kandungan pigmen serta potensi antioksidan beberapa jenis makroalga yang berasal dari Pantai Gunungkidul, Yogyakarta. Enam spesies mewakili kelompok makroalga hijau, merah, dan coklat digunakan pada penelitian ini, yaitu Codium tomentosum, Ulva lactuca, Gelidium corneum, Palisada perforata, Turbinaria ornata, dan Sargassum aquifolium. Hasil pengukuran kandungan pigmen menunjukkan bahwa klorofil a tertinggi terdapat pada jenis U. lactuca, klorofil b tertinggi pada C. tomentosum, dan total karotenoid tertinggi pada T. ornata. Dari keenam spesies yang diteliti, T. ornata menunjukkan potensi antioksidan terbaik dalam menangkap radikal bebas DPPH dengan persentase penghambatan radikal DPPH 79,11±0,41% pada konsentrasi 500 ppm. Analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa potensi antioksidan makroalga berkorelasi positif dengan kandungan total karotenoid (R2=0,806; p<0,05), dan tidak berkorelasi dengan kandungan klorofilnya (R2=0,044; p>0,05). Hasil studi ini menunjukkan bahwa karotenoid dari berbagai jenis makroalga merupakan kelompok pigmen yang potensial untuk dikembangkan sebagai nutrasetikal antioksidan. ABSTRACTMacroalgae are marine biota that contain various types of potential compounds, including pigments. Natural pigments of macroalgae have shown to produce various beneficial biological activities, including antioxidant. Although information regarding the pigment content and antioxidant property of macroalgae from Gunungkidul Coast has been widely studied, research on the correlation between pigment content and its antioxidant activity of macroalgae from this region is still limited. This study aimed to examine the correlation between pigment content of several species of macroalgae from Gunungkidul, Yogyakarta, and its antioxidant potential. Six species representing the green, red, and brown macroalgae were used in this study, i.e. Codium tomentosum, Ulva lactuca, Gelidium corneum, Palisada perforata, Turbinaria ornata, and Sargassum aquifolium. Result of pigment content concentration showed that the highest concentration of chlorophyll a was in U. lactuca, while chlorophyll b was in C. tomentosum, and the highest total carotenoid content was in T. ornata. Of the six species assessed, the brown macroalgae T. ornata showed the best antioxidant potential in DPPH radical scavenging with a percentage of DPPH inhibition 79.11±0.41% at 500 ppm. The Pearson correlation analysis showed that the antioxidant of the macroalgae positively correlated to the total carotenoid content (R2=0.806; p<0.05), but did not correlate to its chlorophyll content (R2=0.044; p>0.05). This study showed that carotenoids from various species of macroalgae are the group of potential pigments to be developed as antioxidant nutraceuticals.
Tepung Ikan Petek (Leiognathus equulus) sebagai Aditif Protein pada Mi Kering Labu Kuning (Cucurbita moschata D.) Meda Canti; Sherly Apryani; Diana Lestari
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v15i2.651

Abstract

Mi kering adalah produk pangan dari tepung terigu yang banyak dikonsumsi masyarakat. Produk ini dapat dikembangkan dengan tambahan dari bahan lain, seperti labu kuning (Cucurbita moschata), untuk mengurangi kebutuhan tepung terigu. Campuran antara tepung terigu dan C. moschata memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, namun rendah protein. Oleh karena itu, diperlukan penambahan bahan baku lain, seperti tepung ikan, untuk meningkatkan nilai gizinya. Ikan petek (Leiognathus equulus) dapat ditambahkan sebagai sumber protein dalam pembuatan mi kering. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas sensoris, fisik, dan proksimat, dari mi kering yang dibuat dengan kombinasi tepung terigu dan C. moschata, serta ditambahkan dengan tepung L. equulus. Formulasi mi kering dilakukan pada lima variasi rasio antara tepung terigu dan C. moschata (100:0, 90:10, 80:20, 70:30, dan 60:40). Formulasi terbaik yang didapatkan selanjutnya ditambahkan dengan variasi rasio tepung L. equulus (0%, 10%, 20%, 30%, dan 40%). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa mi kering dengan rasio tepung terigu dan C. moschata sebesar 80:20 serta tepung L. equulus hingga 20% adalah yang terbaik. Penambahan tepung L. equulus yang lebih tinggi menyebabkan penurunan daya serap air, swelling index, dan kuat tarik mi kering, serta peningkatan cooking loss dan kekerasan. Penambahan 20% tepung L. equulus meningkatkan kandungan protein mi kering sebesar 1,52 kali; menjadi 20,74±1,22% (dry basis/db).  ABSTRACTDried noodle is a daily consumed food from wheat flour. This product can be developed with the addition of other ingredients, such as pumpkin (Cucurbita moschata), to reduce the needs of wheat flour. The mixture between wheat flour and C. moschata has a high carbohydrate content but low protein. Therefore, it is necessary to add other raw materials, such as fish flour, to increase the nutritional value. Pony fish (Leiognathus equulus) can be added as a source of protein for dried noodles. This study aimed to evaluate the sensory quality, physical, and proximate value of dry noodles made from the combination of wheat flour and C. moschata,which was also added with L. equulus flour. Formulation of dry noodles was conducted with five ratio variations between wheat flour and C. moschata (100:0, 90:10, 80:20, 70:30, and 60:40). The best ratio was then added with varied L. equulus flour (0%, 10%, 20%, 30%, and 40%). The results showed that the best formula for dry noodles was the ratio of wheat flour and C. moschata at 80:20 and L. equulus up to 20%. Higher addition of L. equulus flour decreased water absorption, swelling index, the tensile strength of dry noodles, and increased cooking loss and hardness. The addition of 20% of L. equulus flour increased the protein content of dry noodles by 1.52 times, to 20.74 ±1.22% (dry basis/db).
Cover Belakang JPBKP Vol. 15 No. 2 Tahun 2020 Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi KP
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v15i2.726

Abstract

Efek Pemberian Biskuit Ulva terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus yang Diinduksi Sukrosa Ellya Sinurat; Dina Fransiska; Sihono Sihono; Rinta Kusumawati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v16i1.682

Abstract

Rumput laut Ulva sp. memiliki kandungan serat pangan tinggi yang diketahui memiliki aktivitas hipoglikemik. Penelitian ini telah melakukan penambahan Ulva sp. pada biskuit sebagai makanan sehat yang kaya serat pangan. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian biskuit Ulva terhadap penurunan kadar glukosa darah pada tikus jantan yang diinduksi sukrosa jenuh. Selain itu, diamati profil hematologi dan biokimia klinis darah sebelum dan setelah pemberian biskuit Ulva. Uji antidiabetes dilakukan menggunakan uji toleransi glukosa oral terhadap tikus jantan yang diinduksi sukrosa jenuh. Biskuit Ulva yang diberikan 1 g/kg berat badan (BB) tikus dengan perlakuan kontrol negatif (pakan tanpa biskuit), biskuit tanpa Ulva sp., dan biskuit Ulva setara dengan Ulva sp. 1, 5, dan 10 mg/kg BB. Perlakuan dosis diberikan pada 5 ekor tikus percobaan sekali sehari selama 14 hari. Pengamatan terhadap intoleransi glukosa dilakukan melalui pengukuran glukosa darah setelah pemberian sukrosa jenuh ke semua perlakuan pada hari ke-14, dan diukur pada menit ke-0, 30, 60, dan 120. Penimbangan tikus dilakukan pada hari ke-0, 7, dan 14, sedangkan analisis hematologi dan biokimia klinis darah dilakukan pada hari ke-0 dan ke-14. Pemberian biskuit Ulva berpengaruh signifikan terhadap kadar glukosa darah, serta menurunkan hematokrit dan hemoglobin darah tikus. Biskuit dengan dosis Ulva setara 1 mg/kg BB mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus secara efektif pada menit ke-60. Tidak ada perbedaan kenaikan berat badan tikus jantan antara kelompok kontrol negatif dan biskuit Ulva pada hari ke-0, 7, dan 14. Pemberian biskuit Ulva sampai dengan 10 mg/kg BB tidak mempengaruhi SGOT, SGPT, ureum, dan kreatinin tikus. ABSTRACTSeaweed Ulva sp. contains high dietary fiber which is known to have hypoglycemic activity. In this study, the addition of Ulva sp. in biscuit products for a healthy that food rich in dietary fiber. The objective of this study was to determine the effect of Ulva added biscuits on blood glucose levels reduction in male rats induced by saturated sucrose. In addition, clinical hematology and blood biochemical profiles before and after the administration of Ulva biscuits were also observed. Antidiabetic method used the oral glucose intolerance test method on male rats induced by saturated sucrose. Ulva biscuits were given at 1 g/kg body weight of rats for each treatment. This test used five treatments, namely negative control (rats feeding without biscuits), rat feeding without Ulva added biscuits; and rat feeding with Ulva biscuits equivalent to 1, 5, and 10 mg Ulva sp. /kg BW. Each dose treatment was given to five experimental rats once a day for 14 days. Observations on glucose intolerance included measurement of blood glucose levels by giving saturated sucrose to all treatments and measured at 0, 30, 60, and 120 minutes after administration of saturated sucrose. The weighing was carried out on day 0, 7, and 14, while clinical hematological and blood biochemical analyzes were performed on day 0 and 14. The administration of Ulva biscuits had a significant effect on the blood glucose levels of male rats, lowering  hematocrit and hemoglobin in rat blood. The concentration of 0.1% Ulva biscuits in biscuits (equivalent to a dose of Ulva sp. 1 mg/kg BW) was able to effectively reduce the blood glucose levels of rats after 60 minutes. There was no difference in weight gain of male rats between the negative control group and Ulva biscuits on days 0, 7, and 14. The diet of Ulva biscuits with 10 mg/kg BW Ulva sp. did not affect the SGOT, SGPT, urea, and creatinine of rats.
Identifikasi Molekuler, Analisis Profil Asam Amino, dan Asam Lemak dari Beberapa Teripang Asal Perairan Indonesia Tiara S. Khatulistiani; Ariyanti S. Dewi; Gintung Patantis
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v16i2.775

Abstract

Teripang merupakan komoditas penting di Indonesia yang bermanfaat bagi kesehatan, namun eksplorasi terhadap kandungan nutrisinya masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, kandungan asam amino, dan asam lemak teripang segar asal perairan Indonesia. Sebanyak enam jenis teripang segar diperoleh dari berbagai lokasi yaitu Lampung, Gorontalo, Maluku Utara, dan Bali. Identifikasi spesies teripang dilakukan secara molekuler dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR), dan hasil sekuensing dibandingkan dengan basis data Basic Local Alignment Search Tool (BLAST). Analisis profil asam amino dan asam lemak berturut-turut dilakukan menggunakan Ultra High-Performance Liquid Chromatography (UPLC) dan Gas Chromatography-Flame Ionization Detector (GC-FID). Hasil identifikasi menunjukkan bahwa teripang alolo, cera merah, lolosong, cera hitam, dan pasir berturut-turut adalah Bohadschia marmorata, Holothuria edulis, H. impatiens, H. atra, dan H. scabra (alam dan budidaya). Kandungan asam amino non esensial (AANE) pada keenam sampel teripang didominasi oleh glisina dan asam glutamat, sedangkan asam amino esensial (AAE) tertinggi adalah treonina. Total asam amino tertinggi pada H. edulis yaitu 8,87 g/100g. Nilai rasio lisina/arginina pada semua sampel teripang <1,00. Asam lemak total tertinggi pada H. scabra alam dan budidaya (0,41%). H. atra, H. scabra alam, dan B. marmorata didominasi oleh asam lemak jenuh (ALJ), sedangkan H. scabra budidaya, H. edulis dan H. impatiens didominasi oleh asam lemak tak jenuh ganda (ALTJG). Rasio ALTJG/ALJ pada H. edulis, H. scabra budidaya, dan H. impatiens >1,00, sedangkan pada H. atra, H. scabra alam, dan B. marmorata sebesar <1,00. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa H. edulis dan H. impatiens memenuhi persyaratan nutrasetika. Title: Molecular Identification, Amino Acid, and Fatty Acid Analysis of Sea Cucumbers from Indonesian WatersSea cucumber is an important Indonesian commodity with various health benefits. However, the reports on their nutrition content are still limited. This study aimed to identify several Indonesian sea cucumbers and determine their amino acid and fatty acid profiles. The fresh sea cucumbers were obtained from Lampung, Gorontalo, North Maluku, and Bali. Species identification was carried out using Polymerase Chain Reaction (PCR) method. The sequencing results were matched to the Basic Local Alignment Search Tools (BLAST) database. The determination of amino acid and fatty acid contents was performed using Ultra-High-Performance Liquid Chromatography (UPLC) and Gas Chromatography-Flame Ionization Detector (GC-FID). Alolo, cera merah, lolosong, cera hitam, and pasir were identified as Bohadschia marmorata, Holothuria edulis, H. impatiens, H. atra, and H. scabra (wild and cultured), respectively. Non-essential amino acids (NEAA) in the samples were dominated by glycine and glutamic acid. The highest Essential Amino Acid (EAA) was threonine. H. edulis contained the highest total amino acid, i.e., 8.87 g/100 g. The lysine/arginine ratios in all samples were <1.00. The highest total fatty acid was wild and cultured H. scabra (0.41%). The fatty acids of H. atra, wild H. scabra, and B. marmorata were dominated by saturated fatty acid (SFA). In contrast, in the cultured H. scabra, H. edulis, and H. impatiens were dominated by polyunsaturated fatty acid (PUFA)/SFA. The PUFA/SFA ratio of H. edulis and H. impatiens was >1.00, while the H. atra, wild H. scabra, and B. marmorata were <1.00. Based on this result, it is concluded that H. edulis and H. impatiens are potential for nutraceutical ingredients.
Cemaran Mikroplastik pada Ikan Pindang dan Potensi Bahayanya terhadap Kesehatan Manusia, Studi Kasus di Bogor Gunawan Gunawan; Hefni Effendi; Endang Warsiki
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v16i2.772

Abstract

Tingginya akumulasi sampah plastik di perairan Indonesia dapat meningkatkan potensi cemaran mikroplastik. Ikan dan garam merupakan bahan baku utama pembuatan ikan pindang yang keduanya berpotensi membawa berbagai bahan cemaran, termasuk mikroplastik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui cemaran mikroplastik pada ikan pindang yang diproduksi oleh 5 pengolah di Tanah Sareal, Bogor Utara, Parung, dan Ciampea. Kandungan mikroplastik dianalisis dari 5 jenis ikan, yaitu bandeng (Chanos chanos), tongkol (Euthynnus affinis), layang (Decapterus russelli), semar/etem (Mene maculata), dan kembung (Rastrelliger kanagurta), yang meliputi daging ikan segar dan produk pindangnya, garam, dan air rebusan pindang. Identifikasi mikroplastik dilakukan terhadap hasil destruksi dengan H2O2 secara mikroskopis dan dikonfirmasi dengan FTIR-UATR. Hasil penelitian menunjukkan jumlah mikroplastik pada daging produk pindang berkisar antara 0,22±0,15 dan 0,69±0,12 MP/g atau meningkat sekitar 11-19% dibandingkan dengan bahan bakunya. Sebanyak 0,17±0,02 MP/g ditemukan pada sampel garam dan 0,10±0,02 MP/mL pada air rebusan pindang. Analisis FTIR-UATR menunjukkan bahwa mikroplastik yang dominan adalah polipropilena (PP) sebanyak 54% dalam bentuk fragmen atau film, dan polietilena (PE) sebanyak 46% dalam bentuk fiber atau fragmen. Perkiraan paparan mikroplastik akibat mengkonsumsi ikan pindang yang didasarkan pada tingkat konsumsi ikan pindang masyarakat Indonesia adalah 2,345±603 MP/orang/tahun. Kondisi tersebut mengindikasikan potensi bahaya apabila dikonsumsi terus-menerus, karena mikroplastik yang dapat bersifat akumulatif. Dengan demikian, perlu diupayakan pengurangan kandungan mikroplastik pada bahan utama ikan pindang dan garam dengan mengurangi pencemaran mikroplastik di perairan dan memperbaiki teknologi produksi garam.Title: Microplastic Contamination of Boiled Salted Fish and Its Potential Hazards to Human Health, Case Study in BogorThe high accumulation of plastic waste in Indonesian waters can increase the potential contamination of microplastic. Fish and salt are the primary raw materials for boiled salted fish, both of which can carry various contaminants, including microplastics. The objective of this study was to determine the presence of microplastic contamination in boiled salted fish produced by five processors in Tanah Sareal, North Bogor, Parung, and Ciampea. The microplastic content was analyzed from 5 types of fish, namely milkfish (Chanos chanos), mackerel tuna (Euthynnus affinis), indian scad (Decapterus russelli), moon fish (Mene maculata), and indian mackerel (Rastrelliger kanagurta), each of fresh fish and its boiled salted product, salt used, and boiled water. Microplastic identification was carried out microscopically on samples prepared by H2O2 destruction and further confirmed by FTIR-UATR. The results showed that the amount of microplastics in the products ranged from 0.22±0.15 to 0.69±0.12 MP/g or an increase of about 11-19% compared to the raw material. A total of 0.17±0.02 MP/g was found in the salt sample and 0.10±0.02 MP/mL in the boiling water sample. FTIR-UATR analysis showed that the dominant microplastic was polypropylene (PP) as much as 54% in fragments or film form, and polyethylene (PE) account for 46% in the form of fibers/fragments. The estimated exposure of microplastics due to consuming boiled salted fish based on the level of consumption of boiled salted fish in Indonesia is 2,345±603 MP/person/year. This condition indicates a potential danger if boiled salted fish is consumed at a large amount and continuously because of the cumulative nature of microplastics. So it is necessary to reduce the amount of microplastic content in the fish material and salt by reducing microplastic pollution in the waters and improving the salt production technology.
Optimasi Waktu dan Suhu Kalsinasi Tepung Cangkang Rajungan (Portunus sp.) sebagai Bahan Baku Hidroksiapatit Bagus Hadiwinata; Fera Roswita Dewi; Dina Fransiska; Niken Dharmayanti
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v16i2.731

Abstract

Kalsinasi merupakan salah satu tahapan penting dalam sintesis hidroksiapatit, karena kemurnian tepung CaO sangat tergantung pada suhu dan waktu kalsinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan waktu dan suhu optimum pada kalsinasi tepung cangkang rajungan (Portunus sp.) pada pembuatan tepung kalsium oksida (CaO). Pada penelitian ini, cangkang rajungan dikalsinasi pada suhu 700 dan 800°C selama 4 dan 5 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan suhu dan waktu kalsinasi berpengaruh terhadap rendemen, jumlah massa kalsium, dan karbon dari tepung CaO (p<0,05). Sedangkan jumlah massa fosfor dan oksida tidak dipengaruhi oleh perlakuan kalsinasi (p>0,05). Tepung CaO kemudian diidentifikasi gugus fungsi, morfologi, komposisi, dan kristalinitasnya menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), Scanning Electron Microscope (SEM) dengan Energy Dispersive Spectroscopy (EDS), dan X-Ray Diffraction (XRD). Hasil pengamatan menunjukan tepung CaO terbaik diperoleh dari perlakuan kalsinasi pada suhu 800°C selama 5 jam, menghasilkan morfologi tepung dengan ukuran yang lebih seragam serta pori-pori yang lebih halus dan lebih kecil dibandingkan perlakuan lainnya. Selain itu, kadar kalsium dan derajat kristalinitas yang dihasilkan pada perlakuan tersebut lebih besar dibandingkan dengan perlakukan lainnya, yaitu berturut-turut 91,96±5,07% dan 75%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa proses kalsinasi pada suhu 800°C selama 5 jam menghasilkan tepung CaO yang paling optimum dan dapat dijadikan bahan baku sintesis hidroksiapatit. Title: The Optimization of Time and Temperature to Calcine The Crab Shell (Portunus sp.) Powder as Raw Material of HydroxyapatiteCalcination is one of the important steps in the synthesis of hydroxyapatite because the purity of CaO powder is highly dependent on the temperature and time of calcination. This study aimed to optimize the time and temperature of calcination on the production of Portunus sp. calcium oxide (CaO) powder. In this study, crab shells were calcined at 700 and 800°C for 4 and 5 hours. The results showed that the temperature and time of calcination affected the yield, total mass of calcium, and carbon of CaO powder (p<0.05). Meanwhile, the mass amount of phosphor and oxide was not affected by the calcination treatment (p>0.05). The CaO powder was identified its functional groups, morphology, composition, and crystallinity using Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), Scanning Electron Microscope (SEM) with Energy Dispersive Spectroscopy (EDS), and X-Ray Diffraction (XRD), respectively. The results showed the best CaO powder was obtained from the calcination treatment at a temperature of 800°C for 5 hours. The CaO morphology was uniform in size, finer, and smaller pores than that of other treatments. In addition, the calcium content and degree of crystallinity produced by this treatment were greater than other treatments, i.e. 91.96±5.07% and 75%, respectively. It can be concluded that the calcination process at 800°C for 5 hours produces the best CaO powder and can be used as raw material for the synthesis of hydroxyapatite.
Cover Belakang JPBKP Vol. 16 No. 2 Tahun 2021 Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi KP
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v16i2.819

Abstract


Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue