cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
Karakteristik Fisiko-Kimia Kukis dengan Penambahan Tepung Tulang Ikan Tenggiri (Scomberomorus commerson) Nirmala efri hasibuan; Sumartini Sumartini
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i2.842

Abstract

Tulang ikan tenggiri (Scomberomorus commerson) merupakan salah satu limbah industri pengolahan ikan yang dapat digunakan sebagai sumber mineral. Pada penelitian ini tepung tulang ikan tenggiri dimanfaatkan sebagai bahan pengisi pada pembuatan kukis dan diharapkan mampu meningkatkan kandungan nutrisinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh fortifikasi tepung tulang ikan tenggiri pada pembuatan kukis terhadap sifat fisik, kimia dan mutu sensori (hedonik) kukis yang dihasilkan. Kukis dibuat dengan variasi perlakuan penambahan tepung tulang ikan yaitu 0, 10%, 20%, dan 30 %. Parameter yang diamati adalah hedonik, protein, karbohidrat, lemak, abu, air, kalori, kalsium, fosfor dan hardness. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kukis dengan penambahan tepung tulang ikan tenggiri memiliki kalsium, fosfor, protein, lemak, kadar abu dan hardness yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa sifat fisik, kimia dan hedonik kukis terbaik dihasilkan dari perlakuan fortifikasi tepung tulang ikan 10%, dengan kadar air 4,24%, protein 7,22 %, karbohidrat 55,40%, lemak 27,38%, abu 3,24%, kalsium 7,76%, fosfor 5,31 %, kalori 520 kkal, hardness 21,06 N, dan nilai rata-rata hedonik berdasarkan parameter kenampakan, bau, rasa, dan tekstur adalah 6,9-7,8. ABSTRACTNarrow-barred spanish mackerel fish bone (Scomberomorus commerson) is one of the fish processing industrial waste that can be used as a mineral source. In this study, the narrow-barred spanish mackerel fish bone flour was used to fortify the manufacture of cookies and is expected to increase the nutritional content. The purpose of this study was to determine the effect of adding the narrow-barred spanish mackerel fish bone flour to the manufacture of cookies on the physico-chemical properties and sensory quality (hedonic) of cookies based on experimental method. Cookies were made with variations in the addition of fish bone flour, namely 0, 10%, 20%, and 30%. Parameters tested were hedonic value, protein, carbohydrate, fat, ash, moisture, calories, calcium, phosphorus and hardness. The results showed that cookies with the addition of narrow-barred spanish mackerel bone flour had higher calcium, phosphorus, protein, fat, ash content and hardness compared to controls. Based on the results of the study, it was found that the best physico-chemical properties and hedonic of cookies were obtained from the addition of 10% fish bone flour. Cookies from this treatment had moisture content of 4,24%, protein 7,22%, carbohydrates 55,40%, fat 27,38%, ash 3,24%, calcium 7,76%, phosphorus 5,31%, calories 520 kcal, hardness 21,06 N, and hedonic average value based on appearance, odour, taste, and texture parameters of 6,9-7,8.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Keong Matah Merah (Cerithidea obstusa) Terhadap Kadar Enzim Transaminase Tikus Putih (Rattus novergicus) Dewi Ulfa Trisdiani; Sri Purwaningsih; Ekowati Handharyani
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i2.853

Abstract

Keong matah merah (Cerithidea obtusa) terbukti memiliki potensi farmakologis sebagai obat. Penelitian ini bertujuan menganalisis kadar enzim transaminase, yaitu serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) dan serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) pada serum tikus putih (Rattus novergicus) jantan galur Sprague Dawley yang diberi ekstrak etanol daging keong matah merah (C. obtusa) selama 28 hari. Kadar SGOT dan SGPT yang mengalami peningkatan secara bersamaan dapat menjadi indikator kerusakan hati. Hasil penelitian menunjukkan daging mentah segar keong matah merah (C. obtusa) mempunyai kadar air, protein, lemak, dan abu berturut-turut sebesar 74,22%; 11,99%; 0,63%, dan 8,40%. Ekstrak etanol daging mentah segar keong matah merah memiliki rendemen sebesar 3,41%. Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus putih jantan, yang dibagi secara acak menjadi 4 kelompok dan mendapatkan perlakuan yang berbeda selama 28 hari. Kelompok 1 (kontrol) beri akuades 2 ml/hari, kelompok 2 beri metotreksat 0,125 mg/kg BB/dua hari , kelompok 3 dan 4 diberi ekstrak etanol daging keong matah merah berturut-turut dengan dosis 100 dan 200 mg/kg BB/hari. Pengambilan sampel serum darah dilakukan pada hari ke-29 secara intrakardiak, kemudian dilakukan analisis kadar SGOT dan SGPT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daging keong matah merah dengan dosis 100 dan 200 mg/kg BB/hari secara signifikan menurunkan kadar SGOT dan SGPT pada serum tikus putih jantan. KATA KUNCI: ABSTRACT The red eyed snail (Cerithidea obtusa) has been shown to have pharmacological potential as a drug. This study aimed to anal,yze the levels of transaminase enzymes, namely serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) and serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) in the serum of male white rats (Rattus novergicus) Sprague Dawley strain given ethanol extract of red eye snail meat (C. obtusa) for 28 days. Levels of SGOT and SGPT which increase simultaneously can be an indicator of liver damage. The results showed that fresh raw meat of red eyed snail (Cerithidea obtusa) had water, protein, fat and ash content respectively of 74.22%; 11.99%; 0.63%, and 8.40%. Ethanol extract of fresh raw meat of red eyed snail has a yield of 3.41%. This study used 24 male white rats which were randomly grouped into 4 groups and received different treatments for 28 days. Group 1 (control) was given a 2 ml of distilled water/day, group 2 was treated with methotrexate 0.125 mg/kg BW/two days, while groups 3 and 4 were fed with ethanol extract of red eye snail meat of 100 and 200 mg/kg BW/day respectively. Blood serum samples were taken by intracardiac method on the 29th day and then analyzed for SGOT and SGPT levels. The results showed that the red eye snail meat ethanol extract with doses of 100 and 200 mg/kg BW/day was significantly able to reduce SGOT and SGPT levels in male white rats serum.
Pengaruh Penambahan Kappaphycus alvarezii terhadap Mutu Bakso Udang Dogol (Metapenaeus monoceros) Riski Sulistio Aji; Ita Zuraida; Bagus Fajar Pamungkas; Irman Irawan; Seftylia Diachanty
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i2.846

Abstract

Salah satu karakteristik khas bakso adalah kekenyalannya yang dapat diatur dengan penambahan bahan pengenyal. Di antara bahan pengenyal alami yang dapat digunakan adalah rumput laut Kappaphycus alvarezii. Tujuan penelitian ini ialah melihat nilai organoleptik, sifat fisika, dan sifat kimia bakso udang dogol yang ditambahkan K. alvarezii. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima rasio perbandingan dan diulang sebanyak tiga kali, yaitu (i) 80% daging udang dogol, (ii) 70% udang : 10% rumput laut (iii) 60% udang : 20% rumput laut, (iv) 50% udang : 30% rumput laut, dan (v) 40% udang : 40% rumput laut. Data diolah menggunakan analisis sidik ragam dan dilanjutkan menggunakan DMRT pada taraf 5%. Berdasarkan penelitian, terdapat perbedaan yang nyata (p<0,05) pada bakso udang dogol yang ditambahkan K. alvarezii terhadap kadar proksimat, sifat fisika (EMC/expressible moisture content dan warna), serta kesukaan konsumen (parameter tekstur dan penerimaan keseluruhan). Komposisi terbaik pada bakso udang dogol dengan penambahan K. alvarezii lumat berdasarkan karakteristik fisiko-kimia adalah pada perlakuan 20% rumput laut dan 60% daging udang dogol. Perlakuan ini menghasilkan bakso dengan kadar air 73,23%; abu 1,83%; lemak 0,96%; protein 9,83%; EMC 5,23%; Load max 53,04 kgf; displacement max 23,03 mm; kecerahan (L) 53,19; (a*) 5,00; (b*) 12,70, dan derajat putih 51,21%. Hasil uji kesukaan menunjukkan bahwa produk tersebut diterima oleh penelis, dengan nilai 6,10 (agak suka) untuk parameter warna; 6,77 (suka) untuk aroma; 6,90 (suka) untuk tekstur, dan 6,93 (suka) untuk rasa. AbstractOne of the characteristics of meatball is their elasticity, which can be adjusted by adding a thickening agent. The thickening agent that can be used is Kappaphycus alvarezii. The purpose of this study was to determine the organoleptic value, physical and chemical properties of the dogol shrimp balls added with K. alvarezii. The experiment was performed using a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 3 replications : (i) 80% dogol shrimp meat, (ii) 70% dogol shrimp meat and 10% seaweed, (iii) 60% dogol shrimp meat and 20% seaweed, (iv) 50% dogol shrimp meat and 30% seaweed and (v) 40% dogol shrimp meat and 40% seaweed. As a result, the addition of K. alvarezii to processed dogol shrimp balls had a significant effect (p<0.05) on proximate values, physical properties (EMC/expressible moisture content and color), and consumer preferences (texture and general parameters). The best composition of dogol shrimp balls with the addition of K. alvarezii based on physicochemical characteristics was the treatment of 20% seaweed and 60% dogol shrimp meat. This formula produces shrimp balls with moisture content of 73.23%; ash 1.83%; fat 0.96%; 9.83% protein; EMC 5.23%; maximum load 53.04 kgf; maximum displacement 23.03 mm; brightness (L) 53.19; (a*) 5.00; (b*) 12.70, and white degree 51.21%. The results of the preference test showed that the product was accepted by the panelists, with value 6.10 (slightly like) for the color parameter; 6.77 (like) for the scent; 6.90 (like) for texture, and 6.93 (like) for flavor. 
Peningkatan Nilai Tambah Kulit Ikan Tuna sebagai Bahan Baku Pupuk Organik Cair Ainal Mardhiah; Nadia Putri; Dwi Apriliani; Lia Handayani
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i2.861

Abstract

Limbah kulit ikan tuna sirip kuning merupakan produk sampingan dari PT. YPT, Banda Aceh yang belum dimanfaatkan. Kulit ikan mengandung unsur N, P, dan K yang yang dapat dimanfaatkan untuk pupuk. Penggunaan Pupuk Organik Cair (POC) berbasis hasil samping industri hasil perikanan masih belum berkembang dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah kulit ikan tuna sirip kuning menjadi POC menggunakan metode fermentasi tradisional, mengkaji komposisi kimia (mineral) yang terkandung, dan menentukan dosis terbaik penambahan POC yang dihasilkan pada tanaman kangkung. POC dibuat dengan 2 perlakuan, yaitu penambahan molase sebanyak 2% (POC2%) dan 4% (POC4%). Uji organoleptik meliputi parameter aroma dan warna kemudian dianalisis menggunakan Uji Kruskal-Wallis. Analisis komposisi mineral POC menggunakan X-ray flouresence (XRF) dengan pupuk cair kimia sebagai pembanding. Pengujian aplikasi pupuk cair (POC dan pupuk cair komersil) pada tanaman kangkung dilakukan dengan parameter pengamatan tinggi tanaman dan jumlah daun. Berdasarkan uji organoleptik diketahui bahwa perlakuan POC4% lebih cepat mengalami proses pematangan dibandingkan dengan POC2%. Uji Kruskal-wallis menunjukkan bahwa konsentrasi molase berpengaruh nyata terhadap parameter warna, namun tidak berpengaruh terhadap parameter aroma. Hasil uji XRF menunjukkan bahwa POC menghasilkan berbagai unsur hara mikro (Si, Cl, Fe, Mn, B, dan Zn) serta unsur makro (P, K, Ca, dan S) yang relatif lengkap memenuhi kebutuhan tanaman. Berdasarkan uji yang dilakukan, POC4% memiliki karakteristik yang lebih baik dibandingkan POC2%. Dosis penggunaan optimal POC4% adalah 4 ml/L, namun aplikasi dengan konsentrasi 2 ml/L telah menghasilkan pertumbuhan kangkung yang setara dengan penggunaan pupuk cair komersil sebanyak 12 ml/L (dosis yang disesuaikan anjuran penggunaan pada kemasan).AbstractYellow-fin tuna skin waste is a by-product of PT. YPT, Banda Aceh that has not been utilized. The fish skin waste contains N, P, and K elements which are applicable for fertilizer. Currently, the use of Liquid Organic Fertilizer (LOF) is still not well developed. This study aims to determine the utilization of yellow-fin tuna skin waste into LOF using traditional fermentation methods, examining the chemical composition (minerals) contained and detecting the best dose of liquid organic fertilizer for the growth of water spinach. LOF was made with 2 treatments: molasses addition of 2% (POC2%) and 4% (POC4%). The organoleptic test included odour and color parameters, analyzed using the Kruskal-Wallis Test. Mineral composition test was performed using X-ray fluorescence (XRF), with chemical liquid fertilizer as a comparison. Application test of liquid fertilizer (LOF and commercial liquid fertilizers) on water spinach with observation parameters of the plant height and number of leaves. Based on the organoleptic test, it is known that LOF4% treatment undergoes a maturation process faster than that of LOF2%. The Kruskal-Wallis test showed that molasses concentration had a marked effect on the color parameter but had no effect on the odour parameter. The results of the XRF test showed that the LOF from this study contained relatively complete range of micronutrients (Si, Cl, Fe, Mn, B, and Zn) and macronutrients (P, K, Ca, and S) which are needed by plants. Based on the test conducted, LOF4% has better characteristics than LOF2%. The optimal application dose of LOF4% is 4 ml/L, but the use of 2 ml/L has resulted in water spinach growth equivalent to the application of commercial liquid fertilizer of 12 ml/L (the dose recommended for use on the package).
Pengaruh Metode Pengemasan Abon Ikan Bandeng (Chanos chanos) Terhadap Perubahan Mutu Produk Selama Penyimpanan Suhu Ruang Elinda Kusuma Dewi; Dini Surilayani; Ginanjar Pratama
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i1.891

Abstract

Pemanfaatan ikan bandeng sebagai bahan baku pengolahan abon memiliki potensi untukdikembangkan karena disukai oleh konsumen dan memiliki daya simpan yang cukup baik. Salah satu titik kritis masa simpan abon ikan adalah penggunaan teknik pengemasannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kimia dan sensori abon ikan yang dikemas dengan cara berbeda selama penyimpanan 28 hari. Prosedur penelitian terdiri dari pengolahan abon ikan, pengemasan dan pengamatan mutu abon selama penyimpanan. Parameter yang diamati yaitu uji kadar proksimat, uji mikrobiologi menggunakan angka lempeng total (ALT), uji sensori, uji pH dan uji umur simpan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa berdasarkan pengujian evaluasi sensori pada kemasan vakum diperoleh lama penyimpanan abon ikan bandeng selama 28 hari. Sedangkan, pada kemasan non vakum hanya selama 21 hari serta hasil uji pH berkisar antara 5.50 ± 0.00 – 5.90 ± 0.00. Namun demikian, berdasarkan pengujian proksimat, uji ALT dan uji sensori baik dalam kemasan vakum dan non vakum, abon ikan bandeng yang dihasilkan telah memenuhi persyaratan Badan Standardisasi Nasional (BSN). AbstractThe utilization of milkfish for fish floss production is potential because it is preferable by consumers and has a fairly good shelf life. One of the critical points during fish floss storage is its packaging method. This study aimed to determine the chemical and sensory changes of fish floss by using different packaging methods until 28 days. The milkfish floss produced was preserved using vacuum and nonvacuum packaging, and their quality changes were observed during room temperature including proximate test, Total Plate Numbers Test (ALT), sensory test, pH test, and shelf life test. Based on the sensory evaluation testing, the fish floss quality could be maintained until 28 days using the vacuum packaging whereas it was on for 21 days using the non-vacuum packaging, and the pH test results range from 5.50 ± 0.00 – 5.90 ± 0.00. However, according to the proximate, Total Plate Numbers Test (ALT), and sensory tests, in general, both the fish floss samples have met the requirements by the National Standardization Agency.
Perbandingan Kinerja Ekstraksi Fikobiliprotein dari Spirulina platensis Melalui Pengadukan dan Freezing-Thawing Endah Sulistiawati; Martomo Setyawan; Zainal Abidin; Muhammad Darmawan; Harkris Alfian Makasar; Tegar Wahyu Pamungkas
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i1.912

Abstract

Fikobiliprotein terdiri dari fikosianin, allofikosianin, dan fikoeritrin, merupakan komponen bioaktif yang terdapat pada Spirulina platensis (SP), berfungsi sebagai antioksidan dan antikanker. Metode ekstraksi secara pengadukan dan freezing-thawing dipilih karena sederhana, dan paling mudah untuk diterapkan pada skala industri. Penelitian ini membandingkan kinerja secara pengadukan dan freezing thawing pada ekstraksi fikobiliprotein (PBP) dari SP dengan solven air suling. Variabel yang diteliti adalah waktu pengadukan (1-30 menit), perbandingan solven terhadap biomassa (10-200 mL/g), waktu pembekuan (1-16 hari), serta kombinasi antara waktu pengadukan dan pembekuan. SP segar dan kering diperoleh dari CV. Paring Spirulina, Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. SP segar (5 g) ditambah air suling (10-50 mL), diaduk dengan pengaduk magnetik (300 rpm), ekstraksi, dan penyaringan vakum. Filtrat yang dihasilkan diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 562, 615, dan 652 nm. SP kering (0,5 hingga 5,0 g) ditambah air suling, lalu diaduk seperti prosedur pada SP basah.  Metode freezing-thawing dengan pengadukan dimulai dengan pembekuan SP, dilanjutkan dengan thawing, pengadukan, dan penyaringan vakum. Waktu pengadukan 1-5 menit (tanpa pembekuan) memberikan hasil PBP 10,39±0,44 mg/g SP kering. Waktu pembekuan 16 hari (dengan atau tanpa pengadukan) memberikan hasil PBP yang relatif tinggi, yaitu 68,15 ± 2,89 mg/g SP kering. Perbandingan solven terhadap biomassa (S/B) optimum pada 100 mL/g SP kering.  Aktivitas antioksidan PBP yang ditunjukkan dengan nilai IC50 adalah 47,19 ± 0,04 mg/L (dari SP segar), dan 42,63 ± 0,08 mg/L (dari SP kering) pada kondisi ekstraksi yang optimum. AbstractPhycobiliprotein consisting of phycocyanin, allophycocyanin, and phycoerythrin, is a bioactive component found in Spirulina platensis (SP), which functions as an antioxidant and anticancer. Stirring and freezing-thawing were chosen as the extraction methods due to simple and easy to apply on an industrial scale. This study compared the stirring and freezing-thawing performance in extracting phycobiliprotein (PBP) from SP with distilled water as solvent. The variables studied were stirring time (1-30 minutes), solvent-to-biomass ratio (10-200 mL/g), freezing time (1-16 days), and the combination of stirring and freezing time. Fresh and dry SP obtained from CV. Paring Spirulina, Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. Fresh SP (5 g) was added with distilled water (10-50 mL), stirred with a magnetic stirrer (300 rpm), extraction, and vacuum filtering. The absorbance of the filtrate was measured using a spectrophotometer at a wavelength of 562, 615, and 652 nm. Dry SP (0.5 to 5.0 g) was added with distilled water, then stirred like the procedure for wet SP. The freezing-thawing and stirring method began with SP freezing, followed by thawing, stirring, and vacuum filtering. Stirring for 1-5 minutes (without freezing) obtained PBP of 10.39 ± 0.44 mg/g dry SP. Freezing time of 16 days (with or without stirring) obtained relatively high PBP yields, namely 68.15 ± 2.89 mg/g dry SP. The optimum solvent ratio to biomass (S/B) was 100 mL/g dry SP. The antioxidant activity of PBP at the optimum condition, as indicated by the IC50 value, was 47.19 ± 0.04 mg/L (from fresh SP) and 42.63 ± 0.08 mg/L (from dry SP).
Serbuk-Penyedap Rasa dari Alam: Ekstrak Kaldu dari Cangkang Udang Segar (L. vannamei) menggunakan Refluk Berbantuan Bromelain Wara Dyah Pita Rengga; Erika Wijayanti; Yoga Agung Prabowo; Shakin Ervita Oktaviyani; Nanik Wijayati; Widya Hary Cahyati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i1.909

Abstract

Limbah cangkang udang menimbulkan permasalahan polusi udara dan tumpukan sampah yang dihinggapi lalat. Pemanfaatan cangkang udang yang kaya protein dapat diekstraksi untuk dimanfaatkan sebagai serbuk penyedap rasa. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan karakteristik dari filtrat ekstrak cangkang udang segar dan produk serbuk rasa udang, serta menentukan kondisi ekstraksi yang optimal pada penggunaan konsentrasi bromelain dan waktu refluk. Metode yang digunakan untuk pengambilan ekstrak udang dengan cara ekstraksi dengan alat refluk yang dilengkapi dengan pendingin yang terbagi menjadi dua tahap yaitu penambahan larutan garam dan enzim bromelain Gabungan filtrat ekstraksi dianalisis menggunakan GC-MS dan FT-IR. Selanjutnya filtrat diformulasikan menjadi serbuk penyedap rasa udang dengan beberapa bahan tambahan berupa tepung dan rempah-rempah. Selanjutnya, serbuk penyedap rasa dianalisis kadar air dan TEM. Ekstrak cangkang udang segar yang dianalsis mengandung senyawa dimetilamina dan trimetilamina yang merupakan kandungan protein, dengan kadar protein mencapai 28,984%. Selain protein, ekstrak juga mengandung asam lemak cangkang udang. Serbuk penyedap rasa udang yang dihasilkan mempunyai ukuran partikel sebesar 5 s.d 25 nm, dengan kadar air 11,11%. Kondisi operasi optimal ekstraksi protein dengan metode refluk pada kombinasi konsentrasi 2% katalis enzim bromelain pada suhu refluks 55 °C selama 1,5 jam. Ekstraksi menggunakan enzim bromelain secara bertahap memberikan kualitas flavor udang berupa serbuk kandungan protein dan lemak udang yang dipadu menjadi cita rasa spesifik dengan ukuran nanometer. AbstractShrimp shell waste causes air pollution problems and piles of garbage that flies infest. The utilization of shrimp shells rich in protein can be extracted to be used as flavouring powder. This research was conducted to determine the characteristics of fresh shrimp shell extract filtrate and shrimp flavour powder product and the optimal extraction conditions using bromelain concentration and reflux time. The method used for extracting shrimp extract through extraction with a reflux tool equipped is divided into two stages adding a salt solution and bromelain enzyme. The mixed filtrate was analyzed using GC-MS and FT-IR. The filtrate is formulated into shrimp flavouring powder with some additional ingredients in the form of flour and spices. The flavouring powder was analyzed for water content and TEM. The fresh shrimp shell extracts analyzed containing dimethylamine and trimethylamine compounds which are protein content, with protein content reaching 28.984%. In addition to protein, the extract also contains fatty acids in shrimp shells. The resulting shrimp flavouring powder has a particle size of 5 to 25 nm, with a moisture content of 11.11%. Optimal operating conditions for protein extraction by reflux were method at a combined concentration of 2% bromelain enzyme catalyst at a reflux temperature of 55°C for 1.5 hours. Extraction using bromelain enzymes gradually gives shrimp flavour as a powder containing shrimp protein, combined into a specific taste with nanometer size.
Biosintesis Dan Karakterisasi Nanopartikel Zink Oksida (ZnO) Dengan Ekstrak Rumput Laut Caulerpa taxifolia Yola Wulandari; Rodiah Nurbaya Sari; Nurlaila Ervina Herliany; Maya Angraini Fajar Utami
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i1.928

Abstract

Penelitian berbasis nanotechnology memiliki kemampuan dalam merekayasa sifat-sifat material. Salah satu material yang dijadikan nanopartikel adalah unsur Zink atau Seng (Zn) dalam bentuk oksidanya yaitu Zink Oksida (ZnO). C. taxifolia jenis rumput laut yang melimpah di Pantai Teluk Sepang, Kota Bengkulu dan belum dimanfaatkan secara optimal. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan nanopartikel ZnO dengan ekstrak C. taxifolia, menganalisa gugus fungsi nanopartikel ZnO C. taxifolia, menganalisa morfologi nanopartikel dan mengukur distribusi ukuran partikel. Nanopartikel Zink Oksida (ZnO) disintesis menggunakan metode reduksi. Material logam yang dijadikan nanopartikel yaitu ZnO (Zink Oksida) dan rumput laut Caulerpa taxifolia yang berperan sebagai reduktor, stabilisator dan capping agent. Nanopartikel ZnO C. taxifolia yang dihasilkan berupa bubuk ZnO berwarna putih susu (milky white) dan tidak memiliki aroma. Analisis gugus fungsi ZnO C. taxifolia menunjukkan bahwa pita serapan yang muncul tidak mendekati pita serapan ZnO, sedangkan pita serapan ZnO yang diperoleh telah berada dalam rentang nilai spektral ZnO dari hasil pengamatan. Hasil pencitraan SEM menggambarkan morfologi nanopartikel ZnO C. taxifolia yang terlihat tidak seragam serta didominasi dengan bentuk nanorod.Ukuran partikel ZnO sintesis ekstrak C. taxifolia cenderung bervariasi yaitu berkisar antara 1,28- 1764,23 nm yang berarti nanopartikel ZnO yang dihasilkan bersifat beragam. Kurva menunjukkan bahwa distribusi ukuran partikel ZnO C. taxifolia dengan rata-rata diameter 254,95 nm membuktikan bahwa ekstrak rumput laut C. taxifolia berhasil berperan sebagai agen penstabil, capping agent sekaligus agen pereduksi. AbstractResearch on nanotechnology has been widely carried out in engineering the properties of materials. The element zinc (Zn) is one of the materials used as nanoparticles. The synthesis of nanoparticles can be carried out using the biosynthetic method, which utilizes plants (among them green seaweed) in the process of synthesizing nanoparticles. Green seaweed of the Caulerpa taxifolia type is easy to find and very abundant on Sepang Bay Beach, Bengkulu City, but its use has not been used optimally. The purpose of this study was to process C. taxifolia extract to produce ZnO nanoparticles and explain their characterization. Nanoparticles of ZnO C. taxifolia are produced as a milky white substance. The analysis of the functional groups of ZnO in C. taxifolia shows that the observed absorption band is in close proximity to the ZnO absorption band resulting from research before. The results of SEM imaging show that the morphology of C. taxifolia ZnO nanoparticles is non-uniform and dominated by nanorods. The particle size of ZnO synthesized from C. taxifolia extract varies between 1.28 and 1764.23 nm, indicating that the ZnO nanoparticles produced are diverse. The curve shows that the particle size distribution of C. taxifolia ZnO, with a mean diameter of 254.95 nm, demonstrates that C. taxifolia seaweed extract functions effectively as a stabilizing, capping, and reducing agent.
Komposisi Kimia Tepung dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Ulva lactuca dan Genjer (Limnocharis flava) Sebagai Bahan Baku Pembuatan Garam Rumput Laut Nurjanah Nurjanah; Ramlan Ramlan; Agoes Mardiono Jacoeb; Anggrei Viona Seulalae
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i1.931

Abstract

Rumput laut hijau Ulva sp. dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan garam rendah natrium tinggi kalium dari rumput laut. Peningkatan kandungan kalium dari garam rumput laut dapat ditambahkan dengan bahan alami salah satunya tanaman genjer (Limnocharis flava). Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan komposisi kimia tepung dan aktivitas antioksidan ekstrak rumput laut Ulva lactuca dan L. flava sebagai bahan baku pembuatan garam rumput laut. Penelitian terdiri dari beberapa tahapan meliputi preparasi bahan baku U. lactuca dan tanaman genjer, pembuatan tepung rumput laut dan genjer, dan ekstraksi tepung rumput laut dan genjer. Parameter yang dianalisis meliputi komposisi kimia, logam berat, mineral, fitokimia, dan aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan komposisi kimia tertinggi pada tepung U. lactuca dan L. flava yaitu karbohidrat dengan nilai sebesar 43,55±0,25% dan 53,11±0,23%. Komposisi kimia terendah pada kadar abu tidak larut asam sebesar 0,62±0,02% dan 0,54±0,01%. U. lactuca memiliki komposisi mineral Na 1,61 mg/g, K 18,95 mg/g, dan rasio mineral Na:K 0,08. L. flava memiliki komposisi mineral Na 1,09 mg/g, K 24,67 mg/g, dan rasio mineral Na:K 0,04. Ekstrak U. lactuca memiliki aktivitas antioksidan IC50sangat kuat (48,64±0,65 ppm), kapasitas antioksidan 246,92 µmol asam askorbat/g ekstrak, serta terdeteksi mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenol hidrokuinon, tanin, dan streoid. Ekstrak L. flava mengandung aktivitas antioksidan IC50 sedang (138,86±0,40 ppm), kapasitas antioksidan 116,92 µmol asam askorbat/g ekstrak, serta terdeteksi mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenol hidrokuinon, dan steroid. Rumput laut U. lactuca dan tanaman genjer (L. flava) berpotensi digunakan sebagai bahan baku pembuatan garam rendah natrium dari rumput laut. AbstractGreen seaweed Ulva sp. has potential as raw material for production low sodium high potassium salt from seaweed. The potassium content can be increased by adding natural material such as genjer (Limnocharis flava). The aimed of this study was to get the chemical composition of flour and antioxidant activity of extract U. lactuca seaweed and genjer (L. flava) as raw materials for production seaweed salt. The research consisted of several stages including preparation of raw materials, production of seaweed and genjer flour, and extraction of U. lactuca and genjer flour. The result showed that U. lactuca and L. flava have high carbohydrate (43.55±0.25% and 53.11±0.23%) and low acid soluble ash (0.62±0.02% and 0.54±0.01%). U. lactuca has a mineral composition of Na 1.61 mg/g, K 18.95 mg/g, and the ratio of minerals Na:K 0.08. L. flava has a mineral composition of Na 1.09 mg/g, K 24.67 mg/g, and the ratio of minerals Na:K 0.04. U. lactuca extract had very strong IC50 antioxidant activity (48.64±0.65 ppm), antioxidant capacity of 246.92 µmol ascorbic acid/g extract, and was detected to contain alkaloids, flavonoids, phenol hydroquinones, tannins and steroids. L. flava extract contained moderate IC50 antioxidant activity (138.86±0.40 ppm), antioxidant capacity of 116.92 µmol ascorbic acid/g extract, and was detected to contain alkaloids, flavonoids, phenol hydroquinones, and steroids. Seaweed U. lactuca and genjer (L. flava) have potential to be used as raw materials for production low sodium salt from seaweed salt.
Mutu dan Umur Simpan Cookies yang difortifikasi dengan Hidrolisat Protein Ikan Nur Hidayah; Achmad Poernomo; Nadiah Ismi Rohadatul’aisy; Sugiyono Sugiyono
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i1.941

Abstract

Ikan merupakan sumber protein yang dapat digunakan untuk fortifikasi dalam berbagai produk pangan. Untuk mempermudah proses, protein ikan dapat disediakan dalam bentuk hidrolisat bubuk atau hidrolisat protein ikan (HPI). Penelitian dilakukan untuk mengetahui jumlah  terbaik HPI dalam pembuatan cookies serta pendugaan daya awetnya. Cookies dibuat dengan variasi penambahan HPI 0% (kontrol), 5%, 10% dan 15%, dan konsentrasi terbaik ditentukan dengan uji hedonik oleh 30 panelis. Cookies dengan formula terbaik selanjutnya diuji mutunya (proksimat dan mikrobiologi) dan dilakukan pendugaan umur simpan menggunakan pendekatan kadar air kritis. Cookies dengan formula terbaik adalah dengan penambahan HPI 5%, dan memiliki nilai proksimat berupa kadar protein 7,38%, kadar lemak 14,19%, kadar air 4,09%, kadar abu 1,56% dan kadar karbohidrat 72,77% serta nilai ALT 2,56x103 kol/g; dengan perkiraan umur simpan 957 hari atau 2,62 tahun. AbstractFish is a source of protein that can be used to fortify various food products. To simplify the process, fish protein can be provided in the form of hydrolyzed powder or fish protein hydrolysate (HPI). Research was conducted to determine the best amount of HPI to use in cookies production and to estimate its shelf life. Cookies were made with variations of HPI addition of 0% (control), 5%, 10% and 15%, and the best concentration was determined by a hedonic test of 30 panelists. Cookies with the best formulation were then tested for quality (proximate and microbiological) and shelf life was estimated using the critical moisture content approach. The cookies with the best formula were those with 5% HPI addition and had proximate values of protein content of 7,38%, fat content of 14,19%, moisture content of 4,09%, ash content of 1,56% and carbohydrate content of 72.77% and a microbial load (TPC) of 2,56x103 col/g. The estimated shelf life was 957 days or 2,62 years. 

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue