cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 403 Documents
Studi Metagenomik Sampel Perairan yang Diperkaya dari Wilayah Hilir Sungai Citarum dan Potensinya sebagai Agen Bioremediasi Fadia Mutiara Prastianti; Eri Bachtiar; Muhammad Wahyudin Lewaru; Moch Untung Kurnia Agung
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i1.794

Abstract

AbstrakPerairan Sungai Citarum banyak memperoleh limpasan limbah antropogenik dari darat yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Untuk mengatasi masalah pencemaran tersebut, bakteri dapat dimanfaatkan sebagai agen bioremediasi. Hingga saat ini belum tersedia informasi komunitas bakteri di Perairan Sungai Citarum, khususnya dari wilayah hilir Muara Gembong. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komunitas, kelimpahan, dan keanekaragaman bakteri dari Perairan Muara Gembong yang telah diperkaya dengan pendekatan metagenomik, serta analisis fungsional dengan melihat profil protein yang dimiliki dari bakteri yang teridentifikasi yang berpotensi sebagai agen bioremediasi. Pengambilan sampel air dilakukan di dua lokasi (A1 dan A2) dengan karateristik perairan yang berbeda. Sampel air estuari diperkaya dengan 0,2x Nutrient Broth. Sekuensing dilakukan dengan metode Next Generation Sequencing (NGS) menggunakan amplikon sekuensing platform Novaseq Illumina, dengan primer 16S rRNA region V3–V4 (341F dan 806R). Hasil identifikasi menunjukkan terdapat 37 genera, 19 famili, 13 ordo, 7 kelas, dan 4 filum bakteri dengan 49 OTU untuk sampel A1 dan 48 OTU untuk sampel A2. Kelimpahan tertinggi diperoleh pada kelas Gammaproteobacteria (99,82%) yang didominasi oleh genus Vibrio. Keanekaragaman bakteri pada kedua sampel diperkaya ini tergolong sedang dengan dominasi tinggi. Analisis fungsional menunjukkan kemampuan bakteri yang teridentifikasi mampu mendegradasi benzoate, dioxin, asam lemak, metana, naftalen, nitrotoluene, PAH, dan sulfur dengan protein dan enzim yang terlibat dalam metabolisme tersebut. Penelitian ini menunjukkan bakteri yang teridentifikasi pada Perairan Muara Gembong mempunyai potensi bioremediasi untuk cemaran lingkungan, seperti polutan organik dari logam berat. AbstractMuara Gembong waters is a downstream region of the Citarum watershed that receives anthropogenic runoff and affects water pollution. To overcome the problem of pollution, bacteria can be used as a bioremediation agent. Until now, information on the bacterial community in Citarum River waters has not been obtained, especially in the downstream area of Muara Gembong. This study aims to identify the community, abundance, and diversity of bacteria from Muara Gembong waters that have been enriched with a metagenomic approach, as well as functional analysis by looking at the protein profiles of the identified bacteria that have the potential as bioremediation agents. Water samples were taken at two locations (A1 and A2) with different water characteristics. Estuary water samples were enriched with 0.2x Nutrient Broth (NB). Amplicon sequencing of NGS by Novaseq Illumina platform was used in this research, using 16S rRNA primer region V3-V4 (341F and 806R). The results showed that 37 genera, 19 families, 13 orders, 7 classes, and 4 bacterial phyla were identified with 49 OTUs for A1 and 48 OTUs for A2. The highest abundance was obtained by the Gammaproteobacteria class (99.82%) which dominated by the Vibrio genera. The diversity level is classified as medium diversity with high dominance. Functional analysis showed the ability of the identified bacteria to degrade benzoate, dioxin, fatty acid, methane, naphthalene, nitrotoluene, PAH, and sulfur with proteins and enzymes involved in the metabolism. This study shows that identified bacteria in Muara Gembong waters are potentially appicable for bioremediation of the environment contaminants, such as organic pollutants and heavy metals.
Karakteristik Fisikokimia dan Penerimaan Konsumen terhadap Nuget Udang dengan Penambahan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii Fitriana Nainggolan; Seftylia Diachanty; Indrati Kusumaningrum; Irman Irawan; Ita Zuraida
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i1.793

Abstract

AbstrakNuget udang berkualitas baik mempunyai tekstur kenyal tetapi lembut ketika digigit, warna menarik, rasa udang yang kuat dan gurih, serta disukai oleh konsumen. Salah satu bahan tambahan pangan yang dapat digunakan untuk memperbaiki tekstur dan meningkatkan nilai gizi nuget udang adalah rumput laut Kappaphycus alvarezii. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik fisikokimia nuget udang werus (Metapenaeus monoceros) dengan penambahan rumput laut K. alvarezii, serta untuk mendapatkan rasio daging udang dan rumput laut terbaik yang disukai konsumen. Perlakuan rasio (b/b) daging udang dan rumput laut lumat terdiri atas A0 (10:0), A1 (9:1), A2 (8:2), A3 (7:3), dan A4 (6:4). Parameter yang dianalisis meliputi expressible moisture content, proksimat, tingkat kesukaan (hedonik), dan warna. Berdasarkan hasil penelitian, kombinasi daging udang werus dan K. alvarezii tidak memberikan pengaruh yang nyata (p>0,05) terhadap kadar protein, abu, expressible moisture content, dan warna, namun memberikan pengaruh (p<0,05) pada kadar air, lemak, dan serat kasar. Penambahan daging udang dan rumput laut menurunkan kadar air dan lemak nuget udang, namun meningkatkan kadar serat kasarnya. Selanjutnya, penambahan K. alvarezii mampu meningkatkan nilai tekstur nuget, namun tidak mempengaruhi parameter tingkat kesukaan lainnya secara umum. Rasio (b/b) daging udang dan rumput laut terbaik adalah 6:4 (A4) dengan nilai kesukaan keseluruhan antara 6,83-7,93 (suka sampai sangat suka). Rumput laut K. alvarezii dapat ditambahkan pada nuget udang untuk memperbaiki tekstur dan sebagai sumber serat. AbstractA good shrimp nugget exhibits chewy and soft textures, attractive color, strong shrimp flavor, savory taste and, is preferred by consumers. An additional food ingredient that can improve the texture and increase the nutritional value of shrimp nuggets is Kappaphycus alvarezii seaweed. This research aimed to investigate the physicochemical characteristics of speckled shrimp (Metapenaeus monoceros) nuggets incorporated with K. alvarezii and to obtain the best ratio (w/w) of shrimp meat and seaweed in nugget formulations in accordance with consumer’s preference. The ratios (w/w) of shrimp meat and seaweed, i.e. A0 (10:0), A1 (9:1), A2 (8:2), A3 (7:3), and A4 (6:4). Parameters analyzed were expressible moisture content, proximate, preference level (hedonic), and color. Based on the results, the combination of shrimp meat and K. alvarezii had no significant effect (p>0.05) on protein content, ash, expressible moisture, and color, but affected (p<0.05) the moisture content, fat, and crude fiber. The addition of shrimp meat and seaweed decreased the moisture and fat contents of shrimp nuggets, but increased the crude fiber content. The addition of K. alvarezii in shrimp nuggets did not affect consumer preferences on the nugget’s taste, aroma, color, and overall preference, but affected its texture. The best ratio (w/w) of shrimp meat and seaweed was 6:4 (A4) with an overall preference rating of 6.83-7.93 (like moderately to like very much). K. alvarezii seaweed can be added to shrimp nuggets to improve the texture and as a source of fiber.
Pengaruh Fortifikasi Konsentrat Protein Ikan Kembung (Rastrelliger sp.) terhadap Kualitas Keripik Tsurayya Ramadhani; Apri Dwi Anggo; Lukita Purnamayati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i1.806

Abstract

AbstrakKeripik atau chips merupakan makanan ringan yang digemari oleh seluruh kalangan masyarakat dengan kadar nutrisi yang beragam. Konsentrat protein ikan (KPI) kembung sebagai salah satu sumber protein hewani bisa ditambahkan dalam keripik dengan harapan dapat meningkatkan nilai gizi dan kualitas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji pengaruh fortifikasi KPI kembung terhadap kualitas keripik dan menentukan konsentrasi KPI kembung terbaik. Pembuatan keripik diawali dengan mengolah sampel ikan kembung menjadi KPI, kemudian dilakukan fortifikasi dengan konsentrasi KPI 0%, 5%, 10%, dan 15%. Parameter analisis yang diamati meliputi proksimat, daya cerna protein, asam amino lisin, kerenyahan, dan uji hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi KPI kembung berpengaruh nyata terhadap kandungan proksimat, kecuali kadar lemak, daya cerna protein, asam amino lisin, kerenyahan, dan uji hedonik (kenampakan, rasa, dan tekstur). KPI kembung dengan konsentrasi 5% merupakan tingkat fortifikasi keripik terbaik berdasarkan parameter rasa yang paling disukai yaitu 7,47 dan terdapat peningkatan kandungan protein menjadi 9,44%, daya cerna protein 60,29%, dan asam amino lisin 0,19%.Abstract Chips are snacks that are very popular with a variety of nutritional content. Mackerel Fish Protein Concentrate (FPC), as a source of animal protein added to chips is expected to increase the nutritional value and quality of chips. The purpose of this study was to examine the effect of mackerel FPC on chips quality and determine the best mackerel FPC concentration. Chip processing began by preparing FPC from mackerel, then fortified into the chip with concentration levels of 0%, 5%, 10%, and 15%. The analysis parameters observed were proximate composition, protein digestibility, lysine content, crispiness, and hedonic tests. The results showed that the concentration of mackerel FPC had a significant effect on the proximate except for fat content, protein digestibility, lysine content, crispiness, and hedonic test (appearance, taste, and texture). Mackerel FPC at a concentration of 5% produced the best chips with the most preferred taste of 7.47 and there was an increase in protein content to 9.44%; protein digestibility 60.29%; and lysine content 0.19%.
Profil Kimia dan Aktivitas Antibakteri Fraksi Aktif Nannochloropsis sp. sebagai Senyawa Penghambat Bakteri Penyebab Gangguan Kesehatan Mulut Ni Wayan Sri Agustini; Dody Priadi; Raja Vin Atika
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i1.781

Abstract

AbstrakSalah satu penyebab masalah kesehatan mulut adalah bakteri. Mikroalga jenis Nannochloropsis sp. diketahui memiliki senyawa kimia yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri seperti asam lemak dan fenol. Studi ini bertujuan untuk mengetahui potensi senyawa yang terkandung dalam Nannochloropsis sp. yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang menyebabkan gangguan kesehatan mulut, dalam hal ini bau mulut dan plak gigi. Bakteri yang digunakan pada uji ini adalah Streptococcus mutans, Streptococcus sanguinis, dan Porphyromonas gingivalis. Selanjutnya profil kimia fraksi aktifnya dianalisis menggunakan kromatografi gas spektrometri massa (KG-SM). Biomassa Nannochloropsis sp. dimaserasi secara berturut-turut menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol. Aktivitas antibakteri ekstrak diuji dengan metode difusi menggunakan kertas cakram. Selanjutnya, ekstrak etanol yang paling aktif difraksinasi menggunakan kolom silika G60 dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol. Hasil fraksinasi (fraksi A dan B) kemudian diuji aktivitas antibakterinya. Fraksi A diketahui lebih aktif dibanding fraksi B, dengan diameter zona hambat fraksi A 15,5 mm (terhadap S. mutans); 16,8 mm (S. sanguinis) dan 16,1 mm (P. gingivalis) pada konsentrasi ekstrak 10 mg/mL dan dikatagorikan mempunyai respon hambatan pertumbuhan bakteri yang kuat. Hasil identifikasi fraksi A menggunakan KG-SM dibandingkan dengan spektra fragmentasi database WILEY 10N.14 dan diperoleh sepuluh senyawa dengan tingkat kemiripan ≥ 90%. Senyawa-senyawa tersebut diduga berperan dalam aktivitas antibakteri. Oleh karena itu, fraksi A dari ekstrak etanol Nannochloropsis sp. berpotensi sebagai bahan untuk formulasi obat kumur pencegah bau mulut dan plak gigi. AbstractOne of the causes of oral health problems is bacteria contamination. The microalgae of Nannochloropsis sp., contains chemical compounds that can inhibit bacterial growth, such as fatty acids and phenols. The objective of the study is to determine the potential compounds of Nannochloropsis sp., which can inhibit the growth of bacteria that cause bad breath (halitosis) and dental plaque. The bacteria used in this test were Streptococcus mutans, Streptococcus sanguinis, and Porphyromonas gingivalis. Futhermore, chemical profiles of the active fractions were determined using a gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS). The biomass of Nannochloropsis sp. was macerated successively using n-hexane, ethyl acetate, and ethanol as solvents. The extract was tested for its antibacterial activity by diffusion method using disc paper. The most active ethanol extract was fractionated using a silica G60 column with n-hexane, ethyl acetate, and ethanol. The results of the fractionation (A and B fractions) were tested for their antibacterial activity. The A fraction was more active than the B fraction with the inhibition zone diameters of the A fraction were 15.5 mm (against S. mutans), 16.8 mm (S. sanguinis), and 16.1 mm (P. gingivalis) at extract concentration of 10 mg/mL and categorized as a strong bacterial growth inhibition response. The A fraction was identified using GC-MS and compared with the fragmentation spectra based on the WILEY 10N.14 database. The identification obtained ten compounds with > 90% similarity. These compounds were thought to play a role in the antibacterial activity. Therefore, the A fraction of ethanol extract from Nannochloropsis sp. can potentially be used in mouthwash formulation to prevent halitosis and dental plaque.
Pengaruh Perendaman dengan Asam Cuka dan Sodium Bikarbonat, serta Perlakuan Blansing terhadap Karakteristik Keripik Kulit Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus) Theresia Dwi Suryaningrum; Suryanti Suryanti; Rodiah Nurbaya Sari; Ema Hastarini; Diah Lestari Ayudiarti
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i1.799

Abstract

AbstrakIndustri filet ikan patin menghasilkan hasil samping berupa kulit sebesar 7-8%. Untuk meningkatkan nilai ekonominya, kulit ikan patin dapat diolah menjadi camilan berupa keripik kulit. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh perendaman kulit ikan dalam larutan asam cuka dan sodium bikarbonat (NaHCO3) serta kombinasinya dengan blansing dalam air panas terhadap karakteristik keripik kulit ikan patin yang dihasilkan. Sebelum dilumuri tepung dan digoreng menjadi keripik, kulit ikan patin direndam dalam larutan asam cuka 3% (v/v) atau larutan NaHCO3 1% (b/v) selama 15 menit serta kombinasi perendaman asam cuka, NaHCO3, dan blansing dengan air panas pada suhu 70-80°C selama 2 menit. Sebagai kontrol digunakan kulit patin yang hanya diblansing dan tanpa perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan perendaman dalam larutan NaHCO3 1% (b/v) selama 15 menit dan blansing dalam air panas suhu 70-80°C selama 2 menit menghasilkan keripik kulit yang mempunyai kenampakan, aroma, kerenyahan, dan secara keseluruhan paling disukai panelis. Keripik kulit tersebut mempunyai kandungan protein 28,93±0,71%, dengan lemak 31,89±1,52%, abu 3,31±0,19%, air 2,40±0,38%, serta nilai TBA 0,14±0,02 mg MDA/kg. Keripik kulit dengan perlakuan ini mempunyai tingkat kecerahan dengan nilai L* paling tinggi, nilai +a* (derajat kemerahan) dan +b*(derajat kekuningan) yang rendah, serta tekstur yang lebih renyah (p<0,05) dibandingkan dengan keripik kulit yang diberi perlakuan perendaman dalam larutan asam cuka dan kontrol. AbstractThe pangasius (catfish) fillet industry produces fish skin as a by-product by 7-8%. To increase its value-added, catfish skin can be processed into a snack of skin chips. This study aimed to examine the effects of soaking fish skin in a solution of vinegar and sodium bicarbonate (NaHCO3) and its combination with blanching in hot water on the characteristics of the catfish skin chips produced. The skin of the catfish before being coated with flour and fried was soaked in a solution of 3% (v/v) vinegar or 1% (w/v) NaHCO3 solution for 15 minutes, and a combination of soaking vinegar by  blanching and  NaHCO3 by blanching with hot water at a temperature of 70-80°C for 2 minutes. As a control, skin that was only blanched and without treatment was also observed. The experiment was carried out with 3 replications. The results showed that the combination of soaking in 1% (w/v) NaHCO3 solution and blanching in hot water at 70-80°C for 2 minutes resulted in catfish skin chips that had the most favorable appearance, aroma, crispness, and overall acceptance by the panelists. The catfish skin chips contained protein of 28.93±0.71%, a fat content of 31.89±1.52%, ash of 3.31±0.19%, the water of 2.40±0.38%, and a TBA value of 0.14±0.02 mg MDA/kg. Catfish skin chips with this treatment had a brightness level with the highest L* value, a low +a* value (degree of redness), and +b*(yellowish), and a crispier texture, which were significantly different (p<0.05) from the catfish skin chips treated with soaking in an acid solution and control.
Simulasi Transportasi Ikan Nila Hidup Menggunakan Sistem Basah Terbuka pada Suhu Rendah Tri Nugroho Widianto; Iwan Malhani; Nandang Priyanto
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i1.791

Abstract

AbstrakKualitas dan sintasan ikan nila setelah transportasi umumnya masih rendah yang disebabkan oleh terjadinya stres selama pengangkutan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut telah dilakukan penelitian untuk mengetahui performansi metode transportasi ikan nila dengan sistem basah terbuka yang dilakukan pada suhu rendah dan kepadatan berbeda. Simulasi transportasi dilakukan dengan perlakuan suhu rendah (15 dan 20°C) dan kepadatan ikan berbeda (100 dan 150 g/L). Simulasi dilakukan dengan simulator goncangan yang bekerja dengan arah horizontal (maju dan mundur) sejauh 0,24 m dengan kecepatan 0,14 m/detik selama 8 jam. Selama pengujian, dilakukan aerasi menggunakan oksigen dengan debit 4 L/menit. Pengamatan yang dilakukan adalah pengukuran kualitas air yang meliputi oksigen terlarut (DO), pH, TDS, suhu, kandungan total amonia nitrogen (TAN), nitrat, dan nitrit. Kandungan glukosa darah ikan diukur sebelum dan sesudah simulasi, sedangkan sintasan ikan diamati setelah uji simulasi. Hasil pengujian menunjukkan kandungan TAN, nitrat, dan nitrit pada perlakuan suhu rendah nilainya lebih rendah dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan suhu 15°C (kepadatan 100 g/L) menghasilkan kandungan TAN dan kenaikan kandungan nitrat terendah, yaitu masing-masing 2,88 ppm dan 13,6 ppm. Sementara itu, kenaikan kandungan nitrit terendah terdapat pada perlakuan suhu 20°C (kepadatan 100 g/L) sebesar 0,06 ppm. Nilai pH air relatif sama pada semua perlakuan, yaitu 7,5-7,8. Hasil pengujian menunjukkan perlakuan suhu rendah tidak berpengaruh terhadap TDS air, sedangkan pada perlakuan kepadatan ikan yang lebih tinggi menghasilkan TDS lebih tinggi pula. Sintasan tertingi diperoleh dari perlakuan suhu 15°C (kepadatan 100 g/L) sebesar 97,9 %. Pada perlakuan tersebut, kandungan TAN-nya terendah serta perubahan pH dan TDS-nya juga kecil sehingga dapat mengurangi tingkat stres ikan selama transportasi. AbstractThe quality and survival rate (SR) of tilapia after transportation is still low due to fish stress during transportation. To overcome this problem, this study has been carried out to determine the transportation performance of tilapia using an open system at low temperatures and different densities. The transport simulations were carried out with fish densities of 100 and 150 g/L of water and temperature of 20 and 15°C. Simulations were conducted using a shock simulator with horizontal (forward and backward) movement of 0.24 m distance at a speed of 0.14 m/s continuously for 8 h. During the simulation, aeration was carried out using oxygen with a flow rate of 4 L/min. Performance tests were conducted by measuring dissolved oxygen (DO), pH, total dissolved solids (TDS), temperature, total ammonia nitrogen (TAN), nitrate, and nitrite contents of water. The blood glucose content of fish was measured before and after the simulation, while fish survival rate was observed after the simulation test. The performance test results showed that the TAN, nitrate and nitrite content of water were lower at low temperatures compared to the control. The lowest TAN and nitrate of water occurred at a temperature of 15°C (densities of 100 g/L) with a value of 2.88 ppm and 13.6 ppm, respectively, while the lowest increase in nitrite content occurred at a temperature treatment of 20°C (density 100 g/L) of 0.06 ppm. The pH showed relatively similar for each treatment, i.e. 7.5-7.8. The TDS value showed that the low temperature treatment had no effect on TDS, while high fish densities resulted in higher TDS. The best survival rate occurred at a temperature of 15°C (density 100 g/L) of 97.9 %. This treatment also resulted in the lowest TAN content and relatively small changes in pH and TDS, so that it can reduce the fish stress levels during transportation.
Karakteristik Nori Campuran Rumput Laut Ulva sp. dan Gracilaria sp. yang Diproses dengan Metode Casting Dina Fransiska; Nurhayati Nurhayati; Ellya Sinurat; Subaryono Subaryono; Bagus Sediadi Bandol Utomo; Rinta Kusumawati; Sihono Sihono
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i2.728

Abstract

Produk nori saat ini cukup diminati konsumen, namun rumput laut Phorphyra sebagai bahan baku nori merupakan jenis rumput laut yang ketersediaannya terbatas. Untuk itu diperlukan teknologi pengolahan nori yang bahan bakunya ada di Indonesia, antara lain Ulva sp. dan Gracilaria sp. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik dan kimia nori yang dibuat dari campuran rumput laut Ulva sp. dan Gracilaria sp. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan nori menggunakan rumput laut Ulva sp. dan Gracilaria sp. dengan rasio sebesar 100:0; 75:25; 50:50; 25:75; 0:100 (b/b) melalui metode casting. Parameter yang diamati yaitu karakteristik fisik (ketebalan, kekerasan, dan warna) dan karakteristik kimia (kadar air, abu, lemak, protein, serat pangan, dan total karbohidrat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik nori yang dihasilkan berbeda nyata antar perlakuan. Perlakuan terbaik pada penelitian ini yaitu nori dengan rasio Ulva sp. dan Gracilaria sp. 100:0 b/b, walaupun kualitasnya masih di bawah nori komersial. Nori tersebut memiliki ketebalan 0,62 mm, parameter warna (L 31,59; a* -1,11; b* 15,51), kekerasan 595,06 g, kadar air 8,63%, abu 23,47%, lemak 10,64%, protein 9,34%, total karbohidrat 47,91%, dan serat pangan 28,20%. AbstractNori Product become more popular recently, however, the availability of Porphyra as raw material for nori is very limited in Indonesia. For this reason, nori processing technology using seaweeds other than Porphyra such as  Ulva sp. and Gracilaria sp. is required. The objective of this experiment is to evaluate the physico-chemical characteristics of nori which was processed from Ulva sp. and Gracilaria sp. seaweeds. In this experiment, the proportions of Ulva sp. and Gracilaria sp. for nori processing were 100:0; 75:25; 50:50; 25:75; 0:100 (w/w) using casting method. The parameters used to evaluate the physical characteristics were thickness, colour, and hardness, while the chemical parameters were moisture, ash, fat, protein, dietary fiber, and total carbohydrate. The results showed that the characteristics of the processed nori were different significantly between samples. The best treatment was gained from ratio of  Ulva sp. and Gracilaria sp. in a proportion of 100:0 w/w. The quality of the product, however, was still lower than commercial nori, with the characteristics as follows: thickness 0.62 mm, colour (L 31.59; a* -1.11, b* 15.51), hardness 595.06 g, moisture content 8.63%, ash 23.47%, fat 10.64%, protein 9.34%, total carbohydrate 47.91%, and dietary fibre 28.20%  
Efek Penggunaan Pelarut Berulang pada Proses Pre-Ekstraksi Terhadap Mutu Alginat dari Sargassum cristaefolium Sugiono Sugiono; Alfan Nur Abadi; Sulfiatus Zannuba; Alvin Taufiky; Matheus Nugroho
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i2.804

Abstract

Pre-ekstraksi alginat dari alga coklat dengan pelarut asam membutuhkan reaktan dan air dalam jumlah banyak, serta menghasilkan mengeluarkan banyak limbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan pelarut asam dengan melakukan penggunaan pelarut secara berulang dan mengetahui pengaruhnya terhadap mutu alginat, reduksi kebutuhan air dan reaktan, serta reduksi limbah pelarut. Penggunaan kembali pelarut asam pada proses pre-ekstraksi dilakukan dengan variasi penggunaan pelarut ke 0, 1, 2, 3, dan 4. Rancangan acak lengkap dengan tiga kali ulangan digunakan untuk menentukan pengaruh penggunaan pelarut berulang terhadap mutu alginat. Parameter yang diamati meliputi rendemen, viskositas, berat molekul alginat, kebutuhan air dan HCl, serta limbah pelarut asam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pelarut berulang dapat menghasilkan alginat dengan rerata rendemen 26,7%. Penggunaan pelarut berulang ke 0-2 dapat menghasilkan alginat kualitas sedang dengan viskositas 270,9-360,0 mPa.s dan berat molekul alginat 122,04-175,44 kDa. Pre-ekstraksi makrolaga dengan pelarut berulang ke 0-2 dapat menurunkan kebutuhan air 22,2%, HCl 66,7%, dan limbah pelarut menurun 66,7%. Pre-ekstraksi makroalga dengan pelarut berulang mempunyai potensi efisiensi dan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada skala yang lebih besar. AbstractPre-extraction of alginate from brown algae with acidic solvents requires a lot of reactants and water that produce a lot of solvent wastes. This study aimed to optimize the use of acidic solvents by using solvents repeatedly and to determine the effect on alginate quality, water consumption and reactant, and acid solvent waste. Repeated use of solvents on pre-extraction stage was carried out with variations of 0, 1, 2, 3, and 4 times. A Completely Randomized Design (CRD) with three replications was used to determine the effect of repeated use of solvents on the alginate quality. Parameters observed were yield, viscosity, molecular weight of alginate, water consumption, HCl requirement, and the amount of acid solvents waste. The result showed that the repeated use of solvents in the pre-extraction stage produced alginate with an average yield of 26.7%. Repeated use of solvents of 0 to 2 times produced medium quality of alginate with a viscosity of 270.9-360.0 mPa.s and alginate molecular weight of 122,04-175,44 kDa. Pre-extraction of macroalgae by repeated use of solvents can reduce water consumption 22,2%, HCl 66,7%, and waste solvents 66,7%. Pre-extraction of macroalgae by repeated use of acid solvents was potential for efficiency, and further research is needed for a larger scale extraction process.
Nilai Gizi dan Hedonik Bubur Bayi Instan dari Ubi Jalar Ungu dan Ikan Rucah Asri Silvana Naiu; Yeni Talib; Rahim Husain
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i2.877

Abstract

Bubur bayi instan bisa dibuat dengan bahan-bahan yang murah dan sehat dari bahan baku lokal. Bahan pangan lokal seperti ubi jalar dan ikan rucah dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan gizi bayi. Ubi jalar memiliki konsentrasi protein yang rendah, sehingga dapat difortifikasi dengan ikan rucah dalam bubur bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula campuran tepung ubi jalar ungu dan tepung ikan rucah yang optimal untuk bubur bayi instan. Perlakuan dalam penelitian ini terdiri atas tiga taraf, yaitu P1 (30% tepung ikan rucah : 70% tepung ubi jalar), P2 (40% tepung ikan rucah : 60% tepung ubi jalar), dan P3 (50% tepung ikan rucah : 50% tepung ubi jalar). Rancangan acak lengkap (RAL) dan ANOVA digunakan untuk membandingkan parameter mutu kadar air , abu, protein, lemak, dan serat makanan. Parameter warna, rasa, aroma, dan tekstur diuji dengan metode Kruskal-Wallis. Uji Duncan dilakukan pada parameter yang terpengaruh signifikan. Semua perlakuan memenuhi SNI 01-7111.1-2005 tentang MP-ASI untuk kebutuhan pangan protein (19,64–21,55%), lemak (8,53–9,06%), serat pangan (3,1-4,2%), kadar air (3,44–3,52%), dan abu (3,17–3,35%). Berdasarkan nilai hedonik, formula P1 (tepung ikan rucah 30% : tepung ubi jalar 70%) adalah yang paling disukai dan komposisinya memenuhi angka kecukupan gizi (AKG) protein 42,2%, lemak 9,65%, dan serat 16,8% untuk bayi 7-11 bulan. AbstractInstant infant porridge can be made with ingredients from the cheap and healthy locally resources. Local resources like sweet potatoes and trash fish can be used to boost infants nutrition. Sweet potato has a low protein concentration, so it can be fortified with trash fish in infant porridge. This study attempts to discover the optimum formula of purple sweet potato and trash fish meal mix for instant infant porridge. The treatments in this study comprised three levels: P1 (30% trash fish meal: 70% sweet potato flour), P2 (40% trash fish meal: 60% sweet potato flour), and P3 (50% trash fish meal: 50% sweet potato flour). Randomized Complete Design (RCD) and ANOVA were used to compare the products parameters of moisture, ash, protein, fat, and dietary fiber. Color, taste, aroma, and texture parameters were tested using the Kruskal-Wallis method. A Duncan test was subsequently assigned  on the parameters that are significantly affected. All treatments satisfied SNI 01-7111.1-2005 on MP-ASI dietary requirements for protein (19.64–21.55%), fat (8.53–9.06%), food fiber (3.1-4.2%), moisture (3.44–3.52%), and ash (3.17–3.35%). Based on hedonic value, formula P1 (30% trash fish meal : 70% sweet potato flour) is the most desired, where the composition meets the adequacy nutritional rate (RDA) of 42.2% protein, 9.65% fat, and 16.8% fiber for  infants of 7-11 months.
Perlakuan Jenis Minyak Berbeda Sebagai Bahan Enkapsulasi Hidrolisat Ikan Gabus (Channa striata) Syukri Syukri; Gatot Siswo Hutomo; Samliok Ndobe
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v17i2.845

Abstract

Salah satu sumber albumin adalah ikan gabus (Channa striata). Albumin dapat mengalami kerusakan yang diakibatkan proses oksidasi selama penyimpanan. Enkapsulasi dapat menjadi salah satu teknologi yang dapat mempertahankan mutu albumin dari kerusakan oksidatif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kualitas ekstrak hidrolisat ikan gabus (C. striata) yang dienkapsilasi dengan minyak berbeda (VCO, zaitun, kemiri, atau wijen) dengan lama penyimpanan 8 minggu. Penelitian terdiri atas beberapa tahap yang meliputi ekstraksi hidrolisat ikan gabus, proses enkapsulasi (maltodekstrin + minyak sesuai perlakuan), dan dilakukan perlakuan penyimpanan 0, 2, 4, 6, dan 8 minggu pada suhu kamar (± 25°C). Parameter yang diamati adalah kadar albumin, kapasitas antioksidan, asam lemak bebas, kadar air, dan kadar abu. Hasil pengujian memperlihatkan perlakuan jenis minyak bahan enkapsulasi berpengaruh terhadap kadar albumin, sedangkan waktu penyimpanan tidak berpengaruh terhadap perubahan kadar albumin. Selain itu, perlakuan perbedaan jenis minyak bahan enkapsulasi dan waktu penyimpanan memberikan pengaruh terhadap kapasitas antioksidan, asam lemak bebas, kadar air, dan kadar abu ekstrak hidrolisat ikan gabus. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa minyak kemiri merupakan bahan enkapsulasi terbaik, diiikuti oleh minyak wijen, minyak zaitun, dan VCO. Ekstrak hidrolisat ikan gabus yang dienkapsulasi dengan minyak kemiri hanya mengalami penurunan 0,79% setelah disimpan selama 8 minggu, lebih rendah dari perlakuan dengan minyak wijen (1,02%), minyak zaitun (1,35%), dan VCO (1,72%). AbstractSnakehead fish (Channa striata) has been known as a source of albumin. Albumin is susceptible to oxidation, so that it can be degraded during storage. The encapsulation method is one of technologies to maintain the quality of albumin. This study aimed to determine the hydrolyzed property of snakehead fish (C. striata) encapsulated with olive oil, virgin coconut oil (VCO), candlenut oil, or sesame oil during storage. The stages of research included the manufacture of snakehead fish hydrolysate, encapsulation with a combination of a treatment oil and maltodextrin, and storage time (0, 2, 4, 6, and 8 weeks) at room temperature (± 25°C). The parameters observed were albumin content, antioxidant capacity, free fatty acid, water content, and ash content. The results showed that the type of oil as an encapsulating material affected albumin levels, while storage time did not affect changes in albumin levels. In addition, treating different types of encapsulated oil and storage time affects the antioxidant capacity, free fatty acid content, water content, and ash content of snakehead fish hydrolysate. From the present study, it can be concluded that candlenut oil was the best encapsulation material, followed by sesame oil, olive oil, and VCO. The hydrolyzed snakehead fish extract, encapsulated with candlenut oil, only decreased by 0.79% after being stored for eight weeks, lower than treatment with sesame oil (1.02%), olive oil (1.35%), and VCO (1.72%). 

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue